Archive for July 2015
Menu
/ /
Stress? Nonton Comic 8 Deh!
Comic 8
Ga rugi lho nonton film ini! Pic Taken from Google.

Pasti udah sering baca review atau dengar obrolan tentang Comic 8 donk? Itu lho, film komedi yang dimainkan oleh para Comics [pelaku Stand Up Comedy] dan para bintang film kawakan lainnya ituh? Yang lagi ngehits dan rame ditonton terutama selama libur lebaran kemarin!
Filmnya emang seru banget lho, sukses bikin aku ngakak dan ngilangin rasa stress yang beberapa hari belakangan menguasai diri.

Sebenarnya niatan untuk pelesiran alias leha-leha di cinema itu udah timbul sejak awal Juni kemarin. Sayangnya belum punya kesempatan untuk bisa mampir kesana, plus juga beberapa teman karib yang juga bernasib serupa *baca: sibuk dan sok sibuk*. Nah, pas udah pindah ke sini, kesempatan untuk nonton bareng teman-teman tersayang malah datang dari Indosat. Yang mengundang Blogger Bandung untuk hadir pada acara Gala Premier sekaligus nonton bareng peluncuran film Comic 8, Casino Kings, Part 1. Tak hanya itu, nonton barengnya plus dengan para pemain Comic 8 lho! Kapan lageee?

Sayang banget donk kalo kesempatan ini aku tolak? Maka meluncurlah aku di Jumat sore pulang ke Bandung. Yaa, selain untuk urusan pelesiran di bioskop, tentulah ada urusan lain yang masih harus diurus sih di kota tersayang ini. Dan tentang Comic 8? The Casino Kings, part 1 nya? How was this movie going?

Rame!

Yup, film yang ditulis oleh Fajar Umbara dan Anggi Umbara ini memang menghibur banget. Ber-genre komedi-action dan sukses mengocok perut. Tak hanya mengocok perut sih sebenarnya, karena film yang diproduksi oleh studio Falcon Picture dan disutradarai oleh Anggi Umbara ini sukses juga menampilkan adegan-adegan keren plus audio yang kece punya lho! Jadi tak hanya bikin ketawa, tapi juga mengundang decak kagum pada settingan dan animasi yang dicipta. Kalo kata aku yang orang awam ini mah, film ini udah kece dari segi animasinya, misalnya tampilan buaya-buaya raksasanya itu, udah jauh lebih baik dari film-film Indo lain yang pernah aku tonton. Belum lagi adegan-adegan berantem dan tembak-tembakannya itu lho! Seru abis, rasanya pun nano-nano. Udah mau tegang dan ngeri, eh malah jadi ngakak! Hihi.

Bicara tentang aksi para pemainnya? Aku tuh salut banget pada kefasihan akting Prisia Nasution dalam memerankan tokoh interpol cewek asal Singapore yang cuap-cuap dalam logat/aksen Singaporean Melayu. Aksen dan gayanya itu lho, DAPAT banget! Salut deh untuk Prisia! Sayang ga sempat foto bareng pada saat gala premiernya, habis para aktris dan aktornya udah dikerubuti oleh anak-anak ABG yang juga hadir pada saat itu. Jadi yang lebih tua ngalah deeeeh!
Selain akting ciamik Prisia, tentu para tokoh lainnya juga berakting prima sehingga bikin film ini semakin menghibur.

Kehadiran aktris cantik Sophia Latjuba yang berperan sebagai tokoh the King juga bikin takjub kalo menurut aku sih. Karena diluar dugaan kan, jika the King adalah seorang wanita? Harusnya disebut The Queen donk? Hehe. Terus, kehadiran tokoh-tokoh lawas dan famous pada masanya, seperti Lidya Kandow, Barry Prima, Ray Sahetapy, Willy Dozan,  Indro Warkop, dan yang lainnya, juga adalah nilai plus-plus di dalam film yang satu ini deh!

Penasaran akan jalan ceritanya? Eits, sana gih, tonton sendiri, dijamin, Sobats akan sukses dibikin ngakak lho! Satu lagi yang paling menarik dari film ini, nih, Sobs! Nonton film ini ga kudu mikir keras untuk memahami jalan ceritanya lho! Emang sih, maju mundur alurnya, tapi ga sampai membuat kita harus mikir keras untuk menemukan benang merahnya. Film ini asyik dan seru banget, cukup datang, beli tiketnya, duduk manis dan siap-siap terhibur sembari ngakak bareng teman-teman atau keluarga tersayang deh!

