My Virtual Corner
  • Home
  • Meet Me
  • Contact
  • Disclosure
  • Category
    • Motivation
    • Traveling
    • Parenting
    • Lifestyle
    • Review
    • Tips
    • Beauty
      • Inner Beauty
      • Outer Beauty

Halo sobats tercinta... Lagi apa nih di Minggu siang yang panas ini? (Nunjuk diri sendiri yang kamar kostnya ga ber AC)..

Ga bisa tidur siang? Yuk kita ngakak dulu yuk. Ada joke kocak nih, dapet dari teman di Alaika BB Group. Bagi yang udah ngakak duluan, pasti masih akan senyum-senyum lagi deh ngebaca joke yang satu ini.
Yuk, cekidot...
Si Mul masuk ke salon mewah untuk pertama kalinya. Karena biasa potong rambut di bawah pohon asem, dia gak tau prosedur disana. Menghadapi sambutan para staf salon, ia khawatir dirinya ntar kehilangan muka, maka ia pun nurut saja biar gak dikira blo'on.
"Mas..cuci rambut dulu ya"
"Oke." Jawab Mul mantap
Sehabis cuci rambut, pemangkas mengusulkan: "si Mas mau creambath?"
"Ok." Mantab jawaban Mul.
"Eh mas rambutnya ada yang sudah putih, bagaimana kalo disemir aja biar jadi hitam?"
"Oke!" Kata Mul.
Sesudah rambut Mul disemir hitam, si pemangkas bertanya lebih lanjut:
"Nah sekarang sudah keren. Mau dipotong rambut model apa Mas?"
Mul: "Anu...sebenarnya..saya mau cukur gundul!,"

Wkwkwkwk... Met siang dan met berhari Minggu ya sobs!

Saleum,
Alaika
Powered by Telkomsel BlackBerry®


gambar diambil dari sini


Mimpi indah itu terputus oleh deringan alarm yang terpasang nyaring di smartphoneku. Ih, bener-bener nih alarm ini ya! Mengganggu ajaaaa! Kuraih dia dengan mata terpejam, berharap mimpi sedang duduk di ayunan sambil diayun perlahan dapat berlanjut. Kubuka sedikit mataku saat smartphone itu tergenggam di tangan, mencari opsi dismiss dan menekannya perlahan. Deringan nyaring itupun terdiam seketika, dan kulanjutkan merapatkan kedua mata seraya berharap mimpi indah nan syahdu itu akan berlanjut.
Subhanallah ya Allah, baru saja Engkau kirim aku ke masa lampau.. Masa indah saat diriku masih bocah lima tahunan, yang kala itu masih jadi anak pertama dan belum beroleh seorang adikpun. Merasakan kasih sayang penuh dari ayah bunda.
Baru saja Engkau kirim aku ke masa silam, masa dimana kasih sayang penuh dari ayahanda, mengayunkan ayunan yang aku duduki di taman dekat komplek perumahan kami. Subhanallah, aku baru saja merasakan kembali saat-saat indah penuh berkah itu ya Allah… Ijinkan hamba meneruskannya sejenak lagi ya Allah….
“Kamu itu memang tidak berubah neuk…., tetap aja seperti dulu. Alarm di setel tanpa alpa. Setiap malam, berharap bangun pagi. Tapi saat alarm itu berbunyi, kamu memang bangun, tapi untuk mematikan alarmnya. Hehe…”
Kali ini bukan alarm yang membuat alam pikiranku kembali pada kenyataan, tapi adalah suara penuh wibawa ayahanda, yang telah bersamaku selama tiga hari tiga malam … yang menggeretku kembali ke alam sadar. Perlahan dan pasti, sebuah kesedihan menyeruak di hati, saat kesadaranku pulih sempurna.
Kutatap angka digital yang tertera di layar monitor smartphoneku. 3.30 wib, dinihari. Dan 15 menit lagi, sebuah taksi yang sudah aku pesan tadi malam, akan menjemput kami, mengantarkan kami ke terminal Damri – Bekasi, untuk selanjutnya akan membawa ayahku ke bandara Soekarno Hatta. Lalu sang burung besi akan menerbangkannya kembali ke bumi Iskandar Muda, kembali ke sisi ibundaku.
Kesedihan ini, begitu kentara. Membuat beberapa bulir bening menetes perlahan. Rasanya aku belum rela melepas kepergiannya. Ingin rasanya aku membatalkan tiket kepulangannya. Jangan pulang dulu Yah… anakmu ini masih kangen! Kebersamaan kita begitu membahagiakan. Keteduhan begitu sempurna memayungiku, memberikan berjuta kedamaian. 


Ayah… 

Bersamamu, aku begitu bahagia….
Bersamamu, aku merasa benar-benar menjadi kanak-kanak yang bahagia…..
Jangan pulang dulu ayah…
tinggallah bersamaku beberapa hari lagi…. L

