My Virtual Corner
  • Home
  • Meet Me
  • Contact
  • Disclosure
  • SOUL
    • Mindset & Motivation
    • Self Love
    • Parenting
    • Puisi
  • BODY
    • Travel Tales
    • Wellness & Beauty
    • Lifestyle & Cullinary
  • BRAIN
    • Digital Literacy
    • Professional Tips
gambar pinjem dari sini dan di modif 

Ada yang langsung bisa menebak kemana arah postingan ini? :D
Yup. Bener bagi yang pemikirannya searah dengan apa yang hendak aku tuliskan ini, dan
No… bukan itu… bagi sobats yang tebakannya lain dengan yang aku maksud. #Ih, apaaan sih Alaika ini, pagi-pagi udah main tebak-tebakan? Ayo donk mulai ajah…

Ok ok, baik sobs, yuk kita mulai.
Kata hujan, tentu akan mengarahkan pemikiran kita akan butir-butir air yang tercurah dari langit (awan sih sebenarnya), jatuh bebas membasahi bumi. Dan jumlahnya bukan satu satu, tapi bertubi-tubi alias banyak, ya kan sobs?
Nah, hujan komen, tentu sobats sudah bisa membayangkan bahwa maknanya adalah komen yang disampaikan secara bertubi-tubi dan banyak. Senang? Tentu. Setiap blogger pasti akan merasa sangat bahagia jika banyak pengunjung yang datang, membaca postingannya dan meninggalkan komen yang berhubungan dengan artikel yang diposting.
Tidak akan jadi masalah besar juga sih jika ada satu dua visitor yang meninggalkan komen yang sama sekali tak berhubungan dengan artikel yang dipost (gimana mau berhubungan coba, membaca artikel aja tidak, tujuan kedatangan hanya untuk meninggalkan jejak), its okay, no worries.
Tapi….. ini dia nih sobs… jika ternyata si pengunjung ini, hanya dia dan dia terus, cuma ganti nama doank, isi komennya juga itu dan itu lagi, nah itu yang bikin kita jadi terganggu…. Bener ga sobs? Dan aku yakin banget jika kini sobats semua sudah ngeh kan siapa yang aku maksud?
Aku juga yakin banyak sobats yang juga mendapatkan kunjungan darinya, duduk diam di sebuah postingan sobats, lalu mulai beraksi, membombardir postingan kita dengan aneka komen yang satupun tak berhubungan dengan artikel yang kita tuliskan. Tujuan kedatangannya adalah untuk mempromosikan produk (kebanyakan obat-obatan herbal) yang dijualnya, berharap dengan berbagai nama yang digunakannya di setiap jejak yang ditinggalkan, maka si pemilik blog dan pengunjung lainnya akan tertarik untuk berkunjung dan membaca informasinya, syukur-syukur akan meng-order dagangannya….
Tapi jika di setiap postingan dia hujani komen serupa itu, aku yakin sekali, jangankan untuk mengunjungi blognya, untuk membaca komennya pun orang sudah tak sudi. Males. Ya kan?
Itu juga yang aku rasakan sobs. Sejak seminggu lalu hingga pagi ini, hujan komen dari sobat blogger yang satu ini, terus saja membanjiri artikel-artikel lama yang ada di halaman 'my virtual corner'. Bukannya ga boleh sih memberi komen banyak-banyak di blog kita, boleh saja. Tapi ingat lho, cara kita memberi komentar di sebuah postingan, di sebuah blog, juga akan mencirikan bagaimana kita lho. Memang sih, tak satupun komentar yang ditinggalkannya mengandung unsur negative apalagi SARA, sama sekali tidak. Hanya saja, komentarnya jelas-jelas menggambarkan bahwa dirinya itu, sama sekali tak membaca artikel kita, atau bahkan jangan-jangan judul artikel pun dia tak sempat melihatnya…saking ingin buru-buru berpindah ke artikel lain di blog kita, dan kemudian melakukan hal yang sama di blog lainnya.
Aku sampai heran lho sobs… kok bisa dan sanggup ya? duduk manis di depan laptop, meng-copy paste komen yang satu ke kolom komentar berikutnya, dan seterusnya… hingga ratusan komen tercipta setiap harinya… membanjiri halaman maya para sahabat? Apa menggunakan semacam robot ya? J entahlah.
Lalu apa yang aku lakukan menghadapi hujan komen ini?
Well, sebenarnya aku ingin pasang comment moderation sih, tapi mengingat diri sendiri yang tidak nyaman menemukan pesan ‘your comment will appear after approval’ muncul setiap aku meninggalkan jejak di blog beberapa sahabat, maka aku memutuskan untuk tetap membuat para sahabat yang berkunjung kesini merasa nyaman, tanpa harus memasukkan menunggu approval ku, tanpa harus memasukkan captcha segala.
Walau dulu untuk urusan captcha pernah juga aku pasang. Tapi permintaan/complain beberapa teman yang mengatakan captcha ini bikin mata mereka sakit dan harus melotot, hehe, maka aku tiadakan. Aku selalu berusaha untuk menjadi tuan rumah yang baik agar para tamu tersayang merasa nyaman dan betah berlama-lama di rumah mayaku ini….
Jadi yang aku lakukan adalah, aku membiarkannya saja. Biarin deh komen2nya menumpuk di setiap postingan, tanpa aku baca satu pun. Untungnya, aku terlebih dahulu mendapatkan notifikasi komen masuk, melalui gmail yang aku aktifkan di BB, sehingga system pushmailnya BB, langsung deh menyajikan setiap email masuk padaku. Tinggal lihat, dan begitu si pemberi komen adalah si X yang reseh, maka langsung deh report as spam, biar ga menuh-menuhin inbox.
Hari ini, baru jam segini nih, 10.25 wib, ada sekitar 150 komen dari oknum yang sama. Masyaallah, betah amat yaaaa? Apa ga capek tuh, 150 komen di setiap blog, bisa bikin kita ganti lensa kacamata deh tuh. hihi…
Tapi ya sudah deh, curhatnya sekian dulu sobs… mau jalan dulu nih, refreshing lain yang paling aku gemari selain writing adalah driving. So this is time for driving, yeeaaay!!

Oya, pasti banyak sobats yang mengalami hal serupa ya? Hujan komen, lalu apa yang sobat lakukan?





foto pinjem dari sini
Sobats, banyak kebetulan yang kemudian memberi arti penting bagi keseharian dan kehidupan kita. Seperti kali ini, berselancar di dunia maya, mencari artikel tentang cerebral palsy, eh nemu related artikel tentang pentingnya melindungi bayi dan batita dari goncangan. Penasaran kan, guncangan apa yang dimaksud? Oke, lets go on and read more....

Pagi ini, sambil menanti seorang teman, iseng aku ngubek-2 list of renungan, yang memang tersimpan 'forever' di Alaika's BB Group. Renungan yang sebenarnya aku sendiri belum membacanya bahkan sejak dikirimkan. Tak panjang kalimat yang tertuliskan disana, hanya seperti ini saja sobs...
Pembelajaran berharga bagi para orang tua dan anda yang akan menjadi orang tua... Silahkan baca kisah ini...