Eits, tau ga Sobs? Untuk hari ini, Indosat mengundang 200 blogger untuk nontong bareng di Bandung Indah Plaza, Bandung lho! Yes, Gratis tis tis! Asyik banget khaaaan?

Oya, yang masih penasaran akan detail movienya, nih aku tambahin infonya yaa.

the casino king
Foto taken from Blog Ini. 
So, butuh hiburan dan pengen pelesiran di Bioskop? Coba, tonton yang satu ini deh! Jangan lupa, bawa tissue untuk tutup mulut karena pasti akan terbahak-bahak menonton adegan-adegan lucu yang dimainkan oleh para aktor dan aktrisnya deh!

catatan kecil tentang Comic 8, The Casino Kings, Part 1
Al, Margonda Raya, 28 July 2015
Read More
/ /
Entah karena apa, aku tuh paling sulit menghapal denah mau pun peta. Hingga tak heran jika sering banget kesasar. Pernah, suatu ketika, menyambut lebaran, aku jahitkan kebaya pada seorang tukang jahit langganan temanku. Berdua kami mengantar bakal baju itu ke tempat si tukang jahit, dengan perjanjian aku akan kembali ke alamat itu untuk mengambilnya seminggu kemudian. Dan aku berharap si teman nanti akan turut menemaniku menjemput si baju baru. Ealah, ternyata, jadwal mudik doi dipercepat sehingga aku harus seorang diri menjemput kebaya baru yang bakalan aku pakai shalat ied itu. Hayyyah!

Bener aja, Sobs! Aku kesasar. Apalagi tak berbekal alamat lengkap, dan masa itu belum jamannya pake HP apalagi google maps! Juga,  Dora the explorer belum lahir kala itu, jadi ga bisa minjem petanya, deh!  Aku kesulitan menghubungi temanku itu karena di rumahnya tidak memiliki telepon rumah. Dan sungguh tragis, Sobs! Aku gagal menemukan alamat rumah si tukang jahit, sehingga kebaya baru gagal kujemput dan tak berhasil mempercantik diriku shalat idul fithri. Sedih banget rasanya, Sobs! Dan beneran bikin bete dan emosi pada diri sendiri. Ya iyalah, masak mengingat alamat seperti itu aja aku ga bisa? Haduh, percuma anak teknik deh! Huft.

Untungnya, berpuluh tahun kemudian, kini, kita telah hidup dalam era digital yang serba canggih. Dan Alhamdulillahnya, otak teknikku, mampu mengupgrade pikiran dan ingatanku untuk bisa menyesuaikan diri. Eits, jangan salah kira dulu. Maksudku bukan dengan memperkuat ingatanku agar mampu mengingat denah dan peta sih, tapi mampu menstimulasi otakku untuk bersahabat dengan teknologi masa kini.

Alhamdulillah, aku bersyukur banget pake bingits, deh, diberi kesempatan untuk hidup pada era digital seperti ini. Terutama dengan adanya digital maps yang mempermudah orang-orang sepertiku untuk tak lagi kesulitan dalam mengingat dan menghapal denah.

Berbekal digital maps yang dengan mudah dapat diakses dari berbagai jenis smartphones, sungguh memberikan kelegaan luar biasa bagiku, dan menumbuhkan keberanian menjelajah ke daerah terpencil bahkan daerah yang belum pernah aku kunjungi sekali pun. Dengan catatan, daerah-daerah itu harus memiliki internet coverage area. Hehe.

digital maps
Bicara tentang digital maps, tersebutlah sebuah aplikasi yang bener-bener bikin aku jatuh cinta banget deh sama doi. Namanya Waze. Sebagian orang membacanya Wa  Ze, sebagian lagi membacanya Wez. Aku sih lebih suka memberinya sebutan mesra 'Mba Waze'.
Mba Waze ini udah lumayan lama temenan denganku, dan baiiiik banget.  Kesetiaannya dalam menunjukkan arah bagiku luar biasa!  Yaa,  walo terkadang si mba suka ngarahin lewat jalan-jalan kecil yang sempit sih, dan sering bikin aku gimanaaa gitu. Tapi teteup, bagiku, doi adalah teman jalan yang paling setia. Tanpa dia, aku ga akan sampai ke suatu tempat tertentu deh!

