Dear Readers,

Welcome to my pages ... Hope that you all are in excellent health dan full stamina yaa....

Hidup akan terasa lebih indah jika kita saling berbagi, benarkan ya? so... let's share the info dan jadikan pembelajaran dalam meningkatkan nilai-nilai kehidupan kearah yang lebih baik.

Trims lho sudah berkunjung, jangan lupa tinggalkan komen ya, Have a great life!

Sabtu, 02 Juni 2012

Laksamana Malahayati, Kartini Lain sebelum Kartini


gambar dari Oom Google

Judul yang unik ya sobs? Dan apa yang ada dipikiran sobats membacanya?
Ok, ga usah disebutkan deh jika harus mengerutkan kening, kan aku ga ingin memberi beban bagi para sahabat tercinta…. J
Ide postingan kali ini terbersit akibat maraknya postingan bertemakan Kartini, sang pejuang emansipasi. Dan tentu sobats semua pada sepakat donk bahwa putri bangsawan yang satu ini memang layak mendapat julukan sebagai tokoh/pejuang emansipasi wanita toh?
Yang kurang sepakat, ayo sini berdampingan denganku yuk.. J
Lho Al, artinya kamu ga setuju donk bahwa RA Kartini itu adalah pejuang kesetaraan gender? Yang memperjuangkan emansipasi wanita hingga kini kaum wanita bisa berkiprah setara dengan para laki-laki? Yang membuat kamu bisa menjadi pekerja tangguh di bidang kemanusiaan?
Nope. Aku terpaksa harus melakukan dua gerakan. Mengangguk dan menggeleng. Mengangguk, artinya aku setuju dengan syarat, bahwa RA Kartini hanyalah salah satu tokoh emansipasi wanita. Dan menggeleng, karena sesungguhnya negeri ini menyimpan puluhan atau malah ratusan tokoh emansipasi wanita jauuuuuh sebelum Raden Ajeng ini lahir.
Yaa, bicara tentang perempuan hebat, sesungguhnya negeri ini memang memiliki banyak perempuan hebat lainnya selain ibu kita Kartini yang agung namanya itu sobs. Misalnya nih…. Pernahkah sobats mendengar tentang Laksamana Malahayati? Opu Daeng Risadju dan tokoh perempuan Indonesia lainnya?

See? Gelengan kepala sobats menunjukkan bahwa hanya RA Kartini lah yang paling terkenal. yang paling diingat jasa perjuangannya, memiliki buku Habis Gelap terbitlah Terangnya yang diterbitkan berisi kumpulan surat-surat korespondensinya, dan bahkan punya lagu khusus yang diciptakan untuknya, dan sering menjadi lagu wajib di sekolah-sekolah dasar (dulu sih dimasa aku sekolah, ga tau deh kalo sekarang ini sobs). Namanya begitu popular karena semua masyarakat diajarkan untuk mengetahui dan mengenalnya.
Lalu siapakah Laksamana Malahayati? Mengapa kamu ingin menuliskannya disini Al?
Well sobs, Beliau adalah salah satu tokoh idola yang paling aku kagumi …..
gambar dari Oom Google
Laksamana Malahayati adalah seorang perempuan  yang diprediksi hidup antara akhir abad XV dan awal abad XVI, yang untuknya tidak ada lagu pujian, pahlawan yang tidak pernah diungkit sejarahnya, petarung garis depan, pemimpin laskar Inong Balee yang disegani lawan maupun kawan, diplomat ulung  dan Laksamana perempuan pertama di dunia.
Perempuan ini adalah perempuan Aceh keturunan darah biru yang kental (masih keturunan dekat kesultanan Aceh Darussalam). Baik ayah maupun kakek perempuan ini merupakan laksamana angkatan laut, jadi tak heran jika jiwa bahari sang leluhur mengalir kental dan memberi pengaruh kuat pada kepribadian perempuan cantik nan tegas bernama lengkap Keumalahayati ini. Cita-cita yang terpatri tak tergoyahkan di sanubarinya adalah menjadi pelaut yang gagah berani seperti sang ayah dan kakek tercinta.
Pada masa Malahayati masih remaja, Kerajaan Aceh Darussalam telah memiliki Akademi Militer yang bernama Mahad Baitul Makdis, yang terdiri dari jurusan Angkatan Darat dan Laut, dengan para instrukturnya sebagian berasal dari Turkey. Selaku anak seorang Panglima Angkatan Laut, Malahayati mendapat kebebasan untuk memilih pendidikan yang ia inginkan. Maka selesai menamatkan pendidikan agama di Meunasah, Rangkang dan Dayah, Malahayati pun mendaftarkan diri dalam penerimaan calon taruna di Akademi Militer Mahad Baitul Makdis. Dan berkat kecerdasan dan ketangkasannya, perempuan tangguh inipun diterima sebagai siswa taruna akademi militer tersebut.
Perempuan bangsawan ini mengukir beragam prestasi dalam masa pendidikan militernya. Pergaulannya yang supel, sikapnya yang ramah tapi tegas, membuat dia sangat disukai, disegani dan dikagumi oleh para taruna lainnya, baik yang seangkatan maupun yang lebih tinggi darinya. Bahkan tak sedikit yang menjadi jatuh hati padanya, namun tak mendapat balasan karena sang primadona ingin focus pada pendidikannya terlebih dahulu.
Sebagai taruna yang berprestasi, Malahayati berhak untuk menentukan sendiri jurusan yang diminatinya, dan pilihannya sudah pasti kearah bahari yaitu jurusan Angkatan Laut. Mulailah dia melahap ilmu-imu khusus yang diberikan oleh para instrukturnya dengan cepat dan tanggap, sampai pada suatu ketika, perempuan cantik ini berkenalan dengan seorang calon perwira angkatan laut, yang lebih senior dari dirinya. Perkenalan ini kemudian berlanjut kearah bertumbuhnya kasih sayang hingga jalinan asmara. Keduanya pun sepakat untuk melangkah ke pelaminan begitu mereka menamatkan pendidikan masing-masing.
Janjipun ditunai begitu mereka selesai study. Menjadi sepasang suami istri yang penuh kasih dan cinta. Bersiap melangkah, merajut cinta kasih sambil berjuang mempertahankan Aceh Darussalam yang damai sejahtera, dari serangan penjajah Portugis. Dan sejarahpun mencatat bahwa dua sejoli ini menjadi Perwira Tinggi Angkatan Laut Aceh  yang gagah berani dan perkasa, yang berjuang pantang menyerah dalam setiap pertempuran melawan armada penjajah. 
Komandan Protokol Istana
Sejarah juga mencatat bahwa perempuan jebolan Akademi Militer Baitul Makdis ini dinobatkan menjadi Komandan Protokol Istana karena prestasi-prestasinya yang menonjol. Kehormatan ini diperolehnya dari Sultan Alaiddin Riayat Syah Al Mukammil (1589 – 1604).
Jabatan terhormat ini tentu mengemban tanggung jawab yang sangat besar, selain menjadi orang kepercayaan Sultan, beliau juga harus menguasai soal etika dan keprotokolan sebagaimana lazimnya berlaku di setiap istana kerajaan manapun di dunia. Sejarah mencatat bahwa seorang perempuan lain di lingkungan kesultanan juga mendapat kehormatan serupa, yaitu Cut Limpah yang diangkat menjadi Komandan Intelijen Istana. (gehermraad)(Rusdi Sufi, 1994;31).

Wow!!! See? bahkan jauuuuh sebelum ibu Kartini memperjuangkan emansipasi, negeri ini telah memiliki perempuan-perempuan tangguh yang kiprahnya tak kalah dengan kaum laki-laki. Amazing!

Komandan Laskar Inong Balee

Mungkin banyak dari sobats yang belum tahu persis arti dari Inong Balee? Ini adalah bahasa Aceh untuk sebutan Janda sobs. Yup, jadi Laskar Inong Balee adalah Laskar para janda.

Kisah kepahlawanan Malahayati dimulai ketika terjadi pertempuran laut antar armada Portugis versus armada Kerajaan Aceh yang dipimpin langsung oleh Sultan Alaidin Riayat Syah Al Mukammil dibantu oleh dua laksamana. Pertempuran dasyat yang dimenangkan oleh armada Aceh itu terjadi di Teluk Haru, berhasil telak menghancurkan pasukan Portugis. Namun tak urung, kemenangan ini harus ditebus dengan kehilangan seorang laksamananya yaitu suami dari Malahayati, dan 1000 prajuritnya yang gugur mati syahid.

Kemenangan armada Aceh ini tentu saja disambut penuh sukacita oleh rakyat Aceh termasuk juga Malahayati. Namun kehilangan suami yang mati syahid ditangan penjajah, tak urung menimbulkan dendam di hatinya untuk menuntut balas.

