Saat-saat yang mendebarkan -chapter III | My Virtual Corner
Menu
/

Alo sobat maya,

Mudah2an hari ini pada in good mood semua yaaaa? Banda Aceh basah diguyur hujan sejak jam 7-an pagi tadi, kasian juga Intan jadi basah karena naik motor ke sekolah hari ini. Agenda pagi ini dikacaukan oleh insiden kecil dimana colokan listrik/extension cable tempat colokan TV dan teman-2nya terbakar, mungkin kornslet? Ga tau deh, yang jelas percikan api tadi cukup membuat Intan kaget saat menyalakan TV sebelum dia sarapan. Terpaksa deh Uminya turun tangan dan jadi superhero karena di kamar kost yang mungil ini Umilah sang hero. Kan Papa Intan nun jauh di negeri seberang.

Well, mulai deh tertunda acara mandi pagi dan bersiap kekantor, karena harus beresin dulu si kabel yang terbakar. Ganti dengan extension cable lainnya. Butuh waktu 40 menit juga untuk beresin semuanya, karena akhirnya saya jadi merapikan beberapa extension cable lainnya, yang menghubungkan peralatan dapur dan satu extension cable lainnya. Semua jadi rapi, dan mudah-mudahan tidak digerogoti temannya mickey mouse lagi deh. Heran deh, kok bisa ya temannya mickey ini berdiam dikamar senyaman ini? Cieeee…. Hehe. Ntar minggu saya akan kerahkan anggota team (Intan dan si mbak) untuk bongkar dan beresin kamar. Buang kardus2 yang sudah tidak diperlukan lagi.

Acara lanjutannya adalah mengantarkan si mbak ke terminal bus karena si mbak harus pulang kampung sebentar, mengurus sertifikat tanah yang baru dibelinya di kampung. Yup, si mbak ini super hemat, dan saya salut deh, bisa beli tanah, punya sapi, dan juga sebuah motor mio. Cool.

Akhirnya saya sampe kantor jam 9.02 am, dan sudah pasti telat dunk, tapi karena situasi alam, dimana hujan masih enggan berhenti, ternyata banyak teman yang juga belum nengkrengin lappy nya di atas meja, means they are not here yet. Horray, ada teman. hehe..

After turn on my lappy, sign in my YM, skype and log into my office mail, langkah pertama yang saya lakukan adalah bikin coklat panas, duduk manis sambil sarapan. Daaaaan…. Tentunya lanjutin updating my chapter III of ‘saat-saat mendebarkan’ dunk.

Masih ingin membaca kisah lanjutannya kan ya?
Okay, yuuuk…..

Hari kedua di hospital, means the day after the surgery, suami saya sudah menunjukkan progress yang menggembirakan, bahwa keluhannya tentang punggung yang pegel dan sakit, pinggang yang nyeri, tenggorokan yang terasa kering, sudah mulai mereda. Hanya keluhannya berkisar rasa ingin pipisnya yang masih tinggi, yang membuatnya sangat tidak nyaman padahal seharusnya tidak perlu seperti itu karena kateter terpasang rapi sebagai solusi terhadap keluhan itu. Namun dokter menjelaskan bahwa itu memang reaksi paska operasi. Kedua bladder yang mengalami penyinaran green light laser, tentu saja mengalami luka dalam, dan harus beradaptasi dengan perubahan paska treatment. Jadi tidak ada obat khusus untuk menghilangkan keluhan itu, hanya suamiku diminta untuk banyak minum agar urine yang mengalir ke kateter tidak lagi berwarna merah. Namun tentu perubahan urine dari merah ke jernih bening tidaklah terjadi dengan serta merta, perlu waktu dan tahapan. Dengan sabar saya damping kekasih hati melewati masa-masa sulit itu, menemaninya, menggenggam tangannya saat tiba-tiba dia merasa menggigil kedinginan. Dengan sigap menekan tombol di remote untuk memanggil nurse jika tiba-tiba ada keluhan yang butuh perhatian para medis.

Kebersamaan ini terasa begitu indah, kedekatan diantara kami begitu terasa. Apalagi setelah selama ini kami tinggal terpisah jarak antar negara. Yang hanya ketemu sebulan sekali. Kebersamaan ini begitu berharga. Kulihat kebahagiaan suamiku terpancar jelas dimatanya. Bahagia didampingi oleh istri tercintanya, yang cantik ini, HALAH. LEBAY dweeeeh….

