All About Tsunami: The Survivors - Khai- Perjuangan Pulang | My Virtual Corner
Menu
/
Ini adalah rangkaian kisah para survivors tsunami, yang dikemas secara berkesinambungan dalam tautan berjudul 'All About Tsunami '. Kisah sebelumnya disini


Khai dan Perjuangan Pulang

Waktu merambat teramat lambat. Para survivors, dan orang-orang yang daerahnya hanya dijamah oleh 'sedikit' sisa gelombang, kini sudah beramai-ramai meninjau situasi. Membuat jalanan, dan daerah tempat di mana Khai berada, terasa kian penuh. Para survivors, yang tadinya kelelahan, juga tak mampu lagi bertahan. Rasa penasaran akan keluarga mereka, juga akan apa yang telah terjadi, menyedot seluruh akal sehat mereka untuk segera bertindak. Berpencar, mereka menelusuri jalanan, dan mulai terkaget dan terpekik, setiap menyaksikan mayat-mayat yang berserakan di berbagai area. Terlebih di dalam lokasi kuburan Belanda [Kherkoof]. Beberapa mayat terlihat telungkup di prasasti-prasasti makam yang biasanya indah terawat namun kini telah terselubung lumpur pekat. Mayat-mayat itu juga terlihat sangat menyedihkan. Ekspressi para mayat juga sungguh tragis, membekaskan saat-saat akhir mereka jelang maut. Ada yang mulutnya terbuka seperti menjerit panik, ada yang meringis, melolong, merintih, dan berbagai ekspressi lainnya. 

Image taken from here
Khai tak mampu meredam rasa kaget yang luar biasa menderanya, menyaksikan temuan demi temuan setiap langkah mereka semakin 'turun' ke bawah. Yang paling membuat matanya terbelalak adalah, hotel megah sekaliber Kuala Tripa, kini runtuh bak menara kertas! Ya Allah, betapa dasyat bala yang Engkau turunkan kepada kami kali ini. 

Tersentak oleh pemandangan mata yang melecut hati dan pemikiran, Khai berbalik arah, teringat akan motornya yang diikatkannya pada kabel tiang listrik. Dia berharap dapat membawanya sekalian pulang. Hatinya kini dipenuhi kekuatiran yang maha dasyat, menguatirkan nasib ayah bunda yang entah bagaimana. Ya Allah, lindungi ayah dan ibu hamba, ya Allah. 

Perjuangan untuk mencapai rumah seakan tiada akhir. Tubuh nan lelah, di tambah dengan beratnya medan yang harus ditempuh, hampir saja membuatnya putus asa. Reruntuhan bangunan, kayu-kayu dan aneka material lainnya, plus mayat yang bergeletakan sejauh mata memandang, sungguh menyajikan pemandangan yang tak akan pernah luput dari ingatan. Tak henti, Khai mau pun para survivors lainnya menyebut nama Allah, disertai rasa perih yang kian menyayat kalbu. Mereka terus berjalan, mencoba untuk sesegera mungkin mencapai rumah, atau mencari anggota keluarga mereka yang hilang tersapu gelombang. Semakin ke bawah, Khai semakin bertemu dengan banyak orang. Orang-orang dengan wajah pilu, putus asa, bertatapan kosong, namun ada juga yang histeris menangis. Aneka rupa ekspressi itu, membuat Khai semakin tak sabar untuk mencapai rumah. Bayang ayah dan ibu, semakin memacu semangatnya untuk bertahan. Tak lagi dihiraukannya rasa lelah dan beratnya jalanan yang harus ditaklukkan. Ditambah dengan harus menuntun sepeda motornya yang kini bak sapi ngambek tak mau lagi bekerjasama. Berat! 

Hari telah menjelang malam, ketika akhirnya Khai berhasil mencapai gang tempat tinggalnya. Itu pun setelah dia memutuskan untuk menitipkan sepeda motornya di rumah seorang temannya di Lampineng [daerah ini hanya tersapu 'ekor' gelombang], dan kemudian Khai melangkah pulang. Perjalanan yang tentu saja tidak mulus, karena hatinya yang penyayang, tak tega untuk terus melangkah sementara ada beberapa suara yang merintih membutuhkan bantuan. Maka beberapa kali, dihentikannya langkah, mencoba mengulurkan tangan, membantu korban yang terjepit di bawah tumpukan kayu, atau terjebak kayu-kayu yang memenuhi jalanan. Akhirnya, perjalanan panjang itu terhenti di depan gang menuju rumahnya. Jalanan penuh mayat dan tumpukan kayu sehingga tak mungkin untuk mencapai rumah lewat jalan biasa. Diputuskannya untuk memutar dari mushalla. Dan sesampai di mushalla, tertarik hatinya untuk singgah, mana tahu ayah dan ibu juga mengungsi di mushalla. Apalagi hari telah gulita, sungguh sulit rasanya menjangkau rumah tanpa secercah cahaya yang menerangi. 

