Archive for March 2015
Menu
/ /
Belarus
Di sebuah lorong penyebrangan di Belarus
Masih ingin melanjutkan postingan tentang si negeri semut, kali ini, aku ingin cerita tentang uniknya pesan Taksi di Belarus, nih, Sobs! Eh, ngiming-ngiming, Sobats udah pada tau belum di mana tuh, Belarus ini dan kenapa digelar sebagai negeri semut? Nah, bagi yang belum familiar tentang negeri dingin yang terletak di Eropa Timur ini, bisa atuh baca-baca dulu di sebuah negeri bernama Belarus dan juga di Belarus, si negeri semut, ya!

Well, bercerita tentang pesan taksi di negeri ini, ternyata ga sama seperti di negeri kita lho! Yang bisa aja asal stop dan berhenti sembarangan atau setidaknya pada halte khusus, nah, di Belarus ini, jangankan di halte khusus, bahkan di saat si taksi menurunkan penumpangnya [dan taksi menjadi kosong] pun, si mas supir teteup aja ga sudi mengantar kita ke tujuan, lho! Aih, sungguh terlaluh! Aku sempat menghakimi negeri adik iparku ini sebagai negeri yang sombong, gara-gara hal ini. Etapi, memang sudah begitu tradisinya, katanya.

Jadilah kami mengikuti pola yang berlaku. Yaitu pesan taksi 15-20 menit sebelum berangkat dan minta dijemput di alamat kami berada. Atau jika pun ingin balik ke rumah, kami harus telpone dulu ke nomor operator taksi yang dimaksud, tunggu beberapa menit, maka taksi pun akan datang menghampiri. Masalahnya adalah, kita kan ga hapal tuh nomor operator taksi-taksi ituh! Apalagi jika kita adalah turis dengan tak satu pun pendamping yang asli negeri ini. Bisa terlantar dunk kitah!
Eh tidak juga, biasanya, mereka [penduduk setempat] suka memberi tahu hal-hal yang lazim berlaku di tempat mereka kok.

Terus, kalo nyetop bus, busnya mau berhenti ga, Al?
Mau banget, asal..., di halte, ya, Sobs!

Nah, segitu aja deh critanya ya, super singkat khaaan? Emang sengaja, kok! *Belajar bikin postingan singkat*

Sekedar intermezo, hal unik di Belarus
Bandung, 31 Maret 2015

Read More
/ /
Bebek Kaleyo, Tempat Makan Murah dan Enak di Bandung

Tak usah diragukan lagi, hampir semua sahabat dekatku tuh, tau banget jika aku paling doyan makan bebek. Dan sebenarnya sih ga heran, sebagai orang yang berasal dari penghujung pulau Sumatera, tuh, bebek adalah makanan kebesaran yang tak pernah ketinggalan jika ada hajatan atau pun kenduri, pun di hari-hari besar seperti Hari Raya Idul Fithri mau pun Idul Adha.
Jadi, mau diolah dalam bentuk gulai putih atau merah [masakan khas bebek resep Acehnese] atau hanya sekedar digoreng dibakar/dipanggang, aku tuh teteup sukaaaa. ☺ Sebenarnya kalo ditanya sih, aku tuh paling suka bebek yang diolah dengan resep Acehnese buatan ibunda, sih!

Etapi, pindah ke Bandung, mana mungkin mengharapkan kiriman bebek masakan ibunda terus menerus? Jadilah aku berdamai dengan lidah, makan aja bebek goreng atau bakar buatan si mas yang jualan pecel lele/ayam/ bebek yang suka mangkal di dekat rumah. Emang sih, jangan sekali-sekali membandingkan masakan ibunda dengan masakan si mas penjual, atau yang ada di warung atau pun resto terkenal. Karena pasti akan beda donk rasanya!

Dan selaku penggemar bebek, aku tuh punya seorang sahabat dekat yang juga pecinta bebek, banget. Namanya Ama, dan bersamanya lah aku menjadi pemburu menu bebek di berbagai warung mau pun restoran. Dan terus terang, selama ini, kami berdua hanya lengket di sebuah brand warung bebek yang gorengannya [menurut Ama] tuh renyah banget. Dan menurutku? Hehe, renyah juga lah! Habis belum nemu yang lain seh! Apalagi kalo membandingkan dengan bebek gulai putih atau bebek panggang racikan emak di kampung, hadeuh, sejauh ini belum nemu!

Hingga kemudian, hari ini tepatnya, aku diajak deh oleh Nchie Hanie dan Meti Medya, untuk menggoyang lidah di sebuah resto keren bernama Bebek Kaleyo. Hayyah, Bebek Kaleyo? Emang tuh resto udah buka outlet di Bandung? Yang bener ajah? 

Idih, Mba Al ketinggalan info, deh, ih! Kan Bebek Kaleyo tuh udah sejak 30 Januari 2015 buka outlet di Bandung! Nchie malah mencibir via whatsapp sembari melengkapinya dengan icon tongue out. Dan aku hanya melongo. Masak seh? Udah sejak Januari 2015, kok Ama bisa ketinggalan info kuliner bandung yang satu ini ya? Padahal doi kan selalu update akan info kuliner, khususnya bebek, di Bandung ini? Ih, Ama perlu diupdate juga nih, tapi ntar aja deh, biar aku aja dulu yang mencobanya, nanti testimoninya baru langsung ke Ama. 

Dan jadilah hari ini, kami berkunjung ke Bebek Kaleyo, berlokasi di Jalan Pasir Kaliki. 185, Bandung. Ow ow! Rame juga nih pengunjungnya. Dan ya ampun, malah ketemu beberapa blogger Jakarta yang sedang main ke Bandung, sedang asyik menikmati berbagai menu bebek andalan Bebek Kaleyo.

Sebelum bergabung dengan mereka di meja yang sama, aku, Nchie dan Meti pun antri dulu deh ke deretan menu yang tersaji di bagian makanan. Ampyun, rame banget, seperti inikah selalu? Antrian panjang ini sempat membuatku kuatir pada awalnya, bukan kuatir apa-apa sih, kuatir kehabisan! Haha.

Namun ternyata, tak salah seperti yang dikatakan oleh kedua sahabatku, deh, bahwa para crew Resto Bebek Kaleyo ini sigap dan cermat, lho! Terbukti, dari antrian yang panjang itu, sebenarnya saat kita sudah sampai di meja prasmanan dan berhadapan dengan para crew, menyebutkan menu yang kita inginkan, tak perlu menanti lama, lho! Karena cuma dalam beberapa menit, menu yang kita pesan pun selesai disiapkan. Seneng deh dengan pelayanannya.

