My Virtual Corner
  • Home
  • Meet Me
  • Contact
  • Disclosure
  • SOUL
    • Mindset & Motivation
    • Self Love
    • Parenting
    • Puisi
  • BODY
    • Travel Tales
    • Wellness & Beauty
    • Lifestyle & Cullinary
  • BRAIN
    • Digital Literacy
    • Professional Tips

Halo, teman-teman tersayang. Welcome back to My Virtual Corner! Gimana nih kabarnya? 
Semoga jemari yang tengah menggulir layar dan hati yang sedang membaca tulisan ini, senantiasa berada dalam pelukan kedamaian, berkelimpahan berkah sehat, sukses, dan bahagia. Aamiin. 

Kali ini, aku ingin berbagi tentang sebuah pertanyaan sederhana yang sering muncul dari pembaca novel terbaruku, Sisa Cahaya Bintang. 

"Al, kok novelmu tidak dibuat dalam bentuk format EPUB saja sih? Kan enak tuh, dibaca dari device mana pun, tetap menyesuaikan ukuran layar sehingga asyik untuk dibaca?"

Pertanyaan itu terdengar teknis, yak? Namun setiap kali mendengarnya, aku justru teringat bahwa keputusan memilih format file sebenarnya tidak pernah hanya soal teknologi. Di baliknya ada cara seorang penulis memandang cerita—dan lebih penting lagi, memandang pembacanya. 

Bagiku, pekerjaan seorang penulis tidak selesai ketika mengetik kata Tamat. 
Justru setelah itulah perjalanan berikutnya dimulai—perjalanan untuk memastikan cerita itu sampai kepada pembacanya sebagaimana ia pertama kali dibayangkan. 

Sebuah cerita tidak hanya ditulis, tetapi juga dirancang. 

Saat menulis Sisa Cahaya Bintang, aku tidak hanya memikirkan alur cerita atau dialog antar tokohnya. Aku memikirkan bagaimana pembaca akan berhenti sejenak di halaman tertentu. 

Bagaimana ilustrasi akan memperkuat emosi yang sedang dibangun oleh narasi. 
Bagaimana ruang kosong memberi jeda agar mata dan hati sempat bernapas sebelum melanjutkan ke halaman berikutnya. Karena bagiku, setiap keputusan kecil itu menjadi bagian dari cerita. 

Tiga halaman dari Sisa Cahaya Bintang
yang memperlihatkan bagaimana ilustrasi,
tipografi, ruang kosong,dan tata letak menjadi bagian dari pengalaman membaca.

Mengapa bukan EPUB? 

Aku memahami mengapa banyak penulis memilih EPUB. Format ini fleksibel. Ukuran huruf dapat diubah. Nyaman untuk berbagai ukuran layar. Dan untuk banyak buku, EPUB memang merupakan pilihan yang sangat baik. 

Namun, Sisa Cahaya Bintang lahir dengan karakter yang sedikit berbeda. Novel ini tidak hanya berisi narasi. Di dalamnya terdapat ilustrasi-ilustrasi yang sengaja kurancang sebagai bagian dari pengalaman membaca. Bukan sekadar penghias halaman, tetapi bagian dari suasana yang ingin kubangun bersama cerita. 

Aku ingin ketika Ethan dan Bintang saling berpelukan saat pertama kali bertemu di Bandara Soekarno Hatta, pembaca turut merasakan hangatnya momen itu melalui ilustrasi yang menemani narasinya. 

Salah satu halaman dari Sisa Cahaya Bintang.
Pada novel ini, ilustrasi menjadi bagian dari narasi, bukan sekadar pelengkap visual.

Aku ingin ketika mereka menikmati secangkir teh, ilustrasi itu hadir tepat di halaman yang sama. 

Ketika mereka berjalan di bawah langit senja, pembaca melihat warna yang sama seperti yang kubayangkan ketika menulis adegan itu. 

Aku ingin gambar dan kata-kata tetap berjalan berdampingan. Karena itulah aku memilih PDF., agar setiap ilustrasi tetap hadir pada momen yang memang menjadi bagian dari cerita.

Ketika pembaca ikut menjadi bagian dari proses. 

Dan tahukah temans? Belum lama ini, seorang pembaca menyampaikan sesuatu yang sangat sederhana. Ia menyelesaikan Sisa Cahaya Bintang dalam sekali duduk, hanya dalam waktu tiga jam! Masyaallah. 

