Archive for January 2016
Menu
/ /


Curug Cimarinjung, pernah mendengar nama curug yang satu ini. Eits, by the way, curug adalah bahasa Sunda untuk air terjun, ya, Sobs, jadi jangan bengong gitu donk kalo membaca tulisan curug. Hehe. Dan postingan ini adalah kelanjutan dari postingan sebelumnya, yang sudah tayang beberapa episode di My Virtual Corner ini. Curug Cimarinjung terletak di Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi. Catet!

Bicara tentang traveling, catatan perjalanannya memang selalu seru dan menarik! Serasa tiada habisnya karena memang kesan yang tercipta selalu menggoda untuk dikenang, bahkan diulang. Seperti yang saat ini sedang aku rasakan kala menurunkan kenangan itu ke dalam bentuk tulisan ini, Sobs. Masih lekat di ingatan saat kunjungan ke curug ini. Hari telah beranjak sore, bahkan tak lama lagi sang pemancar cahaya akan segera menyusup di ufuk Barat. Walo tenaga telah terkuras oleh petualangan satu harian ini, namun secangkir bajigur yang aku minum di salah satu warung di Puncak Darma tadi, adalah penyuntik semangat ngetrip yang mampu beri keajaiban, sehingga dengan penuh semangat, kami mampu turun dari body Landy dengan cara melompat. Hap! Dan langsung mengikuti akang guide menuju jalanan setapak, di samping saluran irigasi yang mengarah ke curug Cimarinjung.

Suasana pedesaan sangat terasa. Aliran air yang mengalir di saluran irigasi ini terdengar gemericik. Sawah hijau yang tepatnya disebut ladang, menyajikan pemandangan hijau yang sejukkan mata. Tiba-tiba saja aku merasa seolah kembali ke alam masa kecil, saat masih tinggal di kampung, dan sering banget menghabiskan hari-hari soreku dengan mencari burung di pematang sawah, dan mencuci kaki yang kotor oleh tanah basah di kali kecil yang mengairi sawah-sawah penduduk. Hm... kuhirup aroma masa itu, dan aku seakan tertarik oleh pusaran waktu. *bukan lebay, lho, ya! Tapi emang rasanya begitu banget!

Kami terus melangkah, berbaris ke belakang tak ubahnya bebek yang rajin antri, satu persatu, karena jalanan yang kami tempuh memang jalan kecil yang hanya muat dua atau tiga orang berjejeran ke samping, tapi males juga kalo berjejeran ke samping sih, ntar kalo jatuh ke saluran air ini piye? Hihi. Jadilah kami berbaris layaknya bebek yang menuju kandang. Namun suara ceria obrolan tak mungkin untuk diredam. Badan boleh saja lelah, senja boleh saja menyapa, namun hati teteup donk, C E R I A! Apalagi ketika kami berhadapan dengan dua buah batu yang guedeee banget tinggi menjulang. Mangapit air limpahan air terjun yang tercurah dari ketinggian lebih kurang 40 m. Aih, ini kayak masuk ke zaman purbakala deh, ih! Banyak banget bebatuan besarnya.





Persis dinding batu Pak Flinston ya, Sobs? Hihi. Bersantai di lokasi ini, sembari menikmati keagungan ciptaan Ilahi Rabbi, adalah momen berharga yang tak selalu mampu kita raih. Apalagi diberi kesempatan untuk melihat cahaya jingga yang hendak masuk ke ufuk Barat, mengintip malu-malu dari celah bebatuan gede itu, duhai, betapa indahnya kreasi-Mu wahai Ilahi Rabbi.... Subhanallah.


Namun sayangnya, momen indah dan langka ini harus segera kami akhiri, karena suasana yang tadi sejuk dan damai, kini mulai terselip aroma misteri. Malam telah mulai memeluk bumi, dan...? Hiii.... eikeh ogah, ah, lama-lama di sini. Hayuk atuhlah kita pulang. Kalo siang atau daytime sih, berkunjung dan having rest here pasti akan asyik dan melahirkan banyak inspirasi. Tapi malam hari? Aih, kita kan bukan tim pemburu hantu, tapi tim blogger traveler! Halah.

catatan trip to Ciletuh 4, Curug Cimarinjung
Al, Margonda Residence, 28 January 2016
Words: 527



Read More
/ /

Drama satu babak. Melanjutkan postingan kemarin, maka kali ini kita akan bicara tentang sebuah drama yang terjadi tadi pagi. Sejak Intan sakit dan tinggal di Margonda, maka emaknya ini punya tugas ekstra setiap pagi, yaitu membasuh bintik-bintik berisi air [cacar air] itu dengan air yang telah diberi larutan dettol dengan kapas, barulah kemudian mengoleskan salep Acyclovir ke bintik-bintik itu agar cepat mengering.

Ikhlas? So pasti, donk. Apa pun akan kita lakukan untuk si buah hati, kan? So do I! Etapi, tugas istimewa ini pula yang telah menyebabkan aku terlambat sampai di kantor. Baru dua hari, sih, tapi eikeh ga enak aja saat memasuki lobby kantor, yang telah duduk antri orang-orang yang datang untuk mengurus Visa. Malu juga, sih. Masak tamu datangnya lebih awal di banding staff kedutaannya? Hehe.

Anyway, pagi ini, saking takut telat itu, aku buru-buru turun dari stasiun Cawang. Berharap abang gojek yang sudah sepakt menanti di farboden Tikungan Tebet, kini sudah berada di tempat. Kutelp dia untuk memastikannya. Ealah, si abang bilang dia kemungkinan baru akan sampai sekitar 10-15 menit lagi. Apa? 10-15 menit lagi? Itu fatal banget untuk kondisi terkini! Ga bisa dibiarkan nih, 15 menit ke depan, jika berangkatnya sekarang, eikeh sudah berada di depan hotel Grand Melia donk. Maka dengan sopan aku minta si abang agar berkenan aku cancel bookingnya, karena aku ga bisa menunggu selama itu. Takut makin telat. Dan si abang gojek pun sangat mengerti. Segera aku lakukan new booking dan Alhamdulillah langsung bersambut.

Si abang gojek pada new booking ini justru tiba dua menit setelah aku telp. Sip! Maka, sebelum meluncur ke tekape, aku langsung ambil masker yang dari tadi aku simpan di dalam kantong rok dan mengenakannya sebelum pasang helm. Begitu aku ready, kami pun langsung meluncur cantik. Tak pakai lama, paling juga sekitar 20 menitan, aku sudah diturunkan oleh si abang gojek di halaman kantor kedutaan kami. Sip. Dan aku langsung melangkah memasuki pintu yang telah dibukakan oleh bapak sekuriti kami, setelah bayar gojek. Murah banget, cuma 12 ribu rupiah, lho!


Drama dimulai


Kulirik jam tangan yang melingkar di tangan kiriku. 9.10 menit. Yes! Teteup telat. Cuma 10 menit. Tak apa lah, Jakarta macet gini, kok! Aku langsung melangkah masuk ke lobby kantor, di mana pada sofanya sudah duduk manis beberapa tamu yang sedang mengurus berbagai urusan mereka. Seems everything is ok. Hati pun happy.

Etapi, justru mendung mulai menghampiri saat aku menyalakan komputer, sembari tangan kananku merogoh kantong. Cari kaca mata. Dan, Dug! Lho..., lho..., lho! Kok ga ada? Kok ga ada? Kuraih tasku, membukanya terburu-buru. Feelingku sih bilang bahwa kacamata tidak masuk ke tas, karena dari berangkat dari Margonda, aku menyimpannya di kantong rok yang memang lega banget untuk menyimpan benda-benda seperti HP dan kacamata. Tuh kan, bener! Kacamata ga ada, euy! Kayaknya jatoh saat aku merogoh kantong untuk ambil masker di farboden Tebet tadi, deh! Hiks...

Drama pun dimulai. Aku langsung galau dan mulai heboh. Beberapa kolega menghampiri.
'Ada apa, sih, Al?'

'Kacamata ku ga ada, ih! Jatoh deh kayaknya. Duh, gimana ini? Gue kan ga bisa kerja tanpa kaca mata! Boro-boro di komputer, di hape aja kagak nampak tanpa kacamata! Hiks...'

Dan mereka cuma bisa bilang turut prihatin serta menyalahkan donk. 'Elu sih, nyimpennya ga teliti!' Huks....

Aduh, piye iki yo? Mau beli lagi? Mal juga baru akan buka jam 10an kan? Terus kalo di mal kan mahal. Sementara ini bulan tua pula. Apa sebaiknya aku lari pulang aja sebentar? Di rumah masih ada cadangan beberapa kacamata baca lagi sih. Kalo jam segini, kereta arah ke Bogor pasti ga rame lah ya? Atau beli di Ace Hardware, tapi di mana Ace Hardware di daerah Kuningan ini?

Entahlah, aku bener-bener galau. Iyalah. Jika bagi sebagian orang, kaca mata hanyalah sebagai aksesoris pemanis penampilan, maka bagiku, dia adalah benda penting yang tanpanya aku ga akan bisa ngapa-ngapain. Faktor U memang tak bisa dibohongi. Aku butuh kacamata berlensa plus 1,5 untuk memperjelas penglihatan jarak dekat, terutama untuk baca di hape, buku, kompi mau pun gadget. Tanpa kacamata, maka produktivitas harian ku akan nol.

Maka, tak ada pilihan lain, aku harus balik ke rumah deh, ambil kacamata cadangan dan segera balik ke kantor. Dan, tak pake lama, aku langsung menghadap atasanku untuk pamit, yang langsung diiyakan tanpa banyak tanya lagi. Ya iyalah, mau ngapain di kantor jika ga bisa baca? Hihi.

Alhmadulillahnya, busway sepi banget. Hanya ada 4 penumpang termasuk aku, meluncur arah ke Pinang Ranti. Aku cukup sampai Cawang aja, sih! Dan akan segera lanjut ke naik komuter ke Stasiun UI. Etapi, nanti dulu. Bukannya di Stasiun Cawang juga ada yang jual kacamata di kaki lima? Kaca mata minus dan plus instant kan banyak dijual di kaki lima. Aha! Ada baiknya aku coba lihat dulu ke sana deh. Siapa tahu ada yang pas untuk mataku, kan?

