Menu
/
gambar pinjem dari sini

Met siang, Sobats tercinta. Beberapa hari ini, roda kehidupan serasa berputar ibarat menggunakan mesit jet. Flash and fly! Membuat kita terengah menghalau langkah, mencoba menjejeri sang waktu agar kita tak tertinggal jauh. Merasa demikian ga, sih, Sobs?
Rasanya baru saja kemarin kita sambut tahun baru, eh hari ini, kita sudah memasuki sang bulan suci, the Ramadhan Kareem, yang penuh peluang untuk raih berkah dan kebahagiaan.

Bicara tentang sang bulan suci, yang juga familiar dengan bulan seribu bulan, layaknya umat muslim seluruh dunia, tentunya kita bersuka cita donk menyambut dan mengisinya dengan ibadah demi menjemput pahala yang kabarnya berlimpah ruah? *eh, bukan kabarnya, dink, tapi emang beneran lah, Allah menjanjikan limpahan berkah dan pahala di dalam setiap ibadah yang kita lakonin di bulan istimewa ini.

Dan bicara tentang to fulfill the Ramadhan Kareem, yang utamanya adalah berpuasa sejak Imsak dan berbuka di saat Iftar, tentunya, sebelum itu, diperlukan kebersihan hati dan rasa ikhlas. Termasuk lah di dalamnya rasa ikhlas di dalam memaafkan dan memohon untuk di maafkan, agar kebersihan hati itu tercipta sempurna,

Namun, layaknya manusia biasa, terkadang tak gampang bagi kita untuk memaafkan atau pun memohon maaf. Ada rasa ego dan gengsi yang terkadang menguasai diri. Padahal kita tau, bahwa yang namanya kesalahan, adalah lazim adanya. Karena toh tak ada manusia yang sempurna kan? There is nobody perfect. 

Namun, persoalan empat huruf ini, baik meminta ‘maaf’ dan me’maaf’kan, memang, terkadang lebih kepada masalah hati ketimbang lidah. Adalah normal, ketika ada sebuah kesalahan, lisan kita secara langsung meminta maaf dan mengakui kesalahan itu. Atau kala dimintai maaf, maka tanpa menunggu waktu lidah berujar bahwa kita telah berlapang dada untuk memaafkan. Namun tidak dengan hati, terkadang ada yang membakar. Ada yang mengompori.
Sebagai insan biasa, mungkin kita pernah dihadapkan pada situasi menyakitkan dalam rangka memaafkan seseorang. Ingin memaafkannya sih, tapi hati kok ndak rela gitu lho. Apalagi mengingat kesalahan yang dilakukannya sudah bertubi-tubi, dan celakanya lagi, adalah kesalahan yang sama! Sehingga terkesan seolah dia memang sengaja mengulangnya karena yakin persediaan maaf kita masih segudang. Atau Sobats pernah mengalami hal serupa yang sedikit berbeda atau lebih parah dari ini?
Lalu bagaimana membujuk hati untuk tulus mengeluarkan ‘maaf’, yang akhirnya juga tentu saja akan membuat kita ikutan bernapas lega dan ringan dalam menjalankan langkah kehidupan kita ke depan? Percaya kan, Sobs dengan kalimat ini?
“Dendam atau sakit hati yang dipendam, justru akan semakin membuat langkahmu berat dalam menapaki kehidupan?”
Hm, wajar jika Sobats tak dapat langsung menjawab, karena aku juga mengalami hal yang sama kala pertanyaan ini dihunjamkan ke benakku, Sobs. Dan untuk membantu menjawabnya, yuk kita ikuti cerita inspiratif berikut ini….

*****
Di sebuah pesantren di negeri antah berantah…
Pada suatu hari, seorang Kyai meminta para muridnya untuk membawa sekantong plastik berisi kentang. Kentang-kentang itu nantinya akan dituliskan nama-nama orang yang telah menyakiti mereka dan belum bisa mereka maafkan. Maka para murid pun menuliskan (dengan geram) setiap satu kentang dengan satu nama yang mereka benci/tidak mereka maafkan karena telah menyakiti mereka.
Beberapa murid memasukkan sedikit kentang, namun sebagian memiliki banyak. Mereka harus membawa kentang dalam kantong itu kemana pun mereka pergi dan tak boleh jauh dari mereka, apa pun yang terjadi.
Semakin hari, semakin banyak murid yang mengeluh karena kentang-kentang itu mulai mengeluarkan aroma busuk.

