Suatu malam di Rest Area 57 | My Virtual Corner
Menu
/

Suatu malam di Rest Area 57 Weis, membaca judul postingannya, pasti udah ngebayangin yang serem-serem yak? Hehe. Ngga kok..., ini adalah program seseruan gegara diriku tiba-tiba merasa jenuh aja dengan beban kehidupan ini. Hayyah..., Alaika bisa jenuh? Ya bisalah! Kan eikeh juga manusia biasa, bukan wonder woman, Sobs! 

Ceritanya nih, setelah berbagai keruwetan harian yang beberapa bulan ini melanda, ditambah pula dengan kehilangan dua hape tersayang seperti yang sebelumnya aku posting di Ketika Musibah Menghampiri, tiba-tiba kok aku ngerasa bosen yak? Pengen ngunjungi Intan di dormitory-nya terus ngajakin dia nginep di guest house Presiden University, tapi anaknya sendiri [Intan] malah sedang ada gathering di Pantai Anyer, mulai dari Jumat pagi ke Minggu siang. Hadeuh! 

Kalo di Aceh sih, jika mengalami masa-masa jenuh seperti ini, biasanya aku suka driving alone menyusuri jalanan mulus Banda Aceh - Sigli, yang berjarak 2 jam driving. Melewati rute gunung Seulawah yang berlika-liku itu, memberikan nuansa happy tersendiri bagiku, sih. Berduaan dengan Gliv [Grand Livina tersayang] sungguh bikin adem, nyaman dan tenang. Ada rasa damai yang aku sendiri sering heran deh, Sobs! Kan Gliv itu benda mati. Tapi kok rasanya begitu menyatu dengan jiwaku. Bahkan, terkadang aku bisa seperti orang sakit jiwa lho, masak bicara pada Gliv seperti bicara pada Intan, haha.

Dan, di Bandung ini? Kemana aku harus driving alone? Jenuh euy! Driving di dalam kota Bandung, jelas ga akan memberikan keasyikan apalagi bikin happy. Macet, jalanannya sempit, penuh pula oleh berbagai kendaraan, baik roda dua maupun lebih. Huft. Etapi, kenapa ga coba main-main di tol ajah? Nah! Itu baru ide apik, tuh, Al! Main ke Jakarta, driving alone, dan kalo perlu nyobain nginep di mobil! Seru itu, mah! 

Dan, tanpa perlu berpikir ulang dan ulang, aku pun menyiapkan diri. Cukup bawa seperangkat alat shalat hayyah, kayak mas kawin di sinetron2 ajah, seperangkat toiletris, seperangkat simple kosmetik yang biasa menemani, sepasang underware [atas bawah], sepotong jaket dan sehelai selimut. Sengaja ga bawa baju ganti, takut tergoda untuk stay lebih lama di jalanan. Hehe. Dan, meluncurlah aku bersama Gliv. Baru akan beranjak, eh ada telepon masuk dari Dijah, yang mungkin karena insting tajamnya merasakan aku hendak 'melarikan diri'. Dia pun minta ikut. Ya sudah, tapi dari awal aku sudah katakan bahwa aku ingin hangout dan bermalam di jalanan. No motel apalagi hotel. Dan no problem with her. Dia manut. Okelah kalo begitu. Dan kami pun meluncur.

Driving santai, dengan lebih banyak berdiam diri, karena aku sengaja memintanya untuk tidur saja dan membiarkan aku berdua saja dengan Gliv. Aku ingin menikmati jalanan. Yang sayangnya, baru driving 1,5 jam, eh kami sudah tiba di Jababeka, tempat kuliah dan tinggalnya Intan. Ya ampun, tanpa sadar, fikiranku mengarahkanku kesini. Begitu rindunya aku pada putri tercinta, yang aku tau persis bahwa dirinya tak ada di sini, tapi aku ngotot untuk hadir di sini. Melihat dan muter-muter di area tempat tinggalnya saja pun cukuplah bagiku. Cukup membuatku tenang, dan mampu meyakinkan hatiku bahwa anakku akan baik-baik saja. Dasar emak yaaa? 

