#22: Ketika Hidup Tak Lagi Berarti | My Virtual Corner
Menu
/

Pagi-pagi udah disapa oleh seorang teman baik. Ucapan selamat pagi yang penuh oleh derai air mata. Sebagai teman yang baik dan dipercaya untuk menampung keluh kesahnya, tentu aku langsung 'menyediakan telinga'. Kunci utama dari konseling adalah 'mendengarkan', itu yang selalu terpatri rapi di benakku, sebagai pelajaran pertama pada kelas konseling dahulu, saat aku dan beberapa staff lainnya, dipersiapkan untuk membantu para konseler asing, yang sedang bertugas membantu program trauma healing bagi para korban bencana tsunami di Aceh, era 2004 - 2006 pertengahan, yang lalu. Dan Alhamdulillah, banyak manfaat yang aku peroleh dari kelas tersebut, hingga, walo ber-background Chemical Engineer, tapi banyak teman yang mempercayai 'keluh kesahnya' padaku. Setidaknya, walo ga banyak solusi yang aku tawarkan, tapi mampu membuat hati mereka menjadi lebih tentram. Alhamdulillah again.

Credit and modified
Well, back to the topic dan curcol sang teman, sesuai judul di atas, Ketika Hidup Tak lagi Berarti, memang rasanya gimanaaa gitu ya, Sobs? Air mata dan sengau suara, jelas menggambarkan secara sempurna betapa kegalauan sedang melanda. Hingga beberapa detik, aku terdiam, terpana dan turut tersedot suasana. Amboi... Kenapa kehidupan ini begitu sering menghadirkan duka? Begitu banyak mempersembahkan suasana hati yang gundah gulana? Dan bahkan sering menjerumuskan 'penderita'nya ke arah pemikiran untuk mengakhiri kehidupan?

Hidup ini terkadang memang tidak indah. Banyak sekali masalah. Tapi haruskah kita terus menerus larut di dalam duka? Berontak, marah, menangis, bahkan menghancurkan barang-barang atau bahkan langsung mengamuk kepada pelaku atau penyebab penderitaan, adalah reaksi awal dan normal dari setiap individu. Tidak ada yang salah dengan semua tindakan itu, asaaaaal, jangan berlebihan. Mbokya jangan menghancurkan barang2-barang mahal, janganlah sampai melukai apalagi membunuh si pelaku, hehe. Bisa berabe kan ujung-ujungnya? Janganlah sampai bunuh diri. Bisa gawat ituh! Masak udah sedih susah dan menderita di dunia, menuju akhirat pun langsung disambut oleh terbukanya pintu neraka? Ga mau donk ah!

Nah, si teman, curcol tentang hidupnya yang mendadak tak lagi berarti. Sang suami tertangkap basah berselingkuh. Aih, sakit banget donk pastinya. Tapi, haruskah kita menangis berhari-hari karenanya? Apalagi sampai mogok makan dan lupa pada anak-anak hingga mereka terlantar? Menangis boleh saja, tapi saranku sih, cukup tiga hari saja. Karena menangis untuk seorang suami yang tidak setia, lebih dari tiga hari, adalah sama dengan memberinya kehormatan dan level yang mulia. Ya iyalah, emang begitu hebatnya dia hingga harus kita tangisi berhari-hari? Bukankah laki-laki seperti itu layaknya disingkirkan saja dari kehidupan? Hehe. Itu menurutku sih. Ya, walaupun tidak disingkirkan, tapi membebaskan rasa sakit dengan menangis, cukup lah tiga hari, maksimal. Karena, kita harus segera bangkit menata kembali kehidupan kita.

Kukatakan padanya, jika aku yang berada pada posisinya, maka aku akan ikuti flowchart ini deh. :)


Ketika Hidup Tak Lagi Berarti

1. Ekspresikan Rasa

Menghadapi situasi menyakitkan, siapa pun tak akan mampu terbebas dari rasa galau, sedih, kacau. Meng-ekspresi-kan rasa, adalah solusi awal dan sangat baik untuk dilakukan. Caranya? Ya bisa dengan menangis, marah-marah, mencorat coret dinding di kertas, mukulin muka orang yang menyakiti guling/bantal, dan lain-lain, asalkan tidak berbahaya dan membahayakan jiwa. Batasi waktu untuk mengekspresikan rasa ini, maksimalnya hanya tiga hari saja. :)

2. Bangkit

Biasanya, setelah semua rasa dikeluarkan, pikiran akan sedikit terbuka, dan inilah saatnya kita bangkit. Bangkit dalam artian, berusaha memupuk rasa percaya diri, tanamkan di dalam diri kita bahwa kita adalah manusia-manusia yang masih berguna, masih memiliki nilai lebih, bahwa kita adalah masih mutiara yang berharga.

3. Atur Langkah

Buatlah perencanaan [tentukan] langkah-langkah yang akan diambil dalam melanjutkan kehidupan kita.

