Membaca judulnya,
kuyakin bahwa sobats semua sudah bisa menebak bahwa artikel ini akan
diikutsertakan pada perhelatan akbar yang sedang digelar oleh Mba Noorma,
pemilik rumah maya ‘cah kesesi ayutea’ dalam rangka menyambut ulang tahunnya
yang ke 25.., duh muda banget masih yaaa??
Yup, tebakan sobats
memang bener! you are right sobs! J
Tadinya sih sempat
berniat untuk tidak ikutan dalam acara keren ini.., mengingat sudah sering
banget rasanya menuliskan artikel bertemakan diri sendiri di masa lalu, masa
kini dan masa depan. Takutnya menulisnya lagi malah akan membuat sobats jadi
bosan berkunjung karena yang disajikan itu lagi… itu lagi.
Namun niat hati untuk
turut menyukseskan perhelatan sang sahabat, ditambah dengan ikrar yang harus
ditunaikan, apalagi telah dicolek si pemilik hajatan di keramaian fesbuk dua
malam lalu untuk menyetorkan naskah, maka duduk manislah daku di minggu pagi yang
mendung kelabu ini, menarikan jemari merangkai kata, menuangkan kisah tentang
diriku di masa lalu, kini dan nanti.
Ok sobs, baik… sebelum
ngelantur jauh tak tentu arah, mari aku kerucutkan arah lanturanku ke dalam
beberapa masa…… J
Masa lalu
Terlahir sebagai anak
pertama yang baru beroleh adik saat usiaku memasuki tahun kelima, membuat
kehidupan masa balita ku (di kampung) kesepian. Apalagi ibuku yang
perfectionist dan sangat menjaga putri cantik nya ini agar tetap bersih
dan hygienist, membuat diriku jarang berhasil lolos untuk ikutan bergabung
dengan bocah-bocah seusia yang asyik bermain tanah di halaman rumah. Yang
bermain pasir atau main boneka-bonekaan di atas pasir atau tanah kering di
lapangan tak jauh dari rumah. Selaluu saja ketahuan jika aku sejenak saja
menikmati indahnya bermain debu dan pasir yang begitu menjanjikan kebahagiaan
itu… huh!
Memulai masa kecil di
kampung halaman, nun jauh di salah satu desa di Kabupaten Pidie, Aceh, membuat
aku tidak berkesempatan mengenyam pendidikan di Taman Kanak-kanak, karena saat
itu Taman Kanak-Kanak belum masuk desa. Jadi pendidikan pertama yang aku
peroleh adalah langsung ke Sekolah Dasar, dan itupun sulit banget bagiku untuk
menyukai kegiatan yang satu ini. Bersekolah bagiku adalah beban berat! Aku sangat pemalu!! Dua
kisah paling malu-maluin dapat sobat baca disini dan disini
Sifat pemalu tingkat
dewa itu berhasil juga terkikis secara perlahan, berkat upaya keras ayah bunda,
yang mencoba mem-baur-kan aku dalam berbagai kegiatan kantornya, yang
melibatkan anak-anak. Atau selalu membawa aku melihat keramaian, memancing
keberanianku untuk mencoba ikutan berbaur dalam keramaian itu, berinteraksi
dengan para sepupu dan kerabat, dan berbagai usaha lainnya. Sehingga si gadis
kecil pemalu itu, lambat laun mampu keluar dari istana putri malunya, dan berani
menyapa dunia. J
Memiliki tiga adik
yang semuanya laki-laki, juga adalah pendukung perubahan sikap pemalu itu.
Begitu mereka bertumbuh menjadi bocah-bocah kreatif yang bisa diajak bermain,
mulailah kami menjadi satu team yang solid, yang siap mengalahkan lawan. Si
gadis pemalu pun kemudian beranjak menjadi gadis tomboy, yang sempat bikin
ibundanya kuatir karena tak pernah sekalipun mau menggunakan pakaian yang
feminine. Mau jadi apa putrinya ini?
