My Virtual Corner
Menu

Tertatih ke Puncak Burangrang and I made it!

/ / 11 Comments
Hari ini, aku ingin berbagi sebuah cerita! Cerita paling mengesankan, penuh perjuangan, haru, airmata yang mungkin tak disadari oleh teman-teman satu timku yang lainnya, dan rasa syukur yang tak teruraikan oleh kata-kata, karena aku berhasil kembali sampai di rumah dengan selamat, walau tertatih! 

Yup. Ini pengalamanku mendaki sebuah gunung, yang bagi para pendaki pro mungkin dianggap hanya setinggi 2.050 mdpl. HANYA. Tapi bagiku, di usiaku yang 47 tahun ini, itu bukan HANYA, tapi SANGAT tinggi.

Karena perjalanan kesana, Masyaallah, bagian bumi-MU yang satu ini kok GA ada bagian datarnya, sih, ya Allah? MENANJAK terus dari awal? Udah itu, terjal dan sulit pula. Licin jugak! Mana senterku (headlamp) mati pulak! Hadeuh! *Di situ saya merasa down!

Ya! Headlamp yang baru kubeli dan baru saja kuisi dengan 3 butir batre AAA energizer, kok malah Konsleiting! Padam. Sehingga melangkahlah aku di dalam keremangan cahaya (hasil nebeng dari teman lainnya), sungguh bikin badmood dan miris, sedih, nangis! 

Sebuah perjalanan yang juga mengajarkanku akan pentingnya kekompakan dan solidaritas pertemanan. Thanks to the whole team! 😍  Love you, all!

Pendaki Pemula, yang Memilih Pendakian Malam Hari

Pendakian Gunung Burangrang
Foto dulu lah sambil menanti jemputan.
Ki-Ka: Uki, Nchie, Lily, Deden, Alaika, dr. Dave
Yes! Kami berenam saja, dari sekian anggota Grup Nature Walk Bandung yang bersepakat untuk melakukan pendakian malam itu, Minggu dini hari, sekitaran pukul 01.30 wib. Dari ke enam kami, hanya Deden dan Uki yang masih berada di rentang usia anak muda, yaitu antara 24 - 26 thn, sementara yang lainnya, yaitu aku, Nchie, Lily Tasman dan dr. Dave sudah berada di rentang usia 40-an ke atas. Aku sendiri malah sudah 47 thn.

Saat itu, tak ada keraguan sama sekali di dalam diri akan kemampuanku mendaki hingga ke puncak. Sejak dulu, aku memang tak pernah memasukkan faktor usia dalam kesanggupanku melakukan sesuatu. Insyaallah, pasti sanggup, itu sugesti positifku, sebagai penyemangat dan penjaga bara api di dalam diri. Tentu saja karena selama ini juga terbukti bahwa daya tahan tubuhku masih oke banget untuk diajak bekerjasama dalam berbagai kegiatan outdoor yang menguras energy, sih.

Sayangnya, aku lupa memasukkan faktor latihan fisik yang konsisten di dalam bagian dari persiapan pendakian ini. *ituh, Al! πŸ˜€

Gunung itu Bernama Burangrang
Pendakian Gunung Burangrang
Gunung ini lah yang hendak didaki, bernama Gunung Burangrang
Awalnya, adalah Gunung Puntang, yang menjadi tujuan pendakian kami. Keinginan untuk menjejakkan kaki di Puncak Meganya pada ketinggian 2.223 mdpl bermula dari keberhasilan kami sebelumnya dalam menjejakkan kaki di puncak Gunung Gambung Sedaningsih, Pengalengan dan puncak Gunung Manglayang (yang Manglayang ini aku ga ikutan, karena sedang berada di Aceh saat teman-teman melakukan tektokan ini). Ah iya, bagi yang belum ngeh, TEKTOK adalah istilah untuk pendakian yang tidak bermalam, jadi sifatnya adalah PP (pulang pergi).

Pendakian Gunung Puntang

Namun, sehari sebelum pendakian, justru kami mendapatkan kabar bahwa karena alasan keamanan, ternyata Gunung Puntang ditutup untuk sementara waktu. Padahal kami sudah menyiapkan kaos pendakian dengan tulisan Gunung Puntang lho, di belakang si kaosnya. 😁 Yah, apa boleh buat, pasti akan ada hikmahnya. *catet!
Jadilah kami mengalihkan tujuan pendakian, dan dari hasil voting, terpilihlah Gunung Burangrang  yang kami tuju. Agenda kegiatan, tetap mengikuti agenda awal, baik jam keberangkatan mau pun tektokannya. Hanya tujuannya saja yang dialihkan.


Menuju Gunung Burangrang

Aku bahkan belum tau di mana Gunung Burangrang itu. Makanya langsung googling to find out about this phenomenal mountain. Namun, dari hasil googling pula, kutemukan kesimpulan beberapa pendaki yang telah ke puncaknya, bahwa view yang ditemukan di sana itu, tak sepadan dengan beratnya medan pendakian. Hm..., kita lihat nanti deh!

Gunung Burangrang ini ternyata berada di kawasan Bandung Utara, akses jalannya melalui alun-alun Cimahi - Jl. Kolonel Masturi - Parongpong - Sekolah Polisi Negara dan masuk ke arah Kp. Legok Haji. Untuk menuju kesana, kami sudah carter sebuah toyota avanza yang siap mengantar dan menjemput kami ke dan dari sana nanti. Meeting point adalah di DF Lineation Center, dengan biaya perorang untuk antar/jemput ini adalah IDR. 125 ribu per orangnya. 

Meeting Point at DF Lineation Clinic


Lineation Clinic
Nongki cantik sambil menanti jemputan
Yes, seperti biasanya, meeting point paling aman dan mudah adalah di DF Lineation Center, Jl. Lemah Neundeut No 10, Setrasari - Bandung. Yang beda kali ini adalah, meeting time-nya adalah pukul 23.30 wib, jelang tengah malam! Karena keberangkatan ke sana diperkirakan sekitar pukul 01.30 wib. Jadi sebelum berangkat, kami masih bisa repacking, check and recheck dulu, atau tiduran sejenak sebelum berangkat. 