“Apakah kalian sudah memaafkan nama-nama yang kalian tulis pada kulit kentang kalian?” tanya sang kyai.

Gelengan kepala para murid jelas menunjukkan bahwa mereka sepakat untuk belum bisa memaafkan nama-nama itu, sehingga sang kyai hanya mampu berkata,

“Yah, kalau begitu, kalian tetap harus membawa kentang itu kemana pun kalian pergi,” lanjutnya.

Hari-hari pun berlalu. Aroma tak sedap dari kentang-kentang itu pun semakin menjadi. Banyak dari mereka akhirnya menjadi mual, pusing dan tidak nafsu makan karenanya. Hingga pada akhirnya, mereka membuang kentang-kentang itu ke dalam tempat sampah. Mereka pun memutuskan untuk juga membuang rasa dendam dan memaafkan orang-orang yang namanya tertulis disana.

Sang kyai tersenyum memandang anak didiknya dan berkata.
“Dendam yang kalian tanam serupa dengan kentang-kentang itu. Semakin banyak kalian mendendam, semakin berat kalian melangkah. Dan semakin hari, dendam-dendam itu akan membusuk dan meracuni pikiran kalian.”
“Maafkan mereka yang pernah menyakiti hati kalian. Jadikan ini sebagai pelajaran dalam hidup. Dan kalian sudah tahu, dendam sama seperti kentang-kentang busuk yang bisa dengan mudah kalian buang ke tempat sampah,” lanjutnya.

Sekalipun dendam tidak kita rasakan beratnya secara fisik, namun secara perlahan akan melemahkan mental kita. Yang pada akhirnya justru membuat hidup kita tak nyaman. So, in the occasion to welcome the Ramadhan Kareem, agar puasa kita afdhal dan beroleh berkah dan pahala berlimpah, yuk kita saling bermaafaan, sucikan hati dan ikhlaskan diri, mari luruhkan salah dan khilaf yang pernah tercipta. 
Pucuk selasih bertunas menjulang, Dahannya patah tolong betulkan
Puasa Ramadhan kembali datang, Salah dan khilaf mohon maafkan
Marhaban ya Ramadhan..
Selamat Menunaikan Ibadah

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi kita peluang untuk mengisi Ramadhan dengan penuh keimanan dan ketaqwaan. Amin Ya Rabbal Alamin.

Sebuah catatan pembelajaran, dalam rangka menjadi pribadi yang berjiwa sehat dan ikhlas.

Written from my smartandro in a busway

44 comments:

  1. Semua berhak untuk berbuat baik kok mbak, seperti semua orang juga berhak memaafkan dan dimaafkan, tulisannya bagus, suka dan bermanfaat

    ReplyDelete
  2. Artikelnya sangat simple tapi bagus sekali sobat...saya menyukainya.....
    terima kasih....
    jangan lupa mampir juga sobat

    ReplyDelete
  3. Langsung lanjut ke tekape...gak 'nyadar' jika lompatnya jadi ke rumah mas Insan deh..

    ReplyDelete
  4. pasti mampu donk mbak, asal kita inget kebaikan seseorang yang bersalah ke kita gara rasa benci nya hilang

    ReplyDelete
  5. sy di undang sm mas insan juga mbak.. tp blm tau mau posting apa.. Hehhe.. Skrg ke tekape dulu aja deh :)

    ReplyDelete
  6. @Insan Robbani
    Alhamdulillah jika mas Insan menyukainya, semoga bermanfaat bagi kita semua yaaa... :)

    ReplyDelete
  7. @Penyuluh PerikananTrims atas kunjungan dan komennya pak. :) akan segera berkunjung balik.

    ReplyDelete
  8. @Ririe Khayan
    Hehehe... udh sampai tekape dg selamat kan jeung? :)

    ReplyDelete
  9. @yayangherbal
    yup, Insyaallah! trims atas kunjungannnya yaa...

