Archive for April 2015
Menu
/ /
Melanjutkan postingan yang kemarin nih, Sobs, tentang  digital hangout asyik dan keren, pasti pada penasaran kan kenapa aku suka banget main kesana? Emang ga ada tempat lain gituh?
Ya ada sih, tapinya, aku suka banget sama yang ini, Sobs! Habis, fiturnya asyik banget. Ngebantu banget bagi kita yang lagi butuh inspirasi atau sekedar ingin tau, baik tentang cullinary, traveling, fashion, entertainment, maupun health alias informasi kesehatan.

Pengalaman Seru Berselancar di BreakTime

Jadi kemarin tuh ada pengalaman seru, Sobs! Berawal dari chitchat [hayyah, lagi-lagi chitchat] dengan teman yang berada nun jauh di Rwanda sana. Si teman yang masih aktif di sebuah International NGO dan sedang bertugas di sana, cerita bahwa dia ingin main lagi ke Indonesia pada cutinya di Juni nanti. Sebenarnya sih ada dua opsi pilihannya, yang pertama adalah main ke Indonesia yang menurutnya ngangenin banget, terus satu lagi adalah Srilanka [duh, aku juga pengen ih main ke Srikanka], tempat di mana dia pernah bertugas lumayan lama. Dan doi tuh ngajakin aku untuk liburan bareng bersamanya nanti. Duh, asyik banget pastinya, tapi cukup budget enggak ya?  Setidaknya untuk liburan di Indonesia, pastinya biaya yang dibutuhkan untukku tentu tak akan sebanyak yang bakalan dikeluarkan jika kami berlibur di Srilanka. Etapi, sekarang ini, tiket pesawat ke luar negeri juga lumaya murah kan, ya? Apalagi jika pesan tiketnya jauh-jauh hari.

Nah, untuk destinasi Indonesia, Kecia tuh pengen main ke tempat yang ada taman Lotusnya, karena dia kan pecinta bunga teratai. Weleh...weleh, taman lotus? Di mana ya? Duh, aku kayaknya belum pernah deh mendengar ada taman Lotus di Indonesia. Taman Lotus, pastinya adalah sebuah danau di mana bunga teratai bertumbuh kan? Nah, itu dimenong, Sobs?
Ndilalahnya tuh, aku sedang berada di halamannya, breaktime.co.id. Ah, coba browsing di sini deh, di spot travelnya, mudah-mudahan ada di sini deh. Tadinya sih mau langsung googling as usual, etapi, ga ada salahnya donk nyari di halaman yang sedang terbuka ini. Dan, yipppi! Ada, Sobs!

Teratai Raksasa
Foto dicapture dari halaman breaktime.co.id
Wew, tak hanya teratai biasa, tapi Giant Lotus alias Teratai raksasa! Sungguh bikin aku takjub, karena ini adanya di negeri tercinta, lho, Sobs! Entah aku yang kudet, atau memang informasi ini tak banyak diketahui oleh masyarakat kita, yang pasti, mengetahui bahwa Giant Lotus aka Teratai Raksasa yang menghampar cantik di Rana [danau] Tonjong, desa Nanga Mbaling, Nusa Tenggara Timur sana, sungguh bikin hati terkagum-kagum. Tak tanggung-tanggung ternyata, Sobs, si Giant Lotus ini diklaim sebagai teratai terbesar ke dua di dunia setelah teratai yang ada di India. Oho! Kereen!

Informasi ini segera kusampaikan ke Kecia, bahwa jika dia ingin menyaksikan kuntum-kuntum lotus raksasa, yang biji-bijinya dipercaya mampu menjadi penyembuh aneka penyakit itu bermekaran di Rana Tonjong, maka kami harus sudah ke sana paling lambat di awal Juni, karena masa mekarnya sang teratai adalah pada rentang April hingga awal Juni. Kujelaskan juga padanya bahwa untuk mencapai danau keren ini, akan dibutuhkan perjuangan panjang akibat jauhnya perjalanan dengan medan yang lumayan sulit juga menantang. Dan penjelasan ini, aku sendiri paham banget, bukannya akan menyurutkan langkahnya, melainkan, sama sepertiku, justru semakin ingin mencapai tempat ini dan berselfie ria di sana. Haha. Pasti akan keren sangat inih! Aih, belum apa-apa, aku sudah feeling excited begini, ih! Bisa kecewa berat nih kalo sempat ga jadi.

Nah, Sobs, udah mulai ngeh donk kenapa aku begitu suka nongkrong di digital hangout yang satu ini? Emang asyik dan bikin kita dapat banyak inspirasi, sih! Sobats juga penasaran? Coba deh main-main ke sana, ya!

sharing pengalaman seru hangout digitally at breaktime.co.id
Al, Bandung, 24 April, 2015




Read More
/ /
Nenek Asyani pencuri kayu
Foto milik Ghazali Dasuqi/Detik.com
Nenek Asyani si 'pencuri kayu'. Ah, yang bener saja? Rasanya ga masuk akal deh! Itulah yang ada dibenakku kala pertama kali pikiranku terkesan pada hiruk pikuk perkara Nenek Asyani. Awalnya, seperti biasa, aku tidak terlalu menaruh perhatian, karena terkadang, berita-berita seperti ini terkesan seperti diblow-up oleh rekan-rekan media dalam rangka menarik pembaca atau visitor. Dan berbekal pemikiran itu, aku sendiri tidak ingin ikutan latah menuliskan artikel tentang si nenek malang yang bahkan untuk berjalan dalam jarak dekat saja pun, sudah tidak terlalu meyakinkan lagi, eh kok malah dituduh mencuri kayu jati milik Perhutani.

