Powered by Blogger.

Budaya Aceh: Peutron Aneuk Mit

Posted by Alaika Abdullah On 5/04/2013
Budaya Aceh: Peutron Aneuk Mit

gadis kecil nyantai
pinjem dari sini dan dimodiv

Sebenarnya ingin menuntaskan postingan tentang Srikandi Blogger 2013 lebih dulu sih agar khatam. Namun perbincangan via telefon dengan putri tercinta, yang sedang kebagian tugas dari sekolah untuk bikin artikel tentang budaya Aceh, selain Peusijuk, akhirnya membuat tema postingan jadi melenceng deh. Ga papa lah ya, Sobs, jika kali ini kita dahulukan dulu bahan bacaan untuk si putri tersayang, yang saat ini sedang menanti di ujung barat pulau Sumatera, alias di Banda Aceh.

And for you, my dear diamond, ready for the story kan, nak? Ok, yuk kita mulai yaaa. :)

Mungkin banyak di antara kita yang sudah familiar dengan kata PEUSIJUK? Atau malah sebagian besar sobats, baru ini pertama kali mendengar/membacanya? Ah, masak sih, Sobs?

Oke, baiklah, kucoba untuk menceritakan sedikit saja tentang tradisi yang satu ini ya, karena kita kan harus strict to the title of the post tuh, Sobs, yaitu PEUTRON ANEUK MIT. Jadi porsi untuk PEUSIJUK cukup dikit aja deh, terlebih lagi, ananda Intan kan sedang menanti informasi tentang topik sesuai judul di atas tuh, Sobs!

PEUSIJUK [di daerah lain dikenal dengan istilah 'tepung tawar']


credit
adalah merupakan tradisi [adat] turun temurun, warisan budaya masyarakat Aceh yang dilakukan untuk mengharapkan keberkahan dari Allah SWT terhadap object yang di peusijuk. Object disini bisa berupa orang, kelompok, atau pun benda. Misalnya peusijuk dara baroe [peusijuk pengantin wanita], peusijuk linto baroe [peusijuk pengantin pria], peusijuk aneuk wisuda [peusijuk anak yang baru selesai wisuda], peusijuk kantor baru, peusijuk para pengurus sebuah lembaga, dan lain sebagainya.  Peusijuk juga merupakan sebuah kearifan lokal [local wisdom] masyarakat Aceh dalam menyelesaikan suatu sengketa dan memulai sesuatu yang baru, serta berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan dan tata cara hidup bermasyarakat. Kentalnya Islam dalam kehidupan masyarakat Aceh pun, menjadi penyempurna warisan budaya ini.

Uraian lengkap tentang ragam Peusijuk ini bisa dibaca di sini, juga di  sini ya, Sobs!

PEUTRON ANEUK MIT

Nah, untuk anak Umi, sekarang baru deh kita cerita tentang budaya yang satu ini, udah pernah dengar belum nak? Budaya ini sebenarnya bukan hanya dimiliki oleh masyarakat Aceh, melainkan juga merupakan budaya dari suku-suku lain juga. Namun hanya berbeda pada nama dan detail prosesinya. Mungkin secara bahasa Indonesia, prosesi/tradisi ini dikenal dengan nama 'turun tanah'. J


peutron sinyak
foto koleksi pribadi, bagian atas adalah prosesi turun tanah [peutron aneuk mit]
dan bagian bawah adalah Peucicap
Hayoo, kira-kira anak Umi kenal ga dengan laki-laki yang menggendong bayi itu? Hihi. Fotonya udah jaman banget ya, Nak? Habis Umi kesulitan nyari foto tentang Peutron Aneuk Mit di rumah mbah Google, ada satu yang bagus, tapi Mbah Google ga berani ngijinin kita untuk menggunakannya karena foto itu di-protect dan ga boleh digunakan sebelum dapat ijin langsung dari pemiliknya. Dan karena kita butuh informasi ini segera, Umi jadi ingat, bahwa di album Umi masih ada foto waktu Om Key 'turun tanah/Peutron Aneuk Mit' dulu. Yes, dan itu adalah Abuchik waktu masih muda. Sst, jangan bilang-bilang kalo Om Key cilik nampang di sini yaaa. Hihi, ntar dia minta royalti deh. Haha.

