My Virtual Corner
  • Home
  • Meet Me
  • Contact
  • Disclosure
  • SOUL
    • Mindset & Motivation
    • Self Love
    • Parenting
    • Puisi
  • BODY
    • Travel Tales
    • Wellness & Beauty
    • Lifestyle & Cullinary
  • BRAIN
    • Digital Literacy
    • Professional Tips

Berbelanja secara online, tentu bukan lagi hal yang aneh untuk dilakukan. Kuyakin, banyak dari kita yang pernah bahkan sering melakukannya. Dan dari pengalaman berbelanja online tersebut, tentunya pula, banyak dari kita yang mengalami pahit getirnya transaksi itu.

Aku sendiri termasuk orang yang suka sekali berbelanja online. Selain praktis dan efektif, juga membuat kita tak perlu jauh-jauh meninggalkan rumah/kantor untuk melakukan transaksi. Tinggal pilih, order, bayar, dan tunggu lah paketnya sampai ke depan pintu alamat pengiriman kita.

Namun, tentu saja, kita tak bisa sembarangan berbelanja online. Artinya, kudu verifikasi terlebih dahulu, toko online/supplier mana yang kredibel/terpercaya untuk menjadi tempat kita berbelanja. Karena, tak bisa dipungkiri bahwa, di jagad maya ini, banyak sekali website/situs yang berkedok jualan ini itu, padahal hanya akal-akalan atau fiktif belaka. Tak jarang, para customer dibuat kecewa, karena setelah pembayaran, barang yang dinanti tak pernah kunjung tiba.

Back to the topic, Belanja Online yang Bikin Jantungan! Pengalaman inilah yang ingin aku bagi kali ini, Sobs! Walau setahun lebih telah berlalu, tepatnya pada tanggal 25 Januari 2012 yang lalu, namun hingga kini tragedy ini begitu membekas di hati. Trauma? Tidak juga, tapi cukup membuatku menjadi sangat hati-hati, sesudahnya. #Terkadang, pengalaman pribadi adalah guru terbaik. :)

Hari sudah hampir menjelang magrib kala itu, namun aku masih saja tenggelam dalam tumpukan pekerjaan tanpa mampu membebaskan diri. Sementara niat hati, sejak pagi sudah begitu kuat untuk berbelanja online, hari ini. Harus hari ini, karena aku sudah tak sabar untuk berpindah ke 'rumah' baru. Aku ingin rumah maya tercinta ini, kala itu masih beralamat di http://my-virtualcorner.blogspot.com, untuk segera hijrah ke rumah baru yang lebih keren, berdomain . [dot]com!

Makanya, walau sibuk dengan beberapa laporan yang harus direview, niat ini tetap saja menari-nari dan mencuri perhatianku. Hingga kuputuskanlah untuk melakukan aktivitas belanja domain, di sore hari menjelang pekerjaan kantor selesai. Dan, ternyata, barulah pada saat menjelang magrib itu, pekerjaanku tuntas, dan mulailah aku bertransaksi.

Seorang teman blogger ngasih rekom untuk belanja online di sini, karena ini adalah situs penyedia domain-hosting terpercaya. Tentu donk aku percaya penuh dan langsung mengikuti petunjuk untuk bertransaksi. Sebuah domain dengan namaku sendiri, alaika abdullah tersedia. Yeay!! Dengan harga yang sangat terjangkau pula. Rp. 87.023 [delapan puluh tujuh ribu dua puluh tiga rupiah]. Murah bener kan? Maka dengan santai kumasukkan angka yang harus kutransfer itu, dan memulai prosesnya. Sandi dari token kudapatkan dan masukkan langsung ke layar monitor yang telah menanti....

Karena disarankan untuk menambahkan angka unik di belakang angka yang harus kutransfer, tanpa pikir panjang kutambahkan angka 99 di belakang angka 87023 itu, sehingga terbentuklah deretan angka 8702399. Aku masih santai dan sama sekali tak menyadari jika angka yang berjejer itu telah membentuk digit jutaan! Masih dengan santai pula, aku menekan tombol KIRIM untuk meng-ok-kan transaksi tersebut. Tulisan di layar yang memberitahukan bahwa transaksi TERLAKSANA dengan sukses, jelas membuatku gembira. Hore, aku telah mendapatkan domain, alaikaabdullah [dot] com sebentar lagi akan menjadi URL rumah maya ini.

Loginlah aku kembali ke member area si penyedia website, untuk mengkonfirmasi transaksi yang telah aku lakukan. Kumasukkan data yang diminta, lalu sebuah notifikasi muncul dari si penyedia website, menyatakan bahwa telah terjadi kelebihan/kekurangan transfer terhadap tagihan Rp. 87.023 itu. Awalnya aku masih belum ngeh, kucoba lagi mengulang entry data yang diminta, dan sekali lagi muncul notifikasi yang sama, bahwa telah terjadi kelebihan/kekurangan transaksi.

Barulah, meluncur bebas dari bibirku teriakan sempurna. "Ya Allah! Oh My God!" dan aku terdiam. Ingin menangis! Tanpa sadar aku telah mentransfer dana sejumlah Rp. 8.615.376 [delapan juta enam ratus lima belas ribu tiga ratus tujuh puluh enam rupiah]! Tak tanggung-tanggung, aku telah kelebihan transfer sejumlah Rp. 8.615.376 [delapan juta enam ratus sekian rupiah]. Oh Tuhan! Hiks.

Panik? PASTI! Mana sedang azan Magrib pula, pasti deh ini toko sudah tutup. Gimana donk ini? Aku langsung curhat pada teman yang memberi rekom. Dan atas inisiatifnya, aku langsung dial nomor telp si penyedia situs, yang memang tersedia di websitenya. Alhamdulillahnya, telefon dan laporanku diterima dengan baik oleh mereka, dan untuk laporan resminya, aku juga segera menyertakan email tentang hal ini, yang langsung dibalas bahwa mereka akan segera menindak-lanjutinya. Bahwa tim accounting mereka akan menelusuri hal ini, dan jika memang benar telah terjadi kesalahan seperti itu, maka mereka akan mengembalikan kelebihan transfer itu. Tentunya, dalam waktu maksimal 14 hari kerja. Its, ok, tak masalah bagiku, yang penting uangku kembali. Delapan juta sekian itu, sangat berarti buatku, Sobs! Hiks.

