Resignation | My Virtual Corner
Menu
/
Resignation. Diakui atau tidak, mengundurkan diri dari sebuah pekerjaan pasti menyisakan kesedihan. Sedih karena harus berpisah dengan para kolega yang keakrabannya memang sudah pada peringkat 'sahabat'. Dan walo ini bukanlah kali pertama aku harus meninggalkan kantor untuk tidak kembali lagi, karena selaku pekerja kemanusiaan yang bekerja per project, adalah hal yang lumrah bagi kami untuk beralih dari satu project ke project lainnya. Namun tetap saja, rasa sedih itu selalu hadir di hati, karena..., ya itu, tadi. Harus meninggalkan/berpisah dengan kolega-kolega yang sudah seperti keluarga sendiri. Hiks...

Dan kali ini, setelah setahun lebih bergabung di sebuah kantor Kedutaan Besar negara sahabat, aku pun dihadapkan pada situasi sulit. Harus memilih antara terus bekerja di sini, dan tetap tinggal di ibukota, atau memenuhi panggilan nurani, untuk kembali ke my second hometown, Bandung, di mana dua orang bidadari syurga *pinjem kata-kata mas Ipho Santosa, bertempat tinggal. As I used to write down in my blogpost, ayah dan ibuku memang akhirnya hijrah ke Bandung, meninggalkan Banda Aceh, agar lebih dekat ke kami, anak-anaknya yang kini bertempat tinggal di tanah Jawa.

Tadinya sih, ga ada masalah sama sekali meninggalkan mereka berdua di rumah baru ini. Keduanya happy menikmati masa tua di tanah Pasundan yang sejuk, udaranya bersih dan memang pas untuk menikmati masa-masa pensiun. Namun, siapa sangka jika kemudian Allah malah memberikan ujian. Ayahanda yang begitu riang, ternyata terkena serangan jantung, dan akhirnya membutuhkan perawatan dan perhatian ekstra. Dan setelah menempuh berbagai pemeriksaan dan tindakan medis, bahkan sudah bersiap untuk maju ke tahap by pass jantung, ealah, akhirnya oleh tim dokter di Harapan Kita, malah disarankan untuk kembali saja ke Bandung, hidup dengan cara yang sehat dan bahagia, tanpa perlu lakukan by pass. Alasannya? Kondisi ayah yang sudah lanjut usia, plus status hasil pemeriksaan ini itunya, disimpulkan bahwa sebaiknya ayah tak perlu dibypass. Kuatirnya justru kondisinya akan memburuk jika dipaksakan by pass.

Jadi? Ya begitulah. Kami pulang ke Bandung, dengan hati bingung. Antara hepi ga perlu lakukan by pass, yang adalah operasi besar dan bikin was-was, tapi juga kuatir akan kesehatan ayah selanjutnya. Namun yang luar biasanya adalah, di tengah wajah-wajah kami yang bingung itu, justru ayah dengan bersemangat mengajak kami untuk bersyukur. "Mari kita bersyukur ke hadirat Allah, Ayah yakin, Allah pasti punya solusi yang terbaik. Kita pasrahkan saja kepada Allah. Dia pemilik kehidupan, Ayah dan kita semua hanya dipinjamkan nyawa untuk sementara, jadi kita harus siap kapanpun Allah menginginkannya kembali." MAKJLEB! Speechless. I have no idea what is in his mind. Hiks....

Sejak itu, aku jadi was-was jika berjauhan dengan ayah dan ibu. Hati tak tenang, apalagi jika malam tiba. Yang namanya penyakit jantung itu... tak pernah bisa kita duga kapan datang serangannya. Aku teramat sangat kuatir jika membayangkan serangan itu datang tengah malam, sementara di rumah sana hanya ada ayah dan ibu. Kebayang gimana paniknya ibu yang sudah sepuh, harus membawa ayah ke rumah sakit, sementara ibu tak bisa menyetir mobil. Dan aku sendiri, akan butuh kurang lebih 3 jam untuk sampai Bandung, dan itu artinya bisa saja aku kehilangan momen dan bisa berakibat fatal. Duh, aku ga ingin semua bayangan ini jadi kenyataan. Aku ga ingin menyesal di kemudian hari, apalagi jika mengingat hal-hal buruk yang pernah aku lakukan terhadap keduanya di masa lalu.

