Iran, si Negeri Syiah Sejati | My Virtual Corner
Menu
/
Melanjutkan postingan 'yuk main ke Iran' yang telah masuk ke topik super menarik dalam rangka menemukan jawaban-jawaban :
Apa benar orang-orang Syiah [Iran] itu hanya melakukan shalat 3 kali sehari? Dengan membawa shalat Ashar ke Zuhur dan Maghrib ke Isya? Apa benar Shalat Jumat tidak wajib di Iran? Atau kalau pun melaksanakan shalat Jumat, maka shalat zuhur tetap harus dilaksanakan? Apa benar Orang Iran kalo shalat senantiasa meletakkan Turbah/batu kecil [yang terbuat dari tanah Karbala] di bagian kepala sajadah untuk disujudi? Apa benar kaum Syiah menggunakan kitab suci yang berbeda dari kaum muslim lainnya? Apa benar orang kota Qom dan muslimah pedesaan Iran menggunakan chador? Dan beberapa ‘apa benar’ lainnya, maka yuk langsung kita ikuti kisah perjalanan kami di hari kedua keberadaan kami di Iran yuk, Sobs. 

Ah iya, yang paling penting untuk diingat adalah, artikel ini ditulis murni sebagai sharing/reportase ala Alaika Abdullah, terkait kunjungan langsung ke negeri Syiah [Iran], bukan untuk mendiskusikan tentang kelebihan dan kekurangan mazhab yang satu ini, karena sejujurnya, I am not the expert in that case. :) Jadi, mohon tidak menjadikan kolom komentar artikel ini untuk saling menuding, menghujat apalagi menghakimi. Mari saling menjaga agar damai ini tetap terasa indah. Ok? 

Hari kedua, 5 Agustus 2013, seorang guide tampan Irani beserta seorang supir profesional plus sebuah minibus yang lumayan besar [berkapasitas 15 orang] telah menanti tepat pada jam 9 pagi. Pertemuan pertama di lobby hotel, langsung lanjut memasuki mini bus dan mulus melaju ke arah kota Qom.

Percakapan menarik langsung terjadi dengan mas guide yang bahasa Inggrisnya cas cis cus. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan ayah, secara bergantian antara aku dan Andri [adikku] diubah ke dalam bahasa Inggris dan memforwardnya ke si mas guide untuk mendapatkan jawaban.
Pertanyaaan-pertanyaan sensitive tentu saja dengan terlebih dahulu memohon maaf dan pengertian darinya, tetap meluncur dan meminta jawaban. Dan si mas guidenya yang open minded, menjawabnya dengan upaya maksimal dan senang hati. Sempat juga dia bercanda kepada supirnya, bahwa sepulang dari mengantarkan kami, dia sudah bisa menggunakan sorban di kepalanya, perlambang telah jitu ilmu agamanya. Haha.

Memang tak banyak dari wisatawan yang ditemaninya selama ini, yang meminta untuk diajak wisata religi seperti yang kami lakukan ini. Biasanya yang suka begini, kalo bukan orang-orang Sunni, ya orang-orang non muslim Eropah yang penasaran untuk mengetahui praktek Syiah secara langsung dari sumbernya [kota suci yang ada di Iran, seperti kota Qom ini].

Kota Qom, yang merupakan ibukota dari provinsi Qom terletak sekitar 156 km barat daya Tehran, berpenduduk sekitar 1.042.309 jiwa pada sensus 2005, dan berada di tepi sungai Qom. Kota ini dinobatkan menjadi kota suci bagi penganut Islam Syiah, di mana di kota ini terdapat makam dari Fatimah al-Ma'sum, saudari dari Imam Ali ar-Ridha, dan menjadi kota pendidikan Syiah terbesar di dunia. 
 ~sumber [http://id.wikipedia.org/wiki/Qom]. 

Perjalanan ke kota ini membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam dari kota Tehran, melalui jalanan keren menakjubkan. Yup, salut dengan pembangunan di Iran, walau diembargo tapi tetap melaju pembangunannya, terutama jalannya yang lebar, mulus dan bagus. Pemandangan kiri kanan jalan, dipenuhi oleh padang gurun yang coklat tandus dan panas. Untungnya kita menumpang minibus yang full AC dan luas, jadi panasnya udara di luar sama sekali tidak menyentuh tubuh. Alhamdulillah. Namun, walau panas, pemandangan sepanjang perjalanan ini tetap tersaji ciamik!



Teriknya mentari di musim panas, bahkan membuat danau garam berhasil menyajikan 'lautan' garam yang menghampar putih menakjubkan, yang sayangnya terlupa untuk di-capture oleh kamera saking terpesonanya aku menyaksikan keindahan kreasi Sang Maha Pencipta. :). 

Berbicara tentang Syiah, memang tidaklah gampang. Setiap keyakinan [paham/sekte] tentu didasarkan pada keyakinan dan kepercayaan masing-masing kaum atau kelompok. Tak dapat dipungkiri, bahwa banyak sekali teman-temanku yang langsung mencibir bahkan menghakimi seseorang yang diketahui sebagai penganut Syiah. Di mata mereka, Syiah adalah sebuah aliran yang tidak benar dan harus dijauhi. Pendapat ini tentu saja bukan hal yang timbul dengan sendirinya, melainkan dipicu oleh berita-berita yang begitu marak tentang paham/sekte ini, yang semakin diklaim sebagai sebuah aliran yang menyesatkan. Syiah adalah aliran sesat yang harus diwaspadai bahkan dijauhi dan dimusuhi. Begitu tulisan yang santer di media massa juga layar kaca, terkait berita tentang Islam Syiah yang sedang marak di negeri ini. 

Tak cuma di layar kaca dan media massa, namun di jagad virtual pun, kita menemukan seabrek artikel terkait topik Syiah. Pro dan kontra, saling mendominasi, saling menghakimi dan bahkan saling menyakiti. Semua seakan 'lupa' bahwa sebenarnya kedua belah pihak adalah berasal dari mata air yang sama, yaitu Islam. Sekali lagi, artikel ini sendiri, murni tak bermaksud untuk membela atau pun untuk menjatuhkan paham yang satu ini. 

So far, aku berusaha untuk berada di pihak yang netral. Tidak ingin terpengaruh oleh berita heboh bin santer tanpa aku mengerti secara menyeluruh. Aliran Syiah itu bagaimana secara detil saja, aku tidak begitu ngeh, yang kutahu adalah mengenai hal-hal yang menjadi pertanyaaan kami di atas. Tentang sisi jahat/buruk lainnya, yang dihebohkan itu, aku pun tak paham. :) 
Jadi, alih-alih menyalahkan, mending aku no comment dan tetap pada keyakinanku sendiri, menjalankan Islam yang aku dan keluarga besarku yakini [Sunni] dengan baik dan berharap ridha dari Allah untuk senantiasa melindungi kami dari sentuhan-sentuhan aliran yang tidak benar. Aamiin. 