Untuk itu, menghadaplah dia kepada sang Sultan, mengajukan permohonan untuk membentuk armada Aceh yang prajurit-prajuritnya semua wanita-wanita yang telah ditinggal suami (janda), yang mati syahid dalam pertempuran di teluk Haru. Sultan tak ragu untuk segera mengabulkan permohonan Perwira Tangguh lulusan Akademi Militer Baitul Makdis ini.
Maka ditugaskanlah Malahayati menjadi Panglima Armada dan diangkat menjadi Laksamana (Admiral). Saat itu belum pernah ada admiral wanita lho di dunia, sehingga dunia pun mencatat bahwa Laksamana perempuan pertama di dunia adalah Malahayati, asal kerajaan Aceh Darussalam. Armada yang baru dibentuk itu diberi nama armada Inong Balee dengan mengambil Teluk Krueng Raya sebagai pangkalannya. Di sekitar teluk bernama lengkap Teluk Lamreh Krueng Raya inilah sang laksamana bersama pasukannya membangun benteng Inong Balee yang letaknya di perbukitan yang tingginya sekitar 100 meter dari permukaan laut.
Tembok yang menghadap laut lebarnya 3 meter dengan lubang-lubang meriam yang moncongnya mengarah ke pintu teluk. Benteng Kuta Inong Balee (Benteng Wanita Janda) tersebut hingga sekarang masih dapat disaksikan di Teluk Krueng Raya, dekat Pelabuhan Malahayati. Kekuatan armada ini saat dibentuk berkekuatan 1000 orang janda, namun kemudian diperbesar lagi oleh sang laksamana menjadi 2000 orang, dimana tambahan personil tidak lagi mengkhususkan pada janda, namun juga terbuka bagi para gadis yang ingin menjadi pejuang.
Setelah memangku jabatan sebagai Laksamana, Malahayati mengkoordinir sejumlah Pasukan Laut, mengawasi pelabuhan-pelabuhan yang berada di bawah Syahbandar dan juga kapal-kapal jenis galay milik Kerajaan Aceh.
John Davis, seorang berkebangsaan Inggris yang menjadi nahkoda sebuah kapal Belanda yang berkunjung ke kerajaan Aceh pada masa Malahayati menjadi Laksamana, menyebutkan bahwa Kerajaan Aceh pada masa itu memiliki perlengkapan armada laut yang terdiri dari 100 buah kapal (galey), diantaranya yang berkapasitas muatan sampai 400-500 penumpang. Yang menjadi pemimpin pasukan adalah seorang wanita berpangkat Laksamana (Admiral). 
Pada awal abad XVII, kerajaan Aceh telah memiliki angkatan perang yang tangguh. Kekuatannya yang terpenting adalah kapal-kapal galey yang dimiliki angkatan lautnya, juga angkatan darat Aceh dengan pasukan gajahnya.

Peristiwa Cornelis de Houtman
Dua buah kapal dagang, bernama De Leeuw dan De Leewin, yang dilengkapi persentaan lengkap bak kapal perang milik Belanda, berlabuh di Bandar Aceh Darussalam. Kedua kapal ini masing-masing dipimpin oleh dua bersaudara bernama Cornelis de Houtman dan Frederic de Houtman.
Pada awalnya kedua kapal ini mendapat sambutan baik dari pihak Aceh, karena darinya diharapkan akan dapat dibangun kerjasama perdagangan yang saling menguntungkan. Namun dalam perkembangannya, mendengar tingkah laku dan tindakan buruk yang pernah diukir de Houtman di Banten, ditambah adanya hasutan/peringatan dari seorang penerjemah Sultan, yang berkebangsaan Portugis,  membuat sang sultan menjadi tidak senang dan khawatir dengan kehadiran Belanda, lalu  memerintahkan untuk bersiaga bahkan kemudian pertempuran sengit harus disegerakan. terjadi di atas kapal Belanda tersebut, pada tanggal 11 September 1599….
Laksamana Malahayati diperintahkan untuk memimpin penyerangan. Tatapan tajam bola matanya seakan bara api, yang ingin membumi hanguskan para khaphe arogan yang ingin mengacaukan negeri Aceh Darussalam yang damai.  Tekad bulatnya semakin menggebu. Mati syahid atau Belanda luluh lantak. Semangat juangnya menjiwai pasukannya yang terdiri dari ratusan inong balee, dan kala bilah rencong itu dicabut dari sisi pinggangnya, disertai ucapan Bismillah, maka perang dasyatpun pecah.  Perjuangan para Inong Balee tak sia-sia, Belanda kalah telak dan pimpinan legendaris yang bengis itu pun tewas di ujung rencong sakti milik Malahayati, melalui pertempuran satu lawan satu di atas geladak kapal tersebut. Banyak anak buah de Houtman ikut tewas dihunjam rencong para inong balee, sementara Federick de Houtman di tangkap dan dijebloskan ke dalam penjara (Van Zeggelen, 1935;157; Davis dalam Yacobs, 1984 ; 180; Tiele, 1881 : 146-152). Frederic de Houtman mendekam dalam tahanan kerajaan Aceh selama dua tahun dan selama dalam penjara ia menulis buku berupa kamus Melayu-Belanda yang merupakan kamus Melayu-Belanda pertama dan tertua di Nusantara.

Laksamana Malahayati sebagai Diplomat Ulung
Perempuan yang satu ini bukan hanya berperan sebagai seorang Laksamana dan Panglima Armada Angkatan Laut Kerajaan Aceh, tetapi perempuan tangguh ini juga pernah menjadi Komandan pasukan Wanita Pengawal Istana. Lebih dari itu, Laksamana yang satu ini juga unggul dalam memerankan tugasnya sebagai seorang diplomat kawakan Kerajaan Aceh Darussalam. Tak diragukan lagi bahwa beliau adalah seorang juru runding yang handal. Hal ini telah dibuktikan dengan berbagai pengalaman dalam praktek menghadapi counter part-nya dari Belanda maupun Inggris.
Sebagai seorang militer, Malahayati tegas, berdisiplin tinggi dan tak mengenal kompromi, namun dalam menghadapi perundingan, perempuan yang satu ini mampu bersikap sangat luwes tanpa mengorbankan prinsip, ramah dan benar-benar menampilkan sosok diplomat perempuan Aceh yang berwibawa.
Nah sobs…. Sekarang sudah mengerti kan kenapa diriku begitu mengagumi sosok yang satu ini? Dimataku beliau adalah benar-benar sosok pejuang emansipasi wanita yang sangat hebat. Tokoh emansipasi yang lahir jauuuuh sebelum Raden Ajeng Kartini dilahirkan.


Sejarah telah mencatat, bahwa Aceh pada abad ke 16 telah melahirkan seorang tokoh emansipasi wanita tidak sekedar dalam teori, tapi juga dalam kenyataannya telah membuktikan kemampuan seorang wanita yang menjadi pemimpin dan bahkan juga komandan pasukan. Sebagai seorang Komandan Armada Laut, komandan pasukan Inong Balee dan seorang diplomat handal, Keumalahayati akan terus dikenang dalam sejarah perjuangan bangsa. Ia akan tercatat sebagai tokoh wanita yang patut dibanggakan tidak saja oleh masyarakat Aceh, tetapi juga menjadi kebanggaan seluruh bangsa.

Walau…..

Tak banyak yang mengenalmu, tak ada lagu khusus untukmu, tak ada pujian indah acapkali diberikan padamu, namun…

Engkau adalah salah satu tokoh yang paling aku kagumi! Yang menginspirasiku untuk menjaga semangat juang, dalam memenangkan pertempuran masa kini.

Terima kasih wahai pocut…. I do proud of you!

Sumber gambar:
sumber info:
dan berbagai sumber lainnya.
READ MORE - Laksamana Malahayati, Kartini Lain sebelum Kartini

Rabu, 30 Mei 2012

Perjalanan Balik

Malam ini, kembali menikmati perjalanan malam hari, travel back to Medan. Sesuai harapan, alhamdulillah pekerjaan yang kuemban dapat terlaksana dengan baik dan mencapai output yang diharapkan. Pintu telah terbuka dan anggota team yang tinggal, tinggal memulai pekerjaan. Mudah-mudahan dapat berjalan sesuai harapan, amin.

Sebenarnya masih ingin tinggal beberapa hari lagi di Aceh bagian Tenggara ini, udara dan alamnya masih begitu bersahabat dan menenangkan. Tempat yang indah untuk menyelesaikan novel Selingan Semusim nih, hehe. Tapi apa boleh buat sobs, ada beberapa hal yang in urgency to be completed in Banda, sebelum aku kembali ke Bekasi.