Tapi, walau jawaban mereka sangat responsif, namun aku tetap aja ketar ketir tuh, jantungan menanti proses verifikasi dan pengembalian uang itu. Kebayang kan, Sobs? Gimana deg-degannya menanti uang sebanyak itu? Hiks. Dan Alhamdulillahnya, keesokan harinya, aku mendapat balasan email dari penyedia website ini, bahwa mereka akan segera memproses pengembalian kelebihan dana tersebut, dalam waktu maksimal 14 hari ke depan. Alhamdulillah. Tak salah aku memilih toko online ini, mereka begitu profesional!  Lega rasanya, Sobs! :)

Namun, pengalaman ini, sungguh memberiku pelajaran untuk:

- Teliti sebelum bertindak! Apalagi saat ini, ujung jari punya kekuatan prima, sekali hentak di tuts keyboard, dia mampu mengirimkan apa saja. Email, pesan, bahkan rupiah atau dolar atau mata uang lainnya ke rekening yang dituju....

- Bahwa jangan menganggap enteng segala sesuatu. Tadinya aku anggap angka 99 tak berarti apa-apa, karena dia hanya akan berdiri di belakang koma, aku lupa, bahwa net banking tidak membaca tanda titik atau koma, maka puluhan ribu menjelma menjadi jutaan! Hiks..hiks..

- Jangan menunda. (tadinya aku rencana mau shalat Magrib dulu, baru jemput Intan, eh malah jadi menuntaskan pembayaran, baru shalat dan jemput Intan, yang akhirnya satu pun tak jadi aku laksanakan). Ya Allah, ampuuun...

- dan lain-lainnya...


Well, Sobs, gitu deh pengalaman belanja online yang sempat bikin aku jantungan. Beli domain termahal di dunia, haha. Untung perusahaan dimana aku melakukan transaksi, cukup profesional. Semoga artikel ini dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua ya, Sobs!

Cerita ini diikutsertakan dalam Arr-Rian's Giveaway
Pengalaman Belanja Online


Sebuah catatan pembelajaran dalam kehidupan,
Al, 14 Juni 2013, The Papandayan Hotel, Bandung,


Orangnya tinggi, tegap, tampan dan sangat santun. Itulah kesan pertamaku kala pertama kali bertemu dan berinteraksi dengannya. Pemuda yang namanya pun belum pernah kudengar sebelumnya, tapi serta merta menarik perhatian dan membuatku terkagum-kagum, saat Mira Sahid, si MakPon [sang Pendiri] KEB yang juga adalah salah satu panitia Asean Blogger Festival, memperkenalkan dan menyandingkan kami, untuk mewakili Blogger Indonesia, menyampaikan pesan dan kesan, pada hari penutupan Asean Blogger Festival 2013 kemarin.

Dimas, begitu pemuda ini dipanggil, mendengarkan penuturanku dengan santun. Bertanya dan mendengarkan dengan baik apa-apa yang aku jelaskan, terkait hal-hal yang perlu kami sampaikan pada saatnya nanti. Terus terang, pemuda ini, begitu menarik perhatianku. Ada sesuatu yang begitu istimewa terpancar dari kepribadiannya. Matanya boleh saja tak bersinar, namun taukah Sobats? Cahaya terang itu terpancar sempurna dari semangat hidup dan pancaran kecerdasannya yang mungkin Dimas sendiri tak menyadarinya. 

Ya, Dimas Prasetyo Muharam, seorang anak muda inspiratif, yang mengalami penurunan daya lihat sejak usia 12 tahun, kala dirinya duduk di kelas enam SD, caturwulan kedua. Disebabkan oleh toxoplasma yang menyerang kornea matanya, dan menuntun Dimas kecil untuk mengadaptasikan diri dan bersahabat dengan kegelapan.

Foto dicaptured dari tayangan acara Kick Andy, yang di share di You tube.

Dimas bertekad untuk menjadi seorang tuna netra yang TIDAK BIASA. Prestasi-prestasi akademiknya yang sudah terbiasa dia peroleh kala cahaya kehidupan masih bersahabat dengannya, tetap mampu dia pertahankan. Bahkan, tekad dan semangat juangnya yang tak pantang menyerah, sukses menjadikannya seorang sarjana jebolan dari Fakultas Sastra [Inggris], Universitas Indonesia! Wow! Tak hanya itu, dalam keterbatasan penglihatannya, pemuda ini justru tercatat menjuarai berbagai lomba kepenulisan lho! Juga lomba berpidato dalam bahasa Inggris dan segudang prestasi lainnya, yang bisa dilihat pada informasi diri yang tertera di rumah mayanya. Prestasi-prestasi di atas, masih ditambah lagi dengan aneka predikat keren lainnya yang dilekatkan kepadanya. Diantaranya adalah, blogger, penulis artikel di koran, Ketua Komunitas Kartunet, dan lain-lain.
See, Sobs? Kemauan dan semangat juang dan kepercayaan diri untuk mengejar cita, adalah bukti nyata bahwa disabilitas bukanlah kendala utama bagi seseorang untuk menggapai cita dan asa.


Menyebut Kartunet, tentu banyak diantara kita yang familiar dengan kata ini kan? Apalagi beberapa bulan ke belakang, pernah ada blog contest tentang Kartunet dan isu disabilitas. Ya, tidak salah jika pikiran kita langsung menghubungkan antara Kartunet dan disabilitas sih, Sobs!