Dan...? Taraaa! I found them! Beli dua langsung, untuk cadangan di kantor. Takut hilang lagi. Hehe. Problem solved. Aku pun langsung balik arah, nungguin busway arah ke Kuningan, dan dalam waktu singkat telah kembali berada di kantor. Drama satu Babak ini pun berakhir bahagia. Eaaa... :)


catatan hari ini,
Al, Margonda Residence, 26 January 2016
Words: 837
Read More
/ /

Cara Efektif Cegah Cacar Air. Hidup ini memang penuh dengan drama. Baru Senin kemarin aku dan Intan sepakat untuk pulang ke Bandung on the weekend, menjenguk sekaligus lanjut bantu-bantu ayah-ibu yang baru pindahan. Ealah, di Kamis sore, malah dengar berita tak mengenakkan dari Intan, bahwa dirinya ga enak badan, demam tinggi dan ga sanggup bangun sejak tadi malam. Hadeuh, Nak! Adaaa aja!

Dan bener saja, suaranya yang berat saat menelpon adalah indikasi kuat bahwa dirinya memang sedang serius sakit. Duh, ibu mana yang tak kuatir? Mana Gliv sedang dipake Ayah ibu di Bandung sana, dan mau jemput pake taksi juga kejauhan dan juga aku sendiri belum bisa cabut dari kantor deh ini.

Untungnya teman satu kosan Intan, yang memang akan pulang ke rumah ortunya di Bekasi, bersedia dengan senang hati menemani Intan pulang. Dari Cikarang menumpang mobil temannya yang akan ke Bekasi, lalu dari Bekasi, mereka berdua naik komuter hingga stasiun UI. Barulah dari stasiun UI, berjalan kaki ke Margonda Residence.

Sepulang kerja, kudapati Intan yang telah tertidur lelap. Kuraba dahinya, menyisakan suhu tubuh yang masih sedikit tinggi. Namun lelap tidurnya itu, sedikit membuatku tenang. Haruskah dibawa ke dokter segera? Sejak setahun ini, aku berusaha untuk tak segera mengunjungi dokter jika aku atau Intan mengalami kenaikan suhu tubuh [demam]. Karena biasanya, dengan istirahat yang cukup, plus vitamin C yang cukup kuat dosisnya, Insyaallah bisa untuk atasi demam ini. Paling banter, konsumsi paracetamol. Cukup. Begitu juga saat aku lihat Intan tertidur lelap, maka tak kubangunkan dia. Biarlah istirahat dulu.

Etapi, besoknya apa yang terjadi? Ternyata di wajah Intan malah timbul bintik-bintik berair. Kebetulan Dijah dan Bibah sedang main ke Margonda, dan adalah Dijah yang lebih dulu ngeh jika bintik-bintik berair ini adalah cacar air. Ha? Cacar Air? Hayyah, harusnya waktu bayi dulu kenanya, ini malah saat sudah dewasa pula! Dan Intan langsung panik melihat wajahnya bertumbuhan bintik-bintik berisi air, yang tak hanya menyerang bagian wajahnya, melainkan juga bagian tubuh lainnya, baik punggung, perut, paha dan bagian2 lainnya. Duh, Nak. Plis, deh! Dunia belum berakhir, sayang...

Dan, tak pake lama, aku sudah mendapatkan resep yang harus kutebus di apotik, dari seorang teman, plus juga si dokter kece yang di klinik DF. Iya, setelah mendapatkan resep dari temanku yang pernah mengalami hal serupa, di mana 2 anaknya kena cacar air, aku masih lakukan cross check lagi dengan si dokter kece, yang ternyata hasilnya sama persis.

Cara Efektif Cegah Cacar Air

'Tenang Al, jangan panik. Kami udah familiar dengan penyakit yang satu ini. Dua anak-anak di rumah kena cacar air. Kamu cari obat-obatan ini dan lakukan hal berikut deh, Al!' Tulis temanku via Whatsapp.

1. Minta Intan untuk tetap mandi, karena keringat di tubuhnya justru akan bikin rasa gatal semakin menjadi. Jangan lupa, tambahkan dettol ke air mandi Intan.

2. Oleskan Acyclovir salep ke bintik-bintik berisi air itu. Beli yang generic saja, harganya paling mahal 4 ribu rupiah, kalo yang paten mahal, seharga 70an ribu. Jadi, cari yang Acyclovir generic aja, karena bakal butuh banyak.

3. Setelah bintik-bintik berair itu kering, oleskan bio cream agar lukanya tidak berbekas.

4. Sebenarnya ada obat minum juga sih, yang kudu dibeli dengan resep dokter. Biasanya dokter akan ngasih Acyclovir 800 mg berupa kapsul atau tablet. Diminum 4 kali sehari. Fungsinya adalah sebagai anti virus yang harus diminum habis untuk persediaan 5 hari.

5. Itu saja. Ga perlu cari-cari air kelapa atau obat ini ina inu lainnya.

6. Jika kita sudah pernah terkena cacar air, jangan takut untuk berinteraksi dengan si penderita, karena tubuh kita sudah punya kekebalan, sehingga jika tubuh kita fit dan stabil, maka kita tidak akan tertular lagi. Namun untuk yang belum terkena cacar air ini, hati-hati, penyakit ini menular melalui udara, be aware!

Hm, baiklah. Siap. 

Sabtu-Minggu kemarin, total aku ga jadi kemana-mana. Mengurusi si buah hati yang sedang butuh perawatan prima. Namun Senin Selasa dan berikutnya? Aih, eikeh belum punya cuti, bo'! Mau ga mau kudu masuk kerja. Dan Alhamdulillahnya, Intan sudah mulai baikan. Bintik-bintik itu sudah mulai mengering, walo ada setengahnya lagi yang masih berair. Sebenarnya ga tega juga meninggalkan Intan sendirian di rumah. Makanya begitu jam kerja usai, aku langsung ambil langkah seribu dan berusaha keras sesegera mungkin pulang ke rumah. Apalagi memang kudu bawa Intan berobat ke dokter agar bisa dapatkan surat keterangan sakit untuk dikirim ke dosennya di kampus.

Malam itu, si dokter di Rumah Sakit Bunda Margonda tercengang, karena obat-obat yang akan diresepkannya sudah duluan kami miliki. Memang sih aku berterus terang bahwa aku sudah berkonsultasi jarak jauh dengan dokter kami yang di Bandung, dan si dokter yang memberi resep ini. Dan dokter muda di klinik ini pun manggut-manggut. Surat dokter pun kami peroleh untuk 3 hari. Yang artinya, kami harus berkunjung lagi kemudian untuk konsul serta dapatkan surat dokter untuk hari-hari setelahnya.

Alhamdulillah, ternyata mengobati cacar air kini bukan lagi hal yang sulit, ya, Sobs? Jadi ingat, dulu, jaman aku kecil, ibu sempat cerita bahwa ada orang yang sampai harus tidur di atas daun pisang, sakit panas dan perihnya tubuh oleh deraan si cacar air tadi. Namun kini? Obat-obatan yang diproduksi, teramat sangat menolong serta memudahkan kita di dalam menangani serangan si cacar air ini. Thanks to ilmu kedokteran juga teknologi, ya, Sobs?

cara mengobati cacar air,
Al, Margonda Residence, 24 Januari 2016
Words: 857
Read More
/ /
Cinta

Tertarik dengan judul di atas? CINTA? Hehe, bukan judul pemancing Sobats untuk mampir di sini, lho! Tapi emang tiba-tiba saja pengen nulis tentang benda abstrak yang satu ini. Memang hanya terdiri dari lima huruf, sih, tapi, efeknya luar biasa. Bisa bikin orang happy banget kala dia menyapa. Namun bikin mewek, ketika dia berlalu, apalagi jika berlalunya tanpa pertanda.

Lha, emang ada cinta yang pergi tanpa pertanda? BANYAK! Mulai dari yang dipanggil oleh Sang Pemilik jiwa, hingga ke yang berpaling karena hatinya tertambat pada wanita/pria lain yang tampak 'lebih' dari dirinya. Orang bilang cinta itu unik. Kalo menurutku sih, bukan hanya unik, tapi juga meresahkan karena sulit ditebak polanya. Pola...! Hehe, emang pattern atau template?

Yup, memang susah ditebak. Misalnya saja nih, pagi tadi baik-baik saja, harmonis manis romantis tanpa masalah. Eh, tiba-tiba saja, hanya karena salah ucap, jadi baper dan malah mengakhiri hubungan. Ga masuk akal kan? Walo mungkin ga sampai 50 persen kasus yang seperti ini, tapi bukan berarti tak ada, lho! Karena beberapa teman yang pernah chit-chat, pernah curcol tentang kejadian serupa ini.

Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba saja suami marah, tersinggung oleh sebuah ucapan, penolakan halus karena ditolak bercinta. Bukannya ditolak sih, tapi sang istri sedang ingin rehat dulu sejenak, refreshing setelah seharian beraktivitas. Jadi dengan nada normal, si istri menunda dengan alasan yang cukup masuk akal. Ealah, si pasangan, sang kekasih hati, malah baper, tersinggung dan akhirnya mengakhiri hubungan.

Kalo menurutku sih, ini ga masuk akal. Ga percaya begitu saja saat dikatakan bahwa tak ada angin tak ada hujan, terus cinta berlalu. Rasanya ga mungkin banget kan? Pasti, selain karena ditolak secara halus saat minta ML, pasti ada alasan lain lah di balik itu, yang akhirya terakumulasi, hingga terjadi ledakan yang membuat hubungan berakhir. Jadi bak hakim, aku pun menggali informasi. Pasti ada penyebab utama si dia berlalu. Namun, ujung-ujungnya, aku malah dibentakin oleh si teman, 'elu mau belain dia atau apa, sih, Al? Ga percaya banget sama gue!'

