Menu
/
Credit
Sebuah diskusi hangat dan menarik berkembang di sebuah thread di grup FB yang aku ikuti. Topiknya adalah tentang perlu tidaknya seorang wanita itu berkarir alias bekerja. Sebuah topik yang selalu saja akan menghasilkan jawaban pro dan kontra pastinya. Dan, sudah pasti, kita harus menghargai setiap jawaban yang diberikan oleh masing-masing individu dunk. :)

Ada yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga sejati. Mengurus suami dan anak-anak dan segala urusan rumah tangga. Tentu itu adalah tugas dan pilihan mulia. Sama sekali tidak salah. Pantes pula kita acungkan jempol, karena untuk itu lah seorang istri dan ibu diciptakan bukan? :)
Ada pula yang menjawab bahwa dirinya memilih untuk tak hanya menjadi istri dan ibu, tapi juga menjadi wanita karir. Wow, ini juga pilihan apik yang perlu acungan jempol deh. Tidak ada salahnya. Cool.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan para wanita ini berkarir, di antaranya adalah untuk membantu ekonomi keluarga, untuk aktualisasi diri (sayangkan jika udah kuliah tinggi-2, eh akhirnya hanya berakhir di rumah?) Dan berbagai alasan lainnya.

Menurutku sih, kedua pilihan itu, sah-sah saja. Apalagi dijalankan dengan dukungan penuh (persetujuan) sang suami. Tapi boleh donk memberikan opini pribadi tentang hal ini? :D

Namun sebelumnya, aku ingin memberikan pengertian secara khusus dulu tentang arti kata 'bekerja' yang akan kita bahas di dalam artikel ini ya, Sobs!
'Bekerja' di sini, tak hanya terbatas pada 'kerja kantoran' lho ya, tapi mencakup arti yang lebih luas. 'Wanita bekerja' dalam artikel ini, maksudnya adalah para wanita yang mampu berdikari, mampu menghasilkan uang/nafkah, mengelola keuangan dari hasil kegiatannya. Misalnya dari hasil buka/kelola kantin, membuat handicraft/prakarya, menjahit, berjualan/dagang, internet marketing dan berbagai aktivitas produktif dan positif lainnya.

Menurutku, setiap wanita itu harus 'bekerja'. Ingat lho, arti kata bekerja dalam artikel ini adalah yang tertulis pada paragraf sebelumnya. Yup, setiap wanita, setiap istri harus mampu berdikari. Mengapa?
Karena, ada sebuah rahasia Ilahi, yang kita tak pernah mampu menguaknya. AJAL. Dia adalah sebuah kepastian yang tak pernah delay. Tak pernah bisa kita ulur waktunya. Begitu tiba waktunya, maka tak seorang pun mampu menolak, apalagi protes.

Kita tak pernah tau, siapa yang akan lebih dulu dijemput sang ajal. Kita kah (istri) atau sang suami? Nah, jika yang harus pergi lebih dahulu adalah suami tercinta, sementara kita tidak memiliki kemampuan untuk menghasilkan nafkah, bayangkan bagaimana jadinya kelanjutan kehidupan kita dan anak-anak, begitu kehilangan tulang punggung keluarga? Kehilangan si pencari nafkah? Keluarga kita, mungkin akan mencoba membantu, tapi sampai kapan? Itu pun jika mereka mampu melakukannya. Bukankah mereka juga punya keluarga sendiri yang harus diurus dan pertanggungjawabkan?
Ibuku, selalu berpesan, bahwa sebagai wanita, aku harus berdikari. Harus mampu menghasilkan pendapatan untuk menunjang kehidupanku. Terserah caranya, yang penting halal. Mau kerja kantoran, mau dagang, investasi atau apa pun, yang penting harus pinter cari duit. Karena kita tak pernah tau siapa yang akan pergi duluan! Itu kalimat yang selalu ditanamkan oleh ibuku, dan hingga kini terpatri rapi di benakku.

Back to the topic, selain karena ajal, yang menjadi pemisah utama antara sang istri dan suaminya, juga mungkin (kita tak pernah tau toh bagaimana ke depannya?), perceraian, dapat pula menjadi alasan mengapa seorang wanita harus mampu berdikari. Selain itu, single woman, jg wajib menjadi wanita berdikari, benar tidak, Sobs?