“Bangun neuk…. Ayah sudah siap nih, ayo bangun, waktumu 15 menit lho untuk bersiap-siap!” Ujarnya lagi seraya menarik jari telunjuk kakiku. Kebiasaan yang tak pernah akan diubahnya (dan aku tak ingin itu berubah) dan sudah diterapkan sejak aku kanak-kanak.
Mendengar kata 15 menit, aku terlonjak, apalagi sapaan ‘neuk’ (bahasa aceh untuk Nak) yang selalu saja ayah ucapkan bagi kami, anak-anaknya, begitu meneduhkan hati. Aku bangkit, tersenyum padanya seraya melipat selimut. Ayahku sudah rapi sekali. Wajahnya begitu teduh oleh pancaran keimanan yang begitu kental, namun tak urung, selaku anak, kutemukan segaris duka di relung terdalam hatinya. Ya Allah, berikan kedamaian di hati ayah bundaku ya Allah. Ijinkan mereka berbahagia di sisa umurnya ya Rabbi. Ijinkan mereka menikmati masa tua nan damai dan indah…. Amien.
Kusadari bahwa aku bukanlah kanak-kanak cengeng yang akan menangis tersedu kala ditinggalkan bepergian oleh ayahnya. Aku adalah ibunya Intan, umurku sudah jauh lebih dari cukup untuk masuk kategori manusia dewasa. Tapi ya Allah, mengapa airmata ini tak hendak berhenti sejenakpun, kala pelukan ayah erat merangkulku, disertai bisikannya untuk selalu menjaga diri, untuk selalu tabah dan kuat dalam menghadapi cobaan kehidupan. Be my good girl as always neuk!
Kalimat ini adalah penyebab airmataku tak mampu aku hentikan. Ayah selalu begitu, pinter sekali bikin anak-anaknya menangis! Dan lihat yah? Lydia mengejekku dan menawarkan ember untuk menampung airmataku. Bolehkah aku mencubitnya yah? Ijinkan sekali saja ya yah! Dibibir manisnya yang terus menggodaku itu..

Ayah…
Thanks you so much for visiting me
Aku begitu bahagia dengan kehadiranmu..
Sungguh, ini adalah momen terindah dan tak akan terlupakan
Maafkan jika aku hanya dapat menyambutmu di sebuah kamar kost sederhana
Yang sempit dan seadanya…

Nanti…
Kala kami kembali bersatu,
Tak lagi tercerai berai karena pekerjaan seperti ini
Ku harap ayah – bunda akan menetap selamanya bersama kami
Please….
Alkisah, di sebuah ruang seminar di kampus, seorang profesor yang atheis berbicara dengan serius kepada para audiens (mahasiswa)nya.

Prof:   "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada ?"
Para mahasiswa: "Betul, Dia yang menciptakan semuanya."
"Tuhan menciptakan semuanya?" tanya professor sekali lagi.
"Ya prof, semuanya," kata mahasiswa itu.
Prof: "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan juga menciptakan Kejahatan."
Mahasiswa itu terdiam & kesulitan menjawab hipotesis sang professor. Suasana hening itu kemudian dipecahkan oleh suara mahasiswa lainnya,
"Prof, boleh saya bertanya sesuatu?"
"Tentu saja," jawab si professor.
Mahasiswa : "Prof, apakah dingin itu ada ?"
"Pertanyaan macam apa itu ?
Tentu saja dingin itu ada."
Mahasiswa itu menyangkal, "Kenyataannya, Prof, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu-460 F adalah ketiadaan panas sama sekali & semua partikel menjadi diam & tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas". Urainya, lalu melanjutkan...
"Prof, apakah gelap itu ada ?"
Professor menjawab, "Tentu saja itu ada."
Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Prof. Gelap juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, tapi gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya jadi beberapa warna & mempelajari brbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tak bisa mngukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."
Mengakhiri kalimat panjangnya, mahasiswa itu pun bertanya, "Prof, apakah kejahatan itu ada ?"
Dengan bimbang dan masih ngeyel professor itu menjawab, "Tentu saja !"
Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Prof. Kejahatan itu TIDAK ADA. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan di dalam diri seseorang. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan di dalam diri. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya Tuhan dihati manusia."

Profesor itu terdiam. Mahasiswa itu adalah: ALBERT EINSTEIN....:)

Sumber: Alaika’s BB Group, untuk sebuah catatan.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Siapa sih yang tak mengenal fesbuk? Aku yakin bahwa mulai dari anak kecil hingga orang dewasa cukup familiar dengan situs social media yang satu ini. Tak hanya pria, wanita juga gandrung memainkannya. Tak hanya orang dewasa, namun anak usia dinipun telah dimanipulasi usianya untuk mendapatkan sebuah akun fb atas namanya sendiri….
Fenomena sosial media yang satu ini memang begitu gegap gempita. Terlepas dari efek positif – negative ‘halaman buku’ yang satu ini, banyak kisah nyata telah terjadi di dalamnya.  Pertemuan? Perpisahan? Pertengkaran maupun Persahabatan, silih berganti dialami oleh para pemilik akun fesbuk. Menciptakan bianglala penuh warna bagi para insan yang bersentuhan dengannya…
Lalu apakah postingan kali ini akan membahas tentang fesbuk? Nope! Sama sekali tidak lho sobs. 
So? Yaaa… mau apa ya?
Hm… Aha! Sebenarnya sih mau mengajak sobats untuk membaca sebuah kisah nyata yang aku tuangkan dalam bentuk fiksi, tentang jasa sang fesbuk. Sobats sendiri pernah ga jadi detektif untuk diri sendiri? Melakukan investigasi untuk mengungkap sebuah kecurigaan yang terus membayangi diri? 
Nah, kisah ini menceritakan tentang kisah perselingkuhan seorang suami yang berhasil disingkap nyata oleh sang istri. Wanita ini menjadikan dirinya sebagai detektif bagi dirinya sendiri. Bagaimana caranya? Yuk ikuti kisahnya disini yuuuk....

