Pocut Meurah Intan: Kartini lain sebelum Kartini | My Virtual Corner
Menu
/
credit
Raut wajah wanita cantik itu terlihat garang. Air mukanya memendam dendam dan angkara murka. Tegas dia meminta kepada tuan qadhi untuk mem-fasakh [memutuskan] ikatan perkawinannya dengan tuanku Abdul Madjid, yang telah menyerah kepada kompeni Belanda. Sirna sudah rasa cinta yang menumpuk di dada, lenyap sudah rasa hormat terhadap sang suami yang selama ini begitu dia sanjung dan puja. Yang telah bersama-sama berjuang mempertahankan tanah tumpah darah dari jajahan kompeni Belanda. Berang dan kecewa rasa hatinya tak terkira, menyaksikan sang suami takluk dan bertekuk lutut pada penjajah kafe [kafir] Ulanda [sebutan untuk Belanda dalam bahasa Aceh]. Usai sudah perkawinannya, dan secara psikologis, kini dirinya hanya bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan bebas untuk menentukan langkah kehidupannya. Tak harus tunduk apalagi patuh pada seorang pengkhianat negeri.

Satu pesan ayahandanya yang begitu melekat di hatinya adalah, bahwa seorang muslim WAJIB berjuang mempertahankan negeri dan agamanya dari tindasan penjajah, hingga ke tetes darah penghabisan. JANGAN PERNAH MENYERAH, JANGAN PERNAH TAKUT. Dan itulah yang akan diteruskannya, walau tak lagi ada teman setia [sang suami] yang menjadi mitra. Perang ini harus dilanjutkan, Islam harus ditegakkan dan kemerdekaan negeri ini harus tetap dipertahankan. Maka bersama ketiga putranya, dibantu seorang kepercayaan [tangan kanannya] bernama Pang Mahmud, wanita perkasa itu melanjutkan perjuangan.

Pocut Meurah Intan, begitu wanita ini dikenal, memang bukan wanita biasa. Darah biru yang mengalir kental di dalam tubuhnya adalah titisan sang ayah, Teuku Meurah Intan,  seorang hulubalang negeri Biheue [suatu daerah yang terletak antara Sigli dan Padang Tiji], yang telah menanamkan nilai-nilai agamis dan kecintaan terhadap tanah air pada putri jelitanya, Pocut Meurah Intan, yang lahir pada tahun 1873, di desa Lam Padang, mukim VI, Laweung, Pidie.

Patahnya semangat dan takluknya sang mantan suami pada Belanda, adalah pemicu meningkatnya kebencian dirinya terhadap kafe Ulanda. Apalagi saat itu situasi  perang Aceh, memang sedang memasuki masa-masa sulit, masa-masa kritis yang terkadang mampu melemahkan jiwa. Terlebih dengan mangkatnya Sultan Alaidin Mahmud Syah dalam perang 'kuman' dan digantikan oleh Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah yang masih berusia 10 tahun, sehingga pemerintahan harian terpaksa didelegasikan kepada tuanku Hasyim Banta Muda.

Peperangan  semakin dasyat, kekuatan Belanda semakin berlipat akibat didatangkannya tambahan pasukan Belanda dari Betawi [Jakarta]. Ibukota pemerintahan Aceh terpaksa ditarik ke Indrapuri, yang selanjutnya pindah ke Keumala Dalam. Keadaan semakin memanas dan para pejuang Aceh terpaksa melakukan berbagai manuver, mengubah perang frontal menjadi perang gerilya raksasa di seluruh Aceh, baik di daerah pesisir, pedalaman dan terutama di basis-basis pegunungan. Pertempuran terjadi hampir setiap saat, dan menimbulkan kerugian yang tidak terhitung jumlahnya, baik dalam segi materi maupun jiwa, dari kedua belah pihak.