Hari ini dan dua hari berikutnya keadaan suamiku semakin membaik, hanya terjadi satu dua kali kejadian diluar harapan, seperti tekanan darah yang tiba-tiba meninggi, atau demam yang tiba-tiba menyerangnya. Namun dengan cepat dan sigap diatasi oleh sang dokter dan perawat. Lagi-lagi acungan jempol untuk rumah sakit mewah ini dan Alhamdulillah suamiku dilindungi oleh asuransi sehingga kami berkesempatan untuk memperoleh perawatan ini. Dokter menyatakan bahwa suamiku sudah boleh meninggalkan rumah sakit besok siang, so I bought my ticket to return home, sementara suamiku siap untuk kembali berkantor. Sebenarnya besar sekali keinginan saya untuk membawanya pulang dan istirahat for recovery di tanah air. Tapi mengingat dia ada rapat penting di hari Senin nanti, maka he decided to stay.

Sabtu pagi, jam 9, kami sudah bersiap untuk meninggalkan rumah sakit, hanya menunggu dokter untuk pemeriksaan terakhir serta memperoleh obat-obatan untuk dikonsumsi suamiku di rumah nantinya.

Berfikir bahwa everything well settled, aq diminta suamiku untuk langsung ke bandara, jangan sampai ketinggalan pesawat. So just leave him in the hospital karena dia akan balik ke apartemen agak sorean nanti. Yo wes, saya pun melangkah tenang meninggalkannya di hospital mewah itu setelah menitipkannya pada perawat yang setia menjaganya.

Jam 5 sore saya tiba di rumah, Banda Aceh dengan selamat dan lelah pastinya. Segera saya telp suami to know if he already home or not yet. Alangkah terkejutnya saya saat suaranya yang risau menjelaskan bahwa dia masih di rumah sakit. Tersandera. WHAAT????
Ya. Rumah sakit menahannya, belum bisa keluar karena belum ada guarranty letter dari asuransi. What?