Pembawaan tomboy dan
senang berteman dengan teman laki-laki, terus terbawa hingga aku memasuki
perguruan tinggi. Jurusan yang aku pilih, otomatis menempatkan aku sebagai kaum
minoritas (dilihat dari sisi gender) yang menyenangkan di kampus. Saat itu,
tahun 1989, dari 80 orang mahasiswa baru di jurusanku, hanya ada 11 orang ceweknya…. Sementara 69 personil lainnya adalah kaum cowok. Kebayangkan? 11
cewek ini otomatis menjadi wanita-wanita cantik (ya iyalah, masak ganteng?) yang menyemarakkan ruang kuliah, membangunkan semangat
kebersamaan dan keceriaan kaum mayoritas tentunya. J
Kami, sebelas wanita
cantik ini pun menjadi sangat disayang oleh kaum mayoritas kami, selalu dibela
jika ada cowok dari kampus lain yang mencoba iseng. Yup, bersekolah di Fakultas
Teknik itu sangat menyenangkan lho sobs. Para cowok sangat memanjakan dan
menyayangi kami, bunga-bunga yang memang jumlahnya sangan minim. Hehe.
Masa
laluku yang terhitung sangat indah dan penuh warna cerah, mulai terkontaminasi
oleh warna kelabu yang kian meng-abu-abu, sejak benda abstract bernama cinta
menghampiri. Ditembak kakak
kelas yang tampan dan baik hati, adalah hal yang sangat menggembirakan.. walau
sebenarnya aku sendiri ga tau persis apakah aku juga mencintainya. Tapi enak
aja sih rasanya punya pacar. Ada rasa bangga gimanaaa gitu…. Hehe. Namun cinta
ini bukan hanya butuh perjuangan oleh hatiku untuk menumbuhkan rasa cinta ini
untuknya, tapi juga butuh perjuangan lain yang lebih besar, karena orang tuaku
sangat tidak setuju aku pacaran, dengan siapapun. "Fokus kuliah wae, ojo
neko-neko!" Kata ayahku, tentu saja dalam bahasa Aceh. J
Cinta kami kemudian berjalan indah namun tertatih.
Kami berusaha untuk mempertahankan cinta ini karena merasa sudah saling
seiya sekata, dan dengan satu tekad, ingin menunjukkan pada ayah bundaku
bahwa dia adalah calon yang sangat cocok dan pantas untuk aku. Putri
satu-satunya ayah-bundaku.
Namun apa hendak dikata sobs, ternyata cinta yang penuh perjuangan itu
harus karam karena nahkoda tak hendak meneruskan pelayaran. Kehendak
sang bunda jadi alasan utamanya untuk melempar sauh dan menghentikan perjalanan.
Kecewa? PASTI. Terluka? TENTU. Lalu berhentikah kehidupan aku karenanya? TIDAK.
Justru
aku bersyukur dengan kenyataan itu, karena terbukti nahkodaku bukan
seorang laki2 yang tangguh. Tak sedikitpun aku percaya bahwa alasan
utamanya adalah karena titah sang ibunda. Kupercaya bahwa kapalku karam
karena nahkoda ingin berpindah haluan.
Lalu?
Apa langkahku selanjutnya? Hari pertama dan kedua, kupecahkan tangis didalam
bantal dan guling (agar isakannya teredam adanya). Hari ketiga kupaksa hatiku
menghadapi kenyataan. Mensugesti diri bahwa cinta ini tak guna ditangisi. Tak
hendak kurusak hati ini menangisi seorang laki-laki cemen. Kulatih diri
menghadapi kenyataan dan melanjutkan kehidupan. Susah? SANGAT, apalagi kami satu
kampus dan sering kuliah bersamaan. Huft. Susah banget sobs saat-saat itu.
Sulit meredam kepiluan hati ini, sulit menghalau air mata yang begitu sering
ingin meruak.
Tapi
keyakinan yang kuat bahwa ‘the show must go on', berkat bantuan Allah, berhasil
juga kuhadapi semua prahara dan melanjutkan kehidupan.
Cinta keduaku adalah ayahnya Intan.
Terjatuh (buah kali terjatuh??) dengan tidak sengaja. Mengalir dari sebuah persahabatan.
