Suatu Sore di Lagundry | My Virtual Corner
Menu
/
Bekerja sebagai pekerja kemanusiaan memang menghadirkan warna tersendiri. Selain akses yang terbuka lebar dalam membantu sesama, juga kita memperoleh side benefit yang begitu menguntungkan. Berkesempatan menambah wawasan sudah pasti, berpeluang untuk melihat dunia yang lebih luas, juga terbuka lebar. Yang paling membahagiakan lagi adalah, side benefit dari perjalanan ke suatu wilayah atau lokasi terpencil!

Tak banyak orang yang berkeinginan untuk traveling to rural area atau pelosok, yang bukan kampung halamannya, dengan menggunakan uang pribadi. Ya iyalah, daripada menggunakan uang pribadi untuk beli tiket dan akomodasi di daerah terpencil yang kita sendiri baru mengetahuinya dari peta, kan mending menggunakannya untuk jalan-jalan dengan keluarga ke tempat yang menyenangkan, ya kan sobs?

Aku juga berfikiran serupa sobs, sayang aja mengeluarkan kocek untuk beli tiket pesawat, yang harganya sama dengan perjalanan ke kota lain, untuk terbang ke sebuah pulau terpencil misalnya. Tapi bukan berarti ga punya keinginan untuk bisa berkunjung kesana lho sobs. Ingin sih, misalnya saja ke Nias. Pernah tau dimana Nias itu? Dia adalah sebuah pulau terpencil, milik Sumatera Utara, namun letaknya di luar pulau/daratan induk. Boleh lihat di peta deh sobs.

Dan ke pulau yang kabarnya begitu kuat aura mistis nya ini lah aku dan beberapa kolega berkesempatan menjejakkan kaki dan berinteraksi dengan masyarakat di dalamnya. Pulau ini sungguh sebuah mutiara yang terselubung sobs. Terisolasi demikian lama, membuat pulau indah ini terpendam, tak banyak dilirik orang, dan menjadi penyandang status termiskin di provinsi Sumatera Utara, kala itu.

Hingga kemudian gempa dasyat di bulan Maret 2005, membuka isolasi ini, dan membuat mata dunia nanar dan pilu menatapnya. Dan Alhamdulillah, aku berkesempatan untuk menginjakkan kaki ke pulau ini, walau pada masa-masa sulit. Aku dan team mewakili Northwest Medical Team melakukan need assessment untuk perencanaan project community health yang akan diimplementasikan di pulau ini. Alhamdulillah. Sungguh sebuah kesempatan emas bagiku dan Ratna, temanku. Karena bertualang di pulau ini tak pernah terfikirkan apalagi masuk dalam agenda yang ingin kami lakoni, dengan biaya pribadi. :) Habis mahal sih sobs, tiket pesawatnya itu, Medan - Gunung Sitoli, sama dengan harga tiket Medan - Jakarta. Pilih mana sobs? Mending ke Jakarta kan? hihi.

Well sobs, postingan sore ini sebenarnya ga ingin ngebahas panjang lebar tentang hal-hal serius seputar pekerjaan humanitarian yang aku geluti, karena sungguh, bekerja di bidang ini, walau sebenarnya berat, tapi tetap bikin happy.. :). Ada saja nilai tambah yang bikin hati damai dan bahagia...

Seperti saat-saat indah yang ada di foto ini nih sobs. Coba tebak kami lagi ngapain nih?



ini dulunya pantai, tepat di belakang hotel Sorake, tapi tsunami kemudian membuat air laut semakin surut dan menjauh, jadilah sebuah pantai coral yang indah tapi tajam untuk kaki, jika kita tidak berhati-hati melaluinya.



Seru banget lho sobs, rasanya gimanaaaa gitu bermain-main di pantai koral yang indah seperti ini...serasa berada di sebuah dunia lain, bebas... lepas dan bahagia.
Nombak apaan sih Al? Hehe... pura-pura aja itu sobs, biar gayaaa... 


Nah, kalo yang ini beneran, sedang penasaran dengan binatang2 (keong) kecil yang sedang berendam di dalam celah-celah koral.



Matahari hendak terbenam, yuk balik ke hotel...