Baca juga: I was deleted and blocked

Maka, aku pun berdoa siang dan malam, agar ada celah bagiku untuk bisa kembali ke Bandung. Di satu sisi, aku memang masih sangat membutuhkan pekerjaan ini agar kelangsungan kuliah Intan di President University tidak terkendala. Tau sendiri kan, Sobs? Kuliah di kampus ini ampun dije biayanya..., hiks. Namun di sisi lain, aku kuatir akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan jika aku masih bertahan di ibukota ini.

Jalan itu dibukakan.

Ya, Alhamdulillah. HE is the best facilitator, yang tak hanya mengabulkan doa-doa namun juga memfasilitasi keinginan baik. DIA menjawab doaku dengan indah. Aku menamakannya buah dari silaturrahmi dan networking.
Yup, jadi suatu siang, aku dan Nchie Hanie, my soulmate, berkunjung ke klinik DF, untuk konsultasi dan ditreatment oleh dr. David. Kalo ga salah tuh, aku akan jalani treatment kantung mata, deh, siang itu. Nah, setelah treatment, kami ngobrol santai lah sejenak dengan si dokter kece ini. Dan dalam obrolan ini, tercetuslah keinginanku untuk pulang ke Bandung kembali, dan sekarang lagi cari-cari kerjaan untuk penyambung kehidupan juga kuliah Intan.

Nah, si dokter kece bilang bahwa saat ini ada sebuah perusahaan yang digawangi oleh para dokter estetika, sedang membutuhkan jasa seorang operation manager, yang juga cakap berbahasa Inggris (karena banyak relasi dan calon klien mereka berasal dari luar negeri) untuk memastikan perusahaan ini bisa berjalan dengan baik. Karena selama ini, perusahaan ini hanya dijalankan dan dimanage oleh para dokter ini, yang notebene adalah pada sibuk semua. Juga karena ritme kerja para dokter tuh, biasanya kan single fighter, jadi mereka tuh butuh seorang profesional untuk bener-bener memanage perusahaan ini. Dan si dokter kece menyampaikan bahwa jika aku tertarik, aku boleh ngasih CVku ke dia untuk diteruskan ke perusahaan ini.

Aku, so pasti menyambut baik tawaran ini, donk. CVku pun melayang ke inbox email si dokter kece, dan dalam beberapa hari kemudian aku mendapatkan panggilan interview yang disampaikan oleh perusahaan ini via emailku. Alhamdulillah. Walo ini masih langkah awal, setidaknya aku sudah masuk ke dalam tahapan long list. Mudah-mudahan bisa lanjut ke dalam shortlist nantinya. Aamiin.
Waktu terus berjalan, proses demi proses berlanjut, hingga kemudian aku sampai juga berhadapan dengan komisaris utama perusahaan ini, untuk diinterview olehnya. Alhamdulillah, wawancara terakhir dengan Bapak Komisaris Utama yang ternyata adalah seorang dokter estetika terkemuka di tanah air ini, berlangsung dengan lancar, dan aku melihat bahwa beliau menaruh kepercayaan dan harapan untuk kami dapat bekerjasama. Kalimat pamungkas beliau adalah, 'Alaika boleh fikir-fikir dulu, deh, ya. Nanti jika memang berminat dengan penawaran kami, dan ingin mencoba, mari kita sama-sama membuka kesempatan untuk bekerjasama dalam memajukan perusahaan ini, ok?' Sungguh aku terkesan akan kehumble-annya.

