Kisah sebelumnya bisa dibaca di:
Petualangan Gaib 1, Petualangan Gaib 2 dan Petualangan Gaib 3
Malam kian kelam, selubung gaib kian menyelubung sementara kabar tentang roh Dijah yang dilarikan oleh Datuk Srigala belum terdengar. Icha sendiri yang biasanya maestro dalam hal menerawang, cukup dengan menutupkan telapak tangan di matanya, kini tak berdaya. Tak mampu menembus dan menemukan keberadaan roh Dijah. Hadeuh, kemana si datuk Srigala ini melarikan Dijah?
Icha terus saja menangis. Ternyata, bocah jin juga sama dengan manusia. Menangis tersedu begitu kehilangan ibu mereka. Bujukan dan rayuanku yang sebenarnya juga teramat galau oleh peristiwa tak masuk akal yang baru saja berlangsung di hadapan, tak mempan dalam upaya mendiamkan Icha. Sungguh membuatku kian kalut. Anehnya, Cindy justru terlihat tak begitu panik! Adakah bocah ini tak menyadari gentingnya situasi yang sedang berlaku? Adakah karena tubuh ibunya yang dirasuki Icha masih terlihat sehat dan bergerak di hadapannya, maka bocah ini merasa bahwa ibunya baik-baik saja? Entahlah! God, fenomena ini sungguh di luar nalarku ya Allah, ijinkan aku menembus selubung gaib ini....
Tampaknya, sekuat apa pun kadar doaku agar Allah menyibak selubung gaib ini dan biarkan daku mengintip ke alam-Nya yang satu ini, tetap belum terkabul. Belum saatnya, Al! Mungkin itulah jawaban Allah atas doaku, dan aku hanya mampu mengelus kepala Icha lembut seraya terus membujuknya. Bocah jin ini berulang kali menempelkan telapak tangannya ke matanya, untuk menerawang akan keberadaan roh Dijah. Dan kali ini, seruan girang meluncur nyaring dari bibirnya.
"Nda, Umi sudah ditemukan! Lagi dibawa oleh Nenek dan Buya ke rumah. Hu..hu..hu, lehernya patah, Nda! Banyak darahnya, huhuhu...." Kupeluk Icha penuh kasih seraya menyabarkannya. Tak urung, hatiku bahagia, yang penting roh Dijah telah ditemukan, semoga nenek sekeluarga dapat menyembuhkannya. Aamiin. Tentu saja Dijah tak akan pulang ke rumah ini, melainkan akan dilarikan dahulu ke kampung gaib nenek untuk pengobatan intensif. Tak apa, aku akan jaga anak-anak ini dengan baik, yang penting kamu segera sembuh, Dijah.
Dan benar saja, butuh waktu sekian lama untuk menanti Dijah kembali ke tubuhnya sendiri. Pertama, karena si datuk srigala selalu saja berseliweran di sekitar kami, menanti roh Dijah menyatu kembali dengan tubuhnya. Kedua, karena pemulihan leher Dijah butuh waktu yang lumayan lama untuk dapat sembuh kembali seperti sedia kala. Ternyata, roh yang terluka, butuh waktu penyembuhan yang lebih lama dibandingkan dengan tubuh/raga manusia. Hm....
Sementara itu, purnama belum juga menunjukkan wajah cantiknya. Awan dan hujan ibarat setali tiga uang dalam berkonspirasi. Beberapa kali nenek muncul [masuk ke tubuh Dijah] untuk bisa berkomunikasi langsung denganku, yang secara mutlak berubah menjadi baby sitter bagi Icha dan Cindy. Lebih tepatnya sih bagi Cindy, karena Icha, walau baru berusia 4 tahun tapi lebih mandiri dibandingkan Cindy. Bahkan bocah jin ini dengan piawai menyisir dan mengikatkan rambut Cindy setiap pagi dengan aneka gaya, sebelum kami antarkan ke sekolah. Kami? Ya, kami.
Selain jadi baby sitter for Cindy, aku juga turut mengantarkan Cindy ke sekolah, tapi karena aku ga begitu mahir mengemudikan sepeda motor di jalan raya serame jalanan Kota Medan, akhirnya kami terpaksa 'memanggil' Ayu [sepupu Icha] yang berumur 17 tahun, untuk mengemudi. Jadi selama perjalanan ke sekolah, Icha keluar dulu dari tubuh Dijah, diganti dengan Ayu yang langsung piawai bersepeda motor! Ajaib? Lebih dari Amazing! :) Dan jika bukan karena sudah terbiasa menghadapi fenomena ini, mungkin aku sudah menganggap diriku sedang tak waras. But this is really true, aku serumah dengan sebuah raga [Dijah], tapi jiwa yang menghuninya silih berganti. Jadi Icha regularly, jadi Bahry saat harus mengangkat galon air minum ke dispenser, jadi Ayu saat mengantar Cindy ke sekolah, jadi Kak Mira, saat memasak and other house keeping task! Subhanallah, tiada yang tak mungkin terjadi jika Engkau menghendakinya, ya Allah.
