Archive for September 2016
Menu
/ /
Intan Anak Tetangga, yup, kalimat itu langsung bikin aku ngakak, ketika diceritakan oleh ibu gurunya Intan ke aku, nun jauh, di masa lalu, kala Intan masih duduk di sekolah Taman Pendidikan Al-Quran (TPA). Oya, sebenarnya kisah ini udah lama banget hingga bikin aku lupa sama sekali, namun barusan blogwalking ke postingannya Mba Enci Harmoni tentang buah hatinya di sekolah. Jadi keingat deh akan kisah lucu Intan, belasan tahun lalu.

Jadi ceritanya gini, nih, Sobs! Intan tuh, anaknya mandiri dan supel banget. Gampang banget berteman dengan siapa pun, dan ini beda jauh dengan sifat emaknya (di masa kecil) dahulu, yang pemalu dan penakut.

Baca juga: Alaika Yang Pemalu dan Malu-maluin

Nah, karena aku dan ayahnya Intan sama-sama bekerja, maka untuk urusan antar jemputnya Intan, tentu bukan hal yang mudah. Tapi Alhamdulillahnya, kami itu tinggalnya bertetangga (sebelahan rumah) dengan ibu gurunya Intan. Bu Fifi, namanya. Nah, Alhamdulillahnya lagi, bu Fifi ini emang baik banget, dan juga karena kami temenan, bu Fifi memang menawarkan diri agar Intan berangkat dan pulang sekolah bersamanya dan Lala (anaknya bu Fifi, yang juga adalah teman sekelas Intan). Siplah. Alhamdulillah, donk. Dan pulang sekolah, Intan diasuh oleh Nek Titi, ibu pengasuhnya, yang sudah seperti ibu sendiri bagiku, tinggalnya juga bertetanggaan.

Seperti halnya Lala, anaknya bu Fifi, Intan juga termasuk anak yang supel banget, seperti yang aku ceritakan di atas ituh. Dan karena sama kecilnya, sama pula seragamnya, keduanya memang terlihat mirip. Hanya saja Intan, tuh, hidungnya jauh lebih mancung dari Lala, hingga suatu hari, pernah tuh, Intan minta dipendekin idungnya biar mirip Lala. Haha. Ada-ada ajah! Oya, Intan juga anaknya punya jiwa sosial yang tinggi, lho. Suka bawa jajanan yang banyak ke sekolah, terus dibagi-bagiin ke teman-temannya. Hadeuh, emak bisa tekor, donk, kalo anaknya begini terus! Haha. Bu Fifi sampai bilang gini, deh.

'Kak, ini Intan luar biasa jiwa sosialnya, masak makanan di bagi-bagi ke teman sampai dia sendiri makannya cuma sedikit doang. Awalnya aku curiga apa makanannya ga enak, tapi tuh, anak-anak pada makan dengan bersemangat. Aku cicip, enak, kok! Ampun, deh. Ini si Lala juga jadi ikut-ikutan bagi-bagi makanan. Bersedekah, katanya.' Hayyah.

Suatu malam, aku dan bu Fifi lagi duduk nyantai di teras rumah. Biasalah, bercerita tentang perkembangan Intan dan Lala di sekolah. Nah, bercerita lah bu Fifi tentang kejadian suatu siang, sambil tertawa.

'Kak, tadi siang ada cerita lucu, lho! Kan kami naik angkot. Seperti biasa, Intan dan Lala duduk berdampingan, di sampingku. Nah, ada ibu-ibu yang memperhatikan keduanya. Ngajakin ngobrol kedua anak-anak ini. Wah, cantik-cantik banget ini. Sekolah di mana, nak? Tanya si ibu. Lala yang menjawab. Di TPA Istiqomah, bu. Nama saya Lala. Nama Saya Intan, sambut Intan juga. Lalu si ibu nanya lagi, Intan dan Lala sudah kelas apa? Keduanya serentak menjawab Kelas Nol Besar, bu. Haha. Terus si ibu bertanya lagi. Ini mamanya ya? " Fifi diam sejenak. Aku masih mendengarkan. Lalu lanjutnya,

'Aku senyum-senyum aja. Membiarkan Lala menjawab karena aku lihat, tuh anak, udah langsung mau menjawab. Iya, bu. Ini mama saya. Lalu tau enggak Kak, Intan lanjut dengan kalimat apa? Hihi.'