Well, back to the topic, berikut adalah tanya jawab kami dengan si mas guide [Iranian Shiah] dan beberapa narasumber lainnya, baik teman Indonesia - Sunni, yang sudah lama berdomisili di kota Qom, Tehran dan teman Syiah asli Iran. Blue font adalah pertanyaan yang kami ajukan, dan black font adalah jawaban si mas guide dan nara sumber lainnya.

Benarkah kaum Syiah melaksanakan shalat tiga kali sehari? Azan hanya terdengar tiga kali sehari? Dan mesjid telah dikunci rapat usai mereka laksanakan shalat Maghrib?

Mas guide menjawab pertanyaan demi pertanyaan sensitif yang kami ajukan dengan baik dan terbuka. Jawaban yang walau telah kami duga benar adanya, tetap saja membuat kening kami sedikit bertaut. Ternyata memang benar, mostly kaum Syiah ini melaksanakan shalatnya tiga kali sehari. Yaitu pada pagi hari [Subuh], pada siang hari [Zuhur dan Ashar] dan pada malam hari [Maghrib dan Isya]. Namun jumlah rakaatnya, tetap 2, 4, 4, 3 dan 4, seperti yang kaum Sunni juga lakukan [tentang jumlah rakaat]. Mas guide menyatakan bahwa sebenarnya mereka tetap melaksanakan shalat lima kali sehari, tapi di dalam tiga waktu, yaitu pagi, siang dan malam. Namun, tambahnya, ada juga kaum Syiah Iran, yang taat shalat lima kali sehari sebagaimana layaknya dilakukan oleh kaum Sunni, tapi tidak secara berjemaah di mesjid-mesjid, melainkan secara personal. Mengapa ada yang demikian?
Karena, mereka mencontoh Rasulullah yang pernah menjamak shalat dalam situasi tidak sedang musafir, atau tidak sedang dalam situasi ketakutan atau hujan, atau situasi darurat lainnya. Alasan Rasulullah melakukan penjamakan itu adalah untuk tidak menyulitkan umatnya. Namun, Rasulullah sendiri senantiasa berusaha untuk mengutamakan shalat lima waktu ketimbang menjamaknya.
Begitu katanya, hm..., twing-twing deh! 

Jawaban mas guide, langsung mengingatkan kami pada kejadian malam sebelumnya, di mana kami mencari mesjid untuk shalat Isya [rencananya ingin sekalian menjamak Magrib di Isya], eh ternyata si mesjid telah dikunci rapat. Dan si mas guide membenarkan, bahwa memang kebiasaan di sana, mesjid langsung dikunci rapat setelah usai shalat Maghrib, karena tidak ada shalat Isya, sudah dikerjakan usai shalat Maghrib. O, begitu toh, Mas! :)

Namun beberapa teman yang tinggal di kota Qom justru menjelaskan bahwa di sana kenyataannya berbeda, bahwa beberapa mesjid atau tempat ibadah malah buka 24 jam, misalnya seperti Hazrat Fatimah al Ma'sum, malah terbuka lebar selama 24 jam. Karena tempat ini tak hanya dipakai untuk shalat, namun juga untuk konsultasi keagamaan, belajar mengaji, dan kegiatan religius lainnya. Bahkan mesjid-mesjid ini menyediakan beberapa kursi untuk jemaah yang berkebutuhan khusus, beberapa bantalan untuk sandaran para orang tua agar rileks punggungnya saat mendengar ceramah, dan semacamnya.

Benarkah kaum Syiah menggunakan sebuah batu kecil [turbah] yang terbuat dari tanah Karbala untuk diletakkan pada bagian sajadah untuk disujudi?  

Benar, itu sudah menjadi kebiasaan masyarakat Syiah Iran, yang senantiasa meletakkan batu tersebut [turbah] untuk menyentuh dahi mereka pada saat mereka bersujud.

Mengapa? Bukankah itu seakan-akan kaum Syiah sedang menyembah turbah?" Tanyaku sangat hati-hati, karena ini bersifat sensitif.


Mas guide dan beberapa sumber lainnya yang sempat kami tanyai di Hazrat Fatima al-Ma'sum [Fatime Mesume Shrine] di kota Qom, menjawab seperti ini:

Dalam hal aqidah, kami sama dengan Sunni dan umat muslim lainnya, hanya menyembah Allah SWT, tidak menyembah makhluk-Nya, apalagi menyembah batu atau tanah. Jika kaum Sunni dan muslim lainnya bersujud kepada Allah di atas kain sajadah, maka kami bersujud kepada Allah di atas turbah, di atas tanah. Di situ saja perbedaannya. Persamaan keduanya adalah sama-sama menggunakan suatu media untuk alas bersujud, begitu kan? :) 

Mengapa turbah? Karena turbah dianggap sebagai pengganti tanah,  karena bagi kami sujud harus benar benar dilakukan di atas tanah murni atau apa yang tumbuh diatas tanah tersebut, asalkan tidak dimakan atau dipakai. Jadi, jika kami sedang berada di luar negeri, di mana turbah tidak tersedia atau terlupa untuk kami bawa, maka kami menggunakan benda lainnya yang berbahan dasar/terbuat dari alam, seperti tissue, kertas, dan lain-lainnya sebagai alas.

Oh, begitu ya, Mas? #Manggut-manggut. Ingin mengejar dengan pertanyaan lainnya, seperti apa dasar hukumnya, dan lain sebagainya, namun kami kehilangan kata-kata. Namun si mas guide, dengan bijak dan bagai mengerti tanda tanya yang ada di hati kami, menambah penjelasannya. Bahwa yang mendasari kaum Syiah bersujud di atas tanah adalah karena Rasullullah juga melakukan hal serupa. Rasulullah selalu bersujud di atas tanah, tikar atau alas lain yang terbuat dari bahan alami. Si mas guide menambahkan agar kami juga mencari referensi tentang hal ini di internet mau pun sumber lainnya, jika berminat, karena beliau sendiri sih, tidak senantiasa bersujud di atas turbah, terutama jika sedang berada di area yang tidak tersedia turbah.

Tak urung, penjelasan ini, menyisakan rasa penasaran di hati kami, sehingga malamnya, aku dan ayah browsing dan main ke rumahnya mbah Google untuk mencari informasi tentang pro dan kontra penggunaan turbah ini, dan hasilnya? Ampuuun deh, perang antar paham begitu mengerikan. Saling menyalahkan, saling tuding memenuhi jagad maya melalui artikel yang ditulis oleh penulis yang pro dan kontra.