Lalu dengan sekali klik pada link yang dimaksud, maka diriku pun langsung dibawa ke sebuah kisah yang ringkasannya adalah seperti ini sobs...

Tersebutlah sepasang suami istri yang dikaruniai seorang putri cantik berumur 3,5 tahun. Memiliki seorang pembantu setia bernama mbok Nah. Memiliki sebuah mobil hitam keren, yang cicilannya masih dua tahun lagi.

Suami istri ini adalah ayah ibu yang seharian bekerja, sehingga otomatis pengurusan anak sehari-hari menjadi tugas mbok Nah.
Namun karena fungsi utamanya sebagai pembantu, maka wajar jika sebagian besar waktu mbok Nah habis untuk urusan, dapur dan sumur, sementara hanya sebagian kecil saja waktunya menjadi baby sitter, mencurahkan waktu bagi si putri cantik yang sedang bertumbuh bijak.

Nadia, si putri cantik pun tumbuh lincah, gesit, cerdas dan kreatif. Jarang sekali menangis, apalagi mengganggu pekerjaan utama mbok Nah. (Tentu saja Nadia jauh dari sifat cengeng, wong mbok Nah selalu menuruti keinginannya.. Mau main di teras silahkan, di. Garasi silahkan, di tempat tidur monggo..., dimana saja, ayo.. Asal jangan ganggu mbok..).

Suatu hari, mendung yang menggelayuti bumi, membuat ayah dan ibu Nadia, memutuskan untuk menggunakan motor saja ke kantor. Mobil biar aman di rumah saja. Siapa sangka justru keputusan inilah yang menjadi biang keladi penyesalan tak bertepi...

Seperti biasa, sepasang pasangan beda generasi, Nadia dan mbok Nah, sibuk dengan mainannya masing-2. Mbok Nah asyik dengan urusan dapur dan Nadia bermain di garasi. Mata cantiknya menemukan sebuah paku besar, berkarat, otak kanannya pun segera bereaksi.

'Wah, bisa untuk menggambar nih! Nadia mau bikin gambar mama dan papa ah...' Batinnya.

Lalu mulailah dia mencorat-coret pada lantai, tapi karena keramik adalah material yang sangat keras, tentu goresannya sama sekali tak berbekas.

Nadia pun pindah haluan, mobil hitam keren milik ayahnya menjadi perhatiannya. Didekatinya, dan mulai menarik satu garis. 'Yeay!! Bisa" Kegirangan, dia melanjutkan. Mengembangkan imaji kreatifitasnya. Garis demi garis ditariknya dengan bebas, hingga beberapa bentuk gambar, yang menurutnya adalah gambar mama, papa, Nadia, mbok Nah, kucing, bunga, pohon dan beberapa gambar lainnya pun berjejer memenuhi dinding mobil yang tadinya licin sempurna.

Tak ada satupun yang tau perubahan yang telah tterjadi pada mobil itu, apalagi ketika Nadia lelap dibuai Mbok Nah. Hingga di sore harinya, tak lama setelah si ayah dan ibu pulang dari kantor, usai memarkir sepeda motornya. Jeritan si ayah menggelegar memecah kesenyapan dan ketenangan di rumah itu.

"Ya ampun!!! Siapa yang melakukan ini? Kurang ajar! Mbok...!!!"

Tergopoh mbok Nah mendekati sang tuan, dan keterpanaan menatap hasil kreasi Nadia berubah menjadi kepucatan luar biasa di wajahnya. Kecut hatinya.

Belum lagi dirinya menjawab, suara manja bocah cilik menjawab, "pa... Itu Nadia yang gambar lho! Cantikkan?" Didekatinya ayahnya seraya memeluk paha ayahnya manja, seperti hari-2 lainnya saat sang ayah bunda pulang kerja.

Menemukan pelaku pengrusakan mobilnya, sang ayah murka. Disentaknya Nadia, sebilah kayu yang tergeletak di lantaipun menjadi senjatanya, menghajar Nadia. Bagai kesetanan, tangan kekarnya mengayunkan bilah kayu, memukulkannya berkali-kali ke tangan mungil darah dagingnya. Nadia menangis sambil minta ampun, mbok Nah mengusap airmatanya, perih, sementara sang ibu malah merestui perbuatan itu. Biar jadi pelajaran, pikirnya.

Tak henti melembamkan kedua telapak tangan, yang malah telah menorehkan luka, dibalikkannya kedua tangan putri kecilnya itu, dan dihantamnya lagi bilah kayu itu di atas punggung tangan Nadia. Perbuatan itu baru terhenti saat beberapa tetes darah Nadia mengucur dari sela jemari mungilnya.

Ayah dan ibu beranjak memasuki kamar, masih dengan emosi yang tak kunjung reda. Mbok Nah menggendong putri asuhannya, membersihkan luka2nya seraya ikut menangis, merasakan perih yang dirasakan putri mungil yang masih Balita itu.

Tengah malam, Mbok Nah terjaga saat putri asuhan yang tidur bersamanya malam itu mengigau. Dirabanya dahi Nadia yang memanas. Dicobanya kompres dengan air sejuk. Pagi harinya, mbok Nah melaporkan keadaan Nadia pada majikannya, yang hanya ditanggapi dengan menyuruh mbok Nah meminumkan paracetamol saja untuk Nadia...

Malam harinya, kembali Nadia tidur dengan Mbok Nah. Si ayah sama sekali tak menjenguk putri mungilnya. Sementara sang ibu, mengeraskan hati untuk tetap memberikan pelajaran pada putri tercinta. Hanya dilihat dari jendela saja, mengintip dari jauh untuk memastikan putri cantiknya hanya demam biasa.

Hari keempat, keadaan Nadia bertambah parah. Demam tinggi dan kedua tangannya yang luka serta lembam mulai bernanah. Mungkin karat pada paku telah beraksi sempurna dengan luka yang ditimbulkan oleh lecutan kayu. Tetanus? Bisa jadi.
Ayah dan ibu akhirnya membawa Nadia ke klinik dan oleh dokter di klinik diarahkan agar dibawa ke rumah sakit karena keadaannya sudah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil ayah dan ibu anak itu.
"Tidak ada pilihan.." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah.

"Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu.

Si ayah dan ibu bagaikan disambar petir mendengar kata-kata itu. Dunia seakan runtuh tak bersisa.. , tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, bergetar tangan sang ayah menandatangani surat persetujuan pembedahan.

Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah mbok Nah.

Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata.

"Papa.. Mama… Nadia tidak akan melakukannya lagi…. Nadia tak mau lagi papa pukul. Nadia tak mau jahat lagi… Nadia sayang papa.. sayang mama.", katanya berulang kali membuat si ibu gagal menahan tangisnya.

"Nadia juga sayang Mbok Nah.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

"Papa.. kembalikan tangan Nadia Untuk apa diambil.. Nadia janji tidak akan mengulanginya lagi! Gimana mau makan? Gimana Nadia main kalo ga punya tangan? Nadia janji tidak akan mencoret2 mobil lagi, " katanya berulang-ulang.

Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf.