Bukankah dari awal hal itu sudah kita tanyakan berulang kali? Pada asisten dato’ bahkan pada dato’ sendiri. Pada petugas admission yang dengan tegas saat itu bahkan mengatakan ‘it won’t any additional charge’. Bahwa murni discover oleh asuransi. Lalu mengapa kini situasinya berubah? Dan mengapa saat saya sudah tiba ditanah air. Come on!!! There is no one there to help my husband. OH Tuhan.
Panik donk saya dengan situasi ini. Saya berikan arahan agar suami saya coba membicarakan hal ini lagi ke dato’ dan asistennya. Minta tolong dato’ untuk membantu. Dan dituruti oleh suami saya. Kepanikan mungkin membuat jalan pikirannya buntu sejenak. Kemudian suami saya menelpon, bahwa ternyata asuransi hanya mengcover 2 ribu ringgit dari total biaya yang 18 ribu ringgit. Means kami harus mengcover 16 ribu ringgit. Oh my God. Ingin saya menangis membayangkan suami saya disana tersandera seorang diri. Dan kami harus mengeluarkan uang sebanyak itu. Amarah menjalari kepala saya. Kenapa baru sekarang asuransi bicara? Lalu kenapa kemarin-kemarinnya semua confirmed that it will covered by the insurance. Kami sudah jelas-jelas menyatakan, berulangkali, bahwa jika memang insurance tidak bisa mengcover, maka operasi ini akan kami tunda dulu.
Lalu semua bilang, it’s okay. It will cover by the insurance. The total fee. Damn!
Tapi tiada guna marah karena tak akan menyelesaikan persoalan. Saya katakan pada suami bahwa saya akan kembali ke KL besok siang. Membawa ringgit yang dibutuhkan untuk membawanya keluar dari hospital. Suami saya masih keberatan untuk membayar, dia ingin nego dulu dengan asuransinya, apalagi dato’ dan asistennya juga mengatakan agar bersabar dulu, mereka akan deal with the insurance. Tapi saya tidak akan hanya tinggal diam. Apapun ceritanya, I decided to go back to KL, to anticipate in case we have to pay. Apaboleh buat, kalo memang harus bayar ya bayarlah. Ini adalah pelajaran paling berharga tentang asuransi. Saya menghighligtnya dengan warna merah menyala di dalam kepala saya. Jam 7 malam, suami menghubungi, informed me that the insurance finally covered 14 ribu ringgit setara 40 juta rupiah, dan kami diminta membayar 4 ribu ringgitnya setara 12 juta rupiah. Okay. Deal.
Kiranya nasib sedang tidak berpihak pada kami, atau setidaknya nasib sedang tidak rela mempermudah jalan saya. There was no ticket to Kl from Banda on Saturday. Oh Tuhan, hanya itu penerbangan langsung dari kota ini ke KL. Hanya satu jalan lain, via Medan. Tapi how to reach Medan at 6 am? Bus jelas tak akan menjamin bisa sampai Medan di jam 6 pagi. Saya tak berani ambil resiko itu. Setelah book tiket Medan – KL yang jam 8 am. Saya langsung menelp seorang teman yang juga adalah kolega saya dikantor. Untung si teman ini langsung bersedia, bersimpati atas musibah yang sedang menimpa saya dan suami. Dia bersedia mengendarai Grand Livina saya, menuju Medan, dan Alhamdulillah tepat jam 5 pagi dia sudah menurunkan saya di halaman Polonia airport, Medan. Masih dengan pakaian lusuh dan wajah mengantuk, saya check in. Baru setelah itu saya ke toilet, membasuh muka, sikat gigi dan berganti pakaian serta berdandan (teuteup bo’ walau ga mandi, hehehhe), saya akhirnya masuk waiting room. Melanjutkan tidur di waiting room yang dinginnya amit-amit itu, karena masih sangat-sangat kurang tidur. Ya iyalah, udh begadang di rumah sakit, baru landed di Banda Aceh, eh traveling via darat ke Medan, terus terbang lagi ke KL, dan besok fly back to Banda. Kebayang deh betapa akan letihnya saya sesudah ini.
Nasib ternyata masih belum begitu bersahabat dengan saya. Airasia delay 1 jam. Masa penantian di waiting room diperpanjang. Baru kemudian kami dipersilahkan boarding, tapi lagi-lagi delay. Masak sudah duduk and fasten seatbelt, tuh pesawat masih diam tak bergeming. Bahkan setelah para pramugari menunjukkan cara-2 penggunaan seatbelt dan peralatan lainnya, masih saja tuh pesawat diam ditempat. Malah tiba-tiba kami diminta untuk unfasten seatbelt, dan mencek lagi hape maupun alat telefoni lainnya, memastikannya dalam keadaan off, karena pesawat akan mengisi bahan bakar. Ya ampuuun. Lelucon apa ini? Gilaaaa….
Namun akhirnya, 1 jam kemudian, airasia yang saya tumpangi jadi juga terbang. Mendarat di LCCT satu jam kemudian. Tak member spasi bagi tubuh untuk beristirahat, saya langsung menuju sky bus airasia untuk membawa saya ke KL Sentral. Dari KL Sentral kemudian saya naik LRT ke Ampang Park, dari sana nyambung taksi ke Prince Court Medical Center. Di lobby saya dapati suami saya sudah menunggu dengan senyuman manis, namun kekuatiran dan prihatin masih jelas berlomba menunjukkan diri.
Lagi-lagi tak ingin member jeda dan ingin berlomba dengan waktu, saya ajak suami untuk segera membereskan urusannya. 4 ribu ringgit handed over to the cashier, ditukar dengan sebuah receipt yang menyatakan segala urusan pembayaran settled. Lalu kami diminta ke farmasi untuk mengambil obat-obatan yang sudah diprescribe oleh dato’. Tak lama kemudian kami discharge, meninggalkan hospital mewah itu dengan penuh terima kasih. Apapun ceritanya, the treatment is very good, kejadian tadi adalah kerikil kecil yang tak akan menjadi batu sandungan. Jadi pelajaran berharga untuk kedepannya, agar, make sure dulu the guarrantie letter dari insurance nya sudah dikantongi oleh Rumah Sakit, jadi kita tidak akan bermasalah.
Sobats,
Begitulah sekelumit kisah mendebarkan yang mendera saya satu dua minggu ini, Alhamduillah this happy ending story kini cheers up my days. Kini saya telah kembali ke kantor, tenggelam dalam antrian the list to do yang menumpuk. How ever, tak apa, tetap semangaaat….. harus.
Hidup ini indah, so keep the spirit. Kerikil dan batu sandungan? Jadikan itu sebagai tantangan untuk ditaklukkan. (Hehe.. pasti ada sobats yang akan bilang ‘it is easy to say, but It is difficult to do, yak an?). Ya iyalah…. Makanya harus dicoba dunk..

