Archive for February 2015
Menu
/ /
Gambar diculik dari RCTI Oke

7 Manusia harimau, wew! Bagi para penggemar sinetron laga yang berbalut pula dengan misteri, pasti udah familiar banget donk dengan sinetron yang satu ini? Aku sendiri, sebenarnya bukan orang yang suka mantengin TV, apalagi keranjingan nonton sinetron. Bukan sok antipati sih, tapi seperti kita ketahui sendiri, sinetron-sinetron yang tayang di televisi-televisi tanah air kita dewasa ini, rasanya gimanaaaa gitu. Mostly, critanya pasti bergulir dan berputar-putar seputar cinta, harta dan tahta. Dibalut pula oleh cemburu, dengki dan berbagai lelaku saling menjatuhkan dan menghancurkan satu sama lainnya. Jadilah aku semakin males nonton TV dan malah menenggelamkan diri di indahnya berinteraksi dan menyerap ilmu di dunia maya *gaya banget yak, menyerap ilmu, bo'.* Hihi

Etapi, bermula dari Icha [si anak gaib] dan Intan [putriku] yang getol menggosipkan kegantengan dan kerennya jurus-jurus si Radjo Langit dan Gumara, aku pun akhirnya mengalihkan mata dan telinga sejenak ke layar kaca yang mereka tonton dengan begitu serius setiap pukul 9 malam kala itu. Dan, aih, 7 manusia harimau? Samakah dengan 7 manusia harimau yang ada di novelnya Motinggo Busye itu? Yang pernah aku lahap ketika usiaku masih berseragam putih abu-abu dahulu?

Dan, benar saja. Intan dengan antusias menceritakan rangkuman kisah-kisah pada episode sebelumnya, dan jujur, langsung mampu memaku mata dan telingaku pada layar kaca, mantengin adegan demi adegan laga yang sedang berlangsung di sana. Dan, ow ow ow! Para pemainnya kece badai inih! Ow ow, siapa pula ini? Lelaki muda bermata indah dan tajam bak Pakistani Man ini? Yang langsung disambung oleh Icha, 'itu namanya datuk Humbalang, Bunda!' Haha. Atuk Humbalang? Siapa pula dia? Terus ada pula tokoh Gumara, Radjo Langit, Pitaloka, Karina dan entah siapa lagi para aktor dan aktris yang bagi mataku terasa baru alias aku tak mengenalnya. *Aih, kemana aja kamu, Al?*
Yang aku familiar hanya aktor/aktris seperti Willy Dozan, Adjie Pengestu dan Merriam Bellina. Ah iya, aku juga familiar dengan datuk Abu alias Sigit Hardadi. Ketahuan deh usia eikeh, nih!

Para pemain sinetron 7 Manusia Harimau
Ki-Ka : Gumara, Atuk Lebai Karat, Radjo Langit, Ratna, Limbubu, Atuk Abu dan Humbalang.
Dan, kesanmu, Al? 

Hm. Aku suka dengan ide membawa cerita di novel ini ke layar kaca, yang tentu saja akan mengalami edit-ubah-modifikasi untuk konsumsi para pemirsa layar kaca. Tidak seperti sinetron sejenis [berbalur misteri] yang juga tayang di layar kaca milik salah satu stasiun televisi swasta tanah air, 7 Manusia Harimau menurutku memang Indonesia banget! Ga meniru atau mengcopy-paste ide cerita dari negara lain. Seperti alur cerita sang penulis, Om Motinggo Busye, kisah ini memang diangkat dari cerita rakyat/legenda masyarakat Bengkulu, yang tentu saja melaluinya, membuat kita jadi lebih tahu akan kisah, kebiasaan/kultur masyarakat, adat istiadat, lelaku/praktek serta local wisdom [kebijaksanaan daerah] setempat yang dalam hal ini adalah desa Kumayan, Kayu Lima, Bengkulu.