Mungkin, Sobats sendiri juga sering menemukan artikel-artikel pro dan kontra ini kan? Bagi yang belum dan mungkin semakin penasaran akan hal ini, bisa langsung meluncur dan search sendiri deh di rumahnya si Mbah [Google],  karena aku sendiri kurang berminat bahkan bingung untuk mengulasnya di sini. Jadi, mari kita kembali pada penilaian dan keyakinan masing-masing aja , yuk. :)

Bagaimana pandangan kaum Syiah [Iran] terhadap shalat Jumat? Apa benar kaum Syiah Iran menganggap shalat Jumat itu tidak wajib dilaksanakan? Dan jika pun melaksanakan shalat Jumat, maka tetap harus melaksanakan shalat Zuhur?

Hm, this question required a long answer! Jawabnya seraya tersenyum, tapi kemudian si Mas guide malah diam sejenak. Mungkin sedang mencoba menjawab dengan bijak. :) Lalu, si mas yang tampan ini mulai menjelaskan, bahwa memang banyak sekali yang menuding demikian. Dan pada kenyataannya, banyak sih lelaki-lelaki Iran yang tidak ke mesjid untuk shalat Jumat. Tapi itu bukan berarti bahwa shalat Jumat itu tidak wajib. Namun, pelaksanaan shalat Jumat di Iran memang unik. Tidak seperti di negeri-negeri muslim lainnya, di mana shalat Jumat di laksanakan di mesjid-mesjid desa, kota atau di mana pun. Nah, kalo di Iran, setiap kota hanya menyediakan satu tempat untuk ibadah shalat Jumat. Misalnya, untuk di Tehran, pemusatan shalat Jumat adalah dilakukan di Universitas Tehran. Lebih uniknya lagi, jemaah shalat Jumat ini, tidak terbatas pada kaum pria saja, namun juga diramaikan oleh kaum wanita. Jadi bisa dibayangkan, betapa ramainya arena shalat Jumat yang hanya terpusat di satu tempat [Universitas Tehran] ini, menampung penduduk kota Tehran yang populasinya mencapai 12 juta jiwa, dan hari Jumat adalah hari libur di sana, sehingga kesempatan untuk bersiap-siap untuk shalat Jumat menjadi lebih besar bagi orang-orang yang meyakini keutamaan shalat Jumat. Apalagi, pemerintah Iran, menyediakan angkutan-angkutan umum/bus jemputan untuk menjemput jemaah yang berada jauh dari tempat ibadah. Jadi kalo dikatakan bahwa tidak wajib shalat Jumat di Iran, rasanya kurang tepat. Begitu jawaban diplomatis dari mas guide. :)

Mengapa dipusatkan di satu tempat saja untuk masing-masing kota?

Menurutnya, dan juga beberapa teman Sunni dan Syiah di sana [Iran], alasan utama pemerintah melakukan ini adalah untuk menunjukkan 'kebesaran, kebersatuan, kekompakan, kekuatan' umat muslim, sehingga 'musuh' [Amerika, Yahudi dan bangsa Eropa] akan berfikir dua kali untuk mencoba mengganggu/menghancurkan mereka. Jadi tujuan pemusatan di satu tempat ini, menurut mereka lho ya, adalah lebih ke tujuan politik seperti itu.

Namun, saat ini, di beberapa kota seperti Qom, sudah mulai ada beberapa mesjid yang dibuka untuk tempat lakukan shalat Jumat. Karena pada dasarnya, kaum Syiah juga menganut paham bahwa Shalat Jumat memang boleh dilaksanakan di mesjid mana pun dengan berjarak sekitar 5 km antar satu dengan lainnya.

Benerkah setelah shalat Jumat, lalu kaum Syiah melaksanakan lagi shalat Zuhur, lalu Ashar?

Tidak benar. Shalat Jumat telah menggantikan shalat Zhuhur, sehingga tak perlu lagi melakukan shalat Zhuhur. Setelah membaca doa-doa dan ibadah sunnah lainnya, barulah mereka laksanakan shalat Ashar [Jamak], seperti biasanya.

Apa benar Syiah/Iran menggunakan kitab suci yang berbeda dari kaum Sunni mau pun kaum muslim lainnya? 

Mas guide malah tertawa lebar. Kata siapa? Tukang fitnah! Oops. Eikeh jadi ga enak hati deh. :( melihat raut wajah tampan itu mengeruh. Kami memiliki kitab suci yang sama dengan yang kaum Sunni miliki. Al Quran yang sama. Tidak ada perubahan ayat atau revisi seperti yang didesas-desuskan! Silahkan go to internet dan download e-Al-quran Irani untuk cek and ricek. Atau silahkan beli Al-quran asli Iran untuk dapat kalian lihat langsung. Maaf, jika suara saya terkesan meninggi, habis saya suka geram dengan desas desus fitnah itu. Baik Syiah mau pun Sunni, mempunyai al-Quran yang sama. Buktinya, kami sering menyelenggarakan Musabaqah Tilawatil Quran, baik national mau pun international, dan terbuka bagi seluruh muslim, baik Sunni mau pun Syiah. Jika kitab suci kami berbeda, mana mungkin kami disambut baik oleh muslim lainnya? Mana mungkin ada peserta di luar kaum Syiah?
Hm, Ok mas guide, jangan esmosi dunk ah! :)

Iran adalah negara Islam Republik, setau saya, saat ini hanya ada dua negara Islam di dunia, yaitu Iran dan Afghanistan. Yang menarik adalah, tentang cara berpakaian para wanita di negeri ini. Tadinya saya membayangkan bahwa wanita-wanita di sini, seperti layaknya wanita-wanita Arabia, yang membungkus dirinya dengan jubah muslimah [chador]. Namun kenyataannya, terutama di kota Tehran, kami melihat banyak sekali wanita yang berpakaian kurang muslimah. Misalnya dalam hal cara memakai hijab; hanya mengenakan selendang yang menutupi setengah rambutnya, sementara setengah lagi rambutnya [poni] terlihat menjuntai keluar. Apakah memang demikian? Adakah daerah-daereah yang masih memberlakukan regulasi berpakaian secara syariah?

Mas guide kembali tersenyum manis. Aduhai senyummu itu, Mas! Haha.
Begitulah, mungkin juga, kalian sendiri menemukan banyak fakta bahwa wanita-wanita Iran, yang tidak taat menutup aurat. Saya sendiri, sering menyaksikan para wanita yang meninggalkan Iran [via pesawat terbang], yang langsung menanggalkan jubahnya, melepaskan selendang yang menutup rambutnya, dan tampil trendy dan seksi menuju negara lain, baik yang dalam rangka berwisata, atau apa pun. Begitulah adanya. Juga di Tehran atau pun kota-kota besar lainnya di negeri ini. Kaum wanita kami, memang modis dan berani, walau sekali-sekali, terjaring juga oleh razia syariah yang diadakan oleh pihak terkait. Mereka akan menangis histeris saat terjaring, dan berjanji untuk berpakaian muslimah yang baik. :)



Namun, tentu saja ini tidak berarti bahwa tak ada lagi muslimah yang benar-benar berpakaian muslimah. Ada, dan banyak juga. Terutama di pedesaan dan kota Suci. Nanti, sesampai di kota Qom, kalian akan melihat sendiri, betapa berbedanya wanita di Tehran dan wanita-wanita di kota Qom.