Kemarin siang, saat sedang terburu-buru mengejar bis kota (cieee… mulai berinteraksi dengan bis kota nih Al?), beberapa notifikasi chat di fesbuk di BB ikutan berkejaran mengganggu konsentrasiku. Tapi tentu saja kucuekkan dengan kesungguhan hati donk. Ya iyalah, jangankan hanya notifikasi chat, panggilan telephone pun tentu harus kutangguhkan menjawabnya sejenak daripada keselamatan menjadi taruhannya kan sobs? Setuju kan?
Nah, barulah setelah mendapatkan PW (Posisi Weuenak), aku ambil si BB yang nangkring manis di dalam tas, membukanya dan melihat beberapa tanda merah di icon gmail, dan fb. Kubuka satu persatu, dan ternyata sebuah email dari mantan supervisorku Joyce, yang sudah beberapa tahun lalu kembali ke Portland, sempat mengagetkanku dan langsung membuatku menarik kesimpulan bahwa email supervisorku itu sedang di hack oleh seorang penjahat kampung yang mencari mangsa. Kok penjahat kampung? Habis, modusnya udah jadul sobs.  Begini tulisan di email itu..
Dear All,
I’m writing this with tears in my eyes. My Family and I came down here to Madrid SPAIN for a short vacation, unfortunately we got mugged at the park of the hotel where we stayed. All chash, walled, credit card and mobile phones were stolen off us, but luckily for us we still have our passport back in our hotel room.
We’ve been to the embassy and the Police here but they’re not helping issues at all and our flight is leaving in few hours from now, but we’re having problems setting our hotel bills and the hotel manager won’t let us leave until we settle the bills. We are freak out at the moment.
Thanks.

Joyce Smith.

Memang sih, accountnya adalah accountnya Joyce, dan signaturenya adalah Joyce Smith, yang bercerita bahwa mereka dicopet di depan hotel tempat mereka menginap di Madrid, Spanyol, sehingga membuat dia dan keluarganya terpaksa tertahan di hotel dan tak berkesempatan untuk mengejar pesawat yang akan membawa mereka kembali ke Portland. Manager hotel tak mengijinkan mereka keluar dari hotel sampai tagihan penginapan mereka dilunaskan. “Joyce” menulis berita ini sambil berurai airmata sementara aku membacanya sambil mencibir.
Apa aku tak berperi kemanusiaan? Kok tega sih? Apalagi terhadap seorang mantan supervisor yang begitu baik hati. Mencibirnya yang sedang terpuruk dalam keputusasaan dan kesedihan!
Emang sobs. Aku paling benci email-email yang seperti ini. MODUS LAMA! Ga update sedikitpun nih penjahatnya.. Bikin inovasi baru kek kalo mau nipu orang! :D
Lalu aku pun beralih ke notifikasi chatnya fb, aku yakin, akan ada “Joyce” juga disana.
Bener ternyata sobs.
Sapaannya yang aku ambil dari BB adalah seperti ini, tapi untuk menghemat tempat, aku ambil conversation yang juga tercopy di dalam fb di laptop. Yuk kita lihat….




Dan ternyata sobs, setelah menunggu beberapa lama, tak ada lagi balasan dari sang hacker, mungkin telah beralih pada mangsa berikutnya, mengharapkan kemujuran bisa menipu ‘rekan’ Joyce yang lainnya.
Bagi para sahabat yang mungkin mengenal Joyce, harap abaikan saja email darinya ya sobs… jangan buang waktu meladeni seorang penjahat kampungan yang belum meng-update modus operandinya.
Pernahkah sobat mendapati email serupa? Yuk share disini yuk....

Hari ini, dari pagi sudah wara wiri di jalanan menuntaskan beberapa pekerjaan sebelum bertolak ke bandara Sultan Iskandar Muda.  Wara wiri tanpa jeda itu akhirnya berakhir sempurna dalam artian semua checklist well performed, dan kini duduklah aku di ruang tunggu sang Sultan, menanti pangeran Sriwijaya Air mengantarkan aku ke ibukota negeri ini, yang kabarnya adalah sekejam ibu tiri. Tapi rasanya nih sobs, ibu tiri jaman sekarang ini kan udah modern sobs, ga lagi sekejam jaman cinderalla dahulu, tak juga seperti di sinetron-sinetron.

Ibu tiri jaman sekarang, aku yakin udah banyak yang baik-baik kok, yang penuh kasih sayang terhadap anak-anak tirinya….

Eh, kok jadi ngomongin ibur tiri yang? Padahal topic yang mau dibagikan kali ini jelas bukan tentang ibu tiri lho, suer deh sobs! Sebenarnya juga belum ada niat untuk posting sih sobs, habis di bandara kan bising, apalagi masih capek akibat berseliweran di jalanan dari pagi tadi. Makanya aku udah nyiapin sebuah novel yang aku temukan di kolong bawah lemari saat aku mencari sepatu tadi (halah, info yang ga perlu deh kayaknya ya sobs?), judulnya sangat eye catching deh, lihat aja nih sobs….. "mayat-mayat tanpa tulang", hiii…. Penasaran kan?

Terus apakah aku akan bercerita tentang novel ini? Tentu tidak donk sobs, wong baca aja belum, kok udah mau cerita sih? Hehe.

Ok, baiklah sobats tercinta, berhubung belum sempat buka laptop dan BW, kali ini aku ingin bagikan sebuah renungan yang aku rasa… yach… cukup layak untuk disimak deh….

Sumbernya adalah dari seorang teman, yang men-share nya di Alaika's BB Group. Yuk kita langsung simak yuk sobs…

Cobalah untuk memulai hari kita dengan niat untuk memberi. Ga sulit kok jika yang namanya NIAT sudah mendekam di hati. Mulailah dengan sesuatu yang kecil yang tak terlalu berharga di mata kita. Gimana kalo kita mulai dengan uang receh?

Yuk kita kumpuli beberapa receh yang mungkin tercecer di sana-sini, hanya untuk satu tujuan: DIBERIKAN. Apakah kita sedang berada di bis kota yang panas, lalu datang pengamen bernyanyi memekakkan telinga. Atau, kita sedang berada dalam mobil ber-AC yang sejuk, lalu sepasang tangan kecil mengetuk meminta-minta. Tak peduli bagaimana pendapat kita tentang kemalasan, kemiskinan dan lain sebagainya. Tak perlu banyak pikir, segera berikan satu dua keping pada mereka.