Maka, memutuskan naik taksi lintas kota, berkendara sebuah kijang Innova, adalah hal yang layak dicoba dalam rangka mencapai kota Medan. Lamanya perjalanan tetap masih seperti tadi malam sih, kurang lebih 10 jam perjalanan, hanya kenyamanan dalam perjalanan aja yang berubah.

Jika tadi malam, perjalanan kami tempuh dengan menggunakan sebuah Kijang Innonva berawak seluruh anggota team yang so pasti sudah saling mengenal, serta sang supir rental, maka malam ini diriku bergabung dengan lima penumpang lain yang sama sekali tak ku kenal, termasuk supirnya yang juga asing bagiku, yang belum apa-apa sudah menyalakan sebatang rokok. Gawat!

Alhamdulillah penumpang minibus ini terdiri dari seorang ibu 60 an yang duduk di samping supir, aku yang posisinya tepat di belakang sang ibu, lalu di sampingku seorang anak muda yang cukup sopan dan semoga ga nekad merokok nantinya, lalu di sampingnya adalah seorang gadis belia.

Jadi si anak muda diapit oleh kami berdua, dan semoga anak muda ini tidak nakal sehingga aku tak harus melemparkannya keluar nanti. :D

Lalu di belakang kami duduk dua orang laki-laki plus beberapa tas/barang. Lengkap sudah penumpang kendaraan ini dan kini kami memulai perjalanan. Belum lima belas menit perjalanan, kota teduh nan elok itu telah tertinggal jauh dan kami mulai memasuki jalanan berkelok yang cukup bikin pusing siapa saja yang berbakat/hobby mual-muntah di mobil. Untungnya aku tak termasuk golongan orang-orang yang seperti itu. Hehe.

Hanya saja aku ingin protes pada sang supir yang begitu santai mengepulkan asap rokoknya plus menyalakan music irama dugem. Bener-bener egois nih sopir, ga mikir orang lain apalagi ibu tua yang duduk di sampingnya.
Hampir meluncur kalimat protes dari bibirku saat dia menghidupkan rokok ketiga. Lokomatif apa orang ini ya? Tapi kukunci rapat-rapat mulutku, mengingat peesan seorang teman kemarin malam, agar kami berusaha keras hindari konflik, apalagi dengan orang-orang dari daerah ini, agar kami dapat pulang dengan selamat.

Bahaya, kata temanku itu. Disini banyak hal diluar logika bisa bermain. Magic masih sangat kental dan implementasinya dalam kehidupan masih seperti orang makan nasi. Ibarat kebutuhan. Mengingat itu, kukunci mulutku rapat-2, kubujuk hati untuk bersahabat dengan asap rokok, udara dingin dan musik dugem tak jelas ini.

Semoga dengan menuangkan curhatan ini, hatiku bisa plong dan tak perlu konflik dengan si supir. Semoga dia bisa membawa kami sampai Medan besok pagi dengan selamat tanpa halangan. Amin ya Rabbal Alamin.

Well sobs, postingan ini dirilis via my smartphone, mohon maaf belum sempat bersilaturrahmi ke rumah para sahabat.. Semoga bisa segera BW begitu diriku terkoneksi via laptop besok lusa.
Good nite my dear virtual friends, good rest and nice dream ya sobs..

Fyi, si supir udah menyalakan rokok keempat saat aku mengakhiri postingan ini. Huft. Sabar Al, hindari konflik dan kunci mulut rapat2... :D

Saleum,
Alaika
Powered by Telkomsel BlackBerry®

READ MORE - Perjalanan Balik

Selasa, 29 Mei 2012

Masih tentang menikah

Malam ini masih belum sempat duduk manis memainkan jemari di atas simungil super tipis tercinta, karena diriku sudah harus duduk santun di dalam Kijang Innova sewaan team yang akan membawa kami ke Aceh Tenggara. Hm... Perjalanan yang akan membuat lelah tiada tara mengingat jarak tempuh yang demikian jauh. Berangkat jam 8 malam dan akan tiba ditujuan sekitar jam 6 pagi...
Lelah? PASTI. Jera? NO! this is another adventure for me. I am so exciting.

Berhubung sedang tidak di depan laptop, maka malam ini aku ingin share another ceplas ceplos nya Nayla, si centil kriwil yang adaaaa ada aja.

Tadi siang, di ruang tengah sambil nonton film India... Lho, ga salah tuh Al? Haha... Eits.. Sst.. Sri, mamanya Nayla pecinta film India tuh.. Jadinya aku ikutan cuci mata deh nonton para aktor dan akris yang aduhai dan bohai.. :)

Nayla: 'Mama, Mama ga menikah lagi?'

Aku dan Sri : Ha? Apa maksudnya nih bocah?

Sri: 'lho, mama kan udah menikah sama papa, masak menikah lagi?'

Nayla: 'Menikah lagi lah ma, ayo menikahlah sama papa...'

Mama; 'untuk apa menikah lagi, emang menikah itu apa sih nak?'

Nayla: 'Itu lho ma, supaya perut mama besar, terus kita punya adik!'

Aku dan Sri, ngakak bareng sambil mengacak rambut kriwilnya.

Aku: 'Nak..nak, dasar kibo kriwil!' Kupeluk si centil ini gemes.

Nayla: 'Adek lurus, ga kibo Umi!!'

Aku: 'O iya... Adek lurus rambutnya, umi yang kibo sama mama, ya kan?'

Nayla: 'Iya. Mi, Umi menikah lagi lah sama Oom Reza!'

Lho???

Ada2 saja ini bocah. Mungkin dia sering mendengar pembicaraan bahwa si anu sudah menikah, lalu hamil dan punya anak. Jadi untuk bisa punya anak, orang harus menikah, dan jika ingin punya anak lagi, ya menikah lagi.. Tapi makna menikahnya ini yang masih blur. Namanya juga bocah cilik. 4,5 tahun.
Perasaan Intan ga secerewet ini deh. :)

Powered by Telkomsel BlackBerry®
READ MORE - Masih tentang menikah

Senin, 28 Mei 2012

Obrolan Panas di Meja makan

Setelah menelurkan (jiaaaaah, kayak ayam aja bertelur) postingan panjang tadi malam, maka, kali ini aku ingin share postingan singkat yang baru saja terjadi di meja makan.

Para aktor dan aktrisnya adalah:

1. Alaika (udah pada kenal donk??y hehe

2. Kakek (Ayahnya Sri, sepupuku)

3. Nenek (Ibu barunya Sri, ibu kandung Sri telah meninggal dunia dua tahun lalu)

4. Nayla (putri bungsu Sri, umur 4,5 tahun)

5. Sri (Mama Nayla, alias adik sepupu Alaika).

Nayla adalah balita centil, gesit dan super aktif plus cerewet. Obrolan santai yang sedang mengalir damai berubah panas mengejutkan ketika si centil dengan penuh semangat berceloteh...

Nayla: Kek, kakek udah tua kan?

Kakek: "Iya donk" sambil melanjutkan suapan nasi ke mulutnya..

Nayla: "Nenek juga sudah tua kan.?"

Nenek: "Iya sayang, nenek dan kakek sudah tua, kenapa nak?"

Alaika dan Sri mulai kuatir, curiga tapi penasaran akan kelanjutan kalimat Nayla.

Benar saja sobs!

Nayla: "kalo kakek dan nenek sudah tua, kenapa menikah lagi?"

What?? Oh my God. Refleks kaki Alaika beraksi di bawah meja, mencari kaki Sri, yang tergagap mendengar celoteh Nayla.

Beberapa detik semua orang dewasa di meja makan itu terdiam. Terpana. Lalu kakek segera berucap,

"ayo makan..ayo makan!" Mencoba mengalihkan pembicaraan..

Notis:
Anak-anak jaman sekarang tak lagi seperti jamanku dulu. Anak2 sekarang sangat cerdas dan kuat daya ingatnya. Percakapan yang (mungkin) sering didengarnya di Sinetron, atau obrolan orang dewasa di sekitarnya, akan disave rapi di memory, lalu pada suatu ketika, akan keluar tanpa diduga dan membuat orang-orang dewasa tertegun.

Pembelajaran:
Bijaksanalah dalam berbicara dan berbuat, karena mata malaikat kecil itu melihat, mendengar dan menyimpan rapi di memori mereka untuk diucapakan kembali, untuk juga ditiru...

Anak-anak adalah peniru kelas kakap.

Saleum,
Alaika
Powered by Telkomsel BlackBerry®
READ MORE - Obrolan Panas di Meja makan

Manusia Pertama, Manusia Purba atau Nabi Adam ya?