Hazrat Fatima Al-Ma'sum

Tak terasa, 2,5 jam perjalanan kami pun terpenuhi, dan tibalah kami di kota suci Qom. Kota yang menurutku sangat unik. Pak supir menghentikan minibus yang dikendarainya tepat di seberang jalan, artinya kami harus menyeberang dengan berjalan kaki, karena minibus akan diparkirkan di tempat yang lebih jauh lagi. Mas guide berpesan agar kami meninggalkan saja gadget dan camera DLSR di dalam minibus, daripada menitipkannya di tempat penitipan nanti. Ya, gadget bercamera [kecuali BB dan hape kecil lainnya], memang dilarang untuk ikut masuk ke dalam Hazrat Fatima al-Ma'sum [Fatime Mesume Shrine]. Apa sih Hazrat Fatima Al-Ma'sum itu?


Hazrat Fatima Al-Ma'sum sebenarnya adalah sebuah mesjid yang di dalamnya terdapat makam dari Fatima Al-Ma'sum, yaitu adik dari Imam Ali ar-Ridha, Imam ke delapan kaum Syiah. Mesjid ini luar biasa indahnya, terutama bagian dindingnya yang dipenuhi oleh serpihan cermin yang ditempel artistik, menimbulkaan kemilau luar biasa, yang tiada henti mendecak-kagumkan rasa setiap wisatawan yang hadir untuk beribadat atau sekedar menyaksikan dan mengagumi keindahannya.


Ada sensasi tersendiri yang hadir di hati, menyadari diriku berhasil masuk ke dalam gerombolan wanita-wanita berchador hitam pekat, yang menatap kami dengan tatapan mata layaknya menatap alien dari luar angkasa, karena pakaian kami yang tentu tak hitam seperti mereka.

Ya iyalah, kami kan hanya mengenakan chador cadangan yang disedikan oleh panitia Hazrat ini, agar bisa dan sah memasuki mesjid ini. Tapi sungguh deh, Sobs, sensasinya luar biasa, apalagi, selain bisa masuk dan berjalan-jalan di tempat para wanita berchador hitam ini beribadah, kami juga bisa melihat langsung makam Fatima al-Ma'sum yang 'disucikan' oleh kaum Syiah ini. Juga, berkesempatan untuk shalat zhuhur berjemaah dengan kaum Syiah, di dalam mesjid mereka, bahkan aku berkesempatan merekam suara kumandang azan mereka. Yang lebih membahagiakan lagi adalah, Onyxberry mungilku berhasil mengabadikan keindahan-keindahan yang ada di mesjid/shrine ini. Rasanya Wow banget! Nantikan sensasi-sensasi itu, dalam ulasan berikutnya di artikel mendatang ya, Sobs! Juga tentang penambahan lafazd 'Ali waliyullah ...,' di dalam kumandang azannya, akan diulas di postingan berikutnya, ok?

Sepenggal catatan dan kenangan perjalanan ke Iran,
112 comments

Dan postingan ini menjawab sudah semua rasa penasaran itu, wowww lega...

Reply

Wow...postingan yang luar biasa kakak. Membuka mata, membuka cakrawala :D
Ya saya setuju seperti yang kakak lakukan, menanggapi pro kontra Sunny dan Syiah ini tidak harus dengan ikut-ikutan memaki dan menuduh-nuduh sesat, apalagi mengkafirkan. Berat hukumnya mengkafirkan seorang muslim yang baik-baik. Nah lho, itu kan ketauan kalo mereka juga muslim kan, ya? Al qur'anya sama, rakaat salatnya sama, dan tetap menganggap bahwa Rasulullah adalah orang yang patut diteladani.
Ngeriiiii memang membaca berita-berita terkait dua liran ini di dunia maya, makanya saya bersikap nggak mau ah bacanya :D
Makasih atas sharingnya ya kak. Good Job deh ;)

Reply

Mantaaaap
akhirnya bisa membaca berita ttg Iran tanpa ada kesan prejudice dari tulisan keren ini .. thanks Mbak Alaika .. keren sangat

Reply

Uhuy jalan-jalan terus nih. menikmati tulisan perjalanannya, tentu pengalaman berharga ya bisa ke Iran.

Reply

Wow.... tulisan yang sangat menambah pengetahuan. Makasih banyak sudah sharing, Mak. Jadi tahu banyak hal deh :)

Reply

suka banget dng tulisan ini, membuka mata apa yg saya sendiri gak berani nanya kalo ketemu sama orang syiah. Sensitif. Thanks mbak Alaika

Reply

Salam.
Alhamdulillah bisa menikmati tulisan ini setelah kewajiban lain dilaksanakn,biasa bebenah dll. ternyata tulisan yang disambi chat sama saya semalam ini tho...! Keren banget dan swear nambah nih wawasannya.. selama ini Iran, syiah dan negarawan Khomeini diliahat hanya luarnya saja.
Thanks ya.:)

Reply

kata suamiku, tidak boleh sembarangan menuduh syiah sesat,syiah takiyah dsbnya. selaama syahadatnya tidak berbeda, tidak boleh mengkafir-kafirkan dengan seemena-mena. syiah banyak ragamnya (sektenya). Tulisan mbak sedikit banyak menjawab hal tersebut. semoga tidak ada lagi gontok-gontokkan antara umat islam soal ini.

Reply

Sungguh beruntung Mbak Al bisa melihat dari dekat negri Syiah ini, yg telah mengisi sejarah Islam berabad lampau

Reply

Keren banget postingannya, Mba Alaika..

Saya juga pernah mengalami dan menyaksikan sendiri temen yang punya aliran syiah..waktu kelas 2 SMA
Awalnya saya heran knpa sebagian besar temen2 Rohis tiba2 pada ngejauhin dia.. gara2nya dia ketahuan melkasanakan solat dengan tata cara solat yang berbeda dengan kita. Jadi dianggap Aneh. Selain itu juga dia dan beberapa temannya di kelas pernah bercanda, kelepasa ketawa tiba2 dia bersedih dan melarang dirinya sendiri untuk ketawa pada tanggal 10 bulan asyuro (Peristiwa perang karbala)..

Beberapa teman yang gak mengerti mencap dia berALIRAN SESAT..
Akhirnya kudekati dia. dan dengan agak hati2 kutanyakan padanya apa dasarnya dia melakukan solat dengan tata cara aneh (berbeda dari yang lainnya) dan jarang mau berjama'ah di masjid?

Dia pun menjelakan bahwa imamnya berbeda dengan yang kami yakini kebanyakan, (tata cara) solatnya pun berbeda. Ada tiga waktu. Dia juga kadang solat Jum'at kalo lagi libur (gak sekolahh)

Aku tanyakan juga, apa keluarganya juga syiah?
Jawabnya tidak, hanya dia sendiri aja. KArena dia disini tinggal di sebuah pesantren. Keluarganya jauh di sebuah daerah. Dan dia di sekolahkan (SEkolah di SMA negeri) dan dibiayai hidupnya sehari-hari oleh pesantrennya tersebut.

