Menu
/

 gambar  dari sini
“Sahabat”, kuyakin sobats semua akan langsung dapat merasakan sebuah makna tersendiri di dalam hati tentang kata ini.  Menurutku nih, dan juga berdasarkan beberapa pendapat yang aku peroleh saat main ke rumah si mbah tadi, sahabat itu adalah seseorang yang jauuuh lebih istimewa dari seorang teman. Jadi, menurutku lagi nih, jika teman itu skala pengukurannya dari 1-5, maka sahabat adalah peningkatan dari 5 menjadi 6 sampai 10.

Lebih detil lagi, aku coba merumuskan bahwa teman adalah seseorang yang kita kenal/kita tau namanya, kita lihat berulang kali, yang mungkin memiliki persamaan dengan kita dan juga membuat kita nyaman berada di dekatnya, yang kita undang ke acara kita untuk berbagi kebahagiaan, namun kita tidak membawanya dalam banyak sisi kehidupan kita.

Sementara sahabat adalah: seseorang yang kita sayangi, kita cintai, kita peduli akannya. Yang mengenal kita dengan baik, peduli akan kita, bersedia berkorban untuk kita, setia menemani dan menerima kesedihan, kemarahan, kegalauan mau pun kegembiraan/kebahagiaan kita. Yang akan dengan caranya sendiri menunjukkan salah jika kita melakukan kesalahan, dan membantu kita membenahi kesalahan itu. 

Sahabat adalah seseorang yang dengannya membuat kita begitu percaya akannya, yang membuat kita damai, yang tidak akan menertawakan atau menyakiti kita, ataupun jika mereka tanpa sengaja menyakiti kita, maka sekuat daya upaya mereka akan segera memperbaikinya dan berjanji untuk tidak akan mengulanginya lagi.

Nah, berpijak pada kesimpulan di atas, tentu Sobats semua dapat dengan gamblang donk menghitung berapa ratus, puluh atau satuan temans yang Sobats miliki? Pasti banyak deh. Aku yakin banget akan hal itu. Aku sendiri juga punya banyak sekali temans.
Lalu, saat Sobats diminta untuk menghitung berapa jumlah sahabat yang Sobats miliki? Sahabat dalam dunia nyata lho ya, bukan yang di dunia maya, nah tentu kini angkanya akan sangat kecil ya, Sobs?  J  Ternyata hampir setiap orang hanya memiliki sedikit sekali sahabat.

Bicara tentang sahabat, hari ini aku merasa rindu sekali akan seorang sahabat, yang telah sekian hari aku tinggal nun jauh di penghujung pulau Sumatera. Mengingatnya saja, membuat hatiku bergelombang, mata beriak karena ingin meneteskan tangisan kerinduan. Namanya Intan Faradila Caesaria. Berbintang Virgo nan lembut selembut sifatnya yang begitu penyayang. Namun sifat sensitive dan mudah tersinggung juga berhasil bersemayam sempurna di lubuk sanubarinya.
Aku yakin Sobats yang sering bersilaturrahmi ke rumah sederhanaku ini, paham benar siapa Intan yang aku maksud ini. J

Yup, dia adalah putri semata wayang, yang menyempurnakan statusku sebagai wanita, dengan menyematkan status ibu untukku pada tanggal 1 September 1996. Kehadirannya adalah anugerah terindah yang mencerahkan warna kehidupanku dan ayahnya Intan. Kehadirannya membuat senyumku selalu terukir selelah apa pun pekerjaan kantor yang harus aku hadapi. Kehadirannya selalu mampu melunakkan dan melelehkan emosi yang melanda jiwa.

Jika di postingan sebelumnya, Mr. Kerbau menyuruhku memintaku untuk pulang ke Aceh, tinggal dan mendampingi Intan, karena menurutnya sudah saatnya aku bersama Intan, maka ingin aku tegaskan bahwa Intan memiliki aku selamanya untuknya (sepanjang hayatku dikandung badan.)