Aku penasaran donk.... 'Apa?' serbuku kepo.

'Intan langsung bilang, kalo Intan, anak tetangganya, bu. Umi Intan kerja, jadi ga dianterin Umi. Intan bareng sama bu Fifi, tetangga kami, ya kan, bu Fifi? Haha. Antara terenyuh dan pengin ngakak aku kak. Soalnya Intan tuh menjelaskannya dengan ceria, tanpa beban dan bangga gituh, menunjukkan kemandiriannya. Hehe. Dan si ibu juga pinter, langsung bilang gini. Oya? Wah, Intan jago, masih kecil udah mandiri, ya! Kata si ibu sambil mengacungkan jempol. Dan Intan langsung bangga.'

Hehe, Nak..., Nak. Kamu tuh, bikin Umi terenyuh, deh. Walo kamu bangga dengan kemandirianmu, tapi Umi sedih, ga bisa ngantarin apalagi nungguin atau jemput kamu ke/dari sekolah, karena Umi dan Ayah harus kerja. Maafkan Umi, ya, Nak. Tapi..., Umi memang bangga sama kamu, sayang! You are my sunshine, yang dari kecil ternyata memang sudah diciptakan untuk tangguh dan mandiri. I am proud of you, Nak! Love you endlessly!

Well, Sobs, punya kisah lucu tentang polah ananda? Share yuk, di kolom komentar.

Tentang Intan,
Al, Bandung, 29 September 2016
Read More
/ /
beli pulsa online
Solusi Cerdas di Ujung Jemari 

Hari ini, pengen cerita tentang hal yang bener-bener bikin mati gaya. Mati gayanya gara-gara kehabisan pulsa, nih, Sobs! Pasti pernah donk ngalami momen tragis nyebelin seperti ini? Lagi di jalan, tiba-tiba kudu nelpon seseorang yang memang ga bisa dihubungi lewat koneksi data internet (whatsapp, telegram, atau messenger lainnya) karena si orang yang ingin kita hubungi itu memang cuma bisa dihubungi pake saluran telepon. Nah, kalo udah begini situasinya, rasanya emang bener-bener mati gaya, deh, yaaaaa! 

Aku sendiri termasuk yang sudah jarang menggunakan pulsa telepon untuk berbicara dengan seseorang. Karena mostly the contact numbers on my phone tuh udah menggunakan WA, telegram atau setidaknya FB Messenger, deh, sehingga komunikasiku dengan orang-orang yang ada di kontak list itu, sudah lebih mudah dan irit. Ya melalui fasilitas salah satu messenger itu, deh. Namun, berkomunikasi dengan ibu atau ayah, terkadang, mereka itu ga selalu terhubung dengan paket data lah, ya. Sehingga ada masa di mana mereka tuh ga bisa dihubungi melalui telegram/WA. Yaaa, namanya juga orang yang udah sepuh, teteup aja lebih suka bicara melalui telepon daripada ketak ketik sampe jari keriting di atas layar hape yang luasnya tak seberapa ituh. Hehe.

Gawat, Setrikaanku di rumah masih terhubung ke listrik!

Kejadiannya baru tiga hari lalu, jadi masih fresh banget di ingatan dan bikin suasana gimanaaa, gituh. Baru saja turun dari komuter line, dan akan lanjut ke halte busway untuk perjalanan selanjutnya ke kantor. Dan ingatanku melayang ke setrika yang kabelnya masih tersambung cantik ke saklar listrik, karena aku lupa mencabutnya dan pastinya si setrikaan masih nyala donk hingga saat ini. Hadeuh, panik donk. Etapi..., ga boleh panik, Al. Keep calm..., tenang, batinku menenangkan diri, padahal hati udah dag dig dug juga sih. 

