Saat-saat yang mendebarkan -chapter II | My Virtual Corner
Menu
/


Alo sobat maya,

Mudah2an hari ini pada in good mood semua yaaaa? Seperti saya juga yang pagi-pagi udah hadir dikantor nih, seperti biasanya…. Dan sejak anak2 sekolah aktif kembali di bulan Juli lalu, saya juga jadi staff yang paling cepat hadir dikantor lho… Why?

Ya karena sekalian antar Intan, putri saya ke sekolah, so begitu dropped her, langsung deh menuju kantor, yang sebenarnya jam kerja baru dimulai pada angka 8.30 am sih. Nah, Banda Aceh tuh jarang macet sob… jadi jam 8.05 or 8.10 tuh saya udah nengkrengin laptop deh di atas meja kerja, tanda representative kehadiran para pemiliknya. Jadi semacam ada kesepakatan tuh diantara kita2 dikantor, boleh aja orangnya menghilang, entah ke kantin or anywhere else, asal laptopnya udah nengkreng, maka kehadirannya udah sah. Hahaha…. Adaaa aja. Dan bagi yang kehadirannya diatas jam 8.30 maka dia wajib bawa kue/meals sebagai dendanya, untuk kita2 semua. Yah ga banyak sih, unit ku hanya beranggotakan 10 orang.


Well sobats,
Pagi ini, sebelum memulai rutinitas pekerjaaan, apalagi yang udah ditinggal lebih dari seminggu, udah jelas donk jika tugas menumpuk dan antri dengan setia tuh dalam my list to do. Tapi no problem, harus tetap semangat and positive thinking dunk….

Nah sebelum bersibuk ria dengan semua itu, maka saya komit untuk melanjutkan kisah ‘saat-saat mendebarkan’ yang baru saja saya alami satu dua minggu ini, yang kemarin postingannya sudah saya mulai. Selain itu sobats, kisah ini sengaja saya posting di blog ini sebagai juga diary online saya demi merecord kisah kehidupan yang saya berharap dapat juga menjadi pembelajaran bagi sobat maya lainnya. Amiin.

Well sobats,
Let me continue my story then….
Nah, kemarin saya sudah nyatakan betapa tersiksanya saya menunggu detik demi detik berlalu, mencoba count down to zero lamanya waktu 2 jam operasi. Rasanya saya belum pernah merasakan kesedihan dan kegugupan seperti yang saya rasakan saat itu. Seumur-umur, baru kali ini saya rasakan kesedihan yang teramat sangat, kesendirian yang benar-benar sendiri, ketakutan yang benar-benar takut. Airmata seakan kering sebelum terkucur, padahal hati rasanya basah kuyup terendam. Pintu tebal yang membatasi antara ruang tunggu (yang saya tempati sendirian) dan ruang operasi itu diam membeku. Tak sedikitpun ada tanda-tanda akan terbuka. Tak ada suara langkah kaki sama sekali, sunyi sepi mencekam. Zikir yang meluncur di lidah saya serasa tak mampu lagi saya lafazkan, tergantikan oleh rintihan kelu ke hadirat Ilahi, memohon agar Allah menyelamatkan nyawa suami saya, kekasih hati saya yang sedang ditangani oleh beberapa tangan ahli di dalam sana.

Dua jam telah berlalu dan saya bersorak gembira membayangkan sebentar lagi pintu tebal itu akan terbuka, dan seorang perawat akan menemui saya to inform me that the surgery is completed, and I may see my husband. Tapi ya Allah, 15 menit terlewati, tiada perubahan, tiada suara langkah mendekat, tiada dentingan atau suara apapun juga. Tuhan……

Saya kembali kuatir, whats up in there ya Allah? Mengapa lama sekali, padahal dato’ tadi berkata bahwa the surgery itself will take only one hour, another one hour is for completed the process, transfer the patient to recovery room, and so on. I will be allowed to see him after that. Tapi ya Allah, dua jam 15 menit telah berlalu, saya masih berusaha menenangkan diri seraya menangis dalam hati. Airmata hanya mengendap dilubuk hati terdalam, merendam segala rasa didalam sana. Kegugupan, ketakutan, apalagi sendirian di negeri orang, menanti orang terkasih selesai dioperasi, adalah saat-saat yang jika boleh, saya tidak ingin mengulanginya lagi. Yang jika boleh ya Allah, jauhkan situasi seperti ini dikemudian hari. Cukup sekali ini saja ya Allah, beri hamba ketabahan dan kesabaran menanti hasil operasi ini, menanti panggilan perawat untuk masuk dan menjumpai suami saya. Doa ini terus saya panjatkan dalam hati yang telah basah oleh air mata didalam sana semakin gugup dan ketakutan.

