Janda. Emang Kenapa? | My Virtual Corner
Menu
/
Pinjem
Seorang teman dari dunia maya, suatu hari menyapa via BBM. Dan mulai dari obrolan ringan, berlanjutlah ke obrolan yang lebih serius, sekaligus menumpahkan uneg-unegnya akan status baru yang melekat pada dirinya, sebagai konsekuensi dari ketukan palu hakim, yang mengabulkan gugat cerai yang dilayangkannya ke pengadilan.

JANDA. Itulah status baru yang disandangnya, disamping gelar profesi yang selama ini menempel indah pada namanya. Memang sih, gelar baru tadi, tidak tertulis, tapi ternyata, memiliki efek negatif yang langsung memojokkan dirinya, dalam berinteraksi dengan kehidupan sehari-harinya. Bahkan secara perlahan, menuntunnya untuk membatasi diri dalam pergaulan, baik di lingkungan, maupun di dunia profesi yang digelutinya. Duh, sayang banget!

Si teman juga bercerita dengan icon sedih, 'masak, Mba, atasanku, seorang wanita dengan gelar master, ngomongnya gini, ih, amit-amit deh saya kalo harus cerai. Itu kan hal yang paling memalukan? Apa ga bisa dipertahankan saja? Kenapa harus cerai sih? Mengalah aja kenapa?'


Helloo! Emang kenapa sih kalo 'Janda'? Salahkah? Apa pernah tertulis di dalam daftar yang ingin kita capai, sebuah status atau keinginan untuk menjadi janda atau duda? Enggak ada toh? Lalu haruskah kita memojokkan apalagi menghakimi seseorang, teman pula lagi, yang tiba-tiba menyandang status janda? Haruskah kita menambah beban kehidupannya dengan kecaman kita? Bukankah Allah telah menciptakan segala sesuatunya secara berpasangan? Ada wanita ada pria, ada siang ada malam, ada yang pernikahan ada pula perceraian [walau itu adalah hal yang dibenciNya].

Janda. Adalah gelar yang diraih dengan terpaksa. Aku yakin, tidak ada seorang pun dari kita, yang ingin gagal dalam membina rumah tangga. Namun kita bisa apa, jika biduk perkawinan yang sedang kita kayuh, tiba-tiba menghadapi badai kehidupan, yang akhirnya membuat biduk cinta ini kandas di tengah perjalanan? Haruskah kita bertahan dalam kemunafikan? Berupaya keras mempertahankan biduk yang telah pecah delapan dan mustahil untuk lanjutkan perjalanan?

Sebagai orang luar, tentu kita tak pernah tau sedetilnya sebab musabab perpisahan mereka. Dan percaya deh, sebelum menempuh perpisahan itu, tentu keduanya [atau si penggugat] telah menganalisa secara mendalam, tentang baik buruknya keputusan yang harus ditempuh itu. Jadi menurutku sih, kalo kita memang belum mampu meringankan 'derita' si teman, mending kita diem dan menghargai aja deh apa yang menjadi pertimbangan dan keputusan mereka. Ga usah ikut campur, apalagi menghakimi. Mending kita urus saja rumah tangga kita sendiri, agar bertahan harmonis dan selaras, hingga tak menuju pada kisah tragis seperti perceraian.

Mengapa tidak kita coba saja untuk bertimbang rasa. Mencoba memposisikan diri kita di posisinya. Tidakkah kita akan sedih dan terpojok oleh cemoohan dan kecaman-kecaman itu? Menjadi janda itu jelas bukan hal yang mudah. Beban berat menanti, mulai dari harus menghidupi diri sendiri, juga harus menghidupi anak-anak. Bertindak sebagai ibu sekaligus juga sebagai ayah, belum lagi bagi yang berusia muda, masalah kebutuhan biologis juga menjadi masalah tersendiri. Jadi, please deh, yuk kita coba berempathy atas ketidakmujuran yang menimpa mereka. Dan ingat, wanita-wanita ini, bisa saja adalah ibu kita, keponakan-keponakan kita, bibi kita, tetangga kita, atau jangan-jangan malah diri kita sendiri [kaum wanita], who knows?

Dan bagi sahabats ku, para wanita yang saat ini sedang tidak beruntung dalam perkawinannya [menjadi janda], keep in mind deh, bahwa menjadi janda hanya pergantian status. Tidak serta merta membuat seseorang menjadi lebih rendah derajatnya, toh? Tidaklah harus membuat si janda ini menjadi bahan cemoohan. Apakah ada jaminan bahwa kita-kita yang berstatus istri atau suami menjadi orang-orang yang lebih mulia?

Singkirkan perasaan minder karena menjadi janda, gantilah dengan rasa bangga, setidaknya pada diri sendiri, yang telah berani menyandang status yang entah kenapa masih terus dipandang sebagai aib, di era yang telah demikian moderen ini. Pada masa di mana masyarakatnya telah mengecap pendidikan menengah ke atas bahkan jauh lebih tinggi. Jangan biarkan dirimu terpengaruh oleh stigma negatif itu, paculah diri untuk terus berkarya, untuk tetap lanjutkan langkah kehidupan. Jaga diri baik-baik, dan buktikan pada masyarakat luas, bahwa menjadi JANDA, tidak akan menuntunmu untuk 'mengganggu suami orang, untuk menggantungkan hidupmu pada orang lain. Show them, that you are the independent women, who can take care your self as well as your children. 

Tak perlu malu karena gagal berumah tangga, karena kegagalan adalah langkah awal memperbaiki diri, demi kebaikan-kebaikan di masa selanjutnya. Not only Move On, but you are in the MOVE UP step to achieve a better future. Ayo bangkit, masa depan cemerlang sedang menantimu di depan sana. 


Tulisan ini didedikasikan untuk beberapa sahabats yang pernah berbagi kisah 
tentang beban batin menjadi janda. Juga dalam rangka, menghasilkan 
tulisan positif tentang kata kunci JANDA, yang saat ini, di dominasi 
oleh berita miring setiap kita menggunakan keyword ini. 

