Powered by Blogger.

Ragam tari dari bumi Iskandar Muda

Posted by Alaika Abdullah On 7/03/2012
Pasti masih familiar dengan istilah Bhinneka Tunggal Ika kan sobs? J #bisa dikemplang lho kalo sampai ga paham makna dari tiga rangkaian kata ini… atau malah disuruh segera meninggalkan negeri ini lho kalo ga bisa menjelaskan maksud dari semboyan ini.. Masak sebagai orang Indonesia, ga ngerti akan makna Bhinneka Tunggal Ika?
Ok, aku percaya kok jika kita semua paham benar, dan sepakat secara mutlak, bahwa negeri ini, yang adalah mutiara khatulistiwa, terdiri dari beragam suku bangsa, budaya dan bahasa daerahnya. Yang walau berbeda-beda tapi tetap satu juga. Nah, sehubungan dengan postingan artikel kontes di rumahnya Pakdhe Cholik per 30 Juni 2012 kemarin nih sobs, maka postinganku kali ini, akan mencoba mengulas sedikit tentang tarian daerah, khususnya tarian dari daerah asalku yaitu Aceh province.
Jika diminta menyebutkan nama tarian dari daerah Aceh, aku yakin bahwa sobats tentu akan menyebutkan tari Saman, Seudati dan Rapai Geleng sebagai tarian paling terkenal dari Aceh kan? Ga salah sih sobs. Tapi masih banyak lho tarian lainnya yang juga berasal dari provinsi paling barat Indonesia ini….. yuk kita lihat beberapa diantaranya yuk….
Tari Ranup Lampuan
(Sirih dalam Puan/Mangkuk indah khusus untuk tempat sirih).
gambar dari sini
Jika selama ini sobats disuguhkan oleh sebuah tarian yang ditarikan oleh sekelompok pemuda atau pemudi, yang bergerak lincah/dinamis, dalam ritme yang begitu cepat menghentak, diiringi oleh music dan syair yang begitu bersemangat, maka tarian yang satu ini akan terlihat sungguh berbeda sobs.
Tari Ranup Lampuan ini adalah salah satu tarian tradisional Aceh yang ditarikan oleh para wanita, yang ditujukan untuk memberi penghormatan dalam penyambutan tamu secara resmi. Tari Ranup Lampuan berarti Sirih dalam Puan (tempat khusus untuk sirih). Secara koreografi tari ini menceritakan bagaimana dara-dara Aceh menghidangkan sirih kepada tamu yang datang, yang geraknya menceritakan proses memetik, membungkus, meletakkan daun sirih ke dalam puan, sampai menyuguhkan sirih kepada tamu yang datang. Tarian ini sering dipersembahkan dalam rangka menyambut tamu kehormatan di dalam pembukaan sebuah acara formal maupun semi formal, acara perkawinan, dan lain sebagainya.
Gerakan tarian ini dilakonkan dengan lemah lembut sesuai dengan alunan lembut irama musik yang mengiringinya. 
Tari Rateb Meusekat
gambar pinjem dari sini
Syahdan, tarian ini diciptakan oleh anak dari Teungku Abdurrahim alias Habib Seunagan (Nagan Raya), sedangkan syairnya diciptakan oleh Teungku Chik Di Kala, seorang ulama di Seunagan. Nama Rateb Meusekat sendiri berasal dari bahasa Arab yang mengandung arti ibadat dalam diam. Kandungan syair-syairnya berupa puji-pujian kepada Allah dan sanjungan kepada nabi, ditarikan oleh para pemudi/kaum wanita dengan menggunakan pakaian adat Aceh.
Pada mulanya tarian ini ditarikan sesudah selesai mengaji atau mengkaji pelajaran agama, di malam hari, yang juga ditujukan sebagai media dakwah. Permainannya dilakukan dalam posisi duduk dan berdiri. Sesuai dengan perkembangannya, tarian ini akhirnya berkembang pesat, dan digelar/dipertunjukkan juga pada upacara agama dan hari-hari besar, upacara perkawinan dan lain-lainnya yang tidak bertentangan dengan agama.
Sebagian masyarakat Indonesia sering menganggap tarian yang satu ini sebagai tarian Saman perempuan, padahal tarian Rateb Meuseukat beda jauh dari tarian Saman. Adapun tiga perbedaan yang paling mendasar pada kedua tarian ini adalah sebagai berikut;

* Tari Rateb Meusekat: *
Berasal dari suku Aceh (kabupaten Nagan Raya)
Syairnya berbahasa Aceh
Diiringi alunan music (Genderang/Rapai)
Ditarikan oleh kaum wanita dengan pakaian adat Aceh
* Tari Saman *
Berasal dari suku Gayo (Aceh Tengah – Tenggara)
Syairnya berbahasa Gayo
Tidak diiringi oleh music
Ditarikan oleh kaum laki-laki dengan pakaian adat Gayo.