OOh jadi faktor lingkunganlah yang mempengaruhi dia.

Trus aku tanya, apakah orang tuanya gak marah ama dia karena dia"Berbeda"?
Dia jawab,"Gak" selama tidak melanggar ketauhidan. Toh Kitab Suci kami (syiah) sama dengan kalian (Sunni).

YA.. dari situ saya pertama kali mengenal dan belajar (untuk bertoleransi) dengan syiah..

Gak perlu ada yang diperdebatkan.. kalo bagi saya (mungkin) hanya Fiqih nya saja yang berbeda.. sama seperti aliran2 yang ada dan diajarkan oleh organisasi Islam di Indonesia.. mereka juga pasti akan berbeda satu sama lain bukan?

Disini hanyalah perbedaan memahami sebuah konteks hadist.. Toh sahabat Rasulullah juga berbeda dalam memahaminya? Para Imam, ulama juga berbeda dalam memahaminya?

Dan kita tidak berhak mengkafirkan atau memandang rendah seseorang atau kelompok. Karena belum tentu kita lebih baik dari mereka bukan? HAnya Alloh lah yang mempunyai Hak Mutlak menilai baik buruknya manusia..

Keberagaman itu Indah..Setiap otak memiliki pola pikir dan kebiasaan yang berbeda..Karena manusia itu tidak akan pernah sama.. Dan Alloh cinta akan keindahan..

Reply

Mak Alaika, postingannya keren banget! Benar-benar menambah wawasan aku. Makasih, Mak. Btw, foto mas guide gantengnya manaaah? Manaaah? :))) *guling-guling penasaran*

Reply

Ulasan yang membuka wawasan saya. Saya tunggu ulasan selanjutnya ya mba...

Reply

ciamik sekali postingannya kak. liza dulu juga pernah bertanya tentang syiah ini pada teman dumay yg berasal dari Iran. dan jawabannya sama seperti mas guide. menurut liza, selama masih beriman pada rukun iman dan menjalankan rukun Islam, syiah dan Sunni tidak ada bedanya. kalau pun ada perbedaan, hendaklah disikapi dengan kepala dingin.

Reply

ulasannya menarik, kesimpulannya ISLAM itu satu yang membedakan golongannya ya mbk.. ternyta inilah ISLAM di Iran. syukronLillah ilmunya mb

semangat neh kesini trs hihi.
lama gak kesini.

Reply

Terasa sekali kehati-hatian mbak Alaika dalam menuliskan tentang Syiah ini.
Selalu terlihat kecerdasan Alaika Abdullah dalam merangkaikan fakta demi fakta yang didapat.

Menyimak kisah selanjutnya :)

Reply

Makasih Mba Al. Jadi tahu secuil tenang Syiah. Saya serem sih ngelihat orang mengkafirkan orang lain. Padahal belum tentu yang teriak-teriak mengkafirkan itu benar juga.

Reply

thanks mba jadi lebih paham lagi :)

Reply

hemptt, ya mabk janagns aling menuding ahrus dengan bagaimana kita meyakininya kan ?

Reply

Jawabannya diplomatis . Saya baru tau e kalau cara beribadahnya seperti itu. Makanya kok yang di madura banyak yang memprotes

Reply

Aliran Syiah ya. Hmmm. Selama ini yang sering saya dengar dan baca beritanya adalah konflik peperangan antara Kaum SYiah dan Sunni di Iraq. Terima kasih sudah berbagi informasi tentang SYIAH di sini. Hmmmmm. Menarik sekali untuk dijadikan referensi

Reply

Ah... senangnya belajar tradisi dan budaya lain. sayangnya Mbak Alaika ngga skalian ke Afghanistan, kan udah deket tuh. jadi ceritanya biar makin komplit

Reply

Subhanallah...menambah wawasan tentang Iran dan syiah niy...
thank you sharingnya, Ka Alaika :D
pengen deh ketularan skill menulisnya, terampil berbagi cerita dalam tulisan ^^

Reply

Subhanallah.. Perjalanan yang sangat mengsankan ya mbak..

Sebagai pembaca aku bisa mendaoatkan banyak wawasan dan membuka pikiran.. ^^

Reply

Perjalanan yang menghasilkan liputan yang luarbiasa, Mba.

Salam wisata

Reply

wah...manstap tulisannya mba..2 thumbs up. kalo jempol kaki bisa diangkat, diikutin dech..hehe
kereen banget, ngikutin postingannya dari yang pertama niy.. :)

Reply

Tulisan yang lengkap sekali, jad bagi yang masih belum tau banyak tentang syiah lebih bagus baca tulisan ini deh. Selain menyinggung masalah mazhab mereka, sumbernya langsung dari asalnya. Mantap kak :)

Reply

Masya Allah.. artikelnya keren, kak Al.. ^_^
Gak seperti yang selama ini Aisyah denger, selalu menjelekkan golongan lain selain golongannya..

Reply

menarik banget catatan perjalanan ini mba :)

Reply

Smg bs mencerahkan ya , Yah. :)

Reply

catatan perjalanan mba Al emg bikin terperangah, selain ingat dengan jelas kronologis juga ingat nama2 temapt yg dikunjungi meski susah dihapal ya mba...hem hem hem

Reply

Reportasenya keren. Top markotop Mak Alaika

Reply

wah gt ya... Aku jd malu nih, krn sempet berburuk sangka ama kaum syi'ah. Dan bnr kata mbk Al, kita ga perlu menghakimi, krn kita jg ga bnr2 tau ttg mslh pro kontra ini. Jalani saja yg menjadi keyakinan kita dgn sebaik2nya. Ga usah menghujat2 yg lain.
Masih pnasaran nih mbk.. nungguin bangeeet postingan selanjutnya :D

Reply

sumpah,betah banget baca ini mbk.....baru tahu...ditunggu kelanjutan cerita2 berikutnya :D

Reply

Dibutuhkan orang seperti Mbak Alaika untuk menuliskan hal sensitif seperti ini...
Yang baca nyaman, tapi yang nulis lumayan capek untuk pilih kalimat yang pas dan dipahami semua pihak.
Meski ini reportase ala Mbak Alaika tapi layak di share di media masa yang lebih luas.
Salam!

Reply

pokonya mah kereeennn!!
saya jadi tahu shiah yang sebenarnya, trims mba Alaika!
Sukses selalu ya!

Reply

Tulisannya menambah pengetahuan Mak. Jadi lebih tahu yang sebenarnya, karena sumbernya dari kaum Syiah sendiri.