Kami menghabiskan waktu indah dan unik bersama, waktu yang tak akan pernah bisa diulang walau dengan mempertaruhkan seluruh harta paling berharga sekali pun. Waktu-waktu istimewa di mana setiap pagi menjelang aku harus bangun lebih cepat, mempersiapkan diri sendiri dan juga bayi merahku yang masih berusia dua bulanan untuk ikut bersamaku ke kantor. (Intan aku titipkan pada istri salah satu teman kerjaku yang rumahnya dekat kantor, sehingga aku bisa leluasa untuk memberikan Intan ASI exclusive, sambil merajut ikatan batin yang erat antara aku dan putriku melalui tatapan mata kami yang beradu pandang saat dia menikmati ASI).  

Setauku sih, ikatan batin yang terjalin kuat itu paling subur adalah saat-saat menyusui. Tatapan penuh kasih dari mata sang ibu yang tertuju langsung ke mata si bayi, akan menimbulkan binar-binar lembut penuh kasih yang akan dirasakan sempurna oleh si bayi, dan percayalah, tatapan ini adalah perekat utama yang tak pupus sepanjang masa. So, enjoy your feeding time dan tatap penuh kasih mata bayi mungilmu. J    Biarkan gelombang electromagnetic kasih sayang mengalir dan bertumbuh subur menjalin kedekatan hubungan kalian.

Barulah setelah lepas dari masa-masa ASI exclusive, Intan dijaga oleh si mba, di rumah, agar Intan dapat menikmati tidurnya dengan nyaman di pagi hari, tak terganggu oleh perjalanan yang tidak mudah, karena kami hanya mampu menggunakan jasa angkutan umum, mengingat perekonomian rumah tangga kami yang masih jauh dari makmur kala itu.

Well sobs, kembali pada Intan…,
Memiliki ibu bekerja, aku lihat tidak membuat Intan jauh dariku. Terbukti setiap pulang kerja, putri mungilku sudah menanti di teras rumah, berlari tak sabar menantiku masuk, memeluk dan menciumnya penuh kerinduan. Pelukan tangan mungilnya yang balas memelukku erat adalah tetesan embun di tengah dahaga bagiku, yang aku yakin jika sobats adalah ibu yang bekerja, maka rasa yang sama adalah juga milik kalian.. Aku yakin ini adalah momen-momen paling membahagiakan bagi seorang ibu ya, Sobs? I am sure you, the moms, enjoyed it well! J

Waktu berlalu begitu cepat, menumbuhkan Intan menjadi seorang anak yang smart dan bisa berkompromi. Penuh pengertian di usianya yang masih balita. Contoh kasus adalah saat aku dan Intan main ke sebuah mall di kota kami, Medan. Intan kecilku terlihat begitu kagum dengan baju cantik nan lucu berwarna biru kesukaannya. Berhenti dengan takjub, di hadapan baju yang digantung itu dan aku tau persis dia menginginkannya. Dan, Sobs? Aku tidak punya uang saat itu. Gajiku dan ayah Intan sangat pas-pasan. Hiks..hiks..

Kuajak Intan melanjutkan jalan-jalan kami. Tapi Intan enggan beranjak. Digenggamnya jemariku kuat.
“Umi, Intan suka baju itu. Cantik kali ya mi?”

Kalimat itu aku paham benar maknanya. Lalu kutahan nyeri di hati karena apa pun jawabku tentu akan membuat mata itu redup.

“Sayang, anak Umi mau baju itu ya, Nak?” (dalam pembicaraan yang cenderung membujuk, aku terbiasa menggunakan kata anak Umi untuk menyebut Intan).
Dia mengangguk kuat, tersenyum cerah yang sukses menyayat hatiku.

“Nak, anak Umi pilih mana, kita beli baju itu sekarang, tapi kita pulangnya harus jalan kaki, dan Anak Umi taukan kalo rumah kita jauuuh? Atau……. Kita bisa pulang naik angkot, dan nanti begitu Umi gajian, kita beli baju ini…, gimana?” 

My smart Intan answered setelah terdiam, dengan bola matanya  yang sedikit meredup.

“Yaaaa, kalo jalan kaki pasti kita akan capek dong, Mi. Teyus kalo kita tunggu Umi gajian, nanti bajunya dibeli olang, ga ada lagi untuk Intan.” 