Aku sendiri sudah tiba di tekape sekitaran pukul 22.30 wib, soalnya driving a car in the midnight juga agak-agak gimanaaa gitu. Makanya aku percepat aja ke meeting point-nya, biar aman. Toh sesampai DF, justru aku bisa istirahat, tidur-tiduran dulu di sofa empuknya sebelum mobil jemputan datang. 

Pendakian itu pun dimulai!

Jreng...Jreng!

Deden, the chief of the team
Toyota Avanza yang membawa kami akhirnya sampai ke titik akhir perjalanannya. Kulirik jam tanganku yang telah menunjukkan angka 1.30-an, baru saja lewat tengah malam. Kami turun dari mobil, sementara si akang driver melajukan mobilnya untuk mencari putaran balik. Jalanan terlihat sempit diapit oleh rumah-rumah penduduk. Ini di mana? Pikirku yang masih dalam keadaan mengantuk. Kebanyakan dari kami memang memilih tidur selama perjalanan tadi (dari DF Lineation Clinic ke Kp. Legok Haji - di mana pendakian akan bermula). Tidur selama perjalanan adalah salah satu cara charging energy kan? Juga agar dalam pendakian nanti ga ngantuk, sih! 


Setelah mendapatkan daypack masing-masing, kami pun memulai langkah. Berbekal headlamp yang telah nempel cantik di kepala masing-masing, penerangan itu pun menuntun langkah kaki kami menuju ke awal area pendakian. Adalah Deden yang kami amanahi tugas menjadi ketua pendakian ini, karena memang anak muda inilah yang paling tinggi jam terbangnya dibanding kami semua. Jika peringkat kami adalah pemilik sabuk putih di level Taekwondo, maka Deden telah memiliki sabuk hitam? Hehe. Yes, anak muda pecinta alam ini memang telah malang melintang jejak kakinya di berbagai puncak gunung tanah air. Atau malah sudah sampai ke luar negeri segala? Entah lah, aku lupa menanyakannya. πŸ˜€

Aku melangkahkan kaki di belakang Lily, seingatku, di belakangku barulah Nchie. Cahaya benderang yang memancar strongly dari headlamp-ku (kan baru beli) memberi kepercayaan diri untuk melangkah dengan pasti, menyusul teman lainnya. Namun sayang..., di sinilah pemicu badmood itu berulah!

Baru beberapa langkah, mungkin sekitar 100 meteran, si headlamp bikin masalah! PADAM! O ow! Kucoba melepaskannya dari kepala, dan coba meng-on-off-kannya beberapa kali. Hasilnya tetap PADAM. Tak ada secercah cahaya pun yang mampu diberikannya. Astargfirullah... Tuhan, pertanda apa ini? Plis..., jangan sekarang. Biarkan aku lanjutkan perjalanan ini, plis... Neutulong lon, ya Allah. Doaku. πŸ˜‘
Namun tetap saja, si headlamp tak juga menyala. Aku terpaksa melangkah dalam kegelapan, berbekal biasan cahaya dari headlamp teman-teman lainnya. Duh! Baru di awal sudah begini? Siapa yang ga langsung badmood coba?

Kami mampir di sebuah pondok di atas sepetak tanah datar. yang di dalamnya duduk seorang Bapak tua. Deden melaporkan niat pendakian kami ke si Bapak, lalu bergabung dengan beberapa anak muda yang sedang memanaskan air di atas sebuah tungku. Kayaknya akan bikin kopi. 
Kami pun saling menyapa dan berinteraksi dengan mereka, dan sepakatlah kami untuk mendaki bersama. Asyik. Rombongan yang tadinya hanya ber-6 kini jadi ber-11. Nambah teman seperjalanan rasanya lebih bersemangat, deh!

Namun hatiku masih miris dan risau. Sedih! Ku tak memiliki cahaya. Nyesal banget rasanya aku tak jadi bawa senter tangan sebagai cadangan. Duh. Kuutarakan pada dr. Dave masalah yang sedang kuhadapi, dan olehnya, dicoba perbaiki si headlamp itu. Teteup saja, PADAM!

Akhirnya sebuah senter jepit (emergency light) kecil mungil keluar dari daypack dr. Dave untuk bekalku menerangi langkah. "Nih, kamu pakai ini aja. Jepit aja di bagian dada, biar ga repot megangnya." Pandu si dokter kece itu. Kucoba ikuti petunjuknya dan mencoba cahayanya. Sip! Bolehlah! 

Ya Allah, lancarkan perjalananku malam ini ya Allah. 

Namun di balik doa itu, feeling-ku terasa negatif. Badmood bener-bener menguasai. Bahkan emosi pada si penjual headlamp menyelinap kuatkan rasa badmood itu sendiri. Huft. 

Mari kita Melangkah. Mari kita mendaki.

Setelah istirahat sekitar 15 menitan itu, kami pun membentuk barisan. Sesuai kesepakatan, maka Deden melangkah paling depan, sebagai penunjuk jalan dan the chief of the team, sementara salah satu dari kelima anak muda yang ikutan bergabung bersama kami, menjadi penutup rombongan. Aku ga tau apa istilahnya. Yang jelas, dia bersedia untuk berjalan paling belakang, untuk berjaga-jaga agar keseluruhan tim tetap bersama, ga nyasar. Good arrangement!

Kami pun memulai langkah dengan penuh semangat. Mencoba untuk tak banyak bicara karena memang perlu saving energy dan napas. Aku sendiri, mencoba bersahabat dengan emergency light mungil yang diberikan dr. Dave tadi. Alhamdulillah, dia bekerja dengan baik, memberiku penerangan sehingga langkahku terasa ringan. Namun, tak bisa dipungkiri, badmood gara-gara headlamp yang konsleit teteup bercokol di hati. Kucoba untuk berdialog dengan batinku, membujuknya untuk membantuku ringankan pendakian ini. 
Pendakian ke Burangrang
Tertatih melangkah di kegelapan malam

Etapi, langkah kami yang kian menanjak, kegelapan malam karena kami mulai masuk ke dalam hutan, jelas membuat cahaya langit terlihat redup. Emergency light mungil ini tentu tak maksimal lagi dalam menerangi langkahku. Terasa redup. Ditambah pula dengan landasan yang licin, terjal, dan rentan longsor karena tanah tak padat, membuat kami harus melangkah ekstra hati-hati. Apalagi kami sempat bertemu dengan pendaki lainnya yang terpaksa mendirikan tenda di tengah pendakian mereka, karena backpack milik salah satu dari mereka jatuh ke jurang. Hiii, serem. *Disini aku mulai waswas. Aku takut nyemplung ke jurang yang jaraknya hanya 7 atau 10 jari di sebelah kiri. Hayyah, cahaya mana cahaya! 