Tak hanya bercerita tentang kepercayaan/praktek perdukunan yang masih begitu kental di daerah ini, namun sinetron 7 manusia harimau ini dikemas apik dengan paduan sains, misteri, dan tradisi masyarakat Bengkulu serta menampilkan pemandangan alam yang membuat mata cukup terhibur. Yang sedikit mengecewakan, menurutku sih, ya, pada proses transisi perubahan para tokoh dari tubuh manusia menjadi harimaunya. Animasi ini masih terlihat kurang sempurna, but so far, it's fine lah!
Buktinya, aku masih setia tuh searching di youtube jika satu dua episodenya malah tertinggal gegara tidak berhasil ketemu televisi. Hehe. Maksudnya apaan, Al, tidak berhasil ketemu televisi?

Ya iyalah, jika aku sedang tidak menginap di kosanku karena sedang 'ngedora/mengembara', ya aku pasti akan mengejar ketertinggalan episode itu via you tube. Banyak banget 'relawan'2 yang mengupload tayangan 7 manusia harimau ini di you tube lho! Keren deh! Thanks to the volunteers! Eh, btw, the volunteers ini kan dapat 'cring-cring' juga kan ya?

Penasaran akan sinetron favoritku ini? Yuk, pantengin deh tuh RCTI, Oke, pada pukul 19.45 wib setiap harinya. Pasti Sobats akan bertemu dengan para tokoh keren ini, deh!

Ah iya, aku tuh paling salut dengan Merriam Bellina, lho! Ini aktris kawakan, pinter banget berakting deh! Memerankan diri sebagai ratu siluman jahat yang ingin memangsa [mengambil tulang sengkang] si harimau ketujuh alias Gumara, dengan segala tipu daya liciknya. Suka banget deh aku dengan peran ciamik yang berhasil dibawakan oleh Mer. Ga semua orang kan sukses berperan sebagai orang jahat alias penjahat dengan apik? Nah, Mer mampu melakukannya dengan sangat baik! Penasaran? Coba deh melipir ke RCTI dan pantengin sinetronnya yaaa!

sekedar sharing,
Al, Bandung, 25 Februari 2015
Read More
/ /
Hotel Bersejarah dan Bebas Nyamuk Peninggalan Belanda di Medan, memangnya ada? Eits, belum tau ya? Kan penjajah yang satu ini memang terkenal rajin membangun gedung/bangunan cantik bergaya khas Eropa. Salah satunya nih, yang ada di kota Medan. Sobats pernah mendengar nama Hotel Mijn De Boer? Pasti pada geleng-geleng kepala, deh, ya? Sama! Aku juga langsung blank kalo disebut dengan nama itu, ga akan familiar. Tapi kalo disebut dengan nama Hotel Inna Dharma Deli, sih, paham banget. Dulu waktu masih tinggal di Medan, sering banget tuh, aku melewati hotel bergaya Belanda ini, jika ingin ke Petisah.


Hotel Mijn De Boer (Inna Dharma Deli) (photo; geheugenvannederland.nl)

Nah, bicara tentang Hotel yang terkenal dengan nama Inna Dharma Deli ini, pada masa kejayaannya memang tercatat sebagai salah satu hotel ternama di kota Medan, lho, dan kerap dikunjungi oleh tamu-tamu istimewa dari berbagai belahan dunia. Mulai dari kunjungan tamu kehormatan dari negeri Belanda seperti Ratu Wilhemina, Pangeran Schaumburg-Lippe, sampai dengan Raja Leopold II dari Belgia. Dan berdasarkan kisah dari pendirinya, yaitu Aeint Herman De Boer, hotel antik yang berdiri pada tahun 1898 ini memang bukanlah hotel yang berkategori murah di Medan, lho!

Dengan bermula dari tujuh kamar hotel, sebuah restoran dan bar saja, hotel yang berlokasi di Jalan Balai Kota, Medan Petisah, Medan ini berhasil mengembangkan bisnisnya. Salah satu spesialisasi yang ditawarkan oleh Hotel Mijn De Boer saat itu adalah hotel yang bebas dari nyamuk. Maklum saja, gigitan nyamuk merupakan momok bagi kulit warga-warga Eropa yang terkenal cukup sensitif.