Barangkali ada rasa enggan dan kesal. Tekanlah perasaan itu seiring dengan pemberian kita. Bukankah, tak seorang pun ingin memurukkan dirinya menjadi pengemis. Ingat, kali ini kita hanya sedang 'BERLATIH' memberi; mengulurkan tangan dengan jumlah yang tiada berarti. Rasakan saja, kini sesuatu mengalir dari dalam diri melalui telapak tangan kita. Sesuatu itu bernama kasih sayang. Coba deh, hari ini...menyenangkan sekali....tiba2 kita jadi merasa "bahagia" .

Met Siang sobs, selamat melanjutkan aktifitas, mau boarding dulu, wish me a luck to be landed safely ya sobs….

 

 

Saleum,

Alaika

Powered by Telkomsel BlackBerry®


Sobats maya tercinta,

Kuyakin sobats semua saat ini sedang tersenyum indah karena dibuai mimpi, atau sedang mengerutkan kening karena mimpi yang menyita pemikiran? Atau malah sedang menangis tersedu karena mimpi putus cinta? Whatever! J
Terus kenapa kamu sendiri belum tidur Al?
Nah itu sobs! Inginnya sih tidur, tapi kok ya mataku sulit terpejam, rasanya ingin melek terus karena rasa hati yang exciting tiada tara. 
Entahlah sobs, hatiku kok rasanya enteng banget setelah berhasil mengakhiri sebuah kencan mesra penuh harmony dengan beberapa bacaan 'ringan' bertajuk ‘resettlement’, yang tak ayal dan tak bohong, telah membuat otakku tak henti berputar, memikirkan dan menganalisa bagaimana memasukkan issue gender ke dalam proses resettlement ini.
Resettlement? Empat tahun yang lalu, aku sempat pusing dan berkeringat dingin saat bosku memintaku untuk berkoordinasi dengan kedeputian perumahan dan pemukiman, agar the team work yang sedang menggodok perencanaan perumahan dan relokasi komunitas masyarakat korban gempa dan tsunami, tak lupa memperhitungkan unsur kesetaraan gender di dalam perencanaan tersebut.
Adalah kata resettlement yang masih begitu asing di telingaku saat itu. Sering sih mendengarnya, tapi makna yang dimaksud dari kata ini yang masih membuatku gamang. Tak hendak menyalahkan  tapi justru memaafkan diri, wajar jika aku tak memahami istilah ini, wong aku hanya seorang kapitan chemical engineer, sejak kapan harus menguasai permasalahan perumahan segala? Hihi.
Tapi masak mau protes dan menunjukkan kebodohan telak di hadapan boss yang begitu sering menganggap aku bisa diandalkan? Satu cara jitu yang aku lakukan saat itu adalah lari mencari wangsit pencerahan pada mbah andalan. Yup. Sopo meneh sobs, yo pasti mbah Google dunk. J
Dan mbah Google pun tak sembarang memberi pencerahan, tapi dia juga membantuku mengatur pencahayaan agar kadar terang/cerahnya sesuai dan lebih dari memadai. Lalu apakah resettlement itu? Ternyata arti dari kata ini adalah pemukiman kembali/relokasi atau hal-hal yang berkaitan dengan pemindahan suatu komunitas masyarakat ke suatu wilayah yang dianggap lebih layak.
Banyak sekali jampi-jampi informasi yang diberikan oleh mbah Google untuk pengayaan wawasanku sebelum maju ke medan perang melibatkan diri dalam kelompok perencanaan resettlement tersebut. Tentu aku harus mempersiapkan diri terlebih dahulu tentang gender issues related to resettlement, lesson learnt dari daerah, kota ataupun Negara lain terkait hal ini, yang tentunya akan sangat berguna sebagai masukan dalam perencanaan yang dimaksud.
Nah, beberapa hari belakangan, waktuku pun tersita untuk berfikir kembali tentang topik ini sobs. Membuat sebuah concept bagaimana memasukkan unsur kesetaraan gender ke dalam proses perencanaan pemukiman kembali komunitas masyarakat korban konflik, dan Alhamdulillah, sementara ini tugas tersebut telah selesai dan membuatku bisa bernapas lega seperti biasanya.
Lalu apakah aku akan mengajak para sahabat untuk ikut mengerutkan kening, berfikir hal-hal berat di tengah malam seperti ini? Yang konon adalah malam Minggu pula? NO. TENTU TIDAK sobs…
Tenang saja, aku tak akan mengajak pikiran sobats mengembara ke hal-hal berat yang membutuhkan pemikiran serius. Kutahu bahwa setiap kita telah begitu lelah berjibaku dengan perjuangan kehidupan, sehingga akan sangat tidak bijaksana jika postingan yang kusajikan adalah hal-hal yang justru membuat sobats harus berfikir keras untuk memahaminya.
Namun berhubung diriku belum punya postingan terbaru malam ini sobs… tak ada salahnya jika aku rekomendasikan sebuah postingan lama yang menurutku sangat layak dibaca. Postingan ini berjudul Kegagalan adalah Kesuksesan yang tertunda. Kuyakin sobats sudah terlalu sering mendengar istilah ini, dan untuk menyingkat waktu, yuk langsung ke TKP yuk sobs….

Sobats, mungkin banyak diantara kita yang tak begitu paham dengan kelainan yang satu ini. Bahkan mungkin mendengar tentangnya pun belum pernah tuh…. ya kan? Hanya sering mendengar dirinya disebut, tapi kita tak paham persisnya dia itu apa? J



Aku sendiri jadi tertarik untuk tau lebih dalam setelah diminta membaca bahan presentasi seorang kolega yang akan hadir pada sebuah acara workshop gawean ILO di Jakarta. Beberapa slide di dalamnya adalah mengenai Cerebral Palsy.