Tuhan, pendakian ini mulai terasa berat. Napas kami terdengar ngos-ngosan. Berpacu menderu. Huft. Kami masih melangkah, perlahan dan pasti. Mencoba menjejak seaman mungkin agar tak terpeleset di atas tanah licin itu. Namun apa dayaku, penerangan yang redup, membuat langkahku terasa semakin sulit. Untungnya Nchie dan dr. Dave secara bergantian membagikan cahaya dari senter mereka untuk terangi jalanku. Hingga perlahan tapi pasti, berhasil juga kami mencapai pos 1. Istirahat sejenak, lalu lanjutkan perjalanan. 

Pos 2, Memanjat, Menanjak, Berpegangan di akar dan dahan pepohonan,
dan kemudian mulai letoy.

Pendakian yang seakan tak berujung
Foto by Nature Walk Bandung
Pendakian panjang yang seakan tak akan berujung. 2.050 mdpl yang harus ditempuh. Dan medan yang sulit ini benar-benar menguji ketabahan dan kekuatan fisik. Langkah terus berlanjut, setelah tentu saja beristirahat di tempat-tempat dimana kami butuh untuk break. Rasanya adalah hal yang mustahil bertemu dengan tanah datar untuk sejenak saja, karena memang sesungguhnya lah medan tempur kali ini adalah TANJAKAN melulu hingga ke puncak. Belum lagi di banyak tempat kami harus berpegangan pada akar atau dahan pepohonan sebagai daya dukung agar bisa memanjat ke atas tanjakan, atau merunduk karena ada lekukan pepohonan atau tanah yang membentuk dinding. Aku hampir frustasi, karena selain fakir cahaya, juga staminaku mulai anjlok. Entahlah, mungkin karena kurang latihan fisik, sih.

Langkahku mulai terasa berat dan loyo. Namun tetap harus berlanjut, apalagi melihat teman-teman lainnya yang masih begitu bersemangat. Hebat euy stamina mereka. Bahkan Lily yang awalnya terlihat mulai ngos-ngosan, kini malah telah berhasil mendapatkan kembali semangatnya. Wow! Melihatku yang mulai kepayahan, Lily malah meminjamkan pool stick-nya (tongkat) untuk kupakai dalam meringankan pendakian. Thanks, Ly. 😊

Kehilangan Sunrise, dan Tertatih Mencapai Puncak

Seakan semesta sedang tak bersahabat denganku kali ini. Ibarat si tua renta, aku semakin down. Pahaku semakin berat saja, padahal aku sudah pakai pool stick dari Lily. Lelah dan loyo. Kedua kaki dan lutut semakin sulit diajak bekerjasama. Tinggal aku, Nchie dan dua anak muda (teman baru di pendakian) yang masih di belakang. Itu pun karena ketiganya setia menemaniku. Duh, aku jadi ga enak deh. Bikin langkah mereka terhambat seperti ini. Namun di sini juga aku jadi belajar memahami. Bahwa di sini lah sebenarnya sebuah kesetiaan diuji. Solidaritas pertemanan diperlihatkan. Bahkan orang yang baru kita kenal pun, bisa terlihat kualitasnya di pendakian seperti ini. Aku sungguh terharu dengan kebaikan semua teman-teman sependakian ini. πŸ˜‡  Sempat juga terlintas sebuah pertanyaan di hatiku, apakah cukup kali ini saja aku mendaki, dan menyudahinya setelah ini? Jangan memaksa diri jika fisik sudah tak kuat lagi! Begitu bisik hatiku.

Nchie terus menyemangati, begitu juga kedua anak muda yang unyu-unyu ini. Ayo, Mba, dikit lagi. Tuh, udah keliatan puncaknya. Begitu juga dengan Deden, dr. Dave, Lily, dan Uki dari kejauhan mereka menyemangati, bahwa puncak sudah sebegitu dekat. Aku sendiri, berusaha memompa semangat diri. HARUS sampai di puncak. Ga lucu kan kalo aku memilih nongkrong di tengah jalanan terjal ini? Dan sudah pasti tak akan diijinkan aku menyendiri begini. Maka, sugesti positif yang aku bisikkan ke dalam diri adalah, AKU PASTI KUAT. Harus sampai ke puncak, walau tertatih. Karena sesungguhnya selama ini aku sanggup, kok! Dan bener saja, walau air mata mulai menggenang, berupaya keras mengusir si badmood yang begitu setia menghantui, kini cercah cahaya mentari yang bersemburat di ufuk Timur sungguh mencerahkan hati. Menimbulkan harapan dan semangat baru bagiku untuk terus mencapai puncak. Biarlah tak melihat sunrise, tapi berhasil sampai di atas.

Yes, I made it! We made it!

Alhamdulillah ya Allah. Semangat yang kembali, akhirnya mampu menuntun langkahku untuk berhasil sampai di atas. Puncak, yang tadinya aku harap adalah hamparan tanah datar yang luas, ternyata hanya sepetak tanah yang luasnya sebenarnya tak seberapa. Beberapa anak muda dari rombongan lain telah memasang 1 atau 2 tenda di sana. Kami menyapa mereka dengan ramah, lalu menyeberang ke hamparan tanah lainnya tak jauh dari tempat pertama.

Alhamdulillah. Ku benar-benar lelah. Lily langsung membentangkan plastik tipis yang dibawanya sebagai alas duduk kami. Lalu tanpa ba bi bu, aku langsung merebahkan diri. Tak peduli lagi dengan view puncak gunung yang entah bagaimana. Indah kah? Kurang indah kah? Ku tak peduli lagi. Aku lelah. Kubuka sepatu yang setia menemani langkahku, dan langsung tiduran di hamparan plastik yang dibentang Lily. Nchie, Lily, dr. Dave, dan yang lainnya sepertinya masih sempat foto-foto, atau malah ikutan selonjoran bahkan tiduran di matras yang mereka bawa? Entahlah.