Untuk kita yang telah menjadi orang tua dan atau calon orang tua. Ingatlah….semarah apapun kita, janganlah bertindak berlebihan. Sebagai orang tua, kita patut untuk saling menjaga perbuatan kita especially pada anak2 yg masih kecil karena mereka masih belum tahu apa2. dan ingatlah, anak adalah anugrah dan amanah yang dititipkan oleh TUHAN untuk kita. 

Selamat malam sahabat, semoga kisah ini bermanfaat bagi kita sekalian. Good nite dear friends, good rest and nice dream yaa...

Sumber inspirasi- link:
http://m.facebook.com/photo.php?fbid=277426622343596&id=177903475629245&set=a.177910638961862.46368.177903475629245&refid=17&_ft_=fbid.277426652343593

Saleum,
Alaika
Sent from my SmartBerry®

Dear sobats maya,

Sudah pernah baca kisah inspiratif yang ini belum ya? Jika belum, semoga kisah ini akan menambah wawasan dan cara bersikap kita dalam menyikapi kehidupan ya sobs... Mohon maaf belum sempat balas berkunjung ke rumah para sahabat karena diriku sedang kurang enak badan, hiks..hiks...

Langsung ke sajian utama yuk...

Alkisah,
Seorang guru sufi mendatangi muridnya yang akhir-akhir ini selalu bermuram durja...

"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah didunia ini? kemana perginya wajah bersyukurmu itu?" sang Guru bertanya.

"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang murid.

Sang Guru malah terkekeh dan kemudian berkata,

"Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu."

Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata Sang Guru.

"Setelah itu coba kau minum airnya sedikit."

Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.

"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka.

"Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau."

Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan sang guru, begitu pikirnya.

"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya nikmat. Air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya,

Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya.

"Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana dan airnya mengalir menjadi sungai kecil"

Si murid terdiam, mendengarkan.

"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau."

Good nite dear friends, semoga kisah inspiratif ini bermanfaat bagi kita semua ya...

Thanks to my lovely friend yang telah setia membagikan kisah2 inspiratif di Alaika's BB Group.

Saleum,

Alaika
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Sobats,

Malam ini masih belum sempat BW, karena masih lelah oleh berbagai aktifitas di kampung halaman hari ini... Jiaah...

Ketemu Intan tercinta pagi ini, yang kemudian berangkat ke sekolah, ekskul, dan baru kembali siang hari. Dilanjut dengan aktifitasnya latihan musik untuk perpisahan anak-anak kelas tiga. Otomatis membuat kami belum sempat bercengkerama intens melepas rindu...

Sore hari aku menjemputnya, kuawali dengan menelphonenya, menanyakan apakah sudah jam pulang. Kaget setengah mati kala suara seorang pria menyahut dari seberang. Dari nomornya Intan. 'Apa-apaan ini? Kok HPnya sama orang lain?' Tapi batinku langsung berfikir cepat... Jangan-jangan HP nya Intan dicuri orang. Kuulangi lagi men-dial nomor Intan. Dijawab tapi tak bersuara. Kuulang lagi, tapi kini disambut dengan 'nomor yang anda tuju sedang tidak aktif!

Tamatlah sudah Henpon anakku. Intan... Intan! Kok bisa sih? Segera kupacu kendaraanku menuju tempat kursusnya. Eh anaknya malah sudah pindah lokasi. Intan dan teman-2nya sedang ke lokasi latihan besok. Kucoba menghubungi temannya, dan via temannya kuketahui bahwa Intan sudah diantar pulang. Menurut Intan pada temannya, Henpon Intan ketinggalan di mobil waktu uminya ngantar dia tadi. Mana mungkin tinggal di mobil, wong aku dari tadi di mobil dan menelphone ke nomornya, eh malah henpon dijawab oleh orang lain.

Kuputar kendaraanku pulang. Dan Intan kalang kabut mengubek-ubek mobilku, mencari henponnya. Mana ada lagi sih nak? Udah aman tentram di tangan si penemu/malingnya..

Dan jadilah mulai malam ini Intan tak berhenpon lagi. BB nya masih 'sekarat' dan sony ericson baru saja raib. Aku kesel banget dengan sikap teledornya ini deh sobs.. Hingga tak banyak komentar lagi deh. Kubiarkan Intan merenung memikirkan langkah selanjutnya.

Saatnya dia harus mencoba mengatasi sendiri masalahnya. Bukan sekali dua henponnya bermasalah. BBnya sendiri sudah menelan 1,5 juta untuk 3 kali perbaikan, dan sekarang JIM. sebelum BB yang ini, BB pertamanya seharga 5 jt juga raib. Trs beli lagi type yang sama, dan sudah 3 kali minta perbaikan. Sementara BBku sendiri sampe sekarang masih adem ayem tentram. Huft. Malam ini, sebuah HP nya lagi hilang.

Nak...nak! Umi capek ngurusin hal ini melulu... Coba pikirkan bagaimana solusinya? Mau beli BB lagi? Atau android? Boleh, tapi....dari tabungan Intan ya nak... Jatahmu untuk HP udah over limit, jadi kalo mau punya HP lagi, yuk umi temani tapi beli pake uang tabunganmu...

Dan, Intanpun mengangguk setuju. Yup, dia harus belajar bertanggung jawab. Membeli dengan hasil uang tabungannya, semoga akan menumbuhkan sense of belonging pada dirinya, so she will take care her goods.

Well sobs, begitu deh curcolku malam ini... Dan karena sudah malam, maka berkunjung ke rumah sahabats kita tunda besok ya sobs...

Sekarang ingin kangen-kangenan dengan Intan dulu nih. Good nite dear friends, good rest and nice dream.

Saleum,
Alaika

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Halo sobats maya tercinta,

Beberapa hari dilanda kesibukan tiada tara (jiaaah), membuatku tak sempat menyentuh laptop tercinta.., plus koneksi yang teramat lemot, jelas bikin aku kesulitan membuka pintu rumah maya tercinta ini... #alasan :D

Malam ini, sambil menikmati perjalanan via darat dari Medan ke Banda Aceh, aku kok tiba2 jadi kangen banget ya pada kalian semua.... Sobats maya yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung (lebay ah Al!) ...

Ok..ok... Iya deh sobs, hehe... Ga maksud lebay2an kok, saking kangennya pada sobats semua, sambil nunggu bis exclusive ini jalan, aku ingin bagi sebuah renungan penuh makna nih sobs... Kudapat dari seorang teman di BB group. Yuk kita simak yuuk...

Sepasang suami istri yang saling mencintai, akhirnya dikaruniai seorang putra setelah 11 tahun menikah.

Suatu pagi, kala si anak tersebut berumur 2 tahun, si ayah melihat sebotol obat yang terbuka. Kuatir akan terlambat tiba di kantornya maka dia pun meminta istrinya untuk menutup botol obat dan menyimpannya dilemari.

Sang istri yang sedang tanggung di dapur, menangguhkan untuk melaksanakan permintaan itu sejenak, eh malah akhirnya lupa untuk kemudian memenuhi permintaan sang suami.

Si anak yang memang sedang bertumbuh bijak dan aktif, dengan ceria mendekati botol obat yang terbuka itu. Layaknya anak kecil lainnya, dia pun
memainkannya dengan gembira.