Well, back to the topic, adat Aceh yang satu ini dilaksanakan pada bayi yang telah memasuki usia 44 hari [namun ada juga yang melakukan tradisi ini pada saat si bayi berusia 7 hari, jadi tergantung pada daerah Aceh masing-masing]. Prosesi ini merupakan upacara pengenalan sang bayi, pertama kalinya terhadap alam sekitarnya. Biasanya, si bayi akan diturunkan ke halaman rumah oleh seorang ulama [orang yang alim] dan terpandang, dengan harapan agar si bayi kelak akan mengikuti perangai dan akhlak mulia sang ulama tersebut. Di sana juga akan ada prosesi PEUCICAP [mencicipkan makanan orang dewasa kepada si bayi], agar kelak si bayi tumbuh menjadi manusia dewasa yang normal dan berakal sehat.

PROSESI PEUTRON ANEUK MIT

Si bayi akan digendong dan dibawa ke halaman rumah dengan dipayungi, lalu orang yang menggendong akan berjongkok di bawah selembar kain panjang yang dibentangkan oleh 4 orang yang memegang masing-masing ujung kain. [Lihat foto di atas]. Lalu orang tersebut akan menurunkan si bayi secara perlahan dan menjejakkan kakinya ke tanah. Sementara itu, seseorang akan membelah kelapa, di atas kain yang dibentangkan tersebut dengan tujuan agar si bayi kelak tidak takut dengan suara petir yang menggelegar. Lihat foto di atas. Dalam upacara ini juga akan diiringi dengan lantunan syair dan lagu-lagu Islami.

Kelapa yang telah dibelah, akan diberikan [sebelahnya] kepada pihak orang tua ayah si bayi dan sebelah lagi kepada pihak orang tua ibu si bayi, dengan harapan agar kedua belah pihak tetap kekal dalam persatuan, rukun damai, kompak dan teguh dalam persaudaraan.

PEUCICAP

Setelah prosesi Peutron Aneuk Mit, maka selanjutnya si bayi akan dibawa ke dalam rumah, di mana telah disiapkan tempat dan makanan untuk dicicipkan kepada si bayi. Adapun makanan yang menjadi menu untuk Peucicap biasanya adalah berupa tumpoe [makanan khas Aceh yang terbuat dari tepung ketan dicampur adonan pisang yang digoreng], ketan kuning, paha ayam dan kurma, plus air zam-zam jika ada. Setelah prosesi Peucicap ini, lalu bayi akan dibawa berkeliling rumah, disertai lantunan shalawat nabi dan syair-syair Islami.

Biasanya nih, Nak, bagi ortu yang mampu, prosesi ini akan dilanjutkan dengan kenduri [mengundang para kerabat dan handai tolan untuk menikmati makanan yang disediakan]. Para tetamu yang hadir ini, biasanya akan memberikan sedekah uang kepada si bayi, dengan cara meletakkannya di dalam ayunan si bayi yang ditelah dihias sedemikian rupa, dan diletakkan di tengah ruangan.

Nah, begitu deh ceritanya tentang tradisi Peutron Aneuk Mit, yang merupakan salah satu dari tradisi masyarakat Aceh. Mudah-mudahan anak Umi dapat menangkap sebuah filosofi di sini ya nak, bahwa tradisi ini dilakukan sebagai tanggung jawab orang tua terhadap anaknya, dimulai dengan memperkenalkan si bayi kepada lingkungan sekitarnya, memberinya kasih sayang, pangan, sandang dan papan serta ilmu pengetahuan kepada si bayi, hingga dapat menjadi anak yang sholehah  nantinya. :)

Semoga dapat dimengerti ya sayang. Selamat mengerjakan tugas, sayangku! Dan bagi para sahabats yang mengikuti artikel ini, semoga ada manfaat yang dipetik dari postingan ini ya, Sobs! Have a nice week end!