Yang pasti, kami pun terhampar lelap tak lama sesudahnya. Haha. Pendakian ini, ampyun dijeee! 😁
Gunung Burangrang
Kehilangan Daya - Terkapar, Lelah!
Ki-ka Atas: dr. Dave - Deden
Kiri Bawah: Lily, Alaika, Nchie
Kanan Bawah: Uki
Foto by Nature Walk Bandung
Here We Are!

Yup. Pendakian mencapai ujung. Alhamdulillah. Tidur lelap kira-kira lebih dari 1 jam-an, kami kemudian bangun dan menyiapkan sarapan masing-masing. Aku sendiri lebih memilih minum energen sereal yang praktis, daripada membuat mie instant atau yang lainnya. Tak lama sesudahnya, kami pun taking pictures. Mendokumentasikan jejak langkah kami yang akhirnya berhasil menjejak puncak Burangrang ini. Dan?

Dan benar kata artikel-artikel yang kubaca sebelumnya, bahwa effort yang luar biasa untuk mencapai puncak ini, sesungguhnya tak sebanding dengan view yang kita dapatkan di sini. Lelah ini serasa kurang terbayar. Kata lainnya adalah, Burangrang kurang instagramable mah! πŸ˜„

Anyway, kami bersyukur telah sampai ke puncak gunung ternama ini. Dan here are the pictures! Tetap kece walo tubuh serasa luluh lantak kan?

Burangrang Mountain
Lelah ini, berbayar sudah!
Foto by Nature Walk Bandung.
Burangrang Mountain
Siapa yang ga hepi kalo sudah begini?
Tinggal mikirin turunnya nih. Haha.
Foto by Nature Walk Bandung.
Tertatih ke Puncak Burangrang, Cap Bokong Penuhi Turunan Burangrang. 😁

Tadinya sih, aku kira proses turun tentu akan jauh lebih mudah. Karena ga perlu mengangkat kaki dan paha sedasyat saat menanjak. Etapi, ternyata enggak begitu, Sobs! Jangan salah! Hehe. Proses turun, yang awalnya membuatku begitu bersemangat, karena telah istirahat, telah tidur, dan kembali berenergi, justru perlahan tapi pasti, menyumbang lelah dan berhasil (lagi dan lagi) bikin aku DOWN! Perjalanan turun justru dua kali lebih sulit dari perjalanan naik, padahal sudah terang benderang. Bahkan di seperempat sisa perjalanannya, aku terpaksa menyeret langkah, karena paha terasa berat banget dan gemetaran! Faktor magis kah? Atau faktor kelelahan?

Yang pasti, pendakian ini sungguh memberi pelajaran tersendiri bagiku, Sobs! Yuk, lanjut ceritanya di artikel berikutnya, ya! 😊


Pengalaman tak terlupa,
Mencapai Puncak Gunung Burangrang,
Al, Bandung, 16 October 2017
(2.446 kata)
Read More

SAS Hospitality, jadikan Grand Tjokro Hotel Nyaman dan Bikin Betah!

/ / 19 Comments
SAS Hospitality, jadikan Grand Tjokro Hotel Nyaman dan Bikin Betah!

Sabtu, 23 September 2017.

Hari masih pagi ketika aku memarkirkan Gliv tersayang di basement-nya Grand Tjokro Hotel Bandung. Ada riang di hati membayangkan akan bertemu dengan teman-teman Blogger Bandung, yang juga akan hadir di hotel berbintang empat ini, berlokasi di kawasan strategis area wisata Cihampelas, tepatnya di jalan Cihampelas No. 211-217 Bandung.

Hari itu, Grand Tjokro Hotel Bandung memberi kesempatan bagi 10 Blogger Bandung untuk berkunjung dan menikmati suasana dan menyantap sajian-sajian yang tersedia di hotel mereka. Tak hanya itu, hotel yang dikelola oleh SAS Hospitality ini turut serta mempersilakan para blogger yang diundang untuk membawa anak-anaknya ke dalam agenda ini. Sehingga kebayang kan betapa ramai dan seru serta hangatnya suasana tatkala satu persatu blogger bersama ananda tercinta hadir di lokasi? 😁  Sayangnya, aku hanya datang sendiri, euy, karena Intan ga mungkin lagi diajakin ikut bersama donk, wong anaknya juga sedang magang di Jakarta. Hehe.

Breakfast Bareng, Akrab, Hangat, dan Sungguh Menyenangkan!

Ruangan Tjokro Resto terlihat ramai pagi itu. Mulai dari tamu yang sudah rapi jali mau pun tamu yang masih berpakaian santai dan muka bantal (baru bangun bobo) ada di sana, having breakfast di meja pilihan masing-masing. Jadi inget dulu saat sering dinas luar kota, utamanya Jakarta, aku dan timku sering banget memanfaatkan moment breakfast seperti ini untuk checklist agenda atau recheck persiapan aktivitas yang akan dilakukan hari itu. Biasanya, checklist bareng sambil sarapan di ruangan yang luas, rame, dan penuh dengan menu ala buffet seperti itu, selalu memberikan aura positive tersendiri.

Sama halnya dengan pagi itu. Tjokro Resto yang luas dan tertata apik dengan aneka menu ala buffet yang terhidang, menghampar memanggil, menggoda selera dan siap menggoyang lidah, sungguh bikin goyah 'iman' bagi yang sedang diet. Termasuk eikeh yang lagi diet karbo kala itu! πŸ˜€

Awalnya sih udah oke banget. Seperti biasa, di setiap undangan makan di hotel-hotel berbintang, paling yang aku bidik adalah menu salad dan buah-buahan atau roti ala-ala Turkiye itu. Etapi, kemudian..., ternyata Grand Tjokro Resto juga menyediakan makanan ala timur tengah yang bikin perutku langsung bergemuruh. Oh My God! Udah lama banget aku merindukan Roti Jala dan Roti Ayam Swarma! And..., I found them here!
Grand Tjokro Hotel Bandung
Menu favoritku di setiap ajang jamuan makan. SALAD! Yummy menyegarkan!


