Archive for October 2014
Menu
/ /
Tulisan ini, seharusnya posted tepat pada hari Blogger Nasional kemarin. Tapi gegara sibuk berjibaku dengan urusan offline, driving over here and there, jadilah ini draft teronggok di pojokan folder. Hari ini, usai nge-review dua laporan yang baru disubmit oleh klien, jadilah daku duduk manis sejenak, melihat-lihat blog tercintah, yang draft-nya lumayan juga euy!

Satu dua tiga dan empat *nyanyi* lima enam, tujuh delapan. Wew, lumayan juga, ada 8 draft yang duduk manis dan lama tak tersentuh. Sabar yaaaaa. Hari ini mau update yang ini dulu deh yaaa. Mumpung aroma hari blogger nasional masih semerbak di sekitar. :)

Bicara tentang blogging dan pernak perniknya, tiada henti rasa syukurku ketika pada tahun 2007 telat banget yaaak? jemari ini membawa diriku berselancar heboh di atas gelombang cinta lautan maya. Takjub! Hadoooh, kemana aja eikeh selama ini bo'? Tenggelam di quality control room sebagai quality control engineer di sebuah perusahaan cat terkemuka di kota Medan, sampai tak sempat melongok ke sebuah dunia lain yang begitu cetar bergelora? 

Untungnya keputusan beralih haluan gegara tsunami menimpa Aceh, membuka kesempatan bagiku untuk berkenalan langsung dengan internet. Setiap hari, segala komunikasi dengan kantor pusat di Portland kudu lewat email dan skype, yang pastinya butuh koneksi internet. Mataku terbuka lebar. Lapar dan dahaga akan pengetahuan tentang dunia baru yang satu ini. Hingga suatu hari, gegara googling tentang cara membuat laporan yang efektif dan efisien, mampirlah aku di sebuah blog. Di situlah aku mulai mengenal tulisan-tulisan non formal, yang dikemas dengan hangat, bersahabat dan informatif! Langsung jatuh cinta. 

Aih, aku juga harus bisa nih punya blog seperti ini. Harus bisa punya media digital untuk menampung hobi menulisku yang mendadak menggebrak ke permukaan. Bergurulah aku pada si Mbah [Google], dan terciptalah 6 buah blog sekaligus! Hihi. Maruk pake bingits dah eikeh! Nyesel dan kewalahan di sela tugas rehab rekon Aceh Paska tsunami? Tidak atuh. Malah hepi. Tertantang dan bikin adrenalin berpacu kenceng. Rasanya gimanaaaaa gitu jika berhasil menaikkan satu postingan di tengah kesibukan kerja. Berhasil nyuri waktu itu sensasinya luar biasa. Bangga! 

Tanpa terasa, tujuh tahun sudah akun blogger ini tercipta, dan tujuh tahun sudah aku menjadi blogger. Bahagianya luar biasaaaa. Banyak teman dan sahabat yang kuperoleh dari gelar yang satu ini. Bertambah wawasan dan jaringan juga berkat kegiatan yang satu ini. Banyak pula penghargaan bahkan rupiah yang telah mengalir dari kegiatan yang satu ini. 

Hari ini [seharusnya tepat di hari Senin, 27 Oktober 2014], aku ingin berterima kasih kepada siapa pun yang telah turut serta mencomblangi aku dengan dunia maya ini, terima kasih kepada kamu2 yang telah mengajarkan aku blogging, terima kasih kepada kamu-kamu yang telah berinteraksi positif denganku di dunia maya ini, terima kasih kepada Sekarani Tjahyono, Mira Sahid, Una, Ririe Khayan, Mas Stupid Monkey, Mba Lidya Fitrian, Mba Reni Judhanto, Nchie Hanie, Teh Dey dan Meti Media serta Mimi Arie Radial, yang telah menjadi sahabat2 onlineku pada awal-awal blogging dahulu, yang akhirnya menjadi sahabat2 baikku, secara online-offline, semoga persahabatan indah ini semakin indah dan bermanfaat bagi kita semua. 

Keep blogging happily and possitively. Happy Belated Blogger Day, Blogger!
sepenggal catatan istimewa,
Al, Bandung, 28 Oktober 2014

Read More
/ /
Hari Minggu kemarin, dapat undangan untuk hadiri acara yang diadakan oleh Manulife. Eits, bukan Manulife Insurance lho ya, tapi Manulife Reksa Dana. Bersama sembilan teman-teman Blogger Bandung lainnya, kami hadir di tekape, yaitu di Istana Plaza, tepatnya di Giggle Box. Enaknya jadi blogger tuh begini nih, suka diundang untuk hadiri berbagai acara, jadinya nambah ilmu/wawasan, nambah pula jaringan pertemanan/network. Asyik khaaan?

Well, back to the topic. Acara dimulai sekitar pukul 4 sore, sesuai dengan yang dijadwalkan. Seperti biasa pula, segenap hadirin disuguhkan camilan, minuman sembari menikmati satu persatu agenda acara. Agenda acara utama hari ini, tentu saja seperti yang tertulis di atas tuh, pada judul, yaitu 3 Langkah Sadar Investasi ala Manulife Reksa Dana.

Yup, investasi! Sesuatu yang mungkin masih sangat banyak diabaikan oleh masyarakat kita, yang sehari-harinya berjibaku dengan urusan pemenuhan kebutuhan hidup yang semakin meninggi, sehingga mau tak mau, terpaksa harus mengenyampingkan urusan investasi sampai akhirnya bener-bener jadi gagap investasi. Butuh sih, tapi mau gimana lagi? Untuk biaya hidup aja kagak cukup, pegimane mau nabung atau invest? Itulah jawaban yang sering kita temukan jika pembicaraan tentang investasi mengemuka.

Kemanapun tujuan kita, perjalanan kita harus diawali dengan satu langkah awal. Dan untuk mengantar Anda menuju apapun tujuan hari depan Anda, kami persembahkan bukan satu, tapi sekaligus tiga langkah awal; 3i - insyaf, irit dan invest.

Quote bertulisan biru di atas, tertera di dalam booklet mini yang di-handout oleh Manulife Reksa Dana bagi para partisipan yang hadir, dan langsung menarik minatku untuk segera membalik ke halaman berikutnya. 3i? Insyaf, Irit dan Invest! Yuk kita intip satu persatu i-nya itu yuk!

i pertama : Insyaf

Insyaf di sini adalah menyadari bahwa untuk menempa kehidupan masa depan yang aman, nyaman dan terkendali, kita harus dengan sadar untuk mempersiapkannya. Harus benar-benar punya niat untuk mempersiapkannya dengan baik. Harus menyadari beberapa hal berikut ini;

1. Bahwa grafik kebutuhan hidup semakin hari semakin meningkat, bukannya menurun. Jelas donk, meningkatnya usia anak, meningkat pula tingkat pendidikannya, yang efeknya jelas kepada kebutuhan biaya yang semakin tinggi pula.

2. Pertambahan usia kita, berbanding terbalik dengan jatah usia produktif yang kita miliki. Jadi, sudahkah kita memikirkan dari mana kita akan mengambil biaya hidup untuk masa-masa tak lagi produktif [masa pensiun] kita nanti? Apalagi jika masa pensiun itu datang, masih ada anak-anak yang butuh biaya sekolah? Huft, bisa gaswat donk jika kita tidak mempersiapkan dari sekarang?

ii kedua: Irit

Jika pada mesjid-2 kita sering membaca tulisan 'sudahkah Anda shalat?' maka dalam mempersiapkan masa depan, ada baiknya kita juga menulis sebaris kalimat pengingat seperti ini nih 'sudahkah kita irit?', hehe. Yup, karena irit adalah bijak dalam memilah antara BUTUH dan INGIN. Laper atau Ingin makan? Perlu telepon atau ngiler ngelihat gadget baru? Hihi. Beda kan? Jadi bener-bener harus bijak di dalam mencermati antara yang diBUTUHkan dan diINGINkan.

Pastikan bahwa belanja yang kita lakukan itu LEBIH KECIL biayanya daripada penghasilan! ~tips irit paling penting
Untuk menjadi IRIT, sebenarnya banyak sekali hal-hal yang bisa dilakukan, misalnya dengan mengubah kebiasaan-kebiasaan kecil, seperti;
membawa bekal ke kantor sehingga ga perlu keluarkan uang untuk beli lunch; ngopi di rumah, jangan di cafe; kalo bisa bekas kenapa musti baru?; bikin sendiri kado teman; berkebun = liburan gratis + bunga gratis; dll.


 iii ketiga : investasi

Nah, ini! Ingat lho ya, bahwa investasi itu beda dengan saving! Investasi, adalah memberdayakan dana yang kita punya sehingga bisa berkembang dengan baik dan menguntungkan secara signifikan. Sementara menabung/saving, adalah menyimpan uang [jika di bank] dengan iming-iming bunga bank yang jumlahnya tidak seberapa dibandingkan dengan investasi. Memang sih, tingkat keamanan menabung jelas, sementara investasi, bisa untung bisa pula rugi. Huft.

Namun, tentu banyak kiat untuk berinvestasi agar resiko kerugian itu bisa diminimalisir. Salah satunya adalah dengan berinvestasi via reksa dana. Mengapa harus reksa dana? Karena Reksa dana adalah jenis investasi yang terdiversifikasi [ditempatkan pada beragam instrumen dan kelas aset], sehingga resiko lebih terkendali. Selain itu, berinvestasi melalui reksa dana lebih terjangkau biayanya. Pengelolaan investasi di Reksa dana dikelola oleh para ahlinya [manajer investasi], sehingga kita tidak perlu memantau dan mengelola investasinya setiap saat, dengan pengetahuan yang kita tidak mumpuni pula. :)

Informasi Nilai Aktiva dan Bersih dan kinerja reksa dana dapat dengan mudah diperoleh melalui media masa seperti surat kabar dan situs internet, di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan sesuai dengan UU Pasar Modal.