Namun ia juga mengatakan bahwa membaca versi PDF di layar ponsel terasa kurang nyaman karena harus sering memperbesar dan memperkecil halaman. Masukan itu membuatku berpikir. Kalau aku begitu memperhatikan posisi ilustrasi dan ritme setiap halaman, mengapa aku tidak memberi perhatian yang sama pada cara pembaca menikmati buku di perangkat yang berbeda? 

Dari situlah lahir Mobile Edition. Bukan karena aku mengubah filosofinya. Justru karena aku ingin mempertahankan pengalaman membaca yang sama, tetapi melalui media yang berbeda. 

Mungkin pada akhirnya... Aku menyadari bahwa yang selama ini kulakukan bukan hanya menulis cerita. Aku sedang merancang pengalaman membaca. Mulai dari memilih ilustrasi, menentukan tata letak, menjaga ritme setiap halaman, hingga memutuskan format file yang paling sesuai dengan karakter cerita. 

Semuanya berangkat dari satu pertanyaan sederhana. 
 "Bagaimana pembaca akan merasakan cerita ini?" 
Mungkin setiap penulis memiliki jawaban yang berbeda. Dan tidak ada jawaban yang paling benar. 

Bagiku, untuk Sisa Cahaya Bintang, jawaban itu adalah PDF. Kini, dengan hadirnya Reading Edition dan Mobile Edition, aku berharap setiap pembaca dapat memilih cara membaca yang paling nyaman bagi mereka. Karena pada akhirnya, format hanyalah media. Yang benar-benar ingin kusampaikan tidak pernah berubah: sebuah cerita yang semoga bisa tinggal sedikit lebih lama di hati pembacanya.

Sebab bagi seorang penulis, cerita yang baik bukan hanya selesai ditulis. Ia juga layak untuk dinikmati dengan sebaik-baiknya. 

Jakarta | Kamis | 16 Juli 2026
Alaika Abdullah

 


Halo, teman-teman tersayang. Welcome back to My Virtual Corner! Gimana nih kabarnya? 

Semoga jemari yang tengah menggulir layar dan hati yang sedang membaca tulisan ini, senantiasa berada dalam pelukan kedamaian, berkelimpahan berkah sehat, sukses, dan bahagia. Aamiin. 

Kali ini, aku ingin ngajak teman-teman untuk duduk sejenak. Terutama yang merasa dirinya sedang lelbah banget. Tapi lelah ini adalah lelah yang aneh. Bukan lelah fisik setelah seharian membersihkan rumah atau menyeleseaikan tenggat pekerjaan di kantor. Melainkan sebuah keletihan yang teramat sangat, jauh di dalam lubuk hati.

Sebuah rasa capek karena terus-menerus berlari dalam perlombaan yang seolah tidak pernah ada garis finishnya. 

Setiap kali kita berhasil mendaki satu puncak pencapaian, dunia seolah langsung menuntut kita untuk mendaki puncak yang lebih tinggi lagi.

"Wah, rumahnya sudah punya, kapan ganti mobil baru?" atau "Wow, hebat ya karirnya, tapi kok belum naik jabatan lagi?"

Banyak dari kita saat ini hidup di era yang begitu terobsesi dengan validasi digital, dimana kehadiran diri (eksistensi diri) seakan baru diakui kalau sudah dipamerkan di media sosial; lewat deretan pencapaian, foto liburan estetik, atau citra diri yang tampak tanpa cela. 

Banyak dari kita berlari terengah-engah, memikul beban berat di pundak, hanya demi membuktikan kepada orang lain bahwa kita layak, kita kuat, dan kita sukses. Tapi, benarkah itu yang dicari oleh sang jiwa?

Pagi tadi, sambil nyetir ke kantor, aku mendengarkan sebuah podcast yang sangat meditatif antara Mas Hendra dari Ngaji Roso dengan Pak Wayan Mustika. Percakapan mereka sungguh menampar sekaligus memeluk jiwaku yang juga terkadang suka merasa lelah ini.

Mereka mengingatkan sebuah hal mendasar: jangan-jangan, semua pengejaran dan ambisi kita selama ini hanyalah cara kita untuk lari dari diri sendiri. 

Melalui catatan kecil di pilar Soul kali ini, Aku ingin mengajak teman-teman untuk sejenak meletakkan beban berat itu. Yuk, kita duduk bareng, menarik napas dalam-dalam, and memulai perjalanan 'pulang' ke dalam relung jiwa kita yang paling sunyi dan tenang. 