Obrolan pagi yang hangat mengalir akrab mengisi kebersamaan kami, para blogger, anak-anak juga dengan Teh Terra yang mewakili Grand Tjokro/SAS Hospitality. Walau baru kenal, tapi si Teteh ini mah, ramah dan supel banget orangnya. Menyenangkan! Teh Terra menyampaikan bahwa nanti setelah touring the hotel, kami akan mengikuti cooking class-nya Grand Tjokro Hotel, yang akan mengajarkan bagaimana membuat Pizza paling laris di hotel ini, yaitu Pizza Supersupreme! What?? Pizza, oh may! Itu makanan favorit saya, Teteh! Can't wait to have the cooking class!

Touring the Hotel.

Ada apa aja sih di Grand Tjokro Hotel ini? Pasti banyak fasilitas oke punya donk di sini? 

Yes, sesuai perkiraanku, Sobs! Grand Tjokro Hotel emang keren! Hotel yang dikelola oleh SAS Hospitality ini memiliki pelayanan luar biasa, dibalut oleh nilai-nilai keramah-tamahan Indonesia dan adaptasi budaya lokal, memiliki fasilitas terlengkap untuk keperluan bisnis maupun liburan keluarga, dilengkapi dengan tim F & B yang menampilkan keahlian memasak terbaik. Sehingga tak heran jika hotel yang memiliki 364 kamar ini mampu mengikat para tamunya untuk kembali lagi ke sini pada kunjungan berikutnya ke kota ini.

By the way, Al, SAS Hospitality itu apa sih? Kok dari tadi nyebut SAS Hospitality mulu?

Hm, SAS Hospitality adalah sebuah perusahaan pengelola/operator hotel, yang terinspirasi nilai-nilai keramahan, budaya lokal dan spritual Indonesia dalam memberikan pelayanan di setiap hotel yang dikelolanya. Perusahaan yang berdiri sejak 2017 ini telah mengelola 7 hotel yang tersebar di beberapa kota di Indonesia yaitu Klaten, Yogyakarta, Jakarta, Pekanbaru, Bandung dan Balikpapan. Keren ya?

The Rooms.

Sebuah hotel, tentu menjadikan Rooms sebagai produk utamanya. Iya lah, tanpa room, apa jadinya sebuah hotel? Kudu ganti nama jadi restaurant atau apa lah gitu yak? Haha.
Grand Tjokro Hotel Bandung

Grand Tjokro Hotel, as I said before, memiliki 363 kamar. Mulai dari Junior Suite, Superior maupun Deluxe. Wow! Banyak juga ya? Dan rooms nya apik-apik teunan, lho! Aku jadi mupeng pengen having staycation here, deh! Hitung-hitung refreshing kan? *lirik suami, mudah-mudahan baca tulisan ini dan terketuk hati untuk ngajakin istri cantiknya ini untuk wikenan di sini. πŸ˜‹

Ballroom, Meeting Room

Layaknya hotel berbintang, tentu Grand Tjokro juga memiliki Ballroom andalan, yang bisa dan pas banget dipake untuk berbagai acara, mulai dari meeting, conference maupun berbagai keperluan lainnya.


Rooftop

Nah, ini! Bermain di lantai paling atas (Atap) ini asyik banget! Sayangnya saat itu matahari sedang terik, sehingga aku terpaksa membatasi diri dari pepotoan di beberapa spot kece yang sebenarnya mengundang banget untuk bersantai di sana. Mungkin kalo sore-sore, asyik banget deh duduk-duduk di sini.



The Cooking Class!

Yeay! Akhirnya setelah diajak berkeliling (touring the hotel) oleh Teh Terra, sampai juga kami ke acara paling seru dan happy hari itu! Cooking Class! Kami pun digiring ke Street Grill & Friends, cafe apik-nya Grand Tjokro Hotel Bandung, tempat di mana the chef akan mengajarkan kami bikin Pizza! Yeayy!!

Lebih serunya lagi, blogger dipasangkan dengan anak masing-masing untuk berkolaborasi memasak pizza! Asyik banget! Kebersamaan yang terjalin, tentu akan melekat sepanjang ingatan! Bikin bounding antara orang tua - anak semakin erat!

Terus kamu, Al? Kan datangnya sendiri! Pasangannya siapa donk?

Nah, ini lah asyiknya having lots of friends! Teman bloggerku, Uwien, bawa kedua anaknya. Dan happy-nya tuh, salah satu anaknya, Akram, dengan senang hati bergabung denganku, lho! Akram tuh seneng jadi anggota timnya Tante Al kan sayang? Hehe.

Yes, aku dan Akram pun jadi tim yang solid.

Grand Tjokro Hotel Bandung
Serunya Bikin Pizza bareng Akram! Minjem anak sama Uwien. Haha.
Akram dan Tante Al pun jadi tim yang solid, ya! Haha
Supersupreme pizza
Yeay! Pizza bikinan Akram dan Tante Al cantik dan yummy deh!
Oya, di cafe Street Grill and Friends ini juga cocok banget untuk tempat arisan, ulang tahunan atau small celebration lainnya, lho! Tempatnya nyaman dan menyenangkan!

Kebetulan ada anak yang sedang merayakan ultahnya pada hari itu,
jadilah anak-anak kita pada ikutan celebrationnya. Happy Birthday, Birthday Girl!
Swimming Pool - Swimming Time!

grand tjokro hotel bandung
Siapa yang ga pengen berenang di kolam secantik ini?
Sayangnya mentari sedang terik, dan aku ga bawa baju renang, sih!
Sumber foto: dari website Grand Tjokro Hotel Bandung.
Yes! Anak-anak sudah tak sabar untuk berenang. Terlihat dari antusiasme mereka saat Teh Terra mengajak kami semua untuk naik ke lantai atas di mana Swimming Pool berada. Pada lantai ini ga hanya tersedia swimming pool sih, ada juga rumah kayu, di mana anak-anak bisa bermain di dalamnya, atau sekedar ngadem menghindari sengatan cahaya terik sang mentari.