Reply

mbak... nggak bisa berkomentar lebih. karena aku dan mbak memiliki aliran yang sama.
ohya, mas-mas guidenya ngga di foto? hihihi,

Reply

Reportasenya endaangg bgt kakak.. Jd nambah byk wawasan.. Oya aku jd Inget jman msh ngajar dlu ada dosen Iran yg dtg ke kampus.. Aku yg dpt tugas ngajakin beliau jln2 keliling semarang. Nah pas wkt ashar n mgrib beliau ngingetin sya shlat tp dia sdr g shlat. Aku g tnya krn sdh tau kebiasaan shlat mereka, Trs 1lg mbak setiap shlat di samping beliau ada tnh dr karbala.. Org2 di sana gtu jg ga? Kyanya si dlm rangka menghormati sayidina Ali..
Istri beliau jg jilbab nya cuma ntup atengah kpla n tipis banget.. Kta si istri kehidupan dsna jg bebas.. Bnr kah??
Well Anyway.. Aku tunggu episode selanjutnya ya kakak......

Reply

halo mbak salam kenal ini pertama kalinya saya berkunjung hehe terima kasih ya sudah berbagi, saya jadi dapat pengetahuna baru deh sedikit banyak :)

Reply

saya sengaja tidak langsung memberikan komentar, sebelum beberapa kali membacanya. Kendati masih banyak yang harus digali tapi setidak-tidaknya postingan ini sudah menambah wawasan saya sekaligus membuka cakrawala baru bahwa sesungguhnya kita sebagai muslim tidak boleh taqlid buta atas informasi2 yang beredar tanpa mengklarifikasi atau minimal mencari informasi dari sumber yang valid. akibat rasa taqlid maka antara sesama muslim saling merasa golongannya yg paling benar dan gampang mengkalim sesat golongan diluarnya.
Padahal jika ditilik dari sejarahnya tidak sedikit peran serta golongan anti islam yang berada dibalik pertikaian muslim, karena memang tugas dia menghambat laju dan ukhuwah islamiyah.
Dari posting ini semoga makin banyak yang mengambil manfaatnya.

Terimakasih mbak Al...

Reply

Jazakallah atas Tabayyun-nya....
mungkin juga nih Pro dan Kontra terjadi karena Kurangnya Informasi seperti ini. dan juga. kurangnya Ilmu Agama yang tersampaikan oleh ulama-ulama yang ada sehingga malah jadi Debat kusir yang menimbulkan kemudharatan panjang dan malah sampai bermusuhan... Ulama-Ulama terdahulu apabila ada beda pendapat mereka bertabayyun kepada Hadist Shahih dan kitab-kitab jaman Khalifah... Jazakallah khair.. :)

Reply

Akhirnya keluar juga tulisannya k.
hohoohho..

Reply

Oh.. ternyata orang Syiah itu tidak semenakutkan seperti yang saya bayangkan selama ini ya.. bagus sekali tulisannya mbak Alaika.. sangat bagus dan bermanfaat

Reply

apapun perbedaan paham yang penting kita kembali koreksi diri masing2, apakah memang kita sudah benar-benar menjadi hamba-NYA yang patuh kepada segala ajaran-NYA dan menjauhi segala larangan-NYA,
karena rahmat dan ridho yang kita peroleh dari-NYA setelah tutup usia merupakan hasil dari segala amal ibadah perbuatan kita sendiri di dunia, dan bukan hasil dari amal ibadah yang dilakukan oleh orang lain.....salam :-)

Reply

Iya, ngeri rasanya melihat pro dan kontra ini, saling tuding saling menyalahkan. Ga ingin ikut2an ah. Yuk kita berjalan di jalur yang kita yakini saja ya, cut Adek. :)

Reply

Trimakasih atas kunjungannya, Mbak Ilna. Semoga bisa menjadi bagian dari bekal untukmu ke Iran nanti yaaa. :)

Reply

Iran sekarang mungkin agak sedikit lebih terbuka ya..
aku pernah lihat pameran kerajinan Iran, dan antara lain dapat buku pariwisatanya
negaranya indah lho..

soal perbedaan kedua mazhab ini trims udah memperluas wawasan

Reply

Saya punya kenalan yang saat ini bekerja sebagai salah satu staff IO (Information Officer) di Kedutaan Besar Iran di Jakarta. Mungkin dia bisa juga dikonfirmasi soal ini

Reply

Ternyata semua yang dilakukan mereka itu ada dasarnya ya. Emang sebaiknya tanya ke sumbernya secara langsung, daripada baca-baca tulisan kontroversial yang banyak beredar dan nggak jelas sumbernya, bukannya menambah wawasan, malah bikin berburuk sangka...

Reply

Wow ulasan yang keren kak Al. Coba ada lomba, menang deh tulisan ini :)
Saya membayangkan kalo mas guidenya ketemu sama banyak turis sekritis kak Al, mungkin kapok kali ya jadi guide hehehe. Eh tapi keren deh, mumpung di sana, jadi ditanyakan semuanya. Jempol deh atas keberanian kak Al. Terimakasih atas sharingnya :)

Reply

Keren banget tulisannya, mbak. Coba tulisan ini dibaca sama orang2 yang mengusir warga syiah di sampang madura itu kemudian mereka juga tercerahkan, karena biar bagaimanapun mereka masih muslim juga.

Oh ya, mbak. Mbak Alaika sempat bertanya soal Ritual Asyura gak? Penasaran juga dengan yang satu itu.

Sukses selalu, Mbakkk....

Reply

Dari kemaren udah liat tulisan ini dilink di fb! Tapi baru sempet khatam sekarang. Hehe..

Setahu gue, Ini cuma tentang perbedaan imam madzab. Madzab mereka beda ama mayoritas madzab yg diikuti di negara kita. Jangankan beda madzab, yg bermadzab sama pun kadang beda kaifiyah (tata cara) ibadahnya.

Yg naif adalah kalo kita cuma disibukin ama pro dan kontra suatu organisasi tertentu, kayak yg terjadi di negara kita sendiri. So, kalo perbedaan kaifiyah dalam madzab itu adalah rahmatul khilafiyah (perbedaan itu rahmat). Bahkan di Masjidil Haram pun kita boleh intiqal madzab (berpindah madzab) tapi masih dalam satu bab fiqih. Misal dalam hal batalnya wudhu' karna bersentuhan ama cewek. Kita boleh make madzab yg beranggapan bahwa nyentuh cewek tuh gk ngebatalin wudhu, karna saking banyaknya jama'ah dan tempat wudhu' yg jauh.

Dan tau gak ternyata yg make kaifiyah fiqih ini adalah madzabnya syiah? Tapi sunni oke2 aja tuh! Hehe..