Seiring dengan berjalannya waktu, dan semakin harumnya hotel ini, maka meningkat pula minat para pesohor dan warga Eropa lainnya untuk menginap di sini, sehingga dirasakan bahwa kamar dan fasilitas yang tersedia sudah tak mampu lagi menampung animo tamu yang ingin menginap, sehingga tepat pada tahun 1909, sang pengelola memutuskan untuk memperluas bangunan hotelnya dan menambah kapasitas kamar hingga mencapai 400 kamar. Wow! Empat ratus kamar pada tahun 1909? Kereen, yak?

Nama Hotel Mijn De Boer semakin di atas angin, dan bisa dibilang telah memasuki masa kejayaannya pada masa itu. Terlebih lagi dengan sajian spesial yang menjadi semacam signature di restoran hotel ini. Sajian spesial tersebut adalah kue tradisional Speculaas, yang dipadu dengan olahan rempah-rempah khas tropis Nusantara. Bahkan, pamor hidangan ini sampai ke Bangkok, Singapura, bahkan sampai pula ke Hongkong. Kue ini juga biasanya digemari jauh sebelum perayaan St. Nicholas yang diperingati setiap tanggal 5 Desember.

Dan bicara tentang kisah sejarah, nih, Sobs, ada kisah yang cukup menarik, lho, dari hotel ini. Yaitu sebuah kisah yang datang dari salah satu pahlawan nasional Indonesia. Menurut cerita, Sutan Sjahrir kecil pada masanya kerap mencari nafkah di lingkungan sekitar Hotel Mijn De Boer ini. Beliau berprofesi sebagai musisi jalanan alias pengamen bermodalkan kepiawaian memainkan biola. Lantaran bangunan mewah ini dipenuhi oleh orang-orang kulit putih yang notabene berasal dari kalangan bangsawan, maka permainan musik biola pastinya diterima di telinga mereka lah, yang tentunya memberi peluang bagi sang pahlawan kita, Sutan Takdir, untuk mengumpulkan pundi-pundi berkat kemahirannya tersebut.

Hotel Mijn De Boer Masa Kini

Lalu, di manakah Hotel Mijn De Boer itu kini? Tenang, Sobs, masih ada di tempatnya kok. Hanya saja, jika Sobats mencarinya dengan nama Hotel Mijn De Boer, maka Sobats tidak akan berhasil menemuinya, karena hotel bersejarah dan bebas nyamuk peninggalan Belanda ini, kini telah berganti nama menjadi Hotel Inna Dharma Deli. Jadi pastikan bahwa Sobats tidak salah menyebut namanya, ya! Hehe. Oya, hotel bersejarah ini kini berada di bawah pengelolaan PT National Hotels and Tourism Corp Ltd. yang tak lain merupakan perusahaan plat merah dari lingkungan Kementerian Pariwisata, yang fokus di bidang jasa perhotelan dan restoran.

Kendati sudah berada di lain manajemen, beberapa ciri khas hotel ini tetap dipertahankan, yang tentunya bertujuan untuk  menggaet lebih banyak tamu yang menginap, juga pastinya untuk melestarikan salah satu warisan sejarah yang ada di Medan ini. Hotel Dharma Deli ini sejatinya adalah gabungan dua unit hotel yang ada di Medan, yaitu Hotel Wisma Deli dan Hotel Dharma Bakti. Nama hotel yang terakhir disebutkan merupakan bekas bangunan Hotel Mijn De Boer yang asli.

Nah, Sobs, ingat ya, jika berkunjung ke Medan, jangan lupa untuk menginap atau berkunjung ke hotel antik ini! Jangan lupa, take some pictures as well!

catatan sejarah bangunan antik
Al, Bandung, 20 Februari 2015



Read More
/ /
Sejenak Hening Bersama Adjie Silarus. Pernah mendengar nama lelaki yang satu ini, Sobs? Siapa dia? Aih, belum pernah dengar? Oh, sering bahkan pernah ikut kelasnya? Waah! Asyik dunk kalo sudah pernah ikutan kelas meditasinya!

Yes, Adjie Silarus, tak salah lagi. Cowok ganteng berpembawaan kalem ini, cocok banget dengan profesi yang dilakoninya kini, deh! Psikolog yang juga meditator ini, bener-bener mampu menularkan ketenangan bagi orang-orang di sekitarnya, deh!

