Menu
/
Pinjem
Seorang teman dari dunia maya, suatu hari menyapa via BBM. Dan mulai dari obrolan ringan, berlanjutlah ke obrolan yang lebih serius, sekaligus menumpahkan uneg-unegnya akan status baru yang melekat pada dirinya, sebagai konsekuensi dari ketukan palu hakim, yang mengabulkan gugat cerai yang dilayangkannya ke pengadilan.

JANDA. Itulah status baru yang disandangnya, disamping gelar profesi yang selama ini menempel indah pada namanya. Memang sih, gelar baru tadi, tidak tertulis, tapi ternyata, memiliki efek negatif yang langsung memojokkan dirinya, dalam berinteraksi dengan kehidupan sehari-harinya. Bahkan secara perlahan, menuntunnya untuk membatasi diri dalam pergaulan, baik di lingkungan, maupun di dunia profesi yang digelutinya. Duh, sayang banget!

Si teman juga bercerita dengan icon sedih, 'masak, Mba, atasanku, seorang wanita dengan gelar master, ngomongnya gini, ih, amit-amit deh saya kalo harus cerai. Itu kan hal yang paling memalukan? Apa ga bisa dipertahankan saja? Kenapa harus cerai sih? Mengalah aja kenapa?'


Helloo! Emang kenapa sih kalo 'Janda'? Salahkah? Apa pernah tertulis di dalam daftar yang ingin kita capai, sebuah status atau keinginan untuk menjadi janda atau duda? Enggak ada toh? Lalu haruskah kita memojokkan apalagi menghakimi seseorang, teman pula lagi, yang tiba-tiba menyandang status janda? Haruskah kita menambah beban kehidupannya dengan kecaman kita? Bukankah Allah telah menciptakan segala sesuatunya secara berpasangan? Ada wanita ada pria, ada siang ada malam, ada yang pernikahan ada pula perceraian [walau itu adalah hal yang dibenciNya].

Janda. Adalah gelar yang diraih dengan terpaksa. Aku yakin, tidak ada seorang pun dari kita, yang ingin gagal dalam membina rumah tangga. Namun kita bisa apa, jika biduk perkawinan yang sedang kita kayuh, tiba-tiba menghadapi badai kehidupan, yang akhirnya membuat biduk cinta ini kandas di tengah perjalanan? Haruskah kita bertahan dalam kemunafikan? Berupaya keras mempertahankan biduk yang telah pecah delapan dan mustahil untuk lanjutkan perjalanan?

Sebagai orang luar, tentu kita tak pernah tau sedetilnya sebab musabab perpisahan mereka. Dan percaya deh, sebelum menempuh perpisahan itu, tentu keduanya [atau si penggugat] telah menganalisa secara mendalam, tentang baik buruknya keputusan yang harus ditempuh itu. Jadi menurutku sih, kalo kita memang belum mampu meringankan 'derita' si teman, mending kita diem dan menghargai aja deh apa yang menjadi pertimbangan dan keputusan mereka. Ga usah ikut campur, apalagi menghakimi. Mending kita urus saja rumah tangga kita sendiri, agar bertahan harmonis dan selaras, hingga tak menuju pada kisah tragis seperti perceraian.

Mengapa tidak kita coba saja untuk bertimbang rasa. Mencoba memposisikan diri kita di posisinya. Tidakkah kita akan sedih dan terpojok oleh cemoohan dan kecaman-kecaman itu? Menjadi janda itu jelas bukan hal yang mudah. Beban berat menanti, mulai dari harus menghidupi diri sendiri, juga harus menghidupi anak-anak. Bertindak sebagai ibu sekaligus juga sebagai ayah, belum lagi bagi yang berusia muda, masalah kebutuhan biologis juga menjadi masalah tersendiri. Jadi, please deh, yuk kita coba berempathy atas ketidakmujuran yang menimpa mereka. Dan ingat, wanita-wanita ini, bisa saja adalah ibu kita, keponakan-keponakan kita, bibi kita, tetangga kita, atau jangan-jangan malah diri kita sendiri [kaum wanita], who knows?

Dan bagi sahabats ku, para wanita yang saat ini sedang tidak beruntung dalam perkawinannya [menjadi janda], keep in mind deh, bahwa menjadi janda hanya pergantian status. Tidak serta merta membuat seseorang menjadi lebih rendah derajatnya, toh? Tidaklah harus membuat si janda ini menjadi bahan cemoohan. Apakah ada jaminan bahwa kita-kita yang berstatus istri atau suami menjadi orang-orang yang lebih mulia?

Singkirkan perasaan minder karena menjadi janda, gantilah dengan rasa bangga, setidaknya pada diri sendiri, yang telah berani menyandang status yang entah kenapa masih terus dipandang sebagai aib, di era yang telah demikian moderen ini. Pada masa di mana masyarakatnya telah mengecap pendidikan menengah ke atas bahkan jauh lebih tinggi. Jangan biarkan dirimu terpengaruh oleh stigma negatif itu, paculah diri untuk terus berkarya, untuk tetap lanjutkan langkah kehidupan. Jaga diri baik-baik, dan buktikan pada masyarakat luas, bahwa menjadi JANDA, tidak akan menuntunmu untuk 'mengganggu suami orang, untuk menggantungkan hidupmu pada orang lain. Show them, that you are the independent women, who can take care your self as well as your children. 

Tak perlu malu karena gagal berumah tangga, karena kegagalan adalah langkah awal memperbaiki diri, demi kebaikan-kebaikan di masa selanjutnya. Not only Move On, but you are in the MOVE UP step to achieve a better future. Ayo bangkit, masa depan cemerlang sedang menantimu di depan sana. 


Tulisan ini didedikasikan untuk beberapa sahabats yang pernah berbagi kisah 
tentang beban batin menjadi janda. Juga dalam rangka, menghasilkan 
tulisan positif tentang kata kunci JANDA, yang saat ini, di dominasi 
oleh berita miring setiap kita menggunakan keyword ini. 

Saleum,
Al, Bandung, 5 April 2013

129 comments:

  1. Setiap wanita pasti tidak berfikiran untuk menjadi janda ya mbak. Sebaiknya sih tidak menganggap negatif seorang janda ya. Buat temen-temenku yang ada diposisi itu tetap semangat ya. Miris juga ya mbak jika ada komen "ih kok mau nikah sama janda" Loh memangnya salahnya apa jadi seorang janda. Aku suka sebel bener dengernya. Ooops kenapa jadi aku yang emosi ya :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, tak seorang pun yang berharap gagal dalam perkawinannya. Namun apa mau dikata jika jalan takdir berkata lain? Tentu harus rela dan berbesar hati dalam menjalaninya. Hanya yang kita sayangkan, justru animo masyarakat kita ini yang bikin resah. Bikin sebel, bukannya membantu meringankan beban mental si teman yang jadi janda, eh kok malah menjatuhkan.

