Menu
/
Ini adalah rangkaian kisah para survivors tsunami, yang dikemas secara berkesinambungan dalam tautan berjudul 'All About Tsunami '. 
Kisah sebelumnya di sini.

Di Pantai Ulee Lheue, 
07:58:53 Wib. Minggu, 26 Desember 2004

Image taken from here
Khai bersama ke lima temannya yang rata-rata berusia dua puluh empat tahunan, sedang asyik menyantap lontong sayur sebagai menu sarapan pagi mereka. Ke enam pemuda itu memang sengaja hang out di pantai Ulee Lheue, pagi itu. Tak satu pun dari mereka yang berminat untuk mandi laut, bergabung dengan orang-orang lainnya yang sedang asyik berenang atau bermain bola air di dalam birunya air laut yang begitu indah. Baik pantai mau pun laut, terlihat ramai sekali. Tampaknya banyak orang yang memang sengaja having fun di pantai Ulee Lheue yang memang terkenal indah, dengan pasirnya yang bersih dan lautnya yang 'aman' jika dibandingkan dengan pantai lainnya.


Namun, tiba-tiba Khai menghentikan suapan terakhirnya. Mendadak kepalanya serasa berputar. Pusing dan mual. Masuk anginkah dirinya? Ditatapnya sekeliling dan ya ampun. Ternyata bukan kepalanya yang terasa berputar. Tapi memang bumi sedang bergoyang! Aneh! Namun matanya yang menangkap beberapa anak yang sedang berlarian mengejar bola, jatuh terbanting ke tanah, membuat pikirannya kembali jernih. Gempa! 

"Gempa! Ayo kita keluar!" Seru seorang temannya hampir bersamaan dengan seruan Khai. Tak hanya mereka, semua orang yang ada di warung kecil terbuka itu, berlarian ke luar. Mencari tempat terbuka, dan memutuskan untuk duduk, setelah posisi berdiri justru membuat mereka oleng dan pusing. Sebuah gempa berskala besar sedang mengguncang bumi. Itu yang mereka sadari dan sepakati. Ya, ini bukan gempa biasa. Anehnya, orang-orang di laut sepertinya tidak merasakan guncangan ini. Malah masih asyik berenang dan bersenda gurau. 

Orang-orang di pantai yang panik, berseru keras, dan memperagakan bahasa isyarat, memanggil dan memperingatkan orang-orang yang sedang berendam air itu. Beberapa dari mereka, mulai memperhatikan aksi peringatan orang-orang yang berada di darat, dan menular ke orang-orang lainnya. Refleks, mereka segera meninggalkan birunya air laut dan bergabung dengan orang-orang lainnya di pantai. Hampir kesemua mereka memilih posisi duduk. Duduk bersila di atas lembutnya pasir pantai, seraya berzikir menyebut asma Allah . Mungkin itulah yang membedakan antara para saksi mata dan korban tsunami di Aceh dengan para saksi mata dan korban tsunami di belahan negeri lainnya. 

Ini adalah gempa dengan magnitude terdasyat dan terlama yang pernah mereka rasakan. Sembilan koma satu Skala Richter dengan durasi 500-600 detik [10 menitan]. Cukup untuk membuat mereka panik dan menyangka bahwa proses kiamat telah dimulai. 
Guncangan berhenti, menyisakan pusing dan mual pada diri mereka, namun akal sehat mereka, sepakat memandu gerakan tubuh mereka untuk segera bangkit, bersiap untuk meninggalkan pantai. Sigap mereka menuju parkiran sepeda motor, dan langsung melajukannya untuk pulang. Rumah, adalah tujuan utama masing-masing orang. Memastikan keadaan dan situasi akibat gempa yang begitu dasyat. 

Dalam sekejap, jalanan Ulee Lheue dipenuhi kendaraan yang bergerak cepat meninggalkan lokasi. Namun kemacetan tak terhindarkan karena semua orang ingin segera cepat sampai ke tujuan mereka. Untungnya Khai dan teman-temannya mengendarai sepeda motor sehingga jadi lebih leluasa menyalip di antara padatnya kemacetan. Tujuan 'pulang' yang berbeda, membuat keenamnya akhirnya berpisah jalan. Khai baru saja melewati lapangan Blang Padang ketika tiba-tiba saja matanya menangkap gerakan benda hitam yang mengalir cepat dari arah belakangnya via kaca spion motornya. Awalnya Khai mengira itu air, tapi kok hitam dan gerakannya begitu cepat?