Saleum,
Al, Bandung, 5 April 2013
114 comments

Setiap wanita pasti tidak berfikiran untuk menjadi janda ya mbak. Sebaiknya sih tidak menganggap negatif seorang janda ya. Buat temen-temenku yang ada diposisi itu tetap semangat ya. Miris juga ya mbak jika ada komen "ih kok mau nikah sama janda" Loh memangnya salahnya apa jadi seorang janda. Aku suka sebel bener dengernya. Ooops kenapa jadi aku yang emosi ya :-D

Reply

Iya mba, tak seorang pun yang berharap gagal dalam perkawinannya. Namun apa mau dikata jika jalan takdir berkata lain? Tentu harus rela dan berbesar hati dalam menjalaninya. Hanya yang kita sayangkan, justru animo masyarakat kita ini yang bikin resah. Bikin sebel, bukannya membantu meringankan beban mental si teman yang jadi janda, eh kok malah menjatuhkan.

Mungkin kudu memperluas wawasan ya mba, jangan cuma nonton sinetron yang mempertontonkan tokoh2 wanita genit, jahat dan culas saja, hehe.

Ih, kok ketularan mba Lidya ya? ikutan esmosi. Hahah. Cari es ah, mendinginkan hati. Hahah

Reply

Kadang saya juga memandang negatif ke janda, tapi biasanya sih ke artis yang suka kawin cere. Tapi, kalo sama yang lain nggak segitunya. Kadang malah kasihan kalau lihat perempuan yang terpaksa menggugat cerai terus jadi "single mother". Nggak semua suami itu baik, dan nggak selamanya istri harus "menahan diri" menghadapi sikap buruk suami. Liat sepupu sama tetangga yang janda juga malah jadi ikut sedih.

Reply

Iya sih Mil, kalo janda2 yang spt artis2 itu, yang bertingkah negatif itu sih kita sebel ngeliatnya, tapi kalo yang harus bergelut dalam sulitnya kehidupan, dalam membesarkan anak2nya, sementara juga harus membebaskan diri dari kecaman masyarakat sekitar sih, bikin kita sedih banget kan? :)

Reply

Dulu mamaku menikah dengan status Janda beranak 1 (aku anaknya) dan aku menganggap hal yang wajar saja tentang predikat itu. Siapa sih yang mau jadi janda, karena keadaan yang memaksa mungkin demi kebaikan bersama kenapa tidak.

Dan sekitar ku sekarang temen2 pada Janda semua, its oke< aku menghormati keputusan temen2ku, ahh apalah sebuah status Janda, yang penting kita tetep berbuat sesuai jalurnya saja .

Smangaat buat para Janda!!

Reply

suka banget mbak sama tulisan ini, kadang sulit sekali yaa mengajak orang untuk lebih empati, setidaknya menjaga lisan supaya tidak menyakiti..... berbicara seolah-olah dirinya yang paling baik dan suci dan langsung merendahkan orang lain. Semoga tulisan mba Al menyadarkan mereka yaaa..... saya juga buat tulisan tentang komentar2 menyakitkan disini mbak...http://bluerina.wordpress.com/2013/04/03/pertanyaan-pertanyaan-itu/

Reply

Setuju kak... kehidupan orang tak sama dengan kehidupan kita begitu juga dalam berumah tangga, lika-likunya juga tak sama. harusnya kita selalu menghargai keputusan hidup orang lain apalagi hal2 yg sangat pribadi.

Reply

penjelasan panjang satu artikel bisa diterima gak di kolom komentarnya mbak?
soalnya pandangan saya pasti banyak tentang masalah ini. karena ini pernah saya tuliskan pada blog saya yang lain yang gak laku-laku hehehehe..!
mohon jawabannya dulu? tks.

Reply

nice post mak....saya juga selalu berusaha u berhati2 agar tdk menyakiti hati mrka.....jd ingat ibu saya...beliau juga jnda....dan sedihnya dulu klo ada tetangga yg sinis banget klo liat suaminya berbincang dg ibu sy....Ya Allah ga semua kaleee janda itu suka goda laki org...huhuhuhu...#nangis

Reply

betul nggak ada yang salah dengan predikat janda, baiknya jangan membebani dengan tatapan sinis atau cemoohan, menjadi janda saja sudah sulit. setuju banget mba al...

Reply

Hehehe, di coba aja dulu, Bung, atau dijadikan beberapa kolom komentar. Monggo atuh. :)

Reply

Setuju, Mak. Banget. Tak gampang lho menyandang status yang satu ini. Berat banget. Semua terpulang ke kepribadian masing2 ya, Mak? Bahkan banyak juga kok wanita, yang statusnya adalah istri dari seorang suami, malah sibuk menggoda suami wanita lain. :)

Jadi, balik lagi ke individu/pribadi masing2 orang. :)

Reply

Aku sendiri juga pernah alami ini kok Nchie, dan terpulang kembali pada diri kita sebenarnya, bagaimana membawa dan menjaga diri. Karena aku 'galak', haha, walau bekerja di lingkungan para lelaki, toh mereka menghargaiku dan tau menjaga lisan mereka. :)

Yang berani macam2, paling akan berhadapan dengan rencong deh, usus akan terburai. Hehe. #Kidding. :D

Reply

Iya mba, bener, sulit mengajak orang lain untuk turut bertimbang rasa. Kadang udah terlanjur ngejudge duluan sih. :(
Yuk kita dukung gerakan menjaga lisan, dalam rangka menjaga hati dan perasaan orang lain. Karena lidah itu kan setajam sembilu. ya ga, Mba? :)

Saya kemarin udh baca postingan Mba ttg pertanyaan2 itu, dan dah ninggalin komen juga deh kayaknya. Bagus banget tulisannya itu, Mbak. Trims for share.