Makanya, aku ga mau ikutan posting ah! Etapi, status seorang teman di facebook yang berbunyi;

Nenek Asyani yang dituduh mencuri kayu dikenai hukuman 1 tahun penjara. Dia histeris. Meskipun aku miris dan kasihan, tapi kalau memang mencuri sebaiknya dihukum agar gugur dosa-dosanya di dunia. Tetapi kepada penegak hukum aku tegaskan bawa jika Nenek tua yang tampak miskin ini dihukum 1 tahun, maka para pencuri kayu seperti kasus2 illegal logging itu dihukum seumur hidup! Itu baru adil ~tulis seorang teman baik, di wall fbnya. ~ 

Ha? So? Nenek malang ini divonis bersalah? Oh Tuhan.... sungguh malang nasibmu, Nek. Sungguh, dengan perasaan miris, aku seakan dikomando oleh hati nurani untuk mencari tau. Sebenarnya gimana sih kasus yang menimpa nenek renta berusia 63 tahun asal Dusun Krastan - Desa/Kecamatan Jatibanteng - Situbondo ini?

Browsing sana browsing sini, mencoba mengurut histori kasus ini, akhirnya aku mencoba merunut kejadian dari awal hingga akhir, yang ujung-ujungnya, tak urung, sukses menitikkan air mataku. Duh, mirisnya nasibmu, Nek!

Awal Kisah

Enam tahun lalu, tersebutlah seorang nenek renta bernama Asyani, dari sebuah dusun di pelosok Situbondo. Bersama sang suami [yang saat itu masih hidup], memutuskan untuk menebang 7 kayu jati dari lahan yang saat itu masih sah menjadi miliknya. Karena ketiadaan ongkos angkut, maka ketujuh kayu jati itu dibiarkan saja di tekape hingga kemudian lahan itu berpindah tangan [dijual]. Suaminya meninggal dunia, dan baru pada Desember 2014, si nenek memiliki dana untuk upah mengangkut kayu itu. Diajaknyalah Ruslan, menantunya; Sucipto, si tukang kayu ; dan Abdus Salam, sang sopir pick up, yang kemudian ikut diringkus oleh aparat bersamaan dengan penangkapan Nenek Asyani.

Nenek Asyani ditangkap? Karena apa? Tuduhannya apa? 
Ya karena ada orang Perhutani yang memergoki si Nenek beserta 'crew'nya sedang mengangkut tujuh kayu jati itu, yang disinyalir bahwa kayu itu adalah milik Perhutani. Ilegal logging, tuduhan kerennya. Memang sih, kabarnya Perhutani sedang kehilangan dua kayu jati. 

“Saya mengambil kayu jati di lahan sendiri. Sekarang lahan itu sudah saya jual. Penebangnya suami saya yang sekarang sudah meninggal. Jadi, saya tidak mencuri, saksinya orang sekampung,” ungkap Asyani dengan bahasa Madura karena tidak bisa berbahasa Indonesia. Selama menjalani sidang, Asyani terlihat pasrah menerima nasibnya. ~ seperti dilansir oleh www.liputan-terkini.com/5242/sedih-banget-nenek-ini-dihukum-karena-dituduh-mencuri-kayunya-sendiri.html
Keterangan yang dibenarkan oleh Pak Kades itu dikuatkan pula oleh kuasa hukum sang nenek berupa copy berkas kepemilikan lahan enam tahun lalu, yang tentunya masih merupakan milik Nenek Asyani. Namun, Ibu Jaksa Penuntut Umum bersikeras menjerat ke-empat tertuduh dengan dakwaan masing-masing yang intinya adalah bahwa mereka telah melanggar beberapa pasal yang berhubungan dengan Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan. Aih. Seyem juga yaaaa?

Tentu saja Nenek Asyani bagai orang jatuh ketimpa tangga. Tak pernah terlintas di benaknya jika perbuatan mengambil kayu jati dari lahannya sendiri akan menjeratnya seperti ini. Betapa beruntungnya sang suami yang telah lebih dulu mendahuluinya. Hiks..

Singkat cerita, Nenek renta 63 tahunan ini pun terpaksa mendekam di dalam ruang tahanan yang pengap, dan bersimpuh tersedu kala Ibu Jaksa mendakwanya untuk tuntutan bersalah. Berurai airmata, nenek tua renta ini memohon agar Majelis Hakim mengampuninya, dan meminta untuk dipercaya bahwa dia tidak mencuri. Kayu-kayu itu adalah miliknya semata.
Nenek Asyani menangis
Foto dipinjam dari Liputan Terkini [dot] com
Link :
http://www.liputan-terkini.com/5242/sedih-banget-nenek-ini-dihukum-karena-dituduh-mencuri-kayunya-sendiri.html 
Nenek Asyani dinyatakan Bersalah

Perjalanan panjang membebaskan Nenek Asyani dari jeratan hukum, ternyata tidak berujung baik. Berbagai usaha yang dilakukan oleh Bapak Supriyono, kuasa hukum sang nenek, tidak membuahkan hasil gemilang. Majelis hakim tetap terpengaruh oleh dakwaan ibu Jaksa Penuntut Umum, yang bersikeras bahwa Nenek Asyani harus diberikan hukuman yang setimpal. Karena?

