Mom, please pray for me.
Tidak ada ibu yang siap menerima pesan seperti itu.
Apalagi ketika pesan itu datang dari anak yang sedang melintasi langit, di dalam sebuah pesawat yang belum tentu akan tiba di tujuan.
Hari itu, Intan sedang dalam perjalanan pulang dari Manila. Pesawat yang membawanya menuju Singapura tiba-tiba dihantam turbulensi hebat. Bukan guncangan biasa. Kabin berubah menjadi ruang penuh kepanikan.
Banyak penumpang mulai berpikir bahwa mungkin...
mereka tidak akan sampai di tujuan.
Di tengah situasi itu, satu hal yang masih berfungsi adalah koneksi Wi-Fi pesawat.
Orang-orang mulai mengirim pesan kepada orang yang paling mereka cintai.
Begitu pula Intan.
Ia mengirimiku pesan.
Meminta doa.
Meminta maaf untuk semua salah dan khilafnya.
Dan mengatakan... jika pesawat ini tidak berhasil mendarat, ia ingin aku tahu bahwa ia sangat mencintaiku.
Sebagai seorang ibu, membaca pesan itu membuat waktu seolah berhenti.
Aku hanya bisa berdoa.
Tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Mencoba menenangkan diri dari kepanikan.
Satu setengah jam kemudian...
teleponku berbunyi lagi.
Mom... we've landed safely.
Aku menarik napas panjang.
Hari itu, Tuhan masih mengizinkan kami memiliki waktu.
Dan ternyata... cerita itu belum usai.
Setelah mendarat di Changi Airport untuk transit menuju Jakarta, putri tersayangku berjalan melewati deretan toko. Ia sebenarnya tidak sedang mencari hadiah ulang tahun.
Tidak ada daftar belanja.
Tidak ada rencana.
Namun setelah apa yang baru saja ia alami di langit, satu pikiran terus berputar di kepalanya.
Lalu aku mengerti, hadiah itu bukan dipilih karena kemewahannya. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam daripada itu.
W A K T U
Betapa rapuhnya hidup.
Betapa berharganya setiap menit yang masih diberikan Tuhan.
Di sanalah ia melihat sebuah jam tangan.
Tissot.
Bukan karena mereknya. Namun karena maknanya.
Ia ingin memberiku sesuatu yang setiap hari bisa mengingatkan kami berdua bahwa waktu adalah hadiah paling mahal yang pernah kita miliki.
![]() |
| The most precious gift wasn't the watch. It was the reminder. |
Sejak hari itu, aku tidak lagi melihat jam tangan hanya sebagai penunjuk waktu. Setiap kali melihat Tissot ini di pergelangan tanganku, aku tidak sedang mengingat ulang tahunku.
Aku sedang mengingat bahwa hidup bisa berubah hanya dalam hitungan menit.
Aku sedang mengingat seorang anak yang, setelah merasa mungkin tak akan pernah pulang, memilih menghadiahkan ibunya sebuah simbol tentang waktu.
![]() |
| Hadiah ini bukan tentang waktu yang ditunjukkan oleh jarumnya, melainkan tentang waktu yang masih Tuhan izinkan kami miliki bersama. ❤️ |
Dan aku sedang diingatkan bahwa...,
kita sering sibuk mencari lebih banyak uang, lebih banyak pencapaian, lebih banyak kesibukan.
Padahal yang sebenarnya diinginkan orang-orang yang mencintai kita sering kali jauh lebih sederhana.
Lebih banyak waktu.
Untuk duduk bersama.
Untuk minum kopi atau coklat panas.
Untuk mendengar cerita.
Untuk memeluk.
Untuk mengatakan,
"Aku sayang kamu."
Karena pada akhirnya, hidup bukan dihitung dari berapa banyak waktu yang kita miliki. Melainkan, kepada siapa kita memilih memberikan sang waktu.
Jakarta, 10 Agustus 2026
Alaika Abdullah

.png)
11 comments
Pingin nangis bacanya, rasanya campur aduk
ReplyDeletePunya anak perempuan semata wayang emang beda ya
Anak perempuan (anak bungsu) saya pernah direnggut kakak ipar, dan rasanya antara ikhlas dan gak ikhlas
Qadarullah anak saya kembali dan selalu menyapa, menanyakan kabar
Allah SWT memang sebaik itu
Membaca tulisan ini rasanya seperti diajak berhenti sebentar dari riuhnya hari-hari, lalu menyadari bahwa ternyata ada banyak hal yang paling berharga justru tidak bisa dibeli atau diulang: waktu, pertemuan, dan orang-orang yang kita sayangi. ❤️
ReplyDeleteDan hari ini menjadi semakin istimewa karena Al sayang sedang bertambah usia. Selamat ulang tahun, Al…
Semoga Allah selalu melimpahkan kesehatan, kebahagiaan, umur yang penuh berkah, rezeki yang luas, dan hati yang selalu dipenuhi rasa syukur. Semoga setiap langkah Al dimudahkan, setiap doa baik menemukan jalannya, dan waktu yang diberikan Allah selalu menjadi waktu yang indah untuk dibawa pulang sebagai kenangan.