Karena Komunitas bernama Kartunet [Karya Tuna Netra] Community Indonesia, yang dibentuk dan dikelola oleh Dimas dan teman-teman penyandang disabilitas lainnya ini memang bertujuan untuk memanfaatkan keunggulan teknologi informasi dalam rangka mendobrak stereotip masyarakat Indonesia, yang masih beranggapan bahwa kaum tuna netra dan para penyandang disabilitas lainnya, adalah merupakan kaum yang tak mampu berdikari. Masih banyak anggapan bahwa para peyandang disabilitas ini, paling bisa hanya menjadi tukang pijit [kaum tuna netra], pengemis [penyandang cacat fisik lainnya], dan berbagai pekerjaan miris lainnya.

Melalui situs Kartunet yang telah berdiri sejak tujuh tahun silam ini, Dimas dan teman-teman berupaya untuk menunjukkan bahwa tunanetra pun mampu melakukan apa yang dapat dilakukan oleh orang 'normal' di belantara dunia maya. Kaum tuna netra masa kini, telah memiliki kemampuan yang setara dengan masyarakat umum lainnya, baik dalam hal blogging, internetan, menulis fiksi, membuat tutorial, web mastering dan berbagai pekerjaan yang menyangkut bidang IT lainnya. Bahkan mampu untuk berjualan/marketing produk-produknya dengan memanfaatkan dukungan online lho! Hanya sayangnya, di Indonesia, kemampuan ini masih banyak yang belum menyadarinya. Semoga ke depannya, bersama dengan kiprah Kartunet dan sosialisasi menyeluruh dari semua pihak, akan makin banyak masyarakat awam yang ter-sosialisasikan tentang hal ini, dan tak lagi memandang sebelah mata terhadap para penyandang disabilitas, yang saat ini masih termarjinalkan.

Kembali ke sosok pemuda santun yang kukagumi, Dimas Prasetyo Muharam, yang sukses membuatku terpana menatap jemarinya yang menari gembira di atas keyboard laptopnya, dan mengundang sebongkah besar tanda tanya di hatiku. How does that work? Bagaimana cara Dimas mengetahui apa yang diketiknya? Atau bagaimana cara Dimas bisa membaca tulisan yang ada di layar? Aku sungguh terpana dan takjub! Begitu canggihnya teknologi. Oh, thanks to technology!

Sebuah software bernama Screen Reader, ternyata menjadi senjata andalan kaum tuna netra, dalam mengubah visual mode ke audio mode. Apa yang tertera di layar monitor, kemudian oleh si screen reader  diubah menjadi talking devices [perangkat yang dapat berbicara/audio] sehingga dapat dimengerti oleh teman-teman penyandang disabilitas ini. Again, thanks to technology! Salute!

Dimas [dalam white circle] sedang mengikuti seminar hari pertama ABFI 2013
Ki-ka: Dimas, Blogger Singapore, Alaika, Blogger Myanmar
Saat menyampaikan Kesan dan Pesan dalam acara ABFI 2013
Sungguh, aku terkagum akan Dimas, Kartunet dan teknologi yang kian canggih. Yang ternyata tak hanya bisa dimanfaatkan oleh orang-orang non-disabilitas, namun juga mampu ditaklukkan oleh kaum disabilitas. Sayangnya, hingga detik ini, masih sedikit Dimas-Dimas lain yang concern akan hal ini. Semoga ke depannya, akan semakin banyak teman-teman penyandang disabilitas yang tercerdaskan, terberdayakan dan mampu bersaing dalam kancah globalisasi ini. Tentunya, dengan dua modal utama yang adanya justru di hati masing-masing. Yaitu NIAT dan MAU. Niat dan kemauan untuk menguasai teknologi dalam mencapai kemandirian dan menyokong kehidupan. Seperti yang telah banyak dituliskan oleh Dimas di dalam artikel-artikelnya yang begitu inspiratif.

Well, Sobs, penasaran dengan Dimas Prasetyo Muharam? Silahkan ubek-ubek rumah mayanya, dan temukan artikel-artikel mencengangkan dan inspiratif yang tersaji di sana. Jangan lupa, luangkan juga waktu Sobats untuk bertandang ke Kartunet.com, dan rasakan sendiri kekaguman dan apresiasi yang terpancar dari hati Sobats terhadap kiprah mereka, yang sungguh setara dengan karya kaum non disabilitas!

Check it out at : Dimas P Muharam dan Kartunet Community Indonesia
Twitter: @DimasMuharam

Special Note to Dimas:
Dim, maaf ya, udah ubek-ubek blog kamu dan tanpa ijin mencurahkan kekaguman dan apresiasi saya terhadap kiprahmu dan Kartunet via artikel ini. Salam hangat dan sukses selalu!

Sumber referensi:
http://www.dimas.my.id/
http://kartunet.com
Video-video yang ada pada twitternya Dimas.
Sebuah catatan penuh kekaguman,
Al, Bandung, 13 Juni 2013

Credit 
Pernah merasa sangat marah pada seseorang? Adik, kakak, ayah, ibu, kerabat atau teman? Aku pernah. Berdebat kusir dengan seorang teman, tak berujung, menyisakan kemarahan di hatiku hingga aku bawa berhari-hari. Dia adalah seorang teman dari dunia maya, yang menjalin pertemanan denganku sejak tahun 2007, saat aku masih bekerja di BRR NAD Nias. Masih jelas di ingatanku, cara kami mulai berteman. Berawal dari friendster [masih ada yang ingat nggak ya dengan socmed yang satu ini?]. Berlanjut ke Yahoo Messenger dan kami pun jadi intense berkomunikasi.

Mengaku dirinya seorang karyawan swasta, yang juga bekerja sampingan sebagai Lelaki Penjaja Cinta [Gigolo]. Glek! Terpana aku akan keterusterangannya. Bertanya dia apakah aku tidak keberatan berteman dengan seorang gigolo? Yang kujawab diplomatis, bahwa aku berteman dengan siapa saja, dan berusaha untuk konsisten memproteksi diri untuk tetap pada jalurku sendiri, tanpa harus tercemar or terpengaruh oleh teman-temanku. Padahal, pikiranku sendiri sih udah tertarik banget untuk menjadikannya sebagai nara sumber dalam meng-eksplorasi dunia yang digelutinya itu. Lumayan nih untuk jadi sebuah novel!