Satu lagi hal yang menarik yang perlu mendapat perhatian nih, Mantemans! Ternyata berinvestasi di Reksa dana Manulife, bisa dimulai dengan minimum seratus ribu rupiah lho! Wow!
Gimana, Sobs? Sudah sadarkah untuk mulai berinvestasi? :) Yuk lakukan sekarang agar lebih cepat menghasilkan, yuk!

sekilas info tentang Reksa Dana Manulife
Al, Bandung, 28 Oktober 2014






Read More
/ /
Bus Darussalam
Minjem foto dari sini
Bis di sebelah secara resmi bertuliskan 'Darussalam'. Artinya bis kota ini bernama Darussalam yang harusnya disebut sebagai bis Darussalam. Namun masyarakat, entah siapa yang memulai, malah memanggilnya sebagai ROBUR. Tak satu pun yang mau meluangkan waktu untuk memanggilnya sesuai dengan yang tertuliskan pada badan hijaunya yang besar itu.

Penampakannya yang tua dan beberapa darinya malah terlihat telah rongsok, adalah berbanding lurus dengan masa baktinya yang telah begitu lama. Aku sendiri mengenalnya sejak kami sekeluarga pindah ke Banda Aceh, dan oleh Ayah, aku diharuskan menggunakan transportasi umum untuk mencapai sekolahan. Jadilah aku memilih transportasi paling murah dan menyenangkan ini. Asyiknya, aku tuh tidak harus sendiri, karena ada teman-teman satu genk [kami berempat] yang juga memiliki nasib serupa, harus dengan setia menanti kehadiran si hijau berbadan besar ini. Ga peduli ada seat atau harus berdiri, yang penting cukup dengan mengeluarkan Rp. 50,- kami bisa sampai di sekolah. Begitu juga pulangnya, cukup dengan Rp. 50,- kami bisa sampai rumah. Cerdas bukan? Eits, sebenarnya sih bukan perkara cerdas atau tidaknya sih, tapi targetnya adalah bagaimana meningkatkan uang saku yang diberikan pas-pasan oleh ayah. Hehe.

Bercerita tentang kenangan ber-ROBUR-ria ini, memang tidak akan cukup satu dua artikel, karena banyak banget memory daun pisang yang tercetak sempurna di masa-masa itu. Dan kali ini, yuk Sobs, duduk manis biar aku share sebuah cerita lucu tentang pengalaman ber-ROBUR- ria, yang sukses bikin kulit mukaku seakan kebas bak disuntik bius sekian persen, gegara menanggung malu. Haha.

Ceritanya begini;
Pagi itu, seperti biasanya kami [empat orang] sudah berdiri dengan rapi di tepi jalan, menanti si robur datang menjemput lewat. Biasalah, sambil ngerumpi dan tertawa-tawa. Begitu si robur datang, dengan cekatan kami pun melompat masuk ke dalam. Mencari [dengan mata] kalo-kalo ada seat yang masih tersisa. Dan seperti biasa, jatah kami, anak-anak SMA ini yang naik di tengah jalan [di tengah rute], hanya kebagian tempat di belakang supir. Eits, itu bukan jatah duduk lho ya, tapi jatah berdiri. Dan bagi kami, berdiri pun tak masalah asal sampai dengan selamat di sekolah tercinta, dan tidak terlambat untuk belajar. *Tsah, gayaaa*, yang iya adalah yang penting tidak terlambat sehingga tidak kena setrap. Hihi.

Pagi itu, begitu posisi berdiri di belakang supir sudah setle, kami pun melanjutkan rumpian kami yang tertunda. Habis, masih hot banget tadi, eh si robur datang, terpaksa deh stop dulu, tapi begitu sampai di tekapeh, otomatis lanjut lagi dunk. Mana boleh kita tidak menyelesaikan yang telah kita mulai dengan sempurna? Awalnya sih kami bisik-bisik tetangga manis, agar Pak Supir yang bermuka ketat itu tak terganggu. Namun, kira-kira lima menitan lagi mencapai sekolahan, kami lupa menahan diri. Volume bergosip tak lagi stabil. Cekakak-cekikik gegara si teman membanyol, membuat tawa kami berderai. Pak supir yang bermuka ketat itu pun marah. Esmosi. Langsung membentak.

"Kalian ini ya! Brisik! Dari tadi ketawa-ketawa, kayak bukan anak sekolah saja!"

Ampyuuun. Kami langsung mingkem otomatic berjamaah. Malu banget rasanya. Apalagi di kursi dekat kami berdiri itu ada dua cowok keren yang langsung menatap ke arah kami dengan nada mencemooh. Haduh, Gusti.

Tak lama, si hijau berbadan besar yang kami tumpangi itu pun berhenti. Sekilas ekor mataku menangkap bayangan gedung sekolah. Otakku langsung memerintahkan kakiku untuk beranjak. Refleks aku berjalan cepat, dan hup! Melompat turun beriringan dengan beberapa orang yang juga telah sampai di destinasi tujuan mereka. Anehnya, aku malah mendengar teriakan teman-teman di belakang. Kutoleh ke arah mereka. Olala, mereka masih berdiri dengan setia di belakang si pak supir yang semakin bermuka ketat. Kuperhatikan sekelilingku dengan seksama manakala mereka meneriakkan "Al, kita belum sampai!"

Oalah Gusti, ternyata si Robur barusan berhenti di depan sekolah Analis Kesehatan, bukan di depan SMAN-Tiga. Haduh. Malunya eikeh! Ampyuuun. Kulihat teman-temanku cekakak cekikik bersama bus yang telah melaju, meninggalkan aku yang harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Ga terlalu jauh sih, cuman malunya ini lho! Mana si abang kondektur ikutan menertawakan pula. Iih, dasar! Pasti nanti kalo naik robur yang ini lagi, aku diketawain deh. Hih!

Dan, sambil menekuk wajah, aku pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Di ujung sana terlihat teman-temanku dengan setia menanti, begitu mereka turun dari Robur. Setia memang, tapi cekakak cekikik menertawakan aku itu lho, yang bikin keki. Awas yaaa, kapan kalian ga kena!

Well, Sobats, punya pengalaman lucu juga? Yuk share di kolom komentar yuk!

Salah satu kenangan naik Robur,
Al, Bandung, 22 Oktober 2014


Read More
/ /
Seperti biasa, antrian di money changer ternama ini memang selalu panjang. Udah bela-belain datang pagi, eh teteup aja ada yang datang lebih duluan, dan sudah membentuk antrian yang lumayan. Ya sudahlah, obat mujarab untuk situasi ini hanya dua, ber-SABAR dan online, check and recheck informasi terkini sembari menyapa teman-teman via social media.
Eh, sedang asyik blogwalking, sebuah pesan di BBM nangkring manis. Dari ayahanda tercinta, nun di Banda Aceh sana. Seperti biasa, pesan dari Ayah, cukup satu kali send tapi panjang dan lengkap. ☺

“Neuk, tolong carikan Ayah dan mamak tiket murah untuk ke Bali, ya, besok pagi. Makcikmu masuk rumah sakit, barusan Ayah dapat beritanya. Inginnya berangkat sore ini, tapi selain tiketnya mahal, juga Ayah masih punya beberapa hal yang harus diurus.”

“Oh, ☹, baik, Yah. Al, masih di money changer nih, ntar kalo udah konek ke Laptop, Al carikan sekalian belikan yaaa. ☺”

“Ok. Trims, ya, Neuk!” dari Ayah yang langsung kubalas dengan ‘Sama-sama, Yah. ☺”

Aih, ngapain juga harus nunggu konek ke laptop? Bukankah traveloka.com sudah meluncurkan sebuah aplikasi yang memudahkan pengguna smartphone untuk bisa book and buy tiket pesawat langsung dari smartphone-nya? Yes, sambil nunggu giliran, mending download aplikasi keren ini dulu dari google play ah. Situs ticketing favoritku ini emang makin keren aja, semakin memudahkan pelanggannya untuk bertransaksi hanya melalui genggaman. Cool deh pokoke. Ah iya, ternyata selain tersedia di google play, tiket pesawat app ini juga bisa diunduh dari app store lho!




Hidup di masa kini emang semakin canggih aja. Gimana enggak, coba, Sobs! Untuk belanja tiket, kita ga perlu lagi susah payah konek ke internet via laptop, karena kini urusan ticketing sudah teramat mudah. Cukup via smartphone dalam genggaman, sambil ngantri misalnya, kita sudah bisa browsing tiket, membayarnya secara online [net banking or sms banking], lalu tunggu sekejap, eh ticket [electronic ticket] sudah hadir di ‘genggaman’. Apa bukan WOW kalo sudah sepraktis ini, Sobs? ☺. Thanks to technology deh pokoke. Thanks juga to traveloka.com untuk tiket pesawat app- nya yang sudah begitu memudahkan kami, para pelanggannya.
Beberapa temans sempat berkomentar gini deh, gegara aku tuh suka banget promosi-in traveloka.com ke mereka.

“Ih, emang elu dibayar berapa sih, Al sama traveloka, sampe segitunya promosi-in dia?”

Oow, apa iya, aku terlihat seperti traveloka's ambassador? Haha.... Ah, ga maksud promosiin agen perjalanan yang satu ini kok, tapi masak harus dijelekkan jika travel agent ini memang memiliki kelebihan seperti berikut ini?