Jadi, menurut hematku sih, setiap wanita, sudah seharusnya melatih diri, mengasah kemampuan untuk mampu 'bekerja'. Ingat ya, 'bekerja' sesuai dengan pengertian yang kita sepakati di atas lho. Mampu berdikari. Paling asyik sih, jika kita mampu menghasilkan pendapatan di bidang yang memang kita sukai. Sesuai dengan passion kita. Namun, tentu tak semua orang berkesempatan seindah itu, bisa 'bekerja' sesuai passionnya. Tapi tak perlu lah hal itu membuat kita kecewa. Pasti akan ada peluang yang terbuka bagi kita yang memang berminat untuk mencobanya. Yuk ah, kita coba lihat peluang apa yang kira-kira bisa kita masuki dan berdayakan untuk melatih diri, agar mampu menjadi wanita-wanita tangguh dan mandiri, tentu saja, tanpa melupakan kodrat diri. :)

Sebuah catatan pembelajaran dalam kehidupan, 
diposting sambil menemani putri tercinta having hair treatment di sebuah salon.

Al, Bandung, 20 juni 2013 

Powered by Telkomsel BlackBerry®



74 comments:

  1. setuju banget mbak..
    itu juga yang dipesankan ibuku, berdikari dan saya setuju dengan pengertian bekerjanya :D

    semangat buat para wanita!!

    ReplyDelete
  2. Perempuan yang berkarir juga menurutku TOP. yang penting bisa menyeimbangkan antara pekerjaan dan tugasnya sebagai istri atau ibu. yang penting lagi, bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik2nya.

    #kata Bapakku sih gitu. :D

    ReplyDelete
  3. Cool... Like this deh mba Al ;)
    Ibuku juga berpesan hal yang sama.. Jadi istri itu jangan pernah tergantung pada suami, harus bisa mandiri

    ReplyDelete
  4. Oh itu bener banget mbak Al, kalo aku sekarang ini merasa beruntung karena cari uang bukan kewajiban melainkan hanya untuk uang jajanku aja tapi juga udah mulai mikir untuk mulai buat jaring2 pengaman. Papaku meninggal waktu aku umur 2 tahunan dan I was raised by single mother the whole my life. Jadi satu pesan nyokap yang selalu ditekankan itu ya itu ajal, kita gak pernah tau kan siapa yg ninggalin lebih dulu nah kalo kita yang ditinggalin duluan siap gak baik secara mental maupun financial. Begitsyu. hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mbak Rina, kita ga pernah tau kapan sang ajal akan menjemput, dan siapa yang akan dijemput terlebih dahulu. Sudah sepantasnyalah kita menyiapkan diri agar bisa survive, andaikan yang dijemput lebih dulu adalah kekasih hati. :)

      Delete
  5. Terus terang mba Alaika, ini yang sering mengganggu pikiranku, sebelum ikut tugas suami ke negeri jiran daku adalah wanita bekerja. Pindah ke mari dg anak masih kecil2, daku masih berkeinginan suatu saat nanti meneruskan S3 dan balik mengajar. Tapi apa daya, setelah perjuangan berat membuat research paper, dapat offering kondisi berubah, kami hrs mengetatkan ikat pinggang, tak mungkin lagi mampu bayar tuition fee. Patah hati, ketakutan banget, walaupun daku tak tinggal diam, belajar trading, mengenal stock market, tapi hasilnya belum seberapa. Cuma diriku berprasangka baik dengan Allah, kupasrahkan ketakutanku dengan meminta perlindungannya, walaupun sampai saat ini tidak bekerja, tapi Insya Allah pasti ada jalan. Oh ya, saya ibu rumah tangga tapi hampir semuanya mengurus sendiri, dari mengecat-cuci-setrika-baking-masak-mengajar anak belajar dilakukan sela jeda mengamati running trade di rumah.
    Ijust believe Allah will help, krn tidak semua wanita memiliki kemewahan itu mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mak, saranku, impian itu harus tetap digantung tinggi, agar di saat lelah dan tengadah, dia akan melambai dan memompa semangat kita untuk tetap menyiapkan jalan meraihnya. Jangan pernah terpuruk oleh kecewa yang mendalam. Percaya deh, jalan A gagal, masih ada jalan B yang bisa dirintis, yang penting semangat juang harus tetap menyala, karena kesuksesan hanya akan menghampiri orang-orang yang bersemangat mencapainya. :)

      Langkah emak udah cukup bagus atuh. Trading/bermain di stock market adalah langkah yang baik kok, Mak. Peluang yang masih terbuka lebar itu, kebetulan saya juga sedang merambah kesana. Semoga kita bisa sukses di bidang ini , ya Mak. :)

      Yup, harus selalu berprasangka baik kepada Allah, bahwa dibalik segala cobaan dan ujianNya, Allah melengkapi kita dengan senjata untuk menghadapi si ujian/cobaan itu sendiri. :)

      Yuk, semangat yaaa.