Purnama yang dinanti rasanya lamaaaa sekali munculnya. Belum lagi cuaca yang redup oleh mendung dan awan yang payungi lazuardi. Haduh, aku sungguh tak sabar menanti kepergian si datuk srigala. Kata nenek sih, dalam dua hari ini, purnama akan menampakkan diri, dan begitu si purnama muncul maka si srigala ini akan hengkang ke antah berantah. Dan aku sungguh penasaran menanti saat ini tiba. Hari raya Haji sebentar lagi menanti, dan ini artinya kami harus segera berangkat ke Aceh untuk berhari raya di sana. Duh, Purnama, segeralah engkau menampakkan diri!
Dan benar saja seperti perkiraan nenek, dua hari kemudian, selesai shalat shubuh, baru saja menanggalkan mukena, aku telah berhadapan dengan nenek [tentu melalui tubuh Dijah], yang menyapaku dengan ramah dan penuh kasih. Mengabarkan bahwa si Srigala telah menghilang seiring kemunculan bulan purnama. Alhamdulillah. Ini adalah berita paling baik yang pernah aku dengar selama minggu-minggu penuh teror ini. Alhamdulillah ya Allah.
Namun ternyata, Sobs! Teror terhadap Dijah belum berhenti. Srigala memang telah berlalu, namun penggantinya ternyata telah menanti di depan mata. Kali ini oleh saingan bisnis Dijah! Seorang paranormal lainnya, yang pernah bermitra dengannya. Dan, si paranormal ini, juga ikut menyeretku untuk masuk ke dalam selubung gaib yang tak juga terbuka bagi mataku yang kasat ini.
Ikuti lanjutan kisahnya di artikel Petualangan Gaib 5: Teror dari Mitra Bisnis
Petualangan Gaib 1, Petualangan Gaib 2 dan Petualangan Gaib 3
Pencurian Roh? Roh yang dirampas? Sungguh, itu masih jauh dari nalar dan logikaku. Susah payah aku berusaha untuk memahaminya, konon lagi memakluminya, tapi itulah yang baru saja terjadi di depan kepalaku. [Tak dapat kusebutkan di depan mata, karena mata lahirku tak mampu menembus selubung gaib yang begitu kental mengitari].
Malam kian kelam, selubung gaib kian menyelubung sementara kabar tentang roh Dijah yang dilarikan oleh Datuk Srigala belum terdengar. Icha sendiri yang biasanya maestro dalam hal menerawang, cukup dengan menutupkan telapak tangan di matanya, kini tak berdaya. Tak mampu menembus dan menemukan keberadaan roh Dijah. Hadeuh, kemana si datuk Srigala ini melarikan Dijah?
Icha terus saja menangis. Ternyata, bocah jin juga sama dengan manusia. Menangis tersedu begitu kehilangan ibu mereka. Bujukan dan rayuanku yang sebenarnya juga teramat galau oleh peristiwa tak masuk akal yang baru saja berlangsung di hadapan, tak mempan dalam upaya mendiamkan Icha. Sungguh membuatku kian kalut. Anehnya, Cindy justru terlihat tak begitu panik! Adakah bocah ini tak menyadari gentingnya situasi yang sedang berlaku? Adakah karena tubuh ibunya yang dirasuki Icha masih terlihat sehat dan bergerak di hadapannya, maka bocah ini merasa bahwa ibunya baik-baik saja? Entahlah! God, fenomena ini sungguh di luar nalarku ya Allah, ijinkan aku menembus selubung gaib ini....
Tampaknya, sekuat apa pun kadar doaku agar Allah menyibak selubung gaib ini dan biarkan daku mengintip ke alam-Nya yang satu ini, tetap belum terkabul. Belum saatnya, Al! Mungkin itulah jawaban Allah atas doaku, dan aku hanya mampu mengelus kepala Icha lembut seraya terus membujuknya. Bocah jin ini berulang kali menempelkan telapak tangannya ke matanya, untuk menerawang akan keberadaan roh Dijah. Dan kali ini, seruan girang meluncur nyaring dari bibirnya.