“Sayang, percaya deh, pasti untuk anak Umi, baju ini akan menunggu, atau siapa tau nanti waktu gajian malah muncul lagi baju biru lain yang lebih cantik?”

“Oh,  iya ya Mi, boleh juga, tapi benel ya Mi, janji nanti beli baju ini ya Mi.” 

Dan aku mengangguk. Sebuah janji terikrar dalam hati, untuk menebus baju ini atau yang serupa dengannya begitu gajian nanti, membungkusnya dengan bungkusan kado terindah.

Kini Intan ku telah beranjak Remaja. Telah duduk di bangku SMU. Banyak hal yang telah kami lalui bersama. Bahagia, ceria, duka lara, tertawa dan menangis bersama, adalah hal yang akrab kami hadapi berdua. Dua tahun lebih beberapa bulan, pernah membuat kami hidup terpisah. Terbukanya pintu hati kedua orang tuaku, menerima kembali aku, Intan dan ayahnya serta rezeki yang mengalir deras di Aceh paska tsunami, membuat aku kembali ke tanah kelahiran, dan terpaksa meninggalkan putri terkasih sementara waktu di tempat kakak kandung ayahnya. 

Tekadku bulat kala itu, kesempatan emas tak akan datang dua kali. Aku inginkan masa depan cerah bagi putri tercinta, dan mewujudkan masa depan indah dan bersinar butuh dana yang tidak kecil. Untuk itu, aku dan ayahnya perlu memanfaatkan kesempatan emas yang terbuka lebar di tanah Serambi Mekkah ini. Maka hijrahlah kami sementara waktu. Mendulang rupiah yang begitu berlimpah oleh masuknya dunia international via LSM-LSM (International NGO) yang bergerak cepat dan konsisten membangun kembali Aceh yang lebih baik.

Hidup terpisah, tak berarti membuat hubunganku dan Intan menjadi renggang, karena putri semata wayang yang memang sangat pengertian itu begitu mudah aku ajak mengerti. Bahwa ibunya ingin mempersiapkan masa depan yang indah bagi dirinya nanti. Bahwa ibunya ingin menyediakan materi yang lebih dari cukup untuk dirinya nanti saat mulai butuh ini itu. Contoh sederhana, ibunya ingin agar Intan bisa memiliki apa yang Intan butuhkan tanpa harus menunda dalam waktu yang terlalu lama, karena alasan belum punya uang, seperti yang selama ini Intan harus alami. Intan tentu ingin seperti anak lain yang punya tas bagus, peralatan sekolah yang cantik dan baik, tanpa harus menunggu Umi gajian segala.

Dan Intanku yang pengertian sangat mengerti dan mendukung langkahku. Apalagi walau terpisah jarak, hubungan kami tetap terjalin baik, karena didukung oleh canggihnya dunia komunikasi masa kini. Bersyukur aku dengan teknologi selluler yang kini telah dapat dijangkau dan diakses masyarakat luas. Berterimakasih aku akan kecanggihan dunia maya sehingga setiap malam aku dan Intan bisa ber-web-cam ria, saling melihat, bercerita (aku membiasakan mengantar Intan tidur dengan sebuah cerita pengantar tidur, baru menutupnya dengan membaca doa bersama). Dan kebiasaan ini masih terjadi sampai hari ini, saat aku menulis artikel ini, walaupun Intan telah duduk di bangku SMA, tapi membaca doa bersama itu adalah wajib hukumnya. Baik aku sedang di pulau terpencil sekali pun, ‘baca doa bobok’ bersama tetap sebuah kewajiban. Tak mampu via web cam (karena net yang tidak available), maka tulisan doa sebelum tidur beserta ‘good nite darling, have a good rest, nice dream’ tetap harus di hantarkan, walau via sms.

