Saatnya Konflik dan Kerentanan menjadi Sorotan | My Virtual Corner
Menu
/
Agenda Pembangunan Setelah 2015
Tentu Sobats sudah tidak asing lagi dengan istilah MDGs alias Millenium Development Goals. Hayo tunjuk tangan bagi yang belum pernah mendengar atau malah tidak ngeh sama sekali. Oops, banyak juga ternyata yang tunjuk tangan yaaa? J

Ok, sebelum lanjut ke ulasan sesuai dengan judul postingan, mungkin terlebih dahulu kita coba intip dan refresh kembali pikiran kita tentang si MDGs yuk Sobs.

MDGs adalah delapan butir Tujuan Pembangunan Milenium [Millenium Development Goals] yang merupakan hasil kesepakatan bersama antara 189 negara anggota PBB termasuk Indonesia, yang dilaksanakan di New York, pada September 2000.
8 butir Tujuan Pembangunan Milenium [MDGs]
Secara global, agenda Pembangunan Milenium (MDGs) telah memberi dampak yang besar bagi kehidupan banyak orang, sejak diadopsi oleh seluruh negara anggota PBB pada tahun 2000. Progres yang signifikan telah berjalan dalam mencapai tujuan-tujuan tersebut. Sebagian dari pencapaian global tersebut antara lain: kemiskinan semakin berkurang, akses terhadap air minum telah meluas, 40 juta anak-anak dapat belajar di sekolah, dan 8 juta orang telah menerima perawatan HIV yang menyelamatkan jiwa. Namun demikian, progres tersebut tidak merata dan masih banyak yang harus dilakukan untuk mengatasi kemiskinan, berbagai penyakit, krisis dan konflik lingkungan, serta kekerasan dan bencana. 

Dan seiring dengan akan berakhirnya Millennium Development Goals, masyarakat dunia dipimpin Perserikatan Bangsa-Bangsa kini sedang dalam proses mengembangkan Kerangka Acuan Kerja untuk periode setelah 2015. Proses ini berbeda dari berbagai proses sebelumnya: Kerangka Acuan Pembangunan Pasca-2015 harus diciptakan melalui proses yang benar-benar terbuka dan termasuk dengan menempatkan manusia di urutan pertama.

Beberapa evaluasi juga telah dilaksanakan untuk meninjau sejauh mana capaian dari program-program tersebut. Seperti yang telah dilaksanakan pada tahun 2010, PBB mengadakan Sidang Umum Ke‐65 mengenai 10 tahun pencapaian MDGs. Sidang menghasilkan resolusi berjudul “Keeping the Promise: united to achieve the Millenium Development Goals” yang laporan detailnya dapat dilihat disini.

Sementara itu, Presiden Republik Indonesia, bersama dengan Presiden Republik Liberia dan Perdana Menteri Inggris, telah ditunjuk oleh Sekretaris Jenderal PBB sebagai co-chair dari sebuah panel tingkat tinggi [HLPEP : High-Level Panel of Eminent Persons on Post-2015 Development Agenda] yang bertanggung jawab untuk mengonsolidasikan pemikiran-pemikiran dari masyarakat sipil dan berbagai ahli di seluruh dunia dalam menyusun Agenda Pembangunan Pasca 2015. 


Courtessy: BRR Institute
Courtessy: BRR Institute

Lalu, apakah tugas dari ke 27 orang-orang 'pinter' ini? 

Tugas mereka adalah mempersiapkan dan menyampaikan rekomendasi kepada Sekjen PBB untuk Agenda Pembangunan Pasca-2015. 

Bagaimana cara memperoleh rekomendasi-rekomendasi tersebut?

PBB di Indonesia melaksanakan berbagai konsultasi untuk menambah upaya agar suara-suara orang Indonesia dapat didengar. Salah satunya adalah dengan 'menggandeng' BRR Institute yang diketuai oleh Bapak Kuntoro Mangkusubroto, mantan Kepala Badan Pelaksana Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh dan Nias, untuk memfasilitasi terselenggaranya sebuah konsultasi tematik yang melibatkan institusi pemerintah, lembaga pembangunan internasional, PBB, organisasi masyarakat sipil, akademisi, lembaga riset serta sektor swasta. Harapannya, kegiatan ini akan menghasilkan rekomendasi yang bisa disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia kepada HLPEP sehingga pembangunan berkelanjutan, penanganan bencana, dan adaptasi terhadap perubahan iklim menjadi visi dan agenda pembangunan dunia pasca 2015.

Adapun tema dari agenda ini adalah "Konsultasi Tematik Mengenai Konflik dan Kerentanan: Praktik-Praktik Terbaik dan Pembelajaran untuk Agenda Pembangunan Pasca 2015" dan telah berlangsung dengan sukses pada hari ini, 13 Maret 2013, di Royal Kuningan Hotel, Jakarta.