Yang membuat kami bertengkar hari itu, [suatu hari di rentang tahun 2009], bukan masalah kehidupannya, tapi menyangkut isu-isu sosial yang sedang terjadi di Aceh kala itu. Yang tak bijak untuk kutuliskan disini. Yang jelas, perdebatan kami, kalimat-kalimat tajamnya, membuat aku meradang. Kuserbu dia dengan kalimat-kalimat yang kuhasilkan dari tarian jemariku yang menggila. Ternyata, saat marah, kecepatan mengetikku bisa dua kali lipat dari biasanya, haha. Dan dia memang memberiku kesempatan untuk menabur kalimat-kalimat pembelaanku terhadap daerah kelahiranku. Aku sendiri heran, bisa-bisanya si gigolo teman ini, menghina daerahku seperti itu. Come on, jika baru melihat kulitnya saja, jangan dulu mengukur isi dalamnya donk! Kenali dulu, teliti, uji/analisa, baru menilai!

Singkat kata, perdebatan kusir yang penuh emosi itu, tak berakhir. Walau satu jam kemudian, dia menelphone, meminta maaf karena percakapan kami via YM tadi, ternyata berhasil membakar emosiku. Dia memang sengaja, ingin menguji kecintaanku pada daerah kelahiranku. Bah!! Sayangnya, aku bukannya terobati oleh permintaan maafnya, tapi makin marah padanya. Siapa dia? Enak saja mau mengujiku! Dan aku memendam segudang rasa dongkol padanya. Hingga berhari-hari. 

Hingga suatu hari, kusadari, 
sebuah sapaan yang biasa menyambutku setiap pagi, 
sudah lama tak hadir lagi. 

Sepucuk kerinduan, mulai hinggap di hati. 
Rasa penasaran mulai menyelimuti. 
Kurasakan emosi yang meninggi itu kini telah terkikis menepi. 

Duhai kamu, kemana dirimu berlalu?
Kuingin kau tau, amarahku tak lagi menggebu
Telah kumaafkan dirimu

Namun, berita dari sahabatku itu, tak pernah lagi ada, Sobs. Friendsternya memang sudah jarang diupdate, karena Socmed yang satu ini sudah mulai ditinggalkan penggunanya, yang beralih ke dua akun ternama lainnya. Namun berita tentangnya, juga tak lagi ada pada dua akun terbaru ini. Hingga suatu ketika, aku mampir lagi kesana, dan melihat banyak berita belasungkawa untuknya. Hiks. Dia telah pergi, tanpa sempat mendengar kata maaf dariku. 

Credit and modified

Never go to sleep angry, because  you never know if you or the person  you are mad at will wake up  the next morning. Always forgive because you never know  you will talk to them again.  Things happen. Get over it. Always forgive . You may not forget but it's better than knowing  you will never get to say sorry or I love you again. ~ Livelifehappy

Sebuah catatan, pembelajaran dalam kehidupan
Al, Bandung, 11 Juni 2013

Credit
Tadinya ga terfikir untuk membuat postingan lanjutan related to my post "Between the Queen and the Princess", namun, chit chat dengan the diamond of my heart, Intan Faradila, dan juga komen serta chit chat dengan beberapa sahabat terkait quote indah berbunyi "Every woman may not be a queen to her husband, but she is always a princess to her father", akhirnya menuntunku untuk menerbitkan postingan berjudul di atas. "Are you Special Enough to Be A Dad?"

Aku memang teramat sangat beruntung diberikan seorang ayah yang penuh kasih, bertanggung jawab, bijaksana dan berjiwa besar seperti ayahku, pak Abdullah. Namun ternyata, aku tak perlu jauh-jauh berkaca kepada orang lain, karena di depan mataku, di dalam lingkup rumah tangga intiku, seorang anak manusia, yang adalah belahan jiwaku sendiri, ternyata dipilih Allah untuk TIDAK beroleh ayah kandung yang senantiasa menjadikannya seorang PRINCESS.

Sejujurnya, teriris hati ini saat putriku mengatakan betapa beruntungnya aku diberikan ayah sebaik ayahku, tidak seperti ayahnya yang tampaknya sama sekali tak peduli padanya. Duh! Ibu mana yang tak akan terdiam, ibu mana yang tak akan menangis mendengarkan keluhan yang seperti ini? Tuhan, kuatkan hati putriku, terangkan hatinya, bahwa dirinya adalah pilihan-Mu yang istimewa, untuk menerima cobaan-Mu. Tentu aku butuh waktu dan uraian bijak untuk menentramkan hatinya yang melo, untuk kembali ke suasana yang damai, penuh semangat dan ceria. Dan Alhamdulillah, Allah memang menganugerahiku seorang putri yang luar biasa, yang begitu mudah aku ajak mengerti, bahwa ritme hidup setiap orang itu berbeda. Ga boleh terlalu lama membanding-bandingkan, karena segala sesuatu pasti ada plus dan minusnya. Jadi ga boleh iri atau cemburu dengan kebahagiaan orang lain. 

Well, aku yakin, Intan tak sendiri. Masih banyak Intan-Intan yang lain yang bernasib serupa. Terbukti dari banyaknya komentar yang masuk melalui jalur pribadi terkait postingan "Between the Queen and the Princess", bahwa tidak semua laki-laki mampu menjadi ayah yang baik. Nun di belantara jagad ini, banyak juga para ayah yang tak mampu menjalankan perannya secara baik dan bertanggung jawab. Banyak sekali ternyata, Sobs. 

