Read the English version Here!
Hai,
Jika kamu sedang membaca halaman ini...
selamat datang, ya! Aku senang sekali kamu mampir.
Namaku Alaika Abdullah.
Di balik nama pena ini, ada Fithrianti Abdullah—seorang Chemical Engineer yang kemudian menemukan panggilan hidupnya di dunia kemanusiaan, bekerja sebagai profesional komunikasi strategis, dan jatuh cinta pada dunia menulis.
Sekilas, semuanya mungkin terlihat seperti jalan yang berbeda.
Namun, ketika aku menoleh ke belakang, aku menyadari bahwa semuanya selalu mengarah pada satu tujuan yang sama, yaitu:
Memberdayakan manusia melalui cerita, pengetahuan, teknologi, dan perjalanan yang bermakna.
selamat datang, ya! Aku senang sekali kamu mampir.
Namaku Alaika Abdullah.
Di balik nama pena ini, ada Fithrianti Abdullah—seorang Chemical Engineer yang kemudian menemukan panggilan hidupnya di dunia kemanusiaan, bekerja sebagai profesional komunikasi strategis, dan jatuh cinta pada dunia menulis.
Sekilas, semuanya mungkin terlihat seperti jalan yang berbeda.
Namun, ketika aku menoleh ke belakang, aku menyadari bahwa semuanya selalu mengarah pada satu tujuan yang sama, yaitu:
Memberdayakan manusia melalui cerita, pengetahuan, teknologi, dan perjalanan yang bermakna.
Perjalananku dimulai di sebuah laboratorium.
Sebagai seorang Chemical Engineer, aku pernah membayangkan masa depan yang akan dipenuhi oleh penelitian, quality control, dan pengembangan formulasi.
Namun, hidup ternyata menuliskan cerita yang berbeda. Tsunami Aceh tahun 2004, bukan hanya mengubah arah karierku. Ia juga mengubah cara pandangku terhadap kehidupan.
Apa yang awalnya merupakan respons kemanusiaan, perlahan berkembang menjadi perjalanan panjang yang membawaku bekerja di berbagai bidang—mulai dari bantuan kemanusiaan, rekonstruksi pascabencana, pembangunan internasional, diplomasi, hingga dunia industri.
Sebagai seorang Chemical Engineer, aku pernah membayangkan masa depan yang akan dipenuhi oleh penelitian, quality control, dan pengembangan formulasi.
Namun, hidup ternyata menuliskan cerita yang berbeda. Tsunami Aceh tahun 2004, bukan hanya mengubah arah karierku. Ia juga mengubah cara pandangku terhadap kehidupan.
Apa yang awalnya merupakan respons kemanusiaan, perlahan berkembang menjadi perjalanan panjang yang membawaku bekerja di berbagai bidang—mulai dari bantuan kemanusiaan, rekonstruksi pascabencana, pembangunan internasional, diplomasi, hingga dunia industri.
Hari ini, aku tidak lagi melihat semuanya sebagai karier yang terpisah.
Bagiku, semuanya adalah ruang belajar.
Tentang manusia.
Tentang harapan.
Tentang ketangguhan.
Dan tentang bagaimana komunikasi mampu menjembatani perubahan.
Bagiku, semuanya adalah ruang belajar.
Tentang manusia.
Tentang harapan.
Tentang ketangguhan.
Dan tentang bagaimana komunikasi mampu menjembatani perubahan.
Aku mulai menulis dengan nama Alaika Abdullah pada tahun 2008.
Awalnya sederhana. Aku hanya membutuhkan sebuah ruang untuk berhenti sejenak.
Ruang untuk berpikir.
Ruang untuk merapikan rasa.
Ruang untuk memahami hidup melalui kata-kata.
Tak pernah terbayang bahwa ruang kecil itu kemudian tumbuh menjadi buku, platform penerbitan digital, kesempatan berbicara di berbagai forum, hingga pertemuan-pertemuan indah dengan begitu banyak pembaca yang mungkin tak pernah kukenal secara langsung, tetapi terasa begitu dekat melalui cerita.
Kini aku menyadari bahwa....
Menulis tidak pernah sekadar menjadi hobi.
Menulis adalah benang yang diam-diam menjahit seluruh perjalanan hidupku.
Melalui Alaika, aku menulis tentang kehidupan, penyembuhan, ketangguhan, harapan, dan keberanian untuk memulai kembali.
Karena aku percaya...
sering kali sebuah cerita mampu menyentuh tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh nasihat.
Awalnya sederhana. Aku hanya membutuhkan sebuah ruang untuk berhenti sejenak.
Ruang untuk berpikir.
Ruang untuk merapikan rasa.
Ruang untuk memahami hidup melalui kata-kata.
