Ke Makam Ayatullah Khomeini Yuk! | My Virtual Corner
Menu
/

Picture from here

Tak terasa, sang mentari telah sedemikian tinggi dan garang dalam memancarkan cahayanya, kala kami memutuskan untuk kembali ke Tehran. Perjalanan wisata religi hari ini, khusus untuk kota suci Qom, rasanya sudah lebih dari cukup untuk menyajikan reportase spektakuler tentang Iran, si negeri Syiah Sejati mau pun Hazrat Fatimah Masyumah Shrine. Mengingat waktu yang terbatas, tentu tak akan cukup untuk minta diajak berkeliling lebih lama lagi pada si mas guide. Apalagi tawaran untuk singgah di makam tokoh legendaris Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, begitu menggoda untuk tidak dilewatkan dengan begitu saja. Rugi banget donk ah, kalo sampai bilang TIDAK pada si mas guide, saat dia menanyakan apa mau singgah di makam Khomeini nanti?

Who Is He? 

Ayatollah Ruhollah Khomeini, siapa sih yang tidak mengenal tokoh legendaris Irani yang satu ini? Pengobar revolusi Iran, yang dengan kepemimpinannya berhasil membawa Iran berganti wajah! Dari Monarki Shah Iran [Monarki Shah Mohammad Reza Pahlevi] menjadi sebuah negara Republik khusus berjuluk Republik Islam Iran. Tak salah lagi, perubahan yang tidak serta merta ini, terwujud di bawah perjuangan dan kepemimpinan mullah yang satu ini. Ya, mullah Ayatollah Ruhollah Khomeini. Tentu saja setelah melalui perjuangan dan pengorbanan panjang, dengan bantuan dan dukungan penuh dari rakyat Iran yang telah lelah oleh kekuasaan Shah Iran yang terkenal korup, gegabah dan dijuluki sebagai 'boneka'nya Amerika Serikat itu.

Oya, sebelum berlanjut jauh, untuk diingat bahwa Imam Khomeini TIDAK termasuk ke dalam salah satu IMAM dari Dua Belas Imam yang dianut/dipercayai oleh kaum Syiah Iran lho ya. Jika pun terlihat banyak sekali peziarah yang berdoa khusyuk di makamnya, dan beribadah di dalam mesjidnya, itu adalah lebih kepada penghormatan dan penghargaan atas jasa perjuangannya dalam mendirikan dan membenahi negeri Persia ini, bukan karena mengkultuskannya setara dengan Imam Dua Belas. Oya, Sobs, postingan ini juga tidak kuperluas dengan bahasan tentang Imam Dua Belas, Imam Mahdi atau yang berkaitan dengannya, karena selain ilmu akan hal itu yang terbatas, aku juga tidak ingin membuka thread diskusi tentang paham ini yang ujung-ujungnya malah akan menimbulkan pro dan kontra. Ga asyik nanti jadinya, jadi kita bicara murni tentang 'laporan pandangan mata' dari tekape yaaaa. Not more than that lho. Jika ingin tau sedikit lebih detail tentang praktek Syiah Iran, Sobats bisa balik kembali ke postingan ini deh. Ok, Sobs? :)

Sekedar informasi juga nih, Sobs, ternyata Ayatollah itu adalah gelar tertinggi yang diberikan kepada para ulama Syiah. Kata ini berarti 'bukti dari Allah' dan mereka yang memiliki gelar tersebut ahli dalam studi tentang Islam, seperti Syariah, filsafat, etika, mistik dan biasanya mengajar di sekolah pengetahuan tentang Islam [hauzah] atau pesantren kalo di Indonesia.
Ayatollah, biasanya ditandai oleh sorban yang dikenakan oleh para ulama ini. Semakin senior seorang Ayatollah dapat dilihat dari warna sorbannya. Sorban hitam adalah untuk Ayatollah yang sudah sangat senior, dan sorban putih adalah untuk Ayatollah biasa.
Sumber: Wikipedia dan juga mas guide.

About The Shrine/Tentang Makam

Berziarah ke makam-makam tokoh ternama, adalah merupakan salah satu bentuk dari wisata religi yang sudah sangat lazim berlangsung di negeri para mullah, Iran, ini. Jadi tak mengherankan jika makam para tokoh ini pun diperindah sedemikian rupa dan megah. Tak sekedar luas dan nyaman, tapi juga dilengkapi dengan aneka hiasan cantik menawan, mulai dari kubah yang berlapis emas hingga dinding dari serpihan kaca berkilau dan pilar-pilar dari marmer dan pualam. Menakjubkan!