      Delete
  6. Aaahhh sejuta, eh setuju, Maaakkk. Btw, ini ngetiknya dari BB? Canggiiih. *ngeliatin jempol jaheku* Xixixi ....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, Mak Haya bisa aja deh!

      Delete
    2. Hah? ngetik pake BB?? ya ampunnn keriting sih klo saya mah :D

      keren selalu tulisaannnya

      Delete
  7. 4 jempol makkk... ketik pake bebeb, klo saya sikk gak bisa, berhubung suka lier ngeliat hurup" yg kecil" :p

    anyway, soal wanita bekerja, saya setuju banget, emang bekerja itu gak harus mlu bekerja di kantor.. yg penting bs menghasilkan uang untuk membantu keuangan keluarga XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih gampang pake BB lagi Hima, daripada pake touch screen, typo melulu jadinya. :)

      Yup, bener banget!

      Delete
  8. apapun pilhannya harus bisa dipertanggung jawabkan ya mbak Al, sebagai ibu rumah tangga juga sebaiknya punya penghasilan untuk jaga-jaga kedepannya ya mbak jadi waktu dengan anak ada tapi bisa menghasilkan sesuatu juga

    ReplyDelete
  9. setuju mak..
    meskipun saya sendiri msh nyari "pekerjaan" yg pas..

    ReplyDelete
  10. apapun pilihannya yang penting tidak ada pihak yang merasa dirugikan...entah apa itu suami, anak, ataupun orang tua. Yang penting semuanya masih dalam koridor agama.
    saya setuju banget....kata2 yg tentang perempuan itu harus 'bekerja'. Kalau samapai ada yg bilang ibu rumah tangga itu tidak bekerja....saya bilang salah banget karena ibu rumah tangga itu 'bekerja' bahkan dengan 'bayaran' yang sangat tinggi yakni keridhoa-an dari Allah SWT. Mungkin secara kemandirian finansial tidak terlihat...namun skill yang dimiliki oleh beliau sangatlah luar biasa, multi tasking pekerjaan sangat mudah dilakukan dan itu modal apabila mau melakukan sebuah pekerjaan yang benar2 menghasilkan kemandirian finansial.
    Apapun pilihan....semoga memberikan hasil yang optimal bagi semua pihak....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas kunjungan dan komennya, Mas Necky. Ya, memang begitulah seharusnya. :) Apapun pilihannya, smg memberikan hasil yang optimal bagi semua pihak yaaa. :)

      Delete
  11. setuju, Mak...

    Mak, ijin copas komentarnya di blogku, boleh ndak? Mo aku tambahin ke dalam artikelku..

    ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siip, Mak Novia. Silahkan, tapi yang mau dicopas itu komentar yang mana say?

      Delete
  12. setuju mba Al. Ajal tidak ada seorangpun yang dapat menolaknya. Suka dengan definisi "bekerja" artinya mandiri, berdikari. jadi ibu rumah tangga sejatipun menurut aku menurut aku adalah bekerja. Jadi ibu rumah tangga profesional. bukan ibu rumah tangga biasa. walaupun misalnya tidak menghasilkan uangnya sendiri, tapi terampil dalam mengelola keuangan dipercayakan suami pun patut diacungin jempol. Hidup wanita :):)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, karena memang begitulah seharusnya definisi dari kata bekerja kan ya? :)

      Seorang istri yang baik bukan hanya seorang istri yang bisa mengurus suami, anak dan rumah, tapi juga piawai mengelola keuangan keluarga kan? :)

      Delete
  13. Saya terbiasa kerja sendiri, saat suami atau orang tua tidak bisa memenuhi apa yang saya mau saya bisa cari sendiri ^^. Bukan sombong tapi ngga mau ketergantungan, hanya meminta tapi juga ingin memberi. Apalagi anak tertua yang jadi panutan buat adik adik :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang seharusnya begitu, Mak. Melatih kemandirian sedari muda itu adalah kegiatan luar biasa, dan efeknya kerasa banget bahkan jauh setelahnya kan? :)

      Delete
  14. Islam tidak melarang wanita bekerja. Contohnya Khadijah, dia adalah seorang wirausaha yang sukses. Namun tetap harus ingat pada kodratnya, sunatullahnya sebagai wanita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, absolutely agree with you, Mbak Niken. :)

