Menu
/ /
Picture from Canva.com, modified by Alaika Abdullah
Hello, dears! Udah lama juga ga nulis di halaman tercinta ini, euy! Jadi kangen deh sama kalian semua! Pada sehat kan? πŸ˜€

Ga terasa, rumah utama ini mulai berdebu, saking asyiknya aku bermain di rumah baru, yang sedang penuh pesona, excitement dan berbagai peluang baru yang ditawarkannya. Rumah yang mana, sih, Al?

Yang ini, lo! Rumah baru di planet steemit! Udah pernah dengar tentangnya? Eits, bukan tak cinta lagi pada rumah ini (My Virtual Corner) yang telah mengukir dengan indahnya namaku di halaman rumah si mbah, sih, tapi karena memang aku sedang excited banget mempelajari rumah baru yang satu ini. Yang tanpa terasa, di hari ke 40 membuka lapak di sini, telah menjadikan reputasinya di angka 44. Aih, Alhamdulillah. Semoga aliran steem dollarnya pun mengalir lancar ke depannya, dari postingan demi postingannya. Aamiin ya Allah.


Lari dari Masalah, Harus kah?

Namun, hari ini, aku tak hendak berbicara tentang rumah baru itu, sih. Melainkan ingin bercerita tentang judul di atas. Yes. Terkadang, banyak dari kita, yang tanpa sengaja melakukannya. Lari dari Masalah, karena tak sanggup berhadapan dengannya. Yang lebih sedihnya lagi, banyak dari kita yang justru mengendapkan masalah, karena merasa itu lebih baik daripada dikeluarkan dan dicarikan solusinya.

Belum dapat bayangan kasusnya yang gimana?
Yang begini, lho! Kebetulan seorang teman barusan curhat, menceritakan sikap seorang sahabatnya yang tiba-tiba saja berubah. Menjauhinya tanpa penjelasan. Hm, emangnya ada yang seperti itu, Al?

Hayyah, kok masih tanya? Coba deh lihat ke dalam diri, jangan-jangan kita sendiri pun pernah demikian. Karena merasa ga enak jika berterus terang. Takut akan menyinggung si teman, jadi kita memilih untuk mundur teratur tanpa penjelasan. Padahal yang seperti ini, sakitnya justru lebih pedih dibandingkan berterus terang ke si teman. Walau akan membuatnya sakit, namun, dia akan tau duduk perkaranya, dan kemungkinan untuk berimprovisasi, kemungkinan untuk memperbaiki sikap pun terbuka lebar, sehingga kita tak perlu mengorbankan sebuah persahabatan bukan?

Sayangnya, di dunia ini, masih banyak pula yang memilih sikap lari dari masalah, tak hendak mengungkapkannya apalagi menyelesaikannya dengan gagah berani. Yap, sungguh disayangkan bukan? Bayangkan, waktu akan berlarut, terbuang percuma. Syakwasangka terbuka lebar. Si teman yang dijauhi akan berpikir macam-macam. Tak urung malah menjadi sedih, namun tak tau apa salahnya. Ga enak banget kan jika kita yang mengalami hal seperti ini?

Janganlah Lari dari Masalah, Tapi Hadapi dengan Gagah Berani.

Yes, aku termasuk orang yang akan serta merta mengejar para pihak untuk menuntaskan masalah. Misalnya nih, aku punya 3 teman karib, yang biasanya kita selalu kompak dan saling support. Namun, pada suatu waktu, namanya kehidupan, kami pun berselisih. Saling mendiamkan dan menjauh. Nah, aku paling ga betah dengan situasi yang seperti ini, sobs!

Maka aku akan mencoba untuk mendudukkan semua pihak. Mengajak semuanya untuk berkepala dingin, berdiskusi. Bercerita duduk perkaranya dengan hati bersih dan lapang, dan kemudian, saat uneg-uneg telah dikeluarkan, hati menjadi lebih tenang, kepala telah sama-sama dingin, maka jalan keluar pun biasanya akan terlihat dengan lebih jelas. Iya enggak, sih, sobs?

Tapi ya itu tadi, sobs. Manusia kan berbeda-beda. Ada yang memang mengendapkan masalah itu terlebih dahulu, ntar kapan-kapan, jika udah rada adem hati, baru dibicarakan, itu pun jika ingat. Hayyah!

Atau lebih parah lagi, sobs. Ada yang pura-pura ga ada masalah. Mencoba lupa, dan waktu pun terulur tanpa kendali. Hati saling curiga, emosi saling berlaga dalam perang dingin yang tak bertepi. Halah. Syedih deh eikeh kalo seperti ini. Hehe.