Bersama para pengikutnya, didukung penuh oleh tiga putra tercinta yang gagah berani, yaitu tuanku Budiman, tuanku Muhammad dan tuanku Nurdin, serta Pang Mahmud sang tangan kanan, Pocut memimpin perjuangan untuk daerah Laweung dan Batee [Kabupaten Pidie sekarang]. Dalam bukunya berjudul Aceh, Zentgraaff menulis, bahwa wanita-wanita Aceh sangat gagah berani. Dikisahkan tentang suatu kejadian ketika pasukan Belanda mengepung sebuah kampung di Pidie, seorang suami tertembak dan rubuh dalam dekapan istrinya. Menyadari bahwa sang suami dalam dekapannya telah tak bernyawa, si wanita lalu mengambil rencong suaminya dan menyerbu brigade dan menyerang mereka, namun seorang marsose berhasil memukul tangannya hingga puntung. Bukannya menyerah, si wanita dengan tangan kirinya malah memungut rencong yang berlumuran darah itu dan kembali menyerang hingga dia sendiri tewas tertembus peluru marsose.

Kisah lain tentang keberanian para srikandi Aceh ini juga dituangkan Zengraaff dalam bukunya sebagai berikut;
sepasukan Belanda telah mengetahui bahwa ada sekelompok pejuang yang bersembunyi di sebuah rumah di Tangse. Lalu pasukan Belanda hendak menggerebek namun seorang wanita, istri si pemilik rumah dengan gagah berani menghadang marsose yang sedang menaiki tangga. Dengan lantang dia berseru, melarang para marsose memasuki rumahnya. Tentu saja marsose marah dan membentaknya, namun dengan lebih keras, dia balas membentak para kafe Ulanda, melarang mereka menginjakkan kaki dirumahnya. Tentu saja sikap ini semakin membuat para marsose naik pitam, dan memukul kaki wanita ini dengan popor senjatanya, hingga si wanita terjatuh. Barulah dia bergeser dan para marsose menyerbu ke dalam rumah. Adu mulut dalam tenggang waktu beberapa menit tadi tentu memberi kesempatan bagi para pejuang yang bersembunyi di dalam rumah untuk lari menyelamatkan diri, alhasil, para marsose pulang dengan tangan kosong.

Kisah lain yang tak kalah heroik adalah ketika Geldorp dan tiga pasukannya menyergap tempat persembunyian para pejuang yang terdiri dari 4 orang laki-laki beserta istri-istri mereka. Pertempuran yang tak berimbang itu menyebabkan para lelaki mati syahid dan menyisakan para wanita. Yang mengejutkan adalah, tindakan para wanita yang hendak mereka sandera itu sungguh diluar dugaan. Dengan sigap mereka mengambil senjata-senjata milik suami mereka dan mulai mengadakan perlawanan, menyerang pasukan marsose dengan membabi buta hingga ke empatnya mati syahid, menyusul sang suami.

Keberanian dan semangat baja nan pantang menyerah dalam diri Pocut dan pasukannya, mau tak mau membuat pasukan Belanda semakin kesulitan dalam menaklukkan daerah ini. Semakin digencet semakin liat. Pocut dan pasukannya semakin gencar melakukan aksinya, beberapa peperangan tak terhindarkan pun terjadi di Biheu, Laweung, Lam panah dan Lam Teuba. Belanda semakin gusar dan marah, hingga semakin gencar melakukan serangan-serangan untuk menghentikan aksi yang dipimpin Pocut. Belanda mulai mencatat bahwa Pocut tak dapat diremehkan. Wanita ini sungguh bernyali besar, cerdas dan tidak boleh dipandang sebelah mata. Wanita ini sungguh berbahaya dan harus diantisipasi dengan cermat, atau malah segera dibasmi sepak terjangnya.