Hm.... apaan ini ya? malu donk kalo nanya langsung ke doi? he..he, ya udah, percuma donk ada oom Google kalo ga langsung browsing ke search enginenya.... Dan sobats, inilah sedikit rangkuman tentang si empunya istilah keren tapi mengerikan itu…… read more about Cerebral Palsy
Aku tahu kamu tuh kecewa banget padaku, dan aku maklum, sangat maklum akan kekecewaanmu. Siapa sih yang ga akan kecewa jika jauh-jauh datang berkunjung, eh yang dikunjungi malah tidak di rumah, atau malah molor tak memberi jawaban?

Aku yakin jika aku di posisimu, aku juga akan merasakan hal yang sama…
Tapi cobalah mengerti, aku sama sekali tak bermaksud untuk mengecilkan kehadiranmu, apalagi untuk tak menghargai kamu. Sungguh, bukan itu maksudku.
Aku memang benar-benar tak sanggup lagi bertahan tadi malam, hingga begitu saja menutup pintu dan beranjak ke peraduan. But see? I didn’t even lock the door, karena kuyakin kamu akan tiba. Akan setulus hati menjengukku.
Jika aku belum membalas kunjunganmu, atau menjawab sapaanmu, itu murni karena hari dan malam ini, aku masih berkutat dengan project masa depan yang deadline nya sudah di depan mata.  Kamu ga mau kan aku gagal gara-gara not able to accomplish the task? J
#dan kamu pun menggeleng mantabs. Thanks a lots my dear virtual friends..… J

“ku kangen kalian sobs!”
NB: 
postingan opo iki Al? hehe

Ya ampun, ternyata aku telah duduk disini sedari pagi…
Tak sadar kini malam telah berganti pagi, lagi.
Pantas saja bahuku terasa nyeri…
Akibat duduk berdiam diri… sambil ketak ketik memainkan jemari

Apa? Sudah pagi lagi? Ya ampun sobs… lanjut besok aja ah… mau tidur dulu…

Good nite dear friends, good rest and nice dream yaaa….

image was taken from my Laptop print screen

Hah? Sudah tanggal 7 Juni? Gile bener…Kularikan kursor ke sudut atas monitor laptopku. Sebuah tanggalan terhampar memperlihatkan deretan angka-angka seperti gambar di samping. Benar, hari ini Kamis, 7 Juni 2012. Ga bisa dimundurkan lagi…. Gawat..wat..wat!

Aku hanya punya 3 hari lagi untuk mempersiapkan concept proposal yang wajib dilampirkan di dalam aplikasi lamaran kerja yang ingin aku layangkan ke Fukuoka, Japan.
Duh, ribet amat sih persyaratan untuk bisa bergabung di organisasi yang satu ini? Padahal posisi yang ingin aku apply ini kan jauh dibawah posisiku sebelumnya? Iya sih…setiap organisasi punya persyaratan tersendiri, yang bisa saja berbeda dengan organisasi lainnya. Tapi concept proposal? Bikinnya kan ga gampang… harus mempelajari secara mendalam dulu akan materi atau topik projectnya, baru punya ide untuk memikirkan concept nya.
Intinya aku harus belajar lagi, jika memang bener-bener ingin diterima bekerja di tempat yang satu ini. Harus belajar lagi. Baiklah…
Maka duduklah aku sedari pagi tadi, membuka-buka dokumen lama related to the topic of the project. Juga berkunjung secara resmi mencari ‘wangsit’ di rumahnya mbah Google nan tampan lagi berjenggot putih bak para suhu kawakan di perguruan shaolin utara. #halah.
Kucoba untuk fokus pada beberapa dokumen yang sengaja aku buka lebar. Sengaja menahan diri untuk tidak mengintip sama sekali ke rumah mayaku tercinta ini. Namun bunyi tang ting di BB, notified me that some comment posted in my virtual corner, membuat tangan kananku gatal untuk meraih si mungil hitam manis bernama Alaika OnyxBerry, membukanya dan tersenyum membaca komen yang ditinggalkan oleh sang tamu di rumah mayaku.
Blogger mana yang sanggup bertahan untuk tidak melongok ke rumah mayanya, jika dirinya sedang duduk manis berhadapan dengan laptop yang terkoneksi ke internet secara sempurna? Sobats sanggup? Aku sih tidak. Maka dokumen yang sedang terbuka pun tertindih sempurna oleh halaman My Virtual Corner yang terpampang lebar. Tanpa sadar tenggelamlah aku akan pesona dan nikmatnya blogging ini. Satu persatu komen yang masuk aku balas rapi, dengan niat segera kembali ke halaman dokumen yang pasti akan coba memahami tingkahku ini.
Namun widget ‘friends update’ yang terletak di sisi kanan pojok mayaku, menampilkan aneka postingan menarik, yang baru di update di blog para sahabat. Bukan, bukan lupa akan niat untuk segera kembali ke dokumen yang harus aku pelajari, namun… aku hanya berniat untuk menjenguk sebentar ke rumah para sahabat, membalas silaturrahmi mereka. Kan aku tuan rumah yang baik? #mencari pembenaran aksi. Huh!!
Tak hanya sampai disana, kini halaman fesbuk pun ikut terbuka, gatal jemari ini untuk update status. Update status pun done. Perfect, kini kembali ke dokumen. Ealah dalah…. Notifikasi fesbuk. 1, 2, 3, 4…. Dan seterusnya bermunculan…. Tenggelam lagi aku dalam aksi balas komen. Asyik banget…. Teman-teman yang sudah lama tidak terkonekpun bermunculan memberi komen, jangan2 setan memang sengaja nih membisiki teman2ku itu untuk tergerak hati, agar aku terikat disini dan tak kembali pada dokumen yang harus aku pelajari… Huft!!
Dentang jam dinding di ruang tengah rumah ibuku, berdentang nyaring. Kutajamkan telinga untuk mendengarnya, padahal jelas2 angka 11:08 tertera di sudut kanan atas laptopku. Masih berharap angka ini salah dan dentangan jam diluar berbunyi Sembilan kali saja… Come on Al? mimpi kali yeee?
Benar sobs, dentangan itu sebelas kali, dan aku belum lagi mengerjakan concept proposalnya…. Malah postingan ini yang tercipta oleh tarian sepuluh jemari yang bergerak lincah kesana kemari. Merangkai kata dan curcol pada para sahabats semuanya. Duh… Al… blogging addicted banget sih kamu yaaaa? Ayo sana balik dan fokus pada dokumen yang harus kamu pelajari!! Sisi batin yang baik hati mulai mengingatkanku. Dan kali ini sisi batin ini mulai cerewet sobs… sebelum berbagai nasehatnya meluncur bebas, ijinkan aku kembali fokus pada dokumen-dokumen, mengolahnya menjadi sebuah concept proposal yang apik ya…
Wahai hatiku yang nakal, biarkan aku fokus sejenak… please…