Menjelma karena kebersamaan dan rasa kasihan (semoga dia tidak membaca ini,
hihi). Terulang kembali sebuah cinta backstreet, dan kembali diriku menjadi
pembangkang bahkan akhirnya dicoret dari anggota keluarga dan tidak
diperkenankan menggunakan nama Abdullah lagi di belakang namaku karena nekad
kawin lari dengannya. (sangat tidak layak untuk
ditiru nih sobs!). Perjalanan kisah cinta ini sungguh berliku dan dapat diikuti
disini...
Merantau
ke Medan bersama suami pilihan, membuatku menghadapi kenyataan baru. Hidup ini
tidak gampang ternyata sobs. Jika selama ini aku menjadi anak emas yang tak
kurang sesuatu apa, kini aku harus menghadapi kenyataan. Tak ada lagi nasi yang
terhidang di atas meja, tak ada lagi pakaian rapi telah tersetrika. Semua harus
dikerjakan sendiri. Lebih parah lagi, harus dicari sendiri. Harus kukelola
sendiri. Apa yang mau dikelola? Uang saja belum punya…
Teringat
kata ayahku, bahwa warisan paling berharga yang akan beliau wariskan kepada
kami adalah PENDIDIKAN, bukan materi yang lain. Kini terbukti benar adanya.
Warisan ayahku ini, gelar Insinyur Teknik Kimia, membuat sebuah posisi di salah
satu perusahaan swasta pun berhasil aku dapatkan, tentu setelah melewati aneka
interview dan perjuangan lainnya. Ayah Intan juga berhasil mendapatkan kontrak
kerja baru dan kamipun memulai episode hidup prihatin, karena walau berposisi
mentereng, jangan sangka gaji besar akan kita dapatkan. Apalagi jika perusahaan
itu adalah milik kaum bermata sipit, di kota Medan pula, bisa dibayangkan
sendiri betapa mereka meminimalisir gaji pribumi demi meningkatkan profit. Gajiku saat itu, Maret 1996 masih berada di
rate 250 ribu rupiah perbulan. Memang sih, masih dalam lingkup UMP (upah
minimum provinsi).
Satu
pelajaran yang sangat bernilai yang aku petik dari akademi kehidupan yang aku
jalani adalah bahwa factor restu orang tua adalah berbanding lurus dengan
factor rezeki. Maka jangan harap pintu rezekimu akan terbuka lebar jika restu
orang tua mu belum mengalir. Jikapun rezeki itu ada, mengalir deras,
percayalah, dia tak ubahnya bagaikan rezeki harimau, yang deras masuk tapi
deras juga keluarnya. Itu yang aku rasakan selama 9 tahun hidup dalam
‘pengasingan’ (terbuang dari keluarga).
Titik Balik (transisi masa lampau ke
masa kini)
Sengaja
aku menyebut posisi ini sebagai titik balik. Karena di posisi inilah titik
balik kehidupanku dimulai.
Doa
panjang tiada henti, tiada lelah, yang berkelanjutan aku lantunkan dan pinta
pada Ilahi Rabbi akhirnya berbuah manis. Walau harapanku..., bukan dengan cara
tragis ini harus aku dapatkan. Namun aku percaya, segala sesuatu pasti akan ada
hikmahnya. Doa panjangku agar terbuka kembali pintu hati ayah bunda, dijabah
Allah Ilahi Rabbi melalui sebuah bencana dasyat yang melanda kampung halaman.
Gempa
besar yang mengguncang Aceh, mengundang gelombang maut bernama cantik, Tsunami,
menggulung dan meluluhlantakkan apa saja yang berada di atas bumi Iskandar
Muda. Termasuklah daerah tempat tinggal ayah bundaku. Yang Alhamdulillah,
walaupun gelombang itu dengan kejam merendam dan menghancurkan sebagian rumah
kami, namun Allah masih memberikan umur panjang dan kesehatan bagi ayah bunda
dan adikku untuk melanjutkan kehidupan.
Pencarian
panjang yang aku mulai di hari kedua tsunami, langsung setelah kakiku menjejak
bumi yang telah porak poranda itu, berbuah hasil yang begitu membahagiakan di
hari kelima pencarian. Tepat di tanggal 1 Januari 2005, pintu baja keping hati
ayah bunda ku terkuak. Subhanallah, Alhamdulillah. Sungguh Engkau Maha
Berkehendak ya Allah….