Kalo kalian gimana? Apa solusi yang kalian lakukan jika persahabatan kalian terkendala seperti ini? Lari dari masalah dan berpura-pura everything is ok? Atau mendudukkan semuanya, brainstorming dan cari solusi?

Share di kolom komentar donk!

Catatan ringan tentang kehidupan,
Al, Bandung, 21 Februari 2018

Read More
/ /
Hari Selasa yang lalu, 13 Februari 2018. Aku dan Intan dengan penuh semangat bersiap diri. Bangun pagi-pagi banget, karena harus membereskan beberapa pekerjaan yang memang harus tuntas sebelum kami meninggalkan rumah. Terutama bagi Intan. Putri tercinta ini terlihat begitu antusias. Jarang-jarang nih putri aurora bangun sepagi itu. Haha. Soalnya Intan tuh termasuk bukan morning person, kayak emaknya juga sih, yang seringnya tidur lagi sehabis shalat subuh.

Tapi Selasa pagi itu, semuanya berbeda. Antusiasme yang menghinggapi Intan tuh, adalah karena dirinya begitu ngefans sama Kaesang Pangareb. Iya, Kaesang yang youtuber itu, lho! Yang anaknya Pak Jokowi, our president! Nah, hari itu, aku dan Intan dapat undangan untuk menghadiri acara launchingnya aplikasi baru dari PayTren, yaitu PayTren 5.0, dan Kaesang, menjadi salah satu narasumber pada acara itu! Makanya Intan jadi begitu antusias, bisa lihat dan ketemu langsung dengan Kaesang!

Tentang PayTren sendiri, aku sebenarnya tak paham sepenuhnya akannya, sih. And I believe that I am not alone on this kan? Tenang, kita akan tau apa itu PayTren lebih jauh sebentar lagi, ok, sobs?

Tekape Acara.

Acara itu bertajuk "Launching Program PayTren Drive bersama Grab Indonesia". Bertempat di The Suites Parahyangan Business Park Blog D6 - D7, Jalan Soekarno Hatta No. 693 - Buah Batu - Bandung. Merupakan lokasi di mana PT. Veritra Sentosa International berkantor.

Para tamu VIP yang duduk manis menanti acara dimulai.
Kami tiba di tekape tepat waktu. Awalnya sih aku mengira bahwa acara ini akan berlangsung di dalam ruangan, sehingga ga menyiapkan diri untuk berdiri outdoor, di dalam paparan cahaya matahari yang sebenarnya masih ramah, namun kemudian mulai membakar wajah. Namun melihat antusiasme para hadirin yang bersemangat, apalagi saat Ustadz Yusuf Mansyur memimpin pengajian (sambil menanti panitia menyiapkan stage untuk acara talkshow), sang Ustadz dengan cerdas mengajak para hadirin untuk secara berjamaah membaca surah Ar-Rahman.

Aih, canggihnya teknologi, di masa kini, mengaji pun sudah demikian mudahnya. Cukup membuka surah yang dimaksud dari gadget masing-masing, maka melantunkan ayat-ayat suci pun menjadi mudah. Thanks to technology! Keren!

Hadirin yang kusyuk melantunkan ayat suci (Surah Ar-Rahman)
via hape masing-masing, dipimpin oleh Ustadz Yusuf Mansyur
Kolaborasi PayTren dengan Grab dan Madhang.

Pasti banyak yang beranggapan bahwa PayTren adalah sebuah teknologi transaksi pembayaran yang diaplikasikan melalui gadget? Yup, persis! Etapi, kini bisnis PayTren semakin lebar sayapnya, lo! Perusahaan jasa pembayaran berbasis aplikasi ini kini merambah ke dunia bisnis lainnya, ditandai dengan kolaborasi apik yang telah ditandatangani dan peluncuran aplikasi baru, "PayTren 5.0" yang dilaunching pada hari Selasa kemarin itu, sobs!

Hari Prabowo, Dirut PayTren, sedang bercerita tentang PayTren
Jadi tuh, PayTren kini berkolaborasi dengan Grab dan Madhang. Kalo Grab, pasti udah pada familiar lah, ya? Siapa coba yang tak kenal armada antar jemput berbasis aplikasi online, dengan seragam hijau segarnya itu?

Kalo Madhang? Sudah pada familiar kah?



