All About Tsunami: The Survivor - Ayahandaku | My Virtual Corner
Menu
/
Ini adalah rangkaian kisah para survivors tsunami, yang dikemas secara berkesinambungan dalam tautan berjudul 'All About Tsunami '. 

Hari ini, sembilan tahun yang lalu, sebuah bencana maha dasyat bernama cantik telah menggoreskan tinta hitam legam tak terlupakan di benak siapa pun, masyarakat Indonesia yang pernah menyaksikan, mengalami atau hanya sekedar melihat beritanya. Yah, Tsunami. Gelombang maut yang diawali oleh sebuah gempa bumi dengan skala luar biasa besarnya itu [9,1 SR], menggulung daratan Aceh dan meluluh-lantakkan apa yang ada di atasnya, pada 26 Desember 2004.

Mereka yang selamat sempat berpikir; inikah saatnya kiamat? Lantas mereka pun teringat akan sebuah hadist, bahwa kiamat terjadi pada hari Jumat, sementara hari itu adalah hari Minggu. Jadi ini bukanlah kiamat atau akhir zaman. Ini adalah sebuah kiamat kecil paling mengerikan yang pernah mereka saksikan seumur hidup mereka.

Kesan itulah yang dirasakan Mar'ie Muhammad, Ketua PMI. Mar'ie termasuk dalam rombongan yang pada hari bencana tiba di Banda Aceh, petang hari, dengan pesawat pribadi Wapres Jusuf Kalla. "Saya melangkah, ada mayat, melangkah lagi, ada mayat lagi, dengan bentuk yang sudah mengenaskan," tutur mantan Menteri Keuangan itu. "Anak-anak kecil di jalanan berteriak sambil menangis memanggil ibunya; orang-orang dewasa dengan pandangan kosong, kadang berteriak, stress kehilangan keluarganya; makanan tidak ada, air tidak ada, listrik mati, minyak tidak ada. Ini seperti latihan kiamat, kiamat kecil." Ia sendiri selama seminggu setelah pulang dari Aceh menderita stress berat, kadang spontan berteriak begitu terbayang kiamat kecil itu. ~Dikutip dari seri buku BRR - Buku 0. Tsunami
Salah satu sudut Kota Banda Aceh; beberapa kota di NAD menjadi lumpuh total dalam beberapa hari: komunikasi terputus, listrik mati, makanan dan minuman musnah. Foto: Arie Basuki 
Sumber: seri buku BRR - Buku 0. Tsunami
Ingatan tentang 'kiamat kecil' yang terasa begitu dasyat itu, juga tak akan pernah bisa lepas dari ingatan ayahandaku. Yang menjadi korban langsung sang gelombang. Kala itu, jauh sebelum gempa mengguncang Banda Aceh, beliau [selaku salah satu petugas in charge urusan pemberangkatan jemaah haji Aceh], sedang sibuk di asrama Haji. Berseragam putih-putih seperti kolega-koleganya yang lain, mereka menyelenggarakan kegiatan itu. Namun peristiwa itu pun dimulai, kala mereka sedang asyik dan serius pada penyelenggaraan acara.

Mula-mula adalah gempa yang membuat orang pun tak bisa bertahan, tak kuasa berdiri. Sebuah gempa yang berskala 'hanya kurang 0,9 skala untuk mencapai angka 10, skala terbesar pada seismograf, alat pengukur gempa]. Guncangan yang sukses membuat orang-orang oleng, berjatuhan ke tanah, mual dan muntah-muntah. Bangunan retak, namun tak membuatnya ambruk. Sigap mereka menjauhi arena kala sang gempa berhenti sejenak. Gempa dasyat tadi, membuat mereka berfikir untuk kembali ke rumah masing-masing, untuk memastikan/memeriksa kondisi rumah dan anak istri. Begitu juga dengan ayahandaku, setelah mencoba menghubungi ibu yang gagal terhubung [komunikasi langsung lumpuh sejak gempa melanda], maka mereka segera memutuskan untuk pulang.