Pelukan
hangat ibuku kala mengangkatku bangkit dari sujud di kakinya, sungguh membuat momen dan rasa bahagia itu
abadi bersemayam di lubuk hati ini… Indah, mengharukan dan tak terlupakan.
Pelukan welcome back dari ayahanda
juga merupakan hadiah terindah di tahun baru 2005 itu. It’s so sweet. Semua
akan indah pada waktunya. Aku percaya itu karena aku telah membuktikannya.
Maka,
1 January 2005 tak hanya merupakan tahun baru bagiku, tapi juga adalah titik
balik dalam kehidupanku. Titik dimana kehidupanku mulai berjalan indah dan
menakjubkan.
Seperti
yang aku katakan di atas sobs, aliran rezeki adalah berbanding lurus dengan restu
orang tua, maka aku telah membuktikannya bahwa itu benar sekali. Setidaknya itu
berjalan sempurna bagi kehidupanku.
Rencana
awal kembali ke Aceh adalah untuk menemukan orang tuaku, membantu proses
recovery rumah tempat tinggal ayah bunda, eh ternyata berbuntut panjang dan
menyenangkan. Sebuah tawaran untuk bekerja di sebuah lembaga kesehatan
internasional (Medical NGO) yang kala itu sedang intensif membantu proses
tanggap darurat/emergency response terhadap para korban bencana,
menghampiriku tanpa disangka-sangka. Sungguh tawaran menarik yang tentu tak
mungkin aku lewatkan begitu saja. Berkesempatan untuk turut andil dalam proses
penyembuhan/recovery Aceh paska tsunami adalah kesempatan emas untuk
menunjukkan baktiku pada pertiwi. Ditambah pula dengan kompensasi gaji ber
skala international, sungguh suatu bonus tak terfikirkan sebelumnya.
Maka
mulailah aku menapaki kehidupan yang mulai bersinar terang. Jika siang mentari
bersinar cerah, maka malam harinya bintang gemintang serta rembulan setia
membagikan cahayanya. Hidupku damai, indah dan 'berduit'. Alhamdulillah.
Allah
Maha Tau apa yang terbaik bagi makhlukNya. Aku yakin sekali akan hal itu.
Begitu juga saat aku mencoba mengatasi kemelut yang melanda rumah tanggaku
dengan ayahnya Intan... kira-kira dua tahun setelah kami diterima kembali oleh
ayah bunda. Kucoba untuk mengkaji ulang secermat mungkin. Menganalisa
setepat-tepatnya untuk menemukan solusi terbaik. Namun hasil analisa SWOT yang
aku lakukan dengan cermat, membuatku mengambil keputusan. Tak mungkin
melanjutkan pelayaran dengan nahkoda yang tak lagi sepaham. Kuputuskan untuk
menurunkannya di sebuah pelabuhan dan mulai mengambil alih kemudi. Bahtera ini
tak boleh karam, ada penumpang kecil yang butuh garansi untuk sampai dengan
selamat di tujuan. Maka kuteruskan pelayaran dengan gagah berani, karena
kuyakin sepenuhnya bahwa Ilahi Rabbi senantiasa bersama kami.
The
show must go on, dan sekali lagi terbukti bahwa restu ayah bunda adalah
berbanding lurus dengan aliran rezeki. Setidaknya bagiku. Bermula dengan
Northwest Medical Teams, sebuah medical NGO asal Portland, Oregon yang sedang
bantu Aceh paska tsunami, aku terjun menjadi pekerja kemanusiaan, yang bekennya disebut dengan humanitarian worker. Dari seorang chemical engineer yang berkecimpung
dalam laboratorium (quality control) aku dilatih untuk bisa membantu proses
trauma healing para korban tsunami. Subhanallah. Sungguh ilmu baru yang sangat
berharga aku dapatkan, ketika seorang konselor asal Amerika didatangkan untuk
mentraining kami, para staf nasional yang akan diperbantukan pada program
ini.