Warna obat yang begitu menarik, membuatnya menuang isi botol, dan dengan tangan mungilnya memasukkan beberapa butir ke dalam mulut mungilnya. Lagi dan lagi, hingga akhirnya reaksi obat keras itu menghentikan aktifitasnya...

Menemukan sang anak yang telah tergeletak di lantai, si istri langsung melarikan si anak ke rumah sakit. Namun sayang, si anak tidak tertolong...

Si istri ngeri membayangkan bagamana dia harus menghadapi suaminya. Jantungnya makin berdegub kencang saat kedatangan sang suami ke rumah sakit.. Pasrah hatinya...namun 3 kata yang diucapkan suaminya, sungguh membuat siapapun terpana...

PERTANYAAN :
1. Apa 3 kata itu?
2. Apa makna cerita ini?

JAWABAN :
Sang Suami hanya mengatakan:
"SAYA BERSAMAMU SAYANG".

Reaksi suami yang sangat tidak disangka-sangka adalah sikap yang proaktif. Si anak sudah meninggal, tak kan mungkin mampu dihidupkan kembali. Tidak ada gunanya mencari-cari kesalahan pada sang istri.

Tidak ada yg perlu disalahkan. Si istri juga kehilangan anak semata wayangnya. Permata hatinya.

Apa yang si istri perlu saat ini adalah penghiburan dari sang suami & itulah yang
diberikan suaminya sekarang.

Jika semua orang dapat melihat hidup dengan cara pandang seperti ini maka akan terdapat jauh lebih sedikit permasalahan di dunia ini.

"Perjalanan ribuan mil dimulai dengan satu langkah kecil".

Buang rasa iri hati, cemburu, dendam, egois dan ketakutan kita.
Kita akan menemukan bahwa sesungguhnya banyak hal tidak sesulit yang kita bayangkan.

MORAL CERITA:
Cerita ini layak untuk dibaca. Kadang kita membuang waktu hanya untuk mencari kesalahan org lain/siapa yang salah dalam sebuah hub/dalam pekerjaan/dgn org yg kita kenal. Hal ini akan membuat kita kehilangan kehangatan dlm hub antar manusia.

Good nite dear friends... Wish me a safe trip ya sobs...

Saleum,

Alaika
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!


gambar dari sini

Dua puluh tujuh hari berada di kota orang, Betawi, tak urung membuat rasa kangenku terhadap putri tercinta semakin memuncak. Walau mungkin rasa kangen ini tak sebanding dengan rasa rindu yang dimiliki oleh sang permata yang kini beranjak remaja. Kehidupan remaja yang mulai dipenuhi semarak warna warni, tentu membuatnya sibuk, oleh beragam aktifitas mulai dari belajar hingga ke aneka fun activities yang dimilikinya.
Laporan Maminya Intan (Mami adalah panggilan untuk Nenek bagi orang Pidie, Aceh), informed me that the diamond is very-very busy. Permata hatiku itu sibuk banget. Jam sekolah yang dimulai dari jam 8 pagi hingga 5 sore hari, totally membuatnya sibuk. Dilanjut dengan mengerjakan Pe-Er di rumah atau di tempat temannya, bahkan membuat Umiku tak punya waktu khusus untuk berbincang-bincang dengannya. Bahkan dikala tidur, (Umiku menemani Intan tidur di kamar, baru setelah Intan pulas, beliau pindah ke kamarnya sendiri), sedang asyik bercengkerama, eh Intannya sudah tidak menjawab, begitu dilihat, anaknya malah sudah tidur. Oalah…..
So? Well, aku tak kecewa jika akhir-akhir ini Intan tak meresponse status2 yang aku post di wall fbnya, karena sejak smart phone nya ‘sakit’ ternyata Intan belum berkesempatan mempertemukan sang BB dengan dokter spesialisnya. Intan keliatan fine-fine aja ber-Sony Ericson jadulnya, cukup ber-sms-an saja denganku tanpa always connected as before. Aku aja sih yang merasa kehilangan! Hiks..hiks…
Well, cukup intronya ya sobs. Dari tadi kok tulisannya masih belum jelas arahnya mau kemana…. Masih curhaaat melulu…
Sebenarnya postingan kali ini adalah ingin menorehkan sebuah kejadian masa lalu di diary online ku ini, agar Intan kelak tersenyum bahkan tertawa terpingkal-pingkal membacanya, dan menjadikan itu sebagai reminder untuk berjaga-jaga agar anaknya kelak tidak bertingkah yang sama. J
Sobats tentu penasaran kan akan apa gerangan yang telah dilakukan oleh Intan?
Baiklah, let me tell you the story…, lanjut yuuk..


Dalam rangka menyederhanakan beranda rumah maya tercinta ini, maka tanpa mengurangi rasa hormat, aku menyediakan special corner untuk memajang link maupun banner dari para sahabat tercinta, yang telah memajang banner maupun link ku di halaman maya mereka.
Dan sobs, sebelum kita memulai parade banner/link, inilah banner rumah maya tercinta ini, yang mungkin menarik minat sobats untuk bertukar banner. Monggo ya sobs….





Kode text area


Dan... Inilah Banner para sahabat yang telah bertukar Banner denganku...
Ta Daaa.... :)









Nurmayanti Zain





http://godeksfamily.blogspot.com





keb

KebunEmas.com

Komunitas Blogger Aceh
Dear sobats,

Pasti udah pada tidur nih? Ya iyalah, udah jam berapa ini Al? Emangnya kami kalong apa? Hehehe...

Okd sobs, aku juga ngantuk banget kok, tapi sebelum tidur neh sobs, boleh donk berbagi sebuah renungan kaya manfaat yang dikirim seorang teman di Alaika's BB Group?. Kuyakin, renungan ini bagus banget, bahkan bagi yang udah pernah baca sekalipun, tetap akan berguna lho.

Yuk baca lagi....

Kejadian bermula ketika seorang bocah mungil sedang asyik bermain tanah-debu. Sementara sang ibu sedang menyiapkan jamuan makan siang yang diadakan sang ayah. Kala hidangan telah tersaji indah dan menggiurkan, dan para tamu akan tiba, si bocah mungil, dengan kedua tangan menggenggam debu, masuk ke ruang makan. Ditaburkannya debu itu diatas makanan yang telah tersaji.

Terkejut sang ibu melihat kenyataan itu, panik dan marah tentu saja tak tercegah. Dalam amarah yang berupaya diredam, meluncurlah kata-katanya;

"idzhab ja'alakallahu imaaman lilharamain," TPergi kamu...! Biar kamu jadi imam di Haramain...!")
 
Dan SubhanAllah, kini anak itu telah dewasa dan telah menjadi imam di masjidil Haram...!!

Tahukah sobats, siapa anak kecil yang di doakan ibunya saat marah itu...??

Beliau adalah Syeikh Abdurrahman as-Sudais, Imam Masjidil Haram yang nada tartilnya menjadi favorit kebanyakan kaum muslimin di seluruh dunia.
 
Subhanallah.
Ini adalah teladan bagi para ibu , calon ibu, ataupun orang tua... hendaklah selalu mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya.