Karena berdasarkan fakta persidangan, nenek tua ini telah terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan perbuatan pidana sebagaimana yang diatur dalam Pasal 12 huruf [d] juncto Pasal 83 Ayat [1] UU Nomor 18 Tahun 2013, tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan. ~seperti dilansir oleh http://news.detik.com/read/2015/04/23/162800/2896358/10/divonis-bersalah-nenek-asyani-tantang-majelis-hakim-sumpah-pocong

Tak ayal, oleh Majelis hakim yang dipimpin Kadek Dedy Arcana, Nenek Asyani diganjar 1 tahun penjara dengan masa percobaan 1 tahun 3 bulan. Tak hanya itu, nenek renta ini juga didenda Rp 500 juta subsider 1 hari kurungan. Selain itu, Hakim juga memerintahkan agar barang bukti mobil pick up L-300 dikembalikan kepada saksi Abdussalam, serta 38 sirap kayu jati dirampas untuk negara. Weleh weleh..., malangnya nasibmu, Nek!

Lalu bagaimana tanggapan Nenek Asyani mendapatkan ganjaran hukuman ini?
Miris, Sobs! Kasian banget! Walau tak harus kembali ke dalam penjara, karena Majelis Hakim memutuskan bahwa walau diputuskan bersalah, tapi tidak perlu dijalankan oleh terdakwa *emang bisa ya?*, namun tentu saja mental nenek tua ini terpukul banget kan ya? 


Tak tanggung-tanggung, Nenek Asyani pun menantang Hakim untuk melakukan sumpah pocong, untuk membuktikan bahwa dirinya tidak mencuri. Yaaa, tentu saja sebuah tantangan yang tidak dianggap lah oleh majelis hakim yang terhormat. Namun, kuasa hukum Nenek Asyani ternyata tidak akan tinggal diam. 




Bapak Supriyono akan mengajukan laporan terperinci tentang sikap hakim yang percaya akan keterangan Jaksa Penuntut Umum tanpa pembuktian ilmiah, atas kayu yang menjadi barang bukti dalam perkara yang dimaksud. Juga, menurutnya majelis hakim lebih mengedepankan solidaritas korps sesama aparat negara di dalam memutuskan perkara ini. Oleh karenanya, pengacara Nenek Asyani ini akan mengajukan banding. 

Duh, Sobs, miris banget jadi rakyat kecil? Kemana ya, jiwa-jiwa pejuang keadilan di negeri ini? Kenapa hanya segelintir saja yang masih berhati bersih dan berjiwa mulia? Jadi melo deh aku menutup kisah ini. Kerasa enggak sih kalo hukum kita tajam ke bawah dan tumpul ke atas?

Oya, untuk ke tiga 'krew' nenek Asyani, mereka juga diganjar hukuman bersalah, seperti yang tercuplik dari berita yang dilansir oleh http://www.merdeka.com/peristiwa/nenek-asyani-divonis-bersalah-pengacara-akan-laporkan-hakim-ke-ky.html ini. 


penelusuran jejak kasus Nenek Asyani
Al, Bandung, 24 April 2015

Read More
/ /
Break Time! Yeay! Setiap orang pasti akan bahagia banget jika diberikan break time. Termasuk eikeh dunk, ah! Yes. Sejatinya, setiap orang pasti membutuhkan waktu rehat, leyeh-leyeh, nyantai, me time, atau apa pun istilahnya, untuk break sejenak dari rutinitas. Leyeh-leyeh atau breaktime, kalo menurutku sih penting banget, bukan saja setelah melakukan kegiatan panjang berhari-hari nan melelahkan, tapi juga kita butuhkan setelah beraktivitas harian, yang fungsinya adalah menetralisir kembali kejenuhan akibat kita terus menerus fokus pada suatu kegiatan. Misalnya saja, setelah meeting seharian, melakukan presentasi ini itu, atau setelah ngonsep surat atau bahkan memasak di dapur, tentu kita butuh sejenak waktu untuk refreshing. Peregangan. Ya, kan, Sobs?

Nah, kalo aku sih, biasanya nih, setelah tumplek [boso opo iki?] pada suatu pekerjaan, untuk menghilangkan monotonitas [bener ga sih istilah ini?], biasanya aku suka mengalihkan perhatian ke aneka bacaan di ranah maya. Asyik aja gituh, bersantai-santai aka leyeh-leyeh di dunia virtual. Ya, berinteraksi di facebook atau mantengin twitter land kek, atau mantengin instagram, atau bahkan baca-baca berita ringan di halaman-halamannya mbah Google.

Dan, taukah Sobats, jika kini ada sebuah portal asyik yang bisa kita jadiin tempat untuk hangout setelah lelah fokuskan diri pada pekerjaan atau rutinitas harian? Nah, aku sedang getol-getolnya nih, bermain-main di portal yang satu ini, lho! BreakTime. Yup, portal ini cukup jelas menggambarkan apa yang mereka tawarkan dari kehadirannya di blantika ranah maya. Sesuai dengan apa yang tertulis di halaman facebook fanpage mereka, bahwa kehadiran mereka adalah sebagai website lifestyle portal yang membawa pengalaman baru membaca artikel yang lebih dekat dengan pembacanya. Wow.