      Mungkin kudu memperluas wawasan ya mba, jangan cuma nonton sinetron yang mempertontonkan tokoh2 wanita genit, jahat dan culas saja, hehe.

      Ih, kok ketularan mba Lidya ya? ikutan esmosi. Hahah. Cari es ah, mendinginkan hati. Hahah

      Delete
    2. Perlu kita bikin skenario versi KEB mbak, biar sinetron gak di dominasi cerita soal rebutan cinta dan harta. bahkan judulnya pesantrenpun, isinya ttp begituan, nuansa pesantrennya cuma polesan sajah
      # eh, nglantur

      Delete
    3. Kan td pesannya 4 komentar ya MBak, ini ta tambahi lagi

      "jd pengen nulis ttg: kenapa telat mnikah versi curhatan teman2 sekaligus uneg2 sendiri neh"...secara ada teman yg pernah curhat karena blm mnikah sering di sindirin di tempt krja dgn kalimat2 yg harusnya tdk perlu keluar dr org2 yg welcome educated dan berwawasan luas serta koleksi bukunya banyak"

      #edisi nglantur selanjutnya

      Delete
  2. Kadang saya juga memandang negatif ke janda, tapi biasanya sih ke artis yang suka kawin cere. Tapi, kalo sama yang lain nggak segitunya. Kadang malah kasihan kalau lihat perempuan yang terpaksa menggugat cerai terus jadi "single mother". Nggak semua suami itu baik, dan nggak selamanya istri harus "menahan diri" menghadapi sikap buruk suami. Liat sepupu sama tetangga yang janda juga malah jadi ikut sedih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sih Mil, kalo janda2 yang spt artis2 itu, yang bertingkah negatif itu sih kita sebel ngeliatnya, tapi kalo yang harus bergelut dalam sulitnya kehidupan, dalam membesarkan anak2nya, sementara juga harus membebaskan diri dari kecaman masyarakat sekitar sih, bikin kita sedih banget kan? :)

      Delete
  3. Dulu mamaku menikah dengan status Janda beranak 1 (aku anaknya) dan aku menganggap hal yang wajar saja tentang predikat itu. Siapa sih yang mau jadi janda, karena keadaan yang memaksa mungkin demi kebaikan bersama kenapa tidak.

    Dan sekitar ku sekarang temen2 pada Janda semua, its oke< aku menghormati keputusan temen2ku, ahh apalah sebuah status Janda, yang penting kita tetep berbuat sesuai jalurnya saja .

    Smangaat buat para Janda!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku sendiri juga pernah alami ini kok Nchie, dan terpulang kembali pada diri kita sebenarnya, bagaimana membawa dan menjaga diri. Karena aku 'galak', haha, walau bekerja di lingkungan para lelaki, toh mereka menghargaiku dan tau menjaga lisan mereka. :)

      Yang berani macam2, paling akan berhadapan dengan rencong deh, usus akan terburai. Hehe. #Kidding. :D

      Delete
    2. cut kak jadi ingat judul lagu "aku jalak (janda galak) bukan jablay hehe, judul lagu itu juga jadi judul novel aku jalak bukan jablay :)

      Delete
    3. Hehehe, lebih keren jalak Tia, drpd Jablay. hehe. Oya, novelnya dah beredar belum? Penasaran deh. :)

      Delete
    4. bener Teh Nchie...
      aku pikir Janda itu gak bisa dipandang sebelah mata loh
      apalagi seorang janda yang karena berani menggugat cerai suaminya, misalnya...pastilah seorang wanita kuat yang berani menghadapi resiko
      termasuk resiko menjadi single parents
      sama sekali gak mudah

      Delete
    5. Justru sudah berstatus Janda harus bangga karena dia sudah terlepas dari beban dosa yang telah di pikul selama ini, selama Status Janda menjalani dengan kehidupan yang normal dan memiliki aktivitas yang positif kenapa harus malu. justru bisa menjadi suri teladan bagi wanita2 yang lain. jadilah seorang janda yg berkualitas untuk membangun suatu kehidupan yang baru yg lebih bermanfaat bagi banyak orang. Bravo............yang berstatus Janda

      Delete
  4. suka banget mbak sama tulisan ini, kadang sulit sekali yaa mengajak orang untuk lebih empati, setidaknya menjaga lisan supaya tidak menyakiti..... berbicara seolah-olah dirinya yang paling baik dan suci dan langsung merendahkan orang lain. Semoga tulisan mba Al menyadarkan mereka yaaa..... saya juga buat tulisan tentang komentar2 menyakitkan disini mbak...http://bluerina.wordpress.com/2013/04/03/pertanyaan-pertanyaan-itu/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, bener, sulit mengajak orang lain untuk turut bertimbang rasa. Kadang udah terlanjur ngejudge duluan sih. :(
      Yuk kita dukung gerakan menjaga lisan, dalam rangka menjaga hati dan perasaan orang lain. Karena lidah itu kan setajam sembilu. ya ga, Mba? :)

      Saya kemarin udh baca postingan Mba ttg pertanyaan2 itu, dan dah ninggalin komen juga deh kayaknya. Bagus banget tulisannya itu, Mbak. Trims for share.

      Delete
    2. kadang memang... ngomong tuh gampang ya Mbak
      mengomentari sesuatu itu gampang...
      padahal yang menjalaninya gak mudah, jungkir balik jatuh bangun loh...

      semoga omongan2 dan komentar2 kita gak menyakitkan orang lain ya Mbak...

      Delete
  5. Setuju kak... kehidupan orang tak sama dengan kehidupan kita begitu juga dalam berumah tangga, lika-likunya juga tak sama. harusnya kita selalu menghargai keputusan hidup orang lain apalagi hal2 yg sangat pribadi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, bener banget Haya. Agreed with you, absolutely :)

      Delete
    2. Mbak, sy posisi janda skrg, dg usia nikah kmrn 20 th. Memang sangat2 berat, apalagi teman2 sy yang cewek kalo lihat saya dan anak2 saya pd sediiih dan diam2 nangis sendiri. Mereka kasihan n iba pd anak2 sy krn gak punya bapak..atau takut anak sy gak punya masa depan atau gak makan...please, sy tdk butuh dikasihani, sy msh kuat dan mampu. sy yakin Allah SWT Maha Baik.

      Delete
    3. Mbak, sy posisi janda skrg, dg usia nikah kmrn 20 th. Memang sangat2 berat, apalagi teman2 sy yang cewek kalo lihat saya dan anak2 saya pd sediiih dan diam2 nangis sendiri. Mereka kasihan n iba pd anak2 sy krn gak punya bapak..atau takut anak sy gak punya masa depan atau gak makan...please, sy tdk butuh dikasihani, sy msh kuat dan mampu. sy yakin Allah SWT Maha Baik.