Panjang umur dalam kebaikan ya, Al sayang. Semoga selalu dikelilingi orang-orang yang tulus menyayangi dan dicintai Allah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
ps.
salam sayang buat Intan,
May Allah always bless you, Intan, with good health, endless happiness, and a heart filled with peace. May every step you take be guided and protected, every good intention be rewarded, and every prayer you whisper find its way to Allah’s beautiful answer.. amiiin
Sebagai seorang ibu, saya bisa membayangkan bagaimana rasanya Mba Alaika menerima pesan “Mom, please pray for me” dari putinya yang sedang berada di pesawat dalam situasi seperti itu. Dan hadiah jam tangan Tissot setelahnya jadi terasa begitu dalam maknanya—bukan soal merek atau harganya, tetapi tentang waktu yang masih Allah izinkan untuk mereka miliki bersama. Benar sekali, sering kali kita sibuk mengejar banyak hal, padahal yang paling berharga justru waktu untuk duduk bersama, ngobrol, memeluk, dan mengatakan sayang. Tulisan yang sangat menyentuh, Mba Al.... dan jadi pengingat kami semua untuk lebih menghargai waktu bersama orang-orang tercinta.
ReplyDeleteDuh, Mbak Alaika. Jadi ikut terharu bacanya. Bukan masalah Tissot-nya ya mbak, tapi perkara apa yang dibawa pulang Intan setelah mengalami sesuatu yang membuatnya sadar betapa tipisnya jarak antara “masih punya waktu” dan “tidak punya waktu lagi." Kebanyakan dari kita, aku pun relate kok, banyak hal terjadi di mana aku pribadi baru benar-benar menghargai waktu setelah merasa hampir kehilangannya. Terima kasih udah berbagi dan happy birthday ya mbak.
ReplyDeleteMembayangkan situasi saat mendapatkan pesan dari ananda tercinta pasti hati dilanda berbagai perasaan, terutama khawatir.
ReplyDeleteIkut lega karena landing dengan selamat. Kado jam tanga itu bukan sekadar jam, melainkan pengingat bahwa waktu amat sangat berharga. Ngena sampai ke hati tulisannya.
Kalimat/paragraf penutupnya menyentuh banget. MasyaAllah jadi ingat betapa berharganya waktu saat orang-orang terdekat jauh dari pandangan mata. Aku teringat saat anak-anak masih kuliah di Bandung dan Jakarta, sementara aku dan suami tinggal berdua di rumah. Yang terasa melow itu adalah saat hujan turun deras. Langsung keinget mereka. Apakah sudah makan? apakah mereka tidak dalam kesulitan? apakah mereka berbahagia dengan sederet tantangan menyelesaikan kuliah? Teknologi memang bisa mewakili tapi sesungguhnya tidak bisa menggantikan ya.
ReplyDeleteAlhamdulillah mendarat dengan selamat. Memang ya terkadang kita suka lupa kalau waktu sangat berharga. Artikel ini juga bikin merenung apakah tetap rutin menjaga quality time dengan orang tersayang atau sudah mulai kendor.
ReplyDeleteTerima kasih untuk remindernya mbak. Bahwa waktu dan kebersamaan dengan orang yang dicinta itu sungguh hal yang tak ternilai harganya dan tidak bisa digantikan dengan apapun. Saya jadi refleksi lagi sama diri sendiri, untuk memaksimalkan momen-momen berharga itu bersama orang-orang tersayang.
ReplyDeleteKebayang siih betapa paniknya seorang ibu yang dapat pesan singkat dari putrinya soal kondisinya yang sedang nggak aman. Semisal, sedang di pesawat kayak putri kakak dan mengalami turbulensi. Mau bantuin juga gimana.
ReplyDeleteHanya bisa menunggu gelisah sambil berdoa.
Waktu memang sebuah misteri. Seberapa berkualitasnya waktu kebersamaan dengan orang-orang tersayang. Hadiah jamnya beneran bermakna ya, Kak.
MashAllah..
ReplyDeleteBarakallahu fiikunna, ka Alaika dan ananda shaliha..
Senang mendengar kisah yang penuh haru.. Semoga Allah senantiasa jaga ananda dan ka Alaika dalam rahmatNya, dilindungi dari segala keburukan.. Bisa menikmati waktu kebersamaan ini memang priceless moment bangeett.. Rasanya gimana yaa.. namanya Ibu melihat anak tumbuh dengan pribadi yang penuh cinta...
haduuuh...
ReplyDeletebaca suratnya aja , ikut terharu lho aku..
TIME memang the most precious yaaa...
apalagi kalo dihabiskan bersama orang tercinta .
apa kabarnya Mbak?
Maaf, lama gak BW kemari