      Delete
  15. Setuju banget mba Al, harus tetap bisa berdikari dan mandiri ya^^

    ReplyDelete
  16. beneeeeeeerrrrr
    setujuuuuuuuuuuuuuuuh pokoknyaaaaaa
    jadi wanita itu gak boleh tergantung pada lelaki
    harus mampu berdikari

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siiip, Yes Elsa. Kita harus mampu berdikari dan mandiri, dengan cara kita sendiri. :)

      Delete
  17. mantap cut kak, sambil temani buah hati having hair treatment di salon aja bisa nulis tulisan yang mengungah. betul cut kak, wanita memang harus bisa berdikari. realita sekarang sering kita lihat betapa mirisnya kehidupan wanita yang tidak bekerja lalu tiba2 di tinggal suami. that sayang ta kalon nasib lagenyan, tapi seandai jih na kerja pasti hana that terasa wate di tinggai linto, krn apapun cerita, kita tidak boleh hanya berpikir tentang bahagia saja, namun kita harus berpikir apa yang akan kita lakukan jika hal yang terburuk terjadi. dengan kita berdikari, insyaallah kita bisa menghasilkan pendapatan, minimal utk diri sendiri ga perlu mengharap uluran tangan sanak keluarga. makanya cut kak, walau lisa ikut suami dan menjadi ibu rumah tangga, namun lisa tetap ingin merajut cita2 dan impian utk kuliah dan bekerja. hal ini juga karena belajar dari pengalaman-pengalaman yang ada disekitar lisa, sering kita melihat kasus ttg wanita yang menjadi suri rumah, setia kali dengan suami, sampai keluar dari kerja hanya untuk urus suami dan anak, tp yg terjadi malah penghianatan suami yang di terima, alhasil pupus lah hidupnya, suami berkhianat ga tahu terima kasih dan dia sendiri ga ada pendapatan. (lisa insyaallah ga mau nasib spt ini cut kak). makanya selain jadi ibu rumah tangga yang setia urus suami, lisa juga mau punya pendapatan sendiri agar lebih di hargai oleh suami dan masyarakat. WASPADA terhadap kemungkinan yg terburuk intinya.



    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, memang banyak sekali kejadian2 yang spt cut adek gambarkan itu. Rumah tangga yang begitu harmonis tiba-tiba berubah panas dan hancur berantakan. Belum lagi peristiwa2 lain yang tak terduga yang membuat si wanita harus menjadi kepala rumah tangga atau bertanggung jawab terhadap penghidupannya sendiri mau pun anak2nya. Jadi sudah sepantasnyalah jika para wanita melatih kemandiriannya, karena kita tak pernah tau, badai apa yang menghadang di depan sana. :)

      Delete
  18. saya termasuk orang yang g mau ikutan debat atau beropinin ttg ibu bekerja apa tidak, asi atau tidak, caesar atau tidak :)
    karena menurutku hidup itu pilihan :) setiap orang wajib menghormati pilihan itu tanpa cawi2 orang lain
    karena ini keluargaku bukan keluarga orang lain
    yang pasti itu kan pilihan dan pasti yang terbaik yang Tuhan beri buat kita sekeluarga :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga tidak termasuk ke dalam kelompok yang seperti itu lho, Mak. Hanya saja, dalam artikel ini, saya memberi pengertian yang lebih luas terhadap kata 'bekerja'. Bekerja di sini tidak hanya terbatas pada bekerja di kantor/berkarir kantoran, tapi bekerja dari rumah sambil mengasuh putra dan putri juga termasuk ke dalam kata 'bekerja' yang saya maksudkan di dalam artikel ini. Bekerja apapun, dan dimana pun, yang mampu menghasilkan pendapatan untuk menopang penghidupan keluarga, itulah yang kita maksud di sini.

      Dan mengapa harus 'bekerja', karena kita tak pernah tau yang namanya Ajal, siapa yg akan dijemput lebih dahulu oleh sang ajal, kita kah? atau sang suami? Nah, jika kita sudah terbiasa memanage keuangan keluarga, terbiasa menghasilkan nafkah, tentu kita tak akan terpuruk lama dlm nestapa, melainkan bisa lebih cepat melanjutkan kehidupan kita dan anak2 yang ditinggalkan ayahnya [jika sang ayah dipanggil lebih dulu].