Begitu melihat kolam renang yang secantik ini, jangan anak-anak langsung nyemplung. Aku sendiri sebenarnya pengen juga nyemplung, tapi ga bawa baju renang, selain itu juga panasnya itu, lho! Jadilah aku dan teman-teman duduk manis di kursi-kursi santai yang tersedia di sisi kolam renangnya. 😊


Selain swimming pool sendiri, aku melihat ada gym center juga deh di hotel ini. Selain itu, anak-anak juga bisa bermain dengan kelinci yang tak jauh kandangnya dari kolam renang. Jadi, menurutku, Hotel berbintang ini juga didedikasikan untuk tempat berlibur bersama keluarga sih, karena memang terlihat sangat children friendly. Jadi, walau pun ga staycation atau menginap di sini, Grand Tjokro Hotel Bandung juga terbuka banget lho untuk yang hanya ingin berenang, berolah raga, bersantai di cafe, cooking class, atau pertemuan bisnis, dan berbagai keperluan sejenisnya. Jadi ga harus menginap! Kalo mau menginap? Ya jelas akan lebih asyik, donk, ah! πŸ˜€

Tertarik berkunjung ke hotel kece ini?
Yuk, hubungi langsung e-direct booking di www.grandtjokro.com, dan dapatkan berbagai keuntungan yang sering mereka tawarkan. Tak mustahil jika kamu akan dapatkan ekstra diskon mulai dari 20% hingga 60%dengan memasukkan kode promo yang sudah diberikan, lho! Bayarnya juga bisa nanti, pas kamu check in. Asyik kan?

Oya, kejutan lainnya untuk yang jadi member, bisa diperoleh melalui aplikasi LINE @grandtjokrohotel ya! Check deh!

Informasi lanjutan? Bisa banget kontak ke sini:


Grand Tjokro Bandung

Jl. Cihampelas No. 211-217 Bandung 40131
www.grandtjokro.com/bandung
T  : +62 22 8202 1220
F : +62 22 8202 1213
E : reservation.bandung@grandtjokro.com

Pengalaman Seru di Grand Tjokro Hotel Bandung,
Al, Bandung, 1 October 2017
Read More

Melebur Bersama Alam di HAU Citumang, Seru Banget!

/ / 12 Comments
Lokasi Wisata Citumang
Sebuah staycation yang seindah negeri dongeng
Aku masih di Aceh, ketika suatu malam Bang Aswi ngewhatsapp, meminta kepastian. Bukan, bukan kepastian untuk menerima cintanya menggantikannya pada sebuah event, sih, melainkan kepastian untuk jadi tidak-nya aku bergabung pada event ngetrip bareng travel blogger dari Bogor, Jakarta, Purwakarta, Bandung, Sukabumi, Garut, Tegal, Semarang dan Jogja untuk having fun di lokasi wisata Citumang. Trip seru yang dilaksanakan pada 13 - 15 September ini dikomandoi oleh Bang Aswi, sehingga beberapa hari menjelang hari H, si abang sudah mulai kontak-kontak calon peserta terpilih untuk meminta konfirmasi, dan membentuk grup di whatsapp untuk berkoordinasi.

Dan? Dan aku langsung mengiyakan, donk! Traveling and staycation gitu, lho! Siapa yang ga mupeng? 

Emang ga lelah apa, Al? Baru balik dari Aceh, besoknya langsung pergi lagi? 

Ya, namanya jalan-jalan, staycation pula, di sebuah homestay di Pangandaran yang kabarnya punya spot yang kece banget, tak hanya untuk pepotoan, tapi juga untuk bersenang-senang melebur bersama alam. Sudah pasti rasa lelah itu akan menyingkir dengan serta merta, donk! 
I am happy!

Maka, setelah mengiyakan kembali, aku pun langsung minta ijin ke Ayah Ibu, Intan, dan juga si kekasih hati. Yes! Alhamdulillah ya Allah, Engkau beri aku orang-orang terkasih yang begitu paham bahwa daku sedang butuh picnic banget! πŸ˜ Thanks dearest Darlings!
Container apik

Area Wisata Citumang

Area wisata ini terletak di Desa Bojong, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Berjarak kurang lebih 19 km dari Pangandaran ke arah barat. Atau sekitar 4 km dari jalan raya Pangandaran - Cijulang. Jarak seluruhnya dari kota Ciamis sekitar 95 km.

Kabarnya area wisata Citumang Pangandaran ini memiliki keindahan alam yang sempurna, dengan sungai jernih kebiruan yang mengalir membelah hutan, menembus goa, menggenang membentuk 'telaga' di mana para putri kahyangan sering turun untuk mandi, diselimuti oleh udara sejuk menyegarkan hingga tak berlebihan jika area ini menyerupai negeri dongeng. Kabarnya. πŸ˜€

Makanya aku pun kepo and googling about it. Dan..., langsung jadi tak sabar untuk segera kesini dan melebur bersama alam di HAU Citumangutamanya setelah membaca kisah lawatan staycation-nya Bang Aswi, yang bercerita di blognya tentang keindahan alamnya, serta keseruan bermain air, berbody rafting dan bercanda dengan alam Jawa Barat yang satu ini. Menginap di sebuah peti kemas yang telah disulap menjadi kamar yang nyaman berstandard hotel kelas international, body rafting, tracking, feet therapy by the fishes (terapi kaki oleh ikan Nilam) WOW! ASELI bikin MUPENG, euy!

How to Get There.

Mencapai HAU Citumang dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu dengan moda transportasi Kereta Api maupun kendaraan pribadi.

1. Menggunakan Kereta Api

Starting station-nya bisa dimulai dari tempat kita berasal dan turun di stasiun Banjar. Harga tiket kereta juga terjangkau banget, lho! Cukup dengan membayar IDR. 67 ribu untuk kelas ekonomi. Untuk starting point dari Bandung (Stasiun Kiara Condong), butuh 4 jam untuk mencapai Stasiun Banjar. Sesampainya di Stasiun Banjar, perjalanan mencapai HAU Citumang dilanjutkan dengan mobil charter. *Biaya sekitar IDR. 500.000,- sesuai dengan hasil negosiasi dengan pak supirnya, sih.

