Menu
/
Postingan ini tak bermaksud apa-apa. Hanya terlintas di pikiran begitu saja, kala sedang menulis artikel seperti biasa. Entahlah. Tiba-tiba saja aku iri dengan mereka, yang tak harus bersusah payah, yang tak harus mencari makan, yang bebas memutuskan untuk menjadi apa yang mereka suka. Untuk bisa menyalurkan passion sekehendak hati. Amboi, betapa beruntungnya mereka, pikirku.

Iya. Aku iri pada mereka, dan kubiarkan sejenak rasa iri ini berpuas diri. Kubiarkan rasa iri ini menyuntik dan menghasut sisi baik hatiku, untuk semakin dirasuki. Kubiarkan. Let it be, pikirku.

Ya, aku iri pada mereka, yang bisa memilih untuk sepenuhnya menuruti inginnya hati. Tak perlu lagi harus bekerja banting tulang di kantoran. Tak harus berjualan, atau apapun pekerjaan lain yang tak disuka. Tak sepertiku. Aku masih harus begini. Masih harus begini. Masih harus terikat di sini.

Ah, aku iri. Etapi, kenapa sisi buruk hatiku semakin dengki? Tak taukah dia bahwa di balik semua yang terlihat asyik itu, sesungguhnya tersembunyi hal-hal yang tak mengenakkan juga? Bahwa ada yin dan yang, ada siang dan malam, ada baik dan buruk, ada happy dan duka cinta di dalam hidup ini?

There is nothing perfect, there is nobody perfect, tak ada yang sempurna. Apa yang terlihat indah, belum tentu begitu adanya. Terkadang to see the unseen, kita perlu kaca mata istimewa, toh? Lalu, masihkah aku harus iri pada nasib orang lain yang sekilas terlihat begitu menyenangkan?

TIDAK. Iriku sudah cukup. Case closed!


Untai-untai bermakna, 
postingan iseng, Al, Margonda Residence, 18 Agustus 2016

15 comments:

  1. Nasib orang memang beda-beda, begitu pun cara kita menikmati hidup... Kalau kita pintar melihat sisi positif dari miliknya kita akan bahagia...Semoga.
    Tengkiyuuu catatan pengingat ya kak Al

    ReplyDelete
  2. Pdhal di luaran sana byk yg iri pdmu, Mbak

    ReplyDelete
  3. kadang (mungkin sering) rumput tetannga terlihat jauh lebih hijau mba :)

    ReplyDelete
  4. Mba Al, namanya manusia ya kadang banyak yang di risaukan, Natural saja ya. Aku pun kadang merasakan hal demikian. Tapi moga perasaan iri itu membuat kita makin terpaku buat semakin maju ya mba :)

    ReplyDelete
  5. Iri selalu ada dalam diri manusia ya kak, tapi kita bisa memilih untuk bersyukur pada akhirnya agar hidup menjadi lebih indah

    ReplyDelete
  6. Kata orang Jawa, hidup itu sawang sinawang, Mba Al. Ya gitu, kita lihat hidup orang lain enak, dan ternyata orang lainpun begitu, melihat hidup kita enak. Wajar Mba Al, asal jangan sampai membuat kita kufur terhadap segala nikmat yang ada saat ini. Semangat Mb Al^^

    ReplyDelete
  7. Sisi positif rasa iri membuat kita bisa muhasabah diri dan sampai pada kesimpulan, Maha Besar Allah yang menciptakan segala sesuatu pasti ada makna yang tersimpan dibaliknya ;)

    ReplyDelete
  8. Kadang aku pun merasa begitu mba Al tapi kemudian nurani selalu meluruskan bahwa kehidupan manusia dinilai dari proses oleh Sang Pemilik keabadian... Semangaat mba Al, you are strong women 😄😘

    ReplyDelete
  9. Waah mbak Al, emang menulis itu cara terbaik buat ngeluarin hal negatif ya.

    Semoga udah gak iri lagi ya mbak. Di luar sana malah banyak juga yang iri sama mbak Al, :D

    ReplyDelete
  10. Saya pun mengalaminya, kadang. Manusiawi, asalkan iri ini bisa berubah positif. Bisa memotivasi kita *winkwink*

    ReplyDelete
  11. Untung gak lama-lama irinya, coba kalo lama bisa bahaya tuh.

    ReplyDelete
  12. Kalau kata org Jawa "urip kuwi sawang sinawang" hidup itu saling liat2an, gtu deh artinya.
    Tapi menurutku Mbak Al, iri itu jg penting, terutama yg bikin kita menjadi lbh baik lg. Bisa jd motivasi gtu deh.
    Tp klo irinya cenderung dengki amit2 deh hehe

    ReplyDelete
  13. semangaaat mba...kita sudah diberi yang terbaik dari-Nya. tapi kalau memang jealousy bisa menambah semangat positif, boleh asal ngg kebanyakan :)

    ReplyDelete
  14. Aku juga pernah merasakan apa yang mba rasakan :(

    ReplyDelete
  15. LIFE IS TO SHORT.. DINIKMATI AJA, SEMUA YANG KITA LAKUKAN DENGAN IKHLAS AKAN DAPAT BALASANNYA

    ReplyDelete