Nah, kalo Madhang itu, adalah sebuah aplikasi kuliner yang menggandeng para pelaku usaha kuliner, termasuk ibu-ibu rumah tangga yang doyan masak untuk bergabung dan menjual masakan rumahannya.

Bertolak dari keinginan Kaesang dan teman-temannya untuk mempromosikan kekhasan kuliner khas nusantara, Madhang mencoba menghimpun berbagai masakan rumahan yang lezat untuk ditemukan dan dinikmati oleh setiap penikmat kuliner dan pecinta masakan rumahan.

Seperti yang terpampang di halaman website resmi Madhang.
Dan melalui kolaborasi ini, baik Madhang, PayTren maupun Grab berharap dapat membangun semangat jiwa kewirausahaan di bidang kuliner dan industri rumahan. Ketiga aplikasi ini diharap akan dapat saling support dalam memperlancar setiap kegiatan usaha.

Hari Prabowo, Dirut PayTren mengatakan bahwa kolaborasi ini akan memicu pertumbuhan peluang usaha menjadi masif dan otomatis akan meratakan kesejahteraan masyarakat. Dari payTren produk Madhang bisa dipasarkan, lalu Grab yang akan mengantarkannya ke pelanggan. Lengkap, saling support!

Kerjasama ini, terutama antara Grab dan Madhang, bahkan telah berlangsung di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

"Kami belajar banyak dari Grab dan PayTren, untuk selanjutnya bagaimana memberdayakan ibu-ibu sehingga memiliki kegiatan ekonomi lebih melalui makanan." Ujarnya.

Indahnya kebersamaan, bahu-membahu di dalam berkolaborasi. 

Press Conference dengan para nara sumber
Ki-ka: Ongki Kurniawan, Kaesang Pangarep, Kadis Kominfo Jabar, Hari Prabowo
Tiada yang lebih meringankan suatu beban, selain bekerjasama. Tiada yang lebih menguntungkan, jika semuanya sepakat untuk bahu membahu, berkolaborasi.

Menghadiri acara launching PayTrend 5.0 ini sungguh membuatku bahagia. Menyaksikan tiga perusahaan keren saling mengikat kerjasama, adalah sesuatu yang menyemangati jiwa. Sebuah pembelajaran yang kian membuka mata, bahwa bekerjasa sama itu jauh lebih baik dan menguntungkan, ketimbang saling sikut menyikut dan saling menghambat.

PayTren, Grab dan Madhang telah menunjukkannya. Ketiga perusahaan ini telah memperlihatkan sebuah lingkungan positive dan contoh nyata indahnya kolaborasi.

Trims Ustadz Yusuf Mansyur, Mas Ongki Kurniawan, dan Kaesang Pangarep untuk contoh nyata ini. Sukses selalu untuk PayTren, Grab dan Madhang!

Catatan launching PayTren 5.0
Al, Bandung, 20 Feb 2018


Read More
/ /


Ha? Akupuntur lagi, Al? Emang ada apa, sih? Kok sering banget?

Eh, akupuntur itu sehat, lho! Ini adalah teknik alami dalam merangsang produksi collagen sehingga membuat kulit cerah, sehat dan kencang! Tak cuma itu, sih. Aku jadi beberapa kali menjalani facelift akupuntur ini, karena memang sedang dalam tahapan 'pembenahan' bantalan lemak pada pipi, agar pipi tetap kokoh, sehingga mampu menopang lapisan lemak pada bagian bawah mata/kantung mata, saat nanti dilakukan dermafiller.

Jadi, seperti yang aku ceritakan pada postingan sebelumnya, bahwa setahun setengah yang lalu, aku kan pernah jalani treatment dermafiller untuk menghilangkan kantung mata, tuh. Nah, hyaluranic acid yang disuntikkan ke lapisan bawah kantung mata itu, akan bertahan selama satu tahun. Artinya, setahun kemudian, tindakan yang sama akan diulang, dengan jumlah filler yang disuntikkan tentu tak akan sebanyak yang sebelumnya.

Baca juga: Dermafiller - Solusi Jitu Hilangkan Kantung Mata

Eh ternyata, justru udah setahun lebih, aku belum butuh tindakan itu. Hingga kemudian, setahun setengah kini, terlihat bahwa kantung mata sudah mulai mengintip lagi. Nah, si dokter kece, dr. Dave punya rencana lain. Dia ingin membenahi pondasi bantalan pipiku terlebih dahulu, karena menurutnya, kantung mata itu justru terbentuk karena bantalan lemak pipi yang menipis. Bantalan lemak yang menipis ini, menyebabkan lapisan bawah mata ikut turun membentuk kantung mata, karena tak ada yang menyokongnya lagi.

