Saat-saat yang mendebarkan - chapter I | My Virtual Corner
Menu
/
Halo, Sobats maya tercinta...,

Hope that you all are in excellent health yaa..., semoga juga selalu in happy mood, dan bagi yang sedang not in a good mood, no worries, pasti akan segera beralih kearah yang lebih baik, percaya deh, ga sekarang pasti nanti, sebentar lagi, sebentar lagi dan sebentar lagi..., lihat deh. Yang pasti, paksakan pikiran positifmu untuk take over the bad mood in order to seek a better one. Okay? Hehe, pasti Sobats akan bilang begini deh, 'ngomong sih enak, coba kamu yang sedang in bad mood, bisa opo bertindak segampang itu menghalau si bad mood itu?’ Ya kan, Sobs?

Hm..., iya sih, saying is easy but doing is of course difficult. I knew exactly kok, karena sebagai insan biasa, aku juga sering kok dikunjungi oleh si bedmut itu. Hahah..


Well dear visitors, lama juga nih aku ga sempat uplek-uplek blog tercinta ini, habis mo gimana Sobs, diriku satu dua minggu ini bener-bener terbenam dalam lingkaran tak terbayangkan sebelumnya. Beneran deh, sama sekali ga terpikirkan apalagi tergambarkan dalam pemikiran. Bener-bener suatu kejutan yang gimanaaaa gitu. Mengharu biru deh pokoknya!

Yup, awal mulanya sih kunjungan kali ini ke Kuala Lumpur juga masih sama seperti kunjungan sebelum-sebelumnya, masih tetap menggusung judul ‘kunjungan reguler menjenguk suami’, hehe. Dan durasi kunjungan juga tetap berjangka sangat singkat, hanya seumur weekend, Jumat siang sampai Senin siang. So, the ticket also bought as scheduled, round trip. Banda Aceh – KL and vise versa.

Jadi terbanglah aku ke Kuala Lumpur pada Jumat siang dengan mengambil cuti setengah hari after lunch, langsung leaving from my lovely office, ke bandara Sultan Iskandar Muda. Check in dan terbang ke Kuala Lumpur with the only aircraft in Aceh, Airasia.com.

Landed in LCCT satu jam 25 menit kemudian, melanjutkan perjalanan via sky bus Airasia menuju KL Sentral. Satu jam kemudian aku sudah menjejakkan kaki di KL Sentral yang ga pernah ngebosanin. This place is always amazing, penuh dengan orang-orang dari berbagai bangsa. Betapa terbukanya negara orang, damai dan penuh keteraturan. It’s a very lovely place to spend my weekend. Always.

Sang suami sudah menunggu seperti biasa, dan kami langsung menuju hotel. Emang sih, suami tinggal di mes kantornya, di sebuah apartement di Shah Alam, 1 jam dari KL Sentral. Tapi ya ga enak lah jika weekend berduaan malah numpang di mes. Ga asyik toh? Makanya kami selalu memilih untuk tinggal di hotel, toh hanya 2 malam, jadi ga akan mahal-mahal amat lah!

Seperti biasa, we spent a romantic night, lalu paginya si akang minta ditemani untuk control kesehatan ke dokter langganannya, seorang urolog terkenal dan sudah bergelar dato’. Dato’ Shahabbuddin ini berpraktek di Glean Eagles Intan Hospital, seputaran Ampang. Ini adalah kunjungan yang kesekian kalinya, demi pengobatan kelenjar prostate-nya yang membengkak.

Beberapa treatment sampai ke biopsy juga sudah dilakukan dan dato’ merekomendasikan agar sang kekasih hatiku mendapatkan treatment ‘green light laser’, yang dikenal sangat ampuh sebagai solusi prostate enlargement. Tapi biayanya itu bo’, ga kuat euy!  Mahal banget, makanya kami masih bertahan dan mencoba mencari pengobatan di hospital lain yang mungkin bisa lebih murah. Treatment ini membutuhkan biaya sampai 18 ribu ringgit Malaysia, Sobs, jadi tuh sekitar 52 juta rupiah. Mahal bangetkan? Ampuuun DJ deh ih! Hiks....

Makanya suamiku juga masih bertahan untuk mencoba mencari alternatif rumah sakit lain. Kami juga berterus terang pada dato’ bahwa bukannya kami tidak mau menuruti rekomendasinya, tapi biayanya itu yang membuat kami masih sulit untuk segera menuruti sarannya.