Namun, informasi yang melegakan hati dari para tetangga, bahwa ayah dan ibu selamat, dan kini sudah pulang ke rumah, membuatnya tenang. Plong! Sehingga diputuskannya lah untuk menginap saja di mushalla bersama para survivors lainnya, dan besok pagi baru pulang untuk bertemu ayah ibu. Hatinya tiada henti memanjatkan puji syukur ke hadirat Ilahi Rabbi, yang telah menyelamatkan kedua orang tuanya. 

Dan, malam itu, Khai beristirahat dengan tenang, meluruskan tubuh yang terasa begitu lelah, rehat dan berusaha memulihkan tenaga, karena esok hari, pekerjaan berat telah menanti. 
Sama sekali tak disadarinya, di rumah, ayah dan ibunya dilanda mimpi buruk, menguatirkan dirinya yang tak ada kabar beritanya. Andai saja dia mau berkorban sedikit saja lagi, pulang, maka ayahnya tentu tak akan histeris dan terus menangis malam itu. Tapi Khai mana kepikiran sejauh itu, ditambah lagi tenaganya yang memang telah terkuras habis. Barulah keesokan harinya, anak muda ini, menangis tersedu menyaksikan betapa ayahandanya dilanda trauma dan masygul hatinya. 

Ikuti kisah berikutnya, tentang malam pertama yang dialami oleh para survivors di rumah kami. Tentang Bayu, Udin, Dr. Fanni, dan ayahandaku yang tiba-tiba menjadi lelaki yang berlimpah air mata. 


~ Bersambung ke sini ~


Sebuah catatan pembelajaran, tentang kisah tsunami dan para  penyintas [survivor]nya. 
Al, Kuala Lumpur, 21 Juli 2013
Diposting sembari menanti penerbangan lanjutan ke Istanbul.
40 comments

Nggak kebayang perasaan Khai ketika melangkah sementara ada beberapa suara yang merintih membutuhkan bantuan. Seperti adegan di film2, tapi itu adalah kenyataan yang dihadapi. :(

Reply

Dan waktu hari itu kami jg harap2 cemas menanti kedatangan adik mama dn keluarganya yg tinggal di lampaseh dan kakak sepupu di ule lhee. Trnyata mereka telah meninggal dunia..
* indah *

Reply

Mbaaaaa Al, merinding entah AC dan mendung diluar yang menambahkan aku membaca ceritamu...hiks, salam buat Khai. Maha Besar Allah yang menyelamatkan orang terkasih dari Mba Al,

Salam
Astin

Reply

Mba Al, aku masih ingat tayangan dulu di TV...mengerikan sekali...sedih dan menyayat hati..., bagaimana yg lgs mengalaminya ya.

Reply

terbayang perasaan sanak family saya yang kehilangan kerabatnya waktu kejadian di aceh :(

Reply

alaika...nanti dibukuin yah kisah2nya biar seruuu

Reply

Ya begitu deh, Mbak. Mengharu biru. Sedih. :(

Reply

Lampaseh dan Ulee Lheue memang merupakan area yang parah banget kena gulung tsunami, ya Indah? :(
Turut berduka cita dan semoga mereka kini sudah berada di tempat yang layak di sisi Allah SWT yaaa. Trims sudah setia mengikuti postingan 'all about tsunami'. :)

Reply

Alhamdulilah atas anugerah Allah SWT, yang masih melindungi keluarga inti kami. Ayah, ibu dan Khai akhirnya bisa survive dari terpaan gelombang dasyat itu. Trims atas kunjungan dan komentarnya, Mbak Astin. :)

Reply

HIks... memang sungguh menyedihkan, Mbak Fitri. :(

Reply

Memang ada rencana untuk dibukukan ini, Mas Necky. :)

Reply

sampai hari ini kami masih merindukan mereka kak al,sangat...
* indah *

Reply

membaca saja begini rasanya, bagaimana yang mengalami langsung ya mak? :(

Reply

Jauh bener perjalanan pulangnya ya mak, sampai menginap di musholla segala. Terbayang segala hal yang menghentikan Khai di tengah jalan, mayat2 itu, orang2 yang terluka, puing2, lumpur, hingga perlu waktu sekian lama untuk mencapai rumah.

Reply

Absen dulu :) masih menunggu kisah selanjutnya. Subhanallah. Semua bertakbir, bertasbih, dan beristighfar ketika ditimpa bencana ini. Sungguh salut kepada para survivor!