      Delete
  6. penjelasan panjang satu artikel bisa diterima gak di kolom komentarnya mbak?
    soalnya pandangan saya pasti banyak tentang masalah ini. karena ini pernah saya tuliskan pada blog saya yang lain yang gak laku-laku hehehehe..!
    mohon jawabannya dulu? tks.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, di coba aja dulu, Bung, atau dijadikan beberapa kolom komentar. Monggo atuh. :)

      Delete
  7. nice post mak....saya juga selalu berusaha u berhati2 agar tdk menyakiti hati mrka.....jd ingat ibu saya...beliau juga jnda....dan sedihnya dulu klo ada tetangga yg sinis banget klo liat suaminya berbincang dg ibu sy....Ya Allah ga semua kaleee janda itu suka goda laki org...huhuhuhu...#nangis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, Mak. Banget. Tak gampang lho menyandang status yang satu ini. Berat banget. Semua terpulang ke kepribadian masing2 ya, Mak? Bahkan banyak juga kok wanita, yang statusnya adalah istri dari seorang suami, malah sibuk menggoda suami wanita lain. :)

      Jadi, balik lagi ke individu/pribadi masing2 orang. :)

      Delete
  8. betul nggak ada yang salah dengan predikat janda, baiknya jangan membebani dengan tatapan sinis atau cemoohan, menjadi janda saja sudah sulit. setuju banget mba al...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Ummi, status itu, jika boleh memilih, mereka juga ga mau kok. Tapi mau gimana, ga punya pilihan lain. Jadi harus dihadapi dengan jiwa besar dan hati yang tabah. Sayangnya kebanyakan masyarakat sekitar, yang mengaku dirinya berhati lembut dan penuh kasih sayang, lupa, bahwa janda adalah juga manusia, yang punya hati dan perasaan. Yang sedang menanggung beban kehidupan. :)

      Delete
  9. HOB. Masa berpacaran adalah masa-masa di mana sifat-sifat yang baik anda tonjolkan terhadap pasangan anda. Sifat-sifat tersebut kemudian membentuk sebuah ikatan yang di sebut dengan Cinta. Cinta pada masa pacaran adalah perpaduan antara dua sifat baik dari masing-masing pribadi.
    Ketika sifat tersebut telah terbentuk dengan baik menjadi sebuah Cinta, lalu lahirlah hubungan emosional dari masing-masing pribadi. Penonjolan sifat yang baik yang kemudian terbentuk dan terjalin merupakan proses awal dari lahirnya Cinta.

    Bagaimana dengan sifat buruk?
    Sifat buruk sangat jarang di hadirkan dalam proses pembentukan cinta. Hal ini di karenakan sifat tersebut dapat menganggu proses pembentukan dari cinta tersebut. Tetapi sifat buruk kadang bisa hadir tanpa kita sadari, namun akan terus tertutupi oleh penonjolan sifat yang baik.

    Benarkah Cinta itu selamanya abadi ?
    Sama sekali tidak! Cinta dapat menjadi rapuh dan luntur oleh berbagai hal dan cinta itulah yang akhirnya menjadi sebuah alasan perpisahan, perselingkuhan atau perceraian.

    Bagaimana cinta yang seharusnya?
    Cinta yang sejati adalah cinta yang dalam proses pembentukannya menonjolkan dua buah sifat yaitu baik dan buruk. Dalam membentuk dan memadukan kedua sifat ini diperlukan sebuah proses. Saling menghargai kelebihan, kekurangan, kebaikan dan keburukan adalah bagian penting dalam membentuk Cinta Yang Sejati. Keterbukaan antara anda dan pasangan anda mutlak di perlukan.
    Ketika proses ini dapat di lalui dengan baik, kekuatan cinta yang terbentuk akan kokoh dan sulit terombang-ambing oleh apapun juga.

    Apakah dengan membentuk cinta sejati tersebut menjadikan cinta itu akan abadi selamanya?
    Sama sekali tidak. Cinta tak'kan pernah kekal adanya. Sama seperti kehidupan anda, tidak abadi. Yang diperlukan hanyalah menjaga dan memupuk cinta tersebut agar tidak rapuh, pudar dan luntur. Tanaman pasti layu dan mati ketika tidak di siram, di beri pupuk, demikian pula Cinta.

    Bagaimana meyakini bahwa cintanya Tulus dan Suci
    Tidak ada proses atau cara untuk mengetahui sebuah ketulusan cinta, karena bagian itu telah terjadi dalam proses pembentukan cinta tersebut. Yang perlu di lakukan hanyalah Percaya!

    Setelah yakin dan percaya, apakah cukup menjadi pedoman untuk Menikah?
    Menikah adalah sesuatu yang bersifat sakral. Menurut keimanan yang saya anut, bahwa janji suci, setia sampai akhir hayat, yang telah di ikrarkan di hadapan Tuhan adalah sesuatu yang tidak hanya melalui ucapan di bibir semata, tetapi melalui hati yang paling dalam.
    Janji tersebut merupakan sumpah setia anda dihadapan Tuhan untuk selalu menjaga dan memelihara pasangan anda baik dalam suka maupun di dalam duka sampai akhir hidup anda.
    Setelah menikah, Cinta bukan lagi menjadi dasar pedoman hidup saudara dan pasangan anda, tetapi Kasih dan Kemurahan-Nya lah yang menjadi pedoman hidup anda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. demikian tulisan jadul saya yang sudah lama hilang hehehe..!

      Delete
    2. Trims atas komentarnya yang lengkap dan rinci ya, Bung Penho. Semoga memberi pencerahan bagi para pembaca lainnya. :)

      Delete
    3. sama-sama mbak!
      inti tulisan saya ini sebenarnya bukan tentang jandanya tetapi lebih kepada langkah-langkah agar tidak menjadi janda.
      kalo diartikan dalam dunia medis artinya lebih baik mencegah dari pada mengobati! hehehehehe..

      Delete
    4. apa pun itu, trims for share, Bung. Uraiannay bagus deh. :)

      Delete
    5. waah, bung penho mantap deh ulasannya

      Delete
    6. betul malah mosting di sini iehiheiehiheiee

      Delete
    7. Emng ada benarny juga mncegah lbih baik daripada mngobati

      Delete
  10. Semoga para wanita yang skrg masih menjanda segera menemukan pasangan, sebab sbg wanita tetap lbh aman dengan adanya muhrim.
    Memulai dari diri sendiri utk tidak bersu'udzon pada janda. Lbh baik beri support dan respect.
    Baca tulisanmu ini, aku kok membayangkan jari jemarimu menari lincah pada Macsy dengan ide di dlm kepala yang meletup2 ingin dituangkan. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.