1. Mengukur 'Lambung' Sendiri

Yup. Mengukur 'lambung' kita sendiri. Karena Bahagia itu Sangat Personal, temans. Apa sih yang sebenarnya sering kali membuat kita tidak bahagia? Jawabannya sederhana ternyata! Karena kita gagal memahami bahwa setiap manusia memiliki kapasitas lambung yang berbeda-beda. Wuih! 

Kalo kita melihat teori Hierarki Maslow, ambang batas kepuasan seseorang, mulai dari kebutuhan fisik terkecil hingga aktualisasi diri yang paling tinggi, itu sifatnya sangat personal dan unik. Tidak bisa disamakan, apalagi ditiru. 

Coba ktia perhatikan sekeliling kita dengan jujur:

1. Tentang Rasa Aman:

Ada orang yang hatinya sudah merasa tenang dan cukup hanya dengan memiliki tabungan sepuluh juta rupiah di rekeningnya. Namun, ada juga orang yang terus didera kecemasan dan terancam jika simpanannya belum menyentuh angka miliaran. 

2. Tentang Cinta:

Ada jiwa yang sudah merasa utuh, hangat, dan penuh hanya dengan kehadiran satu pasangan yang setia di sisinya. Di sisi lain, ada yang butuh pengakuan, pujian, dan pemujaan dari ratusan orang di media sosial hanya untuk merasa dicintai. 

3. Tentang Arti Diri:

Seseorang mungkin sudah merasa tuntas tugasnya sebagai manusia di bumi hanya dengan menjadi ibu atau ayah yang baik bagi anak-anaknya. Sementara yang lain merasa harus menduduki jabatan tinggi atau memimpin organisasi besar baru bisa meras dirinya berarti. 

Penderitaan kita seing kali bermula saat kita memamksa memakai standar ideal orang lain untuk mengukur kebahagiaan kita sendiri. Kita melihat kenyamanan tetangga, lalu menyiksa diri sendiri dengan ambisi yang sebenarnya bukan milik kita. Padahal, harmoni kehidupan baru akan tercipta saat kita berani menyelaraskan harapan dengan kapasitas diri kita sendiri, bukan dengan meniru ukuran baju orang lain.

2. Mesin Penggerak Bernama 'Luka Masa Kecil'

Saat merenungkan hal ini, aku tuh sempat tertegun. Mengapa ya, kita begitu menggebu-gebu ingin menunjukkan 'siapa aku' kepada dunia?

Pak Wayan menjelaskan hal yang sangat membuka mata. Keinginan ekstrem untuk membuktikan diri biasanya bukan lahir  dari keasaran yang sehat, melainkan dari sisa-sia luka masa lalu yang belum sembuh. Bullying, penolakan, atau perasaan 'tidak dianggap' saat kita kecil dulu, sering kali menciptakan mekanisme pertahanan diri berupa ambisi yang toksik di masa dewasa. 

Ada kisah menarik yang dicontohkan oleh Pak Wayan. Bayangkan seseorang yang di masa mudanya pernah ditolak oleh calon mertua karena dianggap tidak punya masa depan. Trauma itu menetap. Akhirnya, didorong oleh rasa sakit, ia bekerja mati-matian mengejar materi dan jabatan. Tujuannya apa? Agar di masa depan tidak ada lagi orang yang meremehkannya. Ia berlari demi membalas dendam pada trauma masa lalunya. 

Temans, ada perbedaan yang sangat tajam antara membuktikan diri kepada orang lain dengan membuktikan makna hidup kepada diri sendiri dan Sang Pencipta. Mereka yang hidupnya sudah selaras dengan kesadaran, tidak lagi pusing untuk membungkam mulut orang lain. Mereka tidak butuh pengakuan dari luar karena mereka tahu siapa diri mereka di hadapan-Nya. 

3. Belajar dari Filosofi Sekuntum Bunga

Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa lepas dari jeart lelahnya mencari validasi ini? Kuncinya adalah mengubah mentalitas kita. Dari seorang 'pemburu' yang melelahkan, menjadi seorang 'pemiik taman' yang penuh kasih. Inilah esensi sejati dari self-love. 

Aku sangat suka tuh metafora yang digunakan oleh Pak Wayan tentang bunga dan kumbang. Beliau mengatakan bahwa bunga enggak memanggil kumbang, dia hanya mekar...., menciptakan aroma yang harum pada dirinya dengan warna-warni yang indah, lalu kumbang dan kupu-kupu pun datang sendiri. 