Sedikit penjelasan bagi sahabats yang mungkin bingung dengan kata Aceh dan Gayo…. Apakah Gayo bukan Aceh? Daerah Aceh itu terdiri dari 13 suku bangsa lho,  yaitu; Aceh, Gayo, Aneuk Jamee, Singkil, Alas, Tamiang, Kluet, Devayan, Sigulai, Pakpak, Haloban, Lekon dan Nias. (Sumber: Aceh Wikipedia). Nah, keliatankan sobs jika suku Gayo adalah salah satu suku/etnik yang mendiami salah satu wilayah di provinsi Aceh. Mereka menempati bagian Aceh Tengah, Bener Meriah hingga Tenggara Aceh, memiliki bahasanya tersendiri, namun bagaimanapun, mereka tetaplah bagian dari Provinsi Aceh, yang kekayaan ; alam, kesenian/budaya nya turut serta memperkaya provinsi paling Ujung Barat Indonesia ini. Untuk penjelasan lebih rinci tentang hal ini mungkin sobats dapat membacanya disini.


Tari Likok Pulo
gambar pinjem dari sini

Kabarnya, tarian ini lahir sekitar tahun 1849, dari kreatifitas seorang ulama yang berasal tua yang berasal dari Arab, yang hanyut di laut dan terdampar di gugusan pulau Aceh, tepatnya di Pulo Besar Selatan, sekitar 30 mil dari daratan kota Banda Aceh. Dinamakan tari Likok Pulo, Likok berarti gerak tari dan Pulo adalah pulau, yang tentunya mengacu kepada Pulau Besar Selatan tersebut.  
Awalnya tarian ini dipertunjukan di tepi pantai. Para penari menari di atas pasir yang hanya diberi alas sehelai tikar daun lontar atau pandan. Tarian yang merupakan media pengembangan dakwah Islam di masa kesultanan Aceh ini dibawakan oleh 12 orang penari pria/wanita sambil duduk rapat berlutut, bahu membahu, dengan posisi sejajar.
Seorang penari utama yang disebut "cèh" berada di tengah-tengah pemain. Dua orang penabuh rapa'i berada di belakang atau sisi kiri dan kanan penari. Gerakan tari Likok Pulo hanya memfungsikan anggota tubuh bagian atas, yakni badan, tangan, dan kepala. Gerakan tari ini pada prinsipnya adalah gerakan olah tubuh, keterampilan, keseragaman atau kesetaraan.
Dalam pertunjukannya, para penari menari sambil melantunkan syair-syair pujian kepada Sang Pencipta. Mereka menari dengan iringan alat musik Rapa'i. Rapa'i atau rebana adalah salah satu alat musik tabuh khas Aceh. Likok Pulo telah menjadi tarian wajib dalam mata pelajaran murid-murid sekolah di kota Banda Aceh ini.


Nah sobs…. Itulah uraian sekilas tentang beberapa tarian dari provinsi Aceh selain Tari Saman, Seudati atau Rapai Geleng yang begitu melegenda. Semoga sajian ini dapat semakin memperluas pengetahuan kita akan khasanah budaya bangsa yang ternyata begitu kaya dan beragam ya sobs…

Yuk kita lestarikan budaya bangsa ini, yaaa walaupun tidak dengan mempelajari lenggang lenggoknya, tapi dengan sering menyaksikannya, akan membuat kita familiar akan budaya bangsa, dan langsung ngeh dan waspada sehingga cepat tanggap dalam berusaha mencegahnya untuk tidak di klaim oleh bangsa lain.
Artikel ini diikutsertakan dalam Jambore On the Blog 2012 Edisi Khusus

32 comments:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat
    salam hangat dari Jakarta

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trims kembali Pakdhe yang baik hati dan tidak sombong.. ;)
      salam hangat dan penuh hormat untuk budhe ya.. :)

      Delete
  2. Mbak Al bisa narinya? Begitu kayanya budaya negara kita ya ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe..... masih harus belajar lagi mba Hany... :)
      Bener banget, negeri kita sangat kaya akan seni dan budaya....

      Delete
  3. loh tadi malem saya koment panjang lebar kok gak muncul yah...

    ReplyDelete
  4. udah didaftarkan jadi warisan budaya belum ini mba di Aceh,soalnya takut di claim lagi sama tetangga ntar'a :(

    ReplyDelete
  5. Mbak al, dri dulu niar pingin banget bisa nari saman, tapi ndak ada tempat nya latihan nari, ajarin dung :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe... Niar sayang.... Tari Saman itu ditarikan oleh para lelaki.... untuk wanitanya adalah Tari Rateb Meusekat. Keduanya mirip tapi memiliki tiga perbedaan utama, bisa dilihat di postingan. Yang jelas kedua tarian ini memang sangat menakjubkan.

      Yuk mba ajarkan menarinya... tapi ntar, setelah mba pelajari dulu yaaa... hehe

      Delete
  6. @Insan Robbani
    lha..... trs kemana donk komennya yang panjang dan lebar itu mas? :D

    ReplyDelete
  7. @Andy
    Nah, itu yang saya masih kurang jelas mas Andy... semoga pihak yang berwenang menaruh perhatian serius dalam hal ini yaa.... trims atas atensinya. :)

    ReplyDelete
  8. Mending Kakak gak sebut dari daerah Aceh atau Gayo, deh. Aceh kan nama provinsi. Sebut nama kabupatennya aja. Atau, sebut aja tarian khas suku apa, misal Saman tarian khas suku Gayo, Rateb MEusukat tarian khas suku Aceh. Kan Gayo dan Aceh memang suku yang berbeda.