Ops! Dan, aku pun hanya tutup mulut. Hm..., tapi dalam hati, tetap saja ga percaya. Masak cinta bisa berakhir begitu saja tanpa alasan yang kuat sih? Selain karena ditolak untuk menyalurkan hasrat, pasti harus ada alasan lain yang lebih kuat dari itu kan, Sobs? Ga mungkin aja suami/istri minta cerai hanya karena ditolak bercinta. Bisa saja mungkin karena si suami/istri sudah punya gebetan lain? Atau bisa saja karena si suami/istri sudah bosan/lelah menghadapi hal serupa setiap hari/minggu/bulan? Atau bisa saja karena si suami/istri jenuh dengan tingkah pasangan yang kekanakan dan sulit diajak bekerjasama dalam membina rumah tangga? Dan berbagai alasan vital lainnya. Kalo menurut Sobats? Mungkinkah hanya karena satu hal itu saja? Atau ada faktor pendukung lainnya?

sekedar chitchat,
Al, Margonda Raya, 21 Januari 2016
Read More
/ /
Geopark Ciletuh

Trip to Ciletuh 3 - Puncak Darma adalah postingan lanjutan dari postingan sebelumnya. Are you ready for the continuation of this post? Yuk, kita langsung ke tekape, ya!

Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, maka seusai makan siang yang begitu nikmat, ditambah minuman kaleng dingin yang sedap dan juga shalat Zhuhur, maka kami pun tak lagi membuang waktu, melainkan langsung meluncur ke dua destinasi yang berbeda. Yang satu menggunakan mobil Toyota Avanza menuju ke Curug Cimariinjung, yang satunya meluncur gagah ke Puncak Darma.

Rombongan yang menuju ke Puncak Darma, sudah pasti adalah orang-orang yang dari tadi getol banget menaiki si gagah Landy, hehe. Dan itu termasuklah daku dan Nchie Hanie. Rasanya kami tak bosan-bosan berada di dalam mobil offroad yang gagah ini. Walo sudah dijelaskan bahwa medan perjalanan ke Puncak Darma nanti, akan penuh dengan tantangan karena jalanannya sangat berliku dan tak bersahabat. Etapi, kami tetap kukuh pada keputusan awal. Kami ikut Landy, titik!

Dan..., tak perlu menanti lama untuk melajukan ban gagah milik si Landy menuju ke bukit yang satu ini. Bukit yang sohornya dikenal dengan nama Puncak Darma, dan jangan tanyakan daku kenapa dia dinamakan demikian. Yang pasti, jalanannya sangat berliku, kadang curam, kadang terjal, dengan badan jalan yang beraspal tidak sampai seperempat dari perjalanan mencapai tujuan. Selebihnya? Jangan ditanya, luar biasa medannya, makanya hanya mobil off road sekaliber Landy yang mampu menjangkau tempat ini.

Walau berkendara mobil off road yang terkenal tangguh, tetap saja kami seperti bermain di wahana dufan. Yup, seperti sedang main kora-kora itu lho! Setiap liku dan terjalnya jalanan yang membuat seisi Landy bergeser ke kiri, ke kanan, ke depan atau pun ke belakang, selalu ditingkahi dengan jeritan dan teriakan antara excited tapi juga histeris. Ada sumringah tapi juga ketakutan di suara2 itu, milik para penumpang Landy. Akang supir hanya tertawa-tawa geli menyaksikan kami yang begitu happy hingga akhirnya teriakan-teriakan itu berakhir dengan suara takjub, begitu Landy menghentikan putaran rodanya di atas sebuah bukit.

Wow! Fantastico! Kuereen! Ciamik! Dan berbagai ungkapan kekaguman lainnya meluncur bersamaan dari bibir kami, para peserta trip Ciletuh ini. Memang, akan abnormal rasanya jika kita hanya berdiam diri saja menyaksikan keindahan ini. Ya iyalah, bagaimana mulut ini mau dibungkam, menyaksikan keindahan kreasi sang pencipta, seapik ini, coba, Sobs!

Geopark Ciletuh

Geopark Ciletuh

Bumi Ciletuh

Puncak Darma, bukit kebanggaan Warga Ciletuh ini terletak di ketinggian 230 m dpl, berada di dalam lingkup desa Girimukti, dan semakin rame saja dikunjungi wisatawan dari hari ke hari. Tak heran, pemandangan alam yang ditawarkannya memang luar biasa. Dari atas bukit ini, kita bisa menyaksikan indahnya teluk Ciletuh yang persis tapal kuda, atau yang oleh sebagian orang disebut sebagai Amphitheater alam, karena bentuknya yang setengah lingkaran itu juga menyerupai bentuk panggung teater. 'Tapal kuda' atau Amphitheater alam ini dibingkai pula oleh pantai landai dengan tanah hijau yang mengitari. Lihat deh gambar di bawah ini, keren banget khaaan?

Papsi Ciletuh
Picture taken by PAPSI
Berbeda dengan pulau Kunti yang tak berpenghuni yang kami kunjungi kemarin, kalo di Puncak Darma ini, kita tak akan takut kelaperan atau kehausan, Sobs! Beberapa kedai kecil siap sedia menawarkan kopi, teh dan penganan pengganjal perut semisal mie instant, kue-kue, dan beberapa snack lainnya. Jadi berlama-lama di Puncak Darma juga ga ada ruginya, lho!

Sayangnya, karena kami ke tempat ini sudah siang menjelang sore, dan masih dikarenakan kami harus bergantian dengan tim yang satu lagi. Maka kami tentu tak bisa berlama-lama di Puncak Darma ini. Padahal pengen banget lihat sunset dari puncak ciamik yang satu ini. Tapi mau gimana lagi, kami harus bertukar tempat. Rombongan yang tadinya ke Cimarinjung, akan diajak ke sini sementara kami juga akan berkunjung ke sana. Hm, baiklah... mudah-mudahan ada juga sunset yang mengintip dari celah curug alias air terjun Cimarinjung nanti. Sesampainya kami di sana.

Dan..., did you have the opportunity to meet sunset there, Al? Nantikan kisahnya pada postingan berikutnya, ya, Sobs! Ga kalah seru, deh!

Catatan Perjalanan - Trip To Ciletuh
Al, Margonda Residence, 18 Januari 2016 
Words: 618
Read More
/ /

Ciletuh

Trip to Ciletuh 2 - The Stones! Sengaja pake tanda seru, karena emang seru dan unik banget jelajah hari pertama keberadaan kami di Ciletuh. Yup, as I told you on my previous post, perjalanan ini memang seru dan penuh petualangan.

Dimulai dengan perjalanan dari Bandung ke tekape [desa Ciwaru, kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi], menginap di homestay alias rumah penduduk. Bangun pagi disambut dengan nasi kuning dan lauk pauk plus teh tawar dan kerupuk. Menikmatinya dengan cara unik, yaitu duduk cantik di bale-bale belakang rumah, sambil melihat rerimbunan pohon mangga yang buahnya sedang penuh bergelantungan. Duh, enaknya alam pedesaan!

Tak berlama-lama menikmati leyeh-leyeh cantik itu, karena sudah tersirat di dalam batin kami bahwa petualangan seru nan ciamik sudah menanti di luar sana. Yap, sesuai itenerary, hari ini kami akan jelajah alam Ciletuh yang sedang ngehits itu. Kulihat tujuan pertama adalah mengunjungi pantai Mandrajaya. Ha? Pantai? Ih, di kampungku juga banyak pantai, dan aku anak pantai. Ga ada menariknya kalo ini, mah! Etapi..., bakalan naik perahu dan lihat bebatuan kuno yang beraneka bentuk. Hm, sounds ordinary itu, mah! Biasa aja kalee! Lagian, aku juga sedang males berpanas-panasan, mana habis dilaser pula wajahku oleh si dokter kece dari DF Klinik. Huft, bisa kena cercan [ceramah cantik] ntar eikeh! Huks..

Tapi, ga etis juga donk kalo aku absen dalam jelajah hari pertama ini. Masak udah diajakin jajalgrat [jalan-jalan gratis], terus aku milah milih. Ga enak ah sama si Kang Hafidz dan Kang Erwin. Baiklah, lagian, belum tentu juga pantai ini tidak menarik, kita kan ga boleh menghakimi sesuatu sebelum tau persis situasinya. Ya enggak, Sobs?

Maka, bergeraklah kami menuju PAPSI, di mana di sana sudah berkumpul rekan-rekan lain yang menginap di other homestay. Ada yang masih sarapan pagi, ada yang sudah asyik ngobrol santai dengan para pemuda anggota PAPSI yang siap menemani kami jelajah alam Ciletuh ini.

Namun yang menarik hatiku dan Nchie Hanie adalah sesuatu yang lain, yang sedang parkir cantik di halaman samping kantor PAPSI itu. Bukan, bukan Toyota Avanza kinclong itu, sih. Kalo dia mah, di mana-mana juga kita sering melihat bahkan menggunakannya. Ini yang 'unik' dan beda adalah si Landy! Eits, bukan! Bukan Landak lah! Tapi sebuah Land rover tangguh, yang begitu menarik minta kami berdua untuk melakukan selfie mau pun wefie. Hehe. Iya lah, kapan lagi dapat spot ciamik begini kan? Lihat? Tak hanya kami yang tertarik, yang lain juga ikutan ber-selfie ria khaan?



Pantai Mandrajaya and The Stones!

Menjelajah dan bertualang dengan Avanza or other general cars? Mana seru! Naik Landy, donk! Yup, mobil off road ini memang menjanjikan keasyikan tersendiri. Apalagi, kabarnya [dari si akang tour guide] bahwa perjalanan menuju pantai ini akan melewati jalanan yang lumayan lama, dengan badan jalan yang tidak mulus. Pasti menjanjikan keseruan tersendiri. Iya lah, kalo mau nyaman mah, di dalam kota sana donk, ah! Hehe.