Canggih bener ya, pemikirannya? Ini yang paling aku kagumi dari dr. Dave! Doi tuh ga mau main-main. Ga mau instant dengan hasil yang ga maksimal.

Sebenarnya, demi mengeruk keuntungan, bisa aja kan doi langsung mengiyakan untuk lakukan dermafiller (koreksi kantung mata) begitu pasien menginginkannya? Namun enggak tuh! dr. Dave akan lihat dulu kondisi si pasien.

"Dokter estetik itu layaknya pekerja seni. Kami ga ingin hasil karya kami amburadul atau ala kadarnya. Kami ingin hasil yang maksimal." Katanya dengan tegas, pada suatu hari. Proud of you, Doc! 


Baca juga: Facelift Pertama by Teh Winda Sari

Maka, dokter Dave pun memutuskan untuk melakukan beberapa tahapan facelift akupuntur terlebih dahulu, untuk membenahi bantalan lemak pipi ini. Itu lah sebabnya mengapa aku kini diminta untuk lakukan facelift akupuntur lagi.

Dan kali ini, akan dilakukan oleh dr. Tessa Salim.




Tak ada keraguan di hati akan kemampuan dr. Tessa. Selain karena telah mengenalnya dengan baik, aku juga yakin akan keahliannya melakukan akupuntur facelift ini. Dan benar saja, setelah krim anestesi yang dioleskan ke wajahku bekerja secara maksimal, maka dr. Tessa langsung mengeksekusi.

Satu persatu jarum khusus itu ditancapkan dengan penuh kehati-hatian dan lembut ke wajahku. Sembari ngobrol santai hingga aku yang memang sedang ngantuk kala itu, tertidur lelap. Aih. Emang ya, akupuntur ini kelihatannya aja ngeri, menyakitkan, padahal yang menjalaninya malah sempat-sempatnya tertidur! πŸ˜€

. ~ Setengah Hari Bersama dr. Tezza Salim ~ . Treatment: Acupuncture Facelift Harga: IDR. 2 jt. . Beauty is pain, kata orang. Kalo kata aku sih, untuk tetap cantik memang butuh upaya. Beauty needs effort. Dan aku jatuh hati dengan yang satu ini. . Acupuncture facelift dari Lineation Korean Center. Aku nyaman banget dengan teknik yang satu ini. . Walau terlihat menyeramkan atau menyakitkan, sesungguhnya (halah), ini sama sekali ga sakit. Karena sebelum tindakan akupuntur, wajah sudah dikebalkan alias dianestesi terlebih dahulu, sehingga saat terjadi penusukan jarum demi jarum oleh tangan cantik dr. @tezz_ahh yang dengan sabar dan penuh perhatian menancapkannya ke wajahku, aku malah bisa senyum-senyum bahkan sempat tertidur. I love this treatment. . Dan..., menurutku, dokter estetika itu ibarat pekerja seni. Mereka mencintai pekerjaannya dan karena ini lebih ke art, mereka terlihat menikmati sekali proses demi proses dalam 'mengukir' kecantikan bagi para pasiennya. . Thanks dr. Tezza, setengah hari bersamamu, begitu berarti. Minggu depan kita ketemu lagi untuk cek ricek hasil 'lukisan'mu yaaa. Hehe. Muaach. . #hypstarindonesia #lifestyle #beautyblogger #facelift #acupuncturefacelift #lineationcenter #lineationclinic @lineation.id
A post shared by Alaika Abdullah (@alaikaabdullah) on

See? Keliatan banget ya kalo dr. Tessa itu penuh perhatian dan berhati lemah lembut? Care banget, gitu, lo! Caranya menancapkan jarum demi jarum itu, sungguh bikin hati tenang. Dokter Putri dan Teh Winda juga begitu kemarin, penuh kehati-hatian dan care. Senang deh bisa menjalani terapi di klinik elite ini!

Seminggu kemudiaan - The Result

Pasti penasaran donk akan hasilnya? Aku juga. Asyiknya tuh, aku termasuk yang sukses dalam menjalani akupuntur. Kulit wajah Alhamdulillah sama sekali ga biru bekas di akupuntur. Ada juga pasien yang sampai lama bekas birunya di wajah. Nah, kalo aku, Alhamdulillah enggak. Jadi bisa langsung keliatan kinclong.