Where is it?

Back to Makam Ayatollah Khomeini. Makam ini berada di dalam kompleks pemakaman pahlawan bernama Beheshti [surga] Zahra atau Pemakaman Zahra, terletak di selatan Tehran. Kata Zahra diambil dari nama putri kesayangan Rasulullah SAW, yaitu Sayyidah Fatimah Az-Zahra AS. Pembangunan kompleks yang teramat luas [lebih dari lima ribu hektar/20 km persegi] ini, telah dimulai sejak tahun 1989, setelah kematian sang tokoh legendaris [Imam Khomeini], namun tampaknya, hingga kunjungan kami kemarin ke lokasi ini, masih banyak sekali pengerjaan proyek terhadap object ini. Kata mas guide sih, pembangunan terhadap kompleks ini memang terus saja berkesinambungan, baik berupa maintenance, pembaharuan atau hanya sekedar pembersihan, sehingga selalu saja akan terlihat pemandangan seperti ini [kubah2 yang diselubungi jejaring, dan aneka peralatan proyek yang mejeng di dalam kompleks]. Sehingga beginilah foto kompleks pemakaman yang berhasil ditangkap oleh kamera kami. :)

Kompleks pemakaman Behesti Zahra [Makam Ayatollah Khomeini].
Makam Khomeini

Parkir tepat di halaman parkirnya yang luas, lalu kami pun disambut udara panas yang langsung menerpa wajah. Oh My God, panas nian udara di negeri yang satu ini. Negeri Persia berperadaban tinggi yang begitu masyur dan pernah teramat sangat jaya. Siapa sangka jika kini, aku justru telah menjejakkan kaki di tempat peristirahatan salah satu tokoh paling berjasa dalam perubahan wajah negeri ini. Yup, makam sang mullah, Ayatollah Ruhollah Khomeini, tinggal beberapa langkah lagi. Subhanallah.

Pemandangan di teriknya panas halaman parkir ini, sungguh tak membuat jemu. Justru mata kami kian terbuka lebar menyaksikan banyak tenda-tenda yang terpasang di taman [halaman berumput] di sekitar area parkir. Camping kah mereka di tempat ini?


Menjawab kalimat what are they doing here? Are they having camping ku, mas guide mulai menjelaskan, bahwa lazim di Iran, orang-orang mengadakan ziarah makam. Mereka yang mendirikan tenda-tenda di tempat ini, adalah mereka-mereka yang berasal dari tempat-tempat yang jauh, sehingga perlu bermalam dengan mendirikan tenda-tenda, dan memasang peralatan masak-memasak segala di area ini. Biasanya mereka datang untuk berziarah, beribadah di mesjid 'bertuah' yang mereka yakini akan membuat mereka bisa lebih khusyuk dalam beribadah dan berdoa. Ada juga yang datang untuk melepaskan nazar, dan berbagai alasan lainnya.

Untuk menghormati para 'tamu' yang mengunjunginya, pihak pengelola Shrine/Mesjid ini, menyediakan air bersih siap minum [ready to drink] untuk memudahkan para tamu, bahkan di pagi hari, mereka juga menyediakan kopi/teh untuk para tamu ini. Selain itu, sebuah sudut bernama charging corner juga tersedia lho di tempat ini. Keren yaaa. :)

Makam Ayatollah Khomeini
Kiri - Kanan: Ready to Drink Water  - Charging Corner
Di kompleks ini juga terdapat perumahan, pusat wisata budaya, pusat studi Islam, pusat pembelanjaan dan tempat parkir untuk 20 ribuan mobil lho. Sayangnya, kami tak berkesempatan untuk menjelajahi keseluruhan area dari situs yang digunakan sebagai tempat bagi pengikut Khomeini ini. Situs ini juga sering digunakan secara simbolis oleh tokoh-tokoh pemerintah atau pada saat ada kunjungan dari pejabat negara lain. Perawatan dan managemen bangunan ini, ditangani oleh cucu dari sang mullah Ayatollah Khomeini.

Oke, Sobs, kini saatnya kita memasuki area makam, tapi kita tidak diperkenankan menggunakan alas kaki [ya iyalah, masak masuk ke dalam mesjid pake alas kaki? Hihi] dan juga harus menitipkan kamera pada deposit box yang sudah disediakan. Ada dua bagian pintu masuk, yaitu untuk wanita dan untuk pria. Kuakui, petugas yang memeriksa saat kita masuk cukup ramah, apalagi ketika tahu bahwa kita adalah peziarah dari luar Iran, maka mereka pun memaklumi sikap kita yang mungkin terlihat tidak lazim bagi mereka, misalnya dengan pakaian muslim yang tidak seperti pakaian mereka.