Indah banget dan tak terbantahkan, yak? Saat kita fokus pada perbaikan diri secara internal—memperbaiki etika, mempercantik batin, menimbun ilmu, dan menata hati—maka 'daya tarik' alami itu akan memancar dengan sendirinya tanpa perlu kita paksakan. Kecantikan dan kebaikan sejati tidak pernah berteriak minta perhatian; ia memancar dengan tenang, dan dunia akan datang dengan sendirinya. 

4. Mengakses Atman Intelligence: Mengetik Pertanyaan dalam Keheningan

Di era digital yang gemuruh ini, kita begitu mudah tersesat dalam keriuhan informasi. Pak Wayan memberi analogi yang menggelitik tentang perbedaan YouTube dan Google dalam menggambarkan cara kerja jiwa kita. 

Aplikasi YouTube bekerja dengan algoritma ego (mirip hukum tarik-menarik tau Law of Attraction yang sempit). YouTube hanya akan menyuguhkan apa yang kita sukai, apa yang ingin kita lihat, dan apa yang memanjakan ego kita. 

Sebaliknya, hati nurani kita yang murni bekerja seperti kotak pencarian Google yang kosong—sebuah ruang yang bersih dari kepentingan ego, yang beliau sebut sebagai G-O-D (Google On Duty) atau Atman Intelligence (kecerdasan jiwa yang murni). 

Jawaban atas kerumitan hidup kita sebenarnya tidak akan pernah kita temukan dalam kebisingan pendapat orang lain atau di kolom komentar media sosial. Jawaban itu hanya ada ketika kita berani memasuki ruang sunyi, mengambil jeda, mengetikkan pertanyaan jujur ke dalam keheningan hati nurani yang kosong dari ambisi duniawi. 

Untuk bisa terhubung kembali dengan 'rumah besar' tempat jiwa kita bernaung (yaitu tubuh kita sendiri), meditasi bisa menjadi jembatannya. Kita bisa melakukan meditasi ke dalam dengan mengamati napas, atau meditasi ke luar dengan menyatu bersama alam—bahkan lewat aktivitas sehari-hari seperti menyapu lantai, berjalan kaki dengan kesadaran penuh (mindfulness). Namun jangan lupa, spiritualitas juga harus logis; kita harus tetap merawat dan menghormati hak-hak tubuh fisik kita sebagai kendaraan jiwa yang suci ini. 

5. Cenik, Nikmati, Mati: Sebuah Tamparan Realitas

Temans, jujur yuk! Dunia tempat kita tinggal ini sebenarnya memiliki ingatan yang teramat pendek. Coba deh perhatikan fenomena di media sosial saat ini. Betapa sering kita melihat orang-orang berfoto selfie dengan senyum terkembang di area pemakaman, lalu mengunggahnya dengan teks duka cita yang terkadang terasa berjarak. Itu adalah sebuah pengingat yang pahit; tidak lama setelah kita pergi nanti, dunia akan tetap berputar, melanjutkan hidupnya, dan perlahan melupakan kita. 

Jadi, untuk apa kita menghabiskan sisa umur dan energi yang berharga ini hanya untuk membuat orang lain terkesan?

Kita tidak perlu menunggu punya harga berlimpah atau gelar berderet untuk merasa diri kita hebat. Secara biologis, kita dalah pemenang sejak awal mula, loh! Kita adalah pemenang tunggal yang berhasil menyisihkan ratuan juta sel sperma lainnya. Kita adalah artitek ajaib yang mampu menyatukan sel hingga menjadi puluhan triliun sel yang bekerja tanpa henti di dalam tuubh saat ini—tanpa pernah perlu kita perintah. Tubuhmu adalah kendaraan paling canggih di semesta yang dipilih menjadi rumah bagi Sang Hidup. 

Masyarakat Bali memilik siklus filosofi yang sangat sederhana namun maknanya menghunjam jantung; Cenik - Nikmati - Mati. 

Cenik artinya kecil. Kita semua dilahirkan sebagai makhluk kecil yang tak berdaya. Dan di ujung perjalanan nanti, kita semua pasti akan menghadapi mati. Di antara dua titik ketiadaaan dan kelemahan itulah, tugas tunggal kita sebagai manusia, sesungguhnya hanyalah satu: Nikmati. Menikmati hidup dengan kesadaran penuh di setiap langkah kita. 

Hidup ini bukan tentang siapa yang paling cepat sampai ke puncak, melainkan siapa yang paling sadar dan bersyukur di stiap jengkal langkah yang dilewatinya. Seperti halnya seorang peselancar profesional atau pendaku gunung tangguh, sehebat apa pun mereka menaklukkan gelombang dan puncak, kelelahan itu pasti akan datang. 