Terbukti, kami, emak-emak anggota Learning Forever grup, yang menang tantangan menulis dengan hadiah 'bertemu dan ngobrol asyik bareng Adjie Silarus', langsung terkesima dan seakan terhipnotis untuk ikutan 'hening' bersamanya.

Suara riuh para emak, yang tadinya seakan tak mampu direndahkan volumenya, langsung ketularan gaya lembut dan 'hening'nya Mas Adjie. Wew! Amazing!

Sebagai pengagum sosok yang satu ini, sebenarnya sudah lama aku ingin punya kesempatan bertemu dengannya. Pernah terlintas di dalam hati, kapan ya bisa ngobrol-ngobrol dengan Mas Adjie secara gratis? Iya dunk, kalo dengan cara bayar, pasti mahal kan ya? Dan Alhamdulillahnya, Teh Ani Berta tiba-tiba bawa jalan keren. Bikin tantangan dengan hadiah tak terduga. Hadiah yang tadinya 'ngobrol asyik dengan Rachel Maryam, eh malah berganti dengan 'ngobrol bareng Adjie Silarus!' Wew, superb! Ini mah namanya rezeki!

Dan, di sinilah kami pada hari Minggu, 15 Februari 2015 kemarin. Sesuai janji, kami berkunjung ke tempat pelatihan, dan boleh bertemu langsung untuk ngobrol santai, bahkan berlatih sejenak dua jenak bagaimana bermeditasi. Asyik!

Between Yin and Yang, between Being and Doing

Suaranya yang lembut, kalem, di ruangan nyaman penuh kaca sepanjang dinding ruangan, sungguh bikin kita semua seakan berada di sebuah tempat yang gimanaaa gitu. Jujur, aku suka banget dengan ruangan ini. Bisa untuk yoga, bisa untuk meditasi, dan bisa pula untuk berlatih aerobik seraya melihat indahnya pantulan tubuh saat beraksi. *aih, kok malah ngayal!

Jika para tokoh lainnya, secara mainstream mengelukan untuk bertindak cepat, tangkas dan beberapa langkah berlari ke depan, maka sebaliknya dengan Mas Adjie. Lelaki ini malah anti mainstreaming, dengan gebrakannya yang mengajak orang-orang di sekitarnya untuk diam, hening sejenak! Yup, karena menurutnya, manusia-manusia di jaman moderen ini, seakan berada dalam keadaan rush. Terburu-buru, bergerak terus seakan tiada henti, demi mengejar atau menggapai sesuatu/goal.  Sudah tak lagi seimbang antara Yin and Yang, Being and Doingnya. Padahal jika direnungkan sejenak, bahkan tubuh kita ini pun membutuhkan istirahat. Tak hanya tubuh, bahkan pikiran juga butuh 'diam dan hening' agar bisa berfikir jernih, agar mampu memikirkan tindak lanjut demi mencapai tujuan itu sendiri.

Yin dan Yang, tentu kita sering mendengar tentang filosofi Timur ini, yang menurut filosofi Barat lebih dikenal dengan istilah Being and Doing.

Pada dasarnya, Yin/Being, adalah kemampuan untuk menerima [nerimo] atau mengikhlaskan setiap kejadian yang menimpa diri kita. Kemampuan untuk mendengar, berdiam sejenak seraya merenungkan, di mana di dalamnya nanti akan muncul ketenangan diri, sehingga pikiran akan punya space untuk berfikir lebih jernih. 

Sementara Yang/Doing, adalah lebih kepada obsesi yang menguasai diri kita, lebih kepada misi, tujuan dan aksi yang harus dan segera ingin kita lakukan dalam mencapai misi atau tujuan/cita-cita kita. 


Nah, aku yakin bahwa kita juga sependapat dengan Mas Adjie ya, Sobs? Bahwa insan dunia saat ini, di tengah canggihnya technology, sudah semakin tenggelam di dalam 'Yang/Doing'-nya, sehingga tak lagi seimbang dengan Yin/Beingnya. Aku sendiri sempat tercenung lalu mengiyakan. Bener juga. Aku, selama ini begitu getol mengejar impian, obsesi, bergerak cepat seakan takut terkalahkan oleh gerakan cepat orang-orang di sekelilingku. Seolah-olah rezeki akan habis jika aku berhenti sejenak.