Dan, kemudian...,  peluang baik mana lagi yang harus aku abaikan, Sobs? Ketika doa-doa dijabah dengan segera, dan jalan dimudahkan, haruskah aku menampik dan membuang kesempatan? Alhamdulillah. Aku meyakini, ini adalah jalan yang Allah bukakan bagiku, agar bisa mendampingi ayah ibu, melalui kekuatan silaturrahmi dan networking serta kemampuan diri dalam menjalani tahapan demi tahapan proses rekrutmen.

Farewell 

Sungguh, berkali-kali mengakhiri masa kerja, yang namanya rasa sedih karena perpisahan, selalu saja membasahi hati. Walo bagaimana pun, aku cukup terkesan oleh kata-kata perpisahan dari para diplomats, yang menyalami dan mendoakan hal-hal terbaik bagiku, ayah dan ibu ke depan nanti. Hm, jadi haru, deh. Dan juga aku sungguh tersanjung saat para diplomats ini menyampaikan dan berterima kasih untuk kebersamaan kami selama ini, serta kinerja baikku selama ini. Alhamdulillah, dan lagi-lagi aku tersanjung saat mereka juga menyampaikan keyakinan mereka bahwa kantor berikutnya di mana aku nanti akan bekerja pasti akan happy to have me in their team, karena menurut mereka, aku tuh orangnya jujur, supportif, berkinerja baik dan a very quick learner. Aih, hidungku hampir memanjang saking haru dan bangga. Haha.

Kesan spesial dari perpisahan lainnya adalah perpisahanku dengan Teh Ipah dan Nabila, juga bu Yuyun. Teh Ipah adalah office girl di kantor kami. Orangnya baik banget. Nabila adalah sekretaris duta besar dan bu Yuyun adalah koki kedutaan. Ketiga orang ini sudah seperti keluarga bagiku di kantor ini. Penuh perhatian dan kami merasa akrab dan terbuka antara satu sama lain.

Nabila Fatma Giyanti
Atas: Aku dan Nabila
Bawah: Teh Ipah dan Aku
Tentang Nabila, karena umurnya dua tahunan di atas Intan, jadi aku justru menganggapnya lebih seperti anak ketimbang kolega, haha. Namun, jangan salah, karena eikeh, termasuk emak gahol, haha, maka Nabila juga gampang berkomunikasi denganku karena katanya sih 'ibu orangnya nyambung banget! Asyik deh, bekerjasama dan main sama ibu!'. Hehe. Iya lah, kan ibu blogger, dan juga social media enthusiast!

Dan, kepergianku, tentu membekaskan kesedihan di hati Nabila. I know that. Karena selama ini, selaku orang yang sudah malang melintang di dunia perkantoran, dengan segala irama suka-dukanya, tentu dara manis ini beranggapan bahwa aku jauh lebih tau dibanding dirinya yang masih fresh graduated. Walau sebenarnya, menurutku pribadi, cewek manis lulusan Hubungan International salah satu universitas negeri di Jakarta ini, cukup smart dan bisa banget diandalkan dalam bekerja, sih. Namun, mungkin sugesti negatif yang (mungkin) secara tak sengaja tertanam di hatinya oleh sikap beberapa kolega di kantor, membuatnya merasa gimana... gitu.

Well, back to my farewell with Nabila. Sungguh, aku terharu akan perhatiannya. Bahkan di saat terakhir aku berkantor, gadis ini ternyata sudah mempersiapkan sebuah bingkisan perpisahan. Yang sungguh bikin aku haru. Padahal, Nab, we will meet again, dear! Soon, around. You will still be able to reach me anytime on my Whatsapp, mail, call or anywhere we wish. 

Dan, Sobs, sungguh, persembahan dari Nabila ini bikin aku meleleh, speechless. Nab, I love you, wishing you all the best. My God Bless you where ever you are. Aamiin.

Coba, deh, Sobs, lihat persembahan darinya ini..... gimana aku ga meleleh, coba? Sebuah lukisan wajahku, dibuat dari barisan untaian kata yang akhirnya membentuk sebuah wajah. Awesome, sangat! Thanks again, dear Nabila. *Bighug.