Reply

Yup, bener banget Haya. Agreed with you, absolutely :)

Reply

Iya Ummi, status itu, jika boleh memilih, mereka juga ga mau kok. Tapi mau gimana, ga punya pilihan lain. Jadi harus dihadapi dengan jiwa besar dan hati yang tabah. Sayangnya kebanyakan masyarakat sekitar, yang mengaku dirinya berhati lembut dan penuh kasih sayang, lupa, bahwa janda adalah juga manusia, yang punya hati dan perasaan. Yang sedang menanggung beban kehidupan. :)

Reply

HOB. Masa berpacaran adalah masa-masa di mana sifat-sifat yang baik anda tonjolkan terhadap pasangan anda. Sifat-sifat tersebut kemudian membentuk sebuah ikatan yang di sebut dengan Cinta. Cinta pada masa pacaran adalah perpaduan antara dua sifat baik dari masing-masing pribadi.
Ketika sifat tersebut telah terbentuk dengan baik menjadi sebuah Cinta, lalu lahirlah hubungan emosional dari masing-masing pribadi. Penonjolan sifat yang baik yang kemudian terbentuk dan terjalin merupakan proses awal dari lahirnya Cinta.

Bagaimana dengan sifat buruk?
Sifat buruk sangat jarang di hadirkan dalam proses pembentukan cinta. Hal ini di karenakan sifat tersebut dapat menganggu proses pembentukan dari cinta tersebut. Tetapi sifat buruk kadang bisa hadir tanpa kita sadari, namun akan terus tertutupi oleh penonjolan sifat yang baik.

Benarkah Cinta itu selamanya abadi ?
Sama sekali tidak! Cinta dapat menjadi rapuh dan luntur oleh berbagai hal dan cinta itulah yang akhirnya menjadi sebuah alasan perpisahan, perselingkuhan atau perceraian.

Bagaimana cinta yang seharusnya?
Cinta yang sejati adalah cinta yang dalam proses pembentukannya menonjolkan dua buah sifat yaitu baik dan buruk. Dalam membentuk dan memadukan kedua sifat ini diperlukan sebuah proses. Saling menghargai kelebihan, kekurangan, kebaikan dan keburukan adalah bagian penting dalam membentuk Cinta Yang Sejati. Keterbukaan antara anda dan pasangan anda mutlak di perlukan.
Ketika proses ini dapat di lalui dengan baik, kekuatan cinta yang terbentuk akan kokoh dan sulit terombang-ambing oleh apapun juga.

Apakah dengan membentuk cinta sejati tersebut menjadikan cinta itu akan abadi selamanya?
Sama sekali tidak. Cinta tak'kan pernah kekal adanya. Sama seperti kehidupan anda, tidak abadi. Yang diperlukan hanyalah menjaga dan memupuk cinta tersebut agar tidak rapuh, pudar dan luntur. Tanaman pasti layu dan mati ketika tidak di siram, di beri pupuk, demikian pula Cinta.

Bagaimana meyakini bahwa cintanya Tulus dan Suci
Tidak ada proses atau cara untuk mengetahui sebuah ketulusan cinta, karena bagian itu telah terjadi dalam proses pembentukan cinta tersebut. Yang perlu di lakukan hanyalah Percaya!

Setelah yakin dan percaya, apakah cukup menjadi pedoman untuk Menikah?
Menikah adalah sesuatu yang bersifat sakral. Menurut keimanan yang saya anut, bahwa janji suci, setia sampai akhir hayat, yang telah di ikrarkan di hadapan Tuhan adalah sesuatu yang tidak hanya melalui ucapan di bibir semata, tetapi melalui hati yang paling dalam.
Janji tersebut merupakan sumpah setia anda dihadapan Tuhan untuk selalu menjaga dan memelihara pasangan anda baik dalam suka maupun di dalam duka sampai akhir hidup anda.
Setelah menikah, Cinta bukan lagi menjadi dasar pedoman hidup saudara dan pasangan anda, tetapi Kasih dan Kemurahan-Nya lah yang menjadi pedoman hidup anda.

Reply

demikian tulisan jadul saya yang sudah lama hilang hehehe..!

Reply

Trims atas komentarnya yang lengkap dan rinci ya, Bung Penho. Semoga memberi pencerahan bagi para pembaca lainnya. :)

Reply

sama-sama mbak!
inti tulisan saya ini sebenarnya bukan tentang jandanya tetapi lebih kepada langkah-langkah agar tidak menjadi janda.
kalo diartikan dalam dunia medis artinya lebih baik mencegah dari pada mengobati! hehehehehe..

Reply

Semoga para wanita yang skrg masih menjanda segera menemukan pasangan, sebab sbg wanita tetap lbh aman dengan adanya muhrim.
Memulai dari diri sendiri utk tidak bersu'udzon pada janda. Lbh baik beri support dan respect.
Baca tulisanmu ini, aku kok membayangkan jari jemarimu menari lincah pada Macsy dengan ide di dlm kepala yang meletup2 ingin dituangkan. :D

Reply

siapa yg mau jadi janda?pasti smua tidak mau...mari berhusnuzdhan kepada mereka yg sedang menyandang status ini, dan memberikan tanggapan yg positif :),

Reply

cut kak jadi ingat judul lagu "aku jalak (janda galak) bukan jablay hehe, judul lagu itu juga jadi judul novel aku jalak bukan jablay :)

Reply

ih,geram kali sama atasan itu...
tetap semangattttt.... :D,tulisan menarik mbk al

Reply

saya memang belum pengalaman masalah percintaan, tentang peliknya atau bahagianya. tapi saya pikir, ya siapa coba yg mau jadi janda (cerai)? wanita ketika ia menikah kan berdoanya biar bahagia seumur hidup. setiap orang yg sudah berumah tangga pasti tdk selalu mulus menjalaninya. saya punya beberapa teman yg kasusnya sama. dari situ saya belajar bahwa yg namanya status bukan indikator penilaian thd diri mereka. saya juga suka sebel kalo ada orang yg bilang, "hah? masa sih? pantesan aja, jandaaaa.." tanpa mengetahui perkara sebenarnya.
belum tentu yg tidak janda/ blm menikah pribadinya lebih baik dr yg janda kan yah Mbak Al? Instropeksi dan lebih menjaga diri aja sih kalo kata saya *yahh, malah curhat :D

Reply

Yesss mbak Al..

Semangat utk saudariku semua...