Sahabats,

Artikel ini sebenarnya sudah lama tersimpan tak berdaya di dalam draft box in my folder. Entah mengapa, selalu ada saja kendala dalam menuntaskan kisah perjalanan wisata ke sebuah tempat legendaris bernama Situs Manusia Purba Sangiran, The Home Land of Java Man ini.
Ga tau deh, kok rasanya hati ini sulit untuk menerima bahwa ada ‘manusia’ lain yang hidup jutaan tahun sebelum Nabi Adam (kan Nabi Adam manusia pertama di muka bumi?). Rasanya sulit aja sih untuk mengakui kebenaran teori evolusi Darwin dan berbagai tulisan yang terpampang di dalam situs keren ini. Kunjungan ini bagiku malah menghasilkan pertentangan batin yang membuatku semakin sulit dalam menuntaskan tulisan yang tadinya ingin mengulas tentang museum megah dengan isi legendaris ini. Haha… Untung ga sakit jiwa ya sobs? Hihi.
Namun sobs, apa yang telah dimulai, tentu harus diselesaikan dengan baik dan bertanggung jawab (Jiaaaah!), terutama demi menentramkan jiwa yang sedikit ‘terganggu’ oleh opini dan perang batin sebagai buah dari perjalanan wisata ini. Terlebih dengan adanya undangan dari seorang teman blogger untuk ikut kompetisi yang sedang diadakan Falcon Pictures dengan tema Manusia pertama berdasarkan Teori Evolusi Darwin atau Nabi Adam , menurut loe ? Maka… Pucuk dicinta ulampun tiba nih sobs. J Saatnya menuntaskan artikel terbengkalai dan ikut lomba, yeayyy!!
Baiklah, in the name of God, Bismillahirrahmanirrahim, mari kita mulai…
Ide awal berkunjung ke museum Sangiran adalah usulan dari mba Google lho sobs. Kala itu, aku dan suami, baru dua hari tiba di Solo, bingung ingin jalan kemana. Inginnya sih berwisata ke tempat yang tidak menghabiskan banyak rupiah…. J,  maklum sobs, sedang penghematan…
Maka…, malam itu, berkunjunglah aku ke rumah mbah Google yang baik hati dan tidak sombong, dan setelah minum secangkir teh jahe hangat dan ngobrol ngalor ngidul, akupun bertanya pada mbah Google.
“Mbah, enaknya di Kota Solo ini main kemana ya mbah? Tapi yang ga membutuhkan biaya banyak lho. Aku kan sedang berhemat nih Mbah….”.
Mbah Google pun manggut-manggut seraya tangannya mengelus janggutnya yang memutih, keningnya sedikit bertaut (lagi mikir serius nih kayaknya…). Lalu Mbah pun menjawab.
“Nduk, kamu pernah dengar tentang museum situs manusia purba Sangiran ga?”
Aku menggeleng.
“Mending kamu kesana deh, situs yang konon memakan biaya sekitar 47 milyar rupiah ini, baru saja diresmikan oleh Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Bidang Kebudayaan, Prof. Dr. Windu Nurayati, PHD, pada tanggal 15 Desember 2011. Banyak sekali informasi menarik tentang kehidupan manusia purba dan lingkungannya dipamerkan disana. Kamu pasti akan senang, dan yang lebih penting lagi nih… sesuai dengan harapanmu lho nduk, murah meriah. Hanya perlu bayar 3000 rupiah per orang untuk pribumi.”
“Oya? Murah banget!!, oke mbah, saya akan kesana deh besok pagi.. terus untuk kesananya naik apa ya mbah?”
“Gampang, sewa mobil aja, pasti dianter sampai tempat deh!”
“Yee si mbah… kan saya udah bilang tadi, saya sedang ngirit. Rental kan mahal mbah. Maunya naik bis… coba tolong mbah terawang dulu donk, bagusnya naik bus apa ke Sangiran itu?”
Maka menerawanglah si mbah Google yang baik hati. Tapi kalo dilihat-lihat nih sobs, mbah Google ganteng juga lho walau rambutnya udah memutih dan jenggotan begitu… (#Ngawur dot com).
“Ok nduk, besok pagi, kamu ke terminal bus Tirtonadiinget lho, terminal Tirtonadi yo… terus naik bus ke arah Purwodadibilang sama kondekturnya kamu akan turun di Kalijambemau ke Museum Sangiran! Ngono yo! Mereka udah pada tau kok Museum Sangiran. Nah, begitu turun di Kalijambe itu, banyak ojek yang sudah menanti untuk mengantarkan para wisatawan ke Museumnya. Agak jauh ke dalam masuknya, tapi masih murah kok, paling ojeknya dikenai biaya 10 ribu perorang. Coba kamu tawar aja 5 ribu perak mau ndak? Gitu ya nduk.”
Wih, emang Mbah Google top banget ih. Keren. Serba tau nih si mbah. Pasti si mbah berteman baik dengan mbah Wikipedia ya mbah? (Hush…). Btw, kok mbah Google ngerti bahasa Jawa juga ya? apa dia juga pakai Google Translate? Atau memang dia yang mengelola Google translate juga? (#Makin ngawur deh! Hehe).
Dan sobs, akhirnya…… dengan mengikuti petunjuk mbah Google, tibalah kami di situs megah nan bersejarah ini. Aku begitu terpesona menatap gapura gagah yang menyambut kehadiran kami. 

Bergetar hati ini membayangkan sebentar lagi aku akan menjelajah tanah yang penuh dengan jejak-jejak manusia purba. Tanah yang merekam aneka kegiatan dan peradaban si manusia purba.  Lihat aja tulisan yang tertera pada gambar di bawah ini: 
Wow! Jadi ga sabar deh ingin segera menjelajah ke dalamnya..
Situs/museum purbakala yang terletak di sekitar 17 kilometer arah Utara Kota Solo, tepatnya di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia  ini dianugerahi sebuah nama mentereng seperti yang tercantum jelas di batu prasasti tepat dibawah patung kepala manusia purba yang terletak pada halaman depan situs. Tulisan mentereng itu bertuliskan ‘Situs Manusia Purba Sangiran, The Home Land of Java Man’. Keren ya Sobs? 

Memang sih, berbicara tentang manusia purba, banyak sudah tertulis di dalam buku sejarah maupun pemberitaan pemberitaan, bahwa tanah Jawa dikenal sebagai salah satu tempat hunian manusia purba. Terbukti dengan ditemukannya fosil-fosil manusia purba di berbagai tempat di Jawa, seperti di Pati Ayam, Sangiran, Ngandong, dan Sambungmacan (Jawa Tengah), serta di daerah Trinil dan Perning (Jawa Timur). Temuan pertama yang dicatat sejarah adalah ekskavasi yang dilakukan Eugene Dubois di Desa Ngandong, Trinil, Mojokerto, Jawa Timur, yang berhasil menemukan fosil Pithecanthropus Erectus pada tahun 1893. Sekitar 40 tahun kemudian, terungkap bahwa selain di Trinil dan Perning, banyak fosil manusia purba dan peralatannya ditemukan di daerah Sangiran, Kabupaten Sragen.


Tapi kok ya hatiku kayaknya ga rela deh dengan sebutan
 “the Home land of Java Man” ini….
Masak sih Manusia Purba ini dianggap leluhur the Java Man? 
Aku aja yang bukan orang Jawa, rasanya keberatan deh sobs. 
Gimana dengan sobats semua? Rela? J


Para arkeolog dalam dan luar negeri terus berupaya melakukan ekskavasi hingga kini terungkap bahwa sekitar 65 persen fosil manusia purba di Indonesia ditemukan di lokasi ekskavasi Sangiran. Jumlah tersebut ternyata mencakup sekitar 50 persen dari populasi takson homo erectus di dunia. Itulah mengapa banyak para peneliti asing tertarik untuk mengunjungi dan meneliti situs terkemuka ini. Menariknya, kawasan kubah Sangiran (Sangiran Dome) yang memiliki luas sekitar 56 kilometer persegi, meliputi tiga kecamatan di Kabupaten Sragen, ternyata merupakan situs yang sangat kaya akan peninggalan kepurbakalaan ini sobs.
Kawasan ini tidak saja menjadi tempat ditemukannya berbagai fosil manusia purba, melainkan juga berbagai fosil makhluk hidup dan tumbuhan yang beraneka, serta lapisan-lapisan tanah yang “terbuka” secara alami yang sangat bermanfaat bagi penelitian-penelitian geologis. Dan untuk melindungi situs purbakala ini, pemerintah menetapkan kawasan Sangiran sebagai cagar budaya ditandai dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 070/0/1977, tanggal 5 Maret 1977.
Antusiasme dunia internasional juga terlihat dengan dikukuhkannya situs Sangiran sebagai salah satu warisan dunia (world heritage) pada tahun 1996. Penetapan ini dilakukan oleh Komite World Heritage UNESCO pada ulang tahun ke-20 organisasi ini di Kota Merida, Meksiko, dengan nomor urut 593 (http://www.lintasdaerah.com).