Siang ini, sambil istirahat makan siang, sengaja aku browsing sebuah quote yang cocok untuk aku sandingkan pada postingan ini, dan Alhamdulillah, aku menemukan tak hanya sebuah quote, tapi juga lengkap dengan gambar/image yang sangat menggugah hatiku untuk merangkainya menjadi sebuah postingan. Yup, image di atas, adalah yang aku temukan di jagad maya ini, semoga juga mengena di hati para sahabats yang membaca postingan ini yaaa. :)

Any man can be a father, but it takes someone special to be a Dad 
Setiap lelaki bisa saja menjadi seorang ayah, namun, BUTUH lelaki SPESIAL untuk menjadi seorang ayah yang baik

Well, Sobs, postingan ini tak punya maksud tertentu, hanya sebuah tulisan ringan yang dihasilkan oleh kerjasama apik antara pikiran dan jemariku yang menari tiada henti, menyentuh keyboard Macsy dan hasilkan postingan ini. Satu hal yang ingin aku sampaikan, bahwa anak-anak, adalah manusia cilik yang halus sekali perasaannya lho! Mari kita bina mereka, curahkan kasih sayang baginya, penuhi mereka dengan cinta dan bertanggung-jawablah selaku orang tua. 

Teruntuk para sahabatsku yang kaum Adam, mungkin tulisan ini dapat menjadi masukan kecil, untuk mengingatkan diri bahwa, anak-anak kita, sangat ingin lho menunjukkan pada teman-temannya, bahwa dia dilimpahi kasih sayang sepenuhnya dari sang ayah! Bahwa dia memiliki ibu yang penuh cinta, dan ayah yang penuh tanggung jawab. :)

Well, I am not the expert of parenting, semoga tulisan kecil ini mampu memberi manfaat, walau hanya sedikit, ya Sobs! Have a great day! 

catatan kecil, tentang pelajaran kehidupan
Al, Bandung, 7 Juni 2013

credit

Every Woman May Not be Queen to Her Husband, But She is Always a Princess to Her Father, pasti pernah donk dengar kalimat ini?  Tiba-tiba saja jadi pengen nulis tentang untaian kalimat di atas. Tanpa sebab? Ih, ya pasti ada sebabnya lah, Sobs! Postingan yang sebenarnya ga ada tanda-tanda akan ditulis ini, setengahnya bermula di bandara Husen Sastranegara, tadi pagi sih. Saat diriku hendak beranjak meninggalkan bandara, pasca keberangkatan ayah bunda tercinta, yang hendak balik ke Banda Aceh. Nah, saat menuju area parkir, langkahku urung karena alunan panggilan masuk di BBku, membuat aku hentikan langkah sementara waktu. 

Seorang teman karib, nun di Kota Medan, menelphone. Obrolan yang berawal biasa saja, saling sapa, akhirnya berkembang ke arah yang lebih serius dan sendu. Yang membuatku miris, kenapa ya diriku selalu saja menjadi tumpuan teman-teman untuk curhat akan derita batin berumah tangga? Mbok ya sekali-sekali berbagi keharmonisan rumah tangga kek, kayak cerita indah dan harmonisnya rumah tangga Mbak Niken, si bundanya Lahfy itu lho! Kan asyik tuh dengarnya. :)

Namun, kita harus bagaimana lagi jika kehidupan yang kita arungi, ternyata riak dan gelombangnya  lebih dasyat dibanding sahabat atau manusia-manusia lainnya? Harus menyalahkan siapa? Yang pasti, tentu tak mungkin menyalahkan orang lain dunk? Dan sebagai pendengar yang baik, aku hanya bisa diam, memberinya waktu untuk mencurahkan beban batin yang begitu menderu biru. Curhatan yang membuatku miris sebenarnya, dan ingin rasanya menghajar lelaki [si suami sahabatku] itu, hehe. Kok bisa sih Al? Emang kenapa? 

Coba deh, Sobs, siapa yang enggak geram bin geregetan coba, mendengar si suami ini, sering banget membanding-bandingkan istrinya [sahabatku] itu dengan istri sahabatnya yang cantik, yang seksi, yang pinter dandan, yang pinter masak, dan pinter lain-lainnya. Herannya nih, Sobs, masak sih dari sekian 'pinter' yang disebutkan itu, tak dimiliki oleh sang istri? Setauku sih, temanku ini jago masak malah sejak SMP dulu deh, jago dandan? Mungkin kurang, tapi kan bisa dipelajari! Kurang cantik? Iya sih, tapi bukankah kadar kecantikan ini sudah terukur bahkan di saat mereka memutuskan untuk pacaran hingga jadi menikah dulu? Bukankah 'kurang cantik' ini sudah terdeteksi sejak dulu? Dan bukannya muncul saat ini? So why gitu lho! Kenapa baru dipermasalahkan sekarang? 

Yang bikin makin esmosi adalah, si temanku ini, telah berusaha memperbaiki diri, belajar berdandan agar bisa tampil menarik di mata sang suami. Mencoba untuk menyambutnya dengan pakaian yang bersih, dan menarik [walo mungkin tidaklah tampil 'seksi] saat sang suami pulang kerja, menyediakan penganan dan kopi kesukaan sang suami kala telah duduk santai. Eh teteup aja, masih suka dibanding-bandingkan dengan istri orang lain, jika sedikiiiiit saja si istri berbuat kesalahan atau hal yang tidak mengenakkan. Gerem kan jadinya? Ih, mau rasanya kita kemplang tuh kepala suaminya, haha. #Untung bukan kekasih hatiku yang seperti itu. Bisa habis dia, haha.

Posisiku masih lebih banyak mendengarkan, bingung harus menyarankan apa lagi, karena sahabatku sendiri, sebenarnya telah berupaya untuk meminimalisir persengketaan, berupaya berbuat sebaik mungkin, sebisa mungkin agar tidak sampai menimbulkan friksi yang berujung pada kata-kata kasar sang suami. Tak banyak tambahan saran/tips yang bisa aku berikan, hanya saja, satu pesanku, bahwa si temanku itu, harus lebih jeli menakar mood sang suami saat pulang dari kantor. Sebagai istri yang telah belasan tahun mendampingi suaminya, tentu dia hapal donk gimana temperamental dan karakter suaminya. Jadi bisa menakar harus 'memilih' cara 'penyambutan' yang bagaimana saat sang suami ini sampai di rumah sepulang kerja. Karena hal ini juga sangat berpengaruhkan? Dan Alhamdulillahnya, langkah ini, masih kurang menjadi prioritas dalam list of attitude priorities-nya si temanku ini. Sehingga masukan ini, mendapat remark dan semoga saja bisa menjadi salah satu upaya minimalisasi timbulnya perseteruan itu. 