Duh, gimana ini? Masak harus pulang lagi ke apartemen, sih? Bisa telat donk eikeh. Pak Bos bisa manyun dan ga enak banget ntar mukanya. Etapi, sik..., sik, kan ada ibu dan ayah di apartemen. Sip. Tinggal telpon aja dan minta tolong ayah atau ibu untuk nyabut colokannya. Aman, dah! Problem solved, lah, yaaa. 

Namun, Sobs! Siapa coba yang ga kesel ketika nomor sudah di-dial, eh ternyata pulsa eikeh kagak cukup, bo'! Sebel kan? Huft. Tapi hari gini, apa sih yang ga mudah? Segala transaksi sudah bisa dilakukan dari ujung jemari khaaan? Maka, aku pun melipir ke pinggiran, cari tempat duduk biar aman bertransaksi. Biasanya sih, aku beli pulsa online tuh via internet banking ajah. Gampang dan mudah. Tinggal buka halaman net banking via hape, siapkan tokennya, masukkan data transaksi dan proses. 

Etapi, Sobs! Coba, deh. Token biru, si alat perang utama untuk transaksi net banking yang aku simpen di dalam pouch tempat aku menaruh alat tulis, kok malah ga kebawa! Pouchnya tertinggal di meja kerja, di rumah. Hadeuh, emang lah yaaa, kalo udah ada kendala yang satu, kendala yang lain pasti mengikuti, deh! Hiks.... sebeeeel! Setrikaan masih menyala...., token net banking ga kebawa, pulsa ga bisa diisi.... hayyah! Perfecto! Panik? Ga boleh, atuh lah! Harus tenang. Hehe.

Banyak jalan menuju Roma, toh? Dan beli pulsa kan ga hanya bisa melalui net banking, bisa juga di mart-mart terkemuka kan? Bisa juga ke teman yang jualan pulsa. Etapi, ada yang lebih praktis lagi sekarang, mah! Beli pulsa juga udah bisa di toko online yang menyediakan fasilitas ini, lho! Tapi bayarnya kudu piye? Kan masalahnya ga bawa token, gimana mau net banking, sementara aku ga aktifkan fasilitas m-banking?

Bisa lho, beli pulsa online di toko online dan bayarnya via mart terkemuka lainnya. 

Yup, kecanggihan teknologi memang diperuntukkan untuk memudahkan para penggunanya, lho! Dan toko online yang satu ini, termasuk salah satu yang memanjakan customernya dengan berbagai cara. Salah satunya ya ini, memberi keleluasaan bagi customernya dalam memilih metode pembayaran. Lupa bawa token? Masih bisa bayar via mart terkemuka. Asyik. Kalo beli pulsa di mart terkemuka kan bisa juga toh, Al? Ga perlu kerja dua kali, langsung aja beli di sana.  

Bisa, sih. Tapi terkadang kan kudu ngantri juga waktu masukin data transaksinya. Kalo kita ke martnya hanya untuk bayar aja, kan udah saving waktu, udah motong step entry data. Iya, toh? 
Nah, maka aku milih untuk beli pulsa via toko online ini, deh. Stepnya juga gampang banget, lho!
Beli pulsa online di tokopedia

Dan untuk kasusku, yang lupa bawa token sehingga ga bisa melakukan pembayaran via net banking, aku pilih metode pembayaran via indomaret deh, karena mart yang satu ini ada di stasiun di mana aku berada saat itu. Sip. Caranya gampang banget, lho! Seperti yang aku bikin di info grafis di atas, tuh, Sobs!