      Hehe, emangnya dirimu pernah melihat jemariku menari lincah di atas keyboardnya Macsy? :D. Ide ini udah lama ingin dicurahkan sih, Mba, tapi belum nemu momen yang pas aja.
      Nah, tadi, begitu mau buka halaman InDesign, keingat, hari ini belum posting, dan kayaknya 25 menit cukup deh untuk bikin sebuah postingan. Jadilah ini sebagai entry hari ini. Semoga dapat sedikit memberi pencerahan deh. :)

      Delete
  11. siapa yg mau jadi janda?pasti smua tidak mau...mari berhusnuzdhan kepada mereka yg sedang menyandang status ini, dan memberikan tanggapan yg positif :),

    ReplyDelete
  12. ih,geram kali sama atasan itu...
    tetap semangattttt.... :D,tulisan menarik mbk al

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaaa, aku juga geram. Jadi ingin tau gimana sih hubungannya dengan suaminya? Cukup harmoniskah hingga dia lupa diri begitu... :D

      Delete
    2. Janda itu tidak dosa kok iya kan :)

      Delete
  13. saya memang belum pengalaman masalah percintaan, tentang peliknya atau bahagianya. tapi saya pikir, ya siapa coba yg mau jadi janda (cerai)? wanita ketika ia menikah kan berdoanya biar bahagia seumur hidup. setiap orang yg sudah berumah tangga pasti tdk selalu mulus menjalaninya. saya punya beberapa teman yg kasusnya sama. dari situ saya belajar bahwa yg namanya status bukan indikator penilaian thd diri mereka. saya juga suka sebel kalo ada orang yg bilang, "hah? masa sih? pantesan aja, jandaaaa.." tanpa mengetahui perkara sebenarnya.
    belum tentu yg tidak janda/ blm menikah pribadinya lebih baik dr yg janda kan yah Mbak Al? Instropeksi dan lebih menjaga diri aja sih kalo kata saya *yahh, malah curhat :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak lea... Kebanyakan org tidak wise menyikapi apa yg dilihat/dirasa/didengar... Sehingga menganggap hidup mereka sudah paling sempurna...

      Padahal Allah yang menggenggam hidup qta.

      Delete
    2. Bener banget Lea, seharusnya kita belajara dari pengalaman2 orang lain, tanpa harus mengalaminya sendiri. Namun seperti kata Thia, banyak orang yang tidak bijaksana dalam menarik hikmah dari pembelajaran yang tersirat dari peristiwa2 di sekitarnya. Dan main tuduh dan berfikir negatif aja thd sesuatu, tanpa berusaha terlebih dahulu menelaah, atau setidaknya berprasangka baik.

      Semoga kita senantiasa menjadi orang2 yang dpt belajar menarik hikmah dari suatu peristawa/kejadian di sekitar kita, ya, Lea. :)

      Delete
  14. Yesss mbak Al..

    Semangat utk saudariku semua...

    Mudah2an tulisan mbak Al, bs menjadi pencerah utk mereka yg mengaku intelek tapi tidak cerdas hatinya... Amin ya Rabb..

    Barakallah, mbak Al..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin ya Rabb. :)
      Makasih Thia, ayo semangat yuk.

      Delete
  15. Terkadang kehidupan rumah tangga yang tak ideal dan malah berpotensi saling menyakiti, membuat perpisahan adalah pilihan tak enak yang harus diambil. Dulu, sebagai anak, saya sendiri bahkan menganjurkan orangtua untuk berpisah, karena tak tahannya denngan suasana neraka yang mereka ciptakan ke kami, anak-anaknya. Buat apa bertahan dalam rumah tangga yang semu dan malah menjadikan anak-anak korban? Menjadi janda bukanlah suatu hal yang hina, sepanjang dia mampu menjaga kehormatannya di mana saja dan terhadap siapa saja. Dan itu bukan berlaku pada para janda saja, juga berlaku pada kita, para wanita. Istri yang tak mampu menjaga kehormatan dirinya, malah lebih hina dari para janda mulia yang mampu menjaga harga dirinya. Semangat untuk kita, wanita, dalam menjaga diri dan kehormatan kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget, Mba. Tak seharusnya mengorbankan anak-anak, demi 'mempertahankan' keutuhan rumah tangga yang bergolak ibarat api di neraka. Aku sepakat banget deh dengan prinsip itu. Namun terkadang, banyak lho, wanita yang berfikir, biarlah mengalah saja, asalkan rumah tangga ini utuh. Kasian anak-anak, nanti ga punya ayah lagi.
      Hadooh, hello... tega apa, anak-anak memiliki ayah, di rumah, yang berkobar dan bergolak seperti itu?
      Tapi, semua tentu punya pemikiran sendiri, kan? Dan kita wajib menghargainya. :)

      Delete
    2. Saya sukaaa dgn komen mbak Rebellina.. :-)

      Yuuk mari qta semua memantaskan diri.. :-)

      Delete
  16. Sesungguhnya mereka yang mengecam atau mencibir seorang janda, bisa jadi mereka yang belum betul2 memahami arti cinta, give dan giving. Tfs mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, you are absolutely true, Mak. Bener banget. :)

      Delete
  17. Komentar atasannya tadi banyak dijalani rumah tangga, mungkin atasannya sendiri juga begitu. Memilih berpura-pura untuk sebuah status. Menjadi janda adalah suatu keberanian jika alasannya benar. Berani menjalani hidup sejujurnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba. Masyarakat kita, memang masih belum terbuka untuk bersikap jujur. Bahkan yang sudah berpendidikan tinggi sekali pun, masih saja terseret untuk bersandiwara alias berpura-pura bahagia, untuk menunjukkan pada khalayak ramai, bahwa rumah tangganya bahagia. Padahal, di dalam sana, perang dan piring terbang mungkin sudah lelah mengudara, ya? Hihi.

      Bener, Mba. Menjadi janda, bukan hal yang hina, dan aku tak pernah menyesal ketika dulu mengambil keputusan untuk itu. Ternyata, Allah telah menyediakan momen2 indah lainnya, bagi hamba2Nya yang berani mengambil sikap. :)

      Delete
  18. MBa Al...selalu gini dech. memancing emosi pembacanya...heheee. Bagus banget mba postingannya. Untuk mengganti pengertian janda yang suka banget dinilai miring.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi, masak sih, Mba? Jago memancing emosi? :D
      Yup, udah saatnya kita mengkampanyekan gerakan berfikir positif terhadap para janda lho, Mba. Karena memang status ini, sama sekali tak pernah diharapkan oleh wanita mana pun, bukan? :)

      Delete
  19. setuju Al....... nothing wrong being a widow
    as long as.....tetap on the right track sesuai dengan sopan santun, etika dan tentunya syariah agama.

    menjadi janda atau tidak, seharusnya hidup tetap disikapi dgn positif dan tindakan yg berkualitas utk kedepannya, ya gak Al?