Di rumah, ibuku yang tinggal sendirian di rumah, ternyata sudah menghambur keluar sejak gempa mengguncang tadi. Berkumpul bersama para tetangga lainnya, dan sama sekali tak berani masuk ke rumah lagi, walau gempa telah reda. Mereka masih berkumpul di jalanan depan rumah, membahas perkara yang sungguh luar biasa itu. Belum pernah seumur hidup, mereka merasakan gempa sedasyat itu. Ayahku tiba tepat tak lama setelahnya, dan bergabung dengan para tetangga. Namun seorang tetangga [anggota Brimob, yang kantornya tak jauh dari kompleks perumahan kami], tiba-tiba muncul [berlari] dari mulut gang mendekati gerombolan kecil ini, seraya berteriak, "AIR LAUT NAIK, AIR LAUT NAIK, LARIIII!"

Ayah, ibu dan para tetangga hanya bisa bengong menatap wajah panik itu. Namun ibuku yang memang alert-nya paling ok, sigap berlari ke dalam rumah, dan tak lama sudah keluar lagi seraya menjinjing sebuah tas berisi barang-barang berharga [sejak Aceh dilanda konflik dan berstatus DOM, ibuku memang selalu siaga dengan sebuah tas berisi koleksi emas dan surat-surat berharga lainnya]. Tas itu selalu saja siaga di sampingnya, jika ada urgent thing, seperti kali ini.

Sigap pula ibu masuk ke dalam mobil dan memerintahkan ayahku untuk starter mesin. Sigap pula ayahku meluncurkan kendaraan roda empat itu, melaju menuju ke arah musholla. Para tetangga ada yang berlarian sambil menggendong anak-anaknya, ada yang mengendarai kendaraan, atau hanya berlari kecil. Panik. Itulah yang terlihat saat itu. Sesampai di ujung gang, di perempatan menuju musholla, ayahku sempat bingung hendak melajukan kemana mobilnya. Akhirnya, ibuku juga yang memberi arahan. Berbeloklah mereka ke arah musholla. Ibuku sigap turun, dan atas perintah ayahku, ibu langsung berlari, menaiki tangga musholla menuju lantai dua, dimana para tetangga lainnya juga sedang berusaha naik ke lantai dua.

Sementara itu, ayahku masih mencoba memposisi mobilnya dalam posisi aman. Menarik rem tangan, memasang persnelling satu, keluar mobil dan mengunci mobil dari luar. Barulah beliau berlari menuju anak tangga. Sempat tertangkap oleh matanya, cairan hitam yang seakan mengejar dan mengancamnya. Hanya setinggi betis, namun cairan hitam itu tiba-tiba saja berubah bak tembok tinggi yang mengejar langkahnya. Anak tangga pertama telah menanti untuk beliau pijak, namun sayang, sebuah balok kayu menghantam kakinya hingga membuat beliau terjatuh, langsung disambut gelombang yang telah menjelma setinggi pinggang orang dewasa. Serba cepat. Arus itu begitu kuat dan kian meninggi. Membuatnya terseret tanpa mampu berdiri lagi. Pasrah, beliau mengikuti arus, yang ternyata menghempaskannya pada sebuah pagar kawat berduri, yang mengitari area kantor Brimob. Beliau rasakan kakinya nyeri, tersangkut pada lapisan terbawah si kawat berduri. Tertancap dalam, dan membuat beliau berada pada posisi berdiri. Air semakin tinggi, telah merendam tubuhnya hingga hidung. Membuatnya kesulitan untuk menghirup udara. Beberapa kali beliau mencoba menarik kakinya dari tancapan si kawat berduri, namun ternyata tak juga mampu mengoyak kulit kaki dan melepaskannya dari kaitan si kawat.

Saat itu, ayahku merasa bahwa inilah saatnya sang ajal menjemputnya. Pasrah tapi juga sedih. Sedih karena anak dan istri, nantinya tak akan menemukan di mana jasadnya. Air hitam ini, pasti akan menghanyutkannya entah kemana. Berurai air matanya, namun kepasrahannya akan takdir, membuatnya benar-benar ikhlas. Sempat juga terucap di lubuk hatinya sebuah dialog dengan sang Ilahi Rabbi.