sebuah catatan /informasi untuk buah hati tercinta,  as requested. 
Al, Bandung, 4 Mei 2013

37 comments:

  1. Menarik...
    Kalau di Jawa setauku ada namanya tedhak siten (injek tanah) tapi pas udah bisa berdiri gitu... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, setahuku di Jawa juga ada tradisi ini, Na, jd namanya tedha siten toh? :)

      Delete
    2. tedhak sinten @.@
      kyknya pernah denger deggh.

      emang tiap daerah punya budaya masing2. Asyik juga yak budhe masih bisa cerita cerita gini
      "dulu, mama kamu ini nak" bla bla bla bla.
      kalo aq ntar dah jadi bapak, ntar cerita sama anak q apaan yak??
      "dulu bapak ini nak, kopdar dar dar"

      mungkin kopdar jadi budaya suatu saat nanti :D

      Delete
    3. Iya, stiap daerah emang punya tradisi msg2, yg biasanya hampir mirip..
      He he, iya ya, siapa tau ntar jd budaya tuh Kopdar.. :D

      Delete
    4. semuanya ku pernah tau, tapi sayangnya udah jarang sekarang... jadi bingung kalo mau hunting liat suasana realnya...

      Delete
  2. Wah...betapa kayanya budaya negri kita ini ya, btw aq suka bgt mkn mie aceh..hhhmmmm ajib.*jadi melapar*

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, Mbak, Indonesia memang kaya segalanya, terutama adat dan budayanya. :)
      Mie Aceh? ku juga suka banget mba. :) Yuk kapan2 kita makan bareng?

      Delete
  3. Aiiiihhhh..baiknya ummi yang satu ini :)

    ReplyDelete
  4. Intan yg dapat tugas, aku jadi ikut pinter deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, semoga bermanfaat dlm menambah wawasan ttg khasanah budaya bangsa ya, Mba. :)

      Delete
  5. Namanya susah Mbak Al..Dan menarik sekali upacara turun tanah di aceh. Aku gak tahu apakah upacara ini ada juga di Minang, secara gak pernah lihat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mb Evi, ntar di Solo aku ajarin cara mengucapkannya yaaa. Hehe. Ikut kan nanti, Mbak? :)

      Delete
  6. Hmm.. mengucapkannya bagaimana yah Peutron Aneuk Mit ini? Peucicap? apa bunyi EU dibaca E saja seperti orang Sunda? seperti peuyeum dibaca peyem?

    BTW jadi kenal nih tradisi Aceh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, susah kalo ga mendengar langsung pengucapannya, Mba. :)
      Sedikit berbeda dari pengucapan Sunda deh, lafalnya adalah perpaduan e dan u, jd U nya tidak hilang.

      Delete
  7. so sweet, mbak Al...
    menuliskan sesuatu yg sangat bermanfaat utk Ananda disini, berguna sbg pengetahuan buat kita2 juga. :-)

    Kearifan lokal sangat beragam, betapa kayanya yah.. Di Jawa budaya turun tanah ada juga kan yah mbak, walaupun sy ndak melakukannya lagi entah kenapa.. :-D

    Apa di semua daerah di Indonesia ada budaya turun tanah ini dgn caranya masing2 ya?

    thanks sharing nya mbak Al ;-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, soalnya blm byk artikel ttg tradisi ini yg bisa ditemukan, jd sekalian nambah2 info deh. Selain itu jg, Intan lbh sng bc info lewat tulisan Uminya, jd serasa sdg ngobrol deh sm Umi...:)

      Delete
  8. Betul, tradisi seperti ini juga ada di tanah Jawa, namanya"Tedak Siten" atau turu tanah.
    Semoga budaya ini terus terjaga dengan baik agar tak dkomplen tetangga ha ha ha.
    terima kasih informasi sehingga saya tahu tentang budaya atau adat istiadat yang menarik di negerio tercinta.
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. He he, iya Dhe, mari kita lestarikan budaya bangsa kita agr ga dicaplok oleh negeri tetangga. :)