Catatan spesial,
My Resignation from Kedutaan Besar sebuah negara sahabat,
Al, Margonda Residence, 1 Oktober 2016


40 comments

Semoga yang terbaik ya Mba.
Sukses terus untuk kantor baru nya.

Reply

membaca ini aku juga kepingin resign kaaak dan men pekerjaan yg dekat dgn keluarga saja. eh tunggu dua bulan lagi. semngat ya kak di tempat baru

Reply

sukses terus untuk kantor dan kehidupan barunya mbak :D
good things came for those who were patience enough to wait.

Reply

Perpisahan selalu menyisipkan rasa sedih, tapi itu hanya sementara karena kita cuma butuh terbiasa. Selamat bekerja di bidang baru Mbak Al, sukses selalu :*

Reply

Kdg rasanya berat ya mba, kalo uda nyaman di satu kantor? He he smoga sukses di tmpt baru ya mba,,

Reply

Wah,,, mengharukan kak Alaika,,, apapun itu keputusan yg kk ambil, psti yg terbaik. Dekat dengan orang tua, dan membahagiakannya, dapat membuka keran rezeki seperti kta Mas Ippho. Semoga Ayahnya selalu sehat ya kak,,,

Reply

Sukses untuk pekerjaan barunya kak al, moga ayahnya sehat selalu

Reply

Mba Al, smoga semangat dna makin sukses bekerja di kantor baru ya. Pasti bekerja jadi lebih tenang setelah berdekatan dengan orangtua ya mba. Sehat selaluuu

Reply

Semoga semakin sukses yaaa mbak Alaika dan welcome back ke Bandung

Reply

Sukses, mbak, dengan pekerjaan harinya.

Reply

Ya Allah.. Aku terharu sekali membacanya.. Aku seolah ikut terhanyut dlm situasi dan merasakan apa yg dialami mba Al.. Btw, inilah bentuk kedahsyatan suatu networking..berbuah manis.. Semoga di tempat yg baru mba Al juga sukses ya..

Reply

Rejeki nya selalu ads kalau ingat orangtua yaa, mba Al.

*semoga Allah melindungi keluarga mba Al selalu.
Aamiin.

Reply

Aamiin. Makasih supportnya, Dessy sayang. Doa terbaik juha untukmu sekeluarga, yaa. Aamiin.

Reply

Suamiku sering bilang 'Ada berkah dari berbakti kepada orang tua' ada aja rejeki kalau kita menyenangkan mereka. Semoga ayah dan ibu kak Al sehat terus ya kak. Semoga pekerjaan baru di Bandung membuta kak Al lebih bersinar... Sukses juga untuk kuliah Intan...

Reply

Semoa Allah selalu memberikan yang terbaik utk Mba Alaika & keluarga, aamiin. Semoga Mba Alaika & keluarga juga selalu berbahagia ya.. ^_^.
Utk Nabila, yang semangat. Nabila sudah belajar, tinggal terapkan ilmunya dan belajar lagi. Selalu optimis, jadi gelas kosong di lingkungan baru, loyal & seluruh kata-kata positif yang Nabila berikan ke Mba Alaika ^_^. Titip pesen ini ya Mba, hehehe.

Reply

Terharu cut kak, insyaallah dengan berbakti kepada orang tua Allah bukanman pintu rejeki untuk kk. Semoga mamak dan bapak sehat terus ya kak.

Reply

Semoga selalu dimudahkan jalannya ya, Mbak. Apapun jalan yang Mbak Al pilih. Aamiin.