Dan sobs, rasanya fresh banget lho, hilang sudah kepenatan akibat seharian beraktifitas di lapangan. Melakukan need assessment di pelosok desa, yang begitu sulit ditempuh, hingga terpaksa meninggalkan kendaraan kami di jalan raya, dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. 
Rileks dengan cara ini, ternyata indah banget, sayangnya, ga bisa selalu dilakukan. :)


Dan malamnya, setelah makan malam, kami mereview sejenak pekerjaan hari ini, lalu pergi tidur. Hm, indahnya, tapi ga langsung tidur lho sobs. Masing-masing masih sempat nonton DVD di laptop masing-masing. Indahnya.

Dan, inilah hotel Sorake tempat kami menginap itu sobs. Bangunannya unik, indah dan mengesankan. 


Tulisan ini tercipta akibat buka-buka file foto di album Northwest Medical Team International, tempat pertama aku berubah haluan, dari seorang quality engineer menjadi seorang humanitarian worker. I learn a lots from this International Medical NGO. Thanks for the opportunity Northwest!

Kangen, adalah sebuah rasa, yang bisa muncul secara tiba-tiba, tanpa kita duga sama sekali, dan target kangen, tidak harus pada seseorang atau sesuatu yang sangat special, tapi bisa pada sebuah moment apa saja. 

Have a great night sobs! Kangen deh sama kalian.... :)

Saleum,
Alaika
Bandung, 17 Oct 2012




33 comments

AKu kangen Mbak Al..kangen chat confrn lagiiii...

Eh, itu Mbak AL yg pakai kain kuning ya...mirip sama turisnya ya...

Mbak, tuh pantainya menjauhdr daratan setelah tsunami? berarti di dasar laut terjadi celah elbar sehingga air lautnya tersedit ke celah [palung] baru yg terjadi setelah tsunami 2005 itu ya? #penasaran soale kenapa air lautnya jd surut setelah tsunami

Reply

deuhh, kok tulisanku bnyk ygs alah keti sih..#efek ngantuk semalam kurang tdr

Reply

Aku jg kangen Rie.... dah lama banget kit ga confrc chat yaaa?
Yuk...tp yg lain jg kyknya pd sbk ya?

Aku juga heran dg fenomena in Rie, jika di Aceh, tsunami membuat daratan di'lahap' oleh lautan, di NiS Selatan, khususnya pantai Lagndry dan Sorake ini, kok sebaliknya ya?

Ga punya teori pasti ttg hal ini Rie, but logikamu make sense! :)

Haaa, pasti ngetikmu buru2 ya' mknya salah... hihi

Reply

wah pemandangannya jadi pengen banget ke sana :)

Reply

yuuuhh bantir setir buu?
tapi baguslah, dengan begitu rasa manusianya bisa tersalur ke aku >,<.

Alhadmulillah, kelihatannya disana masih seger seger yah udaranya..
Fotonya bagus bagus, gimana kalau aku juga akan foto disana ya, indah banget pasti

Reply

Nias memanv indah mba, banget,,,, :)

Reply

Hm... banting srirnya mah sudah lama mas, awal tsunami udh alif profesi kok... :)

Ayo agendakan untuk kunjungi pulau indah ini kalo begitu mas...:)

Reply

jadi pekerja sosial malah asik kok. apalagi yg dapat gaji
aku saja tiap merapi meletus dibelain keluar kerja
ada keindahan tersendiri yang susah diungkapkan saat bersama pengungsi

Reply

Aku juga kangen deh
Ketika kita lama banget hidup di kota maka kesempatan untuk berada di sebuah alam lain sangat nmenyenangkan karena keadaan seringkali berbeda dengan kehidupan kita sehari-hari.
Kesederhanaan,keluguan, keramah-tamahan serta gotong royong yang masih subur di pedesaan menjadi sesuatu yang membahagiakan.
Terima kasih artikelnya yang menarik

Salam hangat dari Surabaya

Reply

Sangat asyik sekali kelihatanya ya? Dan suasananya seperti di persawahan yg alami

Reply

difoto mbak Al lagi pegang tombak kirain lagi nangkap ikan pakai tombak mbak :) bersyukur banget ya mbak Alaika bisa sering jalan2 kedaerah seperti itu. Nama Nias paling aku dapat dari pelajaran sekolah saja dulu