Selamat pagi menjelang siang dan selamat beraktifitas sobs!
Have a great day!
Sinar sang surya yang begitu melimpah menyinari segenap penjuru kota ini, membuatku memutuskan untuk segera membawa Gliv ke tempat pemandian special. Tubuh luarnya yang bergelimangan debu dan noda, membuat dirinya sama sekali tak elok dipandang mata. Belum lagi tubuh bagian dalamnya… yang penuh berbagai penampakan kotor akibat beberapa benda yang dua hari ini dijejali masuk ke tubuh indahnya… duh, membuat dirinya sama sekali tak menarik untuk dimasuki….. Tak ada kompromi lagi, ini sudah keterlaluan! Gliv harus segera ‘disucikan’, dimandikan agar keindahan dan kemolekannya terpancar kembali. Juga agar aroma tubuhnya semerbak mewangi seperti biasanya..
Maka dari itu, begitu sang surya semakin cemerlang, segera kularikan Gliv ke tempat pemandian, tempat dimana ritual pembersihan dirinya dilaksanakan. Seperti biasanya, aku hanya diijinkan mendampingi Gliv sampai di pintu batas ‘serah terima’, dan begitu Gliv kuserah terimakan pada para petugas pemandian, aku dipersilahkan untuk menunggunya di ruang tunggu, atau pun di kantin yang menyediakan hotspot. Pastinya aku memilih kantin donk, selain hotspotnya yang menjanjikan koneksi yang lancar jaya, juga karena kata kantin kan identik dengan makanan dan minuman….. ?? so…sambil mengisi perut, ngenet, mengerjakan beberapa tugas yang harus segera aku setorkan pada pemberi tugas, aku bisa mengintip ritual pembersihan diri Gliv dari lantai atas ini...
nongkrong dulu ah sambil bikin postingan.... 
Bagiku, Gliv sangatlah istimewa. Dia bukan hadiah ulang tahun dari seorang suami atau ayah ibu. Dia juga bukan bonus karena prestasi gemilang yang berhasil aku persembahkan untuk instansi…. Bukan juga hadiah undian yang menghampiri…
Dia adalah impian yang menjadi nyata. Perwujudan kerja keras bersimbah peluh dan restu Sang Maha Pemberi. Menatap Gliv, membuatku percaya bahwa tiada mimpi yang mustahil sejauh kita punya strategic planning yang SMART (Smart, Specific, Achievable, Realistic and Time bound) dalam meraihnya. Mengelus Gliv, membuatku ingin bersujud pada Sang Maha Pemurah, atas anugerah dan perkenannya mewujudkan impianku.
Jatuh bangun kehidupanku di masa lalu, malang melintang di dunia kerja yang gajinya tak pernah menanjak drastis, jelas menyadarkanku bahwa impian ini akan teramat sulit untuk digapai. How can I get the dream come true jika gajiku tetap aja 2,5 – 3 juta perbulan? Apalagi kala itu aku masih single parent? Aku harus mengubah strategi, dan Allah sang Maha Pemberi membuka pintu rezeki... Undangan untuk bergabung di sebuah lembaga international untuk program tanggap darurat terhadap bencana membuatku tercengang. Tercengang melihat rate gaji yang melebihi gaji Managerku di kantor Medan. Oh Tuhan…. Bahkan untuk membantu masyarakat daerah asalku, yang tanpa dibayarpun aku akan rela melakukannya dengan tulus, malah aku dibayar professional, dengan angka yang menakjubkan. Subhanallah. Pintu itu memang terbuka, lebar. Alhamdulillah ya Allah….