Memasuki gedung, hatiku dibikin takjub.
Penataannya sungguh bikin kita serasa berada di suatu peradaban lain.
Peradaban masa lampau yang bikin hati gimanaaaa gitu ya?
Terus terang aku salut dengan design interior dan cara mereka memajang displaynya….


Aneka fosil baik dari hewan purba hingga ke ‘manusia purba’ dipajang, lengkap dengan keterangannya, yang dicatat dengan serius oleh beberapa rombongan pelajar yang sedang berkunjung di sana.
Maju Tak Gentar.... Membela Yang Besar... Eh salah! Upps! 
Hiiii.......

Masih banyak lagi gambar, fosil dan patung yang ditata sedemikian rupa untuk menggambarkan kehidupan dan peradaban masa purbakala sobs, dan mengelilingi gedung yang luas ini, jujur, mengingatkan kembali aku pada pelajaran Sejarah yang pernah diajarkan pada kita saat kita duduk di bangku SMP dan SMA..... Salah satu petugas disana malah menginfokan bahwa museum ini menyimpan fosil dan benda-benda kepurbakalaan yang mencapai 13.809 koleksi, sehingga dianggap sebagai museum purbakala terlengkap di Indonesia. Dari ribuan fosil tersebut, sekitar 2.934 fosil disimpan di ruang pameran Museum Sangiran, sementara 10.875 fosil lainnya disimpan di dalam gudang penyimpanan. Wow!!



Siapa coba yang rela punya nenek moyang seperti ini? hehe

Setuju sih jika dikatakan bahwa museum ini sangat bermanfaat untuk mengetahui atau memperdalam pengetahuan kita akan ilmu yang berkaitan dengan teori evolusi, antropologi, arkeologi, geologi serta paleoantroplogi. Sengaja aku mencoret teori evolusi karena rasanya kok teori itu sudah ga sinkron lagi di zaman sekarang ini ya? Bukankah teori evolusi Darwin sendiri telah dipatahkan? Tentang hal ini akan diulas pada bagian akhir aja ya sobs…
Terus terang, mengunjungi museum Sangiran, jelas membuka wawasan kita akan kisah kehidupan dan peradaban masa purbakala, namun  tak urung dan aku yakin sekali, bahwa setiap pengunjung dengan nilai keimanan yang oke, akan diusik dengan pertanyaan-pertanyaaan seperti ini;
Pithecanthropis erectus, Homo Sapiens, Manusia Purba, mereka itu manusia bukan sih? Jika mereka hidup  jutaan tahun yang lalu, berarti  mereka lebih dulu ada donk dibandingkan dengan Nabi Adam yang baru diciptakan sebelum 8000 tahun yang lalu? Jika mereka adalah nenek moyang manusia? Lalu nabi Adam yang tampan dan sempurna (iya donk, kan Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya?) itu siapa? Dan mengapa mereka (manusia purba) begitu buruk rupa? Dan berbagai pertanyaan lainnya yang bertentangan dengan ilmu agama manapun yang pernah ada di dunia ini.
Hal ini juga yang menghantui pikiranku sepanjang malam sekembalinya aku dari kunjungan wisata itu sobs. Maka demi menenangkan hati dan pikiran, kembalilah aku pada mbah Google, yang menerimaku dalam keadaan yang sudah mengantuk. Jelas donk, wong aku berkunjung sudah larut malam jeh. J
Setelah mendengar keluhanku, bahwa aku sangat keberatan dan ga rela jika nenek moyang manusia itu adalah ‘kera besar yang berjalan tegak’ yang kerennya disebut dengan Pithecanthropus Erectus, akhirnya mbah Google memberi beberapa link untuk pencerahan pikiranku.
Hasil baca-baca dari link yang diberikan si mbah menunjukkan bahwa ternyata bukan aku saja yang mengalami pertentangan batin tentang asal usul manusia ini sobs. Bahwa rasanya rancu sekali jika dikatakan bahwa manusia purba adalah nenek moyang manusia. Jika dia nenek moyang manusia, berarti dia Nabi Adam donk? Dan masak buruk sekali rupanya? Nah Loe!! Juga, jelas-jelas dalam Al-Quran dan Alkitab disebutkan bahwa Adam diciptakan sebagai manusia pertama di muka bumi, dilengkapi dengan naluri, akal pikiran dan nalar yang kuat serta bentuk yang sempurna. Nah, manusia purba? Jauuuuh euy!
Bahkan ada yang tegas berpendapat bahwa sebenarnya manusia purba itu tidak pernah ada. Yang ada adalah kebohongan para arkeolog terutama Darwin, yang telah melakukan kebohongan public seperti yang dikisahkan berikut ini;
Pada tahun 1912, Darwin mengclaim telah menemukan sebuah tulang rahang dan fragmen tengkorak di sebuah lubang dekat Piltdown, Inggris. Tulang itu mirip tulang rahang hewan namun gigi dan tengkoraknya seperti milik manusia. Spesimen ini dinamakan Manusia  Piltdown dan diduga berumur 500.000 tahun.
Rekonstruksi terhadap manusia Pildown pun dilakukan dan dipajang di berbagai museum sebagai bukti nyata evolusi manusia. Selama lebih dari 40 tahun sejumlah penafsiran dan gambar dibuat. Banyak artikel ilmiah tentang manusia Piltdown ini, termasuk 500 tesis doctor tentangnya.
Namun pada tahun 1953, hasil pengujian secara menyeluruh terhadap fosil tersebut menunjukkan kepalsuannya. Tengkorak tersebut berasal dari manusia yang hidup beberapa ribu tahun yang lalu, sedangkan tulang rahangnya berasal dari bangkai kera yang baru terkubur beberapa tahun. Gigi-giginya ditambahkan kemudian agar terlihat mirip manusia, lalu persendiannya disumpal. Setelah itu seluruh fosil diwarnai dengan potassium dokromat agar tampak kuno.
(Sumber: Ustz.H.Ahmad Sarwat di website:

Maka patahlah berbagai teori sebelumnya yang mengatakan bahwa manusia masa kini berasal dari manusia purba atau pithecanthropus erectus atau homo sapiens atau apalah namanya itu.

Beberapa pendapat lainnya juga mengarah pada bantahan dan ketidaksetujuan mereka akan pernyataan bahwa manusia purba adalah nenek moyang manusia.

Sebuah informasi dari mbah Wikipedia tentang Adam, juga turut andil dalam memberi pencerahan bagiku sobs, hingga akhirnya aku menemukan seberkas cahaya terang, yang membantuku membuat kesimpulan dari pertentangan batin yang berkecamuk dan menghantui jiwa. Juga untuk menjawab pertanyaan Falcon Pitures tentang Manusia pertama berdasarkan Teori Evolusi Darwin atau Nabi Adam , menurut loe ?

Maka… Menurut aku nih sobs…..


Manusia pertama di muka bumi adalah Nabi Adam sedangkan manusia purba adalah suatu makhluk yang menyerupai manusia, yang berjalan tegak tapi tidak memiliki kecerdasan seperti manusia. Hidupnya jauuuuh sebelum Nabi Adam diciptakan dan diturunkan ke bumi. Archeolog yang menemukannya menamakan manusia purba ini  sebagai manusia kera yang berjalan tegak (pithecanthropus erectus). Harusnya sih disebut sebagai 'makhluk' yang menyerupai manusia yang berjalan tegak ya? :)


Untuk meyakinkan diri, aku merujuk pada beberapa ayat di dalam Al-Quranul Karim berikut;

Surah Al-Baqarah 30), berbunyi ;
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi”. Mereka bertanya (tentang hikmat ketetapan Tuhan itu dengan berkata); “Adakah Engkau (Ya Tuhan kami) hendak menjadikan di bumi itu ORANG yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah (berbunuh-bunuhan) padahal Kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu?”. Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa yang kamu tidak mengetahuinya”.
Kalimat “…… ORANG yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah (berbunuh-bunuhan)….” Menurutku nih sobs…, kalimat ini menggambarkan bahwa para malaikat telah pernah menyaksikan sebuah kehidupan makhluk yang menyerupai ‘orang’ jauh sebelumnya, yang memiliki peradaban rendah, tidak cerdas dan suka berbunuh-bunuhan/bermusuhan, sehingga pertanyaan ini langsung tercetus saat Allah berfirman akan menjadikan manusia (Adam) sebagai khalifah di muka bumi.
Di dalam Al-Quran memang disebutkan tiga jenis makhluk berakal yang diciptakan Allah yaitu manusia, jin dan malaikat. Manusia dan Jin memiliki tujuan penciptaan yang sama, dan oleh karenanya sama-sama memiliki akal yang dinamis dan nafsu, namun hidup pada dimensi yang berbeda. Sedangkan malaikat hanya memiliki akal yang statis dan tidak memiliki nafsu karena tujuan penciptaannya sebagai pesuruh Allah. Nah sobs… tidak tertutup kemungkinankan bahwa ada makhluk ‘berakal’ lain selain ketiga makhluk ini?
Dalam Arkeologi, berdasarkan fosil yang ditemukan, memang ada makhluk lain yang menyerupai manusia, tetapi memiliki karakteristik yang primitive dan tidak berbudaya. Volume otak mereka lebih kecil dari manusia, sehingga kemampuan berbicara mereka sangat terbatas, akibat banyak suara vowel yang tidak mampu mereka bunyikan.
Sebagai contoh, Pithecanthropus Erectus, memiliki volume otak sekitar 900 cc, sementara Homo Sapiens memiliki volume otak di atas 1000 cc (otak kera maksimal sebesar 600 cc).  Maka para ahli menyimpulkan bahwa semenjak 20.000 tahun yang lalu, telah ada sosok makhluk yang memiliki kemampuan akal yang mendekati kemampuan berfikir manusia pada masa sebelum kedatangan Adam.