"Nda, Umi sudah ditemukan! Lagi dibawa oleh Nenek dan Buya ke rumah. Hu..hu..hu, lehernya patah, Nda! Banyak darahnya, huhuhu...." Kupeluk Icha penuh kasih seraya menyabarkannya. Tak urung, hatiku bahagia, yang penting roh Dijah telah ditemukan, semoga nenek sekeluarga dapat menyembuhkannya. Aamiin. Tentu saja Dijah tak akan pulang ke rumah ini, melainkan akan dilarikan dahulu ke kampung gaib nenek untuk pengobatan intensif. Tak apa, aku akan jaga anak-anak ini dengan baik, yang penting kamu segera sembuh, Dijah.
Dan benar saja, butuh waktu sekian lama untuk menanti Dijah kembali ke tubuhnya sendiri. Pertama, karena si datuk srigala selalu saja berseliweran di sekitar kami, menanti roh Dijah menyatu kembali dengan tubuhnya. Kedua, karena pemulihan leher Dijah butuh waktu yang lumayan lama untuk dapat sembuh kembali seperti sedia kala. Ternyata, roh yang terluka, butuh waktu penyembuhan yang lebih lama dibandingkan dengan tubuh/raga manusia. Hm....
Sementara itu, purnama belum juga menunjukkan wajah cantiknya. Awan dan hujan ibarat setali tiga uang dalam berkonspirasi. Beberapa kali nenek muncul [masuk ke tubuh Dijah] untuk bisa berkomunikasi langsung denganku, yang secara mutlak berubah menjadi baby sitter bagi Icha dan Cindy. Lebih tepatnya sih bagi Cindy, karena Icha, walau baru berusia 4 tahun tapi lebih mandiri dibandingkan Cindy. Bahkan bocah jin ini dengan piawai menyisir dan mengikatkan rambut Cindy setiap pagi dengan aneka gaya, sebelum kami antarkan ke sekolah. Kami? Ya, kami.
Selain jadi baby sitter for Cindy, aku juga turut mengantarkan Cindy ke sekolah, tapi karena aku ga begitu mahir mengemudikan sepeda motor di jalan raya serame jalanan Kota Medan, akhirnya kami terpaksa 'memanggil' Ayu [sepupu Icha] yang berumur 17 tahun, untuk mengemudi. Jadi selama perjalanan ke sekolah, Icha keluar dulu dari tubuh Dijah, diganti dengan Ayu yang langsung piawai bersepeda motor! Ajaib? Lebih dari Amazing! :) Dan jika bukan karena sudah terbiasa menghadapi fenomena ini, mungkin aku sudah menganggap diriku sedang tak waras. But this is really true, aku serumah dengan sebuah raga [Dijah], tapi jiwa yang menghuninya silih berganti. Jadi Icha regularly, jadi Bahry saat harus mengangkat galon air minum ke dispenser, jadi Ayu saat mengantar Cindy ke sekolah, jadi Kak Mira, saat memasak and other house keeping task! Subhanallah, tiada yang tak mungkin terjadi jika Engkau menghendakinya, ya Allah.
Duhai Purnama, segeralah engkau Muncul
![]() |
| Picture taken by Teh Dey |
Dan benar saja seperti perkiraan nenek, dua hari kemudian, selesai shalat shubuh, baru saja menanggalkan mukena, aku telah berhadapan dengan nenek [tentu melalui tubuh Dijah], yang menyapaku dengan ramah dan penuh kasih. Mengabarkan bahwa si Srigala telah menghilang seiring kemunculan bulan purnama. Alhamdulillah. Ini adalah berita paling baik yang pernah aku dengar selama minggu-minggu penuh teror ini. Alhamdulillah ya Allah.
Namun ternyata, Sobs! Teror terhadap Dijah belum berhenti. Srigala memang telah berlalu, namun penggantinya ternyata telah menanti di depan mata. Kali ini oleh saingan bisnis Dijah! Seorang paranormal lainnya, yang pernah bermitra dengannya. Dan, si paranormal ini, juga ikut menyeretku untuk masuk ke dalam selubung gaib yang tak juga terbuka bagi mataku yang kasat ini.
Ikuti lanjutan kisahnya di artikel Petualangan Gaib 5: Teror dari Mitra Bisnis
Sebuah catatan pembelajaran
bahwa tiada yang tak mungkin terjadi di dalam kehidupan ini,
bahkan hal yang sulit diterima oleh nalar sekali pun,
Al, Bandung, 15 January 2014