Mudah2an tulisan mbak Al, bs menjadi pencerah utk mereka yg mengaku intelek tapi tidak cerdas hatinya... Amin ya Rabb..

Barakallah, mbak Al..

Reply

Iya mbak lea... Kebanyakan org tidak wise menyikapi apa yg dilihat/dirasa/didengar... Sehingga menganggap hidup mereka sudah paling sempurna...

Padahal Allah yang menggenggam hidup qta.

Reply

Terkadang kehidupan rumah tangga yang tak ideal dan malah berpotensi saling menyakiti, membuat perpisahan adalah pilihan tak enak yang harus diambil. Dulu, sebagai anak, saya sendiri bahkan menganjurkan orangtua untuk berpisah, karena tak tahannya denngan suasana neraka yang mereka ciptakan ke kami, anak-anaknya. Buat apa bertahan dalam rumah tangga yang semu dan malah menjadikan anak-anak korban? Menjadi janda bukanlah suatu hal yang hina, sepanjang dia mampu menjaga kehormatannya di mana saja dan terhadap siapa saja. Dan itu bukan berlaku pada para janda saja, juga berlaku pada kita, para wanita. Istri yang tak mampu menjaga kehormatan dirinya, malah lebih hina dari para janda mulia yang mampu menjaga harga dirinya. Semangat untuk kita, wanita, dalam menjaga diri dan kehormatan kita.

Reply

Sesungguhnya mereka yang mengecam atau mencibir seorang janda, bisa jadi mereka yang belum betul2 memahami arti cinta, give dan giving. Tfs mak

Reply

Hehehe, lebih keren jalak Tia, drpd Jablay. hehe. Oya, novelnya dah beredar belum? Penasaran deh. :)

Reply

apa pun itu, trims for share, Bung. Uraiannay bagus deh. :)

Reply

Aamiin.

Hehe, emangnya dirimu pernah melihat jemariku menari lincah di atas keyboardnya Macsy? :D. Ide ini udah lama ingin dicurahkan sih, Mba, tapi belum nemu momen yang pas aja.
Nah, tadi, begitu mau buka halaman InDesign, keingat, hari ini belum posting, dan kayaknya 25 menit cukup deh untuk bikin sebuah postingan. Jadilah ini sebagai entry hari ini. Semoga dapat sedikit memberi pencerahan deh. :)

Reply

Komentar atasannya tadi banyak dijalani rumah tangga, mungkin atasannya sendiri juga begitu. Memilih berpura-pura untuk sebuah status. Menjadi janda adalah suatu keberanian jika alasannya benar. Berani menjalani hidup sejujurnya.

Reply

Iyaaaa, aku juga geram. Jadi ingin tau gimana sih hubungannya dengan suaminya? Cukup harmoniskah hingga dia lupa diri begitu... :D

Reply

Bener banget Lea, seharusnya kita belajara dari pengalaman2 orang lain, tanpa harus mengalaminya sendiri. Namun seperti kata Thia, banyak orang yang tidak bijaksana dalam menarik hikmah dari pembelajaran yang tersirat dari peristiwa2 di sekitarnya. Dan main tuduh dan berfikir negatif aja thd sesuatu, tanpa berusaha terlebih dahulu menelaah, atau setidaknya berprasangka baik.

Semoga kita senantiasa menjadi orang2 yang dpt belajar menarik hikmah dari suatu peristawa/kejadian di sekitar kita, ya, Lea. :)

Reply

Aamiin ya Rabb. :)
Makasih Thia, ayo semangat yuk.

Reply

Bener banget, Mba. Tak seharusnya mengorbankan anak-anak, demi 'mempertahankan' keutuhan rumah tangga yang bergolak ibarat api di neraka. Aku sepakat banget deh dengan prinsip itu. Namun terkadang, banyak lho, wanita yang berfikir, biarlah mengalah saja, asalkan rumah tangga ini utuh. Kasian anak-anak, nanti ga punya ayah lagi.
Hadooh, hello... tega apa, anak-anak memiliki ayah, di rumah, yang berkobar dan bergolak seperti itu?
Tapi, semua tentu punya pemikiran sendiri, kan? Dan kita wajib menghargainya. :)

Reply

Yes, you are absolutely true, Mak. Bener banget. :)

Reply

Iya mba. Masyarakat kita, memang masih belum terbuka untuk bersikap jujur. Bahkan yang sudah berpendidikan tinggi sekali pun, masih saja terseret untuk bersandiwara alias berpura-pura bahagia, untuk menunjukkan pada khalayak ramai, bahwa rumah tangganya bahagia. Padahal, di dalam sana, perang dan piring terbang mungkin sudah lelah mengudara, ya? Hihi.

Bener, Mba. Menjadi janda, bukan hal yang hina, dan aku tak pernah menyesal ketika dulu mengambil keputusan untuk itu. Ternyata, Allah telah menyediakan momen2 indah lainnya, bagi hamba2Nya yang berani mengambil sikap. :)

Reply

MBa Al...selalu gini dech. memancing emosi pembacanya...heheee. Bagus banget mba postingannya. Untuk mengganti pengertian janda yang suka banget dinilai miring.

Reply

setuju Al....... nothing wrong being a widow
as long as.....tetap on the right track sesuai dengan sopan santun, etika dan tentunya syariah agama.

menjadi janda atau tidak, seharusnya hidup tetap disikapi dgn positif dan tindakan yg berkualitas utk kedepannya, ya gak Al?

Yakin deh, dengan sikap seperti ini, tidak akan ada lagi pandangan2 "curiga" dari orang lain, malah mereka akan memandang dengan hormat pada sang janda.

kenapa banyak orang yang "miring dan sinis" pada status ini ?
mungkin karena dapat dari pengalaman sebelum2nya, bahwa tidak sedikit memang janda ( apalagi yg janda kembang) karena tidak ingin susah, malah dengan sengaja bergerilya untuk "mengambil" suami orang lain .

semoga Allah swt memudahkan para janda dalam menjalani kehidupan dunia akhirat mereka ,aamiin

salam

Reply

setuju mbak...kita memang harus banyak belajar menjaga lisan dan memahami bahwa tak semua kita beruntung dalam hidup ini... saling tepo sliro, itu istilah jawa nya.. semoga sahabat2 yg sedang menyandang status ini diberi kekuatan untuk menjalani ujian hidup mereka...