"Ya Allah, hamba pasrah pada takdir-Mu ya Allah. Jika memang hanya sampai di sini kehidupanku, ambillah aku dalam iman dan islam. Namun jika masih ada ajalku ya Allah, selamatkanlah hamba."

Ajaib, sebuah bisikan di dalam hatinya, seakan memerintahkan agar ayah menengadah. Dan benar saja, begitu beliau menengadah, posisi hidungnya yang tadi telah terendam oleh air berlumpur dan membuatnya kesulitan bernapas, kini hidungnya terangkat tinggi dan leluasa bernapas. Tak hanya itu, tiba-tiba saja, secara ajaib, kakinya tersentak, terlepas dari jeratan si kawat berduri. Mengapung beliau ke permukaan dan arus kuat itu pun menyeretnya kembali. Mengikuti arus dan gelombang air hitam berlumpur yang mengalir dengan kecepatan luar biasa.

Cobaan masih belum berakhir. Arus maha dasyat itu menyeretnya hingga beberapa meter ke depan, menghempaskannya, membuatnya timbul tenggelam hingga suatu ketika tangannya menjangkau sebuah dahan pohon kuda-kuda yang begitu tinggi. Di sana lah beliau berjuang, mencoba bertahan dengan memeluk erat si dahan, hingga akhirnya beliau berhasil bertahan di atas dahan tersebut. Baru sejenak bernapas lega, dari kejauhan mata tuanya, melihat sebuah bahaya lain yang mengancam jiwanya.

Seekor lembu, sedang terseret gelombang dengan arus yang mengarah tepat ke dahan pohon yang sedang didudukinya. Secara logika, beliau tak akan mungkin bisa selamat kali ini. Arus itu jelas-jelas mengarah kepadanya, dan lembu sebesar itu, jika sampai menghantam dahan kecil pegangannya, sudah pasti akan membuat dirinya dan si dahan akan patah. Tamat sudah kini riwayatanya. Begitulah yang ada di dalam benak ayahkku kala itu.
Namun kepasrahan dan doa yang beliau lantunkan, secara ajaib dan di luar logika, membuat arus itu berbelok tepat di depan dahan di mana beliau sedang berlindung. Ya, lembu dan arus itu berbelok menjauh dari dahan. Masyallah. Maha Besar Engkau ya Allah. Lega, beliau duduk di dahan, pasrah. Pedih hatinya menyaksikan beberapa orang yang dikenalnya terombang ambing dalam gelombang, tak jauh di depan matanya, berteriak minta tolong. Air saat itu begitu tinggi, sekitar 4 meter ketinggiannya. Orang-orang yang dihanyutkan gelombang, berusaha dan berteriak menyelamatkan diri, namun gagal akibat arus gelombang yang begitu dasyat. Ayahku hanya bisa meneteskan air mata menyaksikan semua itu. Menyadari, dirinya pun hampir saja mengalami nasib yang sama, jika saja tangannya dan kuasa Allah tak menuntunnya untuk menggapai dahan pohon yang kini sedang didudukinya.

Begitulah, jika memang belum sampai ajal, ada saja cara Allah mengulurkan bantuan-Nya ya, Sobs!
Seperti cara Allah mengulurkan tangan kuasa-Nya, menyelamatkan ayahandaku. Lalu bagaimanakah nasib ibuku?

Well, Sobs, kisah selanjutnya bisa diikuti pada postingan all about tsunami - The Survivors - Ibundaku dan Rumah Kami, ok?

Sebuah catatan pembelajaran, tentang kisah tsunami dan para  penyintas [survivor]nya. 
Al, Bandung, 28 Juni 2013
49 comments

Subhanalloh, ayah dan ibu mba Al ternyata menjadi saksi peristiwa dahsyat itu, Alhamdulillah masih dilindungi oleh Alloh....