Dua jam 45 menit saya kian gugup, kian menangis yang sebenarnya, karena airmata ini akhirnya berhasil menembus ke permukaan, mengaliri pipi dan membuat hidung saya ikut meler. Pintu tebal itu tetap kukuh berdiri dalam dingin, diam dan beku. Tak ada satu suara pun yang berhasil mengusik keheningan yang senyap itu, selain suara hidung saya yang kian penuh terisi isakan tangis. Oh Tuhan…. Selamatkan suami hamba ya Allah. Saya sudah bertekad akan mendobrak pintu tebal itu jika 15 menit kemudian belum ada berita, dan saya memang selalu menepati apa yang saya katakan. Tiga jam lebih 2 menit, seorang perawat datang menuju pintu tebal itu, menekan bel yang tersedia disitu. Saya dengan sigap mengikutinya begitu pintu itu terbuka. Saya tembus pintu itu mendahului si perawat, langsung menuju beberapa perawat yang sedang mengobrol di meja depan ruang itu. Mereka kaget dan dengan sopan meminta saya untuk keluar karena itu ruang steril. Saya dengan sopan tapi tajam mulai bicara. Amarah yang saya tekan tak berhasil tersembunyikan. Tegas suara saya, walau tangis yang begitu kentara terkesan jelas.

“is there anyone can inform me what’s up with my husband? Have the surgery completed? I am waiting for more than 3 hours already, but there is no one informs me yet!”
Mungkin mereka kini menyadari bahwa adalah kekuatiran yang sedang memenuhi sanubari saya, dengan sopan mereka bertanya siapa yang saya tunggu, karena didalam ada 3 patient yang sedang di operasi di dalam 3 ruangan.
Saya sebut nama suami saya sambil menegaskan bahwa saya menunggu janji mereka yang akan menginformasikan kepada saya dua jam kemudian sejak suami saya dibawa masuk kedalam, kini 3 jam telah berlalu dan tak seorangpun yang datang pada saya untuk sebuah berita, untuk mengusir kecemasan saya.

I am alone here in this country, I have no one accompany me, I am so worried waiting your update about the surgery, It is not easy for me. Tell me is it complete already? Where is my husband now?” berondong saya masih dengan nada suara penuh tangisan.

Jujur, ini adalah kekuatiran paling kuat yang pernah saya rasakan. Saya begitu takut operasi itu gagal, saya tak sanggup membayangkan sisi terburuk dari tindakan ini. Oh Tuhan, tolong selamatkan suami saya. Beri kami kesempatan untuk tetap bisa bersama.
Dan si perawat akhirnya memberikan saya pakaian steril, termasuk shoes dari kain kasa steril untuk membungkus sepatu saya, baru kemudian saya diajak masuk ke recovery room.
Didalam saya melihat kekasih hati tercinta terbaring lemah, sudah siuman dan tersenyum menyambut kehadiran saya. Tak terbendung airmata ini melihat senyuman itu, walau terlihat jelas ada rasa sakit yang dia tahankan dibalik senyuman itu. Alhamdulillah ya Allah. Alhamdulillah ya Rabbi.

Tak lama kemudian, suami saya boleh dibawa ke ruangan. Dan satu lagi rezeki kami saat itu, rumah sakit mewah ini ternyata kehabisan ruangan standardnya (insurance hanya mencover untuk ruang standard, bernilai 200 ringgit permalamnya), sehingga akhirnya kami dipersilahkan menempati ruang suite yang nilainya masyaallah, 1000 ringgit/nite. Subhanallah. Saya sampai takut, takut tak sanggup membayarnya, 1000 ringgit setara dengan 3 juta. I am not crazy to spend 3 million per nite hanya untuk sebuah kamar rumah sakit. Saya rasa sobats semua juga akan berpikir sama. Apa yang bisa kita nikmati jika salah satu dari keluarga kita sedang menderita, semewah apapun kamarnya, toh tak akan sempat kita nikmati.
Lagi-lagi petugas admission tadi menegaskan bahwa ‘it won’t any other additional charges for this, don’t worry.’, sehingga kami anggaplah ini sebagai sebuah anugerah. Rezeki suami saya. Hehe.
Tapi ya itu tadi, kamar suite yang besar itu, yang begitu mewah, dengan dua set toilet di dalamnya, dua bed, satu sofa tamu yang empuk, dua tv besar yang mewah, plus sebuah meja kerja di dekat meja makan, sama sekali tak sempat saya nikmati. Ya iyalah, mana sempat, sementara yang sakit sibuk merintih, kedinginan, perutnya perih, dan rasa tidak enak lainnya. Tentu focus saya akan sepenuhnya pada keluhan dan upaya meminimalkan keluhan itu, walau tidak bisa menurunkan penderitaaannya, setidaknya menenangkannya secara moril.