Waktu
bergulir dan aku pindah ke lembaga lainnya, karena masa emergency telah selesai
dan mulai beralih ke development program. NGO tempatku berkerja selesai masa
tugasnya dan bersiap kembali ke Portland. Sungguh suatu keberuntungan yang luar
biasa bagiku, berkesempatan untuk bergabung di sebuah lembaga raksasa yang
dibentuk oleh Presiden RI, SBY, bernama Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi
Aceh dan Nias (BRR NAD-Nias), dengan masa tugas 4 tahun. Kesempatan emas ini tentu
tak aku sia-siakan. Gaji yang semakin menanjak tentu adalah penyemangat utama
dalam menjamin totalitas dan loyalitas pada pekerjaan. J
Komplitnya
tugas BRR NAD-Nias, kemudian aku berpindah ke sebuah NGO International yang
khusus bergerak di bidang pemberdayaan para penyandang cacat. NGO asal Perancis
ini bernama Handicap International, dan kiprahnya sungguh membuka mata dan
hatiku. Bahwa betapa selama ini kita telah memandang sebelah mata kepada para
penyandang cacat. Subhanallah, beri berkahmu bagi lembaga2 yang masih peduli
pada bidang yang satu ini ya Allah. Kebahagiaan tersendiri beroleh kesempatan
untuk bergabung di NGO ternama ini. Batinku yang mulai matre, hehehe, ternyata
bisa dengan mudah berkompromi, oke-oke saja ketika si bos (yang mewawancaraiku
saat itu) mengatakan bahwa mereka tak sanggup membayar gajiku sebanyak yang
biasa aku dapatkan di tempat yang lama (BRR NAD Nias). Mereka hanya mampu
memberiku kepala 5 saja, adalah sepertiga dari yang biasa aku dapatkan. Apakah
aku menerimanya karena tidak ada lowongan lain? Kutanya hatiku, ternyata bukan
sobs. Panggilan batin untuk menyelami pekerjaan yang satu ini, yang begitu kuat
memanggilku untuk sedikit menyumbangkan sumbangsih ku bagi para penyandang
cacat atau kerennya disebut people with
disability.
Baru
saja mengemban tugas sebagai Project Manager di kantor ini, tawaran lain yang
begitu memanggil batin pun menyampiri. Tak dapat kupungkiri, tawaran inipun
begitu menggoda. Kapan lagi mau masuk ke lembaga PBB jika tidak saat mereka
membuka pintu. Maka dengan berat hati, setelah menimbang berulang-ulang, dan
hasilnya tetap itu-itu lagi, akhirnya kulayangkan surat pengunduran diri pada
bosku, memohon agar aku diijinkan meninggalkan jabatan yang baru beberapa bulan
aku emban.
Pimpinan
yang bijaksana itu, seorang Italiano, akhirnya melepas aku dengan berat hati.
Namun sejujurnya dia akui, aku telah mengambil langkah yang tepat. Masuk
lembaga PBB adalah impian hampir setiap insan pekerja kemanusiaan. Selain
gajinya yang begitu ‘wow’ dan ‘wah’, juga akan mendongkrak curriculum vitae
kita. Yang mana CV ini adalah modal atau nilai jual kita saat melamar
pekerjaan.
Maka
kemudian aku beralih ke salah satu badan di Lembaga PBB, dan bergerak di unit
khusus bertajuk Tsunami Recovery Waste Management Program (TRWMP). Disinilah
aku kemudian, berkecimpung di bidang pengelolaan persampahan, bekerjasama
dengan dinas kebersihan beberapa kabupaten dan kota di Aceh dan Nias. Mencoba
memberikan peningkatan kapasitas para eksekutif maupun legislative daerah agar
lebih aware akan pentingnya pengelolaan sampah yang baik dan benar, demi
menggapai masyarakat yang sehat dan cerdas, serta kota/kabupaten yang bersih
dan hygienist.
Tak
terasa tujuh tahun telah berlalu, bahkan hampir memasuki tahun ke delapan.
Akankah aku terus berkecimpung di dunia menyenangkan ini? Jika melihat
pemasukan yang ditransfer ke rekening setiap bulan sih, aku akan jawab IYA. AKU
INGIN.
Tapi aku memberanikan diri untuk menjawab TIDAK. AKU TIDAK INGIN
selamanya menghabiskan waktuku dalam ritme kerja yang begitu dinamis. Tiada
henti bahkan bisa dikatakan nonstop. Memang sih income yang diberikan seimbang
dengan tenaga dan pemikiran yang kita donasikan. Tapi ADAKALAnya, RUPIAH tak
lagi menjadi tolok ukur sebuah kebahagiaan.