Reply

Emakku janda, mertuaku janda juga.
Image janda tak selalu jelek kok. Bahkan banyak janda yang sukses dan tetap bermartabat.
Terima kasih ulasannya yang ciamik.
Salam hangat dari Surabaya

Reply

Setuju...

Gak perlu semua orang harus cerita kenapa dia begini kenapa dia begitu. Cukup kita aja yg open minded, ya kan mbak ;)

Reply

Setuju Mba Al. Janda itu bukan aib. Dan tidak ada seorang pun yang berhak menghakimi status orang lain. Saya punya bulek (tante) yang harus melalui proses menyakitkan itu Mba Al dan tak ada seorangpun dari luar keluarga yang menawarkan bantuan tapi seenak jidatnya menghakimi ini ina inu. Miris banget melihat beliau padahal gugatan cerai dilakukan demi kebaikan semua orang.

Reply

Saya sukaaa dgn komen mbak Rebellina.. :-)

Yuuk mari qta semua memantaskan diri.. :-)

Reply

heran lho mbak yg mempermasalahkan tentang status janda

Reply

Masyarakat itu kadang emang aneh, suka banget memberi stigma. Mungkin ada janda lain yg nakal dan berperangai tak bagus. Tapi sama seperti wanita bersuami, perangai mah tergantung orangnya ya Mbak :)

Reply

jd ingat dg tetanggaku yg ditinggal suami utk slamanya krn kecelakaan kerja, dgn menyandang janda yang baik spt ini aja , tuduhan miring simpang siur di telinga, apalagi janda cerai. Tapi itulah realita yg ada disekitar kita ya mba, cuma bisa berdoa, semoga mereka kuat meghadapinya, dan segera menemukan jodoh yg benar2 cocok dnia dan akhirat.

Reply

tapi mindset sekrang masih ada tentang kejelekan status janda, dan status ini adalah salah satu bentuk kejelekan seseorang yang belum bisa membina keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah karena salah satu hubungan jalinan pernikahan seseorang bisa dilihat dari kasih sayang dan jalinan kasih sedangkan masyarakat sekarng masih melihat pernikahan merupakan hubungan yang sangat sakral berbeda dengan kaum liberallis yang bebas bisa gonta ganti pasangan semaunya hingga bisa kawin cerai seenaknya seperti bupati garut hehehehe

Reply

stigma yang sebenarnya secara langsung atau tidak dibentuk laki-laki lalu secara tidak sadar diamini masyarakat karena stigma itu sudah berumur purba seumur ego laki-laki tercipta

Reply

ibu saya janda hehhee,,
eh jadi setuju sama mbak.
ohya saya juga aneh tuh sama tetangga saya, ibu2 tetangga mikirnya gini. Jangan sampe saya jadi janda, apalagi janda muda ditinggal mati suami.
berhubung ibuku janda ditinnggal suami. Dan terlihat menjadi tulang punggung mereka seakan2 ogah karna bakalan lelah spti ibu saya.
duh aneh orag2 seperti mereka itu.

Saya malah salut sama jaman rosulullah mereka itu rela suaminya pergi berperang walau nntinya tinggal nama. Dan menjadi janda.

Tapi siap gak siap yah mb, apapun yang terjadi mba harus jalani dnegan senyuman. Mau janda karna cerai atau apalah, yg penting dimata Allah kita ini baik dan bisa jadi mereka itu terlalu apa yah? terlalu primitif hehe...

Reply

Menjadi Janda bukan keputusan setiap wanita pastinya. Postitif thingking saja, klopun ada janda2 yang pakai tanda kutip seperti beberapa yang saya kenal, itu mungkin karena kondisi hati dan pribadi mereka :D. ngapin harus diusilin, Wallahualam. :)

Reply

Mertua saya juga janda mba Nur. Perempuan tu memang beda yah dengan lelaki, kalau lelaki setelah duda, tak jarang menikah lagi dengan olah alih alasan "nafsu", sedang perempuan lebih peka ke perasaan, apalagi telah memiliki anak, tak akan mampu menelantarkan anak, apapun yang dia kerjakan dia akan berjuang, semuanya untuk anak. *teringat almh. mamak.. andai tsunami tak merenggutnya :((*

Reply

Intinya saat kita melihat org lain coba berfikir posisikan diri kita di posisi mrk iyakan mba?? jgn seenaknya menghakimi dan menilai. Untuk janda apalagi yg memilih berpisah krn diperlakukan tdk semestinya, move on dan gapai masa depan yg lebih baik :)

Reply

Hihi, masak sih, Mba? Jago memancing emosi? :D
Yup, udah saatnya kita mengkampanyekan gerakan berfikir positif terhadap para janda lho, Mba. Karena memang status ini, sama sekali tak pernah diharapkan oleh wanita mana pun, bukan? :)

Reply

Bener banget, Bund. Segalanya kembali lagi pada sikap dan karakter si individunya. Yang bukan janda sekali pun, toh, jika pekertinya tidak terpuji, layak dapat tudingan 'miring' ya, Bund.

Jadi, tiada yang salah dengan status Janda. So, ayo sahabatsku, para janda, jangan bersedih, apalagi membiarkan hatimu teriris oleh rasa minder dan gundah hati. Bangkitlah, jaga diri, jaga kualitas diri, dan yakinlah, masa depan yang lebih baik, menanti disana. :)

Turun mengaminkan doamu, Bunda Lily sayang. :)

Reply

Iya, Mba Mechta. Bener dan setuju banget dengan pendapatmu. Yuk kita jaga lisan dan tingkatkan tepo saliro yuk. :)

Reply

Iya, Dhe. Image janda tak selalu jelek. Banyak yang berprestasi, malahan melebihi prestasi wanita yang bergelar seorang istri, terkadang, ya Dhe? :)
Trims atas kunjungannya, salam hangat dari Bandung.