Maka berbagai upaya pun dilakukan oleh pasukan Belanda untuk menghentikan sepak terjang Pocut dan pasukannya, hingga suatu hari, tepatnya pada awal November 1902, ketika pasukan Belanda yang dipimpin oleh Mayjen T. J Veltman sedang melakukan patroli di daerah basis gerilya, yaitu di daerah Laweung, Biheu, mereka menemukan seorang wanita yang dari tatapannya terlihat jelas memendam kebencian terhadap mereka. Pemeriksaan terhadap wanita ini pun dilakukan. Namun kala anggota pasukan mendekatinya, dan hendak memeriksanya, wanita ini diluar dugaan mencabut rencong yang terselip dibalik pakaiannya dan dengan segala upaya, menyerang mereka sembari berteriak penuh amarah.

"Kalo begitu, biarlah aku mati syahid!" Dan pertempuran 1 lawan 18 orang anggota Marsose itu pun pecah.

Pocut masih berdiri tangguh kala serdadu serdadu itu menebas senjata. Wanita itu masih berdiri kokoh seraya menghunus rencong kala pedang marsose menebas dan meninggalkan dua luka di kepalanya, serta dua luka di bahunya. Ia baru terjatuh ketika pedang tajam itu menghunus ke otot tumitnya hingga putus. Terjatuh, rubuh, di atas tanah yang masih basah oleh sisa hujan. Dengan dada yang berlubang, luka membujur di sekujur tubuh dan banyak kehilangan darah, bahkan salah satu urat di keningnya terputus! Terbaring di atas tanah berlumur lumpur dan darah, hingga salah seorang anggota marsose yang tak tega menyaksikan penderitaan Pocut, memohon ijin kepada Veltman agar diijinkan mengakhiri penderitaan Pocut dengan menembakkan peluru ke tubuhnya agar tewas.

Tentu saja Veltman tak menyetujui, dan memerintahkan pasukannya untuk berlalu, dan membiarkan Pocut terbaring untuk ditemukan oleh warga desa dan diberikan pertolongan. Di lubuk hatinya, Veltman dan pasukannya menyimpan rasa hormat dan takjub akan keberanian para wanita Aceh yang begitu heroik dan gagah berani. Suatu hal yang sangat jarang mereka saksikan di dunia ini, yang mungkin tidak akan ada pada wanita bangsa mereka sendiri.

Pocut ditemukan dan dirawat oleh para penduduk, dan walau masih dalam masa kritisnya, tetap bertekad untuk lanjutkan perjuangan. Tak hanya itu, Pocut juga telah menyusun rencana untuk menghabisi si pengkhianat negeri, musuh dalam selimut, yaitu penduduk desa yang telah menjadi mata-mata Belanda.

Sementara itu, Veltman yang kemudian mengetahui bahwa wanita yang bentrok dengan pasukannya itu adalah seorang pemimpin gerilya, berusaha mencari tau keberadaannya, dan hatinya sungguh terenyuh kala menyaksikan Pocut terbaring lemah, tak berdaya dengan kain kusam yang membalut luka-luka di tubuhnya. Yang lebih membuatnya terenyuh adalah, penduduk desa menggunakan kotoran sapi sebagai antibiotik alami demi menyembuhkan luka-luka Pocut. Sungguh mengiris hati, apalagi melihat wanita pemberani itu menggigil dan mengerang penuh kesakitan.

Terketuk hatinya, pemimpin pasukan Belanda yang fasih berbahasa Aceh ini berupaya keras membujuk Pocut agar bersedia diobati oleh dokter Belanda. Pocut menolak keras, tak sudi tubuhnya disentuh/diobati oleh tangan-tangan para kafe Ulanda. Namun akhirnya berkat bujukan Veltman, Pocut menyerah dan bersedia untuk diobati. Proses penyembuhan memakan waktu yang lama dan akhirnya walau pun sembuh, Pocut mengalami cacat fisik [pincang] pada kakinya.