Malam pertama paska operasi, di kamar suite yang mewah itu, ternyata adalah malam penuh trauma bagi suami saya, dimana hilangnya obat bius dari tubuhnya, membuat rasa perih dibagian yang ditreatment mulai terasa, membuat tenggorokannya kering dan berbagai keluhan lainnya. Tengah malam dadanya terasa sesak akibat ada obat yang ternyata tidak cocok baginya. Untung the hospital is very good, equipped with modern equipments. Lemari disisi-2 tempat tidurnya ternyata adalah untuk menyimpan peralatan medis yang dibutuhkan pasien. Perawat datang, membuka lemari, mengeluarkan peralatan deteksi pacu jantung dari dalam lemari, mencobanya pada suami saya saat keluhannya adalah debaran jantungnya begitu kencang, dan lain2nya. Serba lengkap dan membuat kekuatiran saya menipis. Saya yakin, this is a very good hospital, peralatan lengkap, dan perawat serta dokter yang sangat sigap. Saya pasrahkan semuanya pada Allah melalui tangan para medis ini. Sambil terus berdoa demi kesembuhan sang suami.
Malam terlewati dengan lebih baik saat pagi menjelang. Saya sambut pagi dengan sama sekali belum sempat memejamkan mata. Baru kali ini saya benar-benar begadang dalam arti yang sebenarnya. Kantuk mulai menyerang dan saya tumbang selesai menyuapkan sarapan dan meminumkan obat baginya. Belaian lembut tangannya di kepala saya yang bertumpu kesisi tempat tidurnya mengantar saya ke tidur yang begitu nikmat, walau hanya sekejap.
Well Sobats, kayaknya sudah dua halaman lebih nih, to avoid you getting bored, yuk kita lanjut pada postingan berikutnya yaaa…..

Salam manis dan have a great day!
17 comments

wah mbak apa kabarnya,, smoga aktivitas2 nya slalu lancar y mbak

Reply

Halo mas Amri, kabar saya baik2 aja, cuma lelah lahir batin nih, habis jagain orang sakit sih.... tapi ALhamdulillah, all done well already. Trims for visited ya...

Reply

benar2 mendebarkan perasaann nih kisahnya

bagus sangat n kusuka katanya menyentuh saat membaca....

Reply

Kunjungan silaturahmi petang hari sahabat...terima kasih telah berbagi ceritanya sahabat

Reply

@anisayu: trims atas kunjungannya mba, iya kisah yang memang sangat mendebarkan diri, kalo boleh jangan sampai mengalaminya lagi. Ga kuat dengan kekuatiran yang saya alami.

@webmdmk : trims atas kunjungannya sobat. :-)

Reply

Pena hadir dan absen sore sobat.
Menyimak ceritanya sobat

Reply

@Tautanpena: trims atas kunjungannya lho, saya juga sudah berkunjung balik dan artikel kamu sangat menarik. very informative. Thanks ya...

Reply

Al, sungguh mendebarkan kisahnya, mudah-mudahan misua udah membaik sekarang ini ya..... keep your spirit dear!

Alfi

Reply

bisa kufahami perasaan dan kondisimu saat itu terlebih bila berhadapan dengan meja operasi.

dan ternyata kamu berhasil lampaui galau mu.
Salam

Reply

wah, br singgah di sini. iya mbak, semewah dan andai di bayar pun klo di RS ya gak enak....

Reply

Alhamdulillah yang penting suaminya tetap sehat dan berhasil melewati momen berat dalam tahap sakit! Itu buah dari kesabaran dan doa anda!

Follow my twitter: @elloaris

Reply

@Mas Satrio: thanks atas kunjungan dan komennya yaa...

Reply

@Mba Ririe: yup, benar banget mba, RS semewah apapun ga ada gunanya, kita ga akan sempat menikmatinya, apalagi kalo harus bayar, hehe. capek dweh... thanks atas kunjungan dan komennya yaa..

Reply

@Ello: thanks atas kunjungan dan komennya sob,
iya, Alhamdulillah kini misua telah sehat kembali.

Baik, akan difollow nanti ya.... :-)

Reply

Operasi apa memangnya mbak?
*ga ditulis kan ya di postingannya, atau aku yang ga teliti baca?*

Reply

@Una: mungkin penjelasannya ttg operasi apa ada di chapter I nya, postingan sebelumnya Na..
aku juga udah lupa, hehe.

Operasi/Laser untuk gangguan prostate. Alhamdulillah sekarang udah baikan.

Reply

Andai aku yg ada di posisi mbak Alaika, pasti udah nangis terus deh...

Sekarang suami sudah sehat kembali kan ya mbak? Soalnya ceritanya spt belum tuntas tuh...

Reply