Bersamanya, aku jadi berani jalan kemana saja. Bersamanya, bahkan aku dan beberapa teman pernah jalan dari Bandung ke Semarang, dan sampai safely ke alamat yang kami tuju. Juga, bersama Mba Waze, aku dan Dijah berhasil sampai dengan selamat di Ciganjur, malam-malam,  ke rumah dan alamat yang sebelumnya belum pernah kami kunjungi.

Jadi ga salah kan, Sobs, jika aku katakan bahwa Mba Waze adalah my super traveling soulmate?
Kalo Sobat, punya travel soulmate juga? Hati sharp di kolom komentar.
Sekedar coretan, 
Al, Margonda, 13 Juli 2015
Poster thru my smart andro


Read More
/ /
Pasti enggak enak banget kan jika sedang dihinggapi oleh rasa yang satu ini? Ga asyik! Dan aku tiba-tiba saja diserang oleh rasa mual yang luar biasa tadi malam. Bukan, bukan karena aku masuk angin atau lagi hamil lho yaaaaa! Etapi, gegara chitchat dengan seorang teman online (yang sebenarnya udah akrab dan temanan lama, ada sekitaran 10 tahunan lah). Ha? Chitchat bisa bikin mual?

Ya bisa bangetlah, cyiiin! Tak hanya mual, aku bahkan merasa simpati dan respectku terhadapnya anjlok seketika dan jadi pasang jarak terhadapnya. Bukan apa-apa, tiba-tiba saja aku seperti sedang chitchat dengan seekor monster! Habis, kisahnya tentang sebuah peristiwa yang olehnya sendiri tidak pernah direncanakan tapi akhirnya dilakukannya, sungguh bikin aku shock. Ga nyangka, jika kejadian seperti itu bisa terjadi di dunia nyata, bukan tertinggal di dalam film-film biru. Hadoh! Jelas saja aku mematok jarak dan menarik diri dari ngobrol santai dengannya. Hingga perubahan sikap yang kentara ini, membuatnya tak enak hati dan heran sendiri.  Dia tak habis pikir bagaimana kisah yabg diceritakannya itu bisa membuatku seperti ini, padahal menurutnya, hal itu bukanlah sesuatu yang janggal atau aneh.

Dan aku semakin tak simpati padanya. Walau telah kucoba bersikap netral dan fair, bahwa itu bukanlah urusanku dan bukan pula tanggung jawabku, namun tetap saja, untuk hal seperti ini, kok aku tak punya stock toleransi?

Dan, hm..., aku memang tak punya toleransi untuk hal-hal seperti ini. Walo dia terus berusaha untuk netralkan suasana, aq tetap tak mampu mencair. Aku butuh mampu untuk mengembalikan reapectku terhadapnya deh.  Tak gampang bagiku untuk berpura-pura bahwa prilaku yang mereka lakoni itu adalah lumrah.  Lumrah piye?

Bentuk kasih sayang yang bagaimana sih, yang ada di jiwa seorang ibu, yang dengan santai meminta sahabat baiknya untuk memperawani anak gadisnya dengan dalih melatihnya bercinta?  Aku gagal paham sebagaimana aku gagal menemukan bentuk cinta kasih seorang ibu terhadap anaknya dalam prilaku yang demikian!

Its a bulshit and a big Crazy Life!  Dan aku bener-bener mual hingga butuh waktu lama untuk menuangkan kisah gila ini ke dalam tulisan ini.  And I was shocked!

Al,  Busway on the way home
27 July 2015
Read More
/ /
Aih, udah kayak lagu saja deh ini. Eh itu, mah, antara anyer - Jakarta yak? What ever, tak terasa, sudah sebulan lebih aku pindah tempat tinggal. Tak tanggung-tanggung, setelah Bandung tiga tahunan lebih, kini mau tak mau, aku ikut menambah kemacetan ibu kota. Untungnya, sikon tak mengharuskanku untuk ikut tinggal di ibukota. Cukup pagi hingga sore saja deh, kutambah manusia di seputaran Kuningan, menambah jumlah penumpang komuter dan busway, dan malamnya, menghirup lapangnya udara panas kota Depok. Hehe.