Alhamdulillah, kepanikan hari itu berakhir smoothly. No more tragedy and all of my activities conducted positively. Kalo kamu, pernah alami hal-hal yang bikin mati gaya? Share donk di kolom komentar....
catatan kecil,
Al, Bandung, 28 September 2016
Read More
/ /
Love you, Dad. Yes, now and forever! Gimana enggak coba, Sobs! Kasih sayangnya itu, lho, luar biasa. Udah setua ini akunya, masih juga ditemani sampai ke halte busway, alasannya ga tega melepaskan anak perempuannya (helloooo, anak perempuannya ini udah 46 tahun lho, Yah! Hehe) jalan sendiri sepagi ini, di tempat yang masih asing. Oh, Yah, pagi-pagi gini engkau sudah meluluhkan hatiku. Hiks.... *haru banget deh.

Jadi ceritanya gini, Sobs. Besok, Kamis, 8 September 2016, adalah jadwal Ayahku konsultasi lagi dengan salah satu dokter jantung di rumah sakit Harapan kita, jadi hari ini, kudu periksa darah dan teman-temannya lagi deh sebelum menghadap si dokter. Nah, jadi tadi malam, kami sudah check ini di sebuah wisma di dekat rumah sakit agar lebih mudah mencapai rumah sakitnya dibanding tinggal di Depok, di tempatku. Jadilah kami (aku, Intan, Mamak dan Ayah) nginep di wisma itu. Dan kemarin siang, adikku yang jemput Mamak sama Ayah ke Bandung, langsung menuju wisma tadi.
Sementara Intan, dari kampus (Kota Jababeka) menjemputku ke kantor di sore harinya untuk sama-sama menuju wisma. Yang ya ampun, perjalanan dari Kuningan ke Harapan Kita itu luar biasa melelahkan. Tiga jam perjalanan hanya untuk jarak kurang lebih 14 km. Masyaallah. Aku sampai stress dan ingin rasanya memusnahkan sesuatu. Haha. *tanduk merah sempat keluar hingga 1 meter.

Dan pagi ini, karena ga kenal lokasi dan belum tahu rute perjalanan ke kantor, aku inisiatif donk untuk berangkat lebih cepat dari biasanya. Jadi jam 5 pagi aku udah siap tuh, dandan dan berpakaian which is masih pakaian kemarin (untung eikeh ga bau badan, haha), karena belum bawa pakaian untuk ke rumah sakit. Dan jam 1/2 enam udah di halte busway RS Harapan Kita, diantar si Ayah. Dan Ayah tercinta ini, bukannya langsung balik ke wisma, tapi malah masih berdiri menunggu sampai aku naik tangga penyeberangan, masuk ke halte dan masih juga menunggu dengan tatapan ke arahku, padahal jauh lho. Hingga aku akhirnya menelpon beliau dan memintanya untuk pulang ke wisma, kuatir nanti Mamak malah was-was, karena Ayah kok lama baliknya. Kan ceritanya kita nemeni orang sakit, yaitu si Ayah, ini kok orang sakitnya malah nganterin anak perempuannya ke busway segala. Hehe. Ayah.... Ayah.... I love you, so much and much much more, deh!
Entahlah, di satu sisi, aku begitu bahagia memiliki ayah yang sebaik ini. Namun di sebuah sudut lain sisi hati, ada pilu yang mengiris kalbu, mengingat putri tercinta tak memiliki ayah yang sebaik ini. Ayahku dan ayahnya Intan memang sangat bertolak belakang. Yang sabar ya, Nak. Ada Umi yang selalu menjadi umi dan ayah bagimu, kan, sayang? Juga ada abuchik dan mami yang penuh perhatian. Okey? Keep smile dan semangat menggapai masa depan, ya, nak! *kok malah jadi melow.

Udah dulu ah, ceritanya. Intinya cuma mau bilang, Every women may not be a queen for her husband, but she always be the princess to her father! Mungkin tak semua perempuan menjadi ratu di hati suaminya, namun di mata dan hati ayahnya, dia akan selalu menjadi tuan putri tersayang. 

Tentunya, ini berlaku bagi sebagian besar anak perempuan, karena contoh nyata di depan mata, ada juga anak perempuan yang tak seberuntung itu, sih! Lucky me, poor Intan. Hiks....