Aku sendiri memilih menu, Bebek Cetar, tergoda dengan tagline-nya  yaitu bebek empuk dengan bumbu unik khas Madura. Beneran, penasaran banget dengan sentuhan resep madura yang jadi andalannya. Selain itu, aku juga pesan menu lainnya, seperti sambal ati ampela bebek, tumis daun pepaya, tumisan jamur dan minuman es lidah buaya. Aji gile, ternyata begitu selesai disiapkan, menu pesananku itu jadi terlihat seabrek-abrek deh! Haha. Dan herannya, seabrek-abrek itu, aku cuma kena 77 ribuan rupiah lho! Weleh-weleh, ini mah, bakalan jadi tempat makan enak dan murah di Bandung nih, dan pastinya akan jadi andalanku kalo ada tamu yang berkunjung deh!

Terus, gimana donk bagi yang enggak suka bebek? Kalo elu, mah, asyik-asyik aja, wong di Bebek Kaleyo ini kan menu andalannya bebek?

Eits, tenang! Jangan kuatir, Sobs! Bebek Kaleyo juga menyediakan menu lain selain bebek lho!


Menu di Bebek Kaleyo
Menu Ayam di Resto Bebek Kaleyo


Tuh, Sobs, keliatan kan harganya juga ga tinggi-tinggi amat. Malah menurutku, harganya masih standard deh jika dibandingkan dengan resto-resto atau tempat kuliner lain di Bandung ini.

Terus soal minumannya juga, bervariasi banget deh. Macem-macem, dengan harga yang juga terjangkau.

Menu Minuman di Resto Bebek Kaleyo
Menggiurkan banget, ya, Sobs? Jadi ga sabar deh ingin cerita ke Ama nanti, dan mungkin minggu depan mau balik ke sini ah, untuk nikmati lezatnya sajian menu yang ada di Bebek Kaleyo.

Eh ngomong-ngomong nih, aku belum sempat cerita, tentang nikmatnya Bebek Cetar tadi kan? Nah, tau, gak, Sobs? Sebagai penikmat bebek, aku tuh belum pernah nemuin daging bebek yang seempuk ini, lho! Tapi jangan bandingkan dengan masakan gulai putih atau merah ibundaku, lho, ya! Ini cerita tentang bebek yang digoreng atau dibakar/panggang! Nah, bebek cetar itu, bebek yang digoreng dengan bumbu madura. Dan dagingnya itu, Sobs, empuuuuuk banget! Beneran. Belum pernah nemu deh yang seempuk ini, ditambah pula dengan nikmatnya resapan bumbu madura yang telah menyatu di dalam si daging bebek, tadi, hm...... yummmmmy! Wajib dicoba, nih, Sobs, jika Sobats main ke Bandung, ya!

Alamatnya?
Lho, kan udah ada tuh di atas! 
Atau ini deh:


Bebek Kaleyo - Empuk, lezat dengan sambal dahsyat!
Jl. Pasir Kaliki No. 185 - Bandung 


Catatan Kuliner Bandung - murah dan enak 
Al, 28 maret 2015


Read More
/ /
Belarus, si Negeri Semut adalah sebuah postingan lama yang dipindah ke sini untuk melengkapi tulisan-tulisanku berlabel 'traveling', dan tulisan ini memang ditulis khusus untuk mengikuti giveawaynya Mak Indah Nuria pada saat itu, yang ternyata juga berhasil menjadi salah satu juara dari perhelatan itu. Asyiiik!
Tak hanya itu sih, tulisan ini juga sebagai lanjutan dari tulisan "Sebuah Negeri Bernama Belarus" yang telah tayang pada postingan sebelum ini.

Well, bicara tentang perjalanan atau traveling, kakiku juga termasuk yang memang gatel banget untuk diajak berjalan. Rasanya setiap perjalanan, baik perjalanan dinas mau pun yang bersifat pribadi, selalu saja mampu memberikan kesan tersendiri bagiku. Banyak sekali pembelajaran yang bisa kupetik dari memberikan #myitchyfeet kesempatan untuk terus berjalan. Ada saja pengetahuan dan kesan baru yang membuat diriku semakin kaya akan wawasan dan pengalaman. Seperti perjalananku ke negeri semut ini, nih, Sobs! 

Seperti yang dituliskan oleh Mbah Wiki, Belarus atau Belarusia adalah sebuah negeri republik, di belahan Eropa Timur dengan ibu kota negara bernama Minsk. Secara administratif dibagi menjadi 6 provinsi dan sebuah kota khusus. Berpenduduk kurang lebih 10 juta jiwa dalam luas wilayah 207,600 km2 --> info lengkap bisa dibaca pada postingan ini

Dari awal menjejak tanah Belarus [di bandaranya], aku tuh udah ngerasa bahwa negeri Eropa yang satu ini termasuk negeri pedalaman yang 'tertinggal' gitu deh. Mengapa? Karena kesannya itu lho! Sepiiii banget! Bandaranya kecil, dan lengang. Keluar dari bandara, dengan taksi yang telah kami pesan, kesan yang sama juga semakin nyata. Kiri kanan jalannya dipagari oleh pepohonan hijau yang meneduhkan, membuatku merasa seakan berada di sebuah desa tempat di mana para tokoh dalam novel detektif remaja "lima sekawan" berasal gitu Sobs! Ih, kok bisa-bisanya ya adikku nemu jodoh di negeri terpencil ini?



Namun, Sobs! Kesan ini berangsur kabur manakala kami mulai memasuki kota Minsk yang adalah ibukota negara. Geliat kehidupan moderen mulai terlihat nyata dan membuatku terkagum. Jalanan mulus terhampar luas, di pagari oleh deretan gedung-gedung yang berciri khas Eropah. Wow!

Belarusia



belarus si negeri semut
Bersama Ayah dan Adik ipar yang asli Belarusian. 

Belarus

Ternyata perkiraanku salah. Negeri lengang ini menyimpan banyak sekali keunikan dan keindahan tersendiri. Udaranya yang tetap sejuk walau sedang berada pada siklus summer alias musim panas, sungguh menyumbang semilir angin sepoi basah yang bikin perjalanan kami terasa menyenangkan, walau pun dalam kondisi berpuasa dengan rentang waktu imsak ke berbuka yang begitu panjang pula! Jika di tanah air, aku paling ga suka jika disuruh berjalan kaki, nah di negeri ini, aku malah senang banget jika kami harus berjalan kaki. 

belarusia

Gimana tidak coba, Sobs? Siapa yang ga suka berjalan kaki di atas walking area yang begitu bersih, ditemani pula oleh hijaunya pepohonan dan bebunga yang aneka warna? 

belarusia

Teduh dan menyenangkan sekali rasanya ya, Sobs? Jadi seribu langkah per hari, kalo seperti ini tempatnya mah, saya ga nolak atuh kang! Hihi.

Si Negeri Semut

Lalu apa yang membuatmu menggelari negeri ini si negeri semut, Al?

Nah itu! 