    Yakin deh, dengan sikap seperti ini, tidak akan ada lagi pandangan2 "curiga" dari orang lain, malah mereka akan memandang dengan hormat pada sang janda.

    kenapa banyak orang yang "miring dan sinis" pada status ini ?
    mungkin karena dapat dari pengalaman sebelum2nya, bahwa tidak sedikit memang janda ( apalagi yg janda kembang) karena tidak ingin susah, malah dengan sengaja bergerilya untuk "mengambil" suami orang lain .

    semoga Allah swt memudahkan para janda dalam menjalani kehidupan dunia akhirat mereka ,aamiin

    salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget, Bund. Segalanya kembali lagi pada sikap dan karakter si individunya. Yang bukan janda sekali pun, toh, jika pekertinya tidak terpuji, layak dapat tudingan 'miring' ya, Bund.

      Jadi, tiada yang salah dengan status Janda. So, ayo sahabatsku, para janda, jangan bersedih, apalagi membiarkan hatimu teriris oleh rasa minder dan gundah hati. Bangkitlah, jaga diri, jaga kualitas diri, dan yakinlah, masa depan yang lebih baik, menanti disana. :)

      Turun mengaminkan doamu, Bunda Lily sayang. :)

      Delete
  20. setuju mbak...kita memang harus banyak belajar menjaga lisan dan memahami bahwa tak semua kita beruntung dalam hidup ini... saling tepo sliro, itu istilah jawa nya.. semoga sahabat2 yg sedang menyandang status ini diberi kekuatan untuk menjalani ujian hidup mereka...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mba Mechta. Bener dan setuju banget dengan pendapatmu. Yuk kita jaga lisan dan tingkatkan tepo saliro yuk. :)

      Delete
  21. Emakku janda, mertuaku janda juga.
    Image janda tak selalu jelek kok. Bahkan banyak janda yang sukses dan tetap bermartabat.
    Terima kasih ulasannya yang ciamik.
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Dhe. Image janda tak selalu jelek. Banyak yang berprestasi, malahan melebihi prestasi wanita yang bergelar seorang istri, terkadang, ya Dhe? :)
      Trims atas kunjungannya, salam hangat dari Bandung.

      Delete
  22. Setuju...

    Gak perlu semua orang harus cerita kenapa dia begini kenapa dia begitu. Cukup kita aja yg open minded, ya kan mbak ;)

    ReplyDelete
  23. Setuju Mba Al. Janda itu bukan aib. Dan tidak ada seorang pun yang berhak menghakimi status orang lain. Saya punya bulek (tante) yang harus melalui proses menyakitkan itu Mba Al dan tak ada seorangpun dari luar keluarga yang menawarkan bantuan tapi seenak jidatnya menghakimi ini ina inu. Miris banget melihat beliau padahal gugatan cerai dilakukan demi kebaikan semua orang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah masyarakat kita, Dan. Masih banyak sekali yang belum berkemauan untuk open minded, dan bertimbang rasa. Seringkali, rasa suka menghakimi terhadap kulit luar, dipelihara dan dibuat semakin subur. Lupa untuk menelaah sesuatu, untuk menilai sesuatu tak hanya dari kulit luarnya saja.

      Semoga ke depannya, mungkin dengan bertambahnya wawasan, sikap bijak mereka akan terpancing untuk dikembangkan, ya, Dan? :)

      Turut prihatin dengan nasib yang dialami oleh bulek kamu, Dan. Semoga beliau tabah, ya.

      Delete
  24. heran lho mbak yg mempermasalahkan tentang status janda

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa. Ternyata masyarakat kita masih tipis banget pengertian dan tepo saliro-nya, ya, Mba Ely?

      Delete
  25. Masyarakat itu kadang emang aneh, suka banget memberi stigma. Mungkin ada janda lain yg nakal dan berperangai tak bagus. Tapi sama seperti wanita bersuami, perangai mah tergantung orangnya ya Mbak :)

    ReplyDelete
  26. jd ingat dg tetanggaku yg ditinggal suami utk slamanya krn kecelakaan kerja, dgn menyandang janda yang baik spt ini aja , tuduhan miring simpang siur di telinga, apalagi janda cerai. Tapi itulah realita yg ada disekitar kita ya mba, cuma bisa berdoa, semoga mereka kuat meghadapinya, dan segera menemukan jodoh yg benar2 cocok dnia dan akhirat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. He eh, Mi. Semoga beban beran ini tak senantiasa terbebankan ke pundak mereka, ya. Semoga suatu hari nanti, status ini tak lagi dipandang jelek di mata masyarakat kita. Tapi kalo aku yang jadi jandanya sih, I won't care. Yang penting aku akan jaga diri, terus berkreasi dan tunjukkan pada orang banyak, bahwa kita tidak bergantung pada siapa pun. Bahwa kita mampu mandiri. :)

      Delete
  27. tapi mindset sekrang masih ada tentang kejelekan status janda, dan status ini adalah salah satu bentuk kejelekan seseorang yang belum bisa membina keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah karena salah satu hubungan jalinan pernikahan seseorang bisa dilihat dari kasih sayang dan jalinan kasih sedangkan masyarakat sekarng masih melihat pernikahan merupakan hubungan yang sangat sakral berbeda dengan kaum liberallis yang bebas bisa gonta ganti pasangan semaunya hingga bisa kawin cerai seenaknya seperti bupati garut hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hm..., seseorang atau sepasang suami istri sampai ke pengadilan untuk bercerai, tentunya setelah mengambil berbagai pertimbangan. Dan jalan ini baru ditempuh, tentu setelah meyakini bahwa ini adalah pilihan terbaik bagi keduanya.

      Kalo tentang bupati garut, mah, saya no comment aja deh, bung. Hehe.

      Delete
  28. stigma yang sebenarnya secara langsung atau tidak dibentuk laki-laki lalu secara tidak sadar diamini masyarakat karena stigma itu sudah berumur purba seumur ego laki-laki tercipta

    ReplyDelete
  29. ibu saya janda hehhee,,
    eh jadi setuju sama mbak.
    ohya saya juga aneh tuh sama tetangga saya, ibu2 tetangga mikirnya gini. Jangan sampe saya jadi janda, apalagi janda muda ditinggal mati suami.
    berhubung ibuku janda ditinnggal suami. Dan terlihat menjadi tulang punggung mereka seakan2 ogah karna bakalan lelah spti ibu saya.
    duh aneh orag2 seperti mereka itu.

    Saya malah salut sama jaman rosulullah mereka itu rela suaminya pergi berperang walau nntinya tinggal nama. Dan menjadi janda.