Pemberitahuan langsung ketika e-tiket sudah diterbitkan

Ketika menggunakan aplikasi tiket pesawat ini, kita tuh ga perlu menunggu terlalu lama untuk memperoleh e-tiket. Ketika proses book and pay sukses terlaksana, maka kita tinggal menunggu beberapa menit untuk memperoleh e-tiket. Adanya fitur “Tiket Saya”, membuat kita tak perlu sibuk buka email lho, karena e-tiket sudah nangkring manis di dalam fitur ini.

Keberadaan tiket kita di dalam fitur ini, membuat kita ga perlu repot nge-print out ticket saat akan berangkat, cukup tunjukkan kode booking tiket ke bagian check-in counter di bandara, langsung dari handphone kita untuk proses lebih lanjutnya [boarding pass and luggage].

Fasilitas Online Chat dengan Customer Service Traveloka

Terkadang, tidak semua proses berjalan mulus saat kita melakukan book and buy the ticket. Enaknya di traveloka tuh, fitur online chat-nya itu sudah sangat responsive. Didukung oleh aplikasi yang user friendly, plus customer service officer-nya yang ramah, sungguh membantu jika kita mengalami kendala. Jadi, walau selama ini belum pernah ngalami kendala significant dalam beli-beli tiket, fitur yang satu ini tetap membuat eikeh merasa aman deh untuk terus bertransaksi di traveloka.*Aih, ini mah kayak ngiklan, Al. Hehe.*

Fitur sortir tiket

Fitur yang satu ini, menurutku ngebantu banget nih, Sobs! Menyediakan semua informasi tentang harga tiket, durasi perjalanan, keberangkatan pesawat dan kedatangan pesawat tersedia lengkap. Dengan adanya fitur ini, kita jadi bisa memilih penerbangan paling pagi yang tersedia sehingga perjalanan kita bisa berjalan lancar.

Beragam pilihan metode pembayaran

App tiket pesawat ini menyediakan beragam metode pembayaran, antara lain: kartu kredit, ATM atau Internet Banking. Ini memudahkan kita untuk memilih metode pembayaran yang kita inginkan. Selama ini sih, aku lebih nyaman menggunakan internet banking karena sangat aman dan efisien, jadinya ga repot-repot ke atm lagi dweh!

Nah, kalo sudah dimudahkan seperti ini, aku sih jadi males nyari agen perjalanan lain, Sobs, apalagi dengan hadirnya tiket pesawat app, hadeuh, jadi makin suka deh dengan traveloka.com, dan jadi makin sering berburu tiket murah untuk traveling! Aih..., cek rekening dulu ah, pengen traveling lagih!


Senangnya berburu tiket murah di traveloka.com
Al, Bandung, 16 Oktober 2014
Read More
/ /
Setiap blogger, sudah pasti punya keinginan untuk tidak hanya menulis di media digital alias blog, tapi juga ingin menulis di buku alias menerbitkan buku. Bener ga, Sobs?
Setidaknya, kalaupun belum berkesempatan menerbitkan buku, setidaknya menjadikan tulisan-tulisannya di blog menjadi sebuah ebook, becuuul? :)

Itu juga keinginan yang sempat sekian lama bersemayam di dalam hatiku, dan membuat aku susah makan, susah tidur, susah konsentrasi dan susah fokus, ya akibat itu tadi, pengen banget menerbitkan buku! Sudah punya beberapa naskah, tapi menembus ke penerbitannya itu lho, yang bikin pusing tujuh keliling! Bikin hati kembang kempis, gegara minder dan merasa ga akan mampu menarik perhatian penerbit mayor untuk mau melirik naskahku.
Pengen maju ke penerbit indie, teteup aja kudu punya dana. Iya khaaan?

Hingga akhirnya, saking ga bisa tidur dan ga konsen, ga bisa fokus, suatu malam aku pun bersemedi berkunjung ke rumah Si Mbah [Google] untuk minta wejangan. Dan, hasil duduk dan chit chat ngobrol dengan si Mbah, sungguh luar biasa, membersitkan ide cemerlang dan keberanian serta kenekadan yang di luar dugaan! Malam itu, aku ga sabar nunggu pagi. Ingin segera menghubungi ayahku, ingin dibantu mencari notaris yang bisa membantuku bikin CV. Yes, CV untuk penerbitan indie! Ahai..., sungguh cemerlang ide itu bukan? Hehe.



Lho, kok bikin penerbitan pake notaris dari Aceh sih, Al? Jauh amat, kan domisili elu di Bandung? 
Iya sih, tapi gimana, Sobs? Notaris di Bandung dan Medan, bayarnya mahal euy! Masak sampai 8 juta tuh mintanya. Sementara info dari beberapa link di rumah Si Mbah, mereka tuh [para narasumber] bilang bahwa tarif untuk bikin penerbitan, notarisnya mau dibayar di bawah satu jeti tuh. Jadi mendengar kata 8 jeti, jelas bikin eikeh kaget dan keok dunk ah! Mihil bingits ituh mah! 

Makanya eikeh minta tolong ayahanda, kan beliau punya teman yang notaris tuh. Dan Alhamdulillahnya, keesokan paginya, si Ayah tercinta langsung beraksi. Ga cuma telepon, tapi bertemu langsung ke notarisnya, dan bincang-bincang serta cincai-cincai, akhirnya dapat harga 700 ribu rupiah untuk bikin akta notaris. Ahai, Alhamdulillah. Setidaknya punya akta notaris dulu deh, urusan yang lainnya bisa nyusul. Toh penerbitan indie ini masih bayi banget. Belum komersil, baru juga akan lahir kan? Yang penting bisa dipakai sebagai kendaraan menerbitkan buku bagiku. Dan tentunya nanti, kuharapkan juga bisa menjadi kendaraan bagi rekan-rekan blogger yang ingin menerbitkan buku, gitu lho!

Dan, Sobats tercinta, proses bikin akta notaris ini ternyata ga memakan waktu lama kok. Seiring itu, aku juga fix-kan naskah, belajar In-Design pada seorang teman, untuk bisa nge-layout naskah dan menjadikan ebook [print pdf setelah di-layout]. Baru setelah akta notaris selesai, aku ajukan ISBN ke perpustakaan nasional, untuk menerbitkan novel Selingan Semusim. Dan, taraaaaa...., proses yang tidak berbelit, sungguh membuat hati gembira. Lengkap sudah e-novel Selingan Semusimnya, tinggal cari percetakan murah untuk menjadikan e-novel ini ke versi cetaknya.

Awalnya sih hanya ingin mencetak 100 buku saja, ternyata harganya mihil, Sobs! Untuk 210 halaman buku ukuran A5, dikenakan harga sekitar tiga juta lima ratus ribu rupiah. Sementara jika aku naikkan menjadi seribu buku, harganya malah kena tujuh juta rupiah. Jadi jauuuuuh lebih murah kan? Maka, aku pun nekad mencetak sejumlah 1000 buah novel. Nekad memang, tapi daripada dua kali cetak sebanyak @100 buku? Lebih hemat mana coba? Hemat cetak 1000 buku sekaligus kan? Tinggal pikirkan strategi pemasarannya aja ntar piye. Hehe.

Alhamdulillahnya, Sobs, novel fenomenal ini pun laris manis, terjual sesuai dengan target. Masih banyak sih yang tersisa, tapi sudah balik modal gitu lho! Hehe.

Selanjutnya? Ya gitu deh, setelah punya kendaraan penerbitan indie ini, aku pengen nerbitin buku lagi dunk, ada beberapa naskah yang sedang digarap. Satu di antaranya adalah berupa kisah tentang para survivor tsunami, yang sempat aku tulis di blog. Ga ada salahnya dunk jika tulisan-tulisan di blog, yang inspiratif atau bermanfaat itu dibukukan?
calon buku, sedang dalam proses pengerjaan
Nah, pasti Sobats juga ingin membukukan tulisan-tulisan positif yang ada di blog masing-masing khaan? Yuk atuh, let's book our blog yuk! Ga sulit kok, dan jangan kuatir, Penerbitan Smartgarden siap memfasilitasi kok. *Bukan sekedar promo lho yaaa!*

Sekedar berbagi inspirasi,
Al, Bandung, 13 Oktober 2014


Read More
/ /
Melanjutkan postingan 30 Facts about Me part 1, yuk kita langsung ke poin nomer 16 yaaaa. :)

16. Ditembak oleh adik kelas

Hihi..., yes! Adik kelas gitu lho! Saat itu aku jadi anak baru, pindahan dari Sigli, masuk ke SMP-Negeri 2 Banda Aceh, di kelas II-7, semester dua. Nah, pada hari pertama jadi murid baru itu, eh, pas jam istirahat, si adik kelas itu, masuk ke kelasku, dan langsung mendekat.

"Halo, kamu anak baru yang tadi pagi mulai sekolah di sini kan? Kenalin, aku Eddie." Uhuk, jentelmen banget ini cowok yak?

Aku balas ulurkan tangan, sebut nama. 'Iya, Alaika Abdullah!'

Dan, ya ampun, si anak bau kencur ini menggelitik telapak tanganku dengan jari tengahnya. Aku kaget, apalagi dia menarik tanganku agar tubuhku mendekat ke dia, lalu dia berbisik, "Al, aku suka sama kamu, mau ya jadi pacarku?"

Oh My God! Aji gile! Ini penghinaan apa penghormatan yak? Aku kan anak kelas dua, masak ditembak oleh adik kelas? Merah padam mukaku, apalagi mendengar tepuk tangan dari teman-teman yang sedang berada di kelas. Reaksiku selanjutnya? Salting dan menolak cintanya mentah-mentah, karena merasa dihina. Hahaha. Dasar bocah!