Dan ternyata, Sobs, emang asyik banget deh hangout di sini. Banyak informasi menarik yang bikin kita asoy geboy happy plus nambah wawasan, lho.

breaktime.co.id
Beranda Website BreakTime

Fitur-fitur yang tersedia di sana tuh beneran, tak hanya bikin mata fresh, lho, tapi juga bikin wawasan kita bertambah! Ada spot untuk travel, cullinary, health, fashion, entertainment dan banyak lagi.

spot breaktime

Sobats penasaran akan portal keren yang satu ini? Yuk, intip langsung di tekape, atau nantikan postingan lanjutan tentang Breaktime pada postingan lanjutan, ya! Seru abis, lho!

Berbagi informasi,
tempat asyik untuk hangout di ranah maya
Al, Bandung, 23 April 2015
Read More
/ /
TIK. Yup, TIK! Teknologi, Informasi dan Komunikasi, adalah tiga serangkai yang tak lagi bisa dipisahkan satu sama lain. Bicara tentang TIK, koneksi internet menjadi nyawa kehidupan bagi ketiga unsur ini. Setuju enggak sih, Sobs?

Kalo aku sendiri, dulu banget, ketika bertugas di sebuah kepulauan terpencil di Sumatera Utara sana, tepatnya di salah satu kecamatan di Nias Selatan, ngerasa banget betapa dukungan telekomunikasi [internet dan akses seluler] teramat sangat aku butuhkan untuk menghubungkan antara aku dan keluarga, juga untuk berkomunikasi dengan kantor. Bahkan pernah tuh, saking miskinnya sinyal di desa ini, kami harus menggunakan alat telekomunikasi [telepon satelit] milik NGO yang memang stand by di pulau itu. Hadeuh, kerasa banget deh, betapa dukungan telekomunikasi itu sangat berarti.

Untungnya, kini, 2015, kita semua semakin dimudahkan di dalam mendapatkan dukungan saluran telekomunikasi. Internet sudah dapat kita akses dengan mudah dan murah, berkat kerja cerdas dan upaya serius provider-provider inet-selluler yang ada di Indonesia. Alhamdulillah. Kini, berbicara TIK [Teknologi, Informasi dan Komunikasi], bukan lagi hal yang sulit dan awam. Walo, tentu saja, masih banyak bagian negeri ini, yang masih 'mendung' akan pengetahuan dan akses terhadap TIK.

Bicara tentang TIK, tersebutlah sebuah organisasi yang berdiri di bawah naungan Kementerian Komunikasi dan Informatika [KemKomInfo], bernama Relawan TIK, yang merupakan tempat berkumpulnya para pegiat TIK, yang antusias untuk menularkan ilmu dan wawasannya agar masyarakat pedesaan mau pun perkotaan di negeri ini, melek TIK, sesuai dengan visi dan misi dari berdirinya organisasi ini. Apa aja sih visi dan misinya, Al? 

Visi: 

Menjadikan Relawan TIK sebagai pribadi, sekaligus warga masyarakat unggulan, yang siap siaga mengemban misi sosial, kemasyarakatan dan kemanusiaan bagi pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan/penguasaan keterampilan teknologi informasi dan komunikasi untuk kemaslahatan masyarakat dan kemajuan bangsa.

Misi: 


  • Internal (mikro) menyiapkan anggota dalam penguasaan pengetahuan, sikap dan keterampilan individual maupun kerjasama kelompok guna menyelenggarakan tugas-tugas edukasi sosial, pemberdayaan maupun kegiatan insidental;
  • Organisasional (meso) menjadikan Relawan TIK sebagai sebagai satuan yang mampu bereaksi cerdas, tanggap, bergerak cepat serta bertindak cermat dalam menjalankan tugasnya;
  • Nasional (makro) berkontribusi dan partisipasi dalam berbagai kegiatan pembangunan, kemasyarakatan serta berperan dalam tugas kemanusiaan, dengan cara mengoptimalkan pemanfaatan TIK bagi kemaslahatan masyarakat dan kemajuan bangsa Indonesia.

Dan, Alhamdulillahnya, diriku termasuk salah satu dari anggota organisasi ini, lho! Tak hanya aku, tapi juga, Meti Mediya dan Nchie Hanie [trio emak Bandung], terdaftar sebagai pentolan [jiaaaah] dari organisasi keren ini. Khusus untuk Relawan TIK Kota Bandung, adalah Meti Mediya sebagai Ketuanya, Nchie Hanie sebagai Bendahara dan aku sendiri ditunjuk sebagai sekretarisnya. Ehem. *benerin hijab*

Ngapain aja sih di Relawan TIK itu? 

Macam-macam, sih, Sobs! Dan tergantung lagi pada kebutuhan masyarakat di setiap daerah di mana RTIK itu bergerak. Untuk kota Bandung sendiri sih, kita menitikberatkan pada kegiatan-kegiatan tertentu dalam rangka mencapai visi dan misi di atas. Salah satu kegiatan yang sedang dalam persiapan untuk dihelat pada Mei akhir nanti adalah sebuah festival tahunan bertajuk Festival TIK untuk Rakyat - 2015.

Festival TIK Untuk Rakyat  - 2015


Weis, Festival? Pasti seru tuh?
Ya iyalah! Namanya juga festival. Dan festival yang satu ini, tentu beda dengan festival-festival lainnya yang pernah digelar di negeri ini, donk!
Sesuai dengan namanya, Festival TIK untuk Rakyat adalah sebuah festival yang mempertemukan para stakeholder di bidang TIK [Pemerintah - Akademisi - Pebisnis - Komunitas - Masyarakat] untuk mendekatkan masyarakat dengan dunia TIK.