Parkir mobil di sekitaran kampusnya Intan, menikmati gerahnya udara Jababeka sekitar dua jam-an, akhirnya kami memutuskan untuk cari tempat for dinner. Ya, biasa, agar sepaket dengan tema jalan-jalan ini, kami pun cari kuliner yang ngampar alias kaki lima gituh. Dan nemu penjual soto madura yang berjualan sekomplek dengan sebuah SPBU, berdampingan dengan indomaret yang lumayan besar di sebelahnya. Sambil makan, aku sudah mikir untuk bermalam saja di sini. Toh ini SPBU 24 jam, dan merupakan jalan lintas orang-orang yang hendak ke Cirebon. Jadi parkir dan tidur di dalam Gliv, di area ini pasti lah aman. Selain itu, aku pasti akan mendapatkan banyak bahan untuk ditulis dengan mengamati aktivitas malam di sekitar sini nih.

Namun, sekitaran jam 11-an malam, feelingku kok ga enak ya? Melihat segerombolan lelaki yang nongkrong di dekat warung soto madura ituh. Hm, sepertinya ga aman deh kalo 'nginep' di sini. Harus cari lapak baru nih! Hehe. Kutanyakan pada Dijah akan feelingnya. Ealah, nih cewek malah ngajakin nyari hotel ajah. "Kita cari hotel murah aja yuk, kak, aku takut!"
What? Cari hotel? Takut? Weleh weleh! Bisa mentah donk agenda eikeh kalo akhirnya nginep juga di hotel. Ga ada istimewanya lagi dunk, ah!

Jelas aku menolak dunk. Dijah malah merengek. Ga, boleh! Aku ga mau. Kan niat awal tadi aku ingin 'mengembara'. Menikmati malam hari dengan nginep di jalanan. Ya, walau di dalam mobil, tapi di jalanan, gituh! Kuputar arah Gliv, dan kami meluncur keluar dari Jababeka. Menuju tol dan mengarah ke Bandung. Dijah jadi ga enak hati. "Kak, jangan marah donk. Ayo kita cari mesjid deh kalo kakak ga mau nginep di hotel. Jangan ke Bandung. Aku ga mau kakak jadi hilang mood gini."

Aku diem sambil terus saja mengemudi. Kulirik arloji di tangan kiriku, jarum panjangnya telah menunjuk ke angka 11.45 menit, kalo kupacu Gliv lanjut ke Bandung, palingan kami akan keluar dari exit tol Buah Batu sekitar jam 2.30 an dini hari, mengingat hari mulai hujan, pasti ga bisa ngebut deh. Dan sungguh tak elok meluncur pulang ke kosan pada dini hari buta seperti itu kan? Ntar dikira ibu kost, aku ini wanita apaan pulang sampai dini hari begituh? Ah, tidak. Ga boleh. Lagi pula, harus komit dengan niat awal dunk. Aku kan ingin seseruan dan nginep di jalanan. Seperti pengalaman beberapa teman yang melakukan perjalanan lintas Sumatera atau lintas Jawa menuju Bali. Cerita seru mereka, yang setiap bertemu dengan 'malam' maka mereka akan stop untuk istirahat di polres, mesjid atau SPBU, baru paginya melanjutkan perjalanan kembali, begitu menarik hatiku untuk mencobanya. Dan kali ini, aku sedang memulai tahap kecilnya. Masak harus mentah begitu saja? Gliv terus meluncur sembari aku terus berpikir.

Dan saat melihat pamplet 'Rest Area 57' 1 km lagi, sekelebat cahaya terang pun menyinari pikiran. Yes, nginep di rest area ini aja deh! Pasti aman. 24 jam, dan pasti akan banyak mobil-mobil lain yang parkir dan nginep juga. Kami pun meluncur masuk, perlahan. Gliv melaju dengan lembut.
Yes, kuparkirkan Gliv tepat di dekat mesjid cantik yang ada di area rest area ini. Mesjid yang bersebelahan dengan toiletnya yang juga bersih. Tak jauh dari area ini juga ada alfamart dan CFC. Cocok lah ini. Dan, destinasi pertama yang kami tuju adalah toilet. Hehe. Lalu cuci muka, wudhu dan menuju mesjid untuk shalat Isya. Baru setelahnya, rasa ngantuk mulai menyerang. Kuambil selimut dari tas bawaan, dan langsung deh kami merebahkan kursi depan Gliv, menguasainya satu seorang, kiri kanan, dan lelap hingga esok paginya. Dan..., aku bahkan tak sempat mengamati alam sekitar dan suasana malamnya yang hendak aku tulis ituh, Sobs! Haha.