    ReplyDelete
  10. @ke2nai
    Baik, ditunggu di tekape ya mba Chi.. :)

    ReplyDelete
  11. wah mbak alaika sudah menjawab tantangan mas insan nih

    ReplyDelete
  12. saya sudah melihat dan membaca tulisan mbak di media Robbani mbak.. bagus mbak tulisannya :D

    ReplyDelete
  13. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  14. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  15. Memaafkan adalah hal terindah yang tdak semua orang bisa melakukannya

    ReplyDelete
  16. Memaafkan itu mudah, namun terasa berat jika hanya diangan-angan

    ReplyDelete
  17. super mantap artikelnya ... ditunggu yang lainnya ..

    http://goo.gl/WJJsXn

    ReplyDelete
  18. orang yang berjiwa besar pasti mampu memaafkan semua kesalahan orang lain.
    oh iya mbak, mau nerusin baca kok linnya mati ya/

    ReplyDelete
  19. Artikel Ini kayak gini sangat berguna mbak buat saya. Karena, kita harus saling memaafkan dan banyak berbuat baik itu akan berkah untuk kita.

    Super sekali mbak kata2 sampeyan, artikel yang lainnya sangat bagus. Jadi betah saya.

    ReplyDelete
  20. ya harus mampu,, kan dosa besar kalo ada yang minta maaf tapi kita tidak mau memaafkan . .. mau gak mau harus ikhlas.. ya kan :) :D

    ReplyDelete
  21. kalau ada kemauan pasti bisa. bersabar itu perlu dijaga dan ditingkatkan.:)

    ReplyDelete
  22. Memaafkan itu syuliiittt, tapi meme dam luja terlalu lama juga sakitt dan hidup malah enggak nyaman.

    ReplyDelete
  23. inspiring mba Al..
    thanks sharingnya...sdh mengingatkan
    betapa berat beban gegara tak mau memaafkan

    ReplyDelete
  24. Iya mba. Saya percaya urusan hati itu timbal balik. Kalau kita tak sreg pada org maka dia juga akan begitu pada kita. Maka cara yg paling baik itu ya mulai memaafkan dari diri sendiri... suka mba tulisannya. Inspiring

    ReplyDelete
  25. Pelajaran dengan perumpamaan yang oke banget ya mba... Maaf memang tidak mudah tapi manfaatnya luar biasa :)

    ReplyDelete
  26. sebuah pelajaran yang bagus, untuk diceritakan kepada generasi penerus (y)

    ReplyDelete
  27. Izin berkunjung dan nyimak artikelnya gan? :)

    ReplyDelete
  28. Dulu saya begitu mba, sulit memaafkan. Tapi saat belajar ikhlas utk memaafkan orang lain, manfaatnya dahsyat sekali buat diri saya.

    ReplyDelete
  29. termasuk orang berjiwa besar, bagi yang mampu melakukannya. mudah - mudahan menjadi pelajaran yang berguna

    ReplyDelete
  30. Wanita mampu memaafkan dengan mudah, namun goresan di hatinya tak akan segampang itu menghilang

    ReplyDelete
  31. memafkan bisa saja mbak, tapi luka di hati tetap membekas... tapi saya tetap berusaha lapang dada dan legowo untuk memberi maaf dan meminta maaf

    ReplyDelete
  32. Orang yang sangat mulia hatinya adalah orang yang senantiasa mau memaafkan. Jika kita Ikhlas memaafkan maka tidak akan timbul penyesalan dan dendam. itulah jiwa yang cantik

    ReplyDelete
  33. adakalanya meminta maaf lebih berat daripada memaafkan,begitupun sebaliknya.

    ReplyDelete
  34. analogi dendam sebagai kentang memang tepat sekali, begitu mencerahkan...ngena banget Mbak

    ReplyDelete
  35. Minta maaf dan memaafkan itu memang sulit. Namun saya memliki pengalaman jika tidak dituntaskan, maka ya aan jadi ganjelan.

    makasih mbak sudah menginspirasi....

    ReplyDelete
  36. Mungkin sulit namun harus tetap kita coba. memaafkan bukan berarti melupakan.

    ReplyDelete