Baca juga Between Queen and Princess
goresan hati,
Al, Kuningan- Jakarta, 7 September 2016





Read More
/ /
Solusi Jitu Hilangkan Kantung Mata merupakan kata kunci yang paling dicari oleh para wanita yang bermasalah dengan kantung mata. Dan postingan ini tercipta bukan karena maraknya kata kunci tersebut, melainkan karena memang aku sendiri sudah lama bermusuhan berhadapan dengan problema yang satu ini.

Yes, kantung mata! Eye bags. Oh tidak! Bergulirnya sang waktu, perputaran roda kehidupan, tak dapat dipungkiri telah menyumbang tak hanya efek positif namun juga negatif terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Terhadap kita, misalnya. Pertambahan sang waktu, pastinya memberi kematangan jiwa, namun juga memberi efek 'penuaan' yang akan terlihat secara fisik pada penampilan kulit, wajah, maupun perubahan bentuk tubuh. Jika dulu kita begitu sehat, kuat dan berstamina prima, maka pertambahan sang waktu, tanpa kompromi telah menurunkan kualitas kesehatan tubuh, mengendurkan kekencangan kulit dan membuat tulang mulai rapuh hingga ke penurunan penampilan fisik yang tak lagi se-prima dulu. Alhamdulillahnya sih, hingga usia kini, 46 tahun di Juli 2016 kemarin, aku masih dikaruniai kesehatan yang cukup baik, sehingga bisa beraktivitas dengan sigap dan tangkas, mulai dari wara wiri kesana kemari using commuter line, busway, naik tangga dan jembatan penyebrangan yang tingginya luar biasa hingga ke aktivitas lainnya yang menguras tenaga.

Namun, namanya juga bertambah usia, tentu berbanding terbalik dengan physical look seseorang. Termasuk akuh, Sobs! Walo banyak yang bilang, 'ah, Mba Al, mah, awet muda. Masih cantik dan kulitnya kinclong!', tapi tetap aja, Sobs, ada sesuatu yang begitu mengganggu dan sukses bikin galau. Ya itu tadi, si kantung mata yang begitu setia bertambah ukurannya. Hadeuh!

Udah nyoba sih, menggunakan beberapa tips alami seperti kompres mata dengan potongan timun segar, tomat, atau pun es batu. Etapi, ga ngaruh, euy! Teteup aja yang namanya kantung mata itu, setia menghiasi! Huft! Hingga kemudian, bertemulah aku dengan seorang dokter kece dari DF Clinic. Familiar kan dengan klinik kecantikan dan kesehatan yang satu ini? Yang pernah aku tulis di tulisan Proionik dari Klinik DF ini?

Nah, menurut dokter David, si dokter kece itu, untuk kasus kantung mata seperti yang kini aku hadapi, sih, ga bisa lagi mengandalkan treatment maskeran/kompresan dengan hanya menggunakan bahan-bahan alami seperti di atas, karena memang udah nyata banget. Jadi satu-satunya cara jitu, aman dan terkendali adalah dengan treatment dermafiller.

Ih, apaan itu dermafiller treatment, Al?

Jadi dermafiller itu adalah suatu teknik atau proses penyuntikan nutrisi pelembab kulit yang berupa hyaluronic acid yang dikemas dengan teknologi agar tidak cepat diserap oleh tubuh. Teknologi ini memungkinkan hyaluronic acid untuk mengisi area-area lemak di bawah kulit yang menipis oleh sebab penuaan. 
video

Ada berbagai merk dermafiller di pasaran saat ini, dan hanya 6 brand yang diakui dunia sebagai produk yang memiliki kualitas terbaik dengan penelitian yang mumpuni. Dermafiller yang baik ditandai dengan tidak menimbulkan rasa perih pada pasien saat dilakukan penyuntikan. Jenisnya terbagi atas 6 tipe dari pelembab. Pengisi berbentuk lunak, medium, keras dan lift berbentuk lunak dan medium.