17. Jago mengetik 'buta'

Memiliki kemahiran mengetik 10 jari plus blind system alias mengetik buta sejak SMP, adalah berkah yang tak terhingga buatku. Belajarnya sih dari sekolah, kan ada mata pelajaran mengetik tuh, dan aku mampu melatih jemariku untuk bertugas sesuai fungsinya tanpa mata harus melihat ke tuts mesin ketik. Dan Alhamdulillah, memiliki kemampuan ini, membuat aku dilirik ayah untuk membantunya mengetik laporan-laporan yang harus dibuatnya secara berkala setiap minggu. Dan jadilah aku staff khusus ayah, mengetikkan laporan yang sudah disiapkan ayah dalam naskahnya yang bertulis tangan. Efeknya? Aku dapat gaji dunk! Alhamdulillah, gajiannya mayan banget, bisa nambah-nambah uang jajan.

18. Kami dan Burly, si monyet kesayangan

Jika anak-anak lain suka kucing, kelinci atau piaraan imut lainnya, maka aku dan adik-adik tuh sukanya melihara monyet! Itu pun terinspirasi dari sebuah novel detektif cilik di mana tokohnya memiliki seekor monyet yang cerdas. Nah, berawal dari situ, adikku, Zai, membujuk nenek kami yang tinggal di Lhoksukon untuk sudi menghadiahkan kami seekor monyet. Dan saking sayangnya sama cucunya ini, suatu pagi, si Nenek hadir di depan rumah. Turun dari becak, yang segera kami bantu dengan menurunkan kardus demi kardus oleh-oleh, seperti biasa jika beliau mengunjungi kami. Dan olala, salah satu kardus itu, berlubang-lubang. Dan dari celah-celah itu, terlihat bulu abu-abu dan sepasang mata yang mengintip dengan iseng. Ya ampyuuun, monyet! Burly adalah nama anugerah Zai untuknya.

Sore hari, aku sering mengajak Burly jjs, sayangnya, ibunda tercinta ga suka banget dengan aksi jalan-jalanku bersama Burly, masak anak gadis bawa monyet, ga keren ih!

19. Berantem [lagi] di sekolah

Ga punya maksud untuk menyakiti teman sekolah. Tapi teman yang satu ini [cowok] memang terkenal badung. Suatu hari, dia membuat ulah di depan mataku. Melakukan pelecehan terhadap teman sekelas kami, si cantik Clara Dewi yang lemah lembut dan pemalu. Masak si cowok ini, seenaknya saja nyolek dada Dewi, jadi keingat kejadian waktu aku di SD dulu deh, saat kejadian yang sama menimpa temanku [cewek] yang lain. Dan karena itu pula aku terlibat perkelahian, guna membela teman yang dilecehkan itu.

Perkelahian pun tak terelakkan. Tamparan kerasku melayang ke pipi si cowok, yang langsung membuatnya terperangah, membalas, dan kami pun bergumul. Guru Binpel yang kebetulan lewat, langsung turun tangan melerai. Dan kami pun bermusuhan setelahnya, baru baikan lagi setelah beberapa teman turun tangan mendamaikan.

20. Jadi kribo

Huft, ini adalah kejadian yang paling kental menggores di memori. Sukses membuat trauma. Saat itu, aku sedang bersiap untuk menjadi murid baru di SMA Negeri 3, Banda Aceh. Tahun itu, 1986, SMANTig masih merupakan sekolah terfavorit, dan bangganya luar biasa berhasil menjadi murid baru di situ.
Persiapan menjadi murid baru di sekolah favorit pun kulakukan dengan exciting. Salah satunya adalah mengubah gaya rambut. Kala itu, rambut 'wave' bergelombang sedang trend banget. Maka, rambut lurus sebahu yang aku miliki pun, aku ajak ke salon untuk di 'waving'. Berharap penuh akan penampilan baru yang wow sehingga akan membuatku tampil sebagai anak baru yang cantik dan menarik nantinya.

Tiga puluh menit waving pun berlalu. Dag dig dug jantungku menanti kakak stylist membuka satu persatu alat pengeriting yang dililitkan di rambutku. Ya Allah, semoga hasilnya secantik yang kuharapkan ya, Allah. Aamiin. 

Dan....? Ya Allah, Masyaallah, wajahku jadi tak karuan dengan tatanan rambut yang kini jadi kribo ala Ahmad Albar! Aku langsung ngamuk, mencak-mencak hingga suasana salon jadi heboh, temanku pun ikut mengkerut, takut.

Apa daya, saat itu teknologi bounding/rebounding belum ada. Jadilah aku mau tak mau harus pulang dengan penampilan baru yang sungguh jauh dari harapan. Air mata mengalir dengan setia hingga aku disambut oleh adik-adikku dengan olok-olok, begitu sampai rumah.

"Lho, kakak!!!! Kenapa jadi seperti Ahmad Albar gitu? Hahaha...". Semakin mengalir deras air mataku. Untunglah ayah dan ibu kemudian tampil menengahi, bahkan menjadi pahlawan dan penghibur lara hati.

"Ah, masih tetap cantik kok, dasar mukanya cantik, ya diapa-apain juga tetap cantik. Coba deh hapus air matanya, dan kakak lihat di cermin wajah kakak yang cantik, masih cantik kok kak!" Bujuk ayah. Tapi aku TAK PERCAYA, malah tetap merasa jadi si buruk rupa! Mana pede eikeh besok masuk sekolah, jadi anak baru dengan penampilan yang seperti ini? Cewek rambut Kribo. Hiks....


21. Salah Turun Gara-gara dibentak supir Robur


Robur, adalah bis kota yang biasanya wara wiri sepanjang Depan Mesjid Raya menuju Darussalam atau sebaliknya, mengangkut penumpang yang kebanyakan adalah para mahasiswa dan anak-anak sekolah. Sebagai anak sekolah yang super aktif, aku dan teman-teman se-geng, suka banget naik angkutan umum yang satu ini. Selain murah, penumpangnya rame, tempatnya besar dan luas. Terkadang kami malah kebagian jatah berdiri. Biasanya itu terjadi setiap pagi, saat akan ke sekolah. Nah, ini terjadi ketika kami duduk di bangku SMA kelas dua.

Seperti biasanya, kami kebagian tempat berdiri di belakang supir, berpegangan pada tiang-tiang yang memang disediakan untuk berpegangan. Seperti biasa pula, kami ngerumpi dengan ceria, dan tertawa-tawa. Namun kali ini, pak supir [mungkin sedang ricuh dengan istri di rumah], gampang banget marah. Entah di mana salahnya kami, eh tiba-tiba dia membentak. Suaranya menggelegar. "Kalian ini, ga bisa apa pelankan suara. Jangan ketawa-ketawa ngakak seperti itu!"

Kami pun kaget. Rasanya maluuuuuu banget! Langsung deh kami terdiam. Aduh, malu pisan euy! Dan kemudian, bus berhenti di depan sebuah sekolah. Aku pun tanpa ba bi bu, langsung ngeloyor turun. Terdengar suara teman-teman memanggil, tapi aku sudah menjejakkan kaki di tanah. Apaan sih, orang udah sampe kok bukannya langsung turun. Mau tambah malu di situ? 
Etapi, ya ampyuuuun, ternyata si Robur berhenti di depan sekolah Analis Kesehatan, bukan SMANTig! Wekekeke, aku salah turun. Kulihat teman-temanku menahan tawa di atas bus yang telah melaju. Terpaksa deh eikeh jalan kaki melanjutkan ke sekolah yang memang tak seberapa jauh lagi.

22. Nenek Saya Meninggal, Pak

Sudah menjadi kebiasaan dan peraturan di sekolah, bagi siapa yang terlambat hadir untuk mengikuti upacara bendera, maka kami akan di setrap di sebuah ruangan, dan Senin yang malang itu, aku terlambat! Pagar sekolah sudah ditutup. Takut donk, apalagi guru yang bertugas kali itu adalah si Pak RT [Ringan Tangan]. Aih, harus punya alasan yang masuk akal nih. Dan senjata andalanku adalah, teteup, menangis. Kuingat kejadian paling menyedihkan dalam hidupku, yang adalah saat nenek tercinta meninggal dunia. Kuhimpan seluruh kesedihan hingga kemudian air mata mengucur deras. Aku menangis dalam barisan [siswa yang terlambat], yang berbaris di dalam ruangan itu. Pak RT mendekat, 'Kenapa kamu menangis? Ada apa?'

"Hiks.... saya masih sedih Pak, nenek saya meninggal dunia tiga hari lalu. Pagi ini kami baru balik dari kampung. Makanya telat."

"Oh, ya sudah, kamu masuk ke kelas saja sana, istirahat ya." Hihi.

23. Jajan sepuasnya, bayar seadanya.

Eits, ini bukan murni eikeh lho ya. Nah, di kantin SMANTig, dulu [ga tau kalo sekarang], kantinnya bebas banget. Anak-anak makan kue-kue sepuasnya, tapi yang dibayar ala kadarnya alias suka nembak. Makan lima, diakui dan dibayar paling cuma 3. Nah, virus itu juga terkadang menular ke eikeh gituh, plus teman-teman juga. Tapinya, di saat-saat akhir sekolah, mungkin juga berkat tausiah-tausiah dari ibu guru agama, aku dan teman-teman se-geng kemudian memutuskan untuk mulai mencicil 'hutang' kue itu. Caranya? Misalnya makan kue 3, maka kami akan membayar seharga 6 kue. Sehingga pelan-pelan [menurut kami lho ya], hutang itu pun lunas sebelum kami meninggalkan SMANTig. Hihi.

24. Salah baca pengumuman Sipenmaru.

Sipenmaru? Yes, ketauan kan tahun berapa itu? Hehe. Jadi, aku tuh ikut Sipenmaru tahun 1989, dan saat baca pengumuman di koran, langsung lemes. Nangis. Sang baginda raja, ayahanda tercinta menghampiri. "Lho....lho, salah baca kali nak. Sini biar ayah cari namamu. Pasti ada di situ."