Alhamdulillah. Wajahku terlihat kinclong, dan kencang. Hanya sayangnya, pada bagian pipi, kok terlihat kayak rahangku jadi kokoh dan jadi kurang tirus, ya?
Saat aku konfirmasi ke dr. Dave, katanya sih itu karena dr. Tessa masih sedang mengerjakan bagian pipi atas. Untuk pipi bawah akan dilakukan lagi, yang memang untuk mengangkat kedua pipi agar kencang dan tirus. Ah, i see.

Ok, baiklah, besok mau ketemu dr. Tessa lagi, ah! Udah kangen, plus ingin tunjukkan hasil karyanya yang kece ini.


Ingin coba treatmen sehat alami ini juga? Yuk, hubungi langsung di contact info berikut ya, sobs!

Jalan Leumah Neundeut No. 10
Bandung - 40164
Telp. 022-2010593
Read More
/ /
Membaca judul di atas, pasti langsung menebak bahwa aku sedang galau karena hendak traveling, dan sulit menentukan apakah akan menyeret koper atau justru memanggul ransel alias backpack, ya kan?

Eits, enggak loh! Aku bukan hendak traveling, karena musim traveling sedang berpindah ke tempat lain, alias aku sedang ga bisa traveling dulu, karena sedang fokus pada sesuatu yang membuatku has to stay in town dulu. 

Etapi, bicara tentang koper dan ransel, menurut aku sih, keduanya sama penting karena kebutuhan orang akannya tentu berbeda-beda. Aku sendiri, biasanya akan pakai koper jika tujuan kepergianku adalah untuk urusan kantor/dinas keluar daerah. Baik itu travelingnya menggunakan jalan darat (mobil kantor atau bis), laut maupun udara, aku pasti akan bawa koper. Tinggal menyesuaikan ukuran koper-nya saja. Jika dinasnya hanya sehari dua hari, tentu aku akan bawa koper yang kecil saja, biar ringkas. Dan pada intinya sih, aku paling males kalo harus bawa printilan, makanya aku selalu berusaha untuk memasukkan semua bawaan ke dalam satu koper saja, biar praktis.

koper
Bersama BP Team berwisata ke Korea Selatan
Searah jarum jam; Alaika, Putri, Rani, Alma, Nunik dan Shinta.
Selain untuk tujuan dinas, maka koper, biasanya akan aku geret jika perjalanan wisata ke luar negeri. Ya iya lah, rasanya ribet aja kalo harus memanggul carrier (si ransel yang segede gaban itu) untuk bepergian di luar negeri. Secara jalanan di sana kan udah mulus banget dan koper friendly banget, jadi menyeret koper dengan ukuran koper yang besar pun akan jauh lebih mudah dibandingkan memanggul carrier atau backpack.


Lain halnya jika tujuan dari perjalanannya adalah untuk petualangan alam atau pun backpacking. Nah, kalo seperti ini, jelas-jelas membawa koper justru akan menghambat kegesitan perjalanan, bahkan juga bakalan ditertawakan teman-teman seperjalanan. Haha. Ga mau donk dibully, hihi. Seperti perjalanan untuk menikmati alam pedesaan dan serunya bertualang di alam Citumang, misalnya. Having fun di sana sembari ber-body rafting, atau sekedar tracking di tracking areanya yang yahud. Nah, sudah pasti aku akan memanggul ransel, dunk!

Atau, perjalanan mendaki gunung bersama teman-teman pendaki alam Nature Walk Bandung, sudah pasti aku akan pilih untuk memanggul carrier. Ga mungkin lah nyeret koper untuk mendaki gunung. Hahaha. Gile aja yak? πŸ˜€πŸ˜‚

Bicara tentang koper dan ransel, sebenarnya sudah dipahami bersama sih penggunaannya. Ada masanya kita memang harus menyeret koper, namun ada kalanya kita justru harus memanggul ransel. Tapi ga semua orang sepemahaman, sih. Ada juga teman yang kemana-mana lebih nyaman membawa ransel. Alasannya lebih enak, tinggal panggul.

Etapi, kan berat juga ya kalo harus memanggul ransel, sementara tujuan perjalanannya adalah ke kota yang jalanannya koper friendly. Bisa digeret tanpa harus lelah memanggul. Namun, ya itu tadi, sobs. Terpulang kembali ke kenyamanan masing-masing lah ya.

Kalo aku sih, menyesuaikan dengan kebutuhan saja. Ada kalanya aku akan dengan senang hati bawa backpack, misalnya saja jika harus ke Jakarta untuk beberapa hari, dengan menggunakan kendaraan pribadi atau travel atau pun kereta, maka aku akan panggul ransel aja, karena menurutku koper akan ribet jika harus menggunakan jasa ojek online menuju tempat menginap.