Kemudian dato’ meminta perawat/asistennya untuk menghubungi pihak asuransi ING (asuransi kesehatan suamiku), untuk melihat apa ‘green light laser’ bisa dicover oleh ING. Ternyata infonya baru bisa didapatkan hari Senin nanti. Tapi menurut dato’ dan asistennya, ING bisa mengcover biaya pengobatan ini. Tapi aku dan suami sih masih ragu akan hal itu, tapi melihat si asisten yang begitu confident serta dato’ yang langsung men-set schedule jika kami memang benar2 berniat melakukan treatment ini (Suamiku memang sudah setahun lebih menjadi pasien tetap datuk, sehingga dato’ sudah paham betul kondisi kesehatan suamiku). Keyakinan ini juga akhirnya menular pada suamiku yang kelihatannya begitu ingin mendapatkan pengobatan ini (ya iyalah… siapa sih yang tidak ingin sembuh seperti sediakali, apalagi melihat kemungkinan untuk itu sudah begitu dekat di hadapan mata).

Akhirnya disepakati, bahwa jika Senin nanti ING meng-infokan bahwa biaya pengobatan ini bisa mereka cover, maka suamiku akan menjalani treatment ini pada hari Selasa siang, artinya suamiku harus sudah masuk rumah sakit pada jam 8 pagi, di hari Selasa. Deal. Dato’ merekomendasikan agar treatment dilakukan di Prince Court Medical Centre, sebuah hospital mewah milik Petronas, juga masih di wilayah Ampang. Kami sih oke-oke saja sejauh semuanya dicover oleh asuransi. Iya toh?

Lalu bagaimana dengan tiket dan rencanaku untuk kembali ke tanah air di Senin siang? Halah? Masih mikirkan tiket sementara suami akan menjalankan operasi? Ya enggak lah, Sobs, cuma kan belum pasti jadi tidaknya, sementara tiketku itu kan jam 12.10, artinya jam 8 pagi udah harus menuju bandara jika kami berangkat dari apartemen suamiku, di Shahalam. Hm….

Akhirnya, karena belum juga dapat kabar, akhirnya Senin pagi itu, kami menuju bandara, antisipasi in case ga jadi treatment-nya karena insurance tidak bersedia meng-cover. Ealah, ternyata, Sobs! Tepat begitu kami turun dari skybus airasia, di LCCT airport, telephone masuk ke nomor HP suamiku yang ternyata dari asisten dato’ mengabarkan bahwa the insurance confirmed to cover the treatment fee. Alhamdulillah.

Walau sudah kadung bawa barang dan ready to fly, kami gotong kembali luggage ku menuju apartement sang suami. Sambil tertawa geli, betapa waktu telah terbuang untuk aksi pagi ini. Andai saja kami bertahan di apartemen dan berani berspekulasi untuk kehilangan tiket terbangku hari ini, kami tak perlu bercapek2 ria berangkat kesini. Hehe….

Whatever lah, yang penting berita ini begitu menggembirakan. Sesampai di apartemen, aku langsung email bosku, inform him that I will take several days annual leave to accompany and taking care my husband in the hospital. Sent. 

Lalu kami bersiap-siap untuk pengobatan esok harinya. Yang merupakan saat-saat paling menegangkan dalam kehidupanku. Menanti detik demi detik yang rasanya begitu lemot, seorang diri diruang tunggu, menatap ke pintu tebal yang membatasi antara diriku dan ruang operasi dimana tangan-tangan dokter dan pisau serta alat tajam lainnya sedang bermain di organ2 tubuh suamiku. Huft.


Semoga semuanya akan berjalan baik-baik saja dan lancar jaya, ya Allah... *wishing.

Baca lanjutannya: Saat-saat Mendebarkan - Chapter II
4 comments

Mbak, turut prihatin ya, moga kini sudah baikan ya si masnya.... ditunggu lanjutan kisahnya lho, menarik untuk juga jadi pembelajaran.
Saya suka gaya penulisan mba, tapi kok kayaknya udah jarang banget posting ya....

Arief Rizal

Reply

Hai Arief, duh makasih yaa.... ALhamdulillah si mas udah recovered, jauh lebih baik dari sebelumnya. apa kabar kamu? lama ga muncul ya?

Reply

Ikut deg2an membacanya mba. Ini cerita lama yang kayaknya masih membekas nih mba karena mendebarkan. Hehehe .
Btw, kalau bicara soal kesehatan benar2 bikin pasrah sama Allah mba

Reply

Iya, Mba. Kisah lama yg tak akan lekang dari ingatan. Bener, bicara kesehatan, selain usaha, doa dan kepasrahan emang kuncinya, ya, Mba. ^_^

Reply