Ultah si Yatim | My Virtual Corner
Menu
/
Allah menitipkannya padaku suatu ketika, melalui perantara sakitku kala itu. Yup, ibunya adalah perpanjangan tangan-Nya dalam penyembuhan diriku. Jadilah kami bersahabat bahkan bersaudara. Sayangku bertumbuh pada keduanya, ibu dan anak yang tak lagi memiliki sanak keluarga ini, bukan saja karena kesembuhanku berkat perawatannya, melainkan karena ada haru dan nelangsa di relung jiwa, setiap terkenang akan perjalanan hidup keduanya.

Sebuah perjalanan yang tak mudah. Menjadi mualaf dan tertatih di dalam ketidakberdayaan ekonomi, keduanya harus berusaha untuk survive. Berapalah uang yang dihasilkan dari memberikan jasa pengobatan alternatif? Tidak seberapa. Bahkan bisa dimasukkan ke dalam kategori rezeki harimau, yaitu suatu rezeki tak terduga, yang habisnya juga dalam sekejap juga.

Bagi banyak orang, hidup ini memang tidak mudah. Termasuk bagi Dijah, ibunda si yatim ini. Kepedihan hidup dimulai kala sang suami kembali ke pangkuan Ilahi. Belum lagi hati benar-benar ikhlas akan kepergian putra tercinta, eh sang suami justru menyusul sebulan sesudahnya. Tentu, dunia terasa gelap, dan hati pun terasa lembab. Kemana harus melangkah? Dunia seakan kehilangan arah. Belum lagi, ternyata kepergian sang suami, meninggalkan tanda cinta terakhir di dalam rahim, yang sayangnya, tak sempat disadari. Karena kehilangan dua orang terkasih dalam waktu yang begitu dekat itu, cukup memberikan pukulan telak bagi jiwa hingga batinnya tersiksa, bahkan harus berakhir di rumah sakit jiwa.

Tiada yang tahu, bahwa kala itu, dirinya sedang mengandung, sehingga suntikan penenang seringkali diberikan kepadanya agar dirinya tak hiperaktif melakukan protes akan buruknya nasib kehidupan. Barulah ketika perutnya membesar di rumah sakit jiwa itu, para dokter terkejut dan panik. Benar saja, si yatim yang dikandung akhirnya lahir dalam keadaan hydrocephalus alias berkepala besar.

Yeah, tak patut kita menyalahkan sang Maha Kuasa, tiket menuju syurga bagi setiap orang memanglah berbeda. Bagi Dijah, yang Allah Maha Tahu bahwa wanita ini akan kuat memikul beban ini, diberikan cobaan yang seperti ini. Bagi makhluk-Nya yang lain, tentu lain pula cobaan-Nya.

Singkat cerita, naluri keibuan memandu Dijah untuk menjual seluruh harta peninggalan suami, demi menyembuhkan sang putri, satu-satunya cindera mata yang tersisa. Beberapa kali, si yatim bernama lengkap Siti Habibah Anggun Sari ini menjalani operasi, dalam usianya yang masih batita. Uang hasil penjualan aset pun berpindah, bertukar dengan kesembuhan putri tercinta. Ya, walo pada awalnya tentu tak sembuh sempurna, masih membutuhkan biaya besar untuk check up dan berobat jalan. Namun, menatap putri yang telah normal adanya, adalah kebahagiaan tiada terkira bagi seorang bunda, kan?

Perjalanan hidup terus mengalir, gelombang datang silih berganti. Pasang naik dan pasang surut adalah ketentuan alam yang tak bisa diubah. Kini, keduanya sudah bermukim di Bandung, mengikutiku kala aku masih tinggal di kota kembang itu. Dan kini? Saat aku harus pindah ke ibukota negara, keduanya tetap harus lanjutkan kehidupan. Alhamdulillahnya, rezeki anak yatim memang selalu saja ada, ya, Sobs? Mengalir bagai air bening yang sejukkan kerongkongan.

Negosiasi dengan Mamang Friend Chicken



Bahkan, beberapa minggu lalu, aku dan Dijah dikejutkan oleh rencana Bibah untuk merayakan ulang tahunnya sendiri. Gadis kecil yang tak pernah melihat wajah sang ayah ini, mungkin, begitu berhasrat agar ulang tahunnya [tanggal 25 November nanti] dirayakan. Mengundang teman-teman sekelas. Dan, tak seperti anak lain yang merengek ke ibunya, Bibah malah sudah merencanakan beberapa langkah. 