Itu
yang aku sadari sobs, dan karenanya, aku begitu bahagia saat kontrakku berakhir
Februari 2012 yang lalu. Kuyakini batinku bahwa inilah saat yang aku
tunggu-tunggu untuk memasuki masa
kini dan masa depan.
MASA KINI
Aku
menganggap akhir Februari 2012 sebagai masa kini hingga hari ini. Kini aku
adalah seorang jobless, alias pengangguran yang sedang mempersiapkan masa
depan. Cieee. Pengangguran aja kok bangga yaaa? J
Tak
terasa tiga bulan hampir berlalu sejak aku menjadi pengangguran, dan selama ini
pula aku begitu menikmati hari-hari kebebasanku. Padahal begitu banyak rencana
yang perlu dilaksanakan, namun hati ini kok ya masih malas bergerak ya…. Duh…
Berleha-leha
memang sungguh menyenangkan, tapi aku telah memperingatkan hati kecilku untuk
segera kembali pada kehidupan normal. Be serious, jangan hanya main-main saja
Alaika!
Tapi
sobs… tetap aja aku belum bisa focus. Niat hati ingin bikin strategic planning
untuk project pribadiku, eh malah jadinya ngeblog begitu internet terkoneksi.
Halah!! Piye iki??
CITA-CITA DAN HARAPAN MASA DEPAN
Aku
lebih suka menggabungkan kedua tajuk diatas ini menjadi satu. Yuk kita sebut
saja dengan istilah KEINGINAN MASA DEPAN.. Nah, jika cita-cita masa kecilku
dulu pernah ingin jadi dokter, jelas tidak tercapai toh? tapi pernah juga sih
berangan ingin menjadi insinyur, dan begitu ditilik sekarang ini? Yes, I am an
engineer lho. Hehe. Berarti cita-citaku tercapai donk. Lalu apakah cukup sampai
disitu saja? TENTU TIDAK.
Idealnya
sebuah perjalanan kehidupan harus memiliki logi frame (logical frame work)
alias kerangka kerja. Bener lho, log frame tak hanya dibutuhkan oleh sebuah
project sebagai guideline mereka dalam melaksanakan project. Kehidupan
individu, sebenarnya akan berjalan lebih mudah jika kita memiliki log frame
lho.
Lalu
Al, apakah kamu punya log frame dalam menjalankan kehidupanmu?
Hehehe….
NGGA PUNYA Sobs! Hihi. Baru juga terfikir sekarang nih untuk membuatnya secara
lebih terinci. Serius lho, aku berkeinginan kuat untuk bikin log frame
kehidupanku, jadi biar jelas langkah2 yang akan aku lakukan dalam mencapai
goal/target masa depan. Nanti kalo udah jadi aku share yaaaa….. J
Ok,
back to the topic. Keinginan masa depanku adalah, aku tuh ingin banget bisa
memiliki passive income. Bagaimana caranya? Itulah yang akan aku tuangkan di
dalam log frame nanti sobs. Sabar yaaa….
Terus
ingin apalagi di masa depan Al? Hm.. aku ingin bisa menghasilkan uang dari
rumah, menjadi ibu yang bekerja dari rumah atau dari mana saja yang aku suka,
bekerja via internet. Menghasilkan rupiah atau dolar melalui internet? Caranya?
Hm… ada beberapa cara yang sedang aku bidik, keinginan paling kuat adalah
dengan menjadi trader online, baik di bidang saham maupun forex.
Dan
untuk mencapai itu, tentu aku harus belajar dengan disiplin tinggi. Ini yang
sedang aku usahakan saat ini lho sobs. Masih tahap belajar dan berharap suatu
hari kelak, impian ini bisa terlaksana dengan baik. Doakan ya sobs! J
Untuk Noorma,
selamat berulang tahun yaaa, semoga panjang umur, sehat dan bahagia selalu,
Amiin Ya Rabbal Alamin. Jaga kesehatan dan kandungannya ya Noorma…. J