Tak kupungkiri, perpisahanku dengan ayahnya Intan, tentu menggores luka besar di hati terdalam putri tercinta. Namun apa yang harus kulakukan? Aku bukan termasuk wanita yang tabu akan perceraian. Aku tak akan bertahan dalam sebuah rumah tangga yang telah bobrok dan tak dapat diselamatkan dari bara api hanya karena alasan ‘kasian anaknya’. Justru dengan bercerai lah si anak akan dapat diselamatkan dari penyakit perlahan terhadap mental, pikiran dan perasaannya. Anak perlu sebuah rumah tangga yang damai, walau tidak utuh. Anak perlu kasih sayang penuh dari ayah ibunya, walau tidak tinggal se atap. Anak perlu perhatian dan kasih sayang dari keluarga dekatnya. Anak perlu materi yang mendukung pencapaian cita-citanya. Semua saling berkaitan dan itu yang harus diprioritaskan. (#halah kok malah melantur jauh dari jalur yaaa…, hehe).

Membangun hubungan dan komunikasi yang erat dan akrab dengan ananda tercinta, adalah prioritasku, apalagi mengingat hubungan kami terpisah terhubung oleh rentang jarak yang tidak menentu. Terkadang aku di rumah bersamanya, terkadang aku malah harus terbang ke berbagai pelosok untuk waktu tertentu. Kuupayakan agar aku mampu menjadi orang pertama yang dipercaya Intan untuk tempat pencurahan hati dan pikirannya. Aku ingin dia curhat ke aku  pertama kali, sebelum ke teman lainnya. Karena sebagai orang tua, tentu kita akan mencari solusi sebisa mungkin akan problema yang dihadapi sang anak. Sementara jika curhatan tadi mendarat di teman mainnya, belum tentu nasehat atau solusi terbaik yang akan diberikan, bisa saja justru terkadang malah menjerumuskan karena keterbatasan wawasan dan pengalaman dalam menghadapi pahit getir kehidupan.

Berjalan bersama adalah hal yang kerap kali kami lakukan. Hang out di café sambil ngenet berdua. Shopping berdua atau hanya sekedar makan jagung bakar di pantai Uleelheu sembari menyambut sang senja muncul dari kaki langit. Indah dan sungguh meneduhkan hati. 

Keakraban yang terjalin tentu membuatnya easy to share her feeling about everything. Bahkan tentang cinta kala sang cinta monyet menghampiri.  J     Hal ini tentu membuatku tenang, karena tau persis what is going on with my daughter, and how to guide her being safe in her life and friendship.
Alhamdulillah, Intan memang menjadikan aku sebagai tempat curhatnya. Baginya, aku adalah ibu, kakak, tapi juga sahabat terbaiknya. Beberapa status di facebooknya, jelas-jelas mengisyaratkan itu. Dan aku bahagia dan bangga akannya. Alhamdulillah ya Allah, Engkau kabulkan pintaku, agar aku dan Intan tetap dekat, saling percaya dan saling menyayangi. Saling menghargai dan menghormati pada posisi masing-masing.


Sobats,
Itulah sekelumit kisahku dan Intan, sang sahabat karib, juga putri tersayang.
Sudahkah putra atau putri Sobats menjadi sahabat karibmu? Rasanya indah banget lho. Hehe….
Tunggu saja. You will enjoy this moment some day, I hopeJ

47 comments:

  1. terharu saya bacanya mbak....meskipun mbak al kadang terpisah dari intan, tapi keakraban bak sepasang sahabat karib tetap bisa terjalin ya mbak....

    ReplyDelete
  2. luar biasa jika ada seorg ibu yg bisa menjadi sahabat sekaligus untuk anak-anaknya... aku sedikit mendengar keakraban mba alaika berkmnksi dgn putri tercintanya kmn via tlp saat perjalanan acara #GathKEB#

    Penuh keakraban dan kasih sayang, alhmdulillah aku jg dekat dgn kedua buah hatiku mba...dan akan belajar menjadi bunda sekaligus sahabat untuk keduanya.

    semoga intan yg cantik baik-baik slalu disana ya mba...:)

    ReplyDelete
  3. hiks.. jadi kangen sama sahabat2 yg da pasa jauh :( #nangisbeneran bacanya T.T

    ReplyDelete
  4. mbak, pengen deh punya anak yang bisa dekat dengan orang tuanya. Senengnya ...