    ReplyDelete
  9. Maaf Mil, aku ga ngerti maksud kamu, dibagian mana postinganku yang menyebutkan begitu? Gayo dan Aceh memang suku yang berbeda, tapi keduanya bernaung dalam pelukan tanah rencong alias bumi Iskandar Muda. Jadi tari Saman dan Rateb Meusekat, tetap merupakan tarian yang memperkaya khasanah tarian daerah provinsi Aceh.

    Trims atas kunjungan dan komen nya. :)

    ReplyDelete
  10. Saya akan merekomendasikan ke PakDhe agar tulisan ini dijadikan salah satu pemenang...

    ReplyDelete
  11. loh kok semalam aku lihat bloglist gak ada postingan ini ya, hehehe telat banget nih berarti bloglist updatenya. good luck ya mbak

    ReplyDelete
  12. @marsudiyanto
    hehehe.... trims atas kunjungan dan rekomendasinya lho Pak Mars... jangan2 pakdhe malah langsung memblacklist nih karena direkom secara terbuka. hehe...

    ReplyDelete
  13. Saya pujikan ide pak De yang brilyan ini ...

    Dengan membaca postingan Kak Alaika ini ... saya jadi bisa tau ragam jenis khasanah kebudayaan Aceh yang lain yang ternyata sangat banyak ini ...

    Semoga sukses di perhelatan pak De ya Kak ...

    Salam saya Kak

    ReplyDelete
  14. Di bagian ini, Kakak
    |
    V
    * Tari Rateb Meusekat: *
    Berasal dari daerah Aceh (Nagan Raya)
    Syairnya berbahasa Aceh
    Diiringi alunan music (Genderang/Rapai)
    Ditarikan oleh kaum wanita dengan pakaian adat Aceh
    * Tari Saman *
    Berasal dari daerah Gayo (Aceh Tengah – Tenggara)
    Syairnya berbahasa Gayo
    Tidak diiringi oleh music
    Ditarikan oleh kaum laki-laki dengan pakaian adat Gayo.

    ReplyDelete
  15. Postingan yang sangat penting ni, Mbak, untuk menegaskan kekayaan budaya negeri kita. Agar tdk diklaim lagi sama bangsa lain.

    ReplyDelete
  16. @alaika abdullahya uwislah, yg jelas tari Saman itu keren habis, perpaduan antara warna, ketrampilan dan kekompakan

    ReplyDelete
  17. Great post, you have pointed out some superb details, I will tell my friends that this is a very informative blog thanks.
    pest control services

    ReplyDelete
  18. jadi keinget dulu waktu masih SD, sering ada pertanyaan "Berikut bukan nama tarian dari Provinsi Aceh, kecuali :
    a. Seudati
    b. ....
    c. ....
    hehehe...
    salam kenal mbak. ijin follow :)

    ReplyDelete
  19. @Millati Indah
    Ok Mil, trims banget yaaa.... udah ditambahin tuh agar lebih jelas. Tq..tq.. :)

    ReplyDelete
  20. @Lidya - Mama Cal-Vin
    Hehe.... begitu ya mba...? padahal diposting at thel last minute sebelum kontesnya pakdhe ditutup lho. :)

    ReplyDelete
  21. @nh18
    Alhadulillah jika postingan ini bisa menambah pengetahuan mas NH yaa..... semoga bermanfaat! :)

    ReplyDelete
  22. @Irham Sya'roni
    eh ada mas Irham.... apa kabar nih?
    semoga postingan ini memberi manfaat bagi kita semua yaaa... :)

    ReplyDelete
  23. @ellieshilton
    thanks for visiting my site, your great willingness to share this info to others is really appreciated. Thanks again.

    ReplyDelete
  24. @Jimox
    hehehe, iya, jadi teringat masa2 sekolah dulu yaaa?

    ReplyDelete
  25. stiap blog yang saya kunjungi dalam katagori orang aceh yg punya.hanya punya kak Al yang sempurana.

    ReplyDelete
  26. Ah pernah kepikiran aku mau tanya sama Mbak Al, apa bener Saman itu ditarikan sama laki-laki... kok kalau di Jakarta Saman perempuan ya kebanyakan. Ternyata kalau yang perempuan namanya bukan Saman tho...

    ReplyDelete
  27. @JOL
    ah masak sih Jol? makasih ya udah mampir. :)

    ReplyDelete
  28. kalau di tasik adanya tari jaipong , heheh tari ini dari tanah jawa.

    ReplyDelete
  29. emng sering sich orang bilang memuji dari depan sama dengen menendang dari blakang...hehe
    tp yg saya koment tanggal 3 juli itu kak tdk seperti kata-kata dalam pepatah itu dlm arti beneran lho perfect.

    ReplyDelete

About Me

Google PageRank Checker
Protected by Copyscape DMCA Copyright Detector