Reply

He eh, Mba. Setuju banget. :)

Reply

Itulah masyarakat kita, Dan. Masih banyak sekali yang belum berkemauan untuk open minded, dan bertimbang rasa. Seringkali, rasa suka menghakimi terhadap kulit luar, dipelihara dan dibuat semakin subur. Lupa untuk menelaah sesuatu, untuk menilai sesuatu tak hanya dari kulit luarnya saja.

Semoga ke depannya, mungkin dengan bertambahnya wawasan, sikap bijak mereka akan terpancing untuk dikembangkan, ya, Dan? :)

Turut prihatin dengan nasib yang dialami oleh bulek kamu, Dan. Semoga beliau tabah, ya.

Reply

Iyaaa. Ternyata masyarakat kita masih tipis banget pengertian dan tepo saliro-nya, ya, Mba Ely?

Reply

He eh, Mi. Semoga beban beran ini tak senantiasa terbebankan ke pundak mereka, ya. Semoga suatu hari nanti, status ini tak lagi dipandang jelek di mata masyarakat kita. Tapi kalo aku yang jadi jandanya sih, I won't care. Yang penting aku akan jaga diri, terus berkreasi dan tunjukkan pada orang banyak, bahwa kita tidak bergantung pada siapa pun. Bahwa kita mampu mandiri. :)

Reply

Hm..., seseorang atau sepasang suami istri sampai ke pengadilan untuk bercerai, tentunya setelah mengambil berbagai pertimbangan. Dan jalan ini baru ditempuh, tentu setelah meyakini bahwa ini adalah pilihan terbaik bagi keduanya.

Kalo tentang bupati garut, mah, saya no comment aja deh, bung. Hehe.

Reply

He eh, Mba. Bener banget. :)

Reply

Kalo kata saya pribadi sih, Mba Nur dan Dhe. Enggak ada yang salah dengan status janda. Dia sama saja dengan status sosial masyarakat lainnya. Sama saja dengan status istri, status perawan, dan lain sebagainya. Yang membedakannya adalah pada sifat dan budi pekerti yang dimiliki si individu tersebut.

Sayangnya, masyarakat kita, belum semunya menyadari akan hal itu. Itu lah yang mendorong saya membuat postingan ini, sekaligus mencoba membangkitkan semangat beberapa teman [para janda] yang pernah curhat akan beban mental yang mereka alami oleh tatapan sinis dan cemoohan dari lingkungan sekitar mereka.

@Dhe, turun berbelasungkawa atas peristiwa tsunami yang telah merenggut almarhum ibunya Dhe. Semoga kini almarhumah telah damai di sisi Allah, ya, Dhe. Aamiin.

Reply

Iya, harusnya kita mengurus diri masing-masing aja sih, karena yakin deh, diri kita sendiri aja belum beres. Kok malah mau ngurusin orang lain, ya, enggak, Dhe? :)

Reply

Iya, Ir. Bener banget. Coba posisikan diri kita di posisi mereka. Sanggup ga kita menerima cemoohan dan cercaan seperti itu. Jika ga sanggup, bersikaplah arif dan bijaksana. :)

Bener, saatnya untuk Move ON dan Move UP. Karena masa depan yang lebih baik sedang menanti mereka yang mau bersikap positif dan tak pantang menyerah. :)

Trims atas kunjungan dan komennya, Ir.

Reply

soalnya mbak selalu memotivasi orang di sekelilingnya :). speechless deh, senyum saja hehehe

Reply

Mengerikannya, berita miring tentang status janda, juga kebanyakan dari kau perempuan itu sendiri. Entahlah, saya pikir perempuan harus lebih bertenggang rasa pada sesamanya. Bukan malah merasa terancam atau bagaimana.

Reply

ada lagunya mbak, janda katanya suka menggoda, jadi banyak perempuan yag takut suaminya di goda, j

Reply

bener Teh Nchie...
aku pikir Janda itu gak bisa dipandang sebelah mata loh
apalagi seorang janda yang karena berani menggugat cerai suaminya, misalnya...pastilah seorang wanita kuat yang berani menghadapi resiko
termasuk resiko menjadi single parents
sama sekali gak mudah

Reply

kadang memang... ngomong tuh gampang ya Mbak
mengomentari sesuatu itu gampang...
padahal yang menjalaninya gak mudah, jungkir balik jatuh bangun loh...

semoga omongan2 dan komentar2 kita gak menyakitkan orang lain ya Mbak...

Reply

bagus sekali tulisan cut kak tentang ini
memang cut kak yang namanya janda selalu dianggap miring oleh masyarakat, mungkin krn banyak sikap wanita yg begitu jd janda sudah kelewat batas prilakunya, pdhl itu hanya sebahagian orang saja, inilah yg namanya nila setitik rusak susu sebelanga

Reply

Janda itu tidak dosa kok iya kan :)

Reply

masyarakat kita masih memandang sebelah mata ya kak terhadap janda. liza sejak kecil merasakannya. melihat betapa tegar mamak menghadapi cibiran orang-orang, padahal mamak adalah janda yang ditinggal mati oleh bapak. lalu apaalagi nasib janda yang bercerai hidup. yup setuju sekali, kita harus bisa menghapus stigma masyarakat terhadap janda, setidaknya lewat media sosial seperti ini. karena pwmbunuhan paling berat adalah kalau karakternya yang dibunuh. kalau para janda terus dikucilkan itu sama saja dengan membunuh karakter mereka

Reply

Adikku juga janda muda tanpa anak. Tapi akhirnya menikah lagi dengan teman kelas sma nya dulu. Jadi agak mengerti dikit posisi sulit para janda berkaca dari adikku itu