Refleks, dipacunya kendaraannya lebih cepat, mengikuti instingnya yang memerintahkannya berbelok arah begitu dia mencapai Simpang Empat Stui. Belok kananlah dia memasuki jalan Teuku Umar [arah Stui]. Baru saja melewati Kerkhof [kuburan Belanda], sebuah tiang listrik yang tumbang, dengan kabel yang terjuntai, telah menghambat laju sepeda motornya. Tak punya pilihan lain, apalagi kaca spionnya memperlihatkan dengan jelas air hitam mengerikan itu terpecah arah tepat di simpang empat, tak jauh di belakangnya. Ketakutan yang luar biasa menghantui hatinya. Ya Allah, apa itu? Air apa itu? Pekat sekali dan sungguh mengerikan. Namun tak diberinya waktu bagi pikirannya untuk menelaah lebih jauh, karena otaknya memerintahkannya untuk menarik kabel yang terjuntai itu, secepat kilat mengikat bagian stang sepeda motornya agar tidak terseret arus, dan kemudian Khai berlari kencang menjauhi 'arena'. Pecahan air hitam yang mengejarnya memang tidak lagi berkekuatan luar biasa, namun cukup untuk merendam tubuhnya dan membuatnya panik.

Kepanikan jelas tak hanya milik Khai, karena puluhan atau bahkan ratusan orang-orang di sekitarnya juga mengalami hal serupa. Mereka terus bergerak, membawa langkah yang kian berat karena rendaman lumpur, untuk menjauhi lokasi. Lelah, namun semangat untuk tidak menyerah membuat mereka terus bergerak, hingga akhirnya mereka sampai di Simpang Lamteumen. Air hitam terlihat di mana-mana, mengerikan, apalagi di arah Lamteumen, sungguh berkekuatan luar biasa. Khai dan para survivor membawa langkah mereka ke arah Keutapang/Jl. Sudirman, yang terlihat lebih aman dari jangkauan si hitam [air tsunami]. Barulah kemudian, mereka bisa bernapas sedikit lebih lega, meyakini diri telah lebih aman di banding berada pada lokasi sebelumnya. Namun tak ayal, apa yang baru saja mereka alami, jelas tak mampu menghindarkan pikiran dan akal sehat mereka, untuk menguatirkan keadaan rumah dan keluarga masing-masing. Apalagi yang lokasi rumahnya berada di daerah-daerah yang berdekatan dengan pantai. Ya Allah, selamatkan keluarga kami. Itulah doa yang bertubi-tubi mengalun dari hati mereka. Was-was dan panik. Apalagi komunikasi telah terputus, dan kebanyakan hape mereka juga telah terendam oleh si hitam pekat nan mengerikan itu.

Kelelahan yang luar biasa mendera tubuh. Membuat para survivors ini terpaksa menurutkan keinginan tubuh mereka untuk jeda sejenak dari langkah selanjutnya, yaitu berusaha untuk kembali ke rumah mereka masing-masing. [Hal ini juga disebabkan oleh karena, mereka sama sekali tak menyangka, jika di luar tempat mereka berteduh ini, ternyata kerusakan yang terjadi sungguh di luar dugaan]. Mereka mengira, air bah tadi, telah menghasilkan kehancuran yang sama seperti yang ada di hadapan mereka saat ini, dalam artian, sebuah banjir besar, yang telah merendam jalanan, bangunan dan rumah-rumah beserta kerusakan di sana sini. Sama sekali tak terbayangkan bahwa di area lain, jauh dari lokasi mereka saat ini, banyak tubuh yang telah bertumbangan, tertimbun reruntuhan, puing dan aneka kehancuran lainnya.

Khai jelas menguatirkan ayah ibunya, namun pemikirannya sama sekali tak sampai ke hal-hal tragis yang lebih parah lagi. Paling, rumahnya juga ikut terendam seperti yang terjadi di lokasi ini. Semoga saja kini ayah dan ibu, sedang istirahat di lantai atas. Doanya.
Barulah pada saat pulang, mata dan hati Khai terbelalak, mendapati kenyataan yang sungguh di luar dugaan. Tak ada kata yang mampu menggambarkan pemandangan mengerikan yang terpampang di depan matanya, selain kata mengerikan, tragis! Kenyataan yang bahkan tak mampu mencegah mata para lelaki untuk tidak ikut menangis, histeris dan panik!