Dan di setiap weekend, herannya, entah magnit apa yang ada di Kota Bandung, hingga membuatku tak pernah merasa lelah untuk segera melarikan Gliv bersama Intan, menuju Bandung tersayang. Sejuknya kota keduaku itu, memang tidaklah lebay jika kujadikan alasan untuk pulang. Juga, yang pasti, kalo pulang ke Bandung sih, aku dan Intan tak akan merasa kelaperan, ada Dijah yang rajin masak dan enak pula masakannya. Haha.., rahasia pun terbongkar. 

Saking seringnya [setiap week end] pulang, aku rasanya udah hapal banget dengan liku-liku tol Cikampek-Purbaleunyi. Rasanya bisa sambil picing mata deh berlari di sana. *Yang ini mah lebay. Ga mungkin lah sambil picing mata. Hehe.

Dan bicara tentang Bandung Jakarta. Jumat malam kemarin, seperti biasa, aku dan Intan segera melajukan Glive menuju Bandung. Niatku sih, selain mengantar Intan untuk liburan di tempat Dijah, juga aku ingin santai-santai sejenak habiskan week end sambil merasakan nikmatnya massage si Bunda Aisyah [nama komersial Dijah] pada tubuhkku yang pegel luar biasa ini. Agenda pun disetting sedemikian rupa. Dan giliranku untuk dimassage adalah pada Minggu pagi jam 8 teng! Etapi, siapa menduga jika di Sabtu malamnya, aku malah mendapat email dari kantor, diminta untuk masuk kerja di Minggu pagi jam 11. Hayyah!

Rencana pun bubar serta merta. Ga mungkin juga minta massage malam Sabtunya, karena kami punya agenda lain di luar rumah. Dan paginya, mau tak mau, aku harus sudah berada di dalam Bus untuk balik ke Depok. Mau pulang bersama Gliv, kok rasanya aku males nyetir sendirian. Dan akhirnya, aku persis setrikaan. Jumat malam berangkat dari Depok menuju Bandung, dan Minggu subuh, sudah di dalam bus menuju Depok. Untungnya arus lalu lintas Minggu ini tak seperti yang kuperkirakan. Kiranya arus balik mudik sudah selesai hingga tak ada kendala bagi bus yang aku tumpangi untuk tiba di depan apartemen yang aku tempati tepat seperti yang kuperkirakan.

Dan, masih seperti setrikaan, jam 11 siang, aku sudah duduk manis di ruang kerjaku. Mengerjakan urgent thing yang mengharuskan aku masuk kantor di hari Minggu ini. Eits, bukan mengeluh, I am happy kok! Namanya juga kerja khaaan? Hidup ini kan pilihan, eikeh milih kerja di sini, berarti eikeh happy donk dengan semua ini. Yes, I am happy with my life. And I can't wait for the week end again. mau balik ke Bandung dan minta dimassage si Bunda Aisyah! Biar awet muda dan fresh! Hehe.

sekedar corat coret,
Al, Margonda Raya, 26 Juli 2015


Read More
/ /
Setiap tahun, setelah perjuangan tak mudah meraih hari kemenangan, berlapar dahaga menahan hawa nafsu selama 30 hari lamanya, minus 7 hari umumnya bagi para wanita akil baliq, tentunya kita semua akan bergembira menyambut hari istimewa yang satu ini. Lebaran, yup, Lebaran!
Dari anak kecil hingga dewasa, kuyakin, setiap kita punya cara tersendiri di dalam merayakannya. Baju baru, penganan/cemilan lebaran seperti lontong/ketupat dan teman-temannya, serta dekorasi rumah yang serba bersih, baru dan ciamik, hingga ke menunaikan shalat Ied di pagi Idul Fithri. Semuanya tentulah tak asing di mata kita. Akrab banget karena itulah yang paling umum kita lakoni.