    Mudah2an anakku bisa seperti Intan & mbak Al ..

    ReplyDelete
  5. sahabatku.. kayaknya bukan lagi mamah. hehe
    sekarang mamah cuma bisa jadi sahabatku disaat dia sedang sendiri. tapi ketika ada suaminya, walaupun kami serumah aku tetap merasa dia jauuuh dan memang sengaja menjauh. kata bibi aku jangan egois, aku harus rela berkorban untuk kebahagiaan mamah. tapi... ah.. pokoknya aku rindu mamahku sahabatku.
    *jadi curhat

    ReplyDelete
  6. Cantiknya anaknya mbak.. :)

    Semoga cintanya berdua selalu utuh dan hangat walaupun terentang jarak.

    Anak-anakku yg perempuan juga sudah ABG, mudah-mudahan selalu bisa jadi sahabat mereka samapai kapanpun seperti mbak Alaika dan Intan :)

    ReplyDelete
  7. aduhhh...mirip kakak adik ya, hihihy :D

    ReplyDelete
  8. Mbaaaakkk, ini bukan sekelumit tapi berkelumit-kelumit lho? So detail dan sampai speechles mau comment apa neh. saluut pokoknya sama Mbak Al...the great Mother.

    Btw, tumben Mbak Al pake hurupnya agak kecil neh..

    ReplyDelete
  9. Aku juga bingung mbak Al mau komen apa. Yang jelas Intan pasti bangga punya ibu seperti mbak Al hehehe...

    ReplyDelete
  10. Perasaan foto sebelum sebelumnya masih kayak anak kecil si Intan,
    kok sekarang udah gede ya hihi :D
    Cantik banget lho mbak si Intan itu :D

    Aku terharu euy bacanya.
    Intan baca ini gak mbak?

    ReplyDelete
  11. mba, aku terharu bacanya ;( two thumbs up buat mba alaika dan putri tercinta. semoga saat anak2ku dewasa,aku bisa menjadi sahabat mereka juga

    ReplyDelete
  12. Mbaaa.. peluk peluk..
    terharuu aku..
    *ambil tissue..*

    tetep smangat menjalani hidup bersama si cantik Intan ..

    ReplyDelete
  13. Olive aja yang masih kelas 3 SD,
    kadang bisa aku ajak curhat kaya sahabat..
    begitulah enaknya punya anak perempuan ..

    ReplyDelete
  14. Bagus mbak ceritanya..semoga saya nanti juga bisa menjadi seorang ayah sekaligus sahabat bagi anak-anakku ya mbak :)

    ReplyDelete
  15. salam kenal mbak...semoga hubungan say adan putri sulung saya seperti itu, menjadi teman terbaiknya dan tem[at curhatnya...

    ReplyDelete
  16. kisah ini ditulis sangat detail sekali mbak! terekam banget dalam hati ya. menjadikan anak sebagai sahabat dlm mengisi kehidupan! woww..luar biasa!

    ReplyDelete
  17. mbak itu kyak ibu niar deh, sama sama kyak sahabat :)

    Intan pasti bangga sama mbak alaika, eeh intan cantik banget :)

    ReplyDelete
  18. salam kenal kk Intan yg muaniiiizzzz bgd. senyumnya pasti bikin sllu kangen ya mba.
    sebentar lg mimi mgkn mengalami hal2 seru spt mba dg Intan klo rani udah remaja nnt...hehe

    ReplyDelete
  19. @Mami Zidane
    Makasih atas perhatian dan kunjungannya mba.... memang sudah komitmenku untuk selalu menjalin keakraban dengan putri tersayang, sesibuk apapun aku, Intan adalah harta yang paling berharga yang harus aku jaga dan asuh dengan penuh kasih sayang.... :), semoga tetap ada jalan untuk menjaga komitmen ini ya mba, amiin.

    ReplyDelete
  20. @IrmaSenja
    hehe... memang mba, walau hanya via telp, tapi keakraban kami tetap hangat dan saling rindu... hihi.