      Begitu inti dari artikel ini, Mak. :)

      Delete

  19. sebuah ertikel yang sangat mencerminkan si empunya blog
    mandiri, bekerja sesuai dengan passion nya dan tetap pada koridor agama ( on the right track)

    luar biasa artikel ini, AL. bisa membuat para wanita juga pria memahami apa arti bekerja itu sesungguhnya berdasarkan nilai2 ibadah .

    salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trimakasih sudah mampir dan menyumbangkan komentarnya, Bunda sayang. Semoga artikel ini bisa menginspirasi kita semua yaaa. :)

      Delete
  20. Setuju untuk menjd wanita mandiri scr ekonomi.

    ReplyDelete
  21. Berbahagialah para suami yang beristri setia dan rela bekerja untuk menopang kesejahteraan keluarganya. Artikel ini sungguh menarik dan layak mendapatkan acungan seribu jempol.. salam sukses ya mbak

    ReplyDelete
  22. yup, bener banget mak, wanita memang perlu juga mandiri secara finansial, jadi kalau ada apa2 sudah siap secara materi, ga kebingungan lagi memulai saat dibutuhkan

    ReplyDelete
  23. Selagi Suami meridhoi dan ikhlas, ssrta tidak melupakan kodrat kewajibannya sebagai istri dan atau ibu, hal ini bisa dilakukan oleh seorang wanita untuk bekerja. Asalkan tidak menjadi suatu jalan yang akan membuahkan hasil kesombongan di mata seorang suaminya.

    Salam wisata

    ReplyDelete
  24. hal inilah mbak yang sering menjadi pikiranku dan akhirnya meminta keridhoan suami untuk tetap bekerja...

    ReplyDelete
  25. Setuju maak...asik kl bisa berkarya, selain bisa bantu2 suami, jg kt lbh percaya diri dan hepi :)

    ReplyDelete
  26. Sepakat Mbak Al.
    Saya suka pengertian bekerja di sini. Bekerja adalah berkarya.
    Mama juga selalu punya kreasi untuk menghasilkan uang tambahan. Apalagi karena anaknya banyak hehehehe...

    Dengan adanya peluang online shop, banyak yang bisa bekerja dari rumah tanpa meninggalkan keluarga. Asal ada niat, semua ada jalan.

    ReplyDelete
  27. Mak Hana. Saya suka sekali dengan artikel ini. Aku banget gitu lho.:)

    Bekerja dari rumah. Itu yang saya lakukan. Tugas sebagai ibu rumah tangga Insya Allah tidak terabaikan, walau sedikit saya bisa punya uang sendiri. Saya tanpa asisten rumah tangga. Dari rumah pun saya tetap bisa mengaktualisasikan diri saya. Alhamdulillah.

    ReplyDelete
  28. Saya sepakat dengan tulisan mb Al bukan karena saya termasuk ibu bekerja hehehee... persis sama dengan yg tertulis di atas mba, aku pun bekerja dengan alasan demikian meskipun banyak yang suka berkata 'miring' bahwa perempuan bekerja di luar rumah itu 'melarikan diri' dari tanggung jawab di rumah. Ah, masa begitu ya ;) Semoga ibu 'bekerja' sesuai kesepakatan tulisan ini selalu diridhoi dalam mengaplikasikan cintanya pada keluarga. Aamiin

    ReplyDelete
  29. Setuju sama mbak Al.. Banget :-)
    Wuah aku malah ingin komentarin yg nyalon berdua Intan itu..
    Aku jg mengkhayal skrg... Udah niat pengen traveling berdua sama Vania ntar... Hihihi..
    Insya Allah :-D

    ReplyDelete
  30. Setuju banget mbak... Seneng banget kalau bisa menghasilkan uang sendiri. Suamiku malah mendukungku buat berkarya..
    Sukses selalul buat kita semua ^_^

    ReplyDelete
  31. mantab,,yang pasti harus bisa menyeimbangkan antara karir dan keluarga

    ReplyDelete
  32. Saya sangat setuju sekali mau bekerja atau pun menjadi ibu rumah tangga ke 2 nya merupakan suatu pilihan yang mulia ..

    ReplyDelete
  33. ikut menyimak mbak...
    kalo saya bekerja karena sudah meniatkan demikian mbak, dari smu sudah dipikirkan...