Belarus, Si Negeri Semut! Istilah ini meluncur dari bibir adikku, saat menjawab pertanyaanku akan ketiadaan jembatan penyeberangan untuk bantu jembatani para penyeberang jalan mencapai jalanan di seberang. Apa karena penduduk dan lalulintasnya yang tak seberapa padat, maka penduduk bebas menyeberang jalan sesuka hatinya? Tapi aku perhatikan, mereka berjalan sepanjang jalan dengan cepat namun tertib, there is no one crossing the street. Hm, apa ga perlu ke seberang? Mbuh lah. Daripada pusing, mending tanyakan ke adikku deh. Dan, taraaa...

Ternyata para penyeberang jalan di negeri ini menggunakan lorong penyeberangan, Sobs! Ternyata kebanyakan aktivitas masyarakat negeri ini berlangsung di bawah tanah lho! Ternyata, di bawah jalanan lebar dan taman yang menghampar indah itu, di bawahnya juga terdapat ruangan-ruangan dan lorong-lorong yang digunakan untuk tak hanya sebagai fasilitas penyeberangan jalan, tapi juga banyak store/toko-toko mungil yang berjejer di sepanjangnya. Tak hanya itu, bahkan kami sempat main ke sebuah mall mentereng yang adanya di bawah tanah! Wow, wow dan wow! Unik. 

Belarus memang terlihat lengang. Permukaan tanahnya boleh sepi, tapi bawahnya itu lho! Geliat dan gemuruhnya kehidupan di bawah tanah, mencengangkan! Sukses membuatku takjub. Negeri ini sepertinya mencontoh semut deh, bergerak di bawah tanah sementara di atas permukaannya sepi lengang. :)



Di dalam salah satu lorong penyeberangan

Stalitsa Shopping Mal [Sebuah Mal mentereng di bawah tanah]

Bagi Sobats yang sering sowan keluar negeri, bermain ke mal yang letaknya di bawah tanah mungkin sudah biasa yaa? Tapi bagiku, ini merupakan hal yang menakjubkan. Dan untuk pertama kali melihat mal mentereng yang keberadaannya di bawah tanah itu, ya di Belarus ini. Jadi harap maklum jika keliatan norak yaa, hehe.  Penasaran akan mal indah mentereng di bawah tanah ini? Yuk, ikut aku yuk.... :)

Siapa sangka jika di bawah taman indah ini terdapat sebuah mal mentereng bernama Stalitsa Shopping Mal. Kubah yang ditunjuk oleh anak panah, adalah puncak dari mal.

Tangga menuju ke Mal Bawah Tanah, terlihat biasa saja ya, Sobs?
Nothing Special. Tapiii.., lihat deh!


Keren ya, Sobs? Ini tiga lantai ke bawah tanah lho! :D

Memang sih, di negara kita juga banyak sekali mal mewah, tapi keberadaannya yang di bawah permukaan tanah ini lho yang bikin kagum. Gimana kalo terjadi gempa ya? Hadeuuuh! Bisa tertimbun reruntuhan deh eikeh! Ih, untung saat itu kami ga teringat akan gempa bumi. Hihi. 

Btw, ada sebuah foto yang sengaja aku bidik secara usil nih, Sobs! Coba Sobats perhatikan, apa sih yang istimewa dari foto di bawah ini? 

Look at the circle deh, Sobs!

Mungkin hal-hal seperti yang terlihat di dalam lingkaran putih pada gambar di atas, bagi orang sana udah menjadi tontotan umum kali ya? Lazim dilakukan tanpa rasa canggung, hihi. Walau sudah terbiasa melihat hal-hal seperti ini berlangsung di negeri-negeri maju, namun pemandangan ini terus terang membuatku risih, soalnya kan diriku sedang berjalan bersisian dengan Ayahanda tercinta. Rencananya mau rehat sejenak di taman ini, setelah keliling-keliling ngiterin mal. Terpaksa deh Ayahanda aku ajak buru-buru melintas dan duduk di tengah-tengah sini. Tapi kuyakin, pasti dalam hati Ayahandaku bergumam, ya ampun, anak remaja negeri ini kok berani sekali beraksi seperti ini di depan umum. Ih! J

Jadi teringat dengan anak remajaku Intan deh, semoga saja putriku dan anak-anak muda di negeri kita, [orang dewasanya juga dunk ah], dijauhkan dari hal-hal yang demikian dan mampu menjaga etika dan norma-norma pergaulan ya, Sobs. 

Well, postingan ini terlihat sudah sangat panjang, dan untuk menghindari kebosanan dan tidak terlalu lama mencuri waktu Sobats semua, sebaiknya segera aku akhiri dulu deh yaaa. Sampai jumpa pada reportase lanjutan perjalanan ke Belarus, ala Alaika Abdullah. See you in the next post, Sobs!


My Itchy Feet ... Perjalananku yang tak terlupakan

Sepenggal catatan dan kenangan perjalanan ke Belarus,
Bandung, 28 Desember 2013
dipindahkan ke blog ini pada 26 Maret 2015

Read More
/ /
Sebuah negeri bernama Belarus. Belarus? Nama apa itu? Itulah yang terlintas di benakku saat pertama mendengar kata ini. Yup, saat itu, sekitar tiga tahunan yang lalu, kami [keluargaku] berkonference chat via skype antara Aceh - Istanbul, membicarakan rencana adikku melamar dan menikahi seorang gadis cantik asal negeri ini. Gadis dari Belarus? Belarusia? Apa sebuah negeri pecahan Rusia? Dan aneka tanya berkembang di benak kami [aku, ayah ibu dan adik lainnya] akan negeri ini. Sambil tetap online dan mendengarkan pembicaraan, jemariku langsung tanya ke mbah Google deh. Dan si mbah yang baik hati ini, langsung deh menghamparkan sebuah penuturan yang diambil dari temannya, si mbah Wiki.


Sumber: Google, Map Belarus

Ternyata Belarus itu adalah sebuah negeri republik, di belahan Eropa Timur dengan ibu kota negara bernama Minsk. Secara administratif dibagi menjadi 6 provinsi dan sebuah kota khusus. [sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Belarus].