Festival ini adalah agenda tahunan yang telah dimulai sejak tahun 2012, berlangsung di Bandung, dan tahun ini kembali berlangsung di Bandung, sebagai festival TIK untuk Rakyat, tahun ke empat. Pelaksanaan tahun kedua berlangsung di Surabaya pada tahun 2013 dan yang ketiga berlangsung di Menado pada tahun 2014 kemarin.

Ada apa aja nih di Festival ini, Al?

Bicara agenda kegiatan dalam FesTIK 2015 ini, pasti banyak dunk! Pastinya ada acara seremonial yang rencananya akan dihadiri dan dibuka oleh RI-1 aka Bapak Jokowi, Para pemangku jabatan keren di KemKominfo, Para Petinggi Wilayah Jawa Barat dan pastinya Para Petinggi dari Kota Bandung. Selanjutnya ada yang namanya seminar, workshop, pameran, aneka lomba juga hiburan-hiburan, baik hiburan rakyat mau pun hiburan ala TIK.

Siapa aja nih pelaku kegiatan ini, Al?

Rame! Selain tokoh-tokoh penting RTIK yang akan berbagi ilmu dalam rangkaian acara, juga melibatkan anggota komunitas-komunitas lainnya dalam menyukseskan acara ini. Pastinya bakalan seru deh, Sobs!

Penasaran akan detil kegiatan ini? Nantikan updatenya pada postingan lainnya, ya!

sekelumit info tentang TIK dan FesTIK 2015
Al, Bandung, 21 April 2015

Read More
/ /
Shopius, Media Iklan Toko Online. Bukan latah atau ikut-ikutan lho, ya, jika hari ini aku posting tentang Shopious. Eh, udah pada tau belum, sih, Sobs, tentang si Shopious ini? Pasti sering donk ya baca artikel-artikel tentangnya, yang juga banyak ditulis dan dipublis oleh teman-teman blogger lainnya? Aku sendiri, awalnya ga ngeh, sih, akan apa itu shopious, dan ga ingin mengetahui lebih lanjut walo beritanya sering terlihat di headline/judul maupun tulisan-tulisan di blog teman. Etapi, tadi malam, terlibat obrolan santai dengan seorang teman, yang sama-sama kuliah di Teknik Kimia, dua puluh tahun lalu. *Aih, dua puluh tahun lalu, bo'! Ketauan deh umur eikeh, haha.

Nah, si temanku ini, sekarang ini sedang getol-getolnya berbisnis online. Yang jadi produknya macem-macem, mulai dari handicraft, fashion hingga aksesoris imut for hijabers gituh. Nah, tertarik dunk aku untuk tanya-tanya lebih lanjut, ya, tentang media yang dia pakai untuk berjualanlah, omset dan peluang serta tantangan yang dihadapi dalam berjualan itu, juga tips dan triknya dalam berjualan.

Dan seperti kebanyakan pedagang online lainnya, temanku ini cukup memanfaatkan media sosial yang dia miliki saja sih, dan belum mengoptimalkannya via toko online [website] gituh. Katanya sih, via medsos aja udah cukuplah, karena dirinya belum mampu menggaji admin/pegawai kalo harus buka website segala.

Aku: Ha? Seriously? Dengan medsos saja cukup? 

Teman: Yup. Cukuplah, bagi aku lho, ya! Aku jualan di instagram.

Aku: Tapi kan enggak semua orang punya akun instagram, lagian ga semua orang senang belanja via smartphone atau gadget, lho! Masih banyak yang senang cuci mata lalu belanja via laptop. Tampilannya lebih gede, dan nyaman di mata. Nah, kalo instagram kan susah.

Teman: Iya sih, tapi sekarang kan udah ada Shopius, Al! Jadi ga masalah, aku tetap bisa jualan via instagram, dan pelangganku yang seneng mantengin via laptop pun tetap aja bisa cuci mata dan belanja online di aku, tanpa harus memiliki akun instagram.

Hayyah! Shopious lagih! Kali ini, aku bener-bener jadi penasaran deh akan Shopious ini. Gimana enggak, coba, Sobs? Temanku ini pun familiar akan Shopious, bahkan menggunakannya untuk berjualan. Masak eikeh kudet akan Shopious? Hihi, malyu dunk eikeh! Maka, sambil melanjutkan obrolan, mulailah jemariku menari lebih gesit lagi. Browsing info tentang Shopious. Iya, dunk, biar ga dibilang kudet, gituh. Haha. Kata kunci yang pertama aku pakai adalah 'apa itu shopious', dan langsung oleh Om Google dibawa kesini deh.



Dan aku pun langsung tercerahkan setelah menyaksikan video yang mempertemukan mba Shopi [si penjual] dengan Iyus [si pembeli, yang ternyata lebih betah cuci mata dan belanja online via laptop]. Hallo, Mbak Iyus, kok kita sama yaaa? Hehe.

Sobats juga penasaran akan Shopious? Coba deh pantengin video ini. Tapi untuk gamblangnya, mari aku ceritakan sedikit mengapa orang-orang kini mulai lari ke Shopious, yuk!

Apaan sih Shopious itu? 