Atau bisa juga minta jemput (arrangement by) HAU Citumang, tentu dengan biaya yang telah disepakati bersama.

2. Menggunakan Kendaraan Pribadi.

Jika ingin menggunakan kendaraan pribadi, bisa juga sih. Tapi mungkin kudu pake supir serap juga biar ga kelelahan. πŸ˜€ Arahnya kemana? Ya ke Citumang, lah! 

Tujukan kendaraan ke Pangandaran. Dari Pangandaran ambil jalan ke arah Green Canyon atau Batu Karas. Setelah jalan 19-20 km nanti ada plang HAU Citumang di sebelah kanan, dengan patokan warung minimarket yang berwarna biru.

Dari Bandung/Jakarta, menuju Pangandaran bisa menggunakan rute Jakarta-Bandung-Tasikmalaya-Ciamis-Banjar-Pangandaran dengan lama perjalanan selama 6 jam dari Bandung dan 9 jam dari Jakarta. Dari arah Jawa Tengah atau timur bisa menuju arah Cilacap dan saat sampai pertigaan sebelum Banjar, bisa ambil arah ke arah kiri menuju Pangandaran.

Cara paling aman agar ga nyasar sih, cukup dengan mengarahkan GPS ke lokasi, etapi, terkadang menuju ke sana itu ada daerah yang masih poor signal sih. Jadi ada baiknya juga untuk tanya-tanya penduduk sekitar biar ga buang waktu ya. πŸ˜

The Trip Started!



Sesuai dengan kesepakatan, kami semua memilih moda transportasi kereta api dengan meeting point-nya adalah di Stasiun Banjar. Jadi, baik teman-teman yang dari Bogor, Jakarta, dan wilayah lainnya akan berkumpul di Stasiun Banjar untuk kemudian dijemput oleh panitia di meeting point pada pukul 7 malam, untuk selanjutnya menuju HAU Citumang dengan mengendarai sebuah minibus (elf) dan sebuah Toyota Avanza. Untuk kami yang dari Bandung sendiri, titik keberangkatan dimulai dari Stasiun Kiara Condong, dengan kereta Serayu sekitar pukul 13.10 siang dan masuk ke Stasiun Banjar pada pukul 17.08 sore harinya. Harga tiket menuju ke stasiun ini juga terjangkau banget, lho! Hanya 67 ribu rupiah. Perjalanan dari Bandung ke Banjar sendiri membutuhkan waktu tempuh sekitar 4 jam.

Pertemuan seru, asyiknya KopDar setelah sekian lama hanya bercengkerama di dunia maya pun membahana di Stasiun Banjar, begitu para peserta tiba! Cipika-cipiki berlangsung meriah plus foto-foto sebelum kedua mobil yang disediakan panitia meluncur membawa kami ke HAU Citumang.
lokasi wisata Citumang
Serunya KopDar dan ngumpul serta ngetrip bareng! Foto dulu atuh lah
sambil menunggu jemputan di Stasiun Banjar.
HAU Citumang, apa sih itu?

Pasti banyak yang kepo. Apaan sih itu HAU Citumang? Dari tadi kok nyebutin HAU Citumang melulu? Tempat apa itu, Al?
Oke..., oke. Aku jelasin ya!

HAU adalah singkatan dari How Are You. Jadi HAU Citumang adalah How Are You Citumang. Merupakan sebuah lodges/tempat menginap berkonsep eco turism, yang unik dan menarik banget! Uniknya adalah karena kamar-kamar maupun ruangan yang ada di sini terbuat dari peti kemas. Eits, bukan sembarang peti kemas, lho, melainkan peti kemas alias kontainer yang telah di-sim salabim menjadi kamar yang nyaman dan berkelas!

Penggunaan kata How Are You sendiri, menurut Pak Hendra, sang pemilik, adalah untuk menggambarkan bahwa sesungguhnya masyarakat Indonesia, khususnya Citumang adalah masyarakat yang ramah dan hangat dalam menyambut para tamunya (wisatawan/pengunjung). Menyambut para tamu dengan sapaan peduli dan santun.

Selain itu, HAU juga diartikan sebagai hawu (bahasa Sunda untuk tungku), sehingga penginapan ini diharapkan akan menjadi tempat yang hangat dan menyenangkan bagi para tamu yang berkunjung.

PETI KEMAS yang disulap!

Kamar dari Kontainer
Warna warni ceria menghias kontainer yang telah disulap menjadi kamar. Indah, unik dan memberi sensasi tersendiri, deh!
HAU Citumang mengusung konse"blend with nature" yang dikemas apik dan unik. Bayangkan, selain letaknya yang memang di alam raya, bersebelahan dengan hutan dan sungai, penginapan ini juga menyulap PETI KEMAS alias CONTAINER menjadi kamar, front office, restaurant, dan berbagai ruangan lainnya. Pasti pada penasaran kan berapa banyak pohon yang harus ditebang demi mendirikan kontainer-kontainer ini? Pasti pada penasaran kan gimana membawa kotak besi segede gaban itu di atas jalan pedesaan begitu? Apa ga merusak jalanan rakyat? Pasti pada mupeng kan gimana sensasinya menginap di dalam sebuah kontainer? Pasti pertanyaan-pertanyaan itu hinggap di kepala kan? Sama! 

Tadinya aku ngebayangin bahwa jalan desa yang kecil itu rusak oleh beban truk gede yang lalu lalang mengantar kontainer-kontainer itu. Tadinya aku ngebayangin bahwa banyak pohon yang ditebang demi mengatur jarak dan posisi kontainer demi kontainer di area HAU Citumang ini. 

Ealah, Sobs! Ternyata enggak, lho! Pak Hendra bercerita bahwa Kontainer itu sendiri dirakit di lokasi. Jadi dibawa ke lokasi dalam bentuk pilah-pilah (lempengan), sehingga tidak membutuhkan truk yang segede gaban untuk mengangkut pilah-pilah itu ke lokasi. 

Untuk posisi kontainer sendiri, Pak Hendra, memastikan bahwa konsep eco turism diaplikasi dalam setiap langkah project plan. Penebangan pohon dihindari sedapat mungkin, bahkan pohon demi pohon ditanam untuk menambah sejuknya udara serta menghasilkan oksigen yang lebih banyak. Wah, keren  ya?