Makam sang mullah terletak di dalam sebuah masjid bermenara empat dengan sebuah kubah besar berlapis emas. Di bawah kubah inilah sang Ayatollah Khomeini bersemayam. Tak sendiri ternyata, Sobs, karena di samping makam sang mullah tersohor ini, berbaring pula jasad dari putra kedua beliau, yaitu Ahmad Khomeini, yang dikenal sebagai pendamping setia Khomeini dalam melawan diktator Shah Pahlevi, yang disokong penuh oleh Amerika Serikat.

Makam ini terlihat special, dikelilingi oleh dzarih [pagar stainless steel apa besi ya ini?] seluas kira-kira 15 x 15 meter dan berpanggung kira-kira 1 meter, ditutup oleh kain hijau, dan dilengkapi oleh foto Imam Khomeini.

Tampak Luar, hasil jepretan my Onyxberry
Kiri ke Kanan: Makam Ahmad Khomeini [Putra Kedua dari Ayatollah Khomeini] dan
makam sang Ayatollah Khomeini
Makam Ayatollah Khomeini

Oya, Sobs, masih ada beberapa makam lainnya lho di dalam mesjid ini, dan terletak rapi dengan begitu saja di atas hamparan karpet persia merah yang lembut dan cantik ini. Sama sekali tak ada kesan seram sih, tapi heran aja, karena baru kali ini aku melihat makam-makam yang terhampar begitu saja di dalam mesjid, dan bahkan beberapa ibu dan anak malah duduk-duduk begitu dekat dengan makam-makam ini tanpa rasa takut. Hm, mungkin kalo di negara kita, ibu-ibu dengan anak kecil, pasti akan jauh-jauh deh dari berdekatan dengan makam-makam, ya enggak, Sobs? Hihi.

Makam lain di mesjid Khomeini

Well, Sobats, mengingat waktu yang kian menanjak petang, akhirnya kami pun memutuskan untuk pamit undur dari hadapan sang Ayatollah [jiaaah, bahasanya itu, Al!]. Alhamdulillah, sungguh sebuah perjalanan yang bahkan belum pernah terfikirkan, tapi malah Allah telah menggerakkan langkahku [melalui undangan perjalanan dari adik tercinta] untuk hadir di sini. Subhanallah, Alhamdulillah, ya Allah. Sungguh, ini adalah sebuah perjalanan di luar dugaan bagiku, dan sungguh membuka mataku, bahwa ada 'peradaban' lain selain dari apa yang selama ini aku saksikan dan ketahui. Alhamdulillah ya, Allah, tambahkan rezeki adikku, lancarkan langkah kehidupannya, ya Allah. Aamiin. Many thanks for everything ya, bro. :)

Oke deh, Sobs, ketemu lagi di dalam reportase Iran lanjutan yaaa, kita main ke Istana Saadabad yang megah dan menakjubkan, don't missed it in the next article!

Sepenggal catatan dan kenangan perjalanan ke Iran,
33 comments

iya betul mbak, kalau udah bicara imam dua belas, diskusinya bakal panjang....

Reply

Makam-makamnya di dalam mesjid ya kak...bukan dipekarangan atau bangunan yang terpisah? Menarik tentunya bisa melihat kebudayaan dan peradaban yang berbeda dengan peradaban kita, jalan-jalan yang memberi banyak pengalaman dan pelajaran berharga ya kak.

Reply

Kayak meja .... unik juga ya kak ...

Reply

Karena di wilayah arab dan timteng sudah seperti itu di makam orang terkenal dan berpengaruh didirikan masjid maka telah memberi contoh kepada Masyarakat di Indonesia ketika para wali dan guru meninggal maka dibangunkan masjid di sekitarnya. Ternyata bukan kita saja yang asal membangun ya!

Reply

Kebudayaan yang mirip dengan di sekitar Masjid Agung, Demak. Banyak orang berdoa di depan makan wali songo :)

Reply

ternyata masuk ke sana untuk orang asing gampang juga ya..
aku pikir Iran itu tadinya agak2 tertutup gimana gitu

Reply

menarik ya kak...
tapi ga disembah2 gitu oleh orang2 iran makam khomeini ini kan kak?