Nah sobs…, dari uraian di atas, hatiku akan tentram jika mengulang kembali pernyataan berhuruf merah, paragraph di atas, yaitu;
Manusia pertama di muka bumi adalah Nabi Adam sedangkan manusia purba adalah sebuah makhluk yang menyerupai manusia, yang berjalan tegak tapi tidak memiliki kecerdasan seperti manusia. Hidupnya jauuuuh sebelum Nabi Adam diciptakan dan diturunkan ke bumi. Archeolog yang menemukannya menamakan manusia purba ini  sebagai manusia kera yang berjalan tegak (pithecanthropus erectus).

Bagaimana pendapatmu? J

Postingan ini untuk mengikuti Kompetisi Blog Mama Cake’  
yang diselenggarakan oleh 
READ MORE - Manusia Pertama, Manusia Purba atau Nabi Adam ya?

Minggu, 27 Mei 2012

Alaika… dulu, kini dan nanti



Membaca judulnya, kuyakin bahwa sobats semua sudah bisa menebak bahwa artikel ini akan diikutsertakan pada perhelatan akbar yang sedang digelar oleh Mba Noorma, pemilik rumah maya ‘cah kesesi ayutea’ dalam rangka menyambut ulang tahunnya yang ke 25.., duh muda banget masih yaaa??
Yup, tebakan sobats memang bener! you are right sobs! J
Tadinya sih sempat berniat untuk tidak ikutan dalam acara keren ini.., mengingat sudah sering banget rasanya menuliskan artikel bertemakan diri sendiri di masa lalu, masa kini dan masa depan. Takutnya menulisnya lagi malah akan membuat sobats jadi bosan berkunjung karena yang disajikan itu lagi… itu lagi.
Namun niat hati untuk turut menyukseskan perhelatan sang sahabat, ditambah dengan ikrar yang harus ditunaikan, apalagi telah dicolek si pemilik hajatan di keramaian fesbuk dua malam lalu untuk menyetorkan naskah, maka duduk manislah daku di minggu pagi yang mendung kelabu ini, menarikan jemari merangkai kata, menuangkan kisah tentang diriku di masa lalu, kini dan nanti.
Ok sobs, baik… sebelum ngelantur jauh tak tentu arah, mari aku kerucutkan arah lanturanku ke dalam beberapa masa…… J
Masa lalu
Terlahir sebagai anak pertama yang baru beroleh adik saat usiaku memasuki tahun kelima, membuat kehidupan masa balita ku (di kampung) kesepian. Apalagi ibuku yang perfectionist dan sangat menjaga putri cantik nya ini agar tetap bersih dan hygienist, membuat diriku jarang berhasil lolos untuk ikutan bergabung dengan bocah-bocah seusia yang asyik bermain tanah di halaman rumah. Yang bermain pasir atau main boneka-bonekaan di atas pasir atau tanah kering di lapangan tak jauh dari rumah. Selaluu saja ketahuan jika aku sejenak saja menikmati indahnya bermain debu dan pasir yang begitu menjanjikan kebahagiaan itu… huh!
Memulai masa kecil di kampung halaman, nun jauh di salah satu desa di Kabupaten Pidie, Aceh, membuat aku tidak berkesempatan mengenyam pendidikan di Taman Kanak-kanak, karena saat itu Taman Kanak-Kanak belum masuk desa. Jadi pendidikan pertama yang aku peroleh adalah langsung ke Sekolah Dasar, dan itupun sulit banget bagiku untuk menyukai kegiatan yang satu ini. Bersekolah bagiku adalah beban berat! Aku sangat pemalu!! Dua kisah paling malu-maluin dapat sobat baca disini dan disini
Sifat pemalu tingkat dewa itu berhasil juga terkikis secara perlahan, berkat upaya keras ayah bunda, yang mencoba mem-baur-kan aku dalam berbagai kegiatan kantornya, yang melibatkan anak-anak. Atau selalu membawa aku melihat keramaian, memancing keberanianku untuk mencoba ikutan berbaur dalam keramaian itu, berinteraksi dengan para sepupu dan kerabat, dan berbagai usaha lainnya. Sehingga si gadis kecil pemalu itu, lambat laun mampu keluar dari istana putri malunya, dan berani menyapa dunia. J
Memiliki tiga adik yang semuanya laki-laki, juga adalah pendukung perubahan sikap pemalu itu. Begitu mereka bertumbuh menjadi bocah-bocah kreatif yang bisa diajak bermain, mulailah kami menjadi satu team yang solid, yang siap mengalahkan lawan. Si gadis pemalu pun kemudian beranjak menjadi gadis tomboy, yang sempat bikin ibundanya kuatir karena tak pernah sekalipun mau menggunakan pakaian yang feminine. Mau jadi apa putrinya ini?
Pembawaan tomboy dan senang berteman dengan teman laki-laki, terus terbawa hingga aku memasuki perguruan tinggi. Jurusan yang aku pilih, otomatis menempatkan aku sebagai kaum minoritas (dilihat dari sisi gender) yang menyenangkan di kampus. Saat itu, tahun 1989, dari 80 orang mahasiswa baru di jurusanku, hanya ada 11 orang ceweknya…. Sementara 69 personil lainnya adalah kaum cowok. Kebayangkan? 11 cewek ini otomatis menjadi wanita-wanita cantik (ya iyalah, masak ganteng?) yang menyemarakkan ruang kuliah, membangunkan semangat kebersamaan dan keceriaan kaum mayoritas tentunya. J
Kami, sebelas wanita cantik ini pun menjadi sangat disayang oleh kaum mayoritas kami, selalu dibela jika ada cowok dari kampus lain yang mencoba iseng. Yup, bersekolah di Fakultas Teknik itu sangat menyenangkan lho sobs. Para cowok sangat memanjakan dan menyayangi kami, bunga-bunga yang memang jumlahnya sangan minim. Hehe.
Masa laluku yang terhitung sangat indah dan penuh warna cerah, mulai terkontaminasi oleh warna kelabu yang kian meng-abu-abu, sejak benda abstract bernama cinta menghampiri. Ditembak kakak kelas yang tampan dan baik hati, adalah hal yang sangat menggembirakan.. walau sebenarnya aku sendiri ga tau persis apakah aku juga mencintainya. Tapi enak aja sih rasanya punya pacar. Ada rasa bangga gimanaaa gitu…. Hehe. Namun cinta ini bukan hanya butuh perjuangan oleh hatiku untuk menumbuhkan rasa cinta ini untuknya, tapi juga butuh perjuangan lain yang lebih besar, karena orang tuaku sangat tidak setuju aku pacaran, dengan siapapun. "Fokus kuliah wae, ojo neko-neko!" Kata ayahku, tentu saja dalam bahasa Aceh. J
Cinta kami kemudian berjalan indah namun tertatih. Kami berusaha untuk mempertahankan cinta ini karena merasa sudah saling seiya sekata, dan dengan satu tekad, ingin menunjukkan pada ayah bundaku bahwa dia adalah calon yang sangat cocok dan pantas untuk aku. Putri satu-satunya ayah-bundaku.
Namun apa hendak dikata sobs, ternyata cinta yang penuh perjuangan itu harus karam karena nahkoda tak hendak meneruskan pelayaran. Kehendak sang bunda jadi alasan utamanya untuk melempar sauh dan menghentikan perjalanan. Kecewa? PASTI. Terluka? TENTU. Lalu berhentikah kehidupan aku karenanya? TIDAK.
Justru aku bersyukur dengan kenyataan itu, karena terbukti nahkodaku bukan seorang laki2 yang tangguh. Tak sedikitpun aku percaya bahwa alasan utamanya adalah karena titah sang ibunda. Kupercaya bahwa kapalku karam karena nahkoda ingin berpindah haluan.
Lalu? Apa langkahku selanjutnya? Hari pertama dan kedua, kupecahkan tangis didalam bantal dan guling (agar isakannya teredam adanya). Hari ketiga kupaksa hatiku menghadapi kenyataan. Mensugesti diri bahwa cinta ini tak guna ditangisi. Tak hendak kurusak hati ini menangisi seorang laki-laki cemen. Kulatih diri menghadapi kenyataan dan melanjutkan kehidupan. Susah? SANGAT, apalagi kami satu kampus dan sering kuliah bersamaan. Huft. Susah banget sobs saat-saat itu. Sulit meredam kepiluan hati ini, sulit menghalau air mata yang begitu sering ingin meruak.
Tapi keyakinan yang kuat bahwa ‘the show must go on', berkat bantuan Allah, berhasil juga kuhadapi semua prahara dan melanjutkan kehidupan.
Cinta keduaku adalah ayahnya Intan. Terjatuh (buah kali terjatuh??) dengan tidak sengaja. Mengalir dari sebuah persahabatan. Menjelma karena kebersamaan dan rasa kasihan (semoga dia tidak membaca ini, hihi). Terulang kembali sebuah cinta backstreet, dan kembali diriku menjadi pembangkang bahkan akhirnya dicoret dari anggota keluarga dan tidak diperkenankan menggunakan nama Abdullah lagi di belakang namaku karena nekad kawin lari dengannya. (sangat tidak layak untuk ditiru nih sobs!). Perjalanan kisah cinta ini sungguh berliku dan dapat diikuti disini...
Merantau ke Medan bersama suami pilihan, membuatku menghadapi kenyataan baru. Hidup ini tidak gampang ternyata sobs. Jika selama ini aku menjadi anak emas yang tak kurang sesuatu apa, kini aku harus menghadapi kenyataan. Tak ada lagi nasi yang terhidang di atas meja, tak ada lagi pakaian rapi telah tersetrika. Semua harus dikerjakan sendiri. Lebih parah lagi, harus dicari sendiri. Harus kukelola sendiri. Apa yang mau dikelola? Uang saja belum punya…
Teringat kata ayahku, bahwa warisan paling berharga yang akan beliau wariskan kepada kami adalah PENDIDIKAN, bukan materi yang lain. Kini terbukti benar adanya. Warisan ayahku ini, gelar Insinyur Teknik Kimia, membuat sebuah posisi di salah satu perusahaan swasta pun berhasil aku dapatkan, tentu setelah melewati aneka interview dan perjuangan lainnya. Ayah Intan juga berhasil mendapatkan kontrak kerja baru dan kamipun memulai episode hidup prihatin, karena walau berposisi mentereng, jangan sangka gaji besar akan kita dapatkan. Apalagi jika perusahaan itu adalah milik kaum bermata sipit, di kota Medan pula, bisa dibayangkan sendiri betapa mereka meminimalisir gaji pribumi demi meningkatkan profit.  Gajiku saat itu, Maret 1996 masih berada di rate 250 ribu rupiah perbulan. Memang sih, masih dalam lingkup UMP (upah minimum provinsi).
Satu pelajaran yang sangat bernilai yang aku petik dari akademi kehidupan yang aku jalani adalah bahwa factor restu orang tua adalah berbanding lurus dengan factor rezeki. Maka jangan harap pintu rezekimu akan terbuka lebar jika restu orang tua mu belum mengalir. Jikapun rezeki itu ada, mengalir deras, percayalah, dia tak ubahnya bagaikan rezeki harimau, yang deras masuk tapi deras juga keluarnya. Itu yang aku rasakan selama 9 tahun hidup dalam ‘pengasingan’ (terbuang dari keluarga).