Keesokan paginya, Dijah yang duluan bangun. Kebelet pipis dan membangunkanku untuk shalat Subuh. Setelahnya, kami malah lanjut tiduran lagi di kursi Gliv yang masih rebah. Hingga kemudian terbangun sendiri oleh cahaya matahari yang menerpa dedaunan dari pohon besar di depan Gliv, dan menerobos hingga ke dalam Gliv dan menyilaukan mata. Ya ampun, sudah jam 9. Pantes saja Pak Satpam bolak balik ke dekat kami, tapi sungkan menyapa. Penasaran, ini mobil BL [Aceh] hendak kemana? Kok cuma berisi dua wanita cantik tanpa pengawal? Hendak kemana? Mungkin itulah yang ada di fikirannya. Aku tak begitu peduli, setidaknya saat terjaga itu, karena wajah saja belum dibasuh kok udah hendak beramah tamah dengan alam sekitar sih, hehe.

Barulah setelah cuci muka, gosok gigi dan dandan alakadarnya, kami mendekati si Pak Satpam, yang tak jauh-jauh dari Gliv. Kusapa dengan sopan dan mulai bercerita. Beliau dengan memohon maaf, bertanya kami hendak kemana. Kukatakan saja bahwa kami hendak ke Bali, baru dari Lampung, makanya lelah, dan terpaksa menginap sebentar di SPBU ini. Hihi. *Ngibul wae ih!
Si pak Satpam terlihat kagum. Wah, mbak-mbak ini pemberani sekali. "Ok, Mba, silakan sarapan dulu sebelum lanjut perjalanannya. Hati-hati nanti di perjalanan yaaa."

Dan kami pun sarapan di CFC seraya nonton lanjutan 7 manusia harimau di youtube, sambil sarapan the fried chickennya CFC. Asyik dan santai. Ke Bali? Nanti donk, ga perlu buru-buru toh? Kan kapan ketemu 'malam' tinggal singgah dan nginep di tempat yang aman, seperti kantor polisi, mesjid atau SPBU. Hihi. Ternyata, Sobs! Seru pisan euy!

sekedar sharing,
Al, Bandung, 27 Januari 2015




20 comments

fried chickennya itu mah yg bisa menghilangkan kegalauan hahaha ccrispynya yg krenyes2 juga :)

Reply

byuh... dari Lampung mau ke bali? ga sekalian dari Aceh mau ke medan ajah bu?
eh, bentar.. aceh-medan lewat bandung ga ya?

Reply

Hahahaa..ke Bali..
Ga ngajak2, taoo getooh ikooot Cyiin !

Reply

Hehe, betul banget, Mak Dwiex'z. Crispy nya itu yang bikin happy. Plus nonton 7 manusia harimau via youtube nebeng wifinya rest area, cespleng deh! Haha

Reply

Oh
..
Kalian bohong ya.....bilang mo ke bali...oh ternyata ...:D

Reply

Haha, yuk cyin, kita agendakan ke Bali naik Gliv. Ga boleh nginep di hotel sebelum sp tujuan. Deal?

Reply

Haha... ampyun Pak Satpam. Habis, Bapak seh, wara wiri di sekitar sini mulu... :p

Reply

Seruu, asik..hehe ngebayanginnya seru :D

Reply

kirain dari rest area mau lanjut ke Bali mbak :)

Reply

tapi kurang fotonya mbak...
kalo ada fotonya akan lebih menggiurkan ...

Reply

hadeeuuhhh, reman pisan dirimu teh, Maaaakkk

Reply

Mbakkkk.. Aku sm suami doyan bgt tidur di pom bensin ato rest area.. Ishhh jd kangen nih pengen berpetualang lagi hehehe

Reply

wahh seru banget petualangannya di jalan mbak :)

Reply

Pengen banget lanjut ke Bali, Mbak Lidya. Cuma budget belum cukup euy!

Reply

waduuh mba, asyik banget ya perjalannya. Jenuh jadi hilang ya mba... :)

Reply

mbak Aaaaaal...
ini seru sekali sih petualangan-nyaaaa...menyusuri jalan tol terus tidur di rest Area :)

Emang sebaiknya sih jangan di pom bensin mbak, suka banyak supir truk :)
Duuuh...aku jadi pengen sarapan CFC iniiiih :)

Reply

Kriuk... kriuk, chrispy banget yak...

Reply

Dulu sempat terpikir juga mau jalan-jalan malam sampai menemukan tempat tidur seadanya. Tapi belum kesampaian sampe sekarang..
Duh, teh. kenapa ngga diajak ke Bali sekalian Pak Satpamnya? :P

salam hangat dr Bandung, :)

Reply