Kalo kalian sendiri, sobs? Gimana? Kapan akan menyeret koper, dan kapan akan memanggul ransel? Pernah juga donk pastinya, memadukan keduanya? Di mana kita akan bawa koper, plus ransel, ditambah pula dengan printilan goodie bag segala? Haha.

Aku juga sering begitu, malah! Haha. Jadi aturannya jelas ga bisa saklek, yak? Kudu menyesuaikan kembali dengan keperluan, waktu dan kesempatan. Betul?

Obrolan santai antara koper dan ransel,
Al, Jakarta, 5 Februari 2018


Read More
/ /
Hari telah siang ketika aku sampai di halaman parkirnya Lineation Korean Center, Kamis kemarin, 1 February 2018. Matahari bersinar lumayan terik, membuat aku harus berlari mencapai pintu masuk agar cahaya matahari tak sempat menjilati wajahku yang baru saja dilaser oleh dr. Dave. 

Clinic elite ini terlihat tenang, adem dan menyenangkan. Apalagi disambut oleh sapaan "Anyeong Haseo" dari teteh-teteh gareulis di front office, yang dengan ramah menyapa setiap pengunjung, membuat hatiku riang. 

Beberapa orang terlihat duduk di sofanya yang empuk, dan beberapa lagi terlihat duduk di cafe corner yang cozy, di balik dinding bergambar dua merak hijau yang cantik. Sungguh, berkunjung ke pusat kecantikan dan kesehatan yang satu ini, selalu mampu bikin hati ceria dan bahagia.

Bukan, kunjunganku kali ini bukan untuk bertemu dr. Dave, sang pemilik clinic which is also my aesthetic doctormelainkan punya janji dengan Pak Agus Hanafi, sang punggawa program Lineation Regenesis+, Langkah Keempat, yang justru suka banget menyebut dirinya "dukun moderen". Aku memanggilnya suhu. Suhu Agus Hanafi.
Baca juga: Lineation Regenesis+, Your Ticket to Optimum Happiness

Langkah ke empat ini dikenal dengan nama "Energy & Mindset Reprograming". Pasti pada penasaran kan? Kayak gimana sih programnya itu? Bisa untuk kasus apa aja sih? 


EMR ternyata bisa untuk kencangkan Mrs. V dan Payudara, lho!

Nah, tadinya aku berfikir bahwa langkah ke empat dari stress management program milik Lineation Center ini, hanyalah untuk mengobati trauma atau depresi (karena berhubungan dengan stress management), untuk melepaskan pasien dari ketergantungan terhadap narkoba, alkohol atau pun ketergantungan terhadap hal-hal negatif lainnya, namun ternyata, setelah ngobrol langsung dengan sang punggawa, ya ampun, ternyata EMR ini aplikasinya bisa untuk menangani berbagai permasalahan, lho! Ngobrol lama dengan sang suhu, sungguh bikin aku terpana. Ya ampun. Luas banget cakupan manfaatnya!

Dan seperti judul yang aku ukir di atas, ternyata EMR juga bisa diaplikasikan untuk mengobati permasalahan Mrs. V yang tak lagi seirama dengan Mr. P, lho! Dan juga bisa untuk kencangkan payudara! Bahkan juga bisa untuk mengencangkan kulit wajah dan pipi!

What???
Iya, lho! Kami ngobrol asyik tentang Mrs. V dan kedua bukit kembar itu! 😊
vagina
Eits! Jangan langsung close artikel ini, karena aku ingin mengabarkan tentang sebuah info, yang sesungguhnya bukan saja bermanfaat bagi para suami, namun utamanya adalah untuk kita sendiri, para wanita! Sware, you will thank me after read this article! 😊

Si Jalan Lahir yang Justru Terabaikan

Tentu kita semua paham bahwa Mrs. V alias kemaluan wanita (vagina) adalah sebuah organ tubuh berbentuk tube yang terdiri dari otot yang elastis, menghubungkan uterus, serviks dan bagian terluar yang disebut vulva. Fungsinya adalah sebagai organ seksual yang juga menjadi organ reproduksi atau penerus keturunan.

Elastisitasnya yang mumpuni untuk kembali ke bentuk asalnya, walaupun telah dimasuki oleh benda lain, atau bahkan telah mengeluarkan keturunan hingga membuatnya melar/meregang hingga 10 cm, kerap membuat wanita begitu percaya diri untuk membiarkannya begitu saja tanpa perawatan. "Toh ntar juga balik rapet lagi!". Pemikiran ini kerap membuat vagina terabaikan.