Kalo soal sholat zuhur abis sholat jum'at, yg ngaku sunni di kampung gue juga ngelakuin kok! Alesannya jaga2 kalo sholat jum'atnya gak sah! Bhahaha, ada2 ajah! :-)

Reply

Hehe, iya nih, lagi ada kesempatan untuk jalan-jalan dan lihat negeri dan budaya orang lain. :)

Reply

Trimakasih sudah mampir, semoga tulisan ini mampu mencerahkan yaaaa. Setidaknya menambah wawasan kita semua. :)

Reply

Hehe, ternyata Alaika lebih berani dan cerewet dibanding mbak Afin yaa? Hihi. Kalo ga begitu, kita ga akan tau gimana yang sebenarnya deh. :D
Semoga tulisan ini menambah pengetahuan kita yaaa. :)

Reply

Trimakasih sdh mampir lagi, Mbak. Semoga tulisan ini mencerahkan yaaa. :)

Reply

Bener, Mbak. Ga ada untungnya kita saling gontok-gontokkan, saling konfrontasi. Semoga tulisan ini mencerahkan yaaa. :)

Reply

Alhamdulillah, Mbak Evi. Mendapatkan kesempatan yang sangat berharga nih, ga nyangka juga akhirnya bisa menjejakkan kaki di Iran. Alhamdulillah. Subhanallah. :)

Reply

Oya, bener banget, keberagaman itu indah. Asalkan tidak saling mencemarkan dan menodai, apalagi saling mengganggu. Terkadang, yang bikin miris ini, justru karena hanya tau sedikit saja, atau hanya tau kulit luarnya saja, kita sudah langsung menghakimi, makanya timbul perseteruan. :(

Semoga tulisan ini ada manfaatnya bagi kita semua yaaa. :)

Reply

Allhamdulillah, tulisannya jadi pelajaran baru dan seru, menulis hal sensitif dengan tidak menyudutkan itu sesuatu yang agak sulit. Tapi Mbak Al' jenius. sangat hati2 dan netral mengumbar hal yang samar.

Thanks banget mbak'.. menunggu ulasan selanjutnya.. ^^

Reply

Trims infonya, sangat membantu untuk menyikapinya!

Reply

Terima kasih utk infonya yg menambah wawasan sy. Dan sy juga berhati2 dlm hal ini. Apalagi yg saya tau sebaiknya kita menghindari perdebatan walaupun kita berada di posisi yg benar

Reply

sebelum revolusi iran terjadi, pakaian perempuan islam malah persis artis holywood yang mini mini itu Mbak....

Reply

cut kak ada tanya ga gimana cara mereka syahadat, penasaran dengan kisah selanjutnya

Reply

penasaran dengan kisah2 selanjutnya.....mak makasih ya artikelnya mencerahkan, sangat netral, like banget

Reply

ada tnya kak knpa mereka mmbenci Aisyah dg sahabat2 nabi lainnya? penasaran..

Reply

Disini juga ada Mesjid Syiah kak malah disebelah KBRI...suamiku pernah sholat Jumat disitu (waktu itu dia nggak tahu kalau ini Mesjid Syiah)... Tapi harusnya memang tidak saling menghujat ya kak.

Reply

tulisan yg menarik mba Al, bener2 jadi pengetahuan buat saya...

Reply

saya baru tahu fungsi tanah (turban) bagi penganut syiah ketika shalat, karena yang saya pernah dengar itu adalah batu yang diambil dari karbala.

Terima kasih ulasan dan reportase komplitnya Mbak Al

Reply

Alhamdulillah jika tulisan ini bisa mencerahkan, Mak.
Mas guide? Sengaja ga dipublish, mau untuk konsumsi pribadi aja ah! :P wkwkwkwk

Reply

Trimakasih atas kunjungannya, Mbak Santi. Insyaallah, postingan selanjutnya akan segera rilis deh. :)

Reply

Mau donk diajak main ke iran..

Salam kenal dari tasikmalaya

Reply

Sedikit banyak postingan ini mengobati rasa penasaran saya mbak
Makasi ya :)

Reply

Mak Alaika, betah amat jauh-jauh dari Indonesia? kapan pulang? *eh...Mba Al, aku baru ngeh dan paham mengenai syiah, terima kasih banyak ya, menambah masukkan dan pengetahuanku.

Salam

Reply

Assalamualaikum mbak Alaika...Mbak, sahabat saya jg seorg Syiah dan apa yg mbak share diatas sm spt yg sering dia share ke saya. selama ini apa yg di gembar-gemborkan di dunia maya ttg keburukan2 syiah sbnarnya bnyk jauh dari kebenarannya. Sebenarnya Syiah ini korban fitnah para zahudi yg ingin memecah belahkan Islam. syiah ini ttp memakai Al Qur'an yg sama spt yg kita baca. Cuma mereka mmng tdk ada yg namanya taraweh, tp digantikan dgn sholat sunnat di rumah sbnyk2nya selama bulan suci ramadhan. mereka jg tadarus sm kayak kita. Mereka jg sholat 5 waktu dlm sehari, krn teman saya sendiri saya liat gak pernah tinggal sholat 5 waktunya, cuma perbedaannya jika mreka sdg dlm keadaan diluar rumah/tdk ada tempat yang memungkinkan utk sholat, mereka baru menggabungkan sholatnya. Malah sahabat saya ini sering mengingatkan saya utk sholat ashar jika waktu ashar masuk dan kami sholat bersama-sama. dia tetap sholat.Begitu juga Isya,dia tetap sholat Isya. Sebaiknya kita jgn menghakimi mereka seblum kita tau yg sebenar2nya. Bagus artikelnya ini mbak alaika, biar bisa membuka mata semua org2 bahwa apa yg mereka lihat dan dengar selama ini ttg Syiah, tdk semuanya benar. Saya jg lama bersahabat dgn sahabat saya ini, namun dia tdk pernah sedikitpun berusaha mempengaruhi saya utk mengikuti aliran dia, karena baginya itu adalah nafsih2. Sejauh ini, saya dan dia sering bertukar dan bertanya pendapat ttg Islam dan menurut anggapan saya ( sy akui sy bkn ustadzah, tp saya msh bisa membedakan mana yg benar dan mana yg salah) tdk ada yg melenceng dari ajaran mereka. semuanya ttp perpedoman pd Al Qur'an dan hadist. Cuma sedikit perbedaannya yaitu mereka tdk mengakui sahabat2 Rasul, itu saja ( tp menurut pendpt saya, disini sj letak kesalahan mereka) tp ini sebnarnya trjd krn mereka jg korban dr sebuah fitnah zahudi yg trjd dizaman Rasulullah. Mereka percaya dgn fitnah yg disebarkan oleh zahudi (dan sbaiknya tdk saya katakan disini apa fitnah yg disebarkan zahudi itu, takut jd kontroversi heheehe....) tp gara2 fitnah itulah yg menyebabkan mereka membenci sahabat2 Rasul dan Saydatina Aisyah. God job< mbak Alaika (y)

Reply

ahh, membaca tulisan Tante Alaika yang mengalir dengan pentuturan yang asyik serasa saya sedang jalan-jalan di Iran, Thanks buat sharing ceritanya Tante Alaika

Reply

Mba..nanya ttg nikah mut'ah tdk ya? Benarkah mereka menghalalkan nikah mut'ah? Saya tunggu cerita selanjutbya ^^

Reply

Catatan perjalanan yg sangat enak dibaca..kata2 yg mengalir dan mudah dipahami..
Tp perlu berhati2 dg perkataan orang syiah,krn menurut mereka taqiyah/berbohong itu ibadah..silakan cari informasi yg lebih banyak ttg syiah dr sumber terpercaya tentunya, yg merujuk Al qur'an dan hadits.