Ternyata nih, Sobs, Shopious itu adalah Media Iklan Toko Online! Di mana dia menghubungkan penjual yang menggelar dagangannya di instagram, untuk dipajang di etalase yang tersedia di Shopious, sehingga netizen manapun yang berkunjung ke berandanya, bisa ngubek-cantik dan cuci mata serta berbelanja di sana, tanpa harus membuka instagram. Mudahnya lagi, penjual-penjual yang bergabung di shopious ini, tidak perlu repot-repot mengupload foto dagangan mereka kesana, karena shopius secara otomatis akan melakukannya. Wew! Mudah dan asyik ya? Jadi penjual dimudahkan, praktis dan tinggal nunggu orderan yang datang deh!

Apa aja sih yan dijual di sana?

Hm, sebenarnya, Shopious tuh tidak menggelar item per item dagangan si pedagang, tapi memberi space bagi setiap penjual yang tergabung di dalamnya, untuk menampilkan profil langsung toko mereka dan preview produk yang mereka gelar. Dan banyak sekali kategori dagangan yang tersedia di sana, sehingga ga heran jika kemudian kita jadi terlupa akan tujuan awal berkunjung ke Shopious, haha. So, biar ga tenggelam dalam keasyikan yang ujung-ujungnya bikin dompet menipis, stay tight pada niat awal, ya, Sobs, fokus dulu pada barang apa yang dicari dan ingin dibeli. Haha. Serius lho, banyak banget item menarik yang digelar di etalase Shopious tuh. Ampyuuun, ngiler!
shopius.com
Tampilan Beranda Website Shopious
Lalu kemudahan bagi pembelinya apa nih?

Ya seperti yang kita urai di atas tadi, Sobs, kan tidak semua orang punya akun instagram tuh, dan ga semua orang senang berbelanja via smartphone or gadget, ada yang senangnya cuci mata dulu di lappie, ubek sana ubek sini, baru beli. Nah, nyamannya tuh dilakukan di lappie. Dan berbekal website, maka shopious telah menghubungkan calon pembeli non instagram dengan pedagang instagram, dipertemukan di shopious! Begetoh, deh!

Terus, aman ga sih berbelanja di Shopious ini?

Dari info yang aku baca sih, bertransaksi di Shopious ini cukup aman, karena Shopious sendiri tidak sembarangan menerima pedagang yang mendaftarkan diri di mereka. Proses verifikasi tentu saja dilakukan untuk memastikan bahwa transaksi yang terjadi antara pembeli dan penjual nanti aman adanya.

Bagaimana cara mendaftar? Haruskah calon pembeli juga mendaftar di Shopious? 

Yup, enaknya sih kita mendaftarkan diri [bikin akun] agar bisa berselancar dan bebas mengubek-ngubek pajangan yang ada di beranda Shopious. Caranya juga gampang banget kok. Cukup sediakan sedikit waktu kita untuk mengisi form ini deh, ikuti langkah-langkah mudah yang diminta.

Masih bingung juga? Gampang, tinggal colek mas/mbak CS yang stand by di sudut kanan bawah halaman Shopious, tuh. Mereka siap sedia memberikan penjelasanan/bantuannya, lho!

Nah, Sobats, sekarang jadi lebih tau tentang Shopious kan? Dan ga heran jika temanku betah dan semangat semangat tuh berjualan di Instagram berkat dukungan Shopious. Jadi pengen jualan juga ih! Kalo kamu?

seputar dunia online shop
Al, Bandung, 20 April 2015

Read More
/ /
Alergi? Oops! Alergi apaan, Al? Yang pasti sih bukan alergi terhadap dolar dan rupiah, sih! Haha, tapi adalah alergi yang bermula dari tangisan Intan via telephone setengah hari setelah dirinya kembali ke dormitory, usai menghabiskan liburannya di Bandung.

Yup, tangisan yang tentu saja bikin aku [selaku ibunya] was-was dan ingin segera tancap gas ke Jababeka sana, menjenguk dan menjemputnya pulang kembali ke rumah. Tangisannya sungguh bikin aku tak tenang, apalagi disertai berita yang mengalir panik dari bibirnya, bahwa di seluruh kulit tubuh hingga wajah, bentol-bentol membentuk 'pulau' yang memerah. Gatel. Disertai pula dengan pembengkakan di beberapa bagian tubuh seperti kaki, tangan dan pelipis mata. Duh, membayangkannya sulit, deh, rasanya!

Sungguh, tak terbayangkan oleh benakku, seperti apa itu, hingga kemudian dengan tak sabar, kuminta dirinya segera taking pictures and send them to me. Dan? Masyaallah, wajah putriku terlihat sangat menyedihkan. Bawah mata dan pelipis terlihat membengkak, punggung dipenuhi oleh kulit yang memerah berbentuk pulau-pulau kecil. Sungguh tragis. Belum lagi kakinya yang terlihat membengkak. Oh, Tuhan. Ini pasti alergi! Tapi, alergi apa? Makan apa putriku ini? Perasaan tadi sebelum berangkat, dirinya ga ada makan yang aneh-aneh, deh! Persis menunya seperti yang aku konsumsi, dan aku baik-baik saja.