Tak pernah terbayang bahwa ruang kecil itu kemudian tumbuh menjadi buku, platform penerbitan digital, kesempatan berbicara di berbagai forum, hingga pertemuan-pertemuan indah dengan begitu banyak pembaca yang mungkin tak pernah kukenal secara langsung, tetapi terasa begitu dekat melalui cerita.
Kini aku menyadari bahwa....
Menulis tidak pernah sekadar menjadi hobi.
Menulis adalah benang yang diam-diam menjahit seluruh perjalanan hidupku.
Melalui Alaika, aku menulis tentang kehidupan, penyembuhan, ketangguhan, harapan, dan keberanian untuk memulai kembali.
Karena aku percaya...
sering kali sebuah cerita mampu menyentuh tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh nasihat.
Hari ini, dunia kembali berubah.
Artificial Intelligence hadir dan mengubah cara kita belajar, bekerja, berkomunikasi, bahkan mengambil keputusan.
Banyak orang melihat teknologi.
Aku justru melihat manusia yang sedang berusaha memahaminya.
Mungkin itulah sebabnya aku merasa terpanggil untuk ikut memperkenalkan AI kepada lebih banyak orang. Bukan karena semua orang harus menjadi ahli AI. Namun karena setiap orang berhak memahami teknologi yang sedang membentuk masa depan kita.
Bagiku, pengetahuan seharusnya tidak membuat kita merasa takut.
Pengetahuan seharusnya membuat kita merasa lebih berdaya.
Artificial Intelligence hadir dan mengubah cara kita belajar, bekerja, berkomunikasi, bahkan mengambil keputusan.
Banyak orang melihat teknologi.
Aku justru melihat manusia yang sedang berusaha memahaminya.
Mungkin itulah sebabnya aku merasa terpanggil untuk ikut memperkenalkan AI kepada lebih banyak orang. Bukan karena semua orang harus menjadi ahli AI. Namun karena setiap orang berhak memahami teknologi yang sedang membentuk masa depan kita.
Bagiku, pengetahuan seharusnya tidak membuat kita merasa takut.
Pengetahuan seharusnya membuat kita merasa lebih berdaya.
Keyakinan yang sama kemudian melahirkan Aksara Indie Media, sebuah platform penerbitan digital yang ingin membuat proses menerbitkan buku menjadi lebih mudah dijangkau, lebih ramah lingkungan, dan lebih terbuka bagi siapa saja yang memiliki cerita.
Semangat itu pula yang menjadi alasan lahirnya AI Circle – Women in AI, sebuah komunitas yang ingin membantu perempuan mengenal Artificial Intelligence melalui cara-cara yang sederhana, praktis, dan menyenangkan.
Dan suatu hari nanti, aku berharap dapat melangkah lebih jauh melalui Global Industry Mission—menghubungkan manusia, industri, dan berbagai negara melalui perjalanan belajar yang bermakna.
Karena aku percaya bahwa setiap perjalanan selalu mengubah cara kita memandang dunia.
Semangat itu pula yang menjadi alasan lahirnya AI Circle – Women in AI, sebuah komunitas yang ingin membantu perempuan mengenal Artificial Intelligence melalui cara-cara yang sederhana, praktis, dan menyenangkan.
Dan suatu hari nanti, aku berharap dapat melangkah lebih jauh melalui Global Industry Mission—menghubungkan manusia, industri, dan berbagai negara melalui perjalanan belajar yang bermakna.
Karena aku percaya bahwa setiap perjalanan selalu mengubah cara kita memandang dunia.
Jika kamu datang ke sini karena mencari seorang blogger...
semoga kamu menemukan teman bercerita.
Jika kamu datang karena menyukai buku...
semoga ada kisah yang menemanimu.
Jika kamu hadir karena dunia komunikasi, AI, atau pengembangan diri...
semoga kita bisa saling belajar.
Dan jika suatu hari kamu hanya sedang lelah, bingung, atau sekadar ingin berhenti sejenak...
semoga My Virtual Corner bisa menjadi tempat untuk kembali.
Thank you banget ya sudah mampir,
aku senang banget jalan kita akhirnya bertemu.
Salam Hangat,
Alaika Abdullah
semoga kamu menemukan teman bercerita.
Jika kamu datang karena menyukai buku...
semoga ada kisah yang menemanimu.
Jika kamu hadir karena dunia komunikasi, AI, atau pengembangan diri...
semoga kita bisa saling belajar.
Dan jika suatu hari kamu hanya sedang lelah, bingung, atau sekadar ingin berhenti sejenak...
semoga My Virtual Corner bisa menjadi tempat untuk kembali.
Thank you banget ya sudah mampir,
aku senang banget jalan kita akhirnya bertemu.
Salam Hangat,
Alaika Abdullah