Bahkan meskipun ia dalam kondisi yang marah. Karena salah satu doa yang tak terhalang adalah doa orang tua untuk anak-anaknya. Sekaligus menjadi peringatan bagi kita agar menjaga lisan dan tidak mendoakan keburukan bagi anak-anaknya. Meski dalam kondisi marah sekalipun.

"Janganlah kalian mendoakan (keburukan) untuk dirimu sendiri, begitupun untuk anak-anakmu, pembantumu, juga hartamu.
Jangan pula mendoakan keburukan yang bisa jadi bertepatan dengan saat dimana Allah mengabulkan doa kalian..."
(HR. Abu Dawud)

Well sobats tercinta,
Semoga bermanfaat ya...

Saleum,
Alaika
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!


Melanjutkan postingan sebelumnya, seperti yang aku janjikan, kali ini masih tetap bercerita tentang sebuah permata berharga yang Allah berikan padaku sobs. Yup, Intan. Intan lagi Intan lagi, ga bosan apa? Hehe…
Maklum sobs, lagi kangen sama putri semata wayang, dan juga karena memang banyak banget kisah menarik antara kami yang ingin aku goreskan di diary online ini, agar nanti… in case salah satu dari kami mendahului, maka catatan indah ini mampu menjadi penghubung kerinduan….
So… walau sobats bosan, ayo tetap dibaca yaa… hehe.
Well, minggu pertama kehilangan BBnya, Intan memang betul-betul membiasakan diri untuk puas dengan HP jadul yang kini menjadi miliknya. Tak mengeluh, tak complain. Wong itu salahnya sendiri. Namun minggu kedua, mulailah setiap malam, Intan pinjam BBku, mengutak atiknya, access twitter and fb dari sana sambil tidur-tiduran setelah usai belajar.
Aku faham, dia menginginkan sebuah BB lagi. Tapi aku tak akan membelikannya lagi. Cukup sudah, dia harus belajar keras bagaimana menjaga miliknya sendiri. Lagipula umurnya masih dua belas tahun kala itu. Juga belum banyak pengguna BB di kelasnya. Biarkan dia dengan HP jadul yang memang pantas untuk orang yang belum cermat menjaga benda berharga miliknya.
Suatu hari, BB ku hang. Tapi aku tak menyalahkan Intan sebagai pelakunya kok. Walau begitu banyak applikasi yang telah didownloadnya di BBku itu. Aneka game berjejer memenuhi ruang applikasi. Tapi masak itu sih penyebabnya? Mbuh lah. Kubawa smartphoneku ke toko dimana aku membelinya untuk diservis. Dan olala…. Ternyata butuh waktu satu bulan untuk menyembuhkan penyakitnya. Huft. Lama beneeer. Terus selama dalam perawatan, aku harus pake HP apa donk? Aku ga punya HP cadangan lagi.
Akhirnya aku terpaksa beli sebuah Onyx lagi deh sobs… dan kebayangkan betapa girangnya hati Intan melihat aku menggenggam BB Baru? Pikiran nakalnya langsung membayangkan bahwa dirinya akan menggenggam Onyx lainnya bulan depan. Saat si Onyx yang sedang dirawat itu sembuh dari perawatannya. Aha!
Dan memang keberuntungan sedang berpihak padanya sobs…. Permata hatiku itu langsung mengecup pipiku dan memelukku erat saat kami mengambil si Onyx sebulan kemudian, yang sudah pasti langsung kuwariskan padanya dengan ratusan wejangan agar kali ini dia benar-benar menjaga benda berharga itu.
Kulihat Intan memang belajar untuk itu sobs. Dia mulai pandai merawat dan bertanggung jawab terhadap harta benda miliknya. Baik itu laptop, handphone maupun benda-benda lainnya. Namun ternyata, keteledorannya itu lho sobs….. tak sepenuhnya terobati.
Sepanjang perjalanannya, Onyx warisanku itu sudah memakan biaya perawatan lainnya yang tak tanggung-tanggung. Ganti touch pad, gara-gara si touch pad ga bisa gerak lagi sobs, butuh 450 ribu. Huft. Terus ganti casing gara-gara casingnya pecah akibat jatuh, juga 450 ribu. Eh seminggu, si casing baru yang konon kata pemiliknya adalah original, udah copot beberapa tombol di keypadnya. Karena sedang liburan di luar Indo, terpaksa ga bisa komplen, jadinya ganti casing baru deh disana. Juga menghabiskan dana yang setara dengan 400 ribu.
Lalu sebulan yang lalu sobs, sebelum aku ke Jakarta ini, BB nya Intan bermasalah dengan LCDnya, gara-gara si BB terhimpit laptop di dalam tasnya. Hadoh! Intan ini yaaa!!
LCD habis 600 ribu sobs. Sedih hatiku. Tapi apa boleh buat, daripada beli HP baru, dua jutaan juga untuk sebuah android kan? Mending keluarin 600 ribu deh agar aku dan Intan tetap bisa ber-BBM-an ria. Tapi tau ga sobs apa kejadian selanjutnya yang menimpa si BB itu?
BBnya hang!!! Padahal aku baru menyuntikkan pulsa bagi Intan khusus untuk memperpanjang BIS nya, agar internet di BBnya bisa berlanjut. Eh ga taunya si BB udah hang lagi.
Aku menyerah dan hilang kesabaran. Mulai berteriak pada Intan. Diapain sih BBnya itu? Heran deh, BB Umi dari awal beli hingga sekarang ga perlu diapa-apain, tetap bagus. Ini BB Intan, udah makan biasa berapa juta coba? Dan sekarang malah hang. Diapain sih nak? Ya ampun?
Dan seperti biasanya, jawabannya adalah ga tau. Mau dibawa servis dulu. Dan meredakan amarahku, Intan mengambil jalan tengah, dia akan bawa servis tuh BB dengan menggunakan dana dari uang tabungannya. Ok, deal. Kuharapkan agar nantinya dia akan punya sense of belonging dengan menggunakan uang sendiri untuk memperbaiki HPnya itu.
Hidup ini tidak gampang, untuk mendapatkan sesuatu, diperlukan sebuah usaha, kerja keras. Uang tidak datang dengan sendirinya. Ini yang harus dipelajari oleh putriku tersayang, yang tanpa sadar, selama ini, tujuh tahun ini, telah aku manja dengan materi. Mungkin aku telah salah bersikap, dan harus mulai mengajarkannya hidup prihatin, dan melatihnya untuk hidup bertanggung jawab
How ever, Mom loves you so much nak! Always. J
Well sobs,
Itulah sekilas curcol tentang Intanku, pernahkah sobat juga mengalami hal serupa? Monggo di share donk….