Namun satu hal, yang ingin aku sorot dari percakapan kami, bukanlah isue yang dibawakan oleh sahabatku tadi, melainkan sebuah paragraf penutup yang membuat hatiku tercenung. Sebuah pelajaran kehidupan baru saja dia torehkan, yang menurutku sangat layak untuk di remark dan menjadi pembelajaran bagi kita semua.

"Emang yaaa, kalo dipikir-pikir, suamiku tuh jarang banget bisa melihat kelebihan-kelebihanku, selalu kuraaaaaaangnya aja yang keliatan di matanya. Ga kayak ayahku, beliau selalu saja mampu melihat kelebihan-kelebihanku, dibalik kesalahan-kesalahan yang aku lakukan, selalu saja ada nilai tambah yang bisa digunakan untuk perbaiki kesalahan itu. Emang beda antara ayah dan suami. Aku kangen ayahku, Al!" Dan suara di seberang menjadi begitu sendu, ku tahu persis, temanku ini sedang mengenang kebersamaan dengan sang ayah yang kini telah almarhum. 

Sebuah rasa sendu ikut tertular di sanubariku, tadi pagi, kubaru saja melepas keberangkatan ayahanda dan bunda tercinta. Tapi kini, aku sudah rindu banget! Ijinkan hamba untuk dapat berbakti terlebih dahulu pada kedua bidadari itu ya, Allah, sebelum Engkau panggil mereka kembali ke haribaan-Mu. Aamiin.

Teringat aku akan sebuah quote indah tentang kasih sayang ayah pada anak perempuannya, dan inilah dia, quote favoriteku. Sebuah quote indah yang kuharap dapat menjadi pelipur lara setiap hati yang sedang dirundung duka lara. Semoga juga berkenan di hati Sobats semua yaaaa. 

Every Woman May Not be Queen to Her Husband, But She is Always a Princess to Her Father
Setiap wanita, bisa saja tidak menjadi primadona/ratu bagi suaminya, 

namun dia akan selalu menjadi sang putri [kesayangan] ayahandanya. 

Sebuah catatan pembelajaran kehidupan,
Al, Bandung, 4 Juni 2013 


Ini hanya sekedar sharing ringan, tentang yang namanya komitmen, janji, hak dan kewajiban. Weis, kok kedengarannya malah bukan topik yang ringan yaaa? Komitmen, Janji, Hak dan Kewajiban! Rasanya sih itu lumayan butuh keseriusan Al!
Ok ok, ini hanya sebuah obrolan ringan tadi pagi, dengan seorang teman yang butuh di'dengar'kan. Curhat yang secara tidak langsung juga membuka mata dan hatiku, untuk introspeksi diri.

Pernah bersama di sebuah lembaga besar bernama BRR NAD Nias, dan tinggal serumah di mess yang disediakan oleh lembaga ini, membuat hubunganku dengannya tetap karib, walo kini kami terpisah oleh jarak yang begitu membentang dan waktu yang tidak lagi sebebas dulu. Namun pagi ini, sahabatku ini langsung membubuhkan 'cinderamata'nya, begitu melihat aku online di Skype.

Maya [bukan nama sebenarnya] : Mba, aku mau curhat dunk. Need your opinion, please.
Aku: Hi, May, ok, go ahead. Listening #pasang headset. Ato mau chat aja?
Maya: Chat aja, mba, ga enak ada kolega lain di sini.
Aku: Okd. Eneng opo toh? :)

Lalu mengalirlah rangkaian huruf yang meluncur bebas di monitorku, menceritakan tentang kekecewaannya pada pemilik klinik hewan, di mana dia kini mengabdikan diri. Setahun setengah yang lalu, si pemilik klinik ini, yang adalah juga teman baik Maya, mengajaknya untuk membantunya di klinik yang dikelolanya itu. Dan sebagai salah satu spesialis di bidang ini, tentulah Maya dengan senang hati bergabung. Apalagi saat itu dirinya juga sedang menganggur, ditambah pula dengan janji manis sang sahabat, bahwa Maya tak hanya memperoleh gaji bulanan, namun di akhir tahun nanti, Maya juga akan beroleh benefit dari hasil keuntungan tahunan klinik.

Namun ternyata, setahun telah berlalu, dan keuntungan tahunan yang berkisar di atas seratus juta itu, diketahui nyata oleh Maya, namun lagi nih, ternyata, sang sahabat tersebut, belum menepati janjinya. Tunggu punya tunggu, benefit itu tak juga dicairkan, walau sedikit, untuk Maya. Maka, selang dua bulan kemudian, secara halus, Maya mulai 'mengingatkan' si sahabat akan janjinya itu. Namun ada saja alasan si sahabat untuk menunda, bahkan lama kelamaan terkesan melupakan janji tersebut. Dan inilah yang kemudian membuat kinerja Maya menurun. Jadi males untuk bekerja serius seperti biasanya. Menurutnya, ngapain juga mempertahankan kinerja optimal, jika benefit seperti yang dijanjikan tak kunjung mencair?

Di sinilah Maya mulai dihinggapi kebimbangan. Butuh second opinion untuk mendukung langkahnya tersebut. Yaitu langkah bermalas-malasan!

Tanggapanku sendiri sih, tentunya aku tidak mendukung aksi bermalas-malasan tersebut. Wajar memang, kita menjadi kesel, dan uring-uringan gegara janji/ komitmen yang tidak ditepati. Membiarkan rasa kesel hinggap di hati, juga adalah hal yang normal sih menurutku. NAMUN, rasa kesel dan uring-uringan itu, HENDAKNYA, tidaklah kita biarkan berlarut. Mengapa?