    Tapi siap gak siap yah mb, apapun yang terjadi mba harus jalani dnegan senyuman. Mau janda karna cerai atau apalah, yg penting dimata Allah kita ini baik dan bisa jadi mereka itu terlalu apa yah? terlalu primitif hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mertua saya juga janda mba Nur. Perempuan tu memang beda yah dengan lelaki, kalau lelaki setelah duda, tak jarang menikah lagi dengan olah alih alasan "nafsu", sedang perempuan lebih peka ke perasaan, apalagi telah memiliki anak, tak akan mampu menelantarkan anak, apapun yang dia kerjakan dia akan berjuang, semuanya untuk anak. *teringat almh. mamak.. andai tsunami tak merenggutnya :((*

      Delete
    2. Kalo kata saya pribadi sih, Mba Nur dan Dhe. Enggak ada yang salah dengan status janda. Dia sama saja dengan status sosial masyarakat lainnya. Sama saja dengan status istri, status perawan, dan lain sebagainya. Yang membedakannya adalah pada sifat dan budi pekerti yang dimiliki si individu tersebut.

      Sayangnya, masyarakat kita, belum semunya menyadari akan hal itu. Itu lah yang mendorong saya membuat postingan ini, sekaligus mencoba membangkitkan semangat beberapa teman [para janda] yang pernah curhat akan beban mental yang mereka alami oleh tatapan sinis dan cemoohan dari lingkungan sekitar mereka.

      @Dhe, turun berbelasungkawa atas peristiwa tsunami yang telah merenggut almarhum ibunya Dhe. Semoga kini almarhumah telah damai di sisi Allah, ya, Dhe. Aamiin.

      Delete
  30. Menjadi Janda bukan keputusan setiap wanita pastinya. Postitif thingking saja, klopun ada janda2 yang pakai tanda kutip seperti beberapa yang saya kenal, itu mungkin karena kondisi hati dan pribadi mereka :D. ngapin harus diusilin, Wallahualam. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, harusnya kita mengurus diri masing-masing aja sih, karena yakin deh, diri kita sendiri aja belum beres. Kok malah mau ngurusin orang lain, ya, enggak, Dhe? :)

      Delete
  31. Intinya saat kita melihat org lain coba berfikir posisikan diri kita di posisi mrk iyakan mba?? jgn seenaknya menghakimi dan menilai. Untuk janda apalagi yg memilih berpisah krn diperlakukan tdk semestinya, move on dan gapai masa depan yg lebih baik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Ir. Bener banget. Coba posisikan diri kita di posisi mereka. Sanggup ga kita menerima cemoohan dan cercaan seperti itu. Jika ga sanggup, bersikaplah arif dan bijaksana. :)

      Bener, saatnya untuk Move ON dan Move UP. Karena masa depan yang lebih baik sedang menanti mereka yang mau bersikap positif dan tak pantang menyerah. :)

      Trims atas kunjungan dan komennya, Ir.

      Delete
  32. Replies
    1. soalnya mbak selalu memotivasi orang di sekelilingnya :). speechless deh, senyum saja hehehe

      Delete
  33. Mengerikannya, berita miring tentang status janda, juga kebanyakan dari kau perempuan itu sendiri. Entahlah, saya pikir perempuan harus lebih bertenggang rasa pada sesamanya. Bukan malah merasa terancam atau bagaimana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, harusnya rasa tenggang rasa itulah yang dipupuk semakin subur, sehingga tercipta rasa menghargai dan ber-empati. :(

      Delete
  34. ada lagunya mbak, janda katanya suka menggoda, jadi banyak perempuan yag takut suaminya di goda, j

    ReplyDelete
  35. bagus sekali tulisan cut kak tentang ini
    memang cut kak yang namanya janda selalu dianggap miring oleh masyarakat, mungkin krn banyak sikap wanita yg begitu jd janda sudah kelewat batas prilakunya, pdhl itu hanya sebahagian orang saja, inilah yg namanya nila setitik rusak susu sebelanga

    ReplyDelete
  36. masyarakat kita masih memandang sebelah mata ya kak terhadap janda. liza sejak kecil merasakannya. melihat betapa tegar mamak menghadapi cibiran orang-orang, padahal mamak adalah janda yang ditinggal mati oleh bapak. lalu apaalagi nasib janda yang bercerai hidup. yup setuju sekali, kita harus bisa menghapus stigma masyarakat terhadap janda, setidaknya lewat media sosial seperti ini. karena pwmbunuhan paling berat adalah kalau karakternya yang dibunuh. kalau para janda terus dikucilkan itu sama saja dengan membunuh karakter mereka

    ReplyDelete
  37. Adikku juga janda muda tanpa anak. Tapi akhirnya menikah lagi dengan teman kelas sma nya dulu. Jadi agak mengerti dikit posisi sulit para janda berkaca dari adikku itu

    ReplyDelete
  38. Nice posting mak Alaika :-) memang sih cap negatif itu kadang jadi general karena memang ada "oknum" janda yang begitu. Aku juga beberapa tahun lalu akhirnya punya kakak ipar janda. Orangnya rentan banget dan gampang putus asa, pas maksa kakakku untuk menikahinya (padahal kakak udah punya istri dan anak-anaknya juga udah mau masuk universitas) dia mpe bela-belain akting mau bunuh diri, dua kali lagi :-p

    akhirnya takut terjadi apa-apa, mereka menikahlah dengan ijin istrinya pertama. Jujur, aku sangat terpukul banget melihat kesedihan istri pertamanya yang udah aku anggap kakak sendiri. Stelah berlangsung selama dua tahun, saat kami sudah menerima istri mudanya kakak, eh dianya malah gugat cerai kakak lagi. Akhirnya mereka berpisah. Apa coba maksudnya?

    ya, begitulah. Alhamdulillah jadi pelajaran untuk semuanya, ini gara-gara reuni SMP juga hahhaa ... jadi CLBK deh ^_^

    Aih, kenapa aku jadi curhat ya mak hihihi
    Tuk teman-teman dengan posisi baru, jangan sedih ya. Buktikan bahwa dengan posisi janda jauhhh dari apa yang digunjingkan orang :-)

    ReplyDelete
  39. hampir tiap hari bergaul dg wanita2 yg menjanda, tapi dari mereka justru terpancar kekuatan yg tak pernah saya temukan di wajah para istri bersuami, ^_^

    ReplyDelete
  40. A new Preview For Dollywood Festivity Of International locations 2013

    my page fester

    ReplyDelete
  41. Amadeus Referring with Discusses Different Android Marketplace Content Recommendations

    Feel free to visit my web blog :: payday loans

    ReplyDelete
  42. A long time ago...saat usiaku msh kisaran 20an, ada yg bertanya ANDAI aku dpt duda gimana?
    KAla itu, mgk aku yg sok dewasa, kujawab bahwa aku tdk pernh pny kriteria cari pasangan msh single [blm pernah mnikah] atau duda. KArena dlm persepsiku, menjadi duda/janda [baik karena kematian ataupun cerai] bukan kondisi yg diinginkan. Bahkan utk kasus cerai pun, aku lbh berpijak pd stigma: pd dasarnya tak ada org yg ingin pernikahannya kandas dengan perceraian, jd saat terjadi perceraian pun sebenarnya kondisi yang hardest thing to accept.

