Halo, teman-teman tersayang. Welcome back to My Virtual Corner! Gimana nih kabarnya?
Semoga jemari yang tengah menggulir layar dan hati yang sedang membaca tulisan ini, senantiasa berada dalam pelukan kedamaian, berkelimpahan berkah sehat, sukses, dan bahagia. Aamiin.
Kali ini, aku ingin berbagi tentang sebuah pertanyaan sederhana yang sering muncul dari pembaca novel terbaruku, Sisa Cahaya Bintang.
"Al, kok novelmu tidak dibuat dalam bentuk format EPUB saja sih? Kan enak tuh, dibaca dari device mana pun, tetap menyesuaikan ukuran layar sehingga asyik untuk dibaca?"
Pertanyaan itu terdengar teknis, yak? Namun setiap kali mendengarnya, aku justru teringat bahwa keputusan memilih format file sebenarnya tidak pernah hanya soal teknologi. Di baliknya ada cara seorang penulis memandang cerita—dan lebih penting lagi, memandang pembacanya.
Bagiku, pekerjaan seorang penulis tidak selesai ketika mengetik kata Tamat.
Justru setelah itulah perjalanan berikutnya dimulai—perjalanan untuk memastikan cerita itu sampai kepada pembacanya sebagaimana ia pertama kali dibayangkan.
Sebuah cerita tidak hanya ditulis, tetapi juga dirancang.
Saat menulis Sisa Cahaya Bintang, aku tidak hanya memikirkan alur cerita atau dialog antar tokohnya.
Aku memikirkan bagaimana pembaca akan berhenti sejenak di halaman tertentu.
Bagaimana ilustrasi akan memperkuat emosi yang sedang dibangun oleh narasi.
Bagaimana ruang kosong memberi jeda agar mata dan hati sempat bernapas sebelum melanjutkan ke halaman berikutnya. Karena bagiku, setiap keputusan kecil itu menjadi bagian dari cerita.
![]() |
| Tiga halaman dari Sisa Cahaya Bintang yang memperlihatkan bagaimana ilustrasi, tipografi, ruang kosong,dan tata letak menjadi bagian dari pengalaman membaca. |
Mengapa bukan EPUB?
Aku memahami mengapa banyak penulis memilih EPUB.
Format ini fleksibel.
Ukuran huruf dapat diubah.
Nyaman untuk berbagai ukuran layar.
Dan untuk banyak buku, EPUB memang merupakan pilihan yang sangat baik.
Namun, Sisa Cahaya Bintang lahir dengan karakter yang sedikit berbeda.
Novel ini tidak hanya berisi narasi.
Di dalamnya terdapat ilustrasi-ilustrasi yang sengaja kurancang sebagai bagian dari pengalaman membaca. Bukan sekadar penghias halaman, tetapi bagian dari suasana yang ingin kubangun bersama cerita.
Aku ingin ketika Ethan dan Bintang saling berpelukan saat pertama kali bertemu di Bandara Soekarno Hatta, pembaca turut merasakan hangatnya momen itu melalui ilustrasi yang menemani narasinya.
![]() |
| Salah satu halaman dari Sisa Cahaya Bintang. Pada novel ini, ilustrasi menjadi bagian dari narasi, bukan sekadar pelengkap visual. |
Aku ingin ketika mereka menikmati secangkir teh, ilustrasi itu hadir tepat di halaman yang sama.
Ketika mereka berjalan di bawah langit senja, pembaca melihat warna yang sama seperti yang kubayangkan ketika menulis adegan itu.
Aku ingin gambar dan kata-kata tetap berjalan berdampingan.
Karena itulah aku memilih PDF., agar setiap ilustrasi tetap hadir pada momen yang memang menjadi bagian dari cerita.
Ketika pembaca ikut menjadi bagian dari proses.
Dan tahukah temans? Belum lama ini, seorang pembaca menyampaikan sesuatu yang sangat sederhana.
Ia menyelesaikan Sisa Cahaya Bintang dalam sekali duduk, hanya dalam waktu tiga jam! Masyaallah.
Namun ia juga mengatakan bahwa membaca versi PDF di layar ponsel terasa kurang nyaman karena harus sering memperbesar dan memperkecil halaman.
Masukan itu membuatku berpikir.
Kalau aku begitu memperhatikan posisi ilustrasi dan ritme setiap halaman, mengapa aku tidak memberi perhatian yang sama pada cara pembaca menikmati buku di perangkat yang berbeda?
Dari situlah lahir Mobile Edition.
Bukan karena aku mengubah filosofinya.
Justru karena aku ingin mempertahankan pengalaman membaca yang sama, tetapi melalui media yang berbeda.
Mungkin pada akhirnya...
Aku menyadari bahwa yang selama ini kulakukan bukan hanya menulis cerita.
Aku sedang merancang pengalaman membaca.
Mulai dari memilih ilustrasi, menentukan tata letak, menjaga ritme setiap halaman, hingga memutuskan format file yang paling sesuai dengan karakter cerita.
Semuanya berangkat dari satu pertanyaan sederhana.
"Bagaimana pembaca akan merasakan cerita ini?"
Mungkin setiap penulis memiliki jawaban yang berbeda.
Dan tidak ada jawaban yang paling benar.
Bagiku, untuk Sisa Cahaya Bintang, jawaban itu adalah PDF.
Kini, dengan hadirnya Reading Edition dan Mobile Edition, aku berharap setiap pembaca dapat memilih cara membaca yang paling nyaman bagi mereka.
Karena pada akhirnya, format hanyalah media.
Yang benar-benar ingin kusampaikan tidak pernah berubah:
sebuah cerita yang semoga bisa tinggal sedikit lebih lama di hati pembacanya.
Sebab bagi seorang penulis, cerita yang baik bukan hanya selesai ditulis. Ia juga layak untuk dinikmati dengan sebaik-baiknya.
Jakarta | Kamis | 16 Juli 2026
Alaika Abdullah