      Delete
  9. nggak kebayang mbak, gimana susahnya orang tua waktu menginjakkan kaki anaknya di tanah, sedangkan dia masih berusia 44 hari :)

    artikel menarik, mbak. jadi ngerti adat aceh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. He he, begitulah tradisi...:)
      Trims atas kunjungannya yaa... :)

      Delete
  10. Aku baru tahu nih, Mak. Biasanya dengar yang tradisi di jawa aja. Tfs. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. He he, smg nambah wawasannya ya, Mak. :)

      Delete
  11. aneh juga ya mbak sebutan untuk acara tampung tawar ini. beraneka ragam suku dan budaya pasti punya nama sendiri walaupun dari sisi tujuan mungkin sama. eh sorry kalo di kampung gue namanya TAMPUNG DUDUS

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, setiap daerah pasti punya adat dan budayanya sendiri ya, Bung. Juga nama dan sebutan tersendiri, walau mungkin prosesi dan tujuannya hampir senada. :)

      Delete
  12. Benar-benar Emak Srikandi yang patut dibanggakan keluarga nih, memberikan penjelasan yang luas pada anak termasuk saya dengan kekayaan tradisi aceh. Meski sulit saya menghafal dan mengucapkan lafal istilah-istilah, namun penjelasannya lebih gamblang. Ditempatku, tradisi-tradisi semacam ini sudah sangat sangt jarang ditemukan Mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maklum Pak Ies, jadi ibu dan anak yang terpisah oleh jarak ribuan kilo, dan hanya terhubung oleh kecanggihan teknologi ya harus seperti ini. :) Keep connected and inform each other nama kerennya. :)

      Di Aceh sendiri, masih lumayan banyak keluarga yang menyelenggarakan upacara ini, melestarikan budaya leluhur. :)

      Delete
  13. Nice!! Aku asli Manado, mungkin ada juga kayak beginian ya di sana tapi gak pernah ada sih dikeluargaku bikin2 kayak gini. Paling potong rambut, akikahan, sunatan, yang begitu aja. Baca postingan mbak Al gak kayak baca sejarah tapi kayak lg baca dongeng hehe... Very interesting!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, akhirnya terpulang kembali kepada keluarga masing-masing, Mbak. Ada yang masih ketat memegang adat dan tradisi leluhur, ada pula yang mulai meninggalkannya. Semua tentu punya alasan masing2. :)

      Hehe, kayak ibu yang sedang mendongeng pengantar tidur ya, Mbak? :D

      Delete
  14. Kalo di perancis namanya Go to Underground! Hehehe, kalo jawa pelosok disebut "dun-dunan" atau "mudun-mudunan". Mudun (bs. Jawa) artinya turun. Maksudnya pertama kali bayi diturunkeun ke tanah! ;-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, itu kalo di Inggris kali Sak! :)

      Delete
  15. jadi tau adat budaya aceh nih, thanks penjelasannya pals....salam dari medan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2, semoga menambah wawasan budaya bangsa yaaa. :)

      Delete
  16. iya seperti turun tanah ya kak alaika. Wah sedang bercerita dg puteri tercinta, luar biasa kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. He eh, bener banget, Mba Pu. MIrip dengan tradisi turun tanah, mungkin prosesinya aja yang sedikit berbeda?

      Beginilah cara kami berkomunikasi, Mba Pu. Konsekuensi dari LDR. Jadi bantu anak dan berinteraksi dgnya juga by online. :)

      Delete
  17. Instructional classes Learned Out of your Laundry Area: How Corporation Pays Rewards

    My webpage ... schematic

    ReplyDelete
  18. A residential district Of Support For the Affected From Chronic Myeloid Leukemia

    My web-site :: paday loans uk - http://fbs3pcu113.leeds.ac.uk -

    ReplyDelete

About Me

Google PageRank Checker
Protected by Copyscape DMCA Copyright Detector