Mendengar keberanian Pocut melawan pasukan Veltman seorang diri hanya dengan sebilah rencong, Komandan militer Scheuer memutuskan untuk mengunjungi dan bertemu Pocut, yang tentu saja didampingi oleh Veltman, yang juga bertindak sebagai penerjemah. Komandan Scheuer menaruh hormat kepada Pocut, tanpa dibuat-buat, murni dari lubuk hatinya. Setulus hati dia meminta Veltman untuk menyampaikan kepada Pocut, bahwa dirinya sangat kagum pada Pocut. Sikapnya ini memancing rasa apresiasi dari Pocut, membuat wanita itu mengangguk dan tersenyum padanya. Namun itu tak berarti bahwa Pocut akan menghentikan peperangan dalam rangka mempertahankan negerinya... Perang akan berlanjut dan para kafe Ulanda harus angkat kaki dari tanah rencong ini!

Perjuangan memang terus berlanjut, bumi Aceh terus bergolak karena para gerilyawan terus beraksi. Pocut masih belum sembuh total dan tetap dalam pengawasan Belanda. Perjuangan dilanjutkan oleh ketiga putranya serta Pang Mahmud yang setia. Sayangnya, pada bulan Februari 1900, Tuanku Muhammad Batee tertangkap, dan karena dianggap sangat berbahaya bagi keamanan penjajahan Belanda, maka pada tanggal 19 April 1900 beliau diasingkan ke Tondano, Sulawesi Utara dengan Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 25 pasar 47 R.R. Sementara dua putra Pocut yang lainnya diasingkan ke tanah Jawa.

Ketika sembuh dari sakitnya, Pocut masih melanjutkan perjuangan bahkan masih mampu memimpin pasukan, walau akhirnya berhasil ditangkap dan dijadikan tahanan Belanda, dan bersama putranya tuanku Budiman dimasukkan ke penjara Belanda, Kutaraja. Dalam waktu yang sama, tuanku Nurdin tetap melanjutkan perjuangan dan memimpin para pejuang di kawasan Laweung dan Kalee. Pada tanggal 18 Februari 1905, Belanda berhasil menangkap tuanku Nurdin di tempat persembunyiannya di Desa Lhok Kaju. Sebelumnya Belanda terlebih dahulu menangkap istri dari tuanku Nurdin sebagai taktik untuk membuat tuanku Nurdin menyerah, namun ternyata taktik ini tidak membawa hasil.

Kemudian, pada 6 Mei 1905, Pocut beserta kedua putranya yaitu tuanku Nurdin dan tuanku Budiman serta seorang saudaranya, tuanku Ibrahim diasingkan ke tanah Jawa, tepatnya di Blora, Jawa Tengah, berdasarkan Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda tanggal 6 Mei 1905, No. 24. . Dan sejak itu, perjuangan Pocut dan putra-putranya tak lagi menemukan kesempatan untuk berlanjut. Ketiganya hidup dalam pengasingan, dan kemudian Pocut Meurah Intan menghembuskan napas terakhirnya pada 19 September 1937, di pengasingan. Jauh dari tanah rencong, tanah tumpah darahnya tercinta.

Makamnya terletak di desa Temurejo, Blora, Jawa Tengah, dan pernah ada rencana dari Pemerintah Aceh untuk memindahkan makam Pocut ke tanah kelahirannya, namun amanah Pocut yang disampaikan pada salah seorang sahabatnya di Blora, yaitu RM Ngabehi Dono Muhammad, bahwa Pocut lebih senang bersemayam di Blora membuat rencana ini tak jadi dilanjutkan.

Walau…..


Tak banyak yang mengenalmu, tak ada lagu khusus untukmu, tak ada pujian indah acapkali diberikan padamu,namun…

perjuanganmu, keberanianmu, semangatmu dan keteguhanmu
adalah inspirasi bagiku

tak hanya itu, tak hanya aku.
bahkan musuhmu, si kaphe Ulanda
yang begitu membencimu, yang mencarimu, juga sangat mengagumimu!

Teurimong Geunaseh wahai Pocut
I do proud of you! Thank You!!