Reply

Subhanalloh, setiap membaca dan mendengar kisah2 tsunami selalu saja ada rasa ngeri melintas di fikiran saya. Survivor adalah orang-orang hebat yang luar biasa, mampu berfikir dan mengambil keputusan tepat dikala darurat seperti itu.

Reply

Kisah yang aku dengan dari mbak Alaikan di sebuah kamar hotel yang mewah waktu itu. Membayangkannya saja aku tak sanggup mbak. Ketika tangan Allah bekerja, begitu banyak keajaiban yang dirasakan. Syukurlah keluarga mbak Alaika selamat, dan ayahanda tetap bisa menjalankan tugas mulianya.

Reply

Kl dr cerita tsunami n para surfifor nya selalu merinding, yg psti mkin sadar akan kebesaran Allah. Syukur alhamdulillah ortu Mbak alaika selamat ya. Byk keluarga ku yg meninggal wkt tsunami Mbak tp alhamdulillah keluarga inti selamat smua

Reply

Mencekam, bacanya. T_T
Jadi teringat pas menonton beritanya di TV dulu, aku tak kuasa menahan air mata.

Reply

Maha suci Alloh yang menggengam alam semesta ini, semoga kejadian itu kita tak lupa untuk mengumpulkan sebanyak- banyaknya ladang amal kebaikan.
teriring do'a semoga orang - orang yang yang telah mendahului kita di peristiwa itu berada dalam kenikmatan di sisi sang maha pencipta.

Reply

Y_Y *nunggu lanjutannya

Reply

subhanallah pertolongan Allah. ikut tunggu kelanjutannya juga mbak

Reply

subhanallah mbak.. sungguh itu atas kuasa-Nya..

Reply

Allahu akbar. Subhanallah. Peristiwa2 seperti ini mak, yang membuat kita berendah hati menghadapi hidup.

Reply

Subhanallah. Maha Suci Allah atas segala kehendak-Nya.
Alhamdulillah ortu Mak Alaika selamat.

Reply

Masya Allah.. nggak kuat untuk membayangkan seandainya aku dalam posisi ayah kak Al..
Semoga Allah selalu menjaga kakak dan keluarga ya.. ^^

Reply

membaca kisah ini, mengingatkan saya akan kisah sedih namun allah masih memberi saya keselamatan, saat itu saya masih kuliah di iain..alhamdulillah allah menjaga ayah cut kak :)

Reply

saya tunggu lanjutannya ya bu....sungguh sedih kalau mengingat situasi ayahanda tidak bisa berbuat apa2 disaat dia lihat orang berusaha menyelamatkan diri

Reply

Allohu Akbar...sebuah peristiwa yang tdk pernah seorang pun pernah membayangkan akan terjadi sebelumnya.. Setiap peristiwa besar terjadi, biasanya disertai juga dg mukjizat yg Allah berikan utk org2 yg terpilih...

Reply

Jadi inget kawan saya yang kuliah di Banda Aceh waktu itu. Alhamdulillah dia selamat setelah menyelamatkan diri ke KODAM. Dia jadi saksi mayat-mayat bergelimpangan di Pasar Atjeh. Bener-bener ngeri kalau dengar ceritanya. Semoga nggak ada lagi bencana.

Reply

Mak, aku inget pas kejadian tsunami aku lagi hamil muda. Setiap saat nonton tv sambul berurai air mata. Sekarang baca tulisan ini..tergetar lagi mak.

Reply

Bergetar dan menangis baca ini, Mak. Teringat waktu itu setiap kali liat beritanya di tivi, airmataku jatuh gak berhenti2 :(

Alhamdulillah, Allah melindungi ayahnya mbak Al, ya :')

Reply

Allahu Akbar.. sungguh kuasa Allah lebih besar dari segala sesuatu.. T_T

Reply

aku juga merasakan getaran itu say..

Waktu itu aku di Medan, dan sebagian penduduk adalah yg milih tidur di luar rumah, karena getarannya di seluruh sumatera, bagaimana lagi dgn mereka yg disana.