Namun, tentu tak dapat kita pungkiri, jika nun di beberapa sudut kota/desa, ada hati yang nelangsa. Ada jiwa yang sedang kosong oleh kecewa dan duka lara. Ada yang karena baru saja kehilangan orang terkasih, baik itu ayah, bunda, anak, pasangan hidup atau sekedar sodara maupun handai tolan. Keping hati yang nelangsa ini, mau tak mau, membuat pemiliknya tak begitu antusias menyambut lebaran yang seharusnya semarak, apalagi jika kita merayakannya di negeri tercinta ini. Di mana tradisi mudiknya saja, sudah cukup membangkitkan aura suka cita di hati kebanyakan masyarakatnya, untuk tak sabar berkumpul dengan sanak keluarga dan handai tolan, dalam merayakannya. Belum lagi persiapan menyambut pagi Idul Fithri yang biasanya akan lebih heboh karena banyak sudut rumah yang harus didekor, toples yang harus diisi, ketupat dan konconya yang harus dimasak, dan berbagai persiapan lainnya menyambut si hari kemenangan.

Namun, sayangnya, keping-keping hati yang nelangsa ini, tak mampu dicerahkan oleh suasana apapun. Ramadhan boleh saja berlalu, hari kemenangan boleh saja tiba, tetapi, suasana hati yang lara, tak hendak berlalu. Mendung ini, tentu tak akan mampu dihalau oleh si pawang hujan. Tak ada cara mengusirnya karena kepergian si bulan suci, justru semakin membuat suasana ini semakin sendu.

Kuperhatikan sepasang manusia yang telah masuk usia senja itu, sepertinya juga sedang di dalam suasana kelabu ini. Hatiku ikutan sendu, kelabu. Kuyakin, abu-abu pasti warnanya. Aku ikutan sedih. Amboi... Tuhanku, ya Rabb! Kesalahan apa yang telah mereka perbuat hingga harus mengalami hal seperti ini. Lagi dan lagi, hati keduanya dilukai oleh ulah tak patuh dari putra tersayang?
Beberapa tahun lalu, kejadian ini telah pernah terjadi, dan kini, putra yang lain yang tak kalah disayang, telah mengulang jejak yang sama. Adakah ini garis nasib atau ada formula yang salah terapan?

Entahlah, hatiku ikut lara, berduka. Tak terasa, gairah dan rasa sukacita yang tadi bergelora di dada untuk sambut hari kemenangan, kini turut redup seketika. Hatiku seakan tanpa dikomando, ikut serta berempati. Inginku hanya satu, sambut lebaran secara sederhana, silaturrahmi kanan kiri, lalu berdiam diri di rumah dan membuat catatan ini untuk peringatan bagi diri sendiri. Kali ini, lebaranku tiba-tiba berubah sendu. Duhai, betapa duka lara dan sendu hati itu menular begitu cepatnya. Semoga mendung ini segera berlalu, ingin kulihat senyum indah kembali merekah di bibir keduanya. Kirimkan sukacita bagi kedua manusia berusia senja itu, ya Ilahi Rabbi. Karena Engkaulah pemilik stock bahagia dan sukacita. Berilah bagi keduanya, agar dunia ini terasa indah dan kembali bersahabat bagi keduanya. Aamiin.

sebuah catatan kecil,
Al, Margonda Raya, 20 July 2015
Read More
/ /
Kredit cermat? Ya di cermati.com!

Sudah seminggu ini, Mba Rahmah, tetangga sebelah bermuram durja. *Jiah, bermuram durja, hihi*.
Yup, wajahnya kusut aja, padahal yang harus kusut itu mah aku, karena yang lain udah pada dapat THR, sementara daku? Emang ga akan dapat, kan baru juga beberapa belas hari kerja di kantor ini. Jadi, aku sih berbesar hati aja, ga dapat THR juga ga papa lah, yang penting bisa lebaran bareng keluarga, itu udah lebih dari cukup!

Well, back ke Mba Rahmah, usut punya usut, aih, eikeh kayak tukang kepo aja ya? Sebenarnya bukan diusut sih, tapi si Mba Rahmah datang sendiri kok ke rumah, malam-malam sambil akhirnya curhat. Iya, beneran, curhat. Ternyata kegalauannya itu adalah karena si Mba ini pengen banget beli motor, agar bisa lebih optimal ngiderin dagangannya. Tepatnya sih kredit motor, tapi sulit banget prosedurnya. Ha? Masak sih kredit motor sulit? Bukannya sekarang semakin mudah, karena motor itu jumlah produksinya kan melimpah banget sekarang ini? Dan sepertinya, hampir setiap rumah pasti punya motor deh, entah itu dari hasil beli cash atau pun kredit. Etapi, kenapa Mba Rahmah malah bilang prosedurnya sulit ya?