Referensi:

http://iloveaceh.blog.com/?p=251
http://id.wikipedia.org/wiki/Pocut_Meurah_Intan


67 comments

Saya baru tahu tentang tokoh Pocut. Bisa menambah khasanah tentang sejarah. Memang Aceh penuh dengan tokoh pahlawan.

Reply

pejuang wanita yang begitu luar biasa ya mbak. memperjuangkan aceh dengan sangat gigih dan berani.

selama ini saya hanya tahu cut nyak din ataupun cut meutia. ternyata ada pocut meurah intan. salut untuk para pejuang wanita dari Aceh yang pantang menyerah terhadap penjajah.

Reply

Waita cantik dan perkasa, memegang teguh sebuah prinsip walau harus mengorbankan apa yang telah dimilikinya.
Salut kepada beliau
Artikel yang menarik tentang seorang pejuang wanita da layak dibaca oleh generasi muda agar mereka tergugah hatinya untuk mencintai negaranya.
Terima kasih jeng
Salam hangat dari Surabaya

Reply

artikel yang sagat bermanfaat sekali....

Reply

hhuuhh .. napas dulu ... puanjang soalnya

tapi kenapa yang di kenal justru kartini ya mbak? bukankah perempuan yang di atas juga sudah berani? saya teringat ketika bu Mega bilang, sebenarnya di aceh itu banyak perempuan yang hebat, tapi seakan di tenggelamkan bangsanya sendiri, apa mungkin karena itu ya mbak? dan saya juga baru tau sekarang nama2 seperti pocut ini

Reply

belum pernah saya dengar sebelumnya tentang tokoh wanita ini. tidak ada dalam tulisan sejarah ataupun pelajaran sekolah dulu!. thank mbak, dapat pelajaran dan informasi baru nih akhirnya

Reply

Subhanallaah. Saya baru tahu tentang tokoh Pocut juga Mba Al. Luar biasa ya beliau. Dan merinding membaca keberanian srikandi-srikandi Aceh yang gagah berani.

Reply

heummm,baca artikel ini jadi tahu ternyata pahlawan pejuang wanita banyak juga...dan baru tahu yang satu ini Pocut :D

Reply

Sudah pernah dengar dan makin mengenalnya. Hatur nuhun informasinya, Mbak

Reply

Saya ndak kenal nama pahlawan wanita ini mbak Al, kayaknya waktu pelajaran sejarah tidak ada ya atau saya yang males hehe

Sekarang jadi tahu, ulasannya komplit pula :)

Reply

terharu ..dan berkaca2 baca ini ..wanita perkasa...
terima kasih ya..menyarikannya bagus banget Al

Reply

Begitulah adanya mas, sayangnya kepahlawanan mereka tenggelam dalam sejarah karena tak banyak usaha untuk mempopulerkannya...

Semoga tulisan ini mampu menambah wawasan kita semua ya mas... :)

Reply

Bener banget mba, sungguh gagah berani dan bertekad pantang menyerah. Semoga wanita2 Indonesia masa kini juga memiliki bekal semangat pantang menyerah dlm berjuang memenangkan pertarungan masa kini ya mba...

Ya, bukan hanya Cut Nyak Dhien dan Cut Meuthia, masih ada pocut2 lainnya yg merupakan srikandi2 gagah berani dari negeri Aceh Darussalam lho mba. :)

Reply

Bener banget Dhe, keberaniannya, semangat perjuangannya serta keteguhannya memegang prinsip, sangat layak untuk ditiru dan menjadi inspirasi bagi kita dalam berjuang merebut kemenangan di masa kini.

Semoga artikel ini dapat menjadi salah satu sumber dalam memperluas wawasan sejarah perjuangan bangsa kita dan mampu menginspirasi generasi muda ya Dhe.

Trims atas kunjungan dan komentarnya. :)

Reply

Yaa... Mungkin karena tak banyak orang yg mempopulerkan kisah heroik ini. Yang ada hanya pemberitaan tentang ibu Kartini sehingga otomatis membuat informasi tentang beliau lebih dikenal masyarakat luas.