Lagi kangen banget sama Intan, dan bawaannya jadi ingin nulis tentangnya dan tentangnya lagi. Yah…Hitung-hitung merekam jejak putri tersayang, tentang hal-hal penuh kenangan yang melekat di hati sang bunda, dan pernah terjadi di masa silam. Sebagai catatan pembelajaran juga bagi yang bersangkutan (#ngelirik Intan Faradila) untuk menjadi lebih baik di kemudian hari….. #serius banget kesannya deh ini…… J
Well sobs, kisah ini terjadi sekitar tiga tahun lalu, saat Intan masih duduk di kelas dua SMP. Lekat benar di ingatanku, ketika sore itu Intan tergopoh pulang dari sekolah yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah,
“Mi…. Maafkan Intan…..” dipeluknya aku yang sedang menyemprotkan air dari selang ke ban mobil. Tentu donk aku kaget luar biasa. Minta maaf untuk apa?
“Ada apa sayang? Kenapa? What’s up?”
Semakin erat pelukannya dan kini malah menangis. Ini pasti serius dan aku mulai was-was, apalagi di sela tangisnya kudengar sebuah kalimat yang langsung bikin aku parno.
“Maafkan Intan, Intan salah besar sama Umi, Intan ga bisa jaga amanah Umi…huhu….” Terisak sambil mempererat pelukan. Jangan ditanya betapa kuatir hatiku. Syok dan makin parno pikiranku. Ya Allah, apa yang telah terjadi pada anak hamba? Siapa yang telah melecehkannya? Oh Tuhan….
Kurenggangkan pelukannya, kupegang pundaknya penuh kasih, walau hati semakin tak menentu. Kutatap wajahnya yang bersimbah airmata. Ya Rabbi, lindungi anakku ya Allah…
“Nak… cerita sama Umi, apa yang udah terjadi, ada apa nak? Coba ceritakan pelan-pelan.” Bujukku menenangkannya, kurangkul dia dan menuntunnya ke teras. Kupeluk dia sambil duduk berdampingan. Beberapa menit kemudian, mulai Intan bicara, masih dengan sisa isakan tangis.
“Umi janji ga akan marah sama Intan? Intan memang salah… Intan ga bisa jaga amanah Umi….” Eh malah pecah lagi tangisannya. Aku jadi semakin was-was. Penasaran, syok. Kugelengkan kepalaku kuat untuk meyakinkannya bahwa aku tidak akan marah. Siapa yang telah berbuat jahat pada anakku ya Allah? Oh Tuhan… teganya orang itu. Anakku yang baik hati, yang selalu santun pada siapapun…. Ingin menangis aku jadinya. Tapi kutahankan agar Intan tidak semakin kacau pikirannya.
“Nak, Umi ga marah, Umi janji, Umi sayang pada anak Umi, selalu dan selamanya.”
Intan memelukku erat, dan meluncurlah kalimat yang membuatku hampir saja melanggar janjiku sendiri. Janji untuk tidak marah padanya.
“Mi…. BB Intan hilang tadi di sekolah! Huuu..huuu…” Menangis lagi.
Masyaallah Intan. Ternyata itu penyebabnya. Black Berry Onyx yang kala itu masih berbandrol 5,2 juta rupiah di kota Banda Aceh, baru saja kuhadiahkan padanya dua minggu lalu. Dengan wejangan agar dia menjaga benda itu baik-baik. Hargai jerih payah Umi, keringat Umi yang tiada henti tugas kesana kemari untuk mencari duit….. bla..bala…. , begitu lah wejanganku kala itu. Dan baru dua minggu benda mungil itu di tangannya…. Kini telah raib. Di sekolah. Siapa yang tak akan naik darahnya coba, 5,2 juta itu tidak gampang memperolehnya. Itu adalah biaya perjalananku ke daerah selama lima hari, dan kuhadiahkan baginya sebagai kompensasi dari seringnya aku meninggalkannya kala itu, karena harus tugas ke luar daerah.
Namun kuredakan amarah itu sebelum sempat meletup ke permukaan, karena sejujurnya aku begitu lega dan bahagia, karena ternyata masalahnya tak sepelik dan separno yang ada di pikiranku. Kehilangan sebuah BB seharga 5,2 juta, masih bisa aku tolerir daripada kehilangan mahkota virginitas anakku, atau berbagai kejahatan lainnya yang begitu marak dilakukan orang-orang tak bertanggung jawab terhadap anak-anak usia remaja saat ini.
Namun tak urung, nada kecewa diucapanku jelas terpancar….
“Nak… Umi memang ga marah…. Tapi Umi sedih dan sangat kecewa….. karena ternyata anak Umi yang sekarang semakin besar, tapi masih seteledor dulu….”
Intan memelukku erat, kutahu kalimatku menghunjamnya. Tapi dia harus diingatkan kembali, agar lebih bertanggung jawab terhadap miliknya sendiri. Sering sekali terbukti bahwa Intan masih belum mampu menjaga harta bendanya sendiri….
Walau sering sekali aku mengingatkannya untuk itu. Aku terkadang berfikir, apakah ini disebabkan karena dia mendapatkan benda-benda itu dengan mudah, tanpa susah payah seperti sebagian teman-temannya yang lain, yang harus menabung terlebih dahulu atau berupaya keras membujuk dan merayu ayah bunda mereka…?
Terkadang memang aku bertekad untuk tidak akan memberi sesuatu benda idaman Intan dengan mudah… namun hati dan pikiranku selalu teringat ke masa kecilnya, disaat aku tak mampu membelikan mainan atau benda lain yang begitu diidamkannya, walau yang harganya murah sekalipun, karena perekonomianku yang masih begitu sulit kala itu… Akhirnya, ingatan itu, selalu sukses membuatku luluh dan mengabulkan keinginan Intan.
“Intan memang ga bisa jaga harta Intan sendiri… Intan memang salah Mi… Intan ga usah dibelikan HP lagi deh, biarin aja Intan ga pegang HP, daripada hilang lagi….”, ucapnya diantara tangisan.
Mana mungkin tak memberinya HP, alat komunikasi yang satu ini adalah suatu kebutuhan bagi kami saat ini. Tanpa itu, kami tak dapat saling menghubungi, tak dapat saling terkoneksi. Apalagi aku sering traveling keluar kota.
“Umi memang ga akan belikan lagi HP mewah untuk Intan, mulai sekarang Intan pake HP kecil kita yang udah lama kita simpan itu aja…, ok?”
Gadis remajaku itu mengangguk dengan senyum lega. Terlihat jelas wajahnya mulai ceria lagi, sepakat sangat untuk hanya menggenggam sebuah HP jadul yang telah lama masuk kotak penyimpanan.
Hatiku penasaran, sejauh mana, selama apa Intan sanggup bertahan hanya dengan sebuah HP jadul, tanpa fitur canggih itu? Coba tebak sobs? Akankah keberuntungan dan kemurahan hati uminya berpihak padanya lagi? Membuat Intan kembali mendapatkan HP canggih lainnya?
Nantikan di postingan berikutnya ya sobs. J