Reply

hitam pertanda bahwa keturunan sayyid, dan putih bukan dr sayyid , namun keduanya perlambang mereka adalah agamawan, atau org yg belajar dan mengajar agama dg sistematis dr a-z, ada juga yg ga pake, biasanya org yg lbh moderat, menurut mereka Rasulullah memakai baju biasa dan baju kebanyakan org tdk mengeklusifkan dr dg bersurban dijaman g semua pake celana atau kemeja spt skrg ini

Reply

Itu dia, makanya saya ga membuka diskusi tentang hal itu, apalagi blog saya ini memang tidak fokus ke pembahasan masalah religi or some believe. :)

Reply

Iya, di dalam mesjid gitu deh. Iya, menarik banget, jadi tambah wawasan dan memancing pikiran positif kita untuk menghargai budaya dan tradisi orang lain. :)

Reply

Iya, bentuknya kayak meja gitu deh, bisa juga untuk buka laptop lalu bikin postingan di situ kali ya, Niar? Hehe
Oops, dipentung deh sama petugasnya. Hihi

Reply

IYa, Mak Lina, sepertinya begitu, menular ke bagian lain dunia juga budaya ini yaaa. :)

Reply

Kalo udah masuk ke negaranya [Iran] sih aman kak Monda, cuma sedikit ribet saat urusan Visa aja. Saat kami kesana, tidak berlaku lagi visa on arrival, jadi kita memang kudu apply visa jauh2 hari.

Kalo udah di dalam [Iran], berkunjung ke mana-mananya bebaas kok, tidak dpersulit dan kita di hormati layaknya tamu kok. :)

Reply

menarik banget mba Pu. Nah, itu aku ga tau persis ya, tapi kurasa tidak lah, mereka juga pemeluk Islam yang taat kok, walau paham mrk berbeda dg kita. :)

Reply

Oh, begitu ya, De. Tapi si mas guide bilang bahwa sorban hitam juga melambangkan bhw pengetahuan mrk lebih tinggi dari si sorban putih. :)
Trims ya utk tambahan infonya. :)

Reply

wah kereen, jalan2 nya...informatif, inspiratip bermanfaat mbak alaika :) terus sukses ya!

Reply

jadi pengen ke sana. ini bagian dari sejarah agama besar di dunia. kalo urusan jalan2 pasti saya semangat membacanya. sy pernah ngeliat video khomeini saat pemakaman, berasa gimana gitu, sampe kain kafannya kebuka buka. semoga sy bisa ke sana

Reply

Membaca reportase mba Alaika gak ada bosennya :)

Reply

Walah ada charging corner nya segala hehe :D

Reply

Wah jadi ingin ikutan jalan jalannya, hehee :)

Reply

Mbaaak lanjuuuut plissss

Reply

mbaknya orang syi'ah to? pernah dimut'ah atau siap dimut'ah...??? syi'ah melegalkan prostitusi berkedok agama. sungguh mengerikan dan menjijikan jika anda rela mengikuti syiah. relakah anda menjual kehormatan laiknya prostitusi berkedok agama. syi'ah sesat dan menyesatkan, jangan pernah terbetik untuk mengikuti agama ini.

Reply

yang punya blog kok ga dijawab pertanyaannya Anonymous..

Reply

Maaf, Pak Anonymous, saya BUKAN org SYIAH. Dan artikel ini sama sekali tidak memihak kemanapun, hanya sebuah reportase spt reportase lainnya yg saya tulis atas setiap kunjungam saya ke suatu tempat. Mohon dibaca.dg baik dan komplit agar tak salah menyimpulkan. Trimakasih untuk kunjungannya. Salam.

Reply

Saya jarang membaca komen dari Anonymous, karena biasanya adalah berupa spam. Komen mas Zico ini membuat saya jadi mengambil wkt sejenak utk mencermatinya. Ternyata komen dari sahabat Indonesia dan bukan spam. Sdh saya balas tuh. Trims, Mas Zico!

Reply

gak perlu dan nggak ada gunanya mengunjungi kubur si khomeini laknatullah ini.itu pun klo yg berkunjung/yg punya blog pengikut sunni

Reply

wah megah juga ya makamnya.. berlimpah uang pula

Reply

Apa itu imam 12 ane baru denger

Reply

Rasulullah telah mengharamkan makam di masjid...ini kok ada ya..busaya kalau uda bertentangan dengan kebenaran itu suatu kebathilan lo...

Reply

Nyimak ...
Baru tahu ternyata di Iran tidak kasar dengan muslim dari Indonesia .
Tapi tetap waspada :D
.
Kapan2 pengen belajar lihat2 budaya sono
ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk

Reply

Iya benar, sebaiknya semua hal tentang syi'ah tak perlu dibahas di sini dan semoga saja saya nanti bisa berkunjung ke negeri Persia ini... terima kasih infonya Mba

Reply