Titik Balik (transisi masa lampau ke masa kini)
Sengaja aku menyebut posisi ini sebagai titik balik. Karena di posisi inilah titik balik kehidupanku dimulai.
Doa panjang tiada henti, tiada lelah, yang berkelanjutan aku lantunkan dan pinta pada Ilahi Rabbi akhirnya berbuah manis. Walau harapanku..., bukan dengan cara tragis ini harus aku dapatkan. Namun aku percaya, segala sesuatu pasti akan ada hikmahnya. Doa panjangku agar terbuka kembali pintu hati ayah bunda, dijabah Allah Ilahi Rabbi melalui sebuah bencana dasyat yang melanda kampung halaman.
Gempa besar yang mengguncang Aceh, mengundang gelombang maut bernama cantik, Tsunami, menggulung dan meluluhlantakkan apa saja yang berada di atas bumi Iskandar Muda. Termasuklah daerah tempat tinggal ayah bundaku. Yang Alhamdulillah, walaupun gelombang itu dengan kejam merendam dan menghancurkan sebagian rumah kami, namun Allah masih memberikan umur panjang dan kesehatan bagi ayah bunda dan adikku untuk melanjutkan kehidupan.
Pencarian panjang yang aku mulai di hari kedua tsunami, langsung setelah kakiku menjejak bumi yang telah porak poranda itu, berbuah hasil yang begitu membahagiakan di hari kelima pencarian. Tepat di tanggal 1 Januari 2005, pintu baja keping hati ayah bunda ku terkuak. Subhanallah, Alhamdulillah. Sungguh Engkau Maha Berkehendak ya Allah….
Pelukan hangat ibuku kala mengangkatku bangkit dari sujud di kakinya,  sungguh membuat momen dan rasa bahagia itu abadi bersemayam di lubuk hati ini… Indah, mengharukan dan tak terlupakan. Pelukan welcome back dari ayahanda juga merupakan hadiah terindah di tahun baru 2005 itu. It’s so sweet. Semua akan indah pada waktunya. Aku percaya itu karena aku telah membuktikannya.
Maka, 1 January 2005 tak hanya merupakan tahun baru bagiku, tapi juga adalah titik balik dalam kehidupanku. Titik dimana kehidupanku mulai berjalan indah dan menakjubkan.
Seperti yang aku katakan di atas sobs, aliran rezeki adalah berbanding lurus dengan restu orang tua, maka aku telah membuktikannya bahwa itu benar sekali. Setidaknya itu berjalan sempurna bagi kehidupanku.
Rencana awal kembali ke Aceh adalah untuk menemukan orang tuaku, membantu proses recovery rumah tempat tinggal ayah bunda, eh ternyata berbuntut panjang dan menyenangkan. Sebuah tawaran untuk bekerja di sebuah lembaga kesehatan internasional (Medical NGO) yang kala itu sedang intensif membantu proses tanggap darurat/emergency response terhadap para korban bencana, menghampiriku tanpa disangka-sangka. Sungguh tawaran menarik yang tentu tak mungkin aku lewatkan begitu saja. Berkesempatan untuk turut andil dalam proses penyembuhan/recovery Aceh paska tsunami adalah kesempatan emas untuk menunjukkan baktiku pada pertiwi. Ditambah pula dengan kompensasi gaji ber skala international, sungguh suatu bonus tak terfikirkan sebelumnya. 
Maka mulailah aku menapaki kehidupan yang mulai bersinar terang. Jika siang mentari bersinar cerah, maka malam harinya bintang gemintang serta rembulan setia membagikan cahayanya. Hidupku damai, indah dan 'berduit'. Alhamdulillah. 
Allah Maha Tau apa yang terbaik bagi makhlukNya. Aku yakin sekali akan hal itu. Begitu juga saat aku mencoba mengatasi kemelut yang melanda rumah tanggaku dengan ayahnya Intan... kira-kira dua tahun setelah kami diterima kembali oleh ayah bunda. Kucoba untuk mengkaji ulang secermat mungkin. Menganalisa setepat-tepatnya untuk menemukan solusi terbaik. Namun hasil analisa SWOT yang aku lakukan dengan cermat, membuatku mengambil keputusan. Tak mungkin melanjutkan pelayaran dengan nahkoda yang tak lagi sepaham. Kuputuskan untuk menurunkannya di sebuah pelabuhan dan mulai mengambil alih kemudi. Bahtera ini tak boleh karam, ada penumpang kecil yang butuh garansi untuk sampai dengan selamat di tujuan. Maka kuteruskan pelayaran dengan gagah berani, karena kuyakin sepenuhnya bahwa Ilahi Rabbi senantiasa bersama kami.
The show must go on, dan sekali lagi terbukti bahwa restu ayah bunda adalah berbanding lurus dengan aliran rezeki. Setidaknya bagiku. Bermula dengan Northwest Medical Teams, sebuah medical NGO asal Portland, Oregon yang sedang bantu Aceh paska tsunami, aku terjun menjadi pekerja kemanusiaan, yang bekennya disebut dengan humanitarian worker. Dari seorang chemical engineer yang berkecimpung dalam laboratorium (quality control) aku dilatih untuk bisa membantu proses trauma healing para korban tsunami. Subhanallah. Sungguh ilmu baru yang sangat berharga aku dapatkan, ketika seorang konselor asal Amerika didatangkan untuk mentraining kami, para staf nasional yang akan diperbantukan pada program ini. 
Waktu bergulir dan aku pindah ke lembaga lainnya, karena masa emergency telah selesai dan mulai beralih ke development program. NGO tempatku berkerja selesai masa tugasnya dan bersiap kembali ke Portland. Sungguh suatu keberuntungan yang luar biasa bagiku, berkesempatan untuk bergabung di sebuah lembaga raksasa yang dibentuk oleh Presiden RI, SBY, bernama Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh dan Nias (BRR NAD-Nias), dengan masa tugas 4 tahun. Kesempatan emas ini tentu tak aku sia-siakan. Gaji yang semakin menanjak tentu adalah penyemangat utama dalam menjamin totalitas dan loyalitas pada pekerjaan. J
Komplitnya tugas BRR NAD-Nias, kemudian aku berpindah ke sebuah NGO International yang khusus bergerak di bidang pemberdayaan para penyandang cacat. NGO asal Perancis ini bernama Handicap International, dan kiprahnya sungguh membuka mata dan hatiku. Bahwa betapa selama ini kita telah memandang sebelah mata kepada para penyandang cacat. Subhanallah, beri berkahmu bagi lembaga2 yang masih peduli pada bidang yang satu ini ya Allah. Kebahagiaan tersendiri beroleh kesempatan untuk bergabung di NGO ternama ini. Batinku yang mulai matre, hehehe, ternyata bisa dengan mudah berkompromi, oke-oke saja ketika si bos (yang mewawancaraiku saat itu) mengatakan bahwa mereka tak sanggup membayar gajiku sebanyak yang biasa aku dapatkan di tempat yang lama (BRR NAD Nias). Mereka hanya mampu memberiku kepala 5 saja, adalah sepertiga dari yang biasa aku dapatkan. Apakah aku menerimanya karena tidak ada lowongan lain? Kutanya hatiku, ternyata bukan sobs. Panggilan batin untuk menyelami pekerjaan yang satu ini, yang begitu kuat memanggilku untuk sedikit menyumbangkan sumbangsih ku bagi para penyandang cacat atau kerennya disebut people with disability.