Benar saja, bermula dari desa Ciwaru hingga ke pangkalan [bibir pantai Mandrajaya] di mana kami harus melanjutkan perjalanan naik perahu, memakan waktu sekitar 1,5 jam. Dan seperti komen awal tadi..., pantai? mana asyik? Bener, saudara-saudara! Pantai Mandrajaya menyambut kami dengan udara panasnya yang luar biasa. Ajigile, refleks aku langsung tarik bagian hijab yang masih menjuntai di dada, dan menjadikannya cadar untuk melindungi bagian wajah yang baru kena laser dan diwanti-wanti untuk melindunginya dari jilatan sinar mentari.

ciletuh
Ajigile ini panasnya! Ruarbiasa!
Perahu telah menanti dan pelampung segera melekat di badan masing-masing kami, yang menggunakannya dengan exciting. Asyik! Naik perahu. Biarin deh panas-panasan juga, toh udah pake cadar! Mudah-2an dokter David and Kang Renzha dari Klinik DF ga akan tau petualangan ini. Hihi. Dan anehnya, my underestimate terhadap pantai ini langsung menyingkir manakala perahu telah melaju. Kami begitu antusias taking pictures! Mulai dari selfie, we-fie hingga minta tukang perahu taking group pictures! Tiba-tiba saja kami satu perahu ini menjadi grup yang begitu solid. Begitu juga terlihat dengan para personil yang ada di perahu kedua. Seru pake bingits!

Geopark Ciletuh


Apalagi ketika perahu sudah mendekati bebatuan besar dan unik itu. Ada yang menyerupai punggung naga sehingga disebut batu naga, ada yang seperti motif batik, makanya disebut batu batik, ada pula yang seperti badak. Wow. Kabarnya sih, bebatuan ini sudah berusia ratusan tahun, nih! Makanya banyak diminati oleh para geologist maupun para mahasiswa geology, sebagai laboratorium alam mereka.

Perahu terus melaju, hingga akhirnya berlabuh di [bukan] dermaga, tapi di pinggir pantai Cikepek. Sebuah pantai tak berpenghuni, yang sering juga disebut pulau Kunti? Entahlah, aku lupa-ingat dengan nama yang belakang ini. Karena tak ada dermaga, maka kami terpaksa melompat ke dalam pinggiran air bibir pantai, sehingga mau tak mau sepatu pada basah semua deh. Lalu perjalanan dilanjut, menelusuri pantai cantik bertabur pasir halus yang begitu lembut.

Tak hanya itu, sepanjang pantai, kami berpapasan dengan batu-batu besar yang cantik, bertemu dengan kulit kerang yang juga tak kalah menarik, bintang laut yang menyapa dalam diam, dan aneka benda laut yang sudah terhampar dan mengering cantik di atas pasir yang kami lalui itu. Duh, indahnya semua itu, hanya sayangnya, udara dan pancaran sinar matahari begitu tajam, mengiris kulit. Di tambah pula dengan sepinya pulau [ya iyalah, namanya juga tak berpenghuni], tak ada satu pun kedai atau penjual asongan yang berjualan makanan dan minuman.

Geopark Ciletuh

Terik mentari sepertinya memang sukses bikin semangat kami yang tadinya begitu antusias menjelajah dan jeprat jepret di setiap spot ciamik, kini mengendur sempurna. Rasanya bisa menamatkan perjalanan [mencapai ujung] saja sudah anugerah, eh di tambah pula dengan perjuangan jalan balik ke perahu yang jika diukur2, mencapai 4 km pulang pergi. Hadeuh, haus dan lapar begitu menyatu, solid menyerang kami satu persatu. Malangnya kami, tak banyak dari kami yang membawa bekal. Hiks...

Sedih memang, bahkan hampir putus asa. Namun harus bagaimana? Mau tak mau, tetap harus kuat untuk berjalan balik donk, masak mau ditinggal di pulau Kunti? Emoh! Makanya, secara kompak kami tertatih balik ke perahu, dan langsung sumringah kala langkah kami menyentuh sisi perahu. Yeaaay! Sampai juga akhirnya! Tak menunggu lama, panggilan perut membuat kami tak lagi ingin ke sana kemari. Makan! Minum! That's all what we need. Hehe. Yang dimaklumi oleh Kang Hafidz and Kang Erwin dengan meminta tukang perahu untuk segera berpacu.

Lunch bareng nikmat, di sebuah rumah

Makan dan minum adalah anugerah tak ternilai harganya kala lapar dan dahaga melanda. Setuju, Sobs? Dan kami langsung melahap habis semua jatah yang diberikan oleh tim Bio Farma begitu si jatah sampai ke tekape. Makan siang yang begitu nikmat, setelah sekian lama menjelajah alam ciamik di tengah panas terik. Alhamdulillah. Dunia langsung terang benderang. Hehe. Dan selesai shalat zhuhur, kami pun melanjutkan perjalanan dengan [kembali] penuh semangat. Kali ini, rombongan dipecah menjadi dua. Peserta yang naik Avanza meluncur ke Curug Cimarinjung, yang aksesnya lebih mudah, sementara penumpang Landrover, melaju dengan gagah ke Puncak Darma.

Dan aku? Sudah pasti tetap memilih Landy yang tangguh donk ketimbang pindah ke Avanza. Begitu juga dengan Nchie Hanie, Bang Aswi dan Sandra. Kami tak sabar ingin melihat sendiri keindahan puncak Darma yang sedang menjadi buah bibir itu. Sobats juga penasaran? Nantikan ceritanya pada postingan berikutnya, ya!


Catatan Halan-2 Seru ke Ciletuh
Al, Margonda Residence, 17 Januari 2016
Words: 1143
Read More
/ /

Gojek
Pasti udah pada familiar donk dengan Mas-mas atau Mba-mba berjaket hijau, riding the motorbike dan mengantarkan pelanggannya ke tujuan? Bukan, bukan yang satunya, yang aku maksud ini adalah Mba/Mas pengendara Go-jek. Hayo, udah sering banget gunain jasa mereka? Kalo aku sih, sejak tiga bulan lalu, udah rutin menggunakan jasa mereka setiap pagi pada hari kerja.

Sebagai orang yang TIDAK MASUK kategori morning person, aku tuh memang sulit sekali bangkit dari tempat tidur. Etapi, dulu banget, waktu masih bekerja di sebuah perusahaan di Medan, yang jam kerja dimulai pada pukul 8 pagi, aku tuh bisa lho bangun pagi. Ga tanggung-tanggung, pukul 5 pagi tuh aku udah bangun, shalat subuh dan lanjut preparing things and siap-siap menuju kantor. Waktu itu masih jadi lady biker, lho! Nah, dari rumah pukul 6.30 pagi dan sekitar pukul 7.30 an udah sampe kantor deh.

Namun, sejak beralih profesi jadi pekerja kemanusiaan di Aceh paska tsunami, di mana jam kerja pun berubah, dimulai pada pukul 9 pagi dan berakhir pada pukul 5 sore hari, maka aku pun mulai berubah. From a morning person, menjadi a Not a morning person. Huft. Etapi, ini artinya, harusnya eikeh bisa donk balik kayak dulu lagi! Ho oh! Catet, ah! I will be able to be a MORNING PERSON AGAIN! Tapi, tapi... kok sulit banget yak? Usai shalat subuh, pasti pengen tarik selimut lagih! Hiks...

Terus apa hubungannya dengan Thanks Go-Jek, Al? 

Hihi, baiklah. Sorry ya, Sobs, jadi melebar kemana-mana deh ceritanya.
Jadi hubungannya adalah, karena aku tuh susah banget berangkat dari rumah lebih awal. Maka sejak tiga bulan lalu, aku mengubah moda transportasi. Jika sebelumnya, moda transportasi pergi ke kantor menggunakan kereta api [commuter line] dari stasiun UI ke stasiun Cawang, terus lanjut dengan Busway dari Cawang turun di Halte Kuningan Timur, maka, sejak tiga bulan lalu, aku mengubah modanya, Sobs.

Dari apartemen, teteup, jalan kaki dulu ke stasiun UI, naik komuter dan turun di stasiun Cawang seperti biasa. Setelah itu, aku ga lagi pake busway, Sobs, takut telat dan terjebak macet. Maka, aku mulai deh pake jasa Go-jek. Biasanya sih, aku akan order Go-Jek begitu komuter memasuki stasiun Pasar Minggu Baru, jadi ada waktu bagi si Mas/Mba Go-Jeknya untuk meluncur ke tekape, sehingga saat aku tiba nanti, ga harus nunggu lama.

Dan? Dan, hasilnya aku sampe di kantor 15 menit lebih cepat dari jam kerja dimulai lho!
Dan? Dan aku bisa memperlambat jam keberangkatan dari rumah, lho! Haha. Jika saat menggunakan busway, aku biasanya berangkat dari rumah sekitaran pukul 7 teng, maka sejak pake jasa Go-Jek, aku bisa berangkat dari rumah tuh pukul 7.45 menit. Lumayan banget kan? Masih bisa nyantai-nyantai dulu di rumah. Dan ga harus bersaing di stasiun dengan para penumpang yang kejar tayang jam 9 juga. Biasanya komuter mulai agak sepi tuh kalo jam 8an.

Yup, aku merasa terbantu banget dengan keberadaan moda transportasi yang satu ini, lho! Ga perlu capek-capek tawar-tawaran harga, yang sering bikin hati panas karena si Mang Ojek pasang harga sesuka hati. Kalo dengan Go-Jek, harga langsung kita ketahui saat orderan kan? Dan termasuk murah banget pulak.

Tak hanya itu, Go-Jek tuh, selain layanannya beragam, mulai dari Go-Ride [antar penumpang], Go-Send [antar kiriman], Go-Food [antar/beli makanan] hingga ke beberapa layanan keren lainnya, Go-Jek juga sering banget ngasih surprise, lho! Seperti yang dilakukan Go-Jek pada hari Kamis, 14 Januari 2016 yang lalu. Yup, sehubungan dengan terjadinya ledakan bom bunuh diri di seputaran Thamrin kemarin itu, yang sempat bikin warga panik dan was-was, maka Go-Jek pun turut serta membantu masyarakat kota Jakarta dan sekitarnya dengan urun bantuan evakuasi. Ga tanggung-tanggung, Go-Jek [dan juga Grab-Bike kalo ga salah tuh], berani memberikan bantuan cuma-cuma dengan cara men-zero-kan alias memberikan tumpangan antar GRATIS customernya ke tempat tujuan si customer. Keren, yak?