Saleum,

Alaika
gambar hasil corat coret mas Stupid Monkey


Di suatu ketika, kala Aceh masih dicekam konflik. Ruang rapat yang dipimpin oleh seorang perempuan berumur 48 tahunan, diketuk dengan keras pintunya. 
Peserta rapat terdiam, begitu juga dengan sang ibu yang terdiam seketika mendengar nada ketukan pintu yang terkesan tidak ramah dan sungguh lain dari biasanya.
Sikap low profile yang dimilikinya menuntun langkahnya mendekati pintu, membukanya dan dengan santun mencoba menyapa.
“Ya pak, ada yang bisa dibantu?” sapanya dalam bahasa Aceh, melihat sang tamu yang kemungkinan besar adalah anggota gerakan separatis.
“Kami mencari Kepala Kantor ini!” jelas sang tamu dengan nada tegas dan arogan.
“Oh, Bapak sedang keluar kota… ada yang bisa dibantu?” tanyanya masih dengan nada santun.
Peserta rapat di dalam mendengarkan dengan getir. Suasana mencekam. Di masa itu, terlalu sering terjadi gangguan di segala sector. Para oknum bergerak bebas sesuka hati melancarkan gangguan, penuh keberanian. Biasanya mereka datang untuk mengambil ‘pajak nanggroe/pajak negeri’ yang tentu saja kantor-kantor yang didatanginya itu tidak menyediakan alokasi anggaran untuk itu. 
Sehingga mau tak mau, pihak yang dikunjungi selalu berada dalam situasi yang mencekam. Takut akan kebrutalan mereka di luar kantor, sebagai buntut dari tidak terpenuhinya permintaan mereka ketika ‘menagih ke kantor’.
“Kami ingin bertemu langsung dengannya, kapan dia pulang?”
“Bapak baru pulang minggu depan pak..” masih lembut dan santun suaranya. Sungguh si ibu adalah seorang yang bijak dan tau bagaimana harus bersikap.
Ketiga tamu tak diundang itupun meninggalkan ruang rapat tanpa pamit. Peserta rapat dan sang ibu menarik napas lega. Alhamdulillah, setidaknya musibah untuk hari ini telah berlalu. Tinggal menyusun strategi bagaimana menghadapi serangan yang sama di minggu depannya. Pasti mereka akan kembali untuk menemui ‘Bapak’ Kepala Kantor.
Para peserta rapat berdecak kagum menatap ibu pemimpin rapat. Sang pahlawan yang tak lain adalah Kepala Kantor yang dimaksud. Ya, beliau adalah tampuk pimpinan di kantor pemerintahan ini. Anak buahnya tak akan habis kekaguman mereka akan kiprah dan sepak terjang sang pimpinan ini dalam mewujudkan program-program yang telah dicanangkan.
Namanya Arsyiah Arsyad, akrabnya dipanggil bu Ar, terlahir sebagai perempuan Aceh sejati. Berbekal ijazah sarjana Teknik Kimia dan master di bidang Management, kloplah bekalnya untuk mengukir kiprahnya di dunia kepegawai-negerian di negeri ini. Tercatat bahwa beliau pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Perindustrian Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Kepala BPDE dan terakhir sebagai Kepala Bapedalda Aceh.

Saat tsunami menghadang, ibu yang juga merupakan korban tsunami dimana rumahnya luluh lantak oleh terjangan gelombang maut ini, justru disibukkan oleh kinerja/upaya memberikan bantuan bagi para korban bencana. Beliau yang saat itu masih menjabat sebagai Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan, Aceh, bahu membahu dengan dinas-dinas lainnya dan lembaga internasional, mengkoordinir aneka stakeholder dalam membantu the recovery of Aceh community and environment, yang nyata-nyata saat itu telah lumpuh dan luluh lantak.
Sebuah NGO besar asal Jerman, kemudian meminang ibu hebat ini untuk bergabung secara professional dengan mereka, bekerja keras memulihkan lingkungan yang telah porak poranda. Tentu saja pinangan ini disambut baik oleh bu Ar, yang saat itu posisinya telah digantikan oleh penggantinya yang lain. (Biasalah, dunia pemerintahan, mutasi dan rotasi adalah hal yang lazim toh?)
Tak sia-sia NGO asal Jerman ini merangkul bu Ar, terbukti dengan pencapaian-pencapaian luar biasa oleh kehebatan networking dengan tingkat pusat yang telah lama dibangunnya sejak beliau merintis karier di dunia pemerintahan, membuat berbagai project yang digelar NGO asal Jerman ini ibarat gayung yang bersambut. Lancar jaya.

Begitu banyak kontribusi yang telah diberikan oleh perempuan Aceh yang satu ini, baik bagi daerah, lingkungan tempat tinggalnya, dan masyarakat Aceh, terutama paska tsunami, dalam rangka membangun Aceh yang lebih baik (Build back better Aceh). Pengaruh positif ini juga tak pelak telah mempengaruhiku, Begitu banyak pelajaran berharga, yang telah diberikan oleh sosok istimewa ini, dalam peningkatan kapasitasku untuk mampu berkecimpung secara professional, baik di lingkungan national maupun international.
Perkenalan pertamaku dengan Bu Ar adalah ketika beliau dengan gigih meyakinkan bosku akan proposal bantuan dukungan dana untuk project rehab rekon paska tsunami. Tertangkap jelas kesan tangguh, gigih dan berkarakter kuat dalam gerak geriknya ketika menjelaskan uraian proposalnya.


Ternyata aku memang tidak salah menduga, bu Ar memang hebat. Tangguh dan tak kenal menyerah. Tiga tahun lebih aku (mewakili kantorku) bekerja sama dengannya. Professional dan cerdas. Walau tampilannya jauh dari feminine, tapi sisi keibuannya lebih dari seorang wanita kemayu sekalipun.

Bepergian dalam tugas berdua adalah hal yang sudah seringkali kami lakukan. Dan terasa sekali jika beliau begitu menghargai dan menyayangiku. Yang paling berkesan bagiku adalah ketika beliau memperjuangkan aku pada bosku agar aku dapat mendampingi beliau mengikuti acara kongres dunia yang digelar oleh International Solid Waste Association di Singapore, November 2008.
Bosku jelas-jelas tidak mengijinkan aku untuk ikut, karena ada masalah lain yang harus aku tangani di kantor pusat. Walau aku ditugaskan sebagai technical advisor dan berkantor di kantornya bu Ar, tapi tentu saja sewaktu-waktu aku dapat ditarik untuk membantu di kantor pusat. Namun Ibu Arsyiah kala itu, begitu ingin aku mendampingi beliau ke Singapore.
Perjuangan gigih bu Ar berhasil meluluhkan hati bosku, dan akhirnya aku berhasil digeret bu Ar terbang ke Singapore. Bukan untuk senang-senang (saja) sobs, karena jelas, aku harus membantu dan memperkuat bu Ar dalam presentasinya disana nanti.


Perempuan yang satu ini memang sungguh hebat, setidaknya dimata kami, orang-orang yang mengenalnya, khususnya di mataku, yang sekian lama selalu saling berdampingan. Saling menghargai, saling mengisi dan saling mempengaruhi. J

Sobats….,



Menuliskan kisah ini, membuatku menitikkan air mata. Membuat kerinduan ini tiba-tiba menyeruak dan menyesakkan dada. Kuusap lembut fotomu ibu…., teriring doa di relung hati, 

Ya Allah Yang Maha Penyayang,
limpahilah kasih sayangMu
kepada
almarhumah bu Aryiah Arsyad ya Allah.
lapangkan tempat peristirahatannya …
beri beliau tempat yang layak disisiMu..
Amien Ya Rabbal Alamin..

Terima kasih atas segala kontribusimu Bu Ar… yang telah dengan tangguh turut serta membangun kembali Aceh yang porak poranda…. Yang telah memberiku pengaruh positif demi pengembangan kapasitas diri…. Terima kasih…
Istirahatlah dalam damai, semoga Allah senantiasa merangkul ibu dalam keteduhanNya… Amin.