Semoga dengan postingan ini, makin banyak generasi muda yang mengetahui bahwa pahlawan emansipasi wanita itu bukan hanya ibu Kartini ya... Melainkan masih banyak srikandi2 lain bertebaran di nusantara. :)

Reply

Yaaah, begitulah bung, minimnya publisitas membuat banyak dari kita yang tak mengetahui akan hal ini. Bahwa sebenarnya nusantara memiliki banyak sekali srikandi yang lahir dan berjuang bahkan jauh sebelum ibu Kartini lahir. :)

Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua ya bung. :)

Reply

Aceh memang memiliki banyak sekali pejuang wanita heroik nan gagah berani, bukan hanya Aceh sih, tapi Nusantara ini. :)

Tentang para srikandi Aceh, Zengraaff, dalam bukunya banyak sekali menceritakan kekagumannya akan keberanian dan keteguhan wanita2 ini dalam memegang prinsip perjuangannya.

Membacanya memang bikin merinding, haru dan kagum! Semoga wanita2 Indonesia masak kini juga memilki semangat juang luar biasa spt ini ya mba Monda. Dalam berjuang dimasa kini. :)

Reply

Hehe.... Semoga dengan artikel ini, mba Tarry jadi tambah wawasan tentang khasanah para srikandi negeri kita ya mba. :)

Trims atas kunjungan dan komentarnya mba Tarry...

Reply

Trims kembali bang Aswi. Hatur nuhun! :)

Reply

Negeri ini memiliki banyak sekali tokoh pejuang wanita lho mba Hanna, hanya saja publikasi ttg mereka yg begitu minim, membuat kisah2 inspiratif tentangnya jadi tenggelam dimakan zaman. Semoga artikel ini bermanfaat dlm menambah wawasan perjuangan anak negeri ya mba...:)

Yuk semangat and be inspired by her heroism yuk!

Reply

Heran deh Dan, udh tiga kali reply di komenmu, tapi ilang mulu, napa ya?

Yes, membaca kisah2 heroism para srikandi Aceh yang ditulis dalam beberapa buku, khususnya buku Atjeh karya Zengraaff, sungguh bikin merinding, haru dan bangga Dan.

Semoga artikel ini bermanfaat yaa. :)

Reply

wah, saya stay di aceh 5 tahun mbak, udah banyak cerita yang saya denger tapi kalo untuk pocut baru kali ini dengar, beneran, Mungkin kurang tersohor dibandingkan cut nyak dien dan cut mutia,

Reply

Ternyata masih banyak tokoh perempuan yang belum diangkat ya. Ayo mak, angkat tokoh lain juga ^_^

Reply

Memang org luar Aceh biasanya hanya tau ttg Cut Nyak Dhien dan cut Meutia saja, :)
Publikasi yg minim kayaknya adalah faktor utama penyebab kurang sohornya informasi2 spt ini. Tapi skrg sudah tau kan bhw Aceh memiliki banyak srikandi yang gagah berani? :)

Reply

Bener mak, banyak sekali tokoh pejuang wanita di negeri ini, juga yg berasal dari Aceh. Baik mak, di postingan lainnya akan saya coba mengangkat tokoh srikandi lainnya yaaa... :)
Trims kunjungannya.

Reply

Aku baru tau pahlawan yang ini gan.... bertambah lagi dh wawasanku tentang sejarah indonesia :)

Reply

Wow ... Aceh punya beberapa srikandi rupanya ya, kak Al.
Di daerah lain sebenarnya bertebaran "Kartini lain" hanya saja tak terekspos ya. Apa ini pengaruh sentralisasi dulu ya? :D

Reply

Ciyus ini org aceh kak?? Berarti Ga sia2 aku masukin aceh jdi tempat tujuan wisataku ya kak..
hwehehe ga nyambung..
Biarin aahh....