Kegiatan selama satu hari tadi dimulai dengan diskusi panel bertemakan Capaian Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs), Kekurangan dan Langkah Kedepan bagi Kebencanaan, Kerentanan dan Konflik dalam Kerangka Pembangunan Pasca 2015. Forum kemudian dibagi kepada tiga kelompok, masing-masing yang mendiskusikan:

A. Pengurangan Risiko Bencana dan Manajemen Risiko Bencana
difasilitasi oleh Bapak Gegar Prasetyo dengan asisten merangkap notulen oleh Alaika Abdullah
  • Bencana-bencana alam
  • Koordinasi penanggulangan bencana dan kemitraan yang luas
  • Persinggungan antara bencana dan konflik di Indonesia
  • Kebijakan terkait bencana, konflik dan kerentanan
B. Aspek-Aspek Ekonomi
Difasilitasi oleh Bapak Kevin Evans [yang sangat lancar berbahasa Indonesia 
Asisten+Notulensi oleh Keke P
  • Manajemen sumber daya alam
  • Kerentanan ekonomi
  • Perangkap kemiskinan
  • Konflik seputar sumber daya alam, kelangkaan sumber daya dan kerentanan ekonomi
    C. Aspek-Aspek Sosial
    Difasilitasi oleh Bapak Juanda, asinsten+notulensi oleh Eva F.
    • Kohesi sosial/masyarakat
    • Konflik suku dan kerentanan
    • Konflik agama dan kerentanan 
    Dan Alhamdulillah, kegiatan ini telah berlangsung dengan gemilang, menghasilkan input-input positif yang akan segera disampaikan kepada Bapak SBY untuk dibawa ke dalam forum pembahasan pada pertemuan tingkat tinggi nanti di Bali, tanggal 25-27 Maret 2013.

    Yah, walaupun tidak semua butir input yang dihasilkan tadi dapat gol [diterima] dalam kancah global [international], setidaknya dapat menjadi rujukan bagi program pembangunan Indonesia pada masa yang akan datang. Apalagi menilik bahwa Indonesia, sebagai sebuah negara yang memiliki keragaman luar biasa, dengan posisi geografis yang unik, yaitu merupakan daerah rawan gempa karena dilalui oleh jalur pertemuan lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik serta berada di jalur Pacific Ring of Fire. Tentu saja menjadikan isu konflik dan kerentanan menjadi suatu hal yang patut menjadi sorotan. Karena Konfllik dan kerentanan terkait dengan berbagai faktor dan ditandai oleh hubungan yang kompleks antara lingkungan dan manusia. Ini adalah alasan lain mengapa keterlibatan pemangku kepentingan dari berbagai sektor menjadi sangat penting. 

    Al, Bandung, 13 Maret 2013



    30 comments

    jadi tahu perkembangan global dari sini juga Mba Al. Mantabh.
    Untuk Indonesia sendiri, semoga pencapaian MDG bisa dirasakan secara merata ya Mba

    Reply

    Aku tiap hari denger kata MDGs... dosenku selalu ngomongin @.@
    Ada banyak yang belum bisa dicapai Indonesia...
    Workshopnya kayak menarik mbak @.@

    Reply

    baru hari ini denger istilah MDGs ini mbak.
    dan setelah membaca artikel ini ternyata baru sedikit tentang MDGs ini.
    btw, yg paling salut ternyata mbak juga merupakan bagian dari suara yang ikut terjun dalam perekomendasian agenda pembangunan di 2015. mantap deh!

    Reply

    semua istilah yang Mbak Al tulis asing buatku mbak. Tematik sih buku paketnya Pascal disekolah mbak :) eh beda ya ini

    Reply

    Kayaknya emang masih banyak yang belum tercapai 2015 nanti, terutama kemiskinan. Kalo nggak salah kan menurunkan tingkat kemiskinan sampai setengahnya *udah lupa*

    Reply

    Baru tau MDGs disini Mba..
    Keren dech !!

    Reply

    Mbak Al hadir di acara itu sebagai apa? Salah satu pembicara kah?

    Reply

    mbak lika salah satu crew nya ya ... keren dah mbak al ini

    Reply

    Ooo.. jadi ini yang menyibukkanmu di Jakarta kemaren... #manggut-manggut...

    Reply

    menggunakan bahasa wong ndeso ya bu; terus saya sebagai wong ndeso ini nanti kecipratan apanya ya bu dari MDGs ini?

    but btw, info baru ini tambahan wawasan bagi saya...