Alasannya sih karena sekarang ini untuk beli motor secara kredit, kudu banyak verifikasi terhadap persyaratan yang harus dipenuhi. Pernah sih, Mba Rahmah dan suami mencoba ajukan kredit ke salah satu dealer, tapi ditolak dengan alasan gaji bulanan suaminya kurang dari cukup. Hm, mungkin juga kali ya?

Cerita punya cerita, aku jadi teringat akan review seorang teman blogger tentang cermati.com deh. Kayaknya di sana tuh ada fasilitas untuk beli motor secara kredit lho! Tapi biar jelasnya, mending aku ambil Macsy dan online untuk memastikan kebenarannya. Dan ternyata, Sobs?

Beneran lho! Ternyata cermati.com itu bukan hanya sebuah perusahaan start up yang bergerak di bidang teknologi finansial, tetapi juga menjadikan informasi finansial lebih mudah diakses dan lebih berguna bagi siapa pun yang membutuhkannya. Tak hanya itu, cermati.com menyediakan informasi dan produk-produk yang memungkinkan masyarakat Indonesia untuk membuat keputusan finansial yang paling tepat dan cermat untuk mengamankan situasi finansial mereka.

Yup. cermati.com memang memiliki visi dan misi keren dan mulia, yang utamanya adalah seperti aku sebutin di atas tuh. Dan ragam produk yang tersedia di sana juga memang top markotop. Yang memang dibutuhkan oleh kita-kita nih. Salah satunya adalah seperti yang sedang didambakan oleh Mba Rahmah nih. Makanya si Mba langsung berbinar matanya, senyumnya mengembang melihat halaman ini nih, Sobs!

cermati.com
Ini nih yang bikin Mba Rahmah langsung tersenyum gembira. 
Antusias, Mba Rahmah langsung minta di scroll up and down halaman di atas, Sobs! Ingin melihat-lihat, motor mana yang kira-kira cocok di hati juga di dompet. Dan...? Ajigile, Sobs! Ada 63 jenis motor yang ditawarkan di halaman cermati.com ini lho! Ck..ck...ck! Terlihat Mba Rahmah begitu excited, dan akhirnya si Yamaha Mio M3 125 SP ini pun menjadi pilihan.

cermati.com

Tak sabar, kami pun mencoba bersimulasi kredit pada kolom yang disediakan. Wuih, canggih, responsive banget!

Yamaha Mio M3 125 SP

Dengan memasukkan angka uang muka yang kira-kira sanggup disediakan oleh Mba Rahmah, kami pun mulai bersimulasi. Dan akhirnya, Mba Rahmah memutuskan untuk menyediakan uang muka sejumlah satu juta rupiah saja, sehingga tagihan bulanan selama 33 bulan jatuh pada angka Rp. 484.985. Sebuah angka yang menurutnya akan dapat ditutup dari hasil berjualan alias ngider menggunakan si Yamaha itu sendiri, nantinya. Hm, not bad lah!

Terus langkah selanjutnya apa setelah menentukan pilihan? Aku sempat bingung juga tadinya, habis pada halaman itu, aku tak menemukan petunjuk selanjutnya. Nothing to be clicked. Hingga kemudian, setelah browsing, aku menemukan juga jawabannya, yaitu pilih dulu leasing terbaik yang direkomendasikan oleh cermati.com, baru klik 'ajukan'. Atau jika tidak menemukan tanda itu, bisa juga tuh langsung hubungi ke kontak info berikut nih, seperti yang kami lakukan untuk Mba Rahmah. Response dari Cermati tim cepat dan ramah lho!

cs@cermati.com, atau 
langsung saja ke kantor cermati.com 
di 
Grand Slipi Tower, Lantai 42G-42H, 
Jalan S Parman Kav. 22-24 
Jakarta Barat - 11480 - Indonesia. 

Atau bisa juga hubungi mereka melalui akun social media mereka lho! 