Dan..? Dan aku termasuk salah satu penumpang/customer setia Go-Jek yang turut menikmati layanan antar gratis ini. Yup, pulang kerja pada hari Kamis itu, aku pun ikutan order Go-Jek dari Cawang menuju Margonda. Huft, jauh banget emang. Bahkan saat sampai ke Margonda, rasanya kaki gempor lho! Hehe. Habis kelamaan duduknya sih. Dan, rasanya, walo dikatakan free alias nol rupiah ongkosnya, kok ga tega aja rasanya turun dan berlalu tanpa memberikan sepeser rupiah pun ke si Mas yang telah jauh-jauh mengantarku ke rumah. Sehingga, walo pun si Masnya menolak, aku tetap bersikeras agar doi menerimanya sebagai tanda terima kasihku sudah diantar ke rumah, yang begitu jauh, terbebas dari macet dan tiba di rumah dengan aman tanpa hambatan. Alhamdulillah. Thanks Go-Jek!

catatan kecil 
Al, Margonda Raya, 15 January 2016
Words: 735
Read More
/ /


Berwisata ke Turki, utamanya Istanbul, tentu menjadi impian banyak orang. Selain menyajikan keindahan alamnya yang aduhai, negeri yang terletak di atas benua Asia dan Eropa ini, juga menyajikan aneka bentuk wisata menarik yang tertata apik. Mulai dari banyaknya tempat bersejarah, budaya serta pemandangan alamnya yang indah, ditambah pula dengan aneka kulinarinya yang mampu menggoyang lidah, maka Turki layak disebut sebagai salah satu surga wisata di dunia.

Negara empat musim ini terbagi atas tujuh wilayah yang masing-masing menawarkan pengalaman wisata yang menakjubkan. Ada bukit untuk bermain ski di musim dingin, laut dan pantai yang masih asli, sumber air panas, lokasi berlayar dan menyelam dengan pemandangannya yang luar biasa, dan wisata sejarah serta budaya yang mengasyikkan di seluruh negeri.

Turki juga kaya akan hutan-hutan yang hijau, puncak gunung berselimutkan salju yang cocok untuk bermain ski, laut dan pantai yang masih asli, sumber air panas, penduduk yang ramah, serta kuliner yang terkenal di seluruh dunia. Pariwisata musim panas sangat berkembang, khususnya di Mediterania dan sebagian Laut Hitam. Tujuan wisata paling populer adalah Antalya, Alanya, Marmaris, Kuşadası, Bodrum, dan Fethiye.

Sebagai tempat asal berbagai peradaban, Turki terkenal akan situs bersejarah dan karya agung yang unik dan luar biasa. Aset ini hadir karena posisi unik Turki sebagai jembatan antara benua Asia dan Eropa. Beragamnya perbedaan yang berdampingan ini tercermin di setiap sudut negara dalam bentuk kekayaan alam, seni budaya, dan estetika. Sebagai rumah bagi berbagai kebudayaan dan agama selama ribuan tahun, Turki juga menjadi salah satu pusat wisata keagamaan yang penting karena memiliki monumen, masjid, gereja, sinagoga, dan tempat-tempat suci lainnya yang penting dan bersejarah.

VISA

VISA. Sebenarnya Visa itu apa sih? Kenapa, kapan dan kemana saja sih kita butuh Visa?

Hm, kuyakin bahwa pertanyaan di atas, masih sering mampir di benak beberapa dari kita, walo mungkin, banyak juga yang sudah paham dengan fasih apa itu Visa, untuk apa dan kapan serta di mana saja dia dibutuhkan.

Baiklah, karena hari ini pengen nulis tentang Visa ke Turki, maka, ada baiknya aku jelasin dulu sedikit tentang Visa, generally, ya! Etapi, bagi yang sudah faham, langsung skip aja ke paragraf berikutnya.

Visa, adalah sebuah dokumen yang biasanya berupa stiker cantik, yang akan ditempelkan pada salah satu halaman passport kita, sebagai tanda bahwa kita [pemegang passport] sah/diijinkan untuk masuk ke negera tersebut. Visa ini, bisa berupa sticker cantik yang biasanya sedikit lebih kecil dari halaman passport, bisa juga berupa sticker yang sedikit lebih besar dari perangko [Visa On Arrival], bisa juga berupa print out pada kertas HVS A4 [e-visa] yang diselipkan begitu saja pada passport.

Kenapa dibutuhkan? 
Ya, sudah pasti lah, karena dia adalah bukti otorisasi kita untuk masuk ke suatu negara.

Negara mana saja yang butuh Visa?
Inget ya, cyin, kita hanya bebas VISA untuk masuk ke Negara-negara anggota ASEAN, maka selain itu, kita [warga negara Indonesia pemegang passport hijau/ordinary passport] AKAN butuh Visa untuk bisa masuk dan melenggang cantik di negara-negara selain negara anggota ASEAN tersebut.

VISA TURKI

Here we go! Bicara tentang Visa Turki, sebenarnya untuk warga Negara Indonesia dengan tujuan kunjungan wisata dan bisnis, dengan maksimal kunjungan 30 hari, maka kita dimanjakan [dimudahkan] banget lho untuk entering the Turkish country. Cukup dengan Visa On Arrival, seharga 35 dollar Amrik, kita sudah bisa melenggang cantik masuk ke negerinya 'paman Selim ini.

Selain via Visa On Arrival [VoA], satu kemudahan lagi bagi WNI adalah dengan membeli visa elektronik alias e-visa seharga 25 US dollar. Caranya gampang banget, tinggal masuk ke website, isi data/dokumen yang diperlukan, lakukan transaksi/payment, dan tunggu deh e-visanya diterbitkan alias dikirimkan ke alamat email kita, atau download langsung di halaman web tersebut, print out dan selipkan di dalam passport! Mudah banget, semudah kita beli tiket pesawat secara online itu, lho! Jadi ga perlu ke kedutaan untuk pengurusan visanya. Oya, untuk beli e-visa ini, kita kudu bayar pake kartu kredit, ya!

Sementara untuk mendapatkan Student Visa, atau Working Visa, maka prosedurnya jauh berbeda. Applicant harus datang ke kedutaan besar Turki untuk mengurusnya.

Namun, sejak tanggal 5 Januari 2016 kemarin, Pemerintah Turki memberlakukan kebijakan baru, di mana segala jenis pengurusan Visa, harus melalui Pre-Application System of Turkish Sticker Visa, di mana applicant diharuskan berkunjung ke website www.visa.gov.tr., mengisi data-data yang dibutuhkan, dan melanjutkan proses sesuai arahan system.
Maksudnya gimana, Al?

Maksudnya adalah begini, jika misalnya kita akan berkunjung ke Turki untuk tujuan wisata, maka pada saat kita mengisi data dan tujuan kunjungan kita adalah untuk tujuan wisata, maka oleh system pada website di atas [www.visa.gov.tr], kita akan diarahkan ke website e-visa [www.evisa.gov.tr], dan tidak perlu ke kantor kedutaan. Begitu juga untuk yang tujuan kunjungannya ke Turki adalah untuk urusan bisnis, di bawah 30 hari, maka e-visa akan diperkenankan bagi si applicant.

Lalu, apakah Visa On Arrival masih berlaku, Al?

Menurut info yang aku peroleh dari salah satu diplomat kami tadi siang sih, VoA masih berlaku dan valid, namun, untuk lebih safenya, kalo aku jadi Sobats yang akan traveling ke Turki sih, akan prepare visa elektronik aja, ah, selain lebih murah [25 US dolar], juga lebih pasti, dalam artian Visa sudah di tangan sebelum kita berangkat.

Terus, untuk kunjungan di atas 30 hari dan bukan untuk tujuan wisata piye, Al?

Bagi yang kunjungannya melebihi 30 hari dan bukan untuk tujuan wisata/bisnis, maka applicant oleh system akan diarahkan untuk ke kantor kedutaan guna melengkapi persyaratan, termasuk mengajukan aplikasi yang telah ditandatangani serta copy dari dokumen-dokumen yang diupload tadi. Dan sesuai dengan kebijakan baru per 5 Januari 2016 di atas, maka appointment ini pun harus dilakukan melalui system/online. Jadi, bikin janji dulu via websitenya, baru setelah dapat skedul, berkunjunglah ke kantor kedutaan. Ingat lho, tanpa janji yang diperoleh dari system, maka pelamar tidak akan dilayani di kedutaan nantinya. So, have your schedule first, before you go to the embassy, ok?


Wesite visa turki


Oya, satu syarat lainnya lagi yang TIDAK BOLEH terlewatkan adalah bahwa applicant harus memiliki asuransi perjalanan untuk bisa mendapatkan Visa Turki.

Dan sebelum membeli asuransi perjalanan Sobats, pastikan dulu ke si asuransinya apakah asuransi perjalanan itu valid atau berlaku secara international [terutama di Turki]? Hati-hati, lho, jangan salah beli. Ok, Sobs?

Syarat-syarat yang dibutuhkan untuk pengurusan Visa

1. Visa On Arrival

- Passport yang masa berlakunya tidak kurang dari 6 bulan
Tiket Pesawat Pulang Pergi
- Bukti reservasi hotel di mana kita akan menginap selama di Turkey, atau alamat yang jelas di mana kita akan menginap, jika kita tdiak menginap di hotel.
- Asuransi Perjalanan

2. Visa Elektronik [e-visa]

Masuk ke website www.evisa.gov.tr
Klik Apply Now
- Pilih Nama Negara dan jenis passport
- Masukkan kode verifikasi [captcha], tekan save and continue
- Lanjutkan proses lanjutannya sesuai dengan yang diminta. Lakukan pembayaran dengan menggunakan kartu kredit, dan download e-visa yang dikirimkan ke email, print out, lampirkan di dalam passport. Awas hilang, lho!