Reply

mbak al di ngo juga toh kayak mbak mae yaa :D

Eeh itu pantainya kok landai banet yaa bisa keliatan batu2an kecil2 gitu mbak, keren banget serasa pulau milik sendiri :D

Reply

aku juga pengen mba keliling indonesia samapai ke pelosok dan pulau terpencil, nabung dulu, tapi kalo ada yg ngajak grtaisan dengan senang hati :D

Reply

Bener banget mas Rawin, apalagi jika bergaji yaaa? itu mah bukan lagi asyik, tapi beruntung sekali.... :)

yup, ada kebahagiaan tersendiri kala kita berbaur dan mengulurkan tangan untuk membantu..

Reply

Sama2 Pakdhe.

Terkadang, kita memang sangat membutuhkan 'dunia lain' itu, apalagi setelah penat berjibaku dengan kehidupan yang penuh hiruk pikuk di kota besar ya dhe?

Berada di sebuah pelosok, dengan kesederhanaan, keluguan dan keramahtamahan mereka, adalah hal ajaib yang sukses menuai bahagia...

trims atas kunjungannya pakdhe. :)

Reply

iya, asyik banget. Tapi ini bukan sawah lho, tapi pantai koral... hehe

Reply

Hehe... itu hanya acting mba Lid... soalnya ikannya kecil-kecil banget, ga bisa ditombak. hihi
Alhamdulillah Allah memberiku kesempatan untuk bisa jalan-jalan ke beberapa pelosok mba... indah dan mengharukan. :)

Reply

Iya Niar, awalnya dari NGO, baru pindah ke UN sesudahnya.

Pantai koral itu Niar... jadi memang beralaskan bebatuan karang gitu deh... indah banget, dan saking sepinya [karena dibelakang hotel], jadi kayak milik kami sendiri deh. hihi

Reply

Semoga terwujud apa yang dicita2kan ya Rahmi... tapi kalo bisa mah, gratis yaaaa? hihi

Reply

wah asyiknya
pengalaman yg tak terlupakan jadinya ya mbak :)

Reply

Pergi ke daerah pelosok, pakai biaya sendiri pula. Salut sama mbak Al :)

Reply

wah hebat kegiatannya... cita cita saya yang belum kesampaian tuh.... hiks.. semoga suatu hari nanti...

salam.

Reply

waah..kegiatannya menarik ya mbak..ga monoton n bikin bosen.. semoga diberi kesehatan & kekuatan utk bs terus berbagi dan menolong sesama mbak...

Reply

Pantai koralnya emang dahsyat Mba Al. BAguuus...

Kberuntungan berkungjung ke daerah ini adalah salah satu balasan dari Dia Mbak ya untuk membantu meringankan beban sodara kita yang lain.. :)

Reply

Lagundri sekarang malah uda keren loh kak..
Tahun lalu ksana ga kayak gini -____-

Sayangnya disana semua mahal :(

Reply

Bukan pk biaya sendiri lho mba, tugas dr kantor kok.... jd sambil menyelam minum air lah...hehe

Reply

Semoga diberi waktu dan kesempatan utk mewujudkan cita2 ini ya mas... :)

Reply

Alhamdulillah mba.... asyik dan bener2 bikin pikiran fresh...hehe
Amin...mkasih atas doanya ya mba...:)

Reply

Yes Dan...ini salah satu bonus bekerja di bidang ini....:)

Reply

Oya? Syukur deh kalo udh jauh lbh keren.... ini pantai koralnya yg di belakang sorake hotel Han... apa kbrnya hotel itu skrg ya?

Reply

Aku suka banget pergi ke tempat sepi seperti ini Mbak Al..Apa lagi bersama rombongan dan tiketnya gak perlu bayar hahaha..Senang banget. Terus itu fotomu yg sedang menombak, seksi sekali..Aku sukaaaaa..banget pada gayanya :)

Reply

Wah,,,,, Mba, coba nombaknya benar ada ikannya. terus dibakar. Biar tambah seru. He,,,,,x9

Salam Wisata

Reply