Karena, itu hanya akan merugikan diri sendiri. Okelah, memuaskan hati dengan membiarkan 'kesel' itu bersemayam sejenak di hati, boleh-boleh saja. Tapi, setelah itu, kita harus menentukan langkah. Aku katakan pada Maya, jika aku jadi dia, maka langkah yang aku ambil adalah:

Tetap bekerja dengan maksimal, mencoba bicara lagi secara profesional dengan si sahabat, mengingatkan dia tentang janji/komitmennya itu. Menanyakan padanya apa dia akan penuhi komitmennya atau tidak. Jika dia punya alasan tertentu untuk membela diri, maka aku akan tanyakan lagi, kapan tepatnya dia akan penuhi janjinya itu. Ya, tentu saja secara baik-baik dan beretika lah.  Aku yakin bahwa manusia dewasa, apalagi para profesional, tentu punya pemikiran matang dan bisa menghargai langkah ini.

Dan SEMENTARA ITU, [ini, jika memang kita sudah tidak betah lagi di tempat kerja yang ini lho], mulailah mencari lowongan baru. Banyak kok di miling list tentang lowongan kerja, setiap hari banyaaaak banget informasi lowongan kerja, yang tentunya ada yang sesuai dengan minat kita. Buatlah aplikasi, apply dan tunggu hasilnya. Sembari itu, tetaplah bekerja maksimal, karena bekerja maksimal, berarti kita sedang meningkatkan kapasitas diri kita, sedang mengukir prestasi kita sendiri, yang tentunya akan menjadi nilai tambah di dalam resume kita. Jangan lupa, keep connected with our networks [kolega dan para relasi] juga langkah nyata yang kita perlukan untuk mendukung kita melangkah maju lho!

Alhamdulillahnya, Maya bisa melihat sisi positif yang aku gambarkan, bahwa dengan mempertahankan kinerja kita yang maksimal, artinya kita sedang menabur nilai tambah di dalam portofolio kita. Yang tentunya akan menjadi aset berharga bagi kemajuan kita di masa depan.

Cuma nih, Sobs, yang aku herankan, bahkan sahabat karib sendiri [si pemilik klinik], kok bisa ya bisa bersikap seperti itu? Lupa akan komitmen yang telah diikrarkan, lupa memberikan hak setelah si orang yang bersangkutan telah tunai kewajiban? Ih, semoga kita dijauhkan dari hal-hal yang demikian ya, Sobs. Dan, introspeksi yuk, sudahkah kita tunaikan janji, sudahkah kita berikan hak pada seseorang yang telah tunaikan kewajibannya pada kita?

Sebuah catatan ringan, pembelajaran dari universitas kehidupan.
Al, Bandung, 29 Mei 2013




sumber dari sini

Menjadi pekerja kemanusiaan, tak terasa menuntun penampilanku yang dulunya feminin,  saat masih bekerja di sektor industri, perlahan kembali menjadi wanita 'tomboy' dengan penampilan serba casual. Seringnya bertugas ke daerah-daerah terpencil, dengan alam yang tidak ramah, otomatis menuntunku untuk berpenampilan ringkas dan gampang bergerak. Meng-istirahatkan bawahan-bawahan berupa rok [paling hanya dipakai jika sedang tidak bertugas ke luar daerah], dan memberdayakan celana panjang berbahan dasar jeans. 
Meng-istirahatkan tas wanita, dan meng-optimalkan penggunaan tas punggung [backpack], yang memang nyaman dipakai untuk aktif berwara-wiri. Atau dengan santai menyampirkan tas selempang casual, yang serta merta membuat penampilan terlihat begitu simple.
credit





Namun, segampang itukah berdamai dengan tuntutan hati untuk tetap tampil cantik mempesona? Ternyata, sisi feminin di dalam diri, tak bisa dipungkiri, Sobs, bergaung nyaring, menuntut untuk selalu tampil charming dan trendy! J



Sulit? Enggak juga. Alhamdulilah, aku termasuk wanita yang sejak muda dulu [jiah, ketauan deh kalo sekarang udah tua], memang selalu memperhatikan penampilan. Bagiku, pakaian boleh saja simple dan casual, namun harus ada faktor pendukung agar kesederhanaan itu memiliki suatu nilai tambah. Lha, piye carane? 

Ya, caranya adalah dengan memilih asesoris wanita  yang sesuai dengan pakaian yang kita kenakan, sesuai pula dengan tempat dan waktunya.  
credit

Misalnya, asesoris di atas, tentu tidak akan matching jika kita kenakan dengan busana bernuansa kebaya, pada saat kita akan menghadiri sebuah pesta. Gelang tangan di atas, tentu akan layak bersanding dengan pakaian berupa kemeja katun/berbahan jeans, dipadu dengan celana panjang berbahan jeans, tas selempang seperti contoh di atas atau bacpack yang terlihat pada gambar. Bener ga, Sobs? Dijamin, penggunaan pakaian, tas dan asesoris wanita yang sesuai, akan menghasilkan penampilan yang aduhai lho, walau masih bernuansa casual sekalipun! Ga percaya? Coba deh! J

Newer Posts Older Posts Home

Author

I am a chemical engineer who is in love in humanity work, content creation, and women empowerment.

SUBSCRIBE & FOLLOW

Speaker

Speaker
I love to talk/share about Digital Literacy, Social Media Management, Content Creation, Personal Branding, Mindset Transformation

1st Winner

1st Winner
Click the picture to read more about this.

1st Winner

1st Winner
Pemenang Utama Blog Competition yang diselenggarakan oleh Falcon Pictures. Click the picture to read more about this.

1st Winner

1st Winner
Blogging Competition yang diselenggarakan oleh Balitbang PUPR

Podcast Winner

Podcast Winner
Pemenang Pilihan Dewan Juri - Podcast Hari Kemerdekaan RI ke 75 by KOMINFO

Winner

Winner
Lomba Menulis Tentang Kebencanaan 2014 - Diselenggarakan oleh Pemerintah Aceh

Winner

Winner
Juara Berbagai Blogging Competition

Featured Post

Yuk telusuri Selat Bosphorus yuk!