Lalu, bagaimana dengan Intan? Apa yang terjadi dengan putriku? Terlintas di benakku, akan keangkeran dormitory-nya. Mungkinkah ada 'sesuatu' yang numpang di kamar Intan selama ditinggal liburan? Mungkinkah tadi, saat masuk ke kamarnya, Intan langsung banting tas ke atas tempat tidur seraya merebahkan diri tanpa mengibas seprei terlebih dahulu? Hadeuh, semakin was-was deh. Mana lagi hari telah menjelang malam. Ga mungkin banget berangkat ke Jababeka sekarang untuk menjemputnya balik ke Bandung, pasti akan terjebak macet, dan ini bakalan larut malam masih di jalan, lho! Ngeri-ngeri sedap kalo kupaksakan, mengingat 'musim' begal semakin subur. Hiks...

Kubujuk Intan untuk mandi, lalu mengoleskan minyak kayu putih di sekujur tubuhnya, yang tentu saja dituruti oleh putriku itu. Dan, memang sih agak mendingan setelah itu, sehingga Intan sedikit lebih tenang. Dan tentu saja, uminya ini juga ikutan tenang. Etapi, seiring malam yang kian larut, sekitar pukul sebelasan, si gatal-gatal itu kambuh lagi, dan lebih parah dari sebelumnya. Tentu saja, teman-teman Intan juga ikutan panik, menelephoneku, mengabari kondisi terkini dari Intan. Seruban foto-foto terkini Intan menyerbu ruang LINE-ku.

Aduh, nak, gimana Umi mau jemput sekarang? Ini sudah tengah malam, kita ga punya supir. Bisa sih Umi nyetir, tapi malam-malam begini, kalo sempat bocor ban di tengah jalan nanti piye?

Tak ada pilihan lain malam itu. Kubujuk Intan untuk bertahan dengan menitipkannya pada teman [tetangga kamar] nya. Agar bertahan hingga subuh tiba. Untungnya, putri semata wayang ini sangat mudah diajak bekerjasama. Namun itu tak berarti kami berdua bisa beristirahat dengan tenang, sih. Malahan seisi rumah [Ibuku yang baru datang dari Aceh, Dijah dan Icha] ikutan tak tenang. Tak ada dari kami yang bisa tidur nyenyak, mengingat kondisi Intan saat itu. Aku apalagi, rasanya sejenakpun tak bisa memejamkan mata. Ingin rasanya azan subuh segera berkumandang, agar segera bisa kuraih kunci mobil dan melarikannya temui Intan. Hiks... beginilah rasanya hati seorang ibu, yang mengetahui anaknya sedang dalam keadaan tak sehat.

Dan memang, aku hanya butuh 1,5 jam untuk sampai ke dormitory-nya Intan, begitu mentari mulai menyembul dari ufuk Timur. Kudapati putriku terbaring lemah. Duh, Nak..., Nak. Kenapa jadi seperti ini? Wajah pucat itu, sungguh mengiris hati. Terbayang sudah, dokter pasti akan menganjurkan test darah, test alergi, mungkin juga perlu suntikan. Dan untuk yang belakangan ini, akan ada perang antara Intan, aku dan petugas/dokter saat menyuntik, karena Intan paling takut dengan jarum suntik. Haha.

Dan, benar saja, di rumah sakit Al Islam, Bandung, semua perkiraanku tepat adanya. Dokter langsung mengatakan bahwa ini adalah alergi atau gimpa, kalo istilah orang Bandung. Dan dianjurkan untuk disuntik selain diberi obat minum. Dan lagi-lagi benar, Intan menangis ketakutan saat jarum suntik [ukuran bayi] hendak disuntikkan ke lengan dan bokongnya. Aih, Nak, masih saja seperti anak kecil, ih, padahal kan udah mahasiswi, sayang! 

Dan seperti kata dokter, obat yang diinjeksi ke dalam tubuh memang jauh lebih cepat daya kerjanya. Terlihat kulit Intan perlahan mengempes bengkak-bengkaknya. Sementara kalo hanya minum obat, paling si obat baru akan bereaksi empat jam setelah obat dikonsumsi.
Kami semua jadi tenang, terutama Intan, yang tak lagi panik seperti sebelumnya. Dia takut kena cacar, dan lega banget saat dokter bilang itu adalah alergi. Cuma, masih bingung aja, salah makan apa Intanku sampai alergi seperti itu? Apa bukan karena keteguran? Hehe. Dasar yak? *pikiran primitif

Takut alerginya kambuh lagi, Intan tekun sekali mengkonsumsi obat-obatan yang diberi pak Dokter, hingga tak sampai dua hari, alerginya itu tuntas sudah. Alhamdulillah, ya Allah. Berakhir sudah kepanikan ini, dan kini Intan siap untuk diantar kembali ke dormitory-nya, di komplek kampus President University, Kota Jababeka, Cikarang. Cuma sampai sekarang, penyebab alerginya, sih, masih misteri, karena belum sempat melakukan test alergi, yang ternyata harus dilakukan oleh dokter kulit dan kelamin. Hm, paling ntaran deh, kalo udah ada waktu. Ini Intan harus segera balik ke kampus agar tak ketinggalan kuliahnya. Ayo, Nak, cepat sembuh ya, dan rajin olahraga, donk! Biar sehat dan gesit, ok? Cayyo!