Selanjutnya Mbah Wiki melanjutkan penuturannya bahwa Belarus adalah sebuah negeri pedalaman yang sebagian besar - relatif datar dan memiliki rawa yang besar [Polesia adalah daerah rawa terbesar]. Juga memiliki banyak sungai dan danau. Ada sekitar 11 ribu danau di Belarus lho, namun sebagian besar danau itu lebih kecil daripada 1/2 km persegi [124 hektar].  Tiga sungai utama mengaliri negeri ini, yaitu Sungai Neman, Sungai Pripyat, dan Sungai Dnepnr. Dan banyak lagi info dari Mbah Wiki yang membuat aku terheran-heran. Boleh ikut heran dengan melihat info lengkapnya di rumahnya Mbah Wiki, ya, Sobs! :D

Yang membuat aku dan keluargaku paling heran adalah, darimana adikku yang tinggal di Istanbul sana, bisa menemukan gadis cantik dari negeri pedalaman Eropa Timur ini? Ckckck. Bukan hanya itu, kapan dan bagaimana caranya adikku bisa begitu fasih berbahasa Rusia pula? Sebuah bahasa yagn melihat alfabetnya saja cukup membuat mataku menyipit dan pikiran lelah, gegara ga paham cara bacanya. Hehe.

huruf sirilyk
Gimana coba mau baca rangkaian huruf ini, Sobs? :D

Well, balik lagi ke Belarus, kemarin, 31 July 2013, tepat di hari ulang tahunku, atas ijin Allah, aku dan Ayah, akhirnya menjejakkan kaki ke negeri yang selama ini hanya ada di angan dan menyimpan rasa penasaran di alam pikiran. Subhanallah, Alhamdulillah. Kado terindah bagiku pribadi, dari seorang adik yang telah sekian tahun menetap di negeri orang [Istanbul]. Thanks a lots my lil bro!

Landed safely di Minsk International Airport, yang letaknya 42 km di sebelah timur ibukota Minsk, disambut dengan indahnya pemandangan pepohonan tinggi yang terlihat sejauh mata memandang [hutan pinus atau pohon apa gitu], menjanjikan sebuah negeri yang hijau, lengang dan indah. Cuaca saat ini sih kabarnya summer, tapi begitu turun dari pesawat, tubuhku dapat langsung merasakan sejuknya hembusan udara segar, disertai wajah-wajah Eropa yang bersama-sama turun dari pesawat. Kayaknya hanya aku deh yang berhijab! Haha.

Antri di bagian imigrasi [passport control] lumayan lama, apalagi adikku ketinggalan lembaran medical insurance yang telah dibeli oline. Ternyata kami diminta untuk membeli lagi, ga mahal sih, hanya sekitar 20 ribu rupiah kita. Tapi antrinya lagi itu, yang bikin lama. Belum lagi petugas imigrasinya tidak begitu lancar berbahasa Inggris, jadinya adikku harus ikut mendampingi dan menjelaskan dengan bahasa Rusia ke si petugas tentang namaku yang sedikit berbeda antara di visa dan di kartu imigrasinya. Huft.

Tentang Visa

Tidak seperti Turkey, yang memang telah cukup moderen dan membuka lebar pintu negerinya bagi para wisatawan, dengan tak hanya menyediakan VOA [visa on arrival] tapi malah menyediakan visa online application [beli online] agar wisatawan mudah dan praktis, sebaliknya Belarus, masih standard sekali dalam pelayanan aplikasi visa.

Seperti standar prosedural umumnya, maka visa di-apply haruslah dari negera di mana si wisatawan berasal. Jadi untuk kami bertiga [aku, adik dan ayah] haruslah dari Indonesia. Dan itu akan butuh sekitar 1 bulanan pengurusan, mengingat undangan [sponsorship] dari Belarus [dalam hal ini, adik iparku bertindak sebagai pengundang [sponsor]] baru akan sampai ke Indonesia [the hard copy of invitation] paling cepat 2 minggu. Namun, Alhamdulillahnya, berkat koneksi/relasi dan usaha gigih keduanya [adikku dan istrinya], akhirnya visa untuk ke Belarus ini berhasil kami dapatkan di hari ke 5 kedatangan kami di Istanbul. Diurus via konsulat jenderal Belarus yang ada di Istanbul. Alhamdulillah, jika Allah menghendaki, pasti akan ada jalannya, ya, Sobs! :)

Back to Belarus, negeri lengang [kabarnya hanya berpenduduk sekitar 10 jutaan jiwa] ini, membuatku tercengang. Pemandangan sejuk dengan hamparan ladang gandum [sayangnya udah panen, jadi cuma bisa menatap sisa2 batang gandumnya sih] di sisi kiri kanan jalan, diselingi oleh 'hutan' pinus yang hijau, sungguh membuat perjalanan kami terasa menyenangkan.

Kiri ke kanan : Ladang gandum, Jalan raya dari bandara menuju kota Minsk

Kiri ke Kanan: Tugu Minsk, Perumahan di pedesaan

Udara summernya yang tetap sejuk, jelas bikin daku tetap bergaya dengan coat merah kesayangan deh ih! Haha. *Teteup, yang namanya narsis sulit disingkirkan yak? Hehe.Satu hal yang membedakan negeri ini dengan negara dari daratan Eropa lainnya, yaitu tingkat ke-lengang-an jalanannya itu lho!
Ini negeri kok sepi banget yak? Ga kayak negeri-negeri yang berada di daratan Eropa lainnya deh. Ga pula seperti Istanbul yang tak pernah sepi. Penasaran banget hatiku untuk segera meng-eksplorasi negeri cantik ini deh, Sobs! Apalagi bangunannya yang berciri khas Eropa itu lho, jalanannya yang mulus dan bersih. Wow banget untuk segera dijelajahi.


Sobats juga ikut penasaran untuk exploring si negeri semut ini lebih jauh? Ih, kok negeri semut sih Al? Nantikan ceritanya di episode berikutnya ya, Sobs! Yang pasti, Sobats akan terkagum-kagum deh kenapa aku dan adikku menjuluki negeri cantik ini sebagai negeri semut atau pun negeri rayap! See you in this post ya, Sobs!

Sepenggal catatan dan kenangan perjalanan di Belarusia,
Al, catatan lama yang dipindah ke virtual corner ini.
Bandung, 26 Maret 2015

Read More
/ /
Ini judul bukan sembarang judul lho,  Sobs, tapi baru aja kejadian tadi siang! *Aih, elu ML di toilet, Al?*
Eits!  Enak aja, jangan sembarangan nuduh, ya, Sobs! Daku dan si kekasih hati (suami) belum pernah, lho,  ya ML di sembarang toilet,  kecuali di bathroom kamar hotel keren yang memang asyik untuk berasyik masyuk, itu mah sering, hehe. *malah buka rahasia*.

Well, back to the topic,  tentang ML di toilet, ceritanya emang masih fresh from the oven nih,  Sobs! Jadi,  siang tadi,  aku,  Intan,  Dijah,  Bibah (anaknya Dijah)  plus Ama,  sohibku, berencana naik Bandross,  itu lho,  bus dua tingkat yang jadi salah satu icon keren kota Bandung. Nah, sebelum naik Bandross, kami makan siang dulu donk di sebuah resto Sunda, di seputaran situh. 