Yuk telusuri Selat Bosphorus yuk! Sesaat sebelum naik ke kapal verry Ki-ka: Adik ipar, Aku dan Ayah. Hai.... hai.... hai! In...

POPULAR POSTS

  • It's Me!
  • Cara Membuat Stiker Sendiri di Telegram
  • Hujan Komen
  • Yuk Main ke Iran
  • Jawaban Untuk Sahabat
  • All About Tsunami: The Survivor - Ayahandaku
  • Perempuan hebat edisi: “Bapak” sedang Keluar Kota
  • Tiga Langkah agar dilirik Agency
  • KETIKA OTORITAS ALLAH DIAMBIL ALIH
  • Laksamana Malahayati, Kartini Lain sebelum Kartini

Categories

  • about me 1
  • advertorial 10
  • awards 19
  • banner 1
  • Beauty Corner 28
  • belarus 5
  • bisnis 1
  • Blog Review 2
  • blogger perempuan 1
  • blogging tips 8
  • Bocil Berbulu 2
  • body 6
  • Budaya 1
  • Catatan 8
  • catatan spesial 13
  • catatan. 53
  • catatan. task 20
  • culinary 5
  • curahan hati 2
  • daftar isi blog 1
  • dailycolor 1
  • DF Clinic 11
  • disclosure 1
  • edisi duo 5
  • email post 10
  • embun pagi 1
  • episode kehidupan 1
  • event 1
  • fashion 3
  • financial 1
  • giveaway 44
  • Gratitude 6
  • Healthy-Life 15
  • info 26
  • innerbeauty 2
  • iran 4
  • joke 4
  • Kenangan 7
  • kenangan masa kecil 3
  • kenangan terindah 11
  • keseharianku 2
  • kisah 14
  • kisah jenaka 7
  • kompetisi blog 1
  • komunitas 2
  • KopDar 8
  • Korea 1
  • kuliner 7
  • Lawan TB 2
  • lesson learnt 6
  • lifestyle 2
  • lineation 20
  • lingkungan 1
  • Literasi Digital 5
  • motivation 9
  • museum tsunami aceh 1
  • order 1
  • oriflameku 2
  • parenting 4
  • perempuan tangguh 4
  • perjalanan tiga negara 1
  • petualangan gaib 6
  • picture 5
  • Profile 13
  • puisi 8
  • reflection 3
  • renungan 24
  • reportase 24
  • resensi 2
  • review 39
  • review aplikasi 1
  • rupa 1
  • Sahabat JKN 2
  • sakit 1
  • sea of life 17
  • sejarah 4
  • Sekedar 1
  • sekedar coretan 76
  • sekedar info 23
  • self love 14
  • selingan semusim 9
  • seri BRR 3
  • snack asyik 1
  • soul 2
  • Srikandi Blogger 2
  • Srikandi Blogger 2013 7
  • Srikandi Blogger 2014 4
  • SWAM 1
  • task 41
  • tentang Intan 31
  • Test 1
  • testimoni 8
  • Tips 55
  • tradisi 1
  • tragedy 1
  • traveling 60
  • true story 7
  • tsunami 9
  • turkey 9
  • tutorial 7
  • visa 1
  • wisata tsunami 2

Followers


Blog Archive

  • May (1)
  • December (1)
  • October (1)
  • March (1)
  • August (2)
  • May (1)
  • April (2)
  • March (6)
  • February (3)
  • January (1)
  • December (1)
  • November (5)
  • October (4)
  • September (3)
  • August (5)
  • July (3)
  • April (1)
  • January (1)
  • December (2)
  • November (1)
  • October (1)
  • September (1)
  • June (1)
  • February (1)
  • December (1)
  • September (2)
  • August (2)
  • June (1)
  • March (1)
  • February (1)
  • December (5)
  • September (2)
  • August (3)
  • July (1)
  • May (3)
  • April (2)
  • March (1)
  • February (1)
  • January (7)
  • December (1)
  • November (5)
  • September (3)
  • August (1)
  • July (4)
  • June (1)
  • May (1)
  • April (3)
  • March (6)
  • February (5)
  • January (7)
  • December (8)
  • November (4)
  • October (12)
  • September (4)
  • August (3)
  • July (2)
  • June (5)
  • May (5)
  • April (1)
  • March (5)
  • February (4)
  • January (6)
  • December (5)
  • November (4)
  • October (8)
  • September (5)
  • August (6)
  • July (3)
  • June (7)
  • May (6)
  • April (7)
  • March (4)
  • February (4)
  • January (16)
  • December (10)
  • November (10)
  • October (3)
  • September (2)
  • August (5)
  • July (7)
  • June (2)
  • May (8)
  • April (8)
  • March (8)
  • February (7)
  • January (9)
  • December (10)
  • November (6)
  • October (11)
  • September (12)
  • August (4)
  • July (9)
  • June (4)
  • May (1)
  • April (12)
  • March (25)
  • February (28)
  • January (30)
  • December (8)
  • November (3)
  • October (1)
  • September (12)
  • August (10)
  • July (5)
  • June (13)
  • May (12)
  • April (19)
  • March (15)
  • February (16)
  • January (8)
  • December (13)
  • November (16)
  • October (23)
  • September (19)
  • August (14)
  • July (22)
  • June (17)
  • May (17)
  • April (19)
  • March (21)
  • February (27)
  • January (17)
  • December (23)
  • November (20)
  • October (16)
  • September (5)
  • August (2)
  • March (1)
  • December (2)
  • April (1)
  • March (1)
  • February (6)
  • January (1)
  • December (1)
  • November (4)
  • September (4)
  • August (1)
  • July (8)
  • June (16)

Oddthemes

Flickr Images

Copyright © My Virtual Corner. Designed by OddThemes