Sobats pernah alami hal serupa? Panik oleh si anak yang tiba-tiba sakit sementara kita berada jauh dari mereka? Share yuk di kolom komentar. :)

catatan kecil tentang Intan,
Al, Bandung, 18 April 2015
Read More
/ /

Pembunuhan Karakter.  Aih, judulnya itu ngeri sekaleee, Al! Hehe.
Habis, masak si Mimi Arie, sohib terkasih itu, tega-teganya bikin status mengenaskan untukku di suatu pagi. Awalnya aku belum ngeh jika ada foto istimewa yang di-posted nya di wall FBku. Etapi, notifikasi demi notifikasi yang sambung menyambung, membuatku penasaran untuk mengintip si smart oppi. Dan Ya Ampyuuuun..., Mimiiiii!

Foto Arie Vitaranti dan Alaika Abdullah
Bukan, bukan fotonya yang bikin aku keberatan, etapi, note pengantar yang disertakannya pada foto ini lho yang bikin eikeh 'naik tensi'. Habis, terlaluh! Pembunuhan karakter donk inih!

Tuh khan, Sobs! Masak gaya bicaraku formal? Formalkah isi postingan-postinganku di sini? Hadeuh. Jadi pengen merenung dan introspeksi diri deh. Benerkah aku jutek? Dan jawaban-jawaban dari beberapa teman dekat justru memperparah keadaan. Hehe. Ya sutra deh. Biarlah aku jutek, tapinya, kok semakin banyak saja Mantemans yang mendekat, bahkan mempercayai diriku sebagai tempat curhatan hati dan minta solusi. Counseling, urusan hati, kehidupan dan cinta pun, tak luput dari obrolan yang dipercayakan padaku. Mungkin karena aku jutek ya? Hehe.

Aniwei baswei, postingan ini bukan karena marah, tapi karena janjiku pada Mimi tersayang, bahwa foto dan notes-nya ini, akan menjadi salah satu entry yang memperkaya jumlah postingan di blog tercinta ini. Thanks for idenya, ya, Mimi genit! Awas lho, ya, kapan ga b*r*k malam! Hihi.

sekedar coretan pengisi mumet saat bikin proposal sebuah acara,
Al, Bandung, 4 April 2015

Read More
/ /
Ada apa ini dengan daun kering? Kalo ada yang serius merhatiin unggahan foto-foto besutanku via my smartphone tuh, memang sedang bertemakan daun kering, ya khaaan? Lalu ada apa sih sebenarnya dengan daun kering? Kok kamu senang banget moto daun kering, Al? Sedang sedih atau galau kah?

Hm, ada apa ya? *malah balik nanya. Sebenarnya sih ga ada apa-apa, Sobs! Cuma sejak main ke rumah Teh Dey waktu itu, dan brol-ngobrol soal smartphonegraphy, dan dikasih tips sedikit oleh si Teteh yang baik hati itu tentang how to optimize your phone camera, aku jadi terinspirasi untuk mengabadikan helai demi helai daun kering yang kutemukan, deh! Ingin menampilkan segi artistiknya itu lho. Bahwa sehelai daun kering pun, masih bisa terlihat indah lho saat di foto. Dengan mengabadikannya, setidaknya, nih, kalo ada artikel yang butuh support foto daun kering, kan tinggal ambil milik sendiri, ga perlu lagi nyulik dari halaman si Mbah, kan?

Dan sejak itu, aku jadi sering memperhatikan sekeliling deh, utamanya saat jalan kaki atau nyeberang jalan tuh, biasanya daun-daun kering banyak yang terkulai tak berdaya tuh, di sekitar sana. Dan pertama kali memotret daun kering, my mind langsung refleks bikin tagline Layu, lepas, kering, terkulai tak berdaya. Rasanya kok mengena banget, dan jadi self-reminder juga untuk diri sendiri. Bahwa segala keindahan, kekuatan yang kita miliki ada batas waktunya, pada saatnya, semua akan bernasib seperti ini. Tiada yang abadi. Jiaaaaah! *Sok bijak*

Ngiming-ngiming nih, pasti penasaran dunk akan beberapa bidikan daun kering koleksi eikeh? Hihi. Yuuuuk....


Tergeletak sendirian

Di atas jalanan

Dilalui lalu lalang 

Terinjak, terbawa angin, 

tergeser kesana dan kesini
Tak berdaya.

Karib kerabatmu, 
yang masih kokoh melekat di dahan
hanya mampu menatap iba
'Kami pun nanti, akan bernasib sepertimu', batin mereka. 

*Layu, lepas, kering, terkulai tak berdaya*


(kisah sehelai daun kering, di atas trotoar Jl Soetta, Margahayu, Bandung, saat menyeberang jalan)

Cantik juga ternyata ya, Sobs? Eh, sebenarnya cantik ga seh? Hihi.

Untuk helai daun yang di samping ini sih, hanya sebait kalimat yang tertulis di instagramku tentangnya. Penasaran? 

Semua hanya pinjaman. Bahkan kesegaran dan hijaunya khlorofil pun hanya sementara. Hijau segar kemudian layu, lepas dari dahan, kering, menua dan terkulai takberdaya. 
#daunkering #testpic

Penasaran akan besutan daun kering lainnya? Bisa melipir ke instagram-ku deh, Sobs! @alaikaabdullah follow yaaa! Hayyah. 

Dan, terus? Postingan ini untuk apa sih, Al? What is the moral of the story? 

Yaah, sekedar update artikel di blog ini, and also to show my lovely readers, bahwa ide itu ada di mana-mana, lho! Bahkan dari sehelai daun kering yang tergeletak di atas trotoar jalanan. 

See? 



cerita tentang daun kering,
Al, Bandung, 2 April 2015
Read More