    Aniwei, lha sodaraku juga ada yg ngalami berstatus jd janda tuh Mbak. trs, kakak cowokku jg ada yg ngalami perceraian. SO far, Alhamdulillah...mereka bisa melaluinya dengan baik dan tdk minder.

    #eh, baru nyampe sini gara-gara penasaran dgn copas itu

    ReplyDelete
  43. Saya juga melihat banyak komen seperti ini terdengar buat mereka yang berada dalam posisi seperti itu. Janda. Ini memang situasi yang harus disikapi secara arif dan bijaksana. Dikantor saya ada dua rekan kerja saya yang berstatus Janda karena ditinggal meninggal atau wafat dari suaminya. Kalau sudah takdir siapa lagi yang bisa menentang.

    ReplyDelete
  44. Mama saya Janda

    dan saya bangga pada mama saya, walau single mother tapi bisa mendidik anaknya sampai S2

    ReplyDelete
  45. Setuju mbak. Orang sering berpikiran negatif soal status perkawinan. Mungkin budaya yang membentuk sih ya

    ReplyDelete
  46. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  47. ternya judule sama ya mak....heheh, jadi janda tuh sudah sulit..., juga bukan pilihan....setuju dengan tulisan mak ini...

    ReplyDelete
  48. Tulisan yang sangat meng inspirasi, salam kenal mba alaika

    ReplyDelete
  49. Oh ini toh Mak Alaika.. Iya sih, setuju, kenapa status janda masih banyak digunjing. Nggak etis kalau menurutku gunjingan seperti itu. Selain status janda, ada lagi yg masih sering digunjing, yaitu MBA. Duh komentar2nyaaa...super pedas! Capek deh nanggepinnya. -___- Padahal kalau menurutku berani nikah krn hamil duluan juga masih jauh lebih baik drpd aborsi, menurutku sih :)

    ReplyDelete
  50. Haiii mbak... Boleh ya tulisannya aku share ke Sosmedku, biar temen2 yg seringkali sulit ngebedain bahwa tdk semua janda itu seperti sinetron yg slalu berujung jd pengganggu RT org krn kecentilan... Thanks ya mbakk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Mbak. Silahkan, semoga bermanfaat yaaa. :)

      Delete
  51. Janda tak lain halnya dengan duda.. status selalu dijadikan alasan untuk tidak menerusakan hubngan... gak adil bgt.. :(
    Kadang saya berfikir kenapa sih status selalu dipermasalahkan... apakah selamanya orang yang berstatus duda itu buruk???
    Mngkin menjadi single parents mengurus dede kecil sndirian itu lebih baik drpd ngurusin pasangan yg gk penting yg pada ujung2nya mnta bubaran..

    ReplyDelete
  52. Hi semuanya..saya setuju dengan bahasan di sini mengenai status janda..jangan pernah berpikir semua janda itu tipe wanita perebut suami org..ada kok yang wanita single tp jadi perebut suami org..lagian ga semua mau dengan kondisi kaya gitu..jadi single mom..atau janda..dan kita ga tau nasib pernikahan kita sepertj apa..semua sdh di atur sama tuhan..sedih sih kalo denger janda jadi cibiran masyarakat..baca comment2 di sini bener2 bs menguatkan sekalj..

    ReplyDelete
  53. Ini pnglamnku, dlu aku suka dengn wanita tpi aku di tolak, biarpun ditolak aku tetep sayang dia, dan kita berteman smpai dia menikah. Ketika dia menikah prasaan itu hilang rasa cinta sayang karena bahagia liat dia menikah. Sejak dia menikah kita tak pernah komunikasi aku anggap tidak ada walau kdang ketika hari raya salim berucap slamat. 2 tahun berlalu dia menghubungiku, kaget bukan kepalang, ternyata dia bercerai dngn alasan suami yg emosi dan agama dia yg tidak lazim. Akhrnya kita bertemu dan mencritakn pngLamn kisah cinta masing. Entah knapa ketika tahu dia bercerai prasaaan yg lama hilang muncul lagi, ada rasa kasihan, sayang trsa tak percaya ngga pcaya kejadian ini menimpa dia. Akhirnya suatu waktu kmi bertemu kmbali dirumah orang tua dia,dan bertemu bicara dngn orang tua dia sbatas perjenalan. Namun,.. entah knapa sejak kerumah dia, si janda tak pernah menghubungi lagi, cuek seperlunya. Sedang aku sendri bingung sama prasaan ini kawatir dengan status dia, ingin rasanya melamar dia dan mengangjat drjat dia. Knapa aku kpikiran dia trus ya? Ada yg tau knapa? Pdahal sbnrnya aku jga da target lain yg gara2 dia aki jadi lupa,

    ReplyDelete
  54. Ibuku juga seoraang janda. Tapi alhamduah...beliau mampu mendidik 5 anaknya dg sangat mandiri.

    ReplyDelete
  55. Janda juga manusia, yg mmpunyai hati dan perasaan. Emang sakit itu di tahun" prtma. Tpi brusahalah untuk ttp kuat krna jalan hidup seorang janda blum berakhir smpai di situ, Tuhan sudah merencanakan yg terbaik untuk smua orng di masa depan, ttplah berusaha. Kalau dah punya anak jngn minder jga.. Klo bisa isi waktu dngn hal positif sprti mngurus anak dngn dngn cinta, krna anak itu adlh darah dagingmu sndiri. Spa tau aja kdepannya ada cwo yg dngn hati trbuka mau menerimamu dan memberikan cinta yg tulus dngn status janda dan mau mengurus anakmu, contohnya dah aq liat sndiri. Tmn baikku gk mslh dngn status janda calon istrinya bahkan sbntr lgi mnikah.

    Dan orang" yg memandang rendah dan menghina seorang janda itu sama dengan dia memandang rendah ibunya sndiri. Ibu kita juga seorang wanita yg melahirkan kita.
    (maaf sbelumnya) Contohnya ibu kita sndiri stelah di tinggal lari ama suami. Apakah kita bisa memandang rendah dirinya? Menghina dirinya? Atau menjauhi ibu kita? Malah sbaliknya kan kita malah mrasa ingin lbih dekat dengan ibu kita.

    Tpi jngn membenci laki" yg bercerai dngn perempuan. Kalau marah itu wajar bagi smua orng, tpi kalau benci itu berdampak pada khidupanmu sbagai seorang yg telah berstatus janda yg akan berpikir bahwa smua laki" itu sama saja. Itu salah besar. Tidak smua laki" itu sama, setiap orng itu punya sifat dan keperibadian yg brbeda, cobalah membuka hati kembali, kalau jodoh kamu bisa mendapatkan seseorang yg benar" mencintaimu apa adanya.