Dan..., jreng...jreng! Nah, ini nomormu bukan? Kurebut koran itu, telungkup, melihat dengan teliti. Ya Allah, Lulus! Aih, lulus di Fakultas Teknik, jadi anak Teknik Kimia. Ahamdulillah, rasanya gimana gituuuuh!

25. Ga bisa nyanyi.

Aku paling takut kalo sudah disuruh menyanyi. Bukan apa-apa sih, Sobs, cuma aku bener2 ga mampu kalo disuruh yang satu itu. Udah nyoba, belajar bersungguh-sungguh, tapi teteup aja iramanya lari sana sini, belok kiri belok kanan gituh.

26. Suka menggambar

Nah, kalo yang ini mah, eikeh suka banget! Tapi herannya, setelah mengenal komputer, berinteraksi dengan internet, aktif menulis, justru hobby menggambar ini tertinggal jauh. Jika dulu begitu gampang menirukan bentuk-bentuk benda untuk digambar, kini rasanya kok sulit banget ya. Harus belajar lagi deh ini.

27. Penggila dunia maya.

Nah, kalo ini mah ga heran kan? Sejak kenal internet, aku memang sulit move on! Jika dalam sehari saja ga konek ke net, dan main ke si mbah, buka socmed, dan blogging, rasanya kok seperti ada yang hilang gituh!

28. Jadi Srikandi Blogger 2013

Nah, ini adalah berkah dari blogging. Terpilih sebagai Srikandi Blogger Utama di dalam event yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger bersama Acer Indonesia adalah sebuah prestasi dan apresiasi tak terduga bagiku. Efeknya? Happy banget pastinya, dan semakin membuatku ingin menjadi manusia yang lebih bermanfaat bagi sesama.

29. Suka Nekad dan sulit tinggal diam

Yup, ayah bilang aku orangnya nekad. Tapi biasanya nekadnya juga mikir-mikir alias penuh pertimbangan. Salah satu contoh nekad positif ini adalah, ketika keinginan hati untuk menerbitkan buku semakin menggelora di hati, sementara untuk menembus penerbitan mayor atau indie, bukan hal yang mudah. Indie sih bisa, tapi teteup butuh modal kan? Maka, setelah googling dan timbang sana timbang sini, aku nekad melakukan gerakan 'sekali mendayung dua tiga pulau terlampau'.

Aku nekad bikin penerbitan indie, bertajuk 'smartgarden publishing and printing'. Alhamdulillah, walau tidak maju pesat, tapi media satu ini telah menjadi kendaraanku dalam menerbitkan buku, dan Insyaallah ingin memfasilitasi teman-teman lainnya untuk terbitkan buku.

30. Pekerja Keras, dan fast learner

Tadinya ga yakin akan hal ini, karena menurutku, adalah orang lain yang bisa menilai kita dengan baik, ketimbang menilai diri kita sendiri. Tapi..., self assessment yang aku lakukan, ternyata juga beroleh hal yang sama dengan pendapat dari sumber luar [orang lain], bahwa ternyata diriku memang seorang pekerja keras dan pembelajar yang cepat. *Boleh dunk muji dan berbangga dengan diri sendiri? Kan self-motivated. Hihi*

Pantesan, walau ber-background chemical engineer, aku tuh fun and fine aja saat beralih profesi, dan bergabung di berbagai NGO international, yang bidang geraknya malah menjauh dari dunia industri/chemical things. Aku belajar banyak tentang bagaimana bekerja di medical NGO, bagaimana melakukan trauma healing, bagaimana berinteraksi dengan orang yang terkena bencana, bagaimana berinteraksi dan memotivasi orang-orang berkebutuhan khusus [saat bekerja di Handicap International] dan berbagai bidang pekerjaan di sector humanity lainnya.
 ~ Hidup ini indah, jika kita mampu menyiasati dan menjadikannya fun and fine. ~

Nah, Sobats tercinta, 30 point 30 facts about me akhirnya terungkap juga, semoga selain bikin cengar-cengir, beberapa yang tertulis serius, tidak menjadikannya terlihat sombong yak!
Hayo, mana 30 facts about you, ayo, berani ga gokil-gokilan menuliskannya?

Catatan iseng, 30 facts about me
Al, Bandung, 10 Oktober 2014



Read More
/ /
Ehem! Akhirnya duduk manis menjawab tantangan dari adinda yang ganteng, Hijrah Saputra Yunus, sang Gamin [Agam admin] grup Gam Inong Blogger, tentang 30 fakta tentang diri sendiri. Inginnya sih menjawab tantangan ini sesegera mungkin alias ASAP [as soon as possible], tapi apa daya, ternyata ASAP-nya baru sampai sekarang ini. Hihi.

Well, berbicara tentang fakta mengenai diri sendiri, sebenarnya bukan hanya 30 sih, tapi bisa lebih banyaaaaak. Tapi ya sudahlah, coba kita duduk manis dan memilih serta memilah, mana yang layak tampil yang kira-kira bisa bikin Sobats cengar cengir yak!

Okeh, inilah 30 fakta tentang akyu.... *gayalebay,
etapi..., karena 30 poin plus penjelasannya bakalan panjang, maka postingan ini aku penggal jadi dua bagian deh yaaa, siap?

1. Anak pertama dan satu-satunya perempuan

Foto milik pribadi
Terlahir sebagai anak pertama dan satu-satunya perempuan, ternyata tidak membuatku menjadi anak yang dimanja. Kesetaraan gender telah diterapkan bahkan sejak aku kecil. Huft. Mulai dari [ikutan] jaga burung di sawah hingga ke angkut air dari sumur di luar rumah [di pojokan pekarangan nun jauh di sana], untuk dibawa masuk dan diisi ke dalam beberapa guci [reservoir] penampung air. Huft, kayaknya ini nih yang bikin eikeh tumbuh menjadi cewek yang tidak tinggi, gegara kedua tangan asyik mengangkut air di dalam ember [timba] plastik yang lumayan besar ituh, jadinya tubuh juga ikut memendek kali ya? emang ngaruh?

2. Anak Desa yang Happy and Ndeso

Terlahir sebagai anak desa, di sebuah desa bernama Lamkawe, Kembang Tanjung, membuat masa kecilku happy dan ndeso. Walo ga punya lembu atau pun kerbau, aku selalu 'curi-curi' dari pandangan ibunda untuk bisa main ke rumah tetangga sebelah, yang menugaskan anaknya [teman satu kelasku] untuk menyuapi makanan ke lembu mereka. Diam-diam aku akan hadir di sana, dan menggantikan tugas Balah, temanku itu menyuapi sang lembu. Dan lembunya? Langsung semangat deh makannya saat disuapi oleh aku. Iya dunk, kan aku udah rapi dan wangi saat main ke situ, sementara si Balah, masih bau sawah!
Eits, Mantemans pernah nyuapi lembu/sapi/kerbau makan? Hihi... asyik lho!

3. Anak perempuan yang sangat pemalu

Nah, fakta yang ini, terjadinya duluuuu sekali! Bukan sekarang lho ya? Duluuuuuu, aku tuh tumbuh sebagai anak yang sangat pemalu. Entah kenapa, rasanya sulit sekali untuk berbicara di depan orang-orang yang tidak serumah dengan kami. Apalagi jika ada tamu, maka, jangan harap mereka bisa bertemu denganku, itu pula yang membuat aku selalu saja paceklik di saat hari raya. Ya iyalah, gimana coba mau dapat salam tempel, sementara bertemu muka dan salaman dengan para tamu aja malyuuu. *idih

4. Malu-maluin 

Ini adalah efek dari sifat pemalu ku yang luar biasa itu, Sobs! Jadi critanya begini. Suatu hari, ayahku sakit dan ga bisa ke kantor seperti biasanya. Nah, karena setiap harinya, Om Amin, rekan sejawat ayah selalu melewati gang rumah kami saat akan ngantor, maka aku diminta ayah untuk menanti Om Amin lewat, dan menitipkan surat ijin Ayah ke beliau. Maka, aku dengan pede menanti di ujung gang. Aku yakin, pasti aku akan dengan gagah berani menyetop Om Amin nanti. Ga perlu malu, toh Om Amin kenal baik denganku, anak ayah!
Namun, olala! Jreng...jreng! Om Amin pun tiba, dan melambatkan laju sepeda motornya, lalu menyapa. "Halo Al, kok main di jalan? Ga sekolah?"
Ow..ow! Aku kok malah gemetar. Dan gugup menjawab. 'Masuk siang, Om. Lagi nyari capung." Ampyun, kok malah jawaban itu yang keluar dari mulut eikeh? Hadeuh! Gaswat ini, bisa ngamuk deh baginda raja yang sedang atit. Dan begitu si Om Amin berlalu, sekonyong-konyong feeling-ku mendung kelabu. Kebayang amukan sang baginda begitu tau suratnya masih duduk manis di dalam saku jaketku. Hihi. Upaya terbaik yang sanggup kupikirkan kala itu adalah, menangis! Ya, MENANGIS. Maka aku pun mengusap air mata sambil balik ke rumah, yang langsung disambut oleh sang Baginda, heran.

'Lho, kok anak ayah nangis? Kenapa? Udah dikasih surat ayah?' Hadeuh, gaswat!

'Banyak kali nyamuk, Yah. Hu..hu..hu. Suratnya lupa Al kasih... maaf, Yah..."

Dan, aku pun kena setrap!