Yang bikin haru nih, Sobs, gadis kecil yang akan genap berusia 9 tahun ini, sudah melobi penjual fried chicken pinggir jalan, untuk bersedia memberi harga bersahabat baginya, jika dia memesan 50 kotak paket friend chicken si mamang. And...? She got it. Siapa yang tak terenyuh coba, si mamang tak mampu menolak, ketika Bibah kecil berkata 'Mang, saya anak yatim, ingin banget rayain ulang tahun, boleh enggak satu kotaknya 12 ribu rupiah? Kami ga punya uang banyak, Mang. Ini juga uang hasil saya main arisan sama teman-teman, plus uang jajan dan uang santunan anak yatim, yang saya dapatkan.'

Dan, si Mamang, tentu saja luluh. Dimintanya Bibah mengajak ibunya ke situ, dan Dijah hanya mampu mengusap air mata. Anaknya ingin ulang tahunnya dirayakan. Dan itu dengan uangnya sendiri, yang ada sekitar 1 jutaan. Tapi satu jutaan mana cukup untuk merayakan ultah, dengan mengundang 50 orang anak [teman sekelas Bibah] pula?

Singkat cerita, rasanya tak mungkin menolak harapan si yatim ini, toh? Maka, kami pun sepakatlah untuk urunan merayakan ultah Bibah. Persiapan pun dimulai. Beli gaun ultah, sepatu, asesoris dan berbagai pernak pernik keperluan ultah pun mulai diburu. Tak hanya aku yang terenyuh, Intan, putri tercinta juga ikut terharu. Dan berniat untuk turut serta urun bantuan serta memeriahkan hari H nanti.

Yah, namanya juga anak-anak, setelah mendapatkan lampu hijau dariku, Bibah menjadi begitu bersemangat. Rajin belajar, mengerjakan PR, mengaji dan juga lebih perhatian pada ibunya. Aku yakin, ini tak lain dan tak bukan, adalah the spirit to celebrate her birthday menjadi pemicu perubahan baik ini. Semoga semuanya nanti berjalan lancar, ya, Nak. Semoga ke depannya, Bibah jadi anak yang jauh lebih baik, lebih solehah dan lebih perhatian pada bundanya. Ok sayang?

catatan kecil,
Al, Margonda Residence, 23 November 2015


11 comments

Aamiin :)

Kisah hidup Bibah dan bundanya menyentuh hati mbak. Anak usia 9 tahun sudah berani melobi sendiri penjual fried chicken buat ultahnya tanda kemandirian usia dini yang nggak semua anak mampu dan mau melakukannya.

Selamat ulang tahun Bibah :)

Reply

Amin.. Kok aku mewek yah baca postingan ini huhuhu

Reply

Calon2 pengusaha masa dpn nih pintar melobi.. happy milad utk dijah. Doa2 terbaik utk anak yatim yang sangat mencintai ibunya.. berkah jg utk mba alaika yg mencintai si yatim dgn luar biasa..

Reply

Luar biasa. mudah2an Bibah trus bertumbuh jadi gadis yg luar biasa. terharu dan bangga. mba alaika juga keren dgn segala yg mba berikan. Berkah buat mba, mba Dijah dan Bibah. Big Hug ^_^

Reply

Iya, Mba, aku juga salut dengan kemandiriannya ini. Memang beda, ya? Anak-anak yang dibesarkan di dalam ketidakberdayaan ekonomi, ketidaklengkapan orang tua, biasanya akan lebih mengerti dibandingkan dengan anak2 seusianya yang hidup berkecukupan, ya?

'Terima kasih, Tante Ely.', kata Bibah.

Reply

Aku juga melelehkan airmata menuliskan postingan ini, Mba. :(

Reply

Iya, Mba Ruli. Semoga ke depannya, gadis kecil ini bisa menjadi orang yang sukses di dalam kehidupannya, bisa menjadi kebanggaan ibunda, agama dan bangsanya. Aamiin.

Reply

Aamiin, ya Allah. Semoga Bibah bisa bertumbuh menjadi anak kebanggaan bunda, agama dan bangsanya, ya, Mba Ira.

Aku, hanya mampu memberikan segelintir semangat, Mba. Mudah2an ke depan bisa berbuat lebih banyak. Aamiin.

Reply

keadaan yang sulit justru dapat menempa seorang menjadi lebih mandiri dan tegar..dibanding anak seusianya yang diberi kecukupan...

Reply

Kisah yang menyentuh, haru perjuangan anak yatim. Ingat aku kecil hiks

Reply

Semoga Dijah selalu diberi kesehatan dan dilancarkan rejeki untuk orangtuanya. Makasih sharingnya, mba :)

Reply