Tadinya aku ngebayangin bahwa kamar dari peti kemas ini pastilah panas! Sumpek. Wong bahannya dari metal kan?

Etapi! Ternyata, pemandangan yang tersaji di depan mata justru bikin melongo. Jejeran peti kemasnya apik buanget!   

Fasilitas HAU Citumang.

Room

Daleman kontainernya memang wow! Terdiri dari sebuah tempat tidur empuk ukuran untuk dua orang, plus 1 tempat tidur yang sama empuknya untuk kapasitas satu orang. Jadi satu kontainer tuh bisa untuk tigaan. TV kabel terpasang kokoh di dinding kontainer, siap memanjakan kamu yang insomnia. Haha. AC ready buat ngademin kita jika kepanasan. Kamar mandinya juga nyaman banget. Air panas juga siap sedia jika kita tak kuat mandi dengan air dingin. Wow!

Area Wisata Citumang

Melipir sejenak ke HAU Citumang ini emang cocok banget bagi kita yang ingin melarikan diri sejenak dari rutinitas harian yang penuh dengan peluh, macet, polusi dan berbagai penyumbang stress lainnya, maka melipir ke HAU Citumang adalah langkah paling tepat dalam me-recharge energi dan menyegarkan kembali pikiran kita, lho!

Merasakan sensasi menginap di dalam 'kotak' CONTAINER-nya, yang unik dan apik, nyaman dan menjanjikan ketenangan. Diiringi suara gemericik air sungai yang mengalir di bawah CONTAINER, sungguh menjadi musik alam pengantar tidur, setelah terlebih dahulu bercengkerama dengan para sahabat di ruang terbuka yang disediakan untuk bersantai, diiringi sejuknya alam pedesaan yang asri.


Layaknya hotel berbintang, HAU Citumang juga menyediakan handuk, air mineral, dan aminities yang cukup lengkap. Oya, untuk yang butuh hairdryer, boleh minjem langsung ke receptionist ya!

Makanan/Restoran

HAU Citumang
Walau agak jauh dan masuk ke dalam, mencari makanan atau jajanan tidaklah terlalu sulit di HAU Citumang ini, kok. Selain warung-warung penduduk sekitar, HAU sendiri juga memiliki restoran yang letaknya persis diatas pinggir sungai. Jadi kita bisa duduk manis menikmati makanan yang kita pesan, sembari melayangkan tatapan ke aliran sungai bening yang berada di bawah sana.

HAU CItumang
Kapan lagi staycation bareng, having fun bersama teman2 blogger ini?
Thanks HAU Citumang!

Untuk urusan menu makanan, di HAU Citumang ini memiliki beberapa menu yang mengangkat cita rasa lokal seperti nasi cikur, ayam goreng kampung dan masih banyak lagi yang bisa langsung dipesan di restoran tersebut. Rasanya juga enak dan sangat tasty, gak kalah sama makanan di kota!

Ruang Terbuka untuk Bersantai.

Ingin menikmati suasana lain di luar kamar? Tenang. Kita bisa melipir untuk duduk-duduk di ruang terbukanya, yang diapit cantik oleh beberapa kontainer. Bersantai di sini tuh enak banget, lho! Pepohonan besar yang menaunginya, sungguh memberikan hembusan angin segar hingga melenakan, terlebih jika kita menggunakan bean bag untuk leyeh-leyeh. Hm, enak banget deh! 
Photo credit to: Atanasia Rian
Selfie Spot dan Jeprat Jepret

telaga bening citumang
Siapa yang tak mupeng?
Yes! HAU Citumang tuh tau banget cara memanjakan para tamunya. Berbagai Selfie Spot, mulai dari ayunan yang digantungkan di pohon, jembatan berwarna-warni, view point dari atas yang berbentuk perahu, dan juga ada lokasi foto di sekitar bendungan yang disediakan floating-floating dengan berbagai bentuk, ada bentuk bebek, perahu, dan juga donat-donatan yang bisa dijadikan foto ala- ala, sungguh bikin para tamu termanjakan sempurna. Terpenuhi hasrat selfie dan keinginan berpotoan. 

Sebagai catatan, lokasi selfie spot ini hanya boleh dikunjungi oleh tamu HAU Citumang, artinya pengunjung dari luar tidak diperbolehkan masuk, kecuali membayar tiket masuk. 

Melebur bersama alam yang asri ini, siapa yang tak hendak? πŸ˜€

Terkadang kita memang perlu menyendiri, walo untuk selfie, haha
Spot kece untuk pepotoan ini keren ya?

Bersama para putri, bidadari era digital. Haha

Room Rate and How to Reserve

10 Kontainer Available
Weekday: IDR. 750.000,- per night
Weekend: IDR. 1.000.000,- per night
*breakfast included for 3 persons (sudah termasuk breakfast untuk 3 orang)
Jam check in pukul 2pm dan check out 12pm.

Reservation/Pemesanan


Untuk reservasi menginap di HAU CITUMANG, bisa booking melalui telepon 0813-2012-0999 (ERY) atau bisa booking juga melalui Traveloka.

Bisa Ngapain Aja di HAU Citumang?

Nah, ini yang paling penting! Tujuan kita melipir ke Citumang pastinya untuk having fun dan relaxing kan? Dan ber-outbond ria di area wisata Citumang ini emang bikin relax and happy banget, lho! Apalagi dengan menginap di HAU Citumang, dijamin deh hepinya akan meningkat drastis. Soalnya selain tempatnya emang nyaman banget, juga kita tinggal melangkah aja tuh ke sebelah untuk aktivitas tracking, terapi ikan maupun body rafting. Terapi ikan? Body Rafting? 

Iyaaa! Di sebelah, tinggal jalan aja, kok! Nantikan updateku tentang kekocakan terapi ikan (having feet therapy by Nilam fishes) maupun keseruan ber-body rafting kami pada artikel berikutnya, ya!

See you soon, Mantemans tersayang!

Catatan perjalanan dan staycation di HAU Citumang,
Al, Bandung, 23 September 2017


Read More