Reply

Nice posting mak Alaika :-) memang sih cap negatif itu kadang jadi general karena memang ada "oknum" janda yang begitu. Aku juga beberapa tahun lalu akhirnya punya kakak ipar janda. Orangnya rentan banget dan gampang putus asa, pas maksa kakakku untuk menikahinya (padahal kakak udah punya istri dan anak-anaknya juga udah mau masuk universitas) dia mpe bela-belain akting mau bunuh diri, dua kali lagi :-p

akhirnya takut terjadi apa-apa, mereka menikahlah dengan ijin istrinya pertama. Jujur, aku sangat terpukul banget melihat kesedihan istri pertamanya yang udah aku anggap kakak sendiri. Stelah berlangsung selama dua tahun, saat kami sudah menerima istri mudanya kakak, eh dianya malah gugat cerai kakak lagi. Akhirnya mereka berpisah. Apa coba maksudnya?

ya, begitulah. Alhamdulillah jadi pelajaran untuk semuanya, ini gara-gara reuni SMP juga hahhaa ... jadi CLBK deh ^_^

Aih, kenapa aku jadi curhat ya mak hihihi
Tuk teman-teman dengan posisi baru, jangan sedih ya. Buktikan bahwa dengan posisi janda jauhhh dari apa yang digunjingkan orang :-)

Reply

hampir tiap hari bergaul dg wanita2 yg menjanda, tapi dari mereka justru terpancar kekuatan yg tak pernah saya temukan di wajah para istri bersuami, ^_^

Reply

A new Preview For Dollywood Festivity Of International locations 2013

my page fester

Reply

Amadeus Referring with Discusses Different Android Marketplace Content Recommendations

Feel free to visit my web blog :: payday loans

Reply

A long time ago...saat usiaku msh kisaran 20an, ada yg bertanya ANDAI aku dpt duda gimana?
KAla itu, mgk aku yg sok dewasa, kujawab bahwa aku tdk pernh pny kriteria cari pasangan msh single [blm pernah mnikah] atau duda. KArena dlm persepsiku, menjadi duda/janda [baik karena kematian ataupun cerai] bukan kondisi yg diinginkan. Bahkan utk kasus cerai pun, aku lbh berpijak pd stigma: pd dasarnya tak ada org yg ingin pernikahannya kandas dengan perceraian, jd saat terjadi perceraian pun sebenarnya kondisi yang hardest thing to accept.

Aniwei, lha sodaraku juga ada yg ngalami berstatus jd janda tuh Mbak. trs, kakak cowokku jg ada yg ngalami perceraian. SO far, Alhamdulillah...mereka bisa melaluinya dengan baik dan tdk minder.

#eh, baru nyampe sini gara-gara penasaran dgn copas itu

Reply

Perlu kita bikin skenario versi KEB mbak, biar sinetron gak di dominasi cerita soal rebutan cinta dan harta. bahkan judulnya pesantrenpun, isinya ttp begituan, nuansa pesantrennya cuma polesan sajah
# eh, nglantur

Reply

Kan td pesannya 4 komentar ya MBak, ini ta tambahi lagi

"jd pengen nulis ttg: kenapa telat mnikah versi curhatan teman2 sekaligus uneg2 sendiri neh"...secara ada teman yg pernah curhat karena blm mnikah sering di sindirin di tempt krja dgn kalimat2 yg harusnya tdk perlu keluar dr org2 yg welcome educated dan berwawasan luas serta koleksi bukunya banyak"

#edisi nglantur selanjutnya

Reply

waah, bung penho mantap deh ulasannya

Reply

betul malah mosting di sini iehiheiehiheiee

Reply

Saya juga melihat banyak komen seperti ini terdengar buat mereka yang berada dalam posisi seperti itu. Janda. Ini memang situasi yang harus disikapi secara arif dan bijaksana. Dikantor saya ada dua rekan kerja saya yang berstatus Janda karena ditinggal meninggal atau wafat dari suaminya. Kalau sudah takdir siapa lagi yang bisa menentang.

Reply

Mama saya Janda

dan saya bangga pada mama saya, walau single mother tapi bisa mendidik anaknya sampai S2

Reply

Justru sudah berstatus Janda harus bangga karena dia sudah terlepas dari beban dosa yang telah di pikul selama ini, selama Status Janda menjalani dengan kehidupan yang normal dan memiliki aktivitas yang positif kenapa harus malu. justru bisa menjadi suri teladan bagi wanita2 yang lain. jadilah seorang janda yg berkualitas untuk membangun suatu kehidupan yang baru yg lebih bermanfaat bagi banyak orang. Bravo............yang berstatus Janda

Reply

Setuju mbak. Orang sering berpikiran negatif soal status perkawinan. Mungkin budaya yang membentuk sih ya

Reply
This comment has been removed by a blog administrator.

ternya judule sama ya mak....heheh, jadi janda tuh sudah sulit..., juga bukan pilihan....setuju dengan tulisan mak ini...

Reply

Tulisan yang sangat meng inspirasi, salam kenal mba alaika

Reply

Bener, harusnya rasa tenggang rasa itulah yang dipupuk semakin subur, sehingga tercipta rasa menghargai dan ber-empati. :(

Reply

Hehe. Jadi yang salah lagunya kah? *Disambit

Reply

Oh ini toh Mak Alaika.. Iya sih, setuju, kenapa status janda masih banyak digunjing. Nggak etis kalau menurutku gunjingan seperti itu. Selain status janda, ada lagi yg masih sering digunjing, yaitu MBA. Duh komentar2nyaaa...super pedas! Capek deh nanggepinnya. -___- Padahal kalau menurutku berani nikah krn hamil duluan juga masih jauh lebih baik drpd aborsi, menurutku sih :)

Reply

Haiii mbak... Boleh ya tulisannya aku share ke Sosmedku, biar temen2 yg seringkali sulit ngebedain bahwa tdk semua janda itu seperti sinetron yg slalu berujung jd pengganggu RT org krn kecentilan... Thanks ya mbakk

Reply

Janda tak lain halnya dengan duda.. status selalu dijadikan alasan untuk tidak menerusakan hubngan... gak adil bgt.. :(
Kadang saya berfikir kenapa sih status selalu dipermasalahkan... apakah selamanya orang yang berstatus duda itu buruk???
Mngkin menjadi single parents mengurus dede kecil sndirian itu lebih baik drpd ngurusin pasangan yg gk penting yg pada ujung2nya mnta bubaran..