5. Anak perempuan tomboy

Untungnya, fase malu-malu dan malu-maluin ini tidak berkepanjangan. Ayah menemukan cara jitu. Tidak memaksa apalagi melatih aku untuk terampil bicara apalagi menerjunkan aku ikutan public speaking course, tapi malah membelikan buku tulis warna warni serta kelir dan buku gambar. Lalu aku pun tenggelam di dalam merangkai kata, menggambar dan menulis cerita. Aih, ayah tuh tauuuuu aja kebutuhan anaknya. Aku pun asyik dengan hobby baru dan kepercayaan diri yang tiba-tiba saja tumbuh. Aku dengan bangga sering menunjukkan hasil karyaku pada teman-temanku, teman ayah atau siapa saja yang datang dan menyapa. Tanpa kusadari, sifat pemalu itu terkikis sudah, dan malu-maluin itu, juga menyingkir. Hehe. Etapi, akunya malah berubah menjadi anak perempuan tomboy dan garang. Suka mendominasi kalo bermain dengan teman-teman, bahkan kadang suka ngakalin. Hihi. Hush, ssst! Diem!

6. Ga mau sekolah

Jika anak lain begitu happy dimasukkan ke sekolah, maka aku merasa itu sebagai sebuah siksaan tingkat dewa. Aku ga mau dan ga suka sekolah. Hari pertama hingga ketiga, aku hanya bertahan 10 menit di sekolah, lalu nangis minta pulang. Sementara si Syukri, anak tetangga kami, begitu girang dan bangga bersekolah. Dengan bangga dia menghapal nama-nama hari yang dia pelajari di sekolah. "Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu.... itulah nama-nama hari," dan berbagai 'temuan baru yang dia peroleh dari sekolah. Aku? Hanya melongo! Aih, si Syukri sudah mulai pinter, sementara aku? Ketinggalan jauh! Apalagi mamak mengompor-ngompori.

"Tuh, lihat kalo mau sekolah, kita jadi pinter! Lihat tuh Syukri, sebentar lagi dia akan semakin pinter, sementara kamu? Tertinggal dan jadi anak bodoh. Ga mau kan anak mamak jadi anak bodoh?"

Dan, aku pun memberanikan diri, untuk bertahan duduk di kelas, teteup, ditemani mamak [tepat duduk disampingku] sampai semingguan.

Minggu kedua, mamak pura-pura mau pipis, dan menghilang. Oh, mau ninggalin anaknya begitu saja? Noway! Dan aku pun tanpa ba bi bu, langsung meninggalkan bangku yang aku duduki, dan ambil jalan pintas menuju rumah. Dan? Aku tiba duluan di rumah kami, sukses membuat sang paduka ratu terbelalak dan marah, begitu beliau sampai di rumah. Hihi. Dan..., aku pun kena setrap! Tapi akhirnya, Alhamdulillah, karena kuatir akan ketinggalan oleh Syukri yang semakin gaya, aku akhirnya mampu bertahan di sekolah. Dan taukah, Sobs? Syukri, tinggal kelas lho! Hehe.

7. Suka berdialog sendiri

Eh, bukan gila lho ya! Aku tuh suka banget berdialong di dalam hati. Menciptakan dialog dan adegan-adegan seperti cerita gitu di dalam hati. Misalnya, saat sedang mencuci piring, aku tuh sepertinya sedang melamun, padahal sedang bikin cerita anak, yang idenya muncul selintas dan langsung aku kembangkan dulu di dalam pikiran, baru nanti setelah selesai tugas, aku tuangkan di dalam buku.

8. Suka mandi di kali dan cari sisa padi di sawah

kejam straight banget dalam menjagaku. Ga boleh mandi di kali, nanti kudisan! Ga boleh terjun dari jembatan ke dalam kali, nanti kakinya patah! Ga boleh ikutan teman-teman cari sisa-sisa padi di sawah yang sudah di panen, lalu dijual kiloan. Bikin malu ibu saja, emangnya ibu/ayah ga sanggup ngasih makan? Huft. banyak banget larangannya.
Sebagai anak desa, kebiasaan mandi di kali atau sungai adalah hal yang lumrah bukan? Etapi, tidak bagi ibuku. Beliau itu

Namanya juga anak-anak khaaan? Maka eikeh pun sembunyi2 deh melakukan kegembiraan ini. Pulang sekolah, kami segerombolan anak desa, langsung deh buka baju [masih kelas 3 SD] kalo ga salah, masih bebas buka baju atas dan hanya bermodalkan CD, kami langsung terjun bebas dari atas jembatan, meluncur manis [kaki bersila] ke dalam air sungai. Siapa yang posisi jatuhnya benar-benar bersila, maka dia hebat! Dan itu adalah dirikuh, hihi. Sedang asyik-asyiknya beratraksi dan baru saja pantatku menjejak air sungai, pinggangku sudah dicubit oleh seorang teman yang berada paling dekat denganku. Memberi isyarat ke atas jembatan. Aku pun tengadah, dan oh em ji, seorang wanita tangguh sudah berdiri garang, dengan sapu lidi! Memberi isyarat memanggil pake tangan dengan gaya angkuh. Hiks, ibuku sudah di atas jembatan, dan aku bagai si gumar apus yang malang, melangkah lunglai menuju paduka ratu. Hiks.

Lain waktu, aku dan teman-teman mencari sisa padi di sawah. Lumayankan, bisa dijual, nambah-nambah uang saku. Hihi. Berhasil dapat sekantong kresek ukuran sedang. Aih, mayan banget ini. Etapi, adaaaaaa aja yang lapor ke paduka ratu. Aku pun disetrap. Hiks.

9. Punya bakat bisnis sejak kecil

Ibuku, sang paduka ratu, sudah jelas akan melarang ide ini. Tapi aku kan ingin jualan [kacang asin] seperti beberapa teman sekelas! Maka, ide licinku bukan licik ya adalah, meminta paduka ratu untuk menggorengkan kacang asin itu untuk aku konsumsi. Alasanku, kan lebih sehat kalo mamak sendiri yang goreng, daripada beli dari mereka, belum tentu minyaknya sehat kan? *Masuk akal, pikir mamak, lalu permintaan ini pun disetujui dan dieksekusi*.

Dan..., aku pun berjualan dengan sukses. Iya lah, kacang asin bikinan mamak kan gurih dan bersih, ya pasti banyak yang beli dunk. Tapi ya gitu deh, adaaaa aja yang sirik! Ngadu. Dan aku pun dipanggil dan diinterogasi. Hiks. Bisnis kecil-kecilanku mandeg, di setop.

11. Menjatuhkan adik dari ayunan

Aku tuh hobby banget membaca buku cerita. Dan ayah adalah supplier buku cerita kelas wahid. Kami adalah mitra yang sangat klop. Dan ibu, tau aja memberikan tugas yang layak untukku. Yaitu menjaga adik. Yang paling aku suka adalah menjaga adik yang tidur pulas di ayunan. Jadi bisa dikerjakan sambil membaca buku.
Suatu hari, aku sedang tenggelam di dalam bacaan seru. Tanganku tanpa diatur telah begitu setia mengayun adikku yang lelap di ayunan. Sedikit saja bergoyang, tanganku akan langsung bertugas. Kali ini, si adik tak hanya menggeliat, tapi mulai ehek...ehek [menangis]. Aku masih asyik membaca, tanganku yang aktif mengayun. Semakin si adik menangis, semakin kuat aku mengayunnya. Hingga, volume tangisan itu akhirnya semakin meninggi, sementara bacaanku semakin seru. Maka satu-satunya cara adalah meningkatkan kekuatan ayun, dengan mata tetap pada buku. Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, oalah, nasib malang menimpa adinda tersayang. Hentakan ayunan yang dihasilkan oleh tanganku, membuat ayunan itu berpindah tempat, dan meningkatkan volume suara tangis itu.

Mataku terbelalak, panik kala melihat ayunan beserta isinya sudah parkir terkulai di lantai kayu rumah kami. Dan..., sang baginda ratu pun hadir di hadapan dengan angkara murka. Menggendong si adik mungil serta sebelah tangan satunya lagi merampas buku bacaanku, melemparkannya ke lantai. Tak luput, amarah sang baginda ratu pun meluncur bebas dari bibirnya yang indah itu. Hadeuh, adikku sayang, maafkan kakak yaaaa, ga sengajaaaa.... Hiks. Aku tak marah di setrap, karena itu murni salahku.

12. Mencekik bebek

Kisah ini juga berhubungan erat dengan hobby membacaku. Suatu hari, aku ditugaskan oleh baginda ratu untuk menjaga padi yang sedang dijemur di halaman rumah, agar tidak diserbu oleh gerombolan siberat bebek tetangga yang sering bebas lepas. Happy donk dikasih tugas begitu. Bisa membaca dengan santai khaaan? Hehe. Dan membacalah diriku dengan asyik, tanpa sebentar pun mengalihkan pandangan ke hamparan padi yang sedang dijemur. Hingga kemudian, sebuah suara keras menghardik. "Ya ampun, Al! Itu bebek makan padi kita, kok malah dibiarin sih???"

Refleks, kualihkan pandangan ke sudut tikar di mana padi dihamparkan. Ya ampun, gerombolan si berat segerombolan bebek sedang berpesta pora. Geram, aku berlari menyerbu, gerombolan ini pun lari tunggang langgang, Berhasil kuraih salah satunya. Tanpa pikir panjang, kuputar leher bebek itu hingga gelagapan. Cengap-cengap dia, barulah aku tersadar oleh suara jeritan melengking baginda ratu.
"Aaaaaal! Lepaskan, mati nanti bebek itu!" Dan aku pun tersadar, refleks menjatuhkan bebek itu, yang terkulai lesu, menghirup udara perlahan dan gelagapan. Duh, hampir saja aku jadi pembunuh, ampuni hamba ya Allah..., dan malamnya, aku menerima tausiah dari ayah. Hihi.