Reply

nambah lagi nih mbak ilmu tentang sejarah aceh. padahal dari dulu aku tetanggaan sama orang aceh tapi kurang ngerti tentang sejarang2 kaya gini

Reply

Hehehe, mungkin beliaunya sibuk banget mba, jadi kurang minat mempelajari sejarah perjuangan bangsa. :)

Reply

Ya iyalah say.... Aceh memiliki banyak sekali srikandi lho, nantikan postingan berikutnya yaaa... !
Ayo atuh wisata ke Aceh!

Reply

Bukan hanya beberapa Niar, tapi banyak.....
Ya, daerah lain juga memiliki banyak pejuang wanita, tak hanya Kartini, tapi Kartini2 lainnya. Hanya saja jarang terekspos. :)

Reply

semoga nanti akan bertambah lagi wawasannya dengan baca postingan2 lainnya yaaa... :)

Reply

dulu di aceh memang terkenal dengan pelawanannya atas belanda... dan banyak sekali pahlawan besar disana. Sayang dulu belum ada Indonesia.. artinya keinginan untuk bersatu. Semoga Pahlawan besar dari daerah daerah diluar pulau jawa bisa juga dicatat dengan baik dalam sejarah negara ini..

Reply

sama kayak mas Djangkar, saya juga baru ada pahlawan wanita yg luar biasa bernama Pocut. Smoega dgn postingan Mbak Al ini bisa mempublkasikan sosok beliau dan menjadi tauladan kita semua:)

Reply

wew, saya boleh ikutan bilang sama gak mba ???

#masih banyak deh, sebelum kartini :D

Reply

Sama spt yang lainnya aku baru tahu tentang Pocut Meurah Intan ini mbak.
Ternyata usianya hanya berselisih 6 tahun lebih tua dari Kartini ya?
Namun "jalur" perjuangan mereka berbeda.
BTW thanks for sharing this information mbak... :)

Reply

Wanita2 Aceh memang kuat, tangguh dan pemberani. Sudah banyak pejuang2 Aceh wanita yang membuktikan hal itu.
Jauh sekali ya beliau diasingkan... sampai ke Blora. Apakah makamnya sampai sekarang terpelihara dg baik ya?

Reply

ini nih yang pernah menggalaukan gue..
padahal banyak wanita-wanita hebat di masa perjuangan ampe sekarang, tapi kenapa yang isorot cuma kartini! Lagian gak cuma kartini kok yang merperjuangkan wanita... :)

Reply

Baru tau sama Tokoh Wanita Aceh ini..
Yang terkenalnya cuma KArtini aja yach :D

Reply

Pocut hebat sekali yaa... aku baru kenal
wanita seperti ini oada zamannya, pasti sungguh luar biasa. tantangan yang dialaminya itu lho... subhanalloooh... semoga Pacut menerima pahala yang setimpal atas perjuangannya

Reply

aku juga baru tau mak... luar biasa

Reply

Sepertinya kisah ini belum pernah aku dengar di buku sejarah?,mbak Alaika..bisakah memberi penjelasan knapa hal itu bisa terjadi?knapa hanya cut Nya Dien yang ada?
Tks

Reply

Pocut Meurah Intan, temanku ada yang pernah ke makamnya di daerah Blora sana bisa dilihat di sini : Ziarah Makam Pocut Meurah Intan

Reply

Semoga menginspirasi kita semua tentang perjuangan berlandaskan iman
ya mbak

Reply

Iya, Aceh memang terkenal sebagai salah satu lumbung pejuang, yang anti dijajah, tak kenal menyerah. Pocut sudah tercatat sebagai salah satu pahlawan nasional ternyata. Syukurlah. :)

Reply

This desіgn is stеller! Υou cеrtаіnly κnow
how to keep а readеr аmuѕeԁ.
Βеtωeen your ωit and yоur videos, I was
almоst mοved to start my own
blog (ωell, almost...HaHа!) Fantastiс job.
I rеally loνed what уou had to say, and mοre than that, how уou prеsented it.
Tοο cоol!