Reply

Halo, Mbak. Silahkan, semoga bermanfaat yaaa. :)

Reply

Hi semuanya..saya setuju dengan bahasan di sini mengenai status janda..jangan pernah berpikir semua janda itu tipe wanita perebut suami org..ada kok yang wanita single tp jadi perebut suami org..lagian ga semua mau dengan kondisi kaya gitu..jadi single mom..atau janda..dan kita ga tau nasib pernikahan kita sepertj apa..semua sdh di atur sama tuhan..sedih sih kalo denger janda jadi cibiran masyarakat..baca comment2 di sini bener2 bs menguatkan sekalj..

Reply

Ini pnglamnku, dlu aku suka dengn wanita tpi aku di tolak, biarpun ditolak aku tetep sayang dia, dan kita berteman smpai dia menikah. Ketika dia menikah prasaan itu hilang rasa cinta sayang karena bahagia liat dia menikah. Sejak dia menikah kita tak pernah komunikasi aku anggap tidak ada walau kdang ketika hari raya salim berucap slamat. 2 tahun berlalu dia menghubungiku, kaget bukan kepalang, ternyata dia bercerai dngn alasan suami yg emosi dan agama dia yg tidak lazim. Akhrnya kita bertemu dan mencritakn pngLamn kisah cinta masing. Entah knapa ketika tahu dia bercerai prasaaan yg lama hilang muncul lagi, ada rasa kasihan, sayang trsa tak percaya ngga pcaya kejadian ini menimpa dia. Akhirnya suatu waktu kmi bertemu kmbali dirumah orang tua dia,dan bertemu bicara dngn orang tua dia sbatas perjenalan. Namun,.. entah knapa sejak kerumah dia, si janda tak pernah menghubungi lagi, cuek seperlunya. Sedang aku sendri bingung sama prasaan ini kawatir dengan status dia, ingin rasanya melamar dia dan mengangjat drjat dia. Knapa aku kpikiran dia trus ya? Ada yg tau knapa? Pdahal sbnrnya aku jga da target lain yg gara2 dia aki jadi lupa,

Reply

Mbak, sy posisi janda skrg, dg usia nikah kmrn 20 th. Memang sangat2 berat, apalagi teman2 sy yang cewek kalo lihat saya dan anak2 saya pd sediiih dan diam2 nangis sendiri. Mereka kasihan n iba pd anak2 sy krn gak punya bapak..atau takut anak sy gak punya masa depan atau gak makan...please, sy tdk butuh dikasihani, sy msh kuat dan mampu. sy yakin Allah SWT Maha Baik.

Reply

Mbak, sy posisi janda skrg, dg usia nikah kmrn 20 th. Memang sangat2 berat, apalagi teman2 sy yang cewek kalo lihat saya dan anak2 saya pd sediiih dan diam2 nangis sendiri. Mereka kasihan n iba pd anak2 sy krn gak punya bapak..atau takut anak sy gak punya masa depan atau gak makan...please, sy tdk butuh dikasihani, sy msh kuat dan mampu. sy yakin Allah SWT Maha Baik.

Reply

Ibuku juga seoraang janda. Tapi alhamduah...beliau mampu mendidik 5 anaknya dg sangat mandiri.

Reply

Janda juga manusia, yg mmpunyai hati dan perasaan. Emang sakit itu di tahun" prtma. Tpi brusahalah untuk ttp kuat krna jalan hidup seorang janda blum berakhir smpai di situ, Tuhan sudah merencanakan yg terbaik untuk smua orng di masa depan, ttplah berusaha. Kalau dah punya anak jngn minder jga.. Klo bisa isi waktu dngn hal positif sprti mngurus anak dngn dngn cinta, krna anak itu adlh darah dagingmu sndiri. Spa tau aja kdepannya ada cwo yg dngn hati trbuka mau menerimamu dan memberikan cinta yg tulus dngn status janda dan mau mengurus anakmu, contohnya dah aq liat sndiri. Tmn baikku gk mslh dngn status janda calon istrinya bahkan sbntr lgi mnikah.

Dan orang" yg memandang rendah dan menghina seorang janda itu sama dengan dia memandang rendah ibunya sndiri. Ibu kita juga seorang wanita yg melahirkan kita.
(maaf sbelumnya) Contohnya ibu kita sndiri stelah di tinggal lari ama suami. Apakah kita bisa memandang rendah dirinya? Menghina dirinya? Atau menjauhi ibu kita? Malah sbaliknya kan kita malah mrasa ingin lbih dekat dengan ibu kita.

Tpi jngn membenci laki" yg bercerai dngn perempuan. Kalau marah itu wajar bagi smua orng, tpi kalau benci itu berdampak pada khidupanmu sbagai seorang yg telah berstatus janda yg akan berpikir bahwa smua laki" itu sama saja. Itu salah besar. Tidak smua laki" itu sama, setiap orng itu punya sifat dan keperibadian yg brbeda, cobalah membuka hati kembali, kalau jodoh kamu bisa mendapatkan seseorang yg benar" mencintaimu apa adanya.

Ini support yg bisa aq bagikan skaligus prinsip yg sngt pnting dan smpe saat ini masih kupegang untk alm tunanganku. Gk ada manusia yg sempurna. Krna cinta sjati gak hadir krna kita mnemukan orng yg smpurna. Tpi krna kita blajar melihat seseorng dngn cara yg smpurna.
Thx

Reply

akibat ulah oknum.... predikat janda jadi demikian negatifnya yaa...

Reply

Bahasan yang cukup menarik.

Reply

Saya setuju mbak dengan postingannya..kita ga taulah apa yang dialami mereka sampai akhirnya cerai, ga bijak untuk judge juga toh kita ga ngalamin apa yang mereka alamin. Siapa juga yang mau jadi janda, semua orang pada awalnya ingin rumah tangga yang langgeng tapi apa mau di kata kalo jalan hidup berkata lain. Mereka udah punya luka dan beban tersendiri ketika rumah tangga mereka hancur masa mau kita tambahin dengan pandangan seperti itu, adanya malah kita ga punya hati namanya :)..nice post mbak

Reply