Reply

lihat foto-foto korban bencana/mayat di aceh sungguh memprihatinkan. Ceritanya mengharukan.

Reply

Sy baca postingan yang Khai sedang berada di dkt pantai. Jd ingat wkt nonton berita saat kejadian, katanya byk yg menjadi korban adalah yg saat itu berada di pantai. Terutama ketika stlh gempa kemudian air laut menjadi surut kemudian banyak terlihat ikan2 yang menggelepar membuat warga menjadi gembira dan kembali ke laut. Ternyata tanpa mereka sadari dari kejauhan tsunami mulai datang, dan mereka terlambat untuk menyelamatkan diri. Untung Khai memutuskan untuk pulang, ya, Mbak. Alhamdulillah

Reply

membayangkan seorang ayah tumpah ruah tangisannya tentu suasana emosi ketika itu sungguh haru. Aku pernah berkeliling kota aceh melihat bekas2 tsunami diantar kaka sepupu dan suaminya (suaminya aceh asli). Itu saja sudah haru apalagi mengalami langsung.

Reply

aduh mbak membayangkannya aja sudah sedih apalagi yang merasakannya langsung ya

Reply

Tekad dan rasa sayang itu kekuatan yang luar biasa. Khai membuktikan hal itu. Subhanallah....

Reply

Mengalami langsung pasti bikin hati lebih miris lagi, ya, Mak? :(

Reply

Iya, padahal jarak dari tempat Khai berada [Stui] ke rumah kami itu, normalnya cuma butuh waktu 20 menitan deh. Tapi karena jalanan penuh lumpur, reruntuhan dan mayat, jadinya begitu deh. :(

Reply

Iya, Mak. Yang membedakan para survivors ini adalah saat mendapat musibah, mrk bertakbir, beristighfar, bertasbih memasrahkan diri kepada sang Khalik. Juga mereka adalah orang-orang yang tabah. Itu yang menurut para expatriat terutama para konselor trauma healing kagum, ketabahan dan kepasrahan diri ini lah yang menghindarkan mereka dari bunuh diri saat depresi karena kehilangan anggota keluarga oleh tsunami.

Reply

Memang seperti itulah adanya, Mas. :)

Reply

Iya, Mbak. Mendengarkan cerita langsung dari penduduk tepi pantai yang selamat, memang begitulah adanya. Ikan2 menggelepar, membuat daya tarik tersendiri untuk turun menangkapnya, dan di sanalah masyarakat banyak menemui ajalnya. HIks. Namun yang mendapatkan feeling atau panggilan gaib untuk berlari ke tempat yang lebih tinggi, dan menurutinya, mereka selamat. Subhanallah.

Iya, Mbak Chi, Alhamdulillah, Khai dan ke lima temannya memutuskan untuk pulang, sayangnya 4 teman lainnya kemudian menjadi korban tsunami. :(

Reply

Iya, Mbak Pu. Laki-laki jarang sekali menangis, kecuali hatinya benar2 pedih dan nelangsa. Pedih dan nelangsa tingkat tinggi, itulah yang mampu membuat mereka berlimpah air mata, dan itulah yang dialami ayahku malam itu. Memikirkan anandanya yang tadi pagi main ke pantai.

Reply

Sedih kalau melihat bencana seperti itu jadi ingat keluarga.

Reply

Mba Erin juga asal Aceh kah?

Reply

Turut berduka cita saja, semoga amal baik dari para korban diterima disisinya. (amin)

Reply

Lagi2 saya hanya bisa berdoa semoga musibah tsunami itu tak pernah datang lagi di bumi pertiwi.
Lama nggak mampir ke sini, ternyata Mbak Alaika melancong ke manca negara ya.
Selamat melakukan perjalanan, selamat berpuasa.
Salam!

Reply

denger kabar orgtua selamat aja udah bersyukur bnget smpai lupa kalo orgtua jg psti khawatir yah, tp alhamdulillah ka, keluarga-ny selamaaat yah :')

Reply

Trimakasih, Pak Mars. Iya, sedang melancong ke negeri orang nih. Aamiin utk doanya. Doa yang sama untuk Pak Mars sekeluarga juga di tanah air. :)
Saleum.

Reply

Iyaaa, jd lupa deh dia untuk mengabari keluarga. :)

Reply

Selalu seperti itu ya..., anak2 kadang lupa memikirkan perasaan orang tua dan padahal orang tua tak pernah lepas memikirkan anak2nya.

Reply

semoga mereka yang telah berpulang, mendapat tempat terbaik di sisi-Nya ya.. amin..

Reply

tsunami musibah alam yang sangat menakutkan, semoh=ga menjadi pelajaran bagi manusia

Reply