Postingan ini diikut-sertakan dalam Kontes Blogger Kartinian "Kontribusi Nyata Wanita Indonesia"
di blognya anny.blogdetik.com http://anny.blogdetik.com/2012/04/21/blogger-kartinian-kontribusi-nyata-wanita-indonesia/



Newer Posts Older Posts Home

Author

I am a chemical engineer who is in love in humanity work, content creation, and women empowerment.

SUBSCRIBE & FOLLOW

Speaker

Speaker
I love to talk/share about Digital Literacy, Social Media Management, Content Creation, Personal Branding, Mindset Transformation

1st Winner

1st Winner
Click the picture to read more about this.

1st Winner

1st Winner
Pemenang Utama Blog Competition yang diselenggarakan oleh Falcon Pictures. Click the picture to read more about this.

1st Winner

1st Winner
Blogging Competition yang diselenggarakan oleh Balitbang PUPR

Podcast Winner

Podcast Winner
Pemenang Pilihan Dewan Juri - Podcast Hari Kemerdekaan RI ke 75 by KOMINFO

Winner

Winner
Lomba Menulis Tentang Kebencanaan 2014 - Diselenggarakan oleh Pemerintah Aceh

Winner

Winner
Juara Berbagai Blogging Competition

Featured Post

Yuk telusuri Selat Bosphorus yuk!

Yuk telusuri Selat Bosphorus yuk! Sesaat sebelum naik ke kapal verry Ki-ka: Adik ipar, Aku dan Ayah. Hai.... hai.... hai! In...

POPULAR POSTS

  • Manusia Pertama, Manusia Purba atau Nabi Adam ya?
  • Perempuan hebat edisi: “Bapak” sedang Keluar Kota
  • Cara Membuat Stiker Sendiri di Telegram
  • It's Me!
  • Laksamana Malahayati, Kartini Lain sebelum Kartini
  • Solusi Jitu Hilangkan Kantung Mata
  • Henpon Warisan
  • Petualangan Gaib
  • Janda. Emang Kenapa?
  • Srikandi Blogger di mataku.

Categories

  • about me 1
  • advertorial 10
  • awards 19
  • banner 1
  • Beauty Corner 28
  • belarus 5
  • bisnis 1
  • Blog Review 2
  • blogger perempuan 1
  • blogging tips 8
  • Bocil Berbulu 2
  • body 6
  • Budaya 1
  • Catatan 8
  • catatan spesial 13
  • catatan. 53
  • catatan. task 20
  • culinary 5
  • curahan hati 2
  • daftar isi blog 1
  • dailycolor 1
  • DF Clinic 11
  • disclosure 1
  • edisi duo 5
  • email post 10
  • embun pagi 1
  • episode kehidupan 1
  • event 1
  • fashion 3
  • financial 1
  • giveaway 44
  • Gratitude 6
  • Healthy-Life 15
  • info 26
  • innerbeauty 2
  • iran 4
  • joke 4
  • Kenangan 7
  • kenangan masa kecil 3
  • kenangan terindah 11
  • keseharianku 2
  • kisah 14
  • kisah jenaka 7
  • kompetisi blog 1
  • komunitas 2
  • KopDar 8
  • Korea 1
  • kuliner 7
  • Lawan TB 2
  • lesson learnt 6
  • lifestyle 2
  • lineation 20
  • lingkungan 1
  • Literasi Digital 5
  • motivation 9
  • museum tsunami aceh 1
  • order 1
  • oriflameku 2
  • parenting 4
  • perempuan tangguh 4
  • perjalanan tiga negara 1
  • petualangan gaib 6
  • picture 5
  • Profile 13
  • puisi 8
  • reflection 3
  • renungan 24
  • reportase 24
  • resensi 2
  • review 39
  • review aplikasi 1
  • rupa 1
  • Sahabat JKN 2
  • sakit 1
  • sea of life 17
  • sejarah 4
  • Sekedar 1
  • sekedar coretan 76
  • sekedar info 23
  • self love 14
  • selingan semusim 9
  • seri BRR 3
  • snack asyik 1
  • soul 2
  • Srikandi Blogger 2
  • Srikandi Blogger 2013 7
  • Srikandi Blogger 2014 4
  • SWAM 1
  • task 41
  • tentang Intan 31
  • Test 1
  • testimoni 8
  • Tips 55
  • tradisi 1
  • tragedy 1
  • traveling 60
  • true story 7
  • tsunami 9
  • turkey 9
  • tutorial 7
  • visa 1
  • wisata tsunami 2

Followers


Blog Archive

  • May (1)
  • December (1)
  • October (1)
  • March (1)
  • August (2)
  • May (1)
  • April (2)
  • March (6)
  • February (3)
  • January (1)
  • December (1)
  • November (5)
  • October (4)
  • September (3)
  • August (5)
  • July (3)
  • April (1)
  • January (1)
  • December (2)
  • November (1)
  • October (1)
  • September (1)
  • June (1)
  • February (1)
  • December (1)
  • September (2)
  • August (2)
  • June (1)
  • March (1)
  • February (1)
  • December (5)
  • September (2)
  • August (3)
  • July (1)
  • May (3)
  • April (2)
  • March (1)
  • February (1)
  • January (7)
  • December (1)
  • November (5)
  • September (3)
  • August (1)
  • July (4)
  • June (1)
  • May (1)
  • April (3)
  • March (6)
  • February (5)
  • January (7)
  • December (8)
  • November (4)
  • October (12)
  • September (4)
  • August (3)
  • July (2)
  • June (5)
  • May (5)
  • April (1)
  • March (5)
  • February (4)
  • January (6)
  • December (5)
  • November (4)
  • October (8)
  • September (5)
  • August (6)
  • July (3)
  • June (7)
  • May (6)
  • April (7)
  • March (4)
  • February (4)
  • January (16)
  • December (10)
  • November (10)
  • October (3)
  • September (2)
  • August (5)
  • July (7)
  • June (2)
  • May (8)
  • April (8)
  • March (8)
  • February (7)
  • January (9)
  • December (10)
  • November (6)
  • October (11)
  • September (12)
  • August (4)
  • July (9)
  • June (4)
  • May (1)
  • April (12)
  • March (25)
  • February (28)
  • January (30)
  • December (8)
  • November (3)
  • October (1)
  • September (12)
  • August (10)
  • July (5)
  • June (13)
  • May (12)
  • April (19)
  • March (15)
  • February (16)
  • January (8)
  • December (13)
  • November (16)
  • October (23)
  • September (19)
  • August (14)
  • July (22)
  • June (17)
  • May (17)
  • April (19)
  • March (21)
  • February (27)
  • January (17)
  • December (23)
  • November (20)
  • October (16)
  • September (5)
  • August (2)
  • March (1)
  • December (2)
  • April (1)
  • March (1)
  • February (6)
  • January (1)
  • December (1)
  • November (4)
  • September (4)
  • August (1)
  • July (8)
  • June (16)

Oddthemes

Flickr Images

Copyright © My Virtual Corner. Designed by OddThemes