Nah, setelah pilih meja, duduk manis sambil milih menu dan menanti menu pilihan disajikan, kamipun secara bergantian ke toilet. Dimulai dengan Dijah. Agak lama memang, adik angkatku ini di toilet sana, tapi karena asyik ngobrol, kami jadi ga terlalu peduli, sih.  Apalagi tadi Dijah bilang bahwa dia mau ganti pembalut, jadi wajar donk kalo lama. 
Etapi,  nongol-nongol, si emaknya Bibah ini malah muncul dengan wajah merah padam seraya merepet (ngedumel).

'Gilak aja,  masak di resto besar kayak gini, ada yang main di WC! hih, bikin malu aja! pake jilbab pula itu perempuannya!'
Kami langsung melongo. Kata 'main'di dalam kalimat Dijah itu sebenarnya cukup jelas menggambarkan apa yang dimaksudkannya, tapi takut salah, aku pertegas lagi. Dan Dijah malah lebih memperjelasnya.

'Iya, kakak. ML di atas kloset, lupa ngunci pintu. Aku kan ga tau kalo ada orang di dalam, aq putar handlenya dan kebuka deh. Ealah, mereka lagi indehoi di atas kloset. Masih berjilbab, rok kebuka setengah,  dada juga.  Hadeuh! Kayak ga ada tempat lain ajah! Masak di warung seh? Di toilet pulak! Pake jilbab pulak! Bikin malu wanita muslimah lain ajah!'

Aseli, kami hanya bisa melongo, kaget. Dan ikutan penasaran menanti Dijah menunjukkan pasangan yang berasyik masyuk di wc tadi. Pastinya mereka akan melewati meja kami donk nanti kalo akan keluar dari resto ini, secara kami kan duduk di dekat pintu keluar.
Etapi, yang dinanti tak kunjung muncul, bahkan sampai makanan yang kami pesan tinggal separuh, pasangan mesum itu belum juga nongol. Dijah udah bolak balik melontarkan keheranannya. 
'Apa ada jalan keluar lain selain dari pintu ini ya, Mbak?'

Aku dan Ama juga penasaran sih, pengen lihat pasangan mesum itu siapa atau kayak mana seh? Tapi kemana mereka, ya? Apa memang ada pintu lain untuk akses keluar masuknya?
Sedang bertanya-tanya seperti itu, tiba-tiba Dijah berseru sambil menunjuk ke sepasang orang muda dua puluh limaan tahun gitu deh, yang berjalan terburu-buru ke sebuah Honda Jazz, di area parkir.

'Ya ampun, Mbak,  itu mereka. Haha, buka jilbab ceweknya! Biar ga kukenali lagi kali ya? Tapi aku ingat banget muka cowoknya juga pakaian yang mereka pakai kok! Ckckck. Naik mobil keren tapi masak seh ga punya duit untuk sewa kamar?'

Celoteh Dijah membuat mata kami mengarah ke pasangan yang telah masuk ke mobil itu dan terburu-buru melaju keluar area parkir.
Hm...,  bener juga. Ga mungkin deh ga punya duit untuk sewa kamar, dan yang pasti, pasangan ini bukanlah suami istri. Ya iyalah, kalo pasutri,  ga mungkin aja numpang ML di warung orang,  di wc pulak,  hehe.

Aji gile emang, apa enaknya,  ya, Sobs? ML di tempat2 seperti itu. Kan ga nyaman, yak? Sebersih2nya toilet sebuah resto, tetap aja ga akan asyik lah,  ya? Etapi, gimana kalo ternyata...,  ini karena pengaruh kejiwaan? Akan ada sensasi tersendiri yang mereka dapatkan jika berhasil ML di toilet seperti itu mungkin? *Hayyah, dibahas!  Hehe.*

Well, apa pun itu, memang itu urusan mereka seh, tapi rasanya malu kan kalo sampai ketahuan seperti itu. Sampai harus buka jilbab segala saking malunya. Hihi. *ga kukuw deh ngebayangin betapa malunya mereka tadi saat Dijah tiba-tiba datang membuka pintu toilet itu dan mendapati mereka sedang ehem-ehem begituh.*

Nah,  Sobats,  begitu deh ceritaku hari ini. Kalo Sobats sendiri, punya cerita apa nih hari ini?

Sekedar sharing, 
Ak,  Bandung,  22 April 2015
Read More
/ /
Blogger Guru Nasional
Bukti kehadiran [Narsis cantik] dulu donk! 
Kopdar Akbar Guru Blogger Nasional? Ha? Lho, ikutan acara ini, Al? Kan dikau bukan guru? Kok bisa ikutan acara Kopdar Guru Blogger Nasional gitu, sih? Emang boleh gituh? 

Aih, ya boleh banget dunk! Acara yang digelar dalam rangka memperingati hari ulang tahun pertama Komunitas Sejuta Guru Bogger Nasional ini memang terbuka untuk blogger umum dan lintas komunitas. Makanya, saat seat untuk mengikuti acara ini dibuka via grup Blogger Reporter Indonesia kemarin itu, aku langsung daftar deh. Dan pagi ini, begitu tiba di tekape [Gedung Indosat], Jl. Medan Merdeka Barat, No. 1, Jakarta Pusat, team blogger Bandung [Alaika, Nchie Hanie, Bang Aswi, Teh Ida, Evi, Gery dan Widya] langsung bertemu dengan teman-teman blogger dari berbagai komunitas, yang sebenarnya sih itu lagi itu lagi orang-orangnya, hehe. Ada yang dari Warung Blogger, Kumpulan Emak Blogger, Blogger Reporter Indonesia, Blogger Guru, Relawan TIK, dan aneka komunitas lainnya. Dan yang bikin wownya tuh, Sobs, acara ini dihadiri oleh lebih kurang 350 peserta, lho! Wow, banget yak?

Eh, by the way, nih, Sobs, kayaknya ada beberapa dari Sobats yang bertanya-tanya tentang Komunitas Sejuta Guru Ngeblog [KSGN] ini khaan? Well, sebelum mengulas reportase ala Alaika Abdullah tentang acara keren ini, yuk aku brief [jiaaah] dikit tentang KSGN, yuk!

KSGN adalah sebuah komunitas non profit yang digagas oleh Om Jay [Bapak Wijaya Kusumah], aktif sejak tanggal 9 Februari 2014, bergerak di bidang sosial, dan terbuka bagi siapa saja [pendidik] yang ingin mengembangkan dirinya menjadi lebih berkualitas. Hingga kini, KSGN beranggotakan teman-teman pendidik dari berbagai tingkatan dan tersebar di seluruh Indonesia.

Nah, udah mulai jelas kan, Sobs, tentang Komunitas Sejuta Guru Ngeblog ini? Dan hari ini, kami semua berada di gedung megah milik Indosat ini, untuk mengikuti rangkaian agenda keren yang sudah disusun dalam menyambut anniversary KSGN. Yup, pastinya, sebagaimana agenda-agenda Kopdar yang sering digelar dengan bekerjasama Indosat, selain manfaat dari sharing keren yang dibagikan para narasumber, maka hadiah-hadiah pun bertaburan deh di dalam acara ini. Penasaran? Yup, keep reading ya!