Dan tau gak, temans? Nda apa, loh, untuk merasa lelah. Nda apa untuk sesekali menepi dan berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia. Pulanglah ke rumah jiwamu, pulihkan dirimu dalam keheningan. 

6. Pesan Sunyi dari Sang Hidup

Perjalanan 'pulang' ini sama sekali tidak membutuhkan tiket pesawat atau perjalanan fisik ke tempat yang jauh. Ini adalah perjalanan batin untuk menjumpai Roh di dalam diri kita sendiri, yang mungkin sudah lama terabaikan karena kita terlalu sibuk mengejar ambisi luar. 

Jika Sang Hiudp di dalam diri kita bisa berbicara menembus riuhnya suara pikiran dan ego kita, mungkin ia akan berbisi pelan di telingamu;

'Teman, mau kemana lagi sih kamu mencari kebahagiaan? Aku sudah menunggumu di sini, di dalam dirimu sendiri, sejak lama sekali. Berhentilah mengetuk pintu di luar sana, karena sumber kesejukan yang selama ini kamu cari tuh berdiam di setiap sel tubuhmu sendiri...'

Yuk, mari kita ambil jeda sejenak hari ini. Beri tubuh kita waktu untuk rehat, beri jiwa kita untuk pulihkan kembali kekuatannya yang sempat terkikis. 

Sebagai penutup artikel ini, aku ingin meninggalkan satu pertanyaan reflektif untuk teman-teman semua:

Kapan terakhir kali temans benar-benar berhenti sejenak—bukan untuk merencanakan masa depan atau menyesali masa lalu—melainkan hanya untuk benar-benar hadir, tersenyum, dan menyapa diri sendiri dalam keheningan?

Share cerita teman-teman di kolom komentar, ya! Mari kita 'pulang' ke dalam diri kita sendiri. 

Jakart | Rabu | 8 Juli 2026

Alaika

Newer Posts Older Posts Home

Author

Chemical Engineer by education. Humanitarian by calling. Author as Alaika Abdullah. Making AI simple for everyday life..

SUBSCRIBE & FOLLOW

Speaker

Speaker
I love to talk/share about Digital Literacy, Social Media Management, Content Creation, Personal Branding, Mindset Transformation

1st Winner

1st Winner
Click the picture to read more about this.

1st Winner

1st Winner
Pemenang Utama Blog Competition yang diselenggarakan oleh Falcon Pictures. Click the picture to read more about this.

1st Winner

1st Winner
Blogging Competition yang diselenggarakan oleh Balitbang PUPR

Podcast Winner

Podcast Winner
Pemenang Pilihan Dewan Juri - Podcast Hari Kemerdekaan RI ke 75 by KOMINFO

Winner

Winner
Lomba Menulis Tentang Kebencanaan 2014 - Diselenggarakan oleh Pemerintah Aceh

Winner

Winner
Juara Berbagai Blogging Competition

Featured Post

Yuk telusuri Selat Bosphorus yuk!

Yuk telusuri Selat Bosphorus yuk! Sesaat sebelum naik ke kapal verry Ki-ka: Adik ipar, Aku dan Ayah. Hai.... hai.... hai! In...

POPULAR POSTS

  • Manusia Pertama, Manusia Purba atau Nabi Adam ya?
  • Srikandi Blogger di mataku.
  • Perempuan hebat edisi: “Bapak” sedang Keluar Kota
  • Iran, si Negeri Syiah Sejati
  • Janda. Emang Kenapa?
  • Maafkan Intan Mi....
  • It's Me!
  • All About Tsunami: Malam Pertama
  • Titik Balik di Usia Cantik
  • Berbagi Cerita Bersama BCA - Kemudahan Bertransaksi via BCA