Nantikan kisah Khai dan para survivors yang berjuang penuh untuk bisa mencapai rumah, menembus belantara mayat dan reruntuhan, dan bertarung dengan lumpur pekat nan kian memperberat langkah.


Sebuah catatan pembelajaran, tentang kisah tsunami dan para  penyintas [survivor]nya. 
Al, Bandung, 15 Juli 2013

29 comments:

  1. penasaran kak al, dipercepat lanjutannya ya.
    * indah *

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, Insyaallah. Indah, saya ingin mengenal kamu deh. Boleh kirim nomor kamu ke alamat email saya. admin@alaikaabdullah.com Biar bisa berkomunikasi. Trims. :) trima juga sudah setia mengunjungi blog ini yaaa. :)

      Delete
    2. Gak pingin kenalan lebih lanjut dengakuh, Mba? Hihihihi

      Delete
  2. daerah tempat Khai terhenti ini lebih tinggi dari daerah lainnya ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya bukan lebih tinggi sih, Kak, tapi gelombang terpecah di simpang empat itu, sehingga kekuatannya tidak lagi sekuat aliran ke tempat lainnya. Jadi air yang sampai ke tempat ini adalah air 'ekor'. :)

      Delete
  3. besok kelanjutanya ya mbak.. biar gak penasaran ttg Khai yg penuh perjuanhgan utk pulanhg

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insyaallah. Nih sedang mencoba bikin bbrp artikel terjadwal, biar ngga kosong selama diriku pergi. Nantikan kelanjannya esok yaa. Makin bikin was-was dan mengharu biru deh. :)

      Delete
  4. Saya tidak bisa membayangkan saat2 sedang dipantai, kemudian ada gempa sedahsyat itu, Mba.
    Ibu dan Bapak Khai piye ya? Nelangsaaaa. . .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kisah ayah dan ibu bisa dibaca pada postingan sblmnya Dah. :)

      Delete
  5. Duduk disebelah Noorma menanti kelanjutan kisah mengharukan ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trimakasih sudah setia berkunjung, menikmati dan menanti lanjutannya, Mbak cantik! :)

      Delete
  6. ikutan..nunggu lanjutannya..salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trimakasih atas kunjungan, dan komentarnya, mbak, salam kenal yaaa. :) Sila ditunggu lanjutannya. :)

      Delete
  7. gak kebayang yah liat air jadii hitam :(

    ReplyDelete
  8. Mba Al...ditunggu banget kelanjutannya, yang ini bikin deg degan yang selnjutnya pasti bikin menghari biru,atau mungkin sesenggukan,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silahkan meluncur ke sebelah untuk membaca lanjutannya, Mbak Meta.

      Delete
  9. Alhamdulillah, Khai malah bisa menyelematkan diri meskipun dari pantai. Gimana itu rasanya berkejaran dengan maut gitu ya? Allahu akbar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak, rasanya bagai beroleh mukjizat yang luar biasa pastinya. :)

      Delete
  10. Alhamdulillah ternyata selamat :) Ditunggu kelanjutannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silahkan ke halaman sebelah untuk lanjutannya, Mba Lina. :)

      Delete
  11. Subhanallah.. Aku baca dari awal sampai postingan kali ini, membuat hati bergetar...

    Tak sabar menantikan kelanjutan ceritanya mbak Al...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trimakasih sudah berkunjung dan membaca kisah ini, Mbak. Silahkan ke halaman sebelah untuk lanjutannya. :)

      Delete
  12. pu membayangkan tentu khai ngebut luar biasa dg motornya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, yang bersepeda motor lebih leluasa dalam menyalip dan melarikan diri sekencang2nya, Mba Pu.

      Delete
  13. Kisah yang mendebarkan sekaligus menggetarkan mbak... Jadi, jika Khai tahu bahwa kerusakan di tempat lain jauh lebih parah mungkin dia akan berusaha sebisa mungkin utk menjangkau rumah tempat ayah ibu tinggal ya?

    ReplyDelete
  14. ...

    duh Gusti... betapa paniknya...

    ReplyDelete