KopDar Blogger Guru Nasional
Bekerjasama dengan Indosat

Bertajuk KopDar Akbar Guru Blogger Nasional Bersama Indosat, acara ini dimulai dengan tampilnya duo MC yaitu Mbak Meti Medya dan Mas Ivan, yang secara kocak menghidupkan suasana. Keduanya secara kompak cuap-cuap mengulas secara singkat tentang agenda acara ini.

Acara resmi dimulai dengan pembacaan doa secara khidmat oleh Pak Ustad Bayu Sulistiawan, diamini oleh seluruh peserta acara.
Lantunan Lagu Indonesia Raya, selanjutnya dilantunkan dengan gegap gempita, penuh rasa bangga oleh seluruh hadirin yang berdiri penuh penghormatan. Sungguh, menyanyikan lagu kebangsaan negeri tercinta ini, selalu saja mampu mengungkit rasa bangga dan haru, dan salutku terhadap almarhum Bapak Wage Rudolf Supratman, yang telah dengan gemilang menciptakan bait-demi bait penuh semangat, Lagu Indonesia Raya. 

Usai lantunan lagu kebangsaan, maka rangkaian seremonial dilanjutkan, berupa kata sambutan dari Om Jay, selaku penggagas dan founder KSGN, yang bercerita sekilas tentang KSGN dan tujuan didirikannya komunitas ini. Bisa dilihat pada paragraf awal ya, Sobs, tentang KSGN, tuh!

Selanjutnya, Mba Gina dari Indosat tampil dengan materi [penjelasan keren] tentang launching Guru Era Digital [GED] Indosat dan Bincang Guru Era Digital. Udah pada tahu belum tentang Forum Indosat ICITY? Itu lho, sebuah forum yang berfungsi sebagai online Support Community yang didayai oelh komunitas pengguna Indosat. Menawarkan solusi, bantuan dan informasi seputar gadget, layanan Indosat, minat serta aktivitas komunitas. Nah, bagi yang belum mendaftar, ayo atuh main ke Indosat ICITY dan mendaftarkan diri di sana yaa! 

Bincang Guru Berprestasi

Yang namanya Kopdar, apalagi Kopdar Guru Blogger Nasional, sudah pasti donk diisi dengan aneka sharing inspiratif seputar para pendidik, yang juga hobby ngeblog. Motivasi, suka duka dan apa yang telah mereka hasilkan atau petik dari kegiatan mereka ngeblog. Dan sungguh, mendengarkan sharing ini, bikin melongo, lho, Sobs, bahwa di era digital ini, banyak lho guru-guru yang telah melek untuk menggunakan media blog sebagai sarana berbagi ilmu, baik bagi anak-anak didiknya, maupun teman sejawat bahkan siapa pun yang ingin menimba ilmu dari tulisan-tulisannya. 

Sebagai contoh, sharing dari Ibu Amiroh Adnan, yang menyediakan blognya [amiroh.web.id] sebagai e-learning tool [sarana pembelajaran] bagi para pembacanya. Atau kisah inspiratif dari Bapak Dedi Dwitama, yang tulisan-tulisan inspiratifnya, mengantarkannya ke popularitas [dalam arti positif lho ya], dan mendapatkan banyak sekali undangan-undangan untuk menjadi narasumber dalam berbagai acara, baik di dalam negeri mau pun di luar negeri. Wew, ajigile ya? Dari ngeblog lho! Yup, ngeblog telah mengantarkan mereka ke popularitas dan tebaran manfaat bagi para pembacanya. 

Kisah inspiratif lainnya juga ditebarkan oleh seorang guru keren dari desa Jambekumbu, Jawa Timur. Guru SD negeri yang mengaku belum pernah ke Jakarta ini, lebih dasyat lagi sharingnya, Sobs!
Mengelola blog keren bertajuk 'Ayo Mendidik' beralamat di ayomendidik.wordpress.com, Bapak guru yang rendah hati ini sengaja memilih tagline ' Mengajar sehari, menginspirasi seumur hidup'. Dan sesuai dengan tulisan-tulisan yang dipilah per kategori di blognya itu, Pak Subakri menebar inspirasi. 

Tongsis Reportase dan Menjadi Guru Blogger di Era Digital

Nah, agenda yang satu ini juga termasuk yang paling ditunggu-tunggu donk oleh para blogger? Sayangnya, saat tulisan ini diturunkan *hayyah, diturunkan, hehe*, jadwal tampilnya Om Onno tuh belum tiba, Sobs! Sementara tulisan ini sudah harus disubmit ke panitia [guna mengikuti lomba live blogging] tuh, sebelum agenda ini tiba. Jadi, bagi Sobats yang penasaran akan sharing ilmu keren ini, jangan sungkan untuk balik lagi nanti, ya! Tenang, as always, aku akan dengan senang hati meng-update tulisan ini atau malah nanti akan bikin postingan khusus untuk 'Tongsis Reportase dan Menjadi Guru Blogger di Era Digital]. *Apa sih, yang enggak buat elo, Sobs!*

Tulisan ini dipersiapkan dalam rangka mengikuti 
lomba Live Blogging pada acara Kopdar Guru Blogger Nasional 
Bekerjasama dengan Indosat


Reportase ala Alaika Abdullah
Al, Jakarta, 15 Maret 2015
Read More
/ /

Malam ini, gerimis dan angin begitu solid berkolaborasi, hasilkan cuaca dingin yang bikin jemari dan pikiran tak lagi kompak berkoordinasi. Inginnya sih segera berlari menyusup ke bawah selimut yang telah menghampar diri. Namun, ingatan yang melayang pada salah satu sesi di dalam acara Workshop Blogger Peringati Hari TB, yang dilaksanakan pada 3-5 Maret 2015 kemarin, sungguh membuatku tak ingin menuruti keinginan hati.

Sesi itu sengaja dipergunakan oleh panitia untuk mengundang empat orang penderita [pasien] TBC untuk berbagi kisah [suka duka] selama kuman TBC menyerang dan menggerogoti dirinya. Sungguh, sebuah sesi yang mampu mengundang haru para audience, menghipnotis kami hingga tak berkutik karena ada perih susupi tenggorokan oleh haru yang menyesak.


