Pagi masih muda ketika aku terjaga dari tidur lelapku sejak malam tadi.
Udara yang mengalir tenang ke dalam saluran pernapasanku terasa jauh lebih segar dibanding biasanya.
Hm..., apakah karena humidifier yang baru kubersihkan kembali bekerja maksimal? Atau...
Ah, notifikasi lembut dari Google Calendar tiba-tiba memberi jawaban nyata mengapa pagi ini terasa sedikit berbeda.
"Alaika's Birthday."
Aku tersenyum. This is my birthday!
Masyaallah... hari ini aku genap berusia 56 tahun.
My God... thank You.
Terima kasih karena masih mengizinkanku bertemu dengan pagi yang indah ini.
Terima kasih untuk satu hari lagi, satu tahun lagi, dan—insyaallah—hari-hari indah yang masih Kau siapkan di depan sana.
Alhamdulillah, ya, Allah.
Terima kasih.
Rasa syukur itu mengalir begitu saja. Tidak meledak-ledak, tidak pula dramatis. Ia hadir dengan tenang, seperti udara pagi yang memenuhi paru-paruku tanpa pernah meminta perhatian.
Usia 56. Entah mengapa, angka itu tidak membuatku merasa tua.
Sebaliknya, ia memberiku rasa.... utuh.
Bukan karena aku sudah berhasil mencapai semua impian.
Jauh dari itu.
Masih banyak mimpi yang belum sempat kuraih.
Masih ada daftar tempat yang ingin kukunjungi, buku yang ingin kutulis, orang-orang yang ingin kutemui, dan pengalaman-pengalaman baru yang ingin kurasakan.
Namun pagi ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak sedang memikirkan apa yang belum kumiliki. Aku justru sibuk menghitung apa yang telah Allah titipkan kepadaku.
- Kesehatan yang masih mengizinkanku bekerja dan berkarya.
- Keluarga yang menjadi tempatku pulang.
- Sahabat-sahabat yang hadir di setiap musim kehidupan.
- Kesempatan untuk belajar, bahkan ketika usiaku tidak lagi muda.
- Dan yang mungkin paling berharga, kesempatan untuk terus bertumbuh menjadi versi diriku yang lebih baik daripada kemarin.
Aku percaya, setiap usia membawa hadiahnya sendiri.
Ketika berusia dua puluhan, aku sibuk mengejar mimpi.
Di usia tiga puluhan dan empat puluhan, hidup mengajarkanku tentang tanggung jawab, kehilangan, harapan, dan keteguhan.
Memasuki lima puluhan, aku justru belajar sesuatu yang tidak pernah diajarkan di bangku kuliah ataupun di ruang rapat mana pun.
Bahwa hidup bukanlah perlombaan. Ia adalah perjalanan. Dan perjalanan yang baik bukanlah perjalanan yang paling cepat, melainkan perjalanan yang membuat kita semakin mengenal Sang Pencipta, semakin mengenal sesama, dan semakin mengenal diri sendiri.
Mungkin itulah hadiah terindah di usia 56.
Bukan karena hidup menjadi lebih mudah. Melainkan karena aku mulai mampu melihat keindahan dalam hal-hal yang dulu sering kulewatkan.
- Dalam secangkir kopi hangat.
- Dalam sinar matahari yang menyelinap melalui jendela.
- Dalam perhatian ananda tersayang, yang tak pernah lupa memastikan ibunya baik-baik saja. Dalam setiap undangannya untuk ikut menyaksikan sepotong dunia yang sedang ia jelajahi melalui pekerjaannya. Meski langkahku kerap tertahan oleh tanggung jawab yang lain, aku selalu menyimpan setiap ajakan itu sebagai pengingat bahwa, di tengah kesibukan dan perjalanan hidupnya, aku masih memiliki tempat istimewa di hatinya.
- Dalam sebuah pesan sederhana dari sahabat.
- Dalam tawa keluarga.
- Dalam kesempatan untuk menulis beberapa paragraf di pagi hari.
- Dan dalam napas yang masih Allah titipkan kepadaku hari ini.
Ya Rabb...
Jadikanlah sisa usiaku lebih bermanfaat daripada usia yang telah berlalu.
Jadikan ilmu yang kupelajari membawa manfaat bagi orang lain.
Jadikan setiap kata yang kutulis menghadirkan harapan.
Dan ketika kelak orang-orang mengingatku, biarlah bukan karena jabatan, gelar, atau pencapaianku. Tetapi karena aku pernah berusaha menjadi manusia yang membawa sedikit kebaikan bagi dunia di sekitarnya. Bukankah pada akhirnya, itulah yang akan benar-benar tinggal?
Some people collect years.
Some people cultivate wisdom.
The luckiest among us do both.
Al - Jakarta - 30 Juli 2026
.png)