Ditambah pula dengan kesibukan mengurus bayi dan urusan domestik rumah tangga yang lainnya, membuat me time mengurus organ penting yang satu ini pun terkesampingkan. Hingga kemudian, perlahan pak suami mulai mengeluh, karena Mrs. V yang dulunya sempit, sexy, sehat dan terawat, kini tak lagi mampu bersinergi dalam mencapai syurga duniawi. Jadilah Mr. P bagaikan pungguk yang merindukan bulan.

Vagina juga alami trauma.

Mrs. V adalah organ yang sangat sensitif. Tubuh kita mencatat segala trauma yang terjadi, termasuk terhadap Mrs. V nun di alam bawah sadar sana. What? Mrs. V bisa alami trauma? Trauma yang bagaimana kah, Al?

Yup. Trauma tidaklah melulu urusan hati atau jiwa. Tubuh yang terluka, tubuh yang memar oleh hantaman atau benturan, tubuh yang terluka karena kecelakaan atau apa pun yang menyebabkan terjadinya luka, adalah masuk ke dalam kategori hard trauma, yang walau secara fisik terlihat sudah sembuh, namun ternyata, jauh di alam bawah sadar, masih disimpan rapi sebagai 'trauma'.

Begitu juga dengan trauma vagina. Tanpa kita sadari, perlakuan koitus (penetrasi) yang tidak menyenangkan, kurang apik atau dilakukan dengan paksa, membekaskan trauma pada vagina, lho! Konon lagi yang mengalami perkosaan atau perlakuan kasar pada organ intim ini, jelas memberikan dampak trauma yang membekas hingga ke masa depan.

Tak hanya itu, proses kelahiran bayi yang sulit dan tetap berjalan secara normal, namun membutuhkan alat bantu, terkadang juga menghasilkan trauma pada vagina. Selain membuat elastisitasnya tak mampu kembali seperti sediakala, juga menimbulkan trauma batin yang membuat hati pemiliknya takut, nelangsa, dan membekas pada rasa tak nyaman untuk kembali menyediakan 'ruang' tersebut bagi pak suami.

Akibatnya apa? Hubungan suami istri menjadi renggang. Tak lagi harmonis karena saling merasa tak nyaman.

EMR sebagai solusi jitu atasi problema tersebut di atas.

Yes. As I said above. EMR (Energy and Mindset Reprogramming) juga bisa banget lho menjadi solusi untuk atasi problema ini. Tak hanya merapatkan kembali otot-otot vagina yang mengendur, tapi EMR juga mampu untuk mengencangkan kembali payudara yang turun dan mengendur. Ha? Masa' sih, Al? Carane piye? 

Iya, lo! Beneran!

Terapi EMR untuk mengencangkan otot-otot vagina dan payudara, tanpa sentuhan melainkan via pengaturan mindset dan penyaluran energi. 

Berdiskusi topik apa pun dengan suhu Agus Hanafi selalu saja menarik. Aku tuh ga pernah bosan jika duduk bareng dan ngobrol dengannya. Mulai dari yang serius hingga yang penuh guyonan, selalu saja mampu membuatku duduk bak prangko yang telah direkat ke amplopnya. Tak beranjak.

Termasuk ngobrolin yang satu ini. Walau hanya duduk berdua di ruang prakteknya (di Lineation Korean Center), namun aku merasa nyaman dan feeling free to discuss about these sensitive things. Cara suhu berbicara sangat santun, sehingga membuat obrolan kami interaktif, informatif dan sangat menarik.

Bak wartawan yang kian penasaran, pertanyaanku mulai meningkat ke bagaimana cara terapinya. Iya, dunk. Aku kan kepo, apakah terapi ini dengan cara harus menyentuh organ intim kita? Malu kan kalo harus sampai seperti itu? Haha.

Dan...? Dan ternyata sodara-sodara! Terapi ini sama sekali tidak perlu menyentuh organ tubuh yang hendak diterapi, lo. Jadi pasien cukup didudukkan dengan santai pada kursi terapinya yang nyaman, lalu suhu akan melakukan assessment, sugesti, penyaluran energi, dan mindset reprogramming!

Terapi ini sama sekali ga perlu buka-bukaan pakaian. Apalagi bagian undiesnya. Aman terkendali.

Menjadi pasien sang suhu. 