    ReplyDelete
  34. Salam kenal mbak...bagus banget artikelnya...membuat saya mantap memutuskan pilihan...sukses selalu untuk smua wanita hebat.... :) - mama raya - mama bekerja yg galau

    ReplyDelete
  35. Dulu ortuku pengen banget aku jadi PNS. Sementara itu... ah aku uah cerita di blog, ya Mbak Al hehhehe.. Akhirnya sekarang ga ngotot lagi dan membiarkan Aku dan adik-adikku punya pilihan sendiri. Setuju sama artikel ini. Mau kerja kantoran atau apa pun caranya selama halal, bukan suatu hal yang harus diperdebatkan. Yang penting bisa membagi waktu buat karir dan keluarga.

    ReplyDelete
  36. Setuju mba, tapi sebagai ibu rumah tangga seringkali dibenturkan pilihan antara bekerja dengan mengurus rumah tangga, Karena terkadang ada kesulitan untuk memanajemen waktu terutama kalo anak2 masih kecil bahkan bayi. Kayak saya mba, yang masih punya satu bayi dan satu balita. Sekarang tinggal pilihan masing-masing orang aja. Karena tiap orang kondisinya berbeda. Kalo saya sekarang tetep bekerja tapi mungkin hasil masih kurang maksimal, dan kalau untuk memenuhi kebutuhan harian memang masih kurang, karena lebih prioritas untuk mengurus anak :)

    ReplyDelete
  37. can't agree more...buatku, bekerja bukan hanya sekedar untuk mencari uang mak..it goes beyooond...seringkali ada perasaan ingin menantang diri sendiri dan mengeksplorasi kemampuan kita..bukan untuk sok-sokan, tapi justru empowering myself...kan itu sama dengan menikmati karunia Yang Kuasa..yang penting tau porsi yang tepat dan jangan lupa ada keluarga tercinta yang juga butuh perhatian kita...TFS et cheers maaak :)

    ReplyDelete
  38. Setuju, Mbak. Oleh sebab itu, para suami juga sebaiknya mendukung keinginan istri. Bisa dengan membolehkan istri ikut kursus, misalnya.

    ReplyDelete
  39. Sangat setuju, Bunda juga selalu memberikan nasehat jangan selalu bergantung pada suami. dan alhamdulillah, suami juga mendukung apalagi mereka tahu bahwa saya orangnya gak bisa diam harus memiliki kegiatan. Yang penting kan kita juga ngerti seberapa porsinya.

    ReplyDelete
  40. Menjadi ibu rumah tangga dengan anak yang pintar dan cerdas adalah kebanggaan seorang wanita.
    kembangkan bakat dan prestasi anak anda dengan bergabung di Griya Bakat Super di :
    http://www.bakatsuper.com

    ReplyDelete
  41. artikel yang menarik sis, tulisan ini yang sedang saya cari, terus semangat menulis artikel-artikel bagus seperti ini. Saya tertarik dengan judul ini, saya sering mengunjungi blog-blog keren lainnya juga, salah satunya ini, coba deh kunjungi : http://www.inoagroup.com/2015/02/wanita.html

    ReplyDelete
  42. Aku juga setuju bnget sma tulisannya teteh.
    Meski belum menikah. Hal trsebut di atas bisa jadi sebuah pertimbangan. Kalau seorang wanita juga berhak utk bkerja kok. ^_^

    ReplyDelete
  43. Menurutku perempuan itu luar biasa, mau yg kerja atau irt saja

    ReplyDelete
  44. Menurutku dan Mamah Dedeh juga sepakat, hehehe

    Perempuan harus punya penghasilan, caranya ya disesuaikan kemampuan dan pengetahuan. Istilah kerennya passion.

    Uang itu perlu bukan cuma buat dirinya dan keluarga tetapi dia juga bisa membantu orang lain.

    Bekerja dimana saja dan bidang apa saja, asal halal dan menghasilkan

    ReplyDelete
  45. Itu juga yang dipesankan mamaku. Jadi perempuan harus mandiri (berdikari) sekali pun sudah berumah tangga. Alasannya ya itu kita nggak tahu takdir ke depannya seperti apa.

    Thanks for sharingnya, Mbak. Mencerahkan sekali­čśŐ

    ReplyDelete
  46. Sepakat mb.. Mau bekerja dari rumah atau dengan bekerja kantoran, itu adalah pilihan yang disesuaikan dengan keadaan. Yang penting berusaha produktif dari manapun kita berada..

    ReplyDelete
  47. Wanita dan bekerja memang lagi pembahasan hangat sekarang ini, sama kayak mba Al menurutku juga keduanya sama aja sama baiknya, asal jangan melupakan tugas utama kita sebagai ibu dan istri

    ReplyDelete