Reply

Syafahullah Ayahanda Mba Al..
Mba Al kereeen, salut dengan keputusannya. Ga semua anak bisa berlaku sama spt yg Mba Al lakukan *Peluk Mba Al :)

Reply

Ihan sudah pernah merasakan 'kebahagiaan' merawat ibu yang sakit, rasanya memang 'nikmat' sekali kak, ada kepuasan tersendiri bisa merawat danmembahagiakan orang tuanya, slut sama kakak, saat banyak orang meninggalkan orang tuanya untuk sebuah pekerjaan, kakak malah meninggalkannya, insya Allah ridha orang tua adalah pembuka pintu rejeki paling mustajab :-)

Reply

Semoga sukses ditempat barunya mba dan berkah untuk semua keluarga

Reply

Semoga ada rezeki lain di tempat baru ya mbak :)

Reply

Good luck ya mbak di tempat yg baru

Reply

Ketika yakin utk mendampingi ayah ibu, disitu pintu rejeki makin terbuka yaa mba Al :) moga Allah angkat penyakitnya ayah mba Al.. sukses yaa mba
Bgs bgt kenang2annya..

Reply

Sukses buat pekerjaan barunya ya mba :) Jadi pengen ke Bandung nih, belum pernah ke sana. Sepertinya cocok buat refreshing.

Reply

sama dengan aku kak Al, suka kepikiran dengan ayah dan mamak di medan yang cuma tinggal berduaan, meskipun adik2 tinggal di daerah yang sama tapi pingin rasanya menjaga mereka :(

Reply

Ada saatnya untuk memulai dan ada saatnya untuk mengakhiri apapum.

All the best, kak Alaika.
^^

Reply

Belum pernah kerja kantoran, apalagi resign. Hehehehe..
Semoga sukses di tempat yang baru y mbak Al :)

Reply

Untuk niat yang baik akan selalu ada jalan yang terbaik ya, Mbak. Niat untuk berbakti kepada orang tua,memudahkan Mbak Al mendapatkan pekerjaan baru yang bisa dekat dengan orang tua.
Asiiik, deh, Mbak Al pindah ke Bandung. Mudah-mudahan suatu saat nanti kita bisa ketemuan kalo saya mudik ke Bandung, ya...

Reply

selamat buat kerjaan barunya.., semoga sukses
dan ayah ibu tetap sehat ya

Reply

Yaampun mbak Al aku baca ini di kereta berkaca kaca :’-( memang ya yg namanua perpisahan itu pasti bangey ada sesihnya. Tapi kalau memang untuk kebaikan dan kebahagiaan baru kita harus survive.

Salut sama mbak alaika baik bgt sama mama papanya. Nengok ke diri sendiri kok kayanya akuUbandel banget yah apa apanya maunya sesuai mauku huhu
*maap curcol*

Sukses di tempat barunya Mbak Al, good luck:D

Reply

Kalo kita lakuin karena semata ayah dan ibu dan juga karena anak lillahita'ala, pasti dimudahkan banget jalannya ya mi. Alhamdulillah. Semoga berkah di tempat kerja yang baru.

Dan lagi buat Nabila yang sabar yaaa, masih bisa call-callan sama umi kok meski ga seintens dulu. :)

Reply

selamat melangkah di jalan baru Mbak.

Reply

Alhamdulillah ya mbak Alaika, rejeki gak ke mana asal terus berusaha dan berdoa. Selalu terbuka kesempatan mendapatkan pekerjaan.

Reply

puji Tuhan dikasih jalan ya mba, ikutan seneng baca nya sekaligus ngerasain sedihnya farewell. semoga ayahnya juga semakin membaik keadaannya. amin.

Reply

Salut!It is the best way lho Mb Al. Based on my experienced ;)

Reply

Semoga sukses dalam pekerjaan selanjutnya

Reply

Semangat terus mbak, semoga sukses terus.. Amiin..

Reply

semangat mbak, rejeki tidak hanya ada di kantor.

Reply

Mbak, giftnya kereeeennn banget.
Sukses di tempat yg baru Mbak Al.;)

Resign itu slalunya mengharu biru ya Mbak.

Moga Ibu Ayah serta Mbak Al juga sehat slalu, Aamiin :)

Reply