3. Visa untuk masa kunjungan di atas 30 hari, double transit atau multiple entry.


  1. Passport dan copy-nya, berisi halaman identitas, tanda tangan, catatan pengesahan dan catatan resmi. Passport harus memiliki masa berlaku sekurang-2nya 6 bulan setelah tanggal berakhirnya masa berlaku visa.
  2. Copy KTP dan Kartu Keluarga
  3. Foto berwarna biometrik terbaru 2 lembar [5x5 cm] dengan wajah tepat menghadap ke depan dan berlatar putih.
  4. Melampirkan surat sponsor dari tempat bekerja,
  5. Melampirkan surat sponsor dari suami/istri yang bersangkutan dengan menjelaskan pekerjaan yang bersangkutan.
  6. Melampirkan reservasi penerbangan [pulang pergi] dan hotel serta rekening bank bulan terakhir.
  7. Kunjungan untuk memenuhi undangan dari Badan Usaha atau Warga Negara Turki, applicant harus melampirkan undangan yang disahkan oleh Notaris di Turki yang isinya menyebutkan pekerjaan pengundang, tujuan undangan, masa tinggal, alamat tempat tinggal dan nomor telepon. Dibuat dalam format yang rapi dan ditandatangani oleh pengundang. Copy identitas pengundang dan copy rekening bank bulan terakhir pengundang.
  8. Kunjungan untuk memenuhi undangan dari WNI yang tinggal di Turki, maka applicant harus melampirkan undangan yang isinya menyebutkan pekerjaan pengundang, tujuan undangan, masa tinggal, alamat tempat tinggal dan nomor telepon si pengundang. Diketik rapi dan ditandatangani oleh pengundang dengan menyertakan copy dari ikamet si pengundang.


Untuk applicant yang non WNI, wajib:

Selain syarat2 di atas, maka applicant wajib

- melampirkan surat sponsor dari tempat bekerja atau jika tidak bekerja maka perlu melampirkan surat sponsor dari suami/istri yang bersangkutan, dengan menjelaskan pekerjaan sponsor dan melampirkan akta pernikahan serta akta lahir jika membawa anggota keluarga.
- melampirkan Passport dan copy paasport, KITAS/KITAP, IMTA dan Immigration Control Book dengan menunjukkan yang aslinya.

Untuk applicant yang berusia di bawah 17 tahun maka formulir pengajuan visa harus ditandatangani oleh orang tua yang bersangkutan.

3. Student Visa

- Formulir yang sudah diisi untuk diantarkan ke Kedutaan sesuai dengan tanggal appointment yang telah disepakati melalui website.
- Passport asli dan copy passport halaman 2-5 & 48.
- Passport yang digunakan harus memiliki masa berlaku sekurang-kurangna 6 bulan setelah tanggal berakhirnya visa.
- Copy KTP dan Kartu Keluarga
- Pasfoto 2 lembar [5x5 cm] berlatar bebas.
- Surat Keterangan Bukti Belajar dari sekolah asal [Jika telah tamat sekolah disertakan pula Ijazah asli dan copy-nya].
- Surat sponsor dari pihak di Turki dan di Indonesia.
- Surat Bukti Penerimaan dari lembaga yang menerima applicant untuk belajar di Turki [SMA, Universitas, Kursus Bahasa, dll].
- Jika bukan menerima beasiswa, maka harus melampirkan bukti pembayaran untuk sekolah atau kursus dimaksud.
- Apabila applicant berusia di bawah 17 tahun, maka formulir yang diisi harus ditandatangani oleh orang tua.
- Visa Pendidikan atau Student Visa diproses paling cepat dalam jangka waktu satu bulan. Oleh karena itu, applicant harus mengajukan aplikasinya dua bulan sebelum rencana keberangkatan.

4. Visa For Exchange 

Non AIESEC

- Foto 5 x 5 white backround (2 pcs)
- Sponsor and acceptance letter
- Airplane ticket
- Travel Insurance
- Bank Account for the last 3 months
- Copy of ID, Family Certificate and Birth Certificate
- Permission Letter from Parents
 Price : 722,000.- for every single entry

AIESEC

- Acceptance letter that describe his or her job desk in Turkey
- Invitation letter
- Surat keterangan aktif mahasiswa
- The rest requirements are the same as for non AISEC
 Price : IDR. 722,000.-


VISA TRANSIT PELAUT

Melampirkan Paspor dan Buku Pelaut yang asli. 
- Foto kopi Paspor yang berisi halaman identitas, tanda tangan, catatan pengesahan dan catatan resmi. 
- Foto Kopi buku pelaut halaman 1 s/d 8
- Paspor yang digunakan harus memiliki masa berlaku sekurang-kurangnya 6bulan setelah tanggal berakhirnya visa.
- Fotokopi KTP dan Kartu Keluarga
Pasfoto 2 lembar (4x6) dengan wajah tepat menghadap ke depan, merupakan foto asli yang diambil dalam waktu 6 bulan terakhir dengan latar belakang bebas.
Undangan dari Agent/Manning di Turki yang ditujukan kepada Kedutaan Besar Republik Turki di Jakarta Indonesia.
- Surat Jaminan dari Agent/Manning di Turki yang ditujukan kepada Kedutaan Besar Republik Turki di Jakarta Indonesia.
- Form pengajuan visa transit pelaut dari Turki yang sudah diisi atau VIZEYE TABI DENIZCILER ICIN VIZE TALEP FORMU
- Surat permohonan dari Agent/Manning di Indonesia yang ditujukan kepada Kedutaan Besar Republik Turki di Jakarta Indonesia.
Reservasi tiket pesawat yang dilakukan dalam waktu minimum 15 (lima belas) hari sebelum keberangkatan.

BIAYA

Warga Negara Indonesia
1. Single Entry: IDR. 722.000,-
2. Single Transit : IDR. 722.000,-
3. Double Transit : IDR. 1.448.000,-
4. Multiple Entry: IDR. 2.420.000,-

Warga Negara Asing

1. Single Entry: USD. 60,0
2. Single Transit : USD. 60,-
3. Double Transit : USD. 120,-
4. Multiple Entry: USD. 200,-
Khusus untuk pembayaran dalam mata uang US Dollar nih, Sobs, harus dengan uang pas dalam keadaan bersih, tidak berlipat, dan tidak bernoda. Biasa lah, di negeri tercinta ini, uang dari negeri Paman Sam itu kan mulia banget! Hehe. 

Nah, Sobats tersayang, semoga tulisan super panjang ini akan bermanfaat bagi yang membutuhkan. Terutama dengan adanya perubahan kebijakan yang diterapkan Pemerintah Turki tentang cara pembuatan Visa Turki per 5 Januari 2016 yang lalu. Semoga ulasan ini dapat memberikan gambaran yang jelas dan bermanfaat. Selamat mengurus Visa, and have a pleasant trip to Turkiye, yaaa! 

informasi tentang Visa Turki
Al, Margonda Raya, 14 January 2016
Words: 1936
Related Post:
Read More
/ /

Jaman semakin moderen, teknologi kian canggih. Dua hal ini so pasti tak terbantahkan. Saking moderennya jaman, saking pesatnya teknologi, jika dulu kita sering bilang begini 'bahkan tukang becak pun sudah pegang hape', maka kini, ungkapannya pun telah berubah ke arah yang lebih canggih lagi. Ungkapan 'bahkan anak kecil pun sudah ahli main gadget/tablet!' menjadi hal yang teramat lazim terucap di bibir kita. Betul tidak, Sobs?

Yup, bukan hal aneh di mata kita, menyaksikan anak-anak usia SD, bahkan usia dini malah, sudah asyik sendiri bermain hape, atau tepatnya gaming on his/her gadget, baik berupa tablet, ipad, atau smartphones. Salahkah? Hm, tulisan ini bukanlah untuk menyalahkan hal itu, sih! Toh terserah kepada orang tuanya donk, mau ngasih tablet/gadget ke anak-anak mereka pada usia dini ituh. Tentu para orang tua punya alasan tersendiri dengan memberikannya, yang tentunya telah dipertimbangkan dengan matang.

Well, back to the topic, tablet cantik dan murah meriah, memang sedang jadi targetku dan Dijah dua mingguan ini. Sejak Bibah, si yatim kami duduk di kelas 4 SD, guru wali kelasnya sudah sempat menginfokan sih, bahwa anak-anak akan sering diberikan tugas di mana bahan-bahannya bisa dicari di internet! Wow, hello! Anak kelas 4 SD gitu, lho! Hihi, jadi teringat masa-masa diriku SD di jaman baheula, boro-boro hape, kalkulator aja masih pake lidi yang dipotong-potong dan diikat karet, lalu dibawa ke sekolah sebagai alat hitung. Hihi. Omak oi.... canggih nyo jaman ni!*logat Medan* 

Nah, based on those message [info dari bu guru] itu lah, maka kami pun berencana untuk membelikan Bibah sebuah tablet/android agar bisa membantunya dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh bu guru tadi. Kami berdua sepakat untuk tidak memberikannya yang terlalu canggih, cukup yang murah meriah saja lah, namanya juga akan diberikan ke anak kecil yang usianya saja masih 9 tahun, yang pastinya belum mampu mengelola tabletnya itu dengan baik. *underestimate, haha. Belum lagi jika jatuh, mengingat Bibah sendiri masih suka bahkan hobi banget lari ke sana kemari. Jadi sebuah tablet berbasis android yang dibawah 1,5 jutaan cukuplah.

Dan, mulailah kami browsing, cari-mencari di belantara dunia maya. Hm..., sebenarnya tidak browsing ke banyak situs sih, karena untuk belanja online, aku tuh paling sering cuci mata di lazada.co.id, matahari mall dan JD indonesia. Nah, dari ketiganya itu, cihuyyy, ajigile! Kami menemukan sebuah tablet cantik yang cucok banget untuk Bibah. Harganya? Murah meriah pake banget pulak. Ketemunya di JD Indonesia, Sobs!