Itu sebabnya penting bagi dokter yang akan melakukan penyuntikan untuk memahami dengan benar texture filler sebelum melakukan treatment. Karena tekstur untuk batang hidung, misalnya, tidak akan cocok untuk bibir. Begitu juga tekstur untuk pipi tentu tak akan cocok untuk bawah mata. Tekstur pelembab tidak akan cocok untuk mengisi. Dan seterusnya.

Dermafiller akan memberikan hasil yang indah apabila teknik penyuntikan dan pemiihan tekstur tepat indikasi. Hasilnya adalah sebuah keindahan wajah yang alami, muda dan fresh. Oleh sebab itu walaupun sama merknya, belum tentu skill dari dokternya sama.
Duh, pantesan sering kita lihat wajah-wajah yang terlihat muda tapi tak natural, karena salah indikasi ya, Sobs? Mungkin karena mereka tidak melakukan treatment pada yang ahlinya? Misalnya malah treatment di salon-salon kecantikan dengan tenaga ahli yang tidak kompeten? Plus produk yang kurang baik? Bisa jadi, ya, Sobs?

Untungnya, aku ketemu dengan dokter David Budi Wartono, yang juga akrab disapa dengan panggilan 'doctor Dave' yang memang mendalami dan ahli di bidang ini. Yang lebih unik lagi tuh, si dokter kece ini ga mau sembarangan menuruti permintaan pasiennya, lho! Melainkan dia sesuaikan dengan kelayakan dari wajah si pasien itu sendiri, sehingga hasil treatment-nya akan terlihat natural.

Dan, treatmentnya itu gimana, sih, Al? Disuntik? Sakitkah?

Hehe. Aku tuh termasuk orang yang paling takut disuntik. Seingatku, kali terakhir aku disuntik adalah ketika melahirkan Intan 20 tahun lalu, saat akan dibius lokal untuk operasi caesar. Eh enggak dink, kira-kira 5 tahun lalu, aku sempat disuntik bagian lengan deh, untuk anestesi saat akan pasang implant kontrasepsi pada bagian lengan. Setelah itu ga pernah lagi. Jika sakit pun, aku pasti nego sama dokter untuk tidak perlu disuntik. Dan semakin happy karena memang saat ini, dokter pun males kok nyuntik-nyuntik pasiennya. Kecuali.... untuk treatment yang satu ini, satu-satunya cara memasukkan cairan hyaluronic acid ke bawah permukaan kulit yang ditargetkan adalah dengan menyuntiknya. Hiks... atuuut!

Good bye Eye Bag, Selamat tinggal Kantung Mata!

Yes. Itu adalah judul yang sangat tepat untuk artikel ini. Dan hari itu, ditemani oleh sohib setia, Nchie Hanie, kami memasuki ruangan dr. Dave. Sapaan ramahnya, langsung bikin hati happy dan mampu mengusir rasa takutku. Iyalah, aku kan takut disuntik, plus juga aku tuh penasaran banget akan treatment ini. Tak hanya penasaran tapi juga was-was, karena belum pernah mengalami juga belum pernah melihat sendiri treatment ini dilakukan pada orang lain. Jadi ya, was-was gitu deh! Takut sakit. Hehe.

Etapi, dasar dokter-nya ramah dan suka mengedukasi, sambil blio memeriksa kondisi wajah dan si kantung mata, si dokter kece menjelaskan tentang treatment ini, sehingga baik aku, Nchie dan the videografer pun paham tentang treatment yang akan dilakukan, manfaat serta hasilnya nanti.

Dan, seperti yang dikatakan oleh dr. Dave, proses treatment ini hanya memakan waktu yang singkat banget, lho! Dimulai dengan pemeriksaan kondisi wajah dan bagian yang akan di-treatment, di mana dr. Dave menandai bagian-bagian itu dengan pinsil alis berwarna merah, untuk memudahkannya melakukan penyuntikan pada bagian yang akan diisi/filler.