Bekerja di dunia kemanusiaan, berbaur dengan berbagai orang dari segala penjuru dunia, adalah kebahagiaan tersendiri bagiku. Pengalaman baru yang kian memperkaya wawasan dan kemampuan, membuatku benar-benar excited. Kubahagia, dan sejenak lupa akan impian yang tergantung tinggi. Kok bisa lupa? Karena aku tak sejenakpun mendongak ke atas, sehingga tak kulihat impianku terselip diantara gemintang. Yang kulakukan adalah memuaskan diri, traveling ke luar negeri. Maklum sobs, reaksi orang kantong kering yang tiba-tiba kantongnya menjadi sedikit basah, hehe. Tidak, tentu aku tak melupakan Intan, sang buah hati. Tentu saja Intan kuajak di beberapa kali perjalananku.
Waktu terus berputar hingga suatu kali aku tersentak kala menatap langit biru. Angkasa kala itu gemerlap ditaburi gemintang yang bercahaya. Sebuah pendar gemerlap melambai memberi tanda. “Ini aku yang sekian lama telah kau gantung tinggi. Raih aku saat ini atau tidak sama sekali!”
Astaga!! Aku lupa akan impian yang telah kusemat nun jauh di angkasa raya. Hasrat hati – impian jiwa yang terpatri puluhan tahun silam…. Masihkah aku punya waktu? Kuhitung-hitung tabungan yang tersisa…. menggeleng aku sambil mengerutkan dahi. Tidak cukup. Pasti tidak cukup. Aku harus mengumpulkan rupiah demi rupiah sekian banyak lagi, aku butuh kurang lebih 200 juta untuk menjemput impian itu. ”Tolong sabar wahai impian…. Nantikan aku sebentar lagi yaaa…!”
Tabunganku begitu ramping. Aku harus memberinya gizi yang cukup agar tumbuh sempurna. Tak ayal lagi, aku fokus menggapai impian, sebelum semuanya terlambat. Dunia kerja yang kugeluti ini, bukanlah sebuah dunia yang sustain/berkelanjutan. Pekerjaan yang berbasis project ini harus disiasati dengan teramat jeli. Maka kutetapkan langkah, bahwa pendar impian nan tinggi di atas sana, harus kujemput tahun depan. Kembali aku merubah strategi. Pekerjaan baru dengan gaji yang jauh lebih tinggi. Dan Alhamdulillah, pekerjaan baru dengan gaji yang jauh lebih tinggi itu Allah bukakan jalan bagiku.
Merinding seluruh bulu romaku, terharu segenap kalbu, meriak air bening di telaga bola mata, itulah reaksi utama kala (akhirnya) aku berhasil juga menjemput impian itu. Ingin tau sobs? Apa sebenarnya impian itu? Dan mengapa aku begitu ter-obsesi untuk meraihnya?
Impian itu adalah: memiliki sebuah kendaraan roda empat, baru, yang aku beli cash dari hasil keringat sendiri. Bukan donasi dari orang tua maupun suami.
Kenapa sampai begitu terobsesi? Obsesi ini muncul pada suatu hari di tahun 1988, kala itu aku masih kelas tiga SMU, ayahku dengan keras memarahi dan mengecamku karena tanpa sengaja aku telah membuat mobil kesayangannya penyok, gara-gara aku terlalu nekad masuk gang sempit yang kiri kanannya dibatasi pagar tembok. Kemahiranku mengemudi kala itu masih dibawah rata-rata, tapi kok ya nekad nerobos gang sempit itu, Sok paten! Penyoknya mobil ayahku adalah bukti nyata ketololan dan kenekadanku. Wajar jika kemudian ayah merepet panjang lebar dan bahkan mengecam tanpa ampun. Wong mobil kesayangan yang cuma satu-satunya itu aku penyokin seperti itu. J Kata-kata penutup dari repetan panjang itu  sungguh membuat aku bercita-cita ingin punya mobil sendiri.
“Makanya kalo dibilangin itu dengar, jangan bandel. Udah tau ga ahli nyetir, nekad pula masuk kesitu. Kalo mau suka-suka, pake mobil sendiri, jangan mobil orang lain.!”
Aku yang begitu sensitif kala itu, langsung tersudut dan sediiih banget sobs. Seketika muncul sebuah impian di hati ini, untuk memiliki kendaraan sendiri, yang aku beli dengan uangku sendiri.
Sejak itu aku ngambek beberapa bulan, ga mau pake mobil ayahku… hehe.
Well sobs, postingan ini aku share bukan untuk menyombongkan diri, karena kusadari sepenuhnya, mungkin bagi orang lain, mewujudkan impian seperti ini adalah hal kecil dan biasa saja. Namun bagiku, ini adalah hal yang sangat luar biasa.
Yang ingin aku bagikan adalah bahwa sebuah impian,
setinggi apapun, insyaallah akan mampu kita wujudkan sejauh kita mempersiapkan STRATEGIC PLANNING yang SMART dan konsisten mengimplementasikan setiap langkahnya.
Tak ada impian yang tidak mungkin diraih, sejauh impian itu Specific/spesifik, Measurable/terukur, Achievable/bisa dicapai, Realistic/realistis dan Time Bound, ada batas waktunya.
Bagaimana dengan sobats? Adakah pengalaman sobats yang bisa dishare tentang impian yang menjadi nyata serta proses menggapai impian tersebut? Share yuk….


Newer Posts Older Posts Home

Author

I am a chemical engineer who is in love in humanity work, content creation, and women empowerment.

SUBSCRIBE & FOLLOW

Speaker

Speaker
I love to talk/share about Digital Literacy, Social Media Management, Content Creation, Personal Branding, Mindset Transformation

1st Winner

1st Winner
Click the picture to read more about this.

1st Winner

1st Winner
Pemenang Utama Blog Competition yang diselenggarakan oleh Falcon Pictures. Click the picture to read more about this.

1st Winner

1st Winner
Blogging Competition yang diselenggarakan oleh Balitbang PUPR

Podcast Winner

Podcast Winner
Pemenang Pilihan Dewan Juri - Podcast Hari Kemerdekaan RI ke 75 by KOMINFO

Winner

Winner
Lomba Menulis Tentang Kebencanaan 2014 - Diselenggarakan oleh Pemerintah Aceh

Winner

Winner
Juara Berbagai Blogging Competition

Featured Post

Yuk telusuri Selat Bosphorus yuk!

Yuk telusuri Selat Bosphorus yuk! Sesaat sebelum naik ke kapal verry Ki-ka: Adik ipar, Aku dan Ayah. Hai.... hai.... hai! In...