    Alhamdulillah jika mba Irma juga memiliki kedekatan serupa dengan kedua buah hati, mereka adalah harta kita yang paling berharga toh mba..? dan syukur banget jika kedekatan telah terbina dengan baik, Insyaallah... saya optimis mba Irma juga akan menjadi bunda yang hebat dan sahabat tersayang bagi anak2 mba nanti. Wait and see aja..... keduanya akan menjadi sahabat karib tempat saling bertukar cerita lho... :)

    ReplyDelete
  21. @Aiinizza Wynata
    ayo luangkan waktu untuk menghubungi kembali para sahabat yang telah terpisah jauh... manfaatkan kecanggihan teknologi untuk membantu terjalinnya silaturrahmi.... :)

    ReplyDelete
  22. @dey
    Mba Dey anaknya laki-2 ya? Fauzan kalo ga salah?
    Insyaallah akan bisa mba... adik bungsuku, laki-laki, adalah sahabat terbaik ibuku lho mba, setelah aku harus meninggalkan rumah karena mulai punya rumah tangga sendiri.... :)

    semoga mba Dey juga akan menjadi sahabat terbaik bagi ananda yaaa... amin..

    ReplyDelete
  23. @Syifa Azz

    Syifa sayang.... terkesan disini bahwa suaminya mama itu adalah bukan lagi ayahnya Syifa... am I right?
    Jika benar... jangan iri Syifa sayang.... jalin hubungan dengan baik, rangkul hati mama untuk tetap menjadi sahabat Syifa dengan menjalin keakraban juga dengan papa... yakin deh.... Mama akan semakin dekat dengan kamu...

    Papa baru Intan begitu dekat lho dengan Intan, malah terkadang Intan lebih terbuka pada papanya itu daripada ke tante... alasannya tante ceriwis untuk beberapa hal yang lebih bisa ditolerir oleh papanya. hehe... dasar tuh Intan....

    ReplyDelete
  24. @Sary Ahd
    Intan pasti seneng banget dipuji mba Sary tuh.....makasih ya tanteee...

    Oya? anak2 mba yang perempuan sudah ABG.... wah pasti senang dan seru berinteraksi dengan mereka setiap harinya ya mba..... adaaaa aja yang bikin suasana hati ceria, haru, sedih dan aneka rasa lainnya....

    Semoga anak2 mba juga tetap akan menjadikan mba sebagai sahabat terbaik mereka ya mba.... dan sebaliknya, amin.

    ReplyDelete
  25. @Stupid monkey
    hehehe... mirip ya mas? cakepan anak apa emaknya nih? *blink-blink... wkwkwkwk

    ReplyDelete
  26. @Ririe Khayan
    hehehe... berkelumit ya rie.... habis sedang kangen sama Intan, jadinya ya mengalir deras deh tulisannya.... tak tertahankan, mengalir langsung dari lubuk hati terdalam, ciee....

    Amin, semoga kami tetap menjadi sahabat karib sepanjang hayat dikandung badan ya rie... and hope that I could be a good mom for her and vise versa....

    ReplyDelete
  27. @Anak Rantau
    komen yang ini juga udah cukup membahagiakan hati lho mas.... hehe... makasih ya sudah berkunjung dan semoga Intan bahagia ber-ibu-kan aku yaa... :)

    ReplyDelete
  28. @Tebak Ini Siapa
    hehe.... foto2 sebelumnya terlihat kekanakan ya Na..?
    wah si Intan pasti senang banget baca pujian kamu Na.... makasih ya kak Una... pasti akan bilang begitu....

    Intan baca artikel ini dan kirim sms that she loves and miss me so much! :)

    ReplyDelete
  29. @Dee Ayu
    makasih atas kunjungan dan komennya mba Dee..... aku turut meng-amin-kan doa mu mbaaa... semoga bisa menjadi sahabat bagi anak2mu kelak yaa..