Baru saja mengemban tugas sebagai Project Manager di kantor ini, tawaran lain yang begitu memanggil batin pun menyampiri. Tak dapat kupungkiri, tawaran inipun begitu menggoda. Kapan lagi mau masuk ke lembaga PBB jika tidak saat mereka membuka pintu. Maka dengan berat hati, setelah menimbang berulang-ulang, dan hasilnya tetap itu-itu lagi, akhirnya kulayangkan surat pengunduran diri pada bosku, memohon agar aku diijinkan meninggalkan jabatan yang baru beberapa bulan aku emban.
Pimpinan yang bijaksana itu, seorang Italiano, akhirnya melepas aku dengan berat hati. Namun sejujurnya dia akui, aku telah mengambil langkah yang tepat. Masuk lembaga PBB adalah impian hampir setiap insan pekerja kemanusiaan. Selain gajinya yang begitu ‘wow’ dan ‘wah’, juga akan mendongkrak curriculum vitae kita. Yang mana CV ini adalah modal atau nilai jual kita saat melamar pekerjaan.
Maka kemudian aku beralih ke salah satu badan di Lembaga PBB, dan bergerak di unit khusus bertajuk Tsunami Recovery Waste Management Program (TRWMP). Disinilah aku kemudian, berkecimpung di bidang pengelolaan persampahan, bekerjasama dengan dinas kebersihan beberapa kabupaten dan kota di Aceh dan Nias. Mencoba memberikan peningkatan kapasitas para eksekutif maupun legislative daerah agar lebih aware akan pentingnya pengelolaan sampah yang baik dan benar, demi menggapai masyarakat yang sehat dan cerdas, serta kota/kabupaten yang bersih dan hygienist.
Tak terasa tujuh tahun telah berlalu, bahkan hampir memasuki tahun ke delapan. Akankah aku terus berkecimpung di dunia menyenangkan ini? Jika melihat pemasukan yang ditransfer ke rekening setiap bulan sih, aku akan jawab IYA. AKU INGIN.
Tapi aku memberanikan diri untuk menjawab TIDAK. AKU TIDAK INGIN selamanya menghabiskan waktuku dalam ritme kerja yang begitu dinamis. Tiada henti bahkan bisa dikatakan nonstop. Memang sih income yang diberikan seimbang dengan tenaga dan pemikiran yang kita donasikan. Tapi ADAKALAnya, RUPIAH tak lagi menjadi tolok ukur sebuah kebahagiaan.
Itu yang aku sadari sobs, dan karenanya, aku begitu bahagia saat kontrakku berakhir Februari 2012 yang lalu. Kuyakini batinku bahwa inilah saat yang aku tunggu-tunggu untuk memasuki masa kini dan masa depan.
MASA KINI
Aku menganggap akhir Februari 2012 sebagai masa kini hingga hari ini. Kini aku adalah seorang jobless, alias pengangguran yang sedang mempersiapkan masa depan. Cieee. Pengangguran aja kok bangga yaaa? J
Tak terasa tiga bulan hampir berlalu sejak aku menjadi pengangguran, dan selama ini pula aku begitu menikmati hari-hari kebebasanku. Padahal begitu banyak rencana yang perlu dilaksanakan, namun hati ini kok ya masih malas bergerak ya…. Duh…
Berleha-leha memang sungguh menyenangkan, tapi aku telah memperingatkan hati kecilku untuk segera kembali pada kehidupan normal. Be serious, jangan hanya main-main saja Alaika!
Tapi sobs… tetap aja aku belum bisa focus. Niat hati ingin bikin strategic planning untuk project pribadiku, eh malah jadinya ngeblog begitu internet terkoneksi. Halah!! Piye iki??
CITA-CITA DAN HARAPAN MASA DEPAN
Aku lebih suka menggabungkan kedua tajuk diatas ini menjadi satu. Yuk kita sebut saja dengan istilah KEINGINAN MASA DEPAN.. Nah, jika cita-cita masa kecilku dulu pernah ingin jadi dokter, jelas tidak tercapai toh? tapi pernah juga sih berangan ingin menjadi insinyur, dan begitu ditilik sekarang ini? Yes, I am an engineer lho. Hehe. Berarti cita-citaku tercapai donk. Lalu apakah cukup sampai disitu saja? TENTU TIDAK.
Idealnya sebuah perjalanan kehidupan harus memiliki logi frame (logical frame work) alias kerangka kerja. Bener lho, log frame tak hanya dibutuhkan oleh sebuah project sebagai guideline mereka dalam melaksanakan project. Kehidupan individu, sebenarnya akan berjalan lebih mudah jika kita memiliki log frame lho.
Lalu Al, apakah kamu punya log frame dalam menjalankan kehidupanmu?
Hehehe…. NGGA PUNYA Sobs! Hihi. Baru juga terfikir sekarang nih untuk membuatnya secara lebih terinci. Serius lho, aku berkeinginan kuat untuk bikin log frame kehidupanku, jadi biar jelas langkah2 yang akan aku lakukan dalam mencapai goal/target masa depan. Nanti kalo udah jadi aku share yaaaa….. J
Ok, back to the topic. Keinginan masa depanku adalah, aku tuh ingin banget bisa memiliki passive income. Bagaimana caranya? Itulah yang akan aku tuangkan di dalam log frame nanti sobs. Sabar yaaa….
Terus ingin apalagi di masa depan Al? Hm.. aku ingin bisa menghasilkan uang dari rumah, menjadi ibu yang bekerja dari rumah atau dari mana saja yang aku suka, bekerja via internet. Menghasilkan rupiah atau dolar melalui internet? Caranya? Hm… ada beberapa cara yang sedang aku bidik, keinginan paling kuat adalah dengan menjadi trader online, baik di bidang saham maupun forex.
Dan untuk mencapai itu, tentu aku harus belajar dengan disiplin tinggi. Ini yang sedang aku usahakan saat ini lho sobs. Masih tahap belajar dan berharap suatu hari kelak, impian ini bisa terlaksana dengan baik. Doakan ya sobs! J
"Tulisan ini diikutsertakan dalam GiveAway Cah Kesesi AyuTea yang diselenggarakan oleh Noorma Fitriana M. Zain".

Untuk Noorma, selamat berulang tahun yaaa, semoga panjang umur, sehat dan bahagia selalu, Amiin Ya Rabbal Alamin. Jaga kesehatan dan kandungannya ya Noorma…. J 




READ MORE - Alaika… dulu, kini dan nanti

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...