POPULAR POSTS

  • Manusia Pertama, Manusia Purba atau Nabi Adam ya?
  • Pocut Meurah Intan: Kartini lain sebelum Kartini
  • It's Me!
  • Iran, si Negeri Syiah Sejati
  • Trims untuk para sahabat
  • Maafkan Intan Mi....
  • The trip to Dieng 2
  • Penculikan tragis nan romantis
  • Berbagi Cerita Bersama BCA - Kemudahan Bertransaksi via BCA
  • Sensasi Lebaran di Negeri Orang - Turkey

Categories

  • about me 1
  • accessconsciousness 1
  • advertorial 10
  • Anak Lanang 1
  • awards 20
  • bali 1
  • banner 1
  • bars 1
  • Beauty Corner 29
  • belarus 5
  • bisnis 1
  • Blog Review 2
  • blogger perempuan 1
  • blogging tips 9
  • Budaya 1
  • Catatan 12
  • catatan spesial 19
  • catatan. 53
  • catatan. task 20
  • cryptocurrency 1
  • culinary 5
  • curahan hati 6
  • daftar isi blog 1
  • dailycolor 1
  • DF Clinic 12
  • disclosure 1
  • edisi duo 5
  • email post 10
  • embun pagi 1
  • episode kehidupan 1
  • event 4
  • fashion 3
  • financial 1
  • giveaway 48
  • Gratitude 1
  • health info 9
  • Healthy-Life 16
  • info 23
  • innerbeauty 9
  • iran 4
  • joke 4
  • kenangan masa kecil 3
  • kenangan terindah 12
  • keseharianku 2
  • kisah 14
  • kisah jenaka 7
  • knowledge 2
  • kompetisi blog 1
  • komunitas 2
  • KopDar 8
  • Korea 1
  • kuliner 7
  • Lawan TB 2
  • lesson learnt 7
  • life 2
  • lifestyle 4
  • lineation 32
  • lingkungan 1
  • Literasi Digital 2
  • motivation 9
  • museum tsunami aceh 1
  • New Year 2
  • order 1
  • oriflameku 2
  • parenting 4
  • perempuan tangguh 4
  • perjalanan tiga negara 1
  • personal 3
  • petualangan gaib 6
  • photography 1
  • picture 5
  • podcast 1
  • Profile 12
  • puisi 5
  • reflection 3
  • renungan 25
  • reportase 23
  • resensi 2
  • review 42
  • review aplikasi 1
  • rupa 1
  • Sahabat JKN 2
  • sakit 1
  • sea of life 17
  • sejarah 5
  • Sekedar 1
  • sekedar coretan 76
  • sekedar info 23
  • self-love 1
  • selingan semusim 9
  • seri BRR 4
  • snack asyik 1
  • Srikandi Blogger 2
  • Srikandi Blogger 2013 7
  • Srikandi Blogger 2014 4
  • SWAM 1
  • task 43
  • teknologi 1
  • tentang Intan 34
  • Test 1
  • testimoni 9
  • Tips 57
  • tradisi 1
  • tragedy 1
  • traveling 59
  • true story 7
  • tsunami 9
  • turkey 9
  • tutorial 7
  • visa 1
  • wisata tsunami 2

Followers


Blog Archive

  • December (1)
  • October (1)
  • March (1)
  • August (2)
  • May (1)
  • April (2)
  • March (6)
  • February (3)
  • January (1)
  • December (1)
  • November (5)
  • October (4)
  • September (3)
  • August (5)
  • July (3)
  • April (1)
  • January (1)
  • December (2)
  • November (1)
  • October (1)
  • September (1)
  • June (1)
  • February (1)
  • December (1)
  • September (2)
  • August (2)
  • July (1)
  • June (1)
  • March (1)
  • February (1)
  • December (5)
  • September (2)
  • August (3)
  • July (1)
  • May (3)
  • April (2)
  • March (1)
  • February (1)
  • January (7)
  • December (1)
  • November (5)
  • September (3)
  • August (1)
  • July (4)
  • June (1)
  • May (1)
  • April (3)
  • March (6)
  • February (5)
  • January (7)
  • December (8)
  • November (4)
  • October (12)
  • September (4)
  • August (3)
  • July (2)
  • June (5)
  • May (5)
  • April (1)
  • March (5)
  • February (4)
  • January (6)
  • December (5)
  • November (4)
  • October (8)
  • September (5)
  • August (6)
  • July (3)
  • June (7)
  • May (6)
  • April (7)
  • March (4)
  • February (4)
  • January (17)
  • December (10)
  • November (10)
  • October (3)
  • September (2)
  • August (5)
  • July (7)
  • June (2)
  • May (8)
  • April (8)
  • March (8)
  • February (7)
  • January (9)
  • December (10)
  • November (7)
  • October (11)
  • September (13)
  • August (5)
  • July (9)
  • June (4)
  • May (1)
  • April (12)
  • March (25)
  • February (28)
  • January (31)
  • December (8)
  • November (3)
  • October (1)
  • September (12)
  • August (10)
  • July (5)
  • June (13)
  • May (12)
  • April (19)
  • March (15)
  • February (16)
  • January (9)
  • December (14)
  • November (16)
  • October (23)
  • September (19)
  • August (14)
  • July (22)
  • June (18)
  • May (18)
  • April (19)
  • March (21)
  • February (27)
  • January (17)
  • December (23)
  • November (20)
  • October (16)
  • September (5)
  • August (2)
  • March (1)
  • December (2)
  • April (1)
  • March (1)
  • February (6)
  • January (1)
  • December (1)
  • November (4)
  • September (4)
  • August (1)
  • July (8)
  • June (16)

Oddthemes

Flickr Images

Copyright © My Virtual Corner. Designed by OddThemes