4. Terapkan Langkah

Konsistenlah dalam melaksanakan apa-apa yang telah kita rencanakan dalam melanjutkan kehidupan kita. The show must go on kan? :)

5. Monitoring dan Evaluasi.

Setiap kegiatan tentu butuh monitoring dan evaluasi. Untuk apa? Untuk memantau dan memastikan agar rencana yang telah disusun itu dapat diterapkan sesuai dengan yang direncanakan, dan beroleh output yang sesuai target. Lalu apa yang harus dilakukan jika pelaksanaan atau output yang dicapai belum sesuai dengan target?
Ya, tentu kita harus dengan legowo melakukan perbaikan/penyesuaian, agar kelanjutan pelaksanaan langkah itu dapat kembali berjalan dengan baik, sehingga beroleh hasil yang sesuai dengan harapan.

Lima langkah di atas adalah solusi *halah bahasanya ituh* yang aku tawarkan untuk sang teman baik, tentu saja disamping penjelasan yang jauh lebih panjang lebar agar dirinya terhibur sih. :D Dan Alhamdulillah, masukan tadi cukup mampu membuat si teman terdiam, meresapi dan mendapat suntikan semangat. Terlebih lagi, mampu membuat rasa percaya dirinya bangkit. Ho oh, siapa doi sampai harus aku tangisi bahkan pengen bunuh diri segala ya, Al? Emoh eikeh!
Nah, gitu donk! Ayo atuh, hidup ini masih indah lho! Keep fighting and take action well!

Sekedar sharing,
Al, Bandung, 22 Februari 2014
21 comments

Setuju dngn isi postngan ini.hdup ini indah apapun mslh yg dihdpi dlm hidup ini mnjdkn kt lbh kuat lg..untk tmn cut kak ttp smngt jgn lama-lama bersedih

Reply

Iya mak setuju banget sama tulisannya...hidup terlalu indah untuk berlarut2 dalam kesedihan ya mak...itu bagian mengekspresikan rasa bagian yang dicoret asik bgt ya dikerjainnya kalau lagi galau wkwkwk...i like to moving moving #nyanyimodeon...semoga semua yang sedang galau tercerahkan dgn tulisan mak alaika...amin amin amin...

Reply

Yup, hidup ini indah, apa pun kendala atau noda yang mencemarinya, mari hapus noda itu dan cerahkan dia kembali. *tsaaaah! :D

Reply

Yup, bener banget, Mak. Jangan terpaku pada keterpurukan, karena kalo bukan kita sendiri yang berniat untuk bangkit, walau ada yang membangkitkan pun, kita akan terduduk lagi. :)

Hehe, iya, asyik banget melakukan action yang dicoret itu yaaa. Wkwkwk

Reply

Mak keren keren banget sih isi blog ini :D

Reply

Hehehe... mira kadang suka down trus blank g jelas harus ngapain. Baca tulisan ini jd terbuka pikiran meubacut ..danke kak udh share :)

Reply

setuju dengan tahapan-tahapannya, Mak. Pokoknya jangan buru-buru ambil keputusan di saat sedang bersedih, ya. Tenangkan diri dulu

Reply

Hehe, semoga ada manfaat yang dapat dipetik dari tulisan ini yaaa. Mau curhat? Ayo... :P

Reply

wah, mantap kali flowchart-nya itu kakak. TFS ya kakaaaaa

Reply

Dunia masih akan berputar dan tetap indah kan ya mba al? Turut prihatin ya Mba buat temannya..

Reply

wadeuhhh bener2 nih saya lagi galau tingkat dewa, bukan karena suami selingkuh, tapi tanggal 22 Februari adalah tanggal pernikahan kami, dan biasanya suami ngasih aku kejutan hangat, tapi dua tahun belkangan ini hik hik hik, kerinduan yang berakhir dengan tangisan!, trims ya sudah diingatkan!

Reply

Aku suka sedih kalau ada perempuan yang sampai desperate banget gara2 suami. Kasihan anaknya. Apapun keputusannya, anak jangan ikut kacau. Biarlah tiap malam nangis2 atau ngamuk2 sama suaminya, tapi didepan anak2 berusahalah mengendalikan diri sebentar. Nice tips mak, semoga perempuan2 yg putus asa bisa baca & segara bangkit

Reply

beruntung ada Mbak Al yang menjadi pendengar setia

Reply

Singgah dan follow di sini. Sangat baik perkongsian artikelnya. Jemput ke blog saya juga ya. Terima kasih.

Reply

Lima langkah yang setuju banget saya, Mbak El
Agar hidup terasa berrati lagi setelah terjerembab dalam hampa makna.

Reply

hmm....semoga dia bias memahami yang kau sarankan dan langsung ambil tindakan yang sifatnya implementatif ya De...., semoga Allah terus damping 'pembelajaran' bagi dirinya...dibukakan segala bentuk pintu hikmah dari ini semua, amin

Reply

setuju bingits *bahasa anak jaman sekarang*, hehe

Reply

Mbak Al kereeeen banget nget! Solusi ini bisa untuk SEMUA orang, bahkan yang masih merasa hidup sebenernya berarti, tapi stagnan. Tengkiu ya mba

Reply

Saya setuju, tp pasti ada masa melow yang harus dilewati dan itu berat sekali. Coba mengadu kepada Allah dan yakin Allah kasih jalan keluar.

Reply

Mba alaika, saya punya kata-kata bagus nih tapi di di jawabnya bener apa engga "Hidup itu bukan soal pengorbanan tapi perjuangan" heheh minta pendapatnya mba.

Reply