    ReplyDelete
  30. @Mama Olive

    peluk-peluk balik, sama-sama ngelap airmata dengan tissue bersama mama olive....

    makasih atas semangat yang disuntikkan ya mba..... :)

    ReplyDelete
  31. @nchie
    see? Enak banget kan punya anak perempuan... hehe...
    tunggu deh besar dikit lagi, semakin dia akan mengerti dan membutuhkan kehadiran kita tak hanya sebagai ibu, teman bermain, tapi juga sahabat tempat berbagi cerita, termasuk hal pribadi yang ingin dishare, semoga kita menjadi orang pertama yang menerimanya... itu akan indah dan menolong dalam mencari langkah penyelesaian.... :)

    ReplyDelete
  32. @Seagate
    amin mas sigit... semoga dapat menjadi sahabat terbaik bagi anak2nya kelak yaaa.....

    ReplyDelete
  33. @Rina Susanti Esaputra
    Salam kenal kembali mba Rina...
    Syukur Alhamdulillah jika juga demikian mba... senang dan bahagia rasanya yak? :)

    ReplyDelete
  34. wah, mamanya awet nih, kayak kakak adek..,pasti menyenangkan ya bisa jadi sahabat anak. Semoga aku juga bisa begitu sama anakku.. thanks ya mbak,sudah berbagi.Salam utk Intan yang cantik maniiis :)

    ReplyDelete
  35. Wow, Intah udah remaja ya Mbak.. Cantik sama kayak mamanya.

    Seneng kalo anak bisa menjadikan mamanya seorang sahabat.

    Saya ndak punya banyak sahabat untuk saat ini, paling hanya beberapa teman kantor dan suami tentunya, Mbak. :)

    ReplyDelete
  36. betapa menyenangkannya jika orang tua bisa menjadi sekaligus sahabat bagi anak anaknya :( gag semua orang bisa dapetin orang tua seperti ini ... keren!!!

    ReplyDelete
  37. @Bung Penho
    saking kangennya sama Intan jadi semuanya mengalir dari hati yang terdalam tuh bung... :)

    trims atas kunjungan dan atensinya...

    ReplyDelete
  38. anak anak jaman sekarang sepertinya sudah lebih menyadari kalo mereka harus hidup mandiri

    ReplyDelete
  39. @alaika abdullahcakepan angelina jolie sih, wew, hihiy :p

    ReplyDelete
  40. Intan cantik ya, mbak, smg tumbuh menjadi putri remaja yg sholehah. Senang sekali melihat anak kebanggaan kita tumbuh.
    makasih ya, mbak kunjungannya

    ReplyDelete
  41. Dua-duanya cantik
    Semoga bahagia selalu
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  42. Baca lagi tulisan ini, dan aku ingin putriku dan aku sedekat mba dan intan... *_*

    ReplyDelete
  43. Mbak membaca ceritamu rasanya hampir tak sanggup menyeleseikannya, rasa haru biru menyelimuti hati..,sebagai teman hanya bisa berharap Intan tetap menjadi Intan yang baik dan shalihah kendati tidak selalu didampingi secara zahir oleh umi-nya

    ReplyDelete
  44. Semoga Vivi yg kini baru 9 tahun nanti kalau sudah besar bisa seperti kk Intan ya, sayang dan dekat dengan ibunya. Aku juga sering terharu nih Mb Al, setiap kali pulang kantor, Vivi dan adeknya Faris 3 tahun, rebutan untuk peluk dan cium. Rasanya gimanaaaa gitu, nothing's compare deh

    ReplyDelete
  45. waaahh, mau komen apa yaa, bingung. coz kejadian seperti inilah yang saat ini sedang kujalani maak.. 'hiks'
    btw sekarang masih tegar setegar karang.. meskipun sangat tidak mengenakkan. yaa.. semua akan tiba pada waktunya ya maak..*peluk*

    ReplyDelete
  46. Meski Vinka sudah mulai terbuka denganku, ingin sekali aku bisa membuatnya juga bersahabat denganku. Tfs, mak. Tulisan ini menjadi penyemangat ku untuk lebih banyak meluangkan waktu dengan anak-anakku.

    ReplyDelete
  47. Terenyuuuh..disitu kadang aku jg pengen punya anak cewek *eeh..tp walopun semuanha laki, azka dah ag skr, aku selalu berusaha dekat dan byk cerita2 dgn azka...moga azka jg bisa menjadi sahabat juga ya cyiin

    ReplyDelete