#12: Second Chance | My Virtual Corner
Menu
/
Postingan ini terinspirasi dari postingan Mak Tyan yang berjudul Kesan Pertama. Mak Tyan bercerita tentang kesan pertama yang sangat menentukan terhadap pertemuan pada kesempatan berikutnya. Bahwa, jika memang pada kesan pertama itu, si A terlihat jutek, maka beliau 'merasa yakin' banget bahwa si A itu memang demikianlah adanya.

Aku sendiri, dulunya pernah menerapkan hal demikian. Bahwa, jika pada perjumpaan pertama dengan seseorang, si orang tersebut terlihat jutek, tidak bersahabat, tidak ramah, maka aku memastikan bahwa si orang itu memang begitu karakternya. Bahwa si orang itu, jelas tidak akan menarik dan tidak akan memberi rasa nyaman untuk dihadapi pada saat-saat berikutnya.

Namun, seiring dengan perguliran sang waktu, aku kok kemudian merubah sikap. Rasanya ga adil juga jika langsung 'menghakimi' seseorang, hanya pada pandangan pertama. Ga adil rasanya menganggapnya jutek, justru pada saat pertama bertemu dengannya. Misalnya nih, bertemu seorang klien untuk pertama kalinya, eh, kok muka si klien itu miskin senyum, tak beraura positif. Maka aku tak serta merta menganggapnya sombong atau sulit, melainkan mencoba memberinya second chance alias kesempatan kedua. Bisa saja kan si klien sedang sakit gigi? Atau mumet kepalanya, atau malah sedang diserbu oleh aneka masalah yang mendera jiwa? Dan tak mampu meng-handle-nya hingga terikut di dalam aktivitas yang harus dilakukannya?

Begitu juga, kini, saat pertama kalinya bertemu atau diperkenalkan dengan seseorang, aku menerapkan azas 'second chance', berkompromi dengan diri sendiri untuk tidak serta merta menghakimi jika sikapnya jutek atau tidak bersahabat. Pasti ada alasan tersendiri di balik sikapnya itu. Namun, jika di the second chance, si orang tersebut masih juga bersikap sama, maka, selamat tinggal alias say good bye dunk ah! Hehe.

Kalo Sobats sendiri, menerapkan kesan pertama begitu menentukan atau mencoba memberi kesempatan kedua/second chance? Yuk, share opini Sobats pada kolom komentar yuk. :)

Sekedar opini,
Al, Bandung, 12 Februari 2014 
11 comments

bener sekali mak , sebenernya ga semua kesan pertama menentukan, tp gimana yah aku udh kyk gini :D ,, dikit2 belajar ah membuka kesempatan kedua :D

Reply

kalo aku, lebih gunakan feel (telinga hati) itu lebih utama, walo tetep aku harus hormat dengannya, lebih banyak mendengar dan memberi test chase bila ternyata orangnya easy going, aseeeeek.... gitu ya mbak - salam

Reply

lihatnya case by case si mak
kita tidak tahu kan pada saat pertama bersua bisa jadi ybs sedang ada masalah sehingga yang terpancar adalah sikap jutek, jadi kembali ke kitanya sih

Reply

Sepakat mak, kesan pertama nggak bisa untuk menilai seseorang. Bisa aja tu orang pas pertama ketemu sama kita pas banyak masalah, jadi keliatan jutek.

Reply

bagi saya kesan pertama tetap sangat menentukan, namun bisa saja berubah jika ternyata pada kesempatan lain kesan yang didapat menjadi berbeda.

salam kenal kak :)

Reply

saya juga kadang berpikir gt sih mak, kesan pertama menentukan, tapi kayanya emg gal ada salahnya kasih kesempatan kedua :)

Reply

Hehe, menurutku memang begitu, Mak. Ga semua kesan pertama paling menentukan. Bisa jadi saat itu si org yang bersangkutan sdg banyak pikiran, sedang bermasalah, sehingga terkesan tidak bersahabat. :)
Hayuk, kita belajar untuk berfikir positif. Hehe

Reply

hmmm, jadi mengingat2 kesan pertama waktu ketemu mbak Al yg sambil makan baso itu, hehehe

Reply

benar mak Alaika...kata sahabat Umar sih jng langsung menjudge seseorg klo kita baru bertemu sekali-dua...apalagi ketemunya di jalan. pasar dan tempat2 publik....hehehe...tapi gimana ya mak.kesan pertama begitu menggoda selanjutnya terserah emak sih #ditimpuk massa :P

Reply

Saya melatih diri untuk memberi second chance, kak Al, lebih fair begitu. Karena saya juga sedikit berharap orang demikian pula sama saya. Mungkin pernah ada yang mendapati saya sedang jutek, saya tidak mau selamanya dianggap jutek karena aslinya saya kan gak jutek #uhuk :D

Reply

Saya selalu berusaha kasih kesempatan kedua, sekedar kenal apa ruginya? Soalnya saya juga ngerasa punya muka setingan judes atau kadang kelihatan 'pikarunyaeun', ga pedean, tapi kadang heboh dan brisiknya saya keluar. hahaha.... karakter yang aneh, tergantung mood sih. Nah, kalau di FB ga kenal-kenal amet, saya cuek. Cuma ada beberapa yang saya hide update statusna karena kerjaannya bisnis MLMannyaga enak menurut saya, seenaknya tag jualan, nyinyir dan misuh-misuh melulu. :D

Reply