Setelah digambar, barulah dr. Dave mengambil jarum suntik, mengisinya dengan filler dan kemudian menyuntikkannya ke bagian wajahku yang telah ditandai. Ah iya, sebelum treatment dimulai, layaknya treatment medis lainnya, aku harus menandatangani surat persetujuan terlebih dahulu donk, baru kemudian tindakan dimulai. Oya, aku juga diberi bantalan kecil untuk digenggam dan diremas-remas in case aku kesakitan saat di suntuk nanti. Yang ternyata, Sobs, ga sakit sama sekali, lho! Hehe. Cuma suntikan awal aja yang terasa sedikit sakit, setelah itu, aman tentram lancar jaya, deh!
Tak lebih dari 30 menit, treatment selesai dan hasilnya? Wow! Aku sungguh pangling melihat wajahku sendiri. Kantung matanya udah pergi! Alhamdulillah.... pengen rasanya meluk dr. Dave erat-erat. Untungnya ada perawat, videografer dan Nchie, kalo ga ada mereka, pasti aku udah menghambur dan meluk si dr. Dave erat to say my big thanks for his kindness and smart treatment.
DF Clinic
Kiri: Foto Wajah Sebelum Dermafiller
Kanan Atas dan Bawah: Foto Wajah setelah Dermafiller
DF Clinic
Foto Wajah setelah dermafiller
Another big thanks lainnya yang ingin aku curahkan adalah pada kecanggihan teknologi, yang telah membuat para dokter jadi makin piawai dalam membantu hilangkan permasalahan pasien-pasiennya. Ya seperti treatment dermafiller ini, Sobs! Memang sih, harganya tidaklah tergolong murah. Karena untuk sesuatu yang berkualitas baik, aman dan nyaman, dan dilakukan oleh para expert/dokter ahli, tentu ada harga tertentu yang harus dibayarkan, toh? Ada rupa, ada harga lah istilahnya ya, Sobs?

Sobat penasaran dengan prosesnya? Yuk, tonton video ini untuk dapatkan gambaran secara sempurna akan treatment dermafiller, yuk!  


Hm, gimana, Sobs? Canggih banget, yak? Dan bagi Sobats yang memiliki persoalan serupa, di mana kantung matanya sudah begitu mengganggu penampilan, bisa banget nih konsultasi langsung dengan doctor Dave via telegramnya di @krissnanda atau hubungi DF Clinic di:

Jl. Leumah Neundeut No.10 Bandung 40164 
Telp. (62-22) 2010593 Hunting - 
Pin BB. 2290FF6F

catatan spesial, dermafiller, 
kado istimewa dari DF Clinic
Al, Margonda Residence, 5 September 2016
Read More
/ /
Tak terasa, waktu memang seakan berlari. Tak pernah sejenak pun mau berhenti, apalagi berdiam diri dan mau berkompromi. Tak akan. Sang waktu memang tak pernah mau berhenti. Terus saja berputar, membentuk kisaran yang semakin lebar.

Nak, dua puluh tahun kini usiamu. Wow! Ya ampun, 20 tahun, Nak! Gede banget deh anak Umi sekarang ini. Ya ampun, it's like dreaming to see you grown up so fast! But... of course, I am happy. Umi bangga banget dengan kamu, Nak. Apalagi selama liburan ini, menghabiskan seluruh masa liburmu untuk stand bye di sisi Mami dan Abuchik, menemani mereka bolak balik ke rumah sakit untuk perawatan, sementara Umi harus balik ke kantor setiap Senin hingga Jumat.

Nak, Umi bangga sekali padamu. You do your best, menggantikan Umi untuk selalu di sisi Mami dan Abuchik. Semoga Allah semakin menyayangimu, memberkahimu umur panjang, kesehatan prima, dan masa depan yang cemerlang ya, Nak. Semoga tetap menjadi anak dan cucu solehah kebanggaan Umi, Mami dan Abuchik, ya, Nak.

Happy Birth Day, my dear. Wishing you all the best! Aamiin.


catatan spesial, Intan's Birthday
Al, Margonda Residence, 1 September 2016
Read More