    Ini support yg bisa aq bagikan skaligus prinsip yg sngt pnting dan smpe saat ini masih kupegang untk alm tunanganku. Gk ada manusia yg sempurna. Krna cinta sjati gak hadir krna kita mnemukan orng yg smpurna. Tpi krna kita blajar melihat seseorng dngn cara yg smpurna.
    Thx

    ReplyDelete
  56. akibat ulah oknum.... predikat janda jadi demikian negatifnya yaa...

    ReplyDelete
  57. Saya setuju mbak dengan postingannya..kita ga taulah apa yang dialami mereka sampai akhirnya cerai, ga bijak untuk judge juga toh kita ga ngalamin apa yang mereka alamin. Siapa juga yang mau jadi janda, semua orang pada awalnya ingin rumah tangga yang langgeng tapi apa mau di kata kalo jalan hidup berkata lain. Mereka udah punya luka dan beban tersendiri ketika rumah tangga mereka hancur masa mau kita tambahin dengan pandangan seperti itu, adanya malah kita ga punya hati namanya :)..nice post mbak

    ReplyDelete
  58. Heh.. Masya Allah ya gunjingan orang2 yg nggak suka sama janda. Apalagi itu dilontarkan orang yg berpendidikan, kyk semacam sia2 dia belajar di sekolah ga belajar adab pulak. Sedih aku bacanya

    ReplyDelete
  59. bagus jadi janda kalau lelaki yang sang jadi suaminya tidak benar, tapi kalau benar tidak ada alasan menjadi janda.thanks

    ReplyDelete
  60. Kebanyakan org tidak menyikapi apa yg dilihat/dirasa/didengar... Sehingga menganggap hidup mereka sudah paling sempurna. Padahal Allah yang menggenggam hidup qta.

    ReplyDelete
  61. Haiii mbak... Boleh ya tulisannya aku share ke Sosmedku, biar temen2 yg seringkali sulit ngebedain bahwa tdk semua janda itu seperti sinetron yg slalu berujung jd pengganggu RT org krn kecentilan... Thanks ya mbakk

    ReplyDelete
  62. Aku juga udah pernah jadi janda aku ga pernah godain laki orang ada yang godain pasti aku judesin, aku bnci sama org yang berpikir janda itu manusia terburuk di muka bumi jangan dulu nilai janda sprti itu kalo ga tau jalan cerita yang menyebabkan bercerai, aku dulu suka bnci kalo ada ibu ibu memandang aku dengan tatapan sinis woy gua aja ga tertarik sama sekali sama laki nya, dan aku pun mnikah lagi berpikir mungkin ini kebahagiaan untuk hidup ku tapi knapa knapa aku sperti di pandang sebelah mata oleh kluarga nya di hina slalu di pndang sblah mata😢, memang aku punya suami bersetatus perjaka tapi dia tetlalu fosesif dia berdalih karna aku terlalu cinta katanya dan itu membuat ku muak segala sesuatu di kekang merasa di penjara oleh sikap nya aku bnci, ingin cerai v aku takut dengan masyarakat yang slalu memandang rendah seorang janda aku harus gmna 😢

    ReplyDelete
  63. Setuju mba Al. Masa di jaman se moderen ini masih banyak yg punya pikiran sempit kalau menyangkut status janda.. Siapa juga sih yang mau jadi janda... Tandanya masyarakat kita kurang punya rasa empati...sampe janda malah dijadikan bahan omongan.. Hey..be wise.. ga ada satu orang pun yg bisa tau jalan hidupnya..kita semua hanya menjalani apa yg sudah digariskan oleh takdir.. jadi hargailah takdir wanita yang harus jadi janda, jangan malah menghina status yg ga mereka inginkan sama sekali...

    ReplyDelete
  64. Iya ya mba, kasian temen2 yg mengalaminya jangan sampe omongan kita malah menambah beban hidupnya. Merubah pandangan jadi positif di masyarakat kita memang harus effort extra.

    ReplyDelete
  65. temenku jadi janda di usia muda, itupun gegara mantan suaminya nggak setia. Terus setengah mati dia cari cowok untuk dijadiin suami, katanya risih dengan status janda. Apalagi orang-orang sekitar suka mencibir dia kalau pacaran sama laki-laki yang belum pernah nikah. "Ih kok mau sih cowok itu pacaran sama temenmu, kan temenmu janda." Aku kalau denger gitu ikutan panas, hehe. Soalnya nggak ada salahnya sama status janda kok, toh selama dia memegang status janda itu dia tetap menjaga anak-anaknya plus jadi ibu muda pekerja yang strong. Cuma karena status jandanya dia jadi berkesan "kebelet" pengen buru-buru nikah lagi.

    ReplyDelete
  66. Membaca tulisan mbak Al, seenggaknya saya jadi punya bayangan real dan on the spot seperti apa janda yang sering dipandang rendah. Padahal, janda juga punya pilihan, mereka orang-orang berpikir. Sayangnya, orang-orang di luarnya terlalu asyik ikut campur. Takutnya sih jadi budaya mbak, apalagi orang-orang yang "hobi" bahkan terbiasa melakukan seperti ini.

    Kayaknya orang-orang di luar janda itu sendiri, memang harus diajari gimana bersikap empati, menghargai pendapat, mendengar pilihan, bahkan mendukung pilihan. Entahlah, takutnya kejadian seperti ini, karena orang-orang iri, atau nggak punya pilihan lain hal yang dibahas. Semoga orang-orang yang memandang rendah ini, diberi pencerahan.

    Janda juga manusia mbak, dan itu memang seharusnya.

    ReplyDelete
  67. Kenapa sih mesti cerai? Kenapa nggak bertahan aja? Lu jadi perempuan banyak maunya sih. Lo terlalu egois jadi istri. Dll dsb.

    Ada orang yang memang baru bisa mengerti kalau sudah mengalaminya sendiri, Mbak. Karena dijelaskan bagaimanapun mereka nggak akan mengerti, nggak akan berempati.

    Saya single mom. Saya bahagia, lebih kuat, bahkan lebih fresh dibandingkan ketika masih dalam pernikahan. Cuma memang, saya membatasi bergaul. Begitu terasa aura negatif, aura gosip, aura kepo berlebihan, saya lebih baik menjauh. Lebih baik saya pakai tenaga saya untuk yang lebih bermanfaat.

    ReplyDelete
  68. ulasan yang bagus...sukses selalu

    ReplyDelete
  69. Tulisan ini menguatkan saya. Terima kadih, Mbak

    ReplyDelete
  70. Aku kalau tahu "status" seseorang itu janda, aku ngelihanya malah melihat sosok yang kuat. dalam artian, keberanian dan kenekatan untuk memutuskan hal yang memang bagi mereka tidak lagi bisa dikompromi. nggak semua orang bisa, banyak yang milih memngalah dan diam seribu bahasa dengan ketidakbahagiaan. Dan bagaimana mana mereka berjuang sendiri sebagai single mom. for me its.....ahhhhh


    ReplyDelete