Categories

  • about me 1
  • advertorial 10
  • awards 19
  • banner 1
  • Beauty Corner 28
  • belarus 5
  • bisnis 1
  • Blog Review 2
  • blogger perempuan 1
  • blogging tips 8
  • Bocil Berbulu 2
  • body 6
  • book & writing 1
  • Budaya 1
  • Catatan 8
  • catatan spesial 13
  • catatan. 53
  • catatan. task 20
  • culinary 5
  • curahan hati 2
  • daftar isi blog 1
  • dailycolor 1
  • DF Clinic 11
  • disclosure 1
  • edisi duo 5
  • email post 10
  • embun pagi 1
  • episode kehidupan 1
  • event 1
  • fashion 3
  • financial 1
  • giveaway 44
  • Gratitude 5
  • Healthy-Life 15
  • info 26
  • innerbeauty 2
  • iran 4
  • joke 4
  • Kenangan 7
  • kenangan masa kecil 3
  • kenangan terindah 11
  • keseharianku 2
  • kisah 14
  • kisah jenaka 7
  • kompetisi blog 1
  • komunitas 2
  • KopDar 8
  • Korea 1
  • kuliner 7
  • Lawan TB 2
  • lesson learnt 6
  • lifestyle 2
  • lineation 20
  • lingkungan 1
  • Literasi Digital 5
  • motivation 9
  • museum tsunami aceh 1
  • order 1
  • oriflameku 2
  • parenting 4
  • perempuan tangguh 4
  • perjalanan tiga negara 1
  • petualangan gaib 6
  • picture 5
  • Profile 13
  • puisi 8
  • reflection 3
  • renungan 24
  • reportase 24
  • resensi 2
  • review 39
  • review aplikasi 1
  • rupa 1
  • Sahabat JKN 2
  • sakit 1
  • sea of life 17
  • sejarah 4
  • Sekedar 1
  • sekedar coretan 76
  • sekedar info 23
  • self love 15
  • selingan semusim 9
  • seri BRR 3
  • snack asyik 1
  • soul 3
  • Srikandi Blogger 2
  • Srikandi Blogger 2013 7
  • Srikandi Blogger 2014 4
  • SWAM 1
  • task 41
  • tentang Intan 31
  • Test 1
  • testimoni 8
  • Tips 55
  • tradisi 1
  • tragedy 1
  • traveling 60
  • true story 7
  • tsunami 9
  • turkey 9
  • tutorial 7
  • visa 1
  • wisata tsunami 2

Followers


Blog Archive

  • July (2)
  • May (1)
  • December (1)
  • October (1)
  • March (1)
  • August (2)
  • May (1)
  • April (2)
  • March (6)
  • February (3)
  • January (1)
  • December (1)
  • November (5)
  • October (4)
  • September (3)
  • August (5)
  • July (3)
  • April (1)
  • January (1)
  • December (2)
  • November (1)
  • October (1)
  • September (1)
  • June (1)
  • February (1)
  • December (1)
  • September (2)
  • August (2)
  • June (1)
  • March (1)
  • February (1)
  • December (5)
  • September (2)
  • August (3)
  • July (1)
  • May (3)
  • April (2)
  • March (1)
  • February (1)
  • January (7)
  • December (1)
  • November (5)
  • September (3)
  • August (1)
  • July (4)
  • June (1)
  • May (1)
  • April (3)
  • March (6)
  • February (5)
  • January (7)
  • December (8)
  • November (4)
  • October (12)
  • September (4)
  • August (3)
  • July (2)
  • June (5)
  • May (5)
  • April (1)
  • March (5)
  • February (4)
  • January (6)
  • December (5)
  • November (4)
  • October (8)
  • September (5)
  • August (6)
  • July (3)
  • June (7)
  • May (6)
  • April (7)
  • March (4)
  • February (4)
  • January (16)
  • December (10)
  • November (10)
  • October (3)
  • September (2)
  • August (5)
  • July (7)
  • June (2)
  • May (8)
  • April (8)
  • March (8)
  • February (7)
  • January (9)
  • December (10)
  • November (6)
  • October (11)
  • September (12)
  • August (4)
  • July (9)
  • June (4)
  • May (1)
  • April (12)
  • March (25)
  • February (28)
  • January (30)
  • December (8)
  • November (3)
  • October (1)
  • September (12)
  • August (10)
  • July (5)
  • June (13)
  • May (12)
  • April (19)
  • March (15)
  • February (16)
  • January (8)
  • December (13)
  • November (16)
  • October (23)
  • September (19)
  • August (14)
  • July (22)
  • June (17)
  • May (17)
  • April (19)
  • March (21)
  • February (27)
  • January (17)
  • December (23)
  • November (20)
  • October (16)
  • September (5)
  • August (2)
  • March (1)
  • December (2)
  • April (1)
  • March (1)
  • February (6)
  • January (1)
  • December (1)
  • November (4)
  • September (4)
  • August (1)
  • July (8)
  • June (16)

Oddthemes

Flickr Images

Copyright © My Virtual Corner. Designed by OddThemes