Well sobats, its 8.30 am already. Yuk mulai aktivitas kita hari ini. Semoga pencapaian hari ini bisa lebih baik dari hari-hari kemarin yaaaaa…. Amiin.
Have a great day sobat maya…. , keep the spirit!
13 comments

selama ini kami tinggal terpisah jarak antar negara.<---owh suaminya di negara tetangga ya mbak,,btw tuh potonya romantic banget,,seperti di film2 ,,film ap a yahh,,

Reply

@Al kahfi: hehe... iya mas, suami di negara jiran. makasih udah berkunjung lho. Apa kabar nih pagi ini?
Film apa ya? romantis banget ya? :-)

Reply

Untung masih bisa ditanggung asuransi ya mba? Memang banyak asuransi yang mencoba berkilah sih mba, temanku pernah ngalaminnya, dan ujung-ujungnya setelah nego, asuransi nyanggupin cover 75% nya, temanku byr 25%nya lagi.
Syukurlah akhirnya well solved, mudah2an masnya cepat sembuh. Amiin.

Maya

Reply

saran saya, kalau mau pakai extension cable cari yang kabelnya agak besar (biasanya agak mahal sedikit) agar lebih tahan. saya punya pengalaman yang sama, si extension terbakar karen kelebihan beban. Lebih baik agak mahal sedikit dari pada ruginya lebih besar....

terima kasih udh mampir

Reply

@Necky: trims banget sarannya mas.... akan dilaksanakan, kebetulan mau beli lagi nanti sore. makasih juga udah mampir. :-)

Reply

Mbak
NAD udah ujan ya ??? bersyukur banget
walaah sementara disini dinding kamar aja ampe panas walo itu malam hari

Salam.

Reply

@Obrolan Blogger: Iya mas, Aceh sulit diprediksi cuacanya, kadang hujan kadang kering. Udah tiga hari ini hujan terus sih. Surabaya masih kemarau ya?

Reply

istri yg romantis nih
aku bisa rasakan lewat cerita ini
perhatian terhadap suami
hmmmmm ku ingin seromantis dirimu mba...

Reply

@Anisayu: hehe.... sepertinya romantis ya mba? padahal kalo udah ngamuk misuaku langsung kabur deh, takuuut. hihi. Dirimu juga kuyakin seorang wanita romantis, tercermin dari puisi2mu lho..
makasih banget kunjungannya mba...
Slm manis dari Aceh.

Reply

Dear.

1. salam kenal duluu aaahhh biar sopan...

2. hhoooowwwwwss be careful dengan cable... loohhh jangan dianggap maen2.... saya sarankan jangan menggunakan extension cable... mendingan pangil teknisi dan membuat cord baru dengan mengambil arus langsung dari sumber utama dan bukan dari sub atau cabang arusss.... bahaya.... biar ada sedikit cost keluar but safely.... bagiaman???? ide gw... sotoy banget yaaa... maaaff yaaa...


regards.
... Ayah Double Zee ...

Reply

@Keluarga Zulfadhli:
1. Salam kenal kembali mas... :-)
2. Trims banget atas sarannya, sejalan pikiran kita lho mas, tadi sore pulang kerja sekalian saya ajak teknisi kantor untuk benerin cable2nya, Insyaallah sekarang udah aman terkendali.
3. Makasih lho udah berkunjung dan ngasih ide..
Salam.

Reply

Penasaran dg endingnya... makanya meluncur kesini deh mbak.
Syukur deh akhirnya segala macam masalah itu terselesaikan ya? :)
Heeemmm... kebayang sih capeknya..

Reply

Ga' bisa transfer antar bank pa mbak? Kaya'nya repot banget musti bolak balik KL-Aceh

Reply