My blog post :: hcg injections

Reply

Simply create couple specs compared to glaciers and have fun with.
Drinking water completely new power, should it be produced
plant and / or maybe blueberries and other berries, might help do away these not healthy
dangerous off the total body. Very little clarifications a few vehicles for very
expensive then again some typically machines who've a lot of qualities therefore you can hope for new exceptional notification. Nevertheless these include all popular appliances for the kitchen, mixers & juice extractors are several of the most successful washing machines that can be bought. Chlorophyll acts as a disinfecting real estate agent by- clearing away co2 while lethal video contrary to the familiy line.

Also visit my blog post :: vortex hand crank blender canada

Reply

Your Digital Move Is Concerning

Feel free to visit my web blog ... incendiary

Reply

So, start today and rid yourself of those annoying and unsightly growth.
The good news is that normally they are benign tumors that won't affect your health. There are many different reasons that could lead to the development of these tags on the skin.

Feel free to surf to my web page ... skin tags and pregnancy ()

Reply

So, start today and rid yourself of those annoying and unsightly
growth. The good news is that normally they are benign
tumors that won't affect your health. There are many different reasons that could lead to the development of these tags on the skin.

Also visit my web blog; skin tags and pregnancy ()

Reply

Hi there to all, the contents existing at this web page are genuinely amazing for people knowledge, well, keep up the good
work fellows.

Look at my web blog: book of ra tricks

Reply

Saya pernah lho kak ziarah ke makam beliau. Ini tulisan saya http://buzzerbeezz.com/2012/08/24/ziarah-makam-pocut-meurah-intan/

Reply

Saya pernah membaca kisahnya, dan saya salut dan bangga pada pejuang2 Aceh, luar biasa!

Reply

salut, bangga...smoga kita bisa seperti beliau...smoga perempuan2 aceh bisa seperti pucut meurah intan di zaman ini

Reply

Tambah pengetahuan. Makasih, Mak :)

Reply

Warga Aceh layak untuk bangga...kami warga Blora turut merasakan keharuman nama beliau...sebagai bukti kecintaan kami...nama beliau kami jadikan nama salah satu jalan di kota kami...

Reply

Waaaah salut dengan perjuangan Pocut. Luar biasa banget. Sayangnya banyak yang belum tahu sepak terjang wanita perkasa ini. #angkat topi

BTW, pas liat lukisannya, adi saya pikir Cut Nyak Dien, ternyata bukan. :D

Reply

Perempuan aceh zaman dulu memang perkasa karena iman di dalam dadanya. Semoga perempuan aceh di zaman modern juga tetap mewarisi hal yg sama.salut!

Reply

Pahlawan wanita di Indonesia, itu banyak ya Kak Al, yang dikenang dan tidak dikenang sama-sama memiliki andil dalam perjuangan bangsa Indonesia,

Reply

Kamus baru saya namanya Pocut belum pernah denger soalnya. Pejuang wanita emang hebat

Reply

Jujur, baru tahu hari ini satu lagi Pahlawan Wanita dari Aceh: Pocut Meurah Intan. Saat ini pun kita sedang terjajah, semoga kita bisa mengambil semangat juang beliau.

Reply

Masya Allah keberanian dan ketabahan beliau. Tambah lagi pengetahuan tentang wanita-wanita pejuang asal Aceh.

Reply

Ya Allah Mba Al, pas baca judulnya kirain ini kisah tentang Intan anaknya Mba Alaika, hahaha.
Di tulisan ini kelihatan banget Mba Al sebagai cerpenis. Apa novelis? Btw good job Mba, memberikan pengetahuan tentang Aceh.

Reply

Saya baru mengenal nama Pocut Meurah Intan ini Mbak Al. Luar biasa perjuangannya ya?
Btw apa beda "Pocut" dengan "Cut" Mbak? thx

Reply