Reply

Sampai ikut berdebar-debar bacanya, Mbak.
Bencana yang mengajari kita bahwa memang manusia itu sesungguhnya sangat kecil dan nggak ada apa-apanya.
Saya menunggu lanjutan ceritanya.

Reply

Subhanallah...
Bener yah, setelah berusaha terus pasrah, Tangan Allah selalu menolong...

Reply

Jika belum sampai waktunya, ada saja cara Allah mengulurkan tangan-Nya ya, Mbak :)

Reply

Ya, begitulah, Mbak. Allah senantiasi mempersenjai hamba-Nya dengan kekuatan dan kemampuan untuk bertahan, atas ijin-Nya. :)

Reply

Iya, Mbak. Alhamdulillah, keluarga inti saya selamat, tapi byk juga sanak family yang menjadi korban bencana ini. :(

Reply

Iya Mbak, banyak sekali kisah nyata yang bener2 miracle, meluncur lancar dari bibir para survivor. Dulu, saat mereka menceritakannya, rasanya air mata ini tak henti berlinang, tapi di samping itu, rasa takjub tiada henti, kagum akan mukjizat yang Allah turunkan kepada mereka.

Reply

Iya, Mak, aku jgua ingat banget tayangan2 itu. Tapi saat mata melihat langsung di lapangan, air mata saja tak cukup, suara jadi serak akibat nangisnya sp mengeluarkan suara. Bener2 menyedihkan banget suasana waktu itu, Mak. Hiks hiks.

Reply

Trimakasih atas kunjungan dan doanya ya, Mas/Mbak. Aamiin Ya Allah. :)

Reply

Iya, Kuasa Allah lah yang telah menyelamatkan beliau. :)

Reply

Iya, para survivors seakan diberi kesempatan kedua untuk melanjutkan kehidupan. Semoga bisa memanfaatkan peluang ini dg baik. :)

Reply

Masya Allah...bener2 ngeri suasananya waktu itu ya Mak. Merinding banget dengan pertolongan dari Allah yang membelokkan arus lembu tepat di depan ayahnya Mak Al.

Reply

Allahu akbar..
Begitu hebatnya kekuatan dari satu sikap pasrah.. Sy yakin skrg mbak Al, bahwa jika seseorang pasrahkan hidupnya kepada Allah, pasti kekuatan Allah yg akan menuntunnya.. Seperti yg terjadi dgn ayahanda mbak Al..

Semoga sampai hari ini ayahanda mbak Al sehat selalu, amin ya Allah.. :-)

Reply

masih saja kau ikut nangis ingat kesusahan yang sangat besar itu,
kuasa Allah pada ayahanda sehingga arus bisa berbelok begitu ya

Reply

tadi ada gempa jg mbak alaika.
6.2 sr di bener meriah.
Pusiiing. . .
*intan maghfirah*

Reply

baru kiamat kecil aja udah terasa mengerikan, ya, Mbak. Tp dibalik itu pun terlihat kekuasaan Allah bahwa seberat apapun kalo Allah belum berkehendak mengambil ajal kita maka tidak akan trejadi

Reply

Subhanalloh...Mba aku lihat gambarnya saja sudah enggak ngerti bagaimana ituuu

Salam
Astin

Reply

Subhanallah mak al, sesengukan aku membacanya, sampai tercekat tenggorokan INI, Allah punya kuasa, Allah jug a yang menyelamatkan. Allahu Akbar!

Reply

sampe typo begitu saking merindingnya. Subhanallah..

Reply

Mak, para survivor selalu orang-orang terpilih, Subhanallah, semoga kejadian apapun selalu membuat diri kita semakin dekat dan semakin mencintai Allah ya mak...

Reply

Subhanallah Mak... kuasa Allah itu memang tidak ada tandingannya.. semoga amal ibadah para korban diterima Allah SWT amiiin..
Masih terlihat jelas dalam benak saya ketika tayangan TV memperlihatkan korban-korban anak kecil yang seperti tertidur, bukan meninggal.. terisak saya dibuatnya.. :(

Reply