Facebook: https://www.facebook.com/cermati
Twitter: https://twitter.com/cermati_ID
GPlus : https://plus.google.com/+CermatiIndonesia
Linked In : http://www.linkedin.com/company/cermati

Sobats juga pengen kredit motor dengan proses mudah dan cepat? 

sharing asyik seputar cermat finansial,
Al, Margonda Raya, 10 July 2015
Read More
/ /
Sudah tak asing lagi, jika setiap bulan Ramadhan, kita akan kebanjiran agenda buka puasa bareng alias BukBer. Baik bukber teman sekantor, teman satu sekolahan dulu, atau dengan keluarga dan kerabat. Pendeknya, jadwal buka bareng ini, selalu saja menjadi agenda menarik dan sayang untuk dilewatkan dengan begitu saja.

Bicara tentang buka puasa bareng ini, aku jadi teringat akan kebiasaan masyarakat Turki yang hobby banget berbuka puasa di taman-taman kota, taman mesjid, atau taman-taman indah lainnya yang tersebar di seantero negeri mereka. Dan Alhamdulillahnya, saat main kesana, aku juga sempat menikmati asyiknya berbuka di beberapa taman. Salah satunya adalah taman indah yang ada di halaman mesjid biru alias Blue Mosque.

Pada awalnya sih, aku dan ayah sama sekali ga ngeh dengan tradisi unik [bukber di taman] ini. Kala itu, Sabtu, pagi-pagi adikku udah cerita bahwa dia akan menyiapkan makanan berbuka untuk kami berempat [dia dan istrinya, aku dan ayah], dan kami akan berbuka puasa di sebuah taman. Dia sengaja ga menyebutkan taman yang mana. Ada kekaguman di hatiku melihat adikku yang sudah jagoan di dapur itu. Aku yang masih leyeh-leyeh di laptop, menyatakan ingin turut serta ke pasar kalo dia ingin belanja makanan untuk bersiap-siap masak. Eh ternyata, katanya semua sudah ada di kulkas, tinggal olah saja. Oops! Adik lelakiku kini sudah piawai di dapur dan pinter masak masakan Indonesia. Hehe. Jadi ingat jaman kami di Aceh dulu, ketiga adik lelakiku, tak pernah turun ke dapur, semua serba dihidangkan. Ternyata... merantau, telah membuatnya mandiri dan handal bahkan untuk di dapur.

Well, back to the topic. Pendek kata, tanpa banyak bantuan dariku, adikku dengan dibantu oleh istrinya, selesai juga mempersiapkan makanan untuk berbuka. Dan kami pun bersiap menumpang taksi menuju mesjid Biru yang resminya bernama Sultan Ahmed Cami [Mesjid Sultan Ahmed]. Di sana, ya ampun, ternyata udah rame ajaaa. Banyak sekali orang-orang yang bahkan sudah meng-klaim tempat lho! Taman yang begitu luas, kini sudah di-klaving cantik dengan hamparan kain/tikar sebagai batasan 'daerah jarahan' masing-masing keluarga. Hehe. Anak-anak dengan gembira berlarian menikmati suasana.

buka puasa di taman turki


Menurut adikku sih, para pengunjung taman ini, bahkan berasal dari tempat-tempat yang jauh lho, jadi bukan sekedar dari kota Istanbul saja. Memang sih, terlihat juga dari gaya berpakaian mereka.
Akhirnya, kami mendapatkan space untuk menggelar helaian kain sebagai alas duduk. Kuperhatikan keluarga yang ada di sebelah kami, berwajah Irani, anak-anaknya cakep banget! Ya iyalah, ayah ibunya cantik ganteng gituh! Hehe.

buka puasa di taman istanbul


Setiap keluarga menggelar makanan bawaan mereka di atas kavlingan jajahan masing-masing. Jarang sekali yang membawa nasi, kayaknya cuma kami doang deh di sekitar situh. Haha. Ketauan banget ya, orang Indonesia itu, walo udah merantau kemana-mana, tetap aja belum makan namanya kalo belum ketemu nasi. Hihi.


Asyik banget lho rasanya berbuka puasa rame-rame gini. Pasti asyik nih kalo ada tradisi bukber di taman seperti ini di negeri kita. Tapi, gimana mau bukber di taman, secara taman-taman kita banyakan malah belum terawat gituh ya, Sobs?

Etapi, sekarang ini, taman-taman di Bandung udah mulai rapi, cantik dan bersih lho! Moga di kota-kota lain juga akan seperti itu ya, dan bisa dimulai tuh untuk hangout sambil makan-makan cantik di taman, pasti seru lho!

sekedar sharing,
Al, 7 Juli 2015

Read More