JD Indonesia

Lihat deh, Sobs! Masak harganya cuma 849 ribu rupiah? Murah banget kan? Baru lho!
Langsung deh, ga pake lama, kami langsung order dan proses transaksinya. Iya donk, barang-barang cantik murah meriah begini, biasanya ga akan stay lama di etalase kan? Laris manis, so, sebelum it sold out, langsung deh masukin ke keranjang belanja, klak klik, dan tunggu deh kedatangannya di depan pintu rumah Dijah. Semoga Bibah akan senang dengan tablet barunya ini nanti, dan semoga makin semangat belajarnya. Aamiin.

catatan kecil,
Al, Margonda Raya, 13 Jan 2016
Word: 476

Read More
/ /
Curug Penganten Cimahi. Pernah ke sini, Sobs? Mungkin yang di Bandung, pasti sudah pernah ke sini yaa? Dan aku, seperti yang terlihat pada foto di atas, udah pernah donk ke sini? Walo untuk mencapai air terjun alias curug ini, butuh perjuangan berat dan stock napas yang kaya dan stabil. Hehe. Habis, konon katanya, nih, jumlah anak tangga yang harus kita turuni hingga mencapai ke curug ini adalah 1000 biji. Bener enggaknya, lupa ngitungnya, karena sibuk ngitung aliran napas, hehe.

Curug ini berada di dalam wilayah wisata alam Katumiri, tepatnya di Jalan Raya Cihanjuang Km. 5,56. Terletak pada ketinggian 1050 m dpl dan memiliki ketinggian terjun air sekitar 50 meter, cukup menghasilkan butiran air yang jatuh menimpa bebatuan di bawah seperti kristal berkilauan akibat terpaan sinar matahari. Dan lebih menakjubkan lagi, saat kami berkunjung ke sini, sedang muncul pelangi, lho! Cakep banget!

Curug pengantin

Curug Cimahi
Dulunya dikenal dengan nama Curug Manglayang, namun karena legenda bahwa ada tragedi mengenaskan yang terjadi di sungai ini, di mana sepasang pengantin yang sedang berperahu, jatuh ke dalam sungai akibat bercanda mesra hingga perahunya oleng, dan akhirmya tewas akibat terseret arus sungai, maka kemudian curug ini dikenal juga dengan sebutan Curug Penganten.

Dan yang namanya Curug, pasti ada misterinya lah, ya. Dan masyarakat setempat sih meyakini dan bahkan berani bersumpah, bahwa sering dari mereka mendengar suara-suara gamelan ditabuh pada malam Jumat Kliwon, yang datangnya dari sebuah batu besar yang ada di Curug itu. Tak sedikit pula masyarat sekitar Curug yang mengakui bahkan mereka bisa/berkesempatan melihat gamelan itu di atas batu besar itu. Hiii.... interesting! Pengen bisa lihat juga, euy!

catatan halan-halan seru,
Al, Margonda Raya, 10 Januari 2016

Read More
/ /
Sengaja pakai judul Leyeh-leyeh cantik, karena ga semua leyeh-leyeh itu terlihat cantik. Ada juga leyeh-leyeh yang terlihat jelek, misalnya, ngegoleran sampai tertidur dengan mulut menganga, haha. Jelas ga cantik donk? Hihi. Hush!

Btw, apa sih artinya leyeh-leyeh itu, Al? Kok sering banget kamu gunain kata leyeh-leyeh? 

Lha, ada yang belum tau toh akan arti leyeh-leyeh? Bukannya sudah pada paham bahwa leyeh-leyeh adalah kata lain untuk bersantai, relaksasi dan sejenisnya? Dan, aku emang suka menggunakan kata leyeh-leyeh daripada kata relaksasi atau nyantai, karena leyeh-leyeh terdengarnya unik. Hehe.

Back to the topic, leyeh-leyeh cantik, sesuailah dengan foto di samping, ya, Sobs? Hihi. Taken when we were visiting the Tokopedia office pada suatu ketika.

Dan postingan ini lahir hanya karena menemukan foto ini di dalam folder photos yang ada di dalam tubuhnya Macsy. Jadi deh, pengen narsis. Yup, akhir-akhir ini, jiwa narsis eikeh kayaknya udah sesuai dengan yang diamanahkan oleh Kang Emil, sang walikota Bandung, deh. Di mana dihimbau agar warga Bandung itu kudu narsis, makanya dibuatlah taman di sana sini, agar warga happy and fresh and feeling free to take pictures alias narsis! So, jika kamu adalah warga Bandung sepertiku, ayo kita narsis! Mumpung narsis masih gratis, nih, Sobs! *apaan seh?

Dan, sebenarnya sih, aku tuh udah lama banget pengen punya ayunan kursi cantik seperti ini, untuk bisa leyeh-leyeh kece sambil baca novel dan buku. Duh, pasti akan asyik banget ya, kalo bisa punya ayunan cantik ini di rumah. Etapi, jika ukurannya segede ini, di apartemen mungil tempat aku tinggal, mana muat, cuy? Kagak akan muat lah. Wong tipenya juga tipe studio, di mana bed, meja, lemari, kulkas saling berdekatan gituh! Boro-boro mau bawa pulang ayunan cantik ini, untuk naruh sofa sebiji aja udah kagak muat lah!

Hm, pengennya sih, bawa pulang [beli] ayunan ini untuk rumah ibu di Bandung, pasti muat deh, kan di sana lumayan luas dan masih ada space tuh. Etapi, kata siapa ada space, bukannya Ibu bakalan ngangkut seluruh barang-barang yang ada di Aceh ikutan pindah ke Bandung? And... it won't be any space untuk ayunan cantik ini, deh! Padahal untuk ditaruh di teras samping, bakalan asyik punya nih!

Udah kebayang banget di pelupuk mata, sore-sore bisa leyeh-leyeh cantik saat wiken di Bandung, sambil baca novel atau buku-buku apik lainnya. Udara Bandung yang sejuk, angin semilir yang semriwing, lingkungan yang teduh, adem dan asri, sungguh suatu kombinasi yang pas banget untuk berakhir pekan. Duh, I really wanna have this ayunan cantik! Boleh ga ya sama Ibu? Atau coba masuk lewat Ayah?

Hm, kayaknya emang harus lewat Ayah deh. Aku akan tunjukin foto ini ke Ayah, dan masukkan ke pikiran Ayah, betapa akan nyaman dan nikmatnya Ayah membaca atau bersantai ria di teras samping, di atas kursi ayunan cantik ini. Busanya yang empuk, ruangnya yang leluasa untuk tubuh, pasti akan bikin tubuh kita rileks, menikmati indahnya hidup. Jiaaah! Betul, ga ada cara lain, aku dan Ayah, biasanya memang sering se ide, atau saling mempengaruhi. Jadi, ga ada salahnya mencoba, siapa tau, kursi ayunan cantik ini bisa pulang ke rumah dan jadi tempat kami untuk leyeh-leyeh kece. Trial and error is a must! 


catatan harian,
Al, Margonda Raya, 9 January 2016
Words: 513
Read More
/ /
A selfhealing alias terapi jiwa mandiri bisa dilakukan dalam berbagai bentuk. Bener ga, Sobs? Seperti yang tanpa sengaja aku lakukan ini, nih, Sobs.

Trip mingguan akhir pekan, Depok - Bandung, yang awalnya berdua putri tercinta, malah gagal terlaksana karena sang permata hati, yang tak bisa mangkir dari acara kampus, yang ternyata adalah malam ini dan besok. Jadinya, Intan hanya pulang ke Depok sebentar khusus untuk mengantar Gliv, lalu nebeng balik ke Kota Jababeka sekalian aku pulang ke Bandung. Jadinya..., ya gitu deh. Eikeh pulang sendiri, bo'.

Untungnya, jalanan malam ini lancar jaya, setidaknya hingga km 88 ini. Dan saking lancarnya lalulintas, driving alone pun jadi asyik, apalagi ditemani music asyik yang bikin jiwa ikut dalam irama. Hm, beneran, this is an awesome Friday night yang unik dan asyik. Jarang2 bisa punya feeling happy dalam kesendirian seperti ini lho!

Sebenarnya ga ingin stop driving sih, inginnya tancap gas sambil ngikutin hentakan irama, namun urine yang sudah terkumpul sejak di Depok tadi, tak lagi sanggup bertahan, so, ya sutra lah ya. Break dulu sejenak, setoran urine di rest room area sini, terus nyoklat cantik sejenak sambil bikin postingan ini, deh!

Sekedar sharing my happy mood and update post aja sih. Terus..., yup, I need to continue my trip and hope to reach Bandung before midnight lah. Wish me a safe drive, ya! Kalo.Sobats, lagi apa, nih?

Al, 8 Januari 2016
Posted from my smartAnsro
Read More
/ /

Ciletuh


Trip to Ciletuh 1 Traveling ke suatu wilayah yang belum pernah kita kunjungi, apalagi suatu wilayah wisata yang kabarnya begitu eksotik, adalah harapan banyak orang. Begitu juga denganku, yang langsung dilema kala dicolek oleh Bang Aswi sekitar pertengahan November 2015 lalu, untuk ikutan bergabung dalam sebuah trip ke Ciletuh, disponsori oleh PT Bio Farma. Dilema karena sebenarnya pekerjaan kantor sedang banyak-banyaknya, namun tawaran ini begitu menggiurkan hati. Rasanya sayang aja kalo sampai seat to Ciletuh dialihkan ke yang lain. Hiks...

Maka, setelah bersemedi timbang sana timbang sini, akhirnya aku langsung bilang Yes ke si abang. Yup, tawaran ini begitu istimewa, gratis pula, sementara jika harus melakukan perjalanan dengan biaya sendiri, it will cost IDR. 750,000.- per orang untuk dua malam tiga hari, so, sayang banget jika dilewatkan dengan begitu saja khaan?