13. Berantem dengan teman sekolah

Memasuki kelas 5, kami sekeluarga pindah ke Sigli. Jadi anak baru di sekolah yang baru. Asyik! Aku yang tak lagi pemalu, langsung dapat banyak teman baru. Malah jadi disegani gara-gara aku membela teman sekelasku [cewek] yang dibully oleh teman sekelas [cowok] yang memang bandel dan gatel.
Masak, si cowok meraba payudara [yang sebenarnya masih rata] milik temanku. Sakit dan pelecehan dunk itu. Refleks tanganku meraih ruler yang tergeletak di meja teman cewek itu, dan spontan mendarat di tangan si pelaku pelecehan itu. Perih dunk, orang aku mukulnya sekuat tenaga. Eh, si cowok marah, dan menonjok dadaku. Sakit banget! Refleks, kakiku pun melayang ke selangkangannya, sukses bikin dia menjerit. Impas. Lalu kami bergumul, dan dilerai oleh ibu guru. Dan aku langsung terkenal sebagai Al yang jago kungfu. Haha. Kungfu apaan? Kungfu dari film mandarin yang sering aku tonton di video kami iyaaa. Hihi.

14. Membiarkan Adik dicium orang gila

Punya adik baru, jelas happy dunk. Dan ini adalah adik bungsuku, yang beda usia denganku terpaut 12 tahun. Saat itu aku kelas 6 SD. Pagi hari, aku dan kak Nong, tetangga sebelah, suka banget membawa si adik jalan-jalan di depan pendopo Bupati Sigli. Jalan-jalannya pake kereta dorong baby lah. Suatu pagi, sedang asyik kami menghirup sejuknya udara tepi pantai, eh, si Mak Sani [orang gila yang suka merampas anak bayi], mendekat sambil menyanyi. Aneuk lon sayang, aneuk lon sayang.... *diulang-ulang dengan suara cempreng. Kami pun berlari menjauh dari si Mak Sani. Sayangnya, kami berdua lupa mengikut-sertakan si adik yang sedang tidur di dalam kereta dorong baby di dalam pelarian kami. Jadilah si adik bebas didekati dan dicium oleh si Mak Sani.

Gaswat! Mati deh eikeh! Terbayang amukan baginda raja dan ratu, tapi ga ada cara lain, apapun resikonya, aku menyayangi adikku sepenuh hati. Dan yang paling bisa menyelamatkan adikku adalah baginda raja dan ratu. Kami pun berlari tunggang langgang secepat mungkin menuju rumah yang memang tak jauh dari tekape. Kujelaskan pada mamak, yang langsung meluncur bak dewa halilintar menuju Mak Sani yang sudah mengembalikan si adik ke dalam box kereta dorong itu. Aku dan Kak Nong, tak berani lagi mendekat, hanya memantau dari jauh seraya berdoa. Selamatkan adik hamba ya Allah.

Alhamdulillah, mamak dan bapak berhasil menyelamatkan adik, dan aku serta Kak Nong, sukses menerima wejangan plus hukuman. Hiks.

15. Pindah ke Banda Aceh

Memasuki kelas 1 SMP, semester dua-an, kami sekeluarga pindah ke Banda Aceh. Dan mulailah kami jadi orang Banda. Yeay! Sayangnya, tinggal di kota besar, malah tak lagi memberi banyak petualangan bagiku dan adik-adik. Aku jadi murid baru di SMP Negeri 2 Banda Aceh. Aku dapat teman-teman baru yang sangat menyenangkan. Beda tempat, beda pula permainan dan kesenangan. Tapi waktu bermain, sudah otomatis berkurang, karena pelajaran pun sudah mulai lebih banyak menyita waktu. Selain belajar di sekolah, aku dan teman-teman pun ikutan berbagai kegiatan ekstra kurikuler, juga ikut les. Ya gitu deh.

Well, Sobats, postingan ini sudah terlalu panjang, jadi untuk poin 16 sampai 30 kita lanjut di postingan berikut di 30 facts about me part 2

catatan iseng, 30 fact about me part 1,
Al, Bandung, 11 Oktober 2014


Read More
/ /
Rafting? Ow ow! Seru dan penuh tantangan dunk pastinya? Itulah yang selalu ada di benakku setiap kata 'rafting' disebutkan. Excited! Sayangnya, keinginan untuk bisa ikutan rafting plus aneka kegiatan petualangan di alam, yang sudah muncul sejak usia muda dulu *jiah* tak pernah terlaksana, gegara ibunda tersayang tak pernah merestui putri satu-satunya ini melakukan kegiatan2 yang berbau maskulin. Hadeuh! Poor me... :( . Eits, tapi kalo camping masih dibolehkan seh, panjat pohon kalo ga ketauan juga selalu berhasil kok. Hehe.

Barulah ketika sudah memiliki Intan, *catet; udah jadi emak-emak * aku berkesempatan untuk menaklukkan puncak gunung Sibayak, Brastagi, Sumut, bersama teman-teman sesama pengurus SPSI [Serikat Pekerja Seluruh Indonesia] saat mengikuti pelatihan di Brastagi. Acara perpisahan yang kami pilih sungguh tak tanggung-tanggung, mendaki gunung bo'! Langsung membuat adrenalinku menggelora. Dan yihaaaa, akhirnya aku berhasil menjejakkan kakiku di puncak gunung Sibayak yang tinggi menjulang itu. Alhamdulillah. Walo hanya berkesempatan satu kali, tapi sukses bikin bahagia. Beneran!

Selanjutnya, darah petualang ini begitu sering menggelegak, ingin dipuaskan, namun sayangnya, waktu, kesempatan dan uang *pastinya*, belum berpihak kepadaku, sehingga akhirnya, keinginan yang satu ini, terpendam damai di lubuk hati. Hingga kemudian, kesempatan ini pun mampir di depan mata. Untuk yang kesekian kalinya, Nchie Hanie dan si bos Dewaseo nge-bbm, mengundang untuk turut serta ikutan dalam acara Rafting Bareng Dewaseo. Asyik. Walo sempat tarik ulur, akhirnya, kesempatan kali ini tak lewat begitu saja.

Singkat cerita, setelah touring menuju Cileunca Group House, dan having fun malamnya [baca; barbeque dan begadang], pagi ini, sesudah sarapan pagi, kami pun ambil ancang-ancang, untuk menuju lokasi rafting, yang tak jauh dari villa. Ah iya, villa-villa cantik ini berupa house group, berlokasi di Kota Pengalengan, sekitar 45 km dari Kota Bandung. Etapi, sebelum benar-benar menuju lokasi, sudah pasti kita-kita pada narsis ria dulu donk di villa yang memang cantik, hijau dan alami dengan view indah ini. Ga tanggung-tanggung, motor si Bos Argun pun jadi korbannya. Lihat deh Sobs!






Puas ber-narsis ria, maka kami pun menuju lokasi, yang dimulai dari situ Cileunca yang merupakan sebuah situ buatan dengan luas lebih dari 14.000 m2, dikelilingi oleh hutan pinus, perkebunan teh serta kebun sayuran milik masyarakat, dan menjadi sumber utama air sungai Palayangan. Pada situ Cileunca ini, kami dilatih [diberi arahan] oleh rafting guard baru kemudian menuju sungai Palayangan, untuk memulai the real rafting adventure. Yeaaaayy!!

Sungai Palayangan, Pengalengan ini memiliki debit air yang stabil sepanjang tahun, memiliki pemandangan alam yang indah serta jarak tempuh yang cukup dekat sehingga menjadi nilai tambah bagi para wisatawan yang hanya ingin melakukan wisata arung jeram.  Sayangnya, pada saat kami ber-arungjeram ini, kemarau membuat debit airnya menurun sehingga jadinya kurang memacu adrenalin deh! :) Tingkat kesulitan yang dimiliki oleh sungai ini berada pada Class III-IV [pada skala I - IV], dengan lintasan pengarungan sepanjang 5 km dan gradien 30-60 derajat.

Dan...? Jangan ditanya bagaimana serunya petualangan yang aku dan teman-teman rasakan. Seruuuu! Walau sebenarnya sih, jujur nih, masih kurang heboh karena debit airnya yang sedang turun banget! Jadinya ga sempat bikin diriku menjerit histeris deh, padahal tuh, pengen banget bisa berteriak kaget, takut dan histeris, seperti harapannya si Bos Dewaseo, yang dari awal sempat bilang gini, aih, pengen lihat Mba Al nanti menjerit histeris ah!

Ternyata, enggak tuh! Eikeh mah enjoy dan happy-happy aja, malah excited banget saat perahu karet kami tersangkut dan harus melakukan gerakan goyang-goyang di dalam perahu, guna membebaskan si perahu dari ketersangkutannya. Begitu ada aba-aba 'goyang-goyang', maka kami pun [seluruh awak perahu karet] langsung bergoyang ria, heboh. Aku malah sampai meloncat-loncat bak anak kecil yang masa kecilnya kurang bahagia. Haha.

Eniwei baswei, petualangan berarung-jeram ini, sungguh bikin bahagia! I am happy! Pengen melakukannya lagi dan lagi.



Trims, Kang Argun dan Nchie Hanie untuk undangannya, semoga Dewaseo semakin sukses dan berjaya yaaa! Yuk, kapan kita rafting bareng lagi? Tapi maunya saat debit air sedang lumayan tinggi atuh, biar seruuu. :)

catatan ber-arungjeram di sungai Palayangan,
Al, Bandung, 7 Oktober 2014
Read More
/ /
Ini adalah kali ketiga aku diajak bergabung, melakukan touring ke Pengalengan dan outing bersama teman2 blogger Bandung plus rekan-rekan dari DewaSeo. Kalo ga salah sih, undangan pertama itu terjadi pada tahun lalu deh, dan terpaksa dilewatkan begitu saja, gegara diriku jatuh sakit. Sedih banget, apalagi ketika melihat foto-foto seru mereka saat touring dan ber-arungjeram ria di Sungai Palayangan. Hadeuh, iriiii banget! Tapi, teman-teman dari Dewaseo, terutama Nchie, menyabarkan. Tenang, Mba, masih ada kesempatan lagi nanti kok. Dan hatiku pun lega.... berharap kesempatan itu segera datang lagi.