Wanita ini memperkenalkan diri. Dewi, namanya. Geulis, charming, luwes pula cara berbicaranyaBerkisah bahwa kehidupannya begitu indah sebelum kuman TBC menggerogoti dan menyerang paru-parunya. Bersuamikan seorang lelaki baik hati, yang tentu saja sangat dicinta dan mencintainya. Namun, perubahan demi perubahan berangsur balik arah. Kuman TBC yang bersarang di dalam tubuh, seakan mengkudeta cinta kasih sang suami. Lelaki baik itu justru frustasi sendiri menyaksikan sang istri yang berjuluk 'pasien TB'. Bukannya memberi dukungan agar si istri kuat di dalam menghadapi cobaan, sabar di dalam menjalani perobatan. Yang ada malah memutuskan untuk meninggalkan [Talak] sang istri. Ya elah! Nasib.... nasib! Sudah jatuh malah ketimpa tangga pula. Mungkin itu lah pepatah yang paling tepat untuk Teh Dewi. 

Lalu, frustasikah Teh Dewi oleh perlakuan sang suami? TIDAK. Sakit sih, tapi tak mampu membuatnya frustasi apalagi sampai bunuh diri. Justru perbuatan sang suami, memicu dirinya untuk membuktikan bahwa dirinya adalah wanita yang tegar, kuat dan pantang menyerah. Boleh saja dia kehilangan suami, tapi dia tak akan membiarkan kuman jahat TBC membuat dirinya kehilangan nyawa! Maka, semakin kuat tekad Teh Dewi untuk menjalani perobatan secara berkelanjutan. Tiada putus, sehingga tak heran, jika dalam waktu yang telah diprediksi, Teh Dewi berhasil sembuh! Tak mudah memang, menjalani perobatan TBC yang memang harus dilakoni setiap hari, tanpa henti. Namun, apa sih yang tak akan dilakukannya demi kesembuhannya? 

Waktu berlalu, Teh Dewi pun sembuh sempurna. Pemeriksaan medis telah membuktikannya. Ditambah pula dengan kesehatan tubuhnya yang dulu kurus kering, berangsur telah pulih berisi kembali. Kesembuhan yang merupakan anugerah luar biasa, membuat Teh Dewi ingin menjadi manusia yang jauh lebih berguna bagi sesama, terutama bagi para pasien TB lainnya. Diantaranya adalah dengan rajin mengunjungi klinik di mana dirinya mendapat perobatan, dan memberi support/dukungan bagi teman-teman yang sedang down oleh terjangan TB. Mulai pula Teh Dewi berinteraksi di dunia maya. Lewat akun fesbuknya, Teh Dewi mulai menebar semangat kehidupan, terutama bagi teman-teman yang sedang bernasib serupa. Tak lupa pula, Teh Dewi menyisipkan foto-foto dirinya yang telah segar dan cantik kembali. Tak disangka, sang mantan suami, turut mengintip dan diam-diam mengagumi, bahkan mencoba untuk meminangnya kembali alias minta rujuk. Dan tahukah Sobats apa jawaban Teh Dewi? 

"NO WAY!" Ya, cuma dua kata itu. Dua kata yang aku yakin mampu memulangkan segala sakit hati yang pernah ditimbulkan oleh sang mantan suami, manakala dirinya terpuruk dahulu. Tepuk tangan pun menggema di ruang Alamanda, Aston Tropica Hotel, tempat di mana kami sedang berada saat itu, mendengar dua kata yang diucapkan oleh Teh Dewi itu. Yup, sepakat, Teh! Itu jawaban yang paling tepat untuk seorang lelaki pecundang seperti itu. Enak di elu ga enak di gue dunk itu, ya, Teh? Hehe. 

Yup, begitulah, TBC memang kejam. Menggerogoti tubuh tanpa kenal ampun [kecuali di stop dengan pengobatan intensif], juga menimbulkan efek sosial yang luar biasa. Ya seperti kisah Teh Dewi di atas. Ini baru satu kisah lho, Sobs! Nantikan kisah [testimoni] dari Teteh lainnya, pada postingan berikutnya yaaa!

TBC Memang mudah menular, namun, sosialisasi akan TBC, cara mengenali, mengobati dan mencegahnya, adalah gerakan massif yang sangat diperlukan dalam membantu edukasi masyarakat agar sigap dalam memberantas TBC itu sendiri. Jangan lari, tapi Kenali, Temukan dan Sembuhkan Pasien TBC agar kita tidak ditularinya. 
oleh-oleh dari acara Workshop Blogger Peringati Hari TB
Al, Bandung, 11 Maret 2015
Peringatan Hari TB




Read More
/ /
TBC [seharusnya] Tak Lagi Menjadi Momok. Yup, seharusnya sih begitu, ya, Sobs? Tapi, jujur, aku sendiri dulunya sering gusar jika mengetahui ada teman, sodara atau handai tolan yang tervonis menderita TBC atau yang juga ngetrend dengan sebutan TB [baca Ti Bi]. Bukannya tak berempati, tapi takut ketularan! Aih, betapa naif dan jadi malu sendiri deh mengingat hal ini. Untungnya, itu dulu, puluhan tahun lalu. Etapi, teteup aja diriku merasa malu hati jika menemukan orang-orang yang memandang TB sebagai momok, lalu menjauhi si penderitanya. Terus teringat akan diriku yang dulu pernah acted like that lah! *Tutup muka pake rangkaian mawar merah*

TBC
TBC, memang merupakan penyakit yang sangat dan gampang banget menular! Eits, jangan dulu lari apalagi menghindar seperti itu dunk, ah! TBC itu BISA banget disembuhkan lho! Dan taukah, Sobats, jika pengobatan TBC sampai tuntas itu diberikan oleh pemerintah kepada para penderita TBC di negeri ini secara FREE alias GRATIS? Yup, beneran, lho! Pengobatan yang sebenarnya akan memakan biaya total kurang lebih 100 juta rupiah itu diberikan secara GRATIS oleh Pemerintah! Kurang baik apa lagi coba, Sobs!

Hanya saja, kurangnya sosialisasi akan hal ini, baik tentang cara mencegah, menghadapi penderita dan mendukungnya, membuat penyakit ini menjadi sesuatu yang dipandang sebelah mata tapi juga mengerikan oleh kebanyakan masyarakat kita. Membuat banyak masyarakat yang masih menghindar bahkan mengucilkan penderita ketimbang mendukungnya untuk sabar dan setia berobat. Seperti cerita beberapa penderita yang dimintai untuk memberikan testimoni seputar pengalaman mereka menjalani perobatan TB yang dideritanya, yang dikisahkan di dalam workshop yang digelar oleh Subdit TB Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan KNCV Tuberculosis Foundation Indonesian Team.  Nah, kebetulan, sebagai blogger keren diriku termasuk yang beruntung mendapatkan undangan menghadiri workshop yang digelar sejak tanggal 3-5 Maret 2015 di Aston Tropica Hotel, Bandung.

Sekilas Tentang TBC dan gejalanya

Berkesempatan mengikuti workshop ini, sungguh memberikan masukan yang sangat berarti bagiku. Tak hanya menjadi lebih jelas dan aware tentang TBC, tapi juga jadi lebih paham akan derita baik secara fisik mau pun batin yang dialami oleh para penderita TBC. 