    Reply

    Aamiin Dan... dan memang, belum sepenuhnya tercapai, spt yang kita lihat dan dengar sendirikan? bencana, kemiskinan, kesehatan dan berbagai indikator lainnya, masih banyak juga yang belum sepenuhnya tercapai. Tapi itu wajar sih, yang perlu difikirkan adalah evaluasi dan penentapan rencana selanjutnya untuk improvisasi dalam rangka mencapai goals tsb, ya kan?

    Makasih atas kunjungannya Dan. :)

    Reply

    Yup, menarik banget Na, apalagi group discussionnya menarik banget. Topik yang aku kawal, group Disaster Risk Reduction, yang paling berat 'isi'nya, untung aku dampingi facilitator yang memang mumpuni di bidangnya. Alhamdulillah, berjalan lancar dan hasilkan banyak rekomendasi. Great. :) Ingin undang kamu juga tuh kemarin Na... makanya aku WA.

    Reply

    Oya? Jadi baru dengar toh bung? Mudah-mudahan nanti bisa baca2 infonya di artikel dan website lainnya yang lebih lengkap tentang itu ya bung.

    Kebetulan aku diminta oleh BRR Institute untuk bantu support acara, ya jadi asisten fasilitator sekaligus jadi notulennya gitu, jadi lebih banyak tau dan involved deh di dalam kegiatan ini. Dan bahagia rasanya menjadi bagian dari orang-orang yang ikut dalam proses pengumpulan input-input ini. :)

    Reply

    hehe, beda jauh ya mba dengan isi buku2nya Pascal. Hihi

    Reply

    Iya Mil, banyak yang belum dicapai, untuk laporan detil tentang hasil capaian bisa dililhat di link yang aku berikan dalam postingan tadi tuh. :)

    Reply

    Keren mbak...ditunggu langkah-langkah kongkritnya :)

    Reply

    Hehe, semoga menjadi informasi yang berguna ya Nchie! :)

    Reply

    Ga lah mba Ren, aku hanya bantu asistensi dan jadi notulensi untuk salah satu fasilitator aja kok. Ini discussion group, jd ga ada pembicaranya. Langsung bagi group dan mulai diskusinya. :)

    Reply

    Iya, salah satu asisten untuk fasilator kelompok/group sekaligus merangkap notulensi. :) Makasih Deby.

    Reply

    Silahkan aja dibaca inserted link yang saya sertakan di dalam postingan tadi mas/mba... dan informasi tambahan juga bisa didapatkan dari artikel2 terkait yang bertebaran di google mas/mba. :)

    Reply

    Makasih mba Rina, yuk kita tunggu saja agar suara-suara dari Indonesia akan didengarkan oleh bangsa-bangsa lainnya dalam pertemuan tingkat tinggi di Bali nanti ya...

    Reply

    keren banget nih acara yang diikutin.. hebat sekali dirimu.. semoga nih di tahun 2015, Indonesia bisa benar benar mewujudkan MDG. Jangan cuma terpilih jadi pemimpin karena memang menjadi object sebagai negara yang perlu ditolong.

    Ternyata dirimu di Jakarta kemarin toh...

    Reply

    Wah keren banget mak. two thumbs up deh

    Reply

    Sampai sekarang juga masih di Jakarta nih mas Rom. Untuk bisa mewujudkan MDGs ini, tentu Pemerintah SAJA tak akan mampu mewujudkannya mas, PERLU campur tangan alias KERJASAMA semua pihak, ya private sectornya, organisasi nirlabanya, ya komunitas berbasis masyarakat dan segala unsur terkait lainnya lah, barulah kita akan dapat mencapainya, itu pun tentu tidak mudah, apalagi banyak sekali kendala yang ditemukan dalam mengimplementasikan program-programnya kan?

    Indonesia terpilih sebagai salah satu Co-chair, aku yakin bukan karena negara kita adalah negara yang akan menjadi object untuk ditolong kok, karena kesepakatan ini kan disepakati oleh 189 negara anggota PBB mas. Jadi bukan masalah ditolong atau menolong, karena setiap negara berkewajiban untuk mencapai ke 8 goal itu bagi negaranya masing-masing. :)

    Reply

    Info yang saya cari dari kemarin2 Mak, terimakasih atas sharingnya....:)

    Reply

    semoga bermanfaat ya mba Orin.. :)

    Reply

    gue adalah satu dari yang tunjuk tangan! karna gue bener-bener gak ngeh..
    dan moga setelah ngebaca ini, gue jadi ngerti.
    aamiin...

    komen lebih lanjut, setelah gue bener-bener paham ea al... :)

    Reply

    uwahhh,,,yang nggak tau beginian jadi tau hehehe.....

    Reply