Dan, kali kedua, kesempatan itu pun terpaksa dilewatkan [lagi] dengan begitu saja, gegera kali kedua itu, diriku harus tugas ke Medan. Hadeuh! Ih, sebel deh! Duh, jangan-jangan, memang aku ga ditakdirkan untuk bisa berarung jeram ya? lebaydotcom. Lagi dan lagi, aku iri menyaksikan foto-foto dan cerita penuh petualangan yang dituturkan teman-teman blogger di blog mereka masing-masing. Hm... giliranku kapan yaaa? :(



Hingga, sebulan lalu, Nchie ngabarin bahwa DewaSeo meng-agendakan untuk outing lagi di Cileunca House Group, sekalian barbeque-an plus rafting, sehari setelah Idul-Adha, yang adalah hari ini. Otomatis aku langsung mendaftarkan diri dunk! Bertekad bahwa kesempatan kali ini ga boleh lewat begitu saja. Harus bisa ikutan. Dan Alhamdulillah, setelah tarik ulur antara jadi dan tidak, gegara satu dan lain hal yang tiba-tiba saja menjadi penghalang, akhirnya, waktu dan kesempatan pun berpihak kepadaku. Asyiiik! Dan perjalananpun dimulai, diawali dengan foto bersama di markasnya Dewaseo tadi jelang siang, sekitaran pukul 11 siangan.



Perjalanan seru, santai dan fun ini memakan waktu sekitaran 1,5 jam [Bandung - Pengalengan] hingga kemudian kami pun sampai di tekapeh, yaitu sebuah area yang bernama Cileunca Group House, berupa villa-villa artistik, yang asri dan cantik! Rumput datar yang bersih, seakan memanggil kami untuk segera take action [berfoto narsis] dengan segala pose. Dan benar saja, sejenak setelah beristirahat, shalat zuhur, duduk-duduk, kami pun bergembira ria di lapangan rumputnya yang luas. Udara dingin dan sejuk Cileunca pun begitu mendukung kegiatan narsis kami. Jadi ga heran kan jika kemudian, beginilah aksi kami siang jelang sore ini....


Aksi narsis ini cukup menghasilkan [banyak foto] sih, tapi ga mungkin dunk dipamerkan semuanya di sini, bisa-bisa ntar Sobats pada iri trauma deh main ke sini, hehe. Jadi biarlah foto collage ini yang mewakili to show you how excited we are having this event yaaa. :)

Selanjutnya, usai Magriban, acara puncak hari ini pun dimulai, yaitu barbeque daging hasil qurban kemarin. Kan ceritanya di hari raya Idul Adha kemarin, anak-anak Dewaseo ber-qurban tuh, nah, sebagian dari jatah mereka tuh di bawa deh ke sini untuk bakar-bakaran sate. Dan, jadilah menu kami malam ini berupa nasi liwet, sate sapi, ikan asin dan si piring terbang jengkol bikinan ibu penjaga villa. Jengkol? Hihi, iya dunk, kan jengkol tuh makanan yang disukai banyak orang. Emang sih, baunya itu amit-amit, tapi rasanya itu lho! Ckckck..., sst!


Acara berikutnya setelah makan malam adalah kongkow-kongkow. Pastinya dunk! Kan tujuan ke sini ini juga untuk having fun kan? Jadi ga heran jika kemudian pada main kartu [jongkok], untungnya aku ga ikutan, hihi, kalo enggak, pasti diriku deh ituh yang akan kena hukum melulu. Soalnya diriku kan paling ga beruntung kalo udah main kartu, baik yang main 'cangkul' mau pun jenis lainnya.

Maka, aku pun melarikan diri ke laptop, kebetulan aku dan Nchie punya sedikit tugas yang harus dikerjakan tepat waktu di malam itu. So, kami pun tenggelam di dalam usaha meraih sinyal, yang herannya begitu malam tiba, si sinyal langsung menghilang. Untungnya ada koneksi dari si Kang Argun yang baik hati. Pak Bos Dewaseo ini pun dengan bijak menawarkan sharing/tethering dari hapenya. Alhamdulillah, akhirnya aku dan Nchie pun berjaya melaksanakan tugas, hingga tugas selesai kami malah tenggelam di dalam belantara dunia maya, sampai lupa untuk segera tidur. Ga nyadar, tau-tau aja waktu sudah bertengger di angka dua. Oh My God, bisa gaswat inih, sementara besok kan mau rafting, di mana dibutuhkan stamina yang segar dan prima. Pantesan si Kang Argun bolak balik mengingatkan untuk segera tidur.

Okd Pak Boss, baiklah, eikeh segera log out dan istirahat, yuk, cyin Nchie Hanie, kita tidur yuk! Well, Sobats tercinta, sekian dulu sharing ringan tentang perjalanan dan touring serta outing ini yaaa, besok lanjut ke acara rafting, yeaaay!! Jangan kuatir atuh, pasti reportasenya menyusul, segera. :)

Catatan perjalanan ke situ Cileunca, #Outing
Al, Bandung, 6 September 2014
Read More
/ /

Seneng deh berkunjung ke rumah si Mbah pagi ini. Disambut oleh Doodle yang keceh seperti ini. Aih, Mbah Google, kamu perhatian banget seh! Terharuuuu.... *Peluk cium si Mbah dalam angan virtual, seraya ngebayangin si Mbah adalah seorang kakek tampan berambut panjang ala pendekar kungfu dari negeri tirai bambu. 
Doodle on Hari Batik Nasional
Kulirik sudut kanan Macsy, icon kalendarnya menampilkan angka 2, bulan October 2014. Yup, hari ini adalah Hari Batik Nasional. *Langsung ubek-ubek lemari nyari gaun berbahan batik yang tersimpan rapi dan jarang dipakai.* Iya sih, sebenarnya [honestly nih], aku bukanlah penyuka batik, tapi beragamnya motif dan kreasi batik yang kini memenuhi nusantara, membuat rasa tidak suka tadi perlahan menjadi sukaaaaaa! Batik-batik keren itu sekarang ini sudah available dalam bentuk gaun yang modis dan trendy! Asyik...

Berbicara tentang hari penting, ternyata tanggal 2 October adalah merupakan hari yang penuh apresiasi bagi Indonesia lho! Iya donk, gimana enggak coba, Sobs, hari ke 275 [ke 276 untuk tahun kabisat] dari kalendar Masehi ini, ternyata oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai hari pengakuan bahwa Batik sebagai warisan budaya manusia untuk dunia, berasal dari Indonesia. Tuh, keren kan? Batik adalah warisan budaya manusia untuk dunia, dan dihasilkan/berasal dari Indonesia, bukan dari negara tetangga, baik tetangga dekat mau pun tetangga jauh! Hehe. 

Bangga? So pasti! Nenek moyang kita sudah bercita rasa seni tinggi toh? Terbukti. Duduk manis dengan cantingnya meneteskan nilam ke lembaran kain, dengan penuh kesabaran hasilkan sehelai demi sehelai kain cantik bernama batik, yang kemudian telah diakui dunia sebagai sebuah warisan budaya manusia berseni tinggi. Terus, kita? Untuk mengenakannya saja males? *Nunjuk diri sendiri yang sempat ga suka sama batik, duluuuu. Wekeke.... 
Sekarang ga lagi kok, eikeh mah cinta Batik atuh! Lihat nih....

Ini mah narsis atuh, bukannya pamerin batiknya, haha.

Selamat Hari Batik Nasional, Temans! Sudahkah berbatik hari ini? :)

catatan pengingat,
Al, Bandung, 2 October 2014
Read More
/ /

Eits, jangan ngeres apalagi parno dulu. Apalagi sampai ambil langkah seribu. Postingan ini ga akan ada hubungannya dengan dunia misteri kok. :) Postingan ini hadir tercetus oleh twit seorang sahabat yang menulis seperti ini;


Serius, membaca ini, aku langsung ngakak, dan ngebalas twitan Ferhat, dan langsung deh kami bersahutan seraya ngeguyonan.



Dan beneran, guyonan ini pun berkembang ke postingan. Iseng aja seh! Itung-itung nambah entry di My Virtual Corner khaaaan? Hehe.

Etapi, jika dipikir secara serius, quote iseng ini bukan tanpa muatan positif lho. Coba deh dipikir-pikir, Sobs! Apa yang dikatakan oleh quote ini, ada benarnya juga ya? Kalo menurut aku sih, muatan positif dari 'Jangan coba jadi Barbie kalau hati dan kelakuan masih seperti boneka santet' adalah bahwa, bersikaplah apa adanya. Jangan berlagak sok baik apalagi baiiiik banget jika semua itu hanya kamuflase dalam rangka mendapatkan sesuatu. Jika memang ingin memperlihatkan suatu kebaikan, terapkanlah kebaikan itu terlebih dahulu di dalam kehidupan kita sehari-hari dan bagikan bagi orang-orang di sekitar kita, Insyaallah, semua itu akan terlihat nyata dan jauh dari kepura-puraan.

Kalo menurut Sobats sendiri, quote di atas artinya gimana, Sobs? Yuk share opinimu di dalam kolom komentar yuk!

sekedar catatan, iseng
Al, Bandung, 1 Oktober 2014

Read More