Penyakit TBC sendiri adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium Tuberkulosa, yang berbentuk batang dan bersifat tahan asam, sehingga dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam [BTA]. Penularannya juga mudah banget, nih, Sobs!


Pay your attention, please. Bakteri ini menyebar melalui udara pada saat penderita TBC batuk atau bersin. Jika saja bakteri ini sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru kita, maka dia akan berkembang biak menjadi banyak dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Terhadap tubuh yang lemah [daya tahan tubuh yang rendah], infeksi bakteri ini lebih mengerikan lagi, Sobs! Dia akan dengan semena-mena menghajar dan menguasai seluruh organ tubuh, seperti; paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening dan lain-lainnya lagi. Namun umumnya, yang kerap diserangnya adalah paru-paru, sih! Serem, yak? Keseraman ini akan meningkat lebih tajam dan kejam lagi bagi mereka yang tinggal di daerah yang padat, dengan lingkungan yang tidak terpelihara dengan baik. Bakteri TBC ini akan happy banget tuh berada di daerah yang seperti ini, nih, Sobs! 

Gimana sih menandai penyakit ini? Ngeri juga ih kalo dibiarkan dengan begitu saja.
Yup, TBC memang harus diberantas. Dimulai dari mengenali gejala umum yang sering menyertai penderitanya, yaitu ditandai dengan batuk berdahak yang lebih dari 2 minggu, demam, batuk darah, nyeri di dada, berkeringat pada malam hari padahal tidak beraktivitas plus menurunnya nafsu makan serta berat badan. 

Untuk gejala khusus, bisasanya tergantung pada organ tubuh yang diserangnya. Jika terjadi penyumbatan pada sebagian saluran bronkus [saluran yang menuju ke paru-2], akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, maka akan menimbulkan suara seperti sesak napas.

Jika ada cairan pada rongga pleura [pembungkus paru-paru], maka biasanya akan disertai keluhan sakit pada dada.

Jika mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah. Ih, serem yak?

Pada anak-anak, dapat mengenai otak [lapisan pembungkus otak] dan biasa disebut meningitis [radang selaput otak], gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.

Cara Pengobatan TBC

Jika saja pemerintah tidak menganggarkan anggaran khusus untuk biaya pengobatan/pemberantasan TBC ini hingga tuntas, maka dapatlah dibayangkan betapa para penderita TBC akan semakin terpuruk. Biaya aslinya itu mahal, lho! Kurang lebih 100 jutaan akan dibutuhkan untuk seorang penderita agar dapat menjalani perawatan/pengobatan hingga tuntas. Untungnya, pemerintah komit untuk hal ini. TBC memang harus diberantas, karena dasyatnya ancaman bakteri TB ini dalam menyerang manusia lainnya. Bayangkan, Sobs, satu penderita TBC itu, punya kemampuan menularkan ke 15 orang lainnya, lho! Ngeri banget, kan? Makanya, Pemerintah Indonesia [begitu juga dengan negara-negara lainnya], komit banget dalam menganggarkan dana demi pemberantasan TBC ini. Tinggal penderita-penderitanya ini, nih, yang terkadang justru suka menyerah di tengah jalan [pengobatan] karena tak tahan oleh efek samping yang timbul dari pengobatan itu. 

Back to cara pengobatan TBC, setelah dinyatakan positif TBC, maka pasien haruslah diberi obat yang harus diminum secara teratur sampai tuntas selama 6 [enam] sampai 8 [delapan] bulan berturut-turut. Lamanya masa minum obat ini memang tergantung pada berapa lama terjadinya konversi positif TBC ke negatif TBC itu sendiri, sehingga setiap pasien akan mengalami masa yang berbeda, namun umumnya sih dalam rentang waktu antara 6-8 bulan gitu deh. 

Pasien memang harus mau minum obat secara teratur lho, karena pasien TBC yang tidak mau menkonsumsi obat bisa berakibat pada kematian, karena bakteri ini terkenal sangat kejam dalam menginfeksi. 

Selama masa pengobatan diperlukan pemeriksaan dahak pada tahapan awal, satu bulan sebelum masa pengobatan berakhir dan pada akhir pengobatan. 

Meminum Obat TBC secara tidak teratur atau berhenti sebelum waktunya itu berefek buruk lho! Mengapa? Karena kuman di dalam tubuh akan menjadi kebal terhadap obat sehingga pengobatan akan lebih lama dan lebih mahal karena jenis obatnya akan berbeda. Penderita TBC jenis ini pun dikategorikan ke dalam kategori penderita TB MDR [Multi Drug Resistant] -> akan dibahas pada postingan berikutnya yaa. Kuman yang kebal obat ini dapat ditularkan pula kepada orang lain di sekitar penderita TBC jenis ini. 

Efek Samping dari Obat TBC


efek samping obat TBC
sumber gambar : flyer Stop TB
milik Subdit TB, Dirjen PPPL,
Kementerian Kesehatan RI, 2013
Banyak dari pasien TBC menjadi ogah-ogahan bahkan akhirnya berhenti di tengah jalan pengobatan. Alasan kebanyakannya adalah karena mereka lelah oleh efek samping yang ditimbulkan dari mengkonsumsi obat-obatan TBC yang memang tidaklah sedikit dan butuh rentang waktu yang begitu panjang. Alasan lainnya adalah capek, bosan, sakit dan hilang kesabaran karena lama banget sembuhnya juga menjadi alasan mereka untuk berhenti berobat. Adapun beberapa efek samping yang ditimbulkan oleh rangkaian obat TBC adalah seperti yang terlihat pada gambar di samping ini, nih, Sobs. 

Atas Kiri : Lesu, hilang nafsu makan, mual, sakit perut.
Atas Kanan; Kesemutan sampai rasa terbakar di kaki
Kiri Bawah: Nyeri sendi
Kanan Bawah; warna kemerahan pada air seni [Urine]

Di sinilah dukungan keluarga dan orang-orang tercinta sangat dibutuhkan dalam mensupport para pasien agar tidak lelah berobat. Mereka harus diyakinkan dan didukung untuk berobat sampai tuntas, karena sebenarnya, dukungan ini bukanlah untuk kesembuhan mereka semata, melainkan juga untuk kepentingan kita [orang-orang di sekitar pasien itu sendiri] lho, agar TIDAK TERTULAR. 

Well, Sobats, postingan ini adalah postingan awal dari rangkaian postingan tentang TBC, oleh-oleh dari mengikuti workshop Blogger Lawan TB yang digelar oleh Subdit TB, Dirjen PPPL, Kementerian Kesehatan RI yang bekerjasama dengan beberapa sponsor. See you in the next post, ya! 














Al, Bandung, 10 Maret 2015


Read More