Dan, pada hari H, berkumpullah kami, para peserta trip to Ciletuh, yang terdiri dari 4 orang Blogger Bandung yaitu Bang Aswi, Nchie Hanie, Aku [Alaika Abdullah] dan Sandra. Peserta lain yang adalah juga anggota Komunitas Blogger Bandung adalah Ulu, yang keikutsertaannya di dalam trip ini sebagai hadiah dari menang lomba yang diadakan oleh BioFarma. Bersama Ulu, juga turut serta pemenang-pemenang lainnya, sehingga kami berjumlah lebih kurang 15 orang. Menggunakan satu mobil minibus yang lega, plus satu Kijang Innova [membawa PIC dari Bio Farma, yaitu Kang Hafidz dan Kang Ewin], meluncurlah kami menuju Ciletuh.

Terus, Ciletuh itu di mana, Al?

Terus terang, aku tuh belum pernah sebelumnya mendengar area wisata yang satu ini. Makanya begitu dapat tawaran dari si Abang [Bang Aswi], maka aku langsung lari ke rumah si Mbah. Biasalah, apalagi kalo bukan minta wangsit cari info tentang lokasi wisata yang akan kami datangi ini. Yang ternyata, Ciletuh atau lebih famous-nya dikenal dengan Geopark Ciletuh, terletak di Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Terletak kurang lebih 90 km dari Kota Pelabuhan Ratu, Ibukota dari Kabupaten Sukabumi.

Emang ada apaan sih, Al, di Ciletuh itu?

Banyak dan unik! Sebuah area atau daerah, yang kemudian menjadi area wisata atau pusat perhatian, tentu disebabkan karena memiliki nilai jual. Dan nilai jual apa sih yang ada di Geopark Ciletuh ini?
Hm, aku awalnya mengira, yaaa, paling alam pegunungan atau pantai gitu, Sobs. Ealah, ternyata, Geopark ini menjadi surga wisata unik karena menawarkan keunikan tersendiri, lho! Paduan hamparan batuan kuno, lembah, ngarai dan lautan, membentuk landscape yang bener-benar indah dipandang mata. Tak hanya indah, tapi juga unik, sehingga tak heran jika Geopark Ciletuh ini masuk dan diakui sebagai warisan dunia atau world heritage oleh UNESCO.

Alam Ciletuh


Berbekalkan info yang diberikan si Mbah di atas, jelas donk jika dilema yang aku hadapi langsung berbuah keputusan bulat untuk ikot! Hehe. Yes, I have to join this trip.

And..., the trip started. 

Berkumpul di kantornya Bio Farma, di Bandung sekitar pukul 12 an siang, dengan sabar kami menanti kaum lelaki usai tunaikan shalat Jumat, lalu kami pun berangkat. Seperti yang aku ceritakan di atas, menggunakan dua buah kendaraan roda empat, berupa minibus eksklusif berisi para peserta, dengan dikendarai oleh pak supir yang kocak abis, plus sebuah Toyota Kijang Innova yang membawa Kang Hafidz dan Kang Edwin dari Bio Farma, perjalanan berliku pun dimulai. Berbagai cerita bergulir di dalam perjalanan, sambil mulut tiada henti ngemil makanan ringan yang memang telah disediakan oleh pihak Bio Farma. Duh, baik banget deh sang sponsor inih! Thanks Kang Hafidz and Kang Edwin!

Sekilas info, Bio Farma melalui CSR-nya bergerak di kawasan ini, dengan membina PAPSI [Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi], yang beranggotakan para pemuda desa, dalam mengelola aneka kegiatan PAPSI, yang salah satunya adalah mengelola potensi dan keunikan alam Ciletuh, untuk tak hanya menjadi tempat pembelajaran bagi ilmu pengetahuan [Geologi] namun juga diberdayakan menjadi paket-paket wisata alam yang unik dan mengagumkan.

Tadinya aku kira, paling akan butuh perjalanan sekitar 4 jam ke Sukabumi. Yang ternyata, lebih banyak dari ituh, lho, Sobs! Karena Sukabumi yang ini, bukanlah Sukabumi yang pernah aku kunjungi, melainkan Kabupaten Sukabumi, yang butuh sekitar 4 jam lagi dari Kota Sukabumi. Sehingga, totally kami butuh waktu perjalanan sekitar 8 jam kala itu, untuk mencapai lokasi tujuan.

Perjalanan yang dimulai saat matahari masih dengan garang memancarkan cahayanya, masih belum berakhir saat sang surya gagah ini beranjak ke peraduan. Bahkan saat Azan Magrib pun, kami masih belum mencapai tujuan, melainkan menghentikan perjalanan, lakukan shalat Magrib dan makan malam di sebuah restoran yang menunya Nyunda pisan. Delicious! Perjalanan selanjutnya masih memakan waktu sekitar 2 jam untuk akhirnya benar-benar sampai ke salah satu desa di kecamatan Ciemas ini, di mana kami akan menginap di homestay. 

Homestay yang dimaksud adalah rumah penduduk yang sudah disiapkan oleh panitia sebagai tempat para peserta menginap. Namanya rumah penduduk, dan di desa pula, kami sempat membayangkan akan rumah pedesaan, yang mungkin dibangun dari dinding kayu atau tepas, yang khas desa gitu, deh! Eh ternyata, Sobs! Rumah penduduknya keren, bo'! Sudah berupa rumah permanen yang nyaman dan asri. Bersih pula! Kami dibagi dalam beberapa kelompok untuk menginap di beberapa homestay yang disambut ramah dan bersahabat oleh tuan rumah, khas pedesaan. Wedang jahe dan cemilan singkong rebus, adalah padanan penyambut tamu yang sungguh bikin 'ngangenin'!

Picture taken by Ulu
Penatnya perjalanan, tak menyurutkan kami untuk langsung bebersih diri. Gerah pisan, euy. Jadi walo malam telah mulai larut, satu persatu dari kami beranjak ke kamar mandi, membasuh diri alias mandi, shalat Isya dan kemudian recharge energy, untuk esok harinya bersiap menjelajah alam Ciletuh yang molek dan unik! Nantikan kisah seru nan menantang dalam rangka taklukkan Ciletuh, pada postingan berikutnya, ya, Sobs! Tentang putri gurun sahara yang dikutuk oleh Mentari garang. Hehe.

Catatan Perjalanan ke Ciletuh
Al, Margonda Raya, 5 Januari 2016
Words: 909




Read More
/ /



Masih ingat kutukan sang mentari pada kulit wajahku, yang aku ceritakan di sini? Yang akhirnya membekaskan noda di pipi kiri dan kanan yang seharusnya kinclong ini? Yang membuat si dokter kece jadi bermuka masam dan prihatin serta mewanti-wanti dengan suara lembutnya, 'plis ya, Mba Al, jangan main panas dulu, plis...' 

Hiks... aku nyesel banget ga beli topi gede untuk melindungi wajahku saat pelesiran ke Ciletuh waktu itu. Memang sih, aku baru saja selesai di-fraxel [laser wajah] ketika itu, baru juga seminggu, dan aku sama sekali ga tau kalo panas yang akan aku hadapi adalah seperti pada foto di atas. Ya iya lah, wong naik sampan, di tengah lautan! Ya panas lah! Hehe.

Akhirnya, Sabtu berikutnya setelah di-peeling oleh Dr. Tessa, aku berkunjung ke Klinik DF kembali. Yup, jadwal kontrol dan bertemu langsung si dokter kece, yang tersenyum kalem.

'Tuh, kan, gosong!' Suara lembut, sih! Tapi terdengarnya gimanaaa gitu di telinga. Hehe. Yuk, saya lihat dulu. Dan aku pun pindah ke bed pemeriksaan. Dan tak lama kemudian aku sudah duduk lagi di hadapannya, berbatasan meja kerja dengan-nya.

'Kapan ada waktu untuk di-fraxel lagi?' Tanya si dokter kece kalem.
'Hari ini juga boleh, Dok.' Jawabku mantab. Iya lah, apa pun asal bisa segera menghilangkan noda jilatan matahari yang baru saja terbentuk itu, aku rela-rela ajah, Dok. Hihi.

'Ga ada acara semingguan nanti? Bakalan tampil kusam dan jelek lagi, lho!' Si dokter kece mengingatkan. Dan segera kugelengkan kepala. Ga papa tampil bercadar lagi,  I will follow your instruction, deh, Dok. Dan hari itu juga, aku dilaser lagi. Mengikuti prosedur seperti yang dilakukan pada saat laser pertama, yaitu pengolesan krim anestesi untuk membius agar kulit wajahku tak kesakitan saat dilaser nanti. Alhamdulillah, semua berjalan baik, dan aku pun pulang dalam keadaan wajah merah, habis di-las di-fraxel.

Dan semingguan setelahnya, aku aseli tampil kusam, jelek dan tak bercadar. Haha. Etapi, bukan tujuh hari sih, karena pada hari ke-lima, seluruh kusam telah terkelupas, dan kulit wajah kembali kinclong. Hanya saja, jilatan matahari masih tetap duduk manis hingga hari ini, nih! Bahkan setelah di-Inotho pun, noda ini tak mau pergi. Hiks....

Tak sabar aku menanti jadwal kontrol yang tertunda gegara liburan tahun baru kemarin. Ingin segera ketemu dengan si dokter kece, untuk ditelaah didiagnosa dan ditreatment lanjutan agar kulit wajah segera kinclong, serta acne scars juga berlalu. Hm..., sepertinya proses ini memang akan makan waktu, tapi aku happy-happy aja sih, karena berkunjung ke Klinik DF itu selain untuk perawatan, juga bisa dijadikan sebagai alternatif refreshing, lho! Habis, tempatnya itu cozy banget, nyaman, adem dan lapang. Plus, bisa main ke kebun mawarnya si dokter kece pula, yang ada di lantai paling atas. 
Bagi yang punya baby unyu-unyu, DF clinic juga cucok banget bagi baby Sobats for having baby spa, lho! Emang ada? Ada lah! Ingin tau lebih jauh tentang DF Clinic, yuk, nantikan postinganku selanjutnya, ya!

Al, Margonda Raya, 4 January 2016




Read More