Yes, beneran. Terapi ini sama sekali ga perlu sentuh organ intim kita.   Ga perlu buka-bukaan pakaian luar maupun dalam. Aman terkendali. Aku bisa bilang begini karena udah dapat tawaran untuk mencobanya, sobs. Hehe.

Iya donk. Kudu nyoba kan? Tanpa bukti, segala sesuatu tentu akan dianggap hoax. Betul? Makanya kala suhu menawarkanku untuk mencoba terapi ini, agar aku mampu bercerita tanpa mereka-reka. Aku langsung yes. Ya, walau pun proses melahirkan Intan, nun 21 tahun silam adalah melalui proses caesarian, tapi rasanya sayang banget kan melewatkan tawaran dari suhu ini?

Modal utama dari terapi ini adalah kemauan dari pasien untuk bekerjasama dengan sang terapis. Jadi aku harus komit untuk bekerjasama dengan suhu, untuk patuh pada sugestinya nanti. Ok. Will do. Dan berpindahlah aku ke kursi terapi yang nyaman itu. Suhu mengatur posisi sandaran kursinya hingga benar-benar nyaman bagiku. Lalu suhu mengarahkan aku untuk benar-benar rileks, sembari beliau membimbing gelombang otakku untuk berada pada gelombang tetha (deeply relaxed). Perlahan suhu memintaku untuk mengingat kembali (me-recall) saat-saat paling mengesankan kala berhubungan intim dengan suamiku.


Mengapa diminta untuk mengingat saat-saat indah itu? Karena pada saat-saat itu lah kondisi Mrs. V berada dalam kondisi paling sip (mencengkram kuat), dan siap untuk membawa pak suami melayang ke awan. Hehe. Dan nantinya, kondisi Mrs. V akan direset kembali ke kondisi yang paling sip ini.

Oya, aku berada dalam keadaan sadar penuh saat terapi ini berlangsung. Jadi kita memang sadar, hanya saja kita membujuk pikiran kita untuk fokus dan ga lari-lari. Jadi fokus untuk memanggil kembali momen-momen yang diinginkan.

Sebenarnya sih, aku agak bingung juga dalam menentukannya, karena yang namanya hubungan intim dengan suami, kayaknya semuanya indah sih. Haha. Eh, ada juga sih sekali dua yang ngeselin, paksu saking lelahnya jadi lupa untuk after play. Haha. Ops!

Anyway, back to the therapy. Ga butuh waktu lama untuk terapi ini. Begitu tubuhku telah memberi tanda ke suhu bahwa aku telah mampu me-recall kenangan indah itu, maka suhu melakukan penyaluran energi (dari jarak beberapa puluh senti meter) ke bagian tubuhku which is pada bagian rahim, perut atas dan payudara. Terasa ada aliran panas yang kayak kesetrum halus mengalir pada bagian-bagian itu. Dari rahim mengalir ke atas hingga ke dada. Disertai beberapa kata sugesti, lalu suhu menutup terapinya dan memintaku untuk membuka mata secara perlahan.

Dan...? Aneh tapi nyata, aku merasa ada aliran panas (energi) yang mengalir di dalam tubuh, mengencang di bagian perut atas juga bagian payudara. Juga pada kedua pipi, karena suhu juga menyalurkan energi untuk mengencangkan kedua pipiku. Ah, mungkin ini hanya sugesti, pikirku dalam hati.

Etapi..., sesampai di rumah, aku coba lihat donk di depan kaca, haha. Dan...? Iya sih, kedua gunung kembar milikku terlihat kian mengencang. Kedua pipiku juga terasa mengencang. Tapi...? Masak secepat itu hasilnya?

Lalu, aku jadi kepo donk tentang perubahan pada Mrs. V. Any changes? Aih, jadi ga sabar nungguin si Mas pulang kantor. Haha.

A week later...,

Tulisan ini terbit setelah seminggu aku diterapi. Dan hasilnya setelah ujicoba pada paksu? Luarbiasa! Doi jadi makin kesemsem! Haha. You should try, deh. Make your appointment to meet Pak Agus Hanafi at:


Jalan Leumah Neundeut No. 10 
Bandung - 40164
Telp. 022-2010593

Untuk terapi menghilangkan trauma baik pada organ vital atau tubuh lainnya, juga bisa melangkah dan konsultasi langsung dengan Bapak Agus Hanafi, sang suhu saya ini, deh! Semoga informasi ini bermanfaat, ya, sobs!

Serba serbi terapi EMR,
Al, Bandung, 8 Februari 2018
Read More