Reply

Alhamdulilah...... masukan yg bagus... dikemas dg gaya yg enak d cerna..seakan kita jg berada d sana... smg Allah meredhoi hidup kita. Aamiin.

Reply

Tulisannya seruuuu... Saya suka dengan gaya reportase Mbak Alaika yang konsisten dengan tujuan penulisan. Menginformasikan dengan segar, tanpa menghakimi ;-)

Reply

Mohon maaf ya mba' sebelumnya...hanya sekedar tanya, bgm dg kekejaman syiah di suriah...?

Reply
This comment has been removed by the author.

Saya Senang sekali dapat menemukan dan memebaca Artikel ini, Yang berbicara tentang Syiah dalam sudut pandang yg Netral, tdk Pro & Kontra.
Selain itu, gaya bahasa dan dialognya yang menarik dg disertai gambar-gambar dapat dijadikan referensi yang sangat berguna untk penulisan skripsiku yg mengguhnakan metode kualitatif deskriptif. TERIMAKASIH

Reply

Wiih mantap postingnya mba. Saya pernah denger ceramah seorang ulama kondang di Bandung dan jawabannya adalah memang syiah itu beragam alirannya. Banyaknya link yg wara wiri di newsfeed FB saya tahan sedemikian rupa buat ga komen.Soalnya memang tipikal masyarakat kita gampang terprovokasi. Kadang ga selalu mengandalkan om Gugel itu valid, ya. :) salut juga buat yg urun komen di sini, tetap kalem dan terjaga.

Reply

yup.....gmn dgan saudara/saudari kita dsana ya....di Irak jg gmana tuh...

Reply

mau tahu syiah, ... sekarang dah tahu.
kalo mau tahu banget, ... datang aja ke iran seperti mbak Alaika
ntar aku di kasih tahu ya :)
mau 11 rekaat ato 21 rekaat itu baik, ... yang ga baik yang ga pake rekaat
* thanks infonya mbak, ...^o^

Reply

allhamdulillah, teruslah menyampaikan kebenaran; agar negeri kita aman, damai, dan terimakasih kepada yg sudah menulis artikel ini, semogah berkah;

Reply

Saya pikir mba/bu/tante Alaika Abdullah adalah seorang muslimah yang taat dan berpikiran jernih/terbuka. Tapi aurat jangan dibuka donk (baca:pake hijab gitu maksudnya)

Anyway, thanks sharing pengalamannya yang tentu sangat bermanfaat bagi kami yang awam tentang Iran dg Syiahnya.

Salam.
Ariev Topanovich
kabarnyleneh.wordpress.com

Reply

Ngerinya pake banget lohhh..
Naga-naganya, permusuhan muncul bukan karena perbedaan mazhab/aliran. Tapi karena kepentingan politik tertentu.

Perbedaan mazhab atau pemikiran dalam hal fiqih, terjadi bukan hanya antara Sunni dg Syiah. Tetapi di internal Sunni/syiah sendiri juga terjadi.

Oleh karena itu, tugas kita yang berpikiran jernih dan terbuka untuk mendamaikan.

Para imam mazhab pun berkata: apabila ada perbedaan antara pendapat kami dengan Sunnah Rasulullah, maka tinggalkan pendapat kami dan ikuti Sunnah rasulullah. (Syaikh Nasiruddin al Albani)

Reply

Yth Mba/bu/tante Alaika Abdullah
Tulisan yang menarik.
Minta ijin untuk saya link dari blog ku yaa... thanks sebelumnya

Reply

Maaf ane menjalankan fiqih syi'ah! Ane katakan bahwa taqiyyah itu bukan penipuan (bohong)!

Reply

Suriah bukan syi'ah! Juga kekejaman itu adalah fitnah pengikut dajjal!

Reply

baca ini juga
http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/iran-adalah-mayoritas-syiah-bagaimanakah-islam-sunni-di-iran.htm#.U6zivbGVC_g

Reply

Mas, saya tau coment mas pas di blog nya Enes, masih ingat ?? Kok nggak di komen lagi ?,

Reply

Terima kasih atas komennya, Pak/Bu Anonymous. Kok tidak menggunakan akun sendiri sih? Mengapa harus bersembunyi alias anonymous disaat sedang menyuarakan 'kebeneran'? Ayo atuh, pakai nama dan alamat blog agar saya juga bisa berkunjung balik. :)

Reply

Haduh, kok banyak Indonesia yang masih begitu ya. Komennya kemana-mana. Kenapa tidak dihapus saja?
Terimakasih artikelnya mba, membuka wawasan.

Reply

Yup, bener banget, Liza. Harus disikapi dengan kepala dingin, dan tak perlu mempermasalahkan hal-hal yang kita sendiri tidaklah paham secara detil. Yang penting, yakini apa yang kita yakini, dan laksanakan dengan sepenuh hati.

Reply

Bener banget, Mbak Annur. Trimakasih sdh mampir ya, semoga bermanfaat. :)

Reply

Hehe, mencoba bersikap senetral mungkin, Mba. :)

Reply

Nah, itu dia, Dan. Kalo aku sih, jika memang blm paham secara detil, mending diem dan tak perlu menghujat, takut salah, euy. :)

Reply

Sama2, Mas Chandra. Tks sdh mampir ya. :)

Reply

Hehe, iya, jawaban mas guidenya diplomatis banget. :)

Reply

Trimakasih, Kang Asep, smg bermanfaat ya.

Reply

Pengen banget sih ke Afghan, tapi ga sempat krn sudah diagendakan spt itu. limited of budget juga sih. Hehe

Reply

Halo Tika, trims sdh mampir yaaa. Semoga sharing ini bermanfaat dan silakan dibagikan ke yang berminat yaaa. :)
Hayuk atuh berlatih lagi, biar mengalir natural tulisan2nya. :)

Reply

Alhamdulillah, dpt oleh2 wawasan yang semakin luas, Mba. Trims sdh berkunjung dan semoga bermanfaat yaaa.

Reply

Trimakasih, Mas Indra. :)

Reply

tq for sharing Mak, hmm, tercerahkan dan get new insight :)

Reply

Wow, terbawa suasananya.
Terimakasih Mak, jadi pengin baca cerita lainnya.

Reply

Betul-betul pengalaman yang sangat keren mak...

Reply

keren, yang penting damai.. suasana damai akan selalu lebih jernih untuk melihat titik-titik kebenaran

Reply
New comments are not allowed.