Ya Allah, pantes saja aku merasa lelah. Jiwaku lelah. I need to balance my being and doing, nih! Hehe.

Memang tak salah sama sekali sih, mengejar impian, bergerak cepat dalam upaya menggapainya. Namun, tentunya jika segala sesuatunya dilakukan dengan seimbang, maka hasilnya pun tentu akan maksimal. Mas Adjie memberi contoh, untuk bisa melompat jauh tinggi ke atas, tentu kita perlu menjejak tanah terlebih dahulu sebagai landasan lompatan, bukan? Makanya, di dalam aksi, tentu ada reaksi. Di dalam Yin, harus balance dengan Yang. Balancing your Being and Doing to get optimum result! 

Obrolan santai dan menarik ini, tentu saja membuahkan pertanyaan ini itu dari kami semua untuk sang meditator, yang tetap kalem dalam memberikan jawaban. Kalem, tapi tak berarti tiada tawa ceria di dalamnya lho, Sobs! Namanya juga emak-emak udah berkumpul, tetap saja celotehannya [walo dalam volume rendah] mampu menghasilkan gerai tawa di seluruh ruangan hening itu. *Hidup emak2!

Belajar hening atau diam itu memang bukan perkara sekali-dua klik. Perlu proses memang. Perlu latihan. Memulainya dengan niat dan keberanian mengambil keputusan. Karena, untuk berubah, kita butuh keberanian prima dalam mengambil keputusan, karena akan ada konsekuensi terhadap apa yang kita putuskan itu. Misalnya, jika kita merasa, bahwa pekerjaan yang kita lakoni saat ini, sudah tak lagi nyaman bagi diri. Sudah membuat kita terlalu tergesa-gesa, terlalu larut di dalam Yang/Doing, maka bukanlah perkara mudah saat kita ingin menghentikannya dan beralih ke pekerjaan lain. Tidak mudah memang, bahkan butuh keberanian untuk beralih dan meninggalkan zona nyaman. Di sinilah kita perlu melatih 'hening/diam' sejenak itu, sehingga kita tak panik, dan mampu berfikir jernih di dalam menyesuaikan diri dengan keadaan, atau merubah dan membenarkan situasi yang mungkin melenceng dari yang kita harapkan.

Dan tetap saja, belajar hening atau diam itu tidak mudah. Butuh niat, latihan dan komitmen untuk melaksanakannya. Butuh kemampuan 'mendengar'kan [Yin] secara utuh, dan ikhlas untuk mengurangi keinginan berbicara [Yang] yang terlalu banyak. Menarik banget ya, Sobs? Jadi pengen ih, berlatih meditasi hening sejenak ini, dan juga berkemampuan untuk bisa 'mendengarkan' dengan lebih baik. Karena ternyata, mendengarkan itu jauh lebih baik daripada berbicara banyak lho! Karena sesungguhnya, dengan menyediakan diri untuk mendengarkan keluh kesah orang lain, utamanya orang yang kita cintai, sebenarnya kita sedang membantu orang tersebut berfikir lebih jernih, bahkan sedang membuka jalan bagi orang itu dalam menemukan solusi terhadap masalah yang sedang dihadapinya.

Dalam buku keduanya, 'Sadar Penuh Hadir Utuh', Mas Adjie menuliskan bahwa;

Untuk memberikan diri kita secara utuh kepada sesama, terutama kepada orang yang kita cinta, kita harus hadir utuh terlebih dahulu. Bukan hanya sebagian di sini, tapi sebagian di masa lalu atau pun di masa depan. Mindfullness! Sadar Penuh, Hadir Utuh, kini, pada saat ini.
Sungguh sebuah buku yang menarik ya, Sobs? Penasaran akan buku yang berisi artikel sederhana tentang pengalaman sehari-hari manusia bersama sisi yin, being, dan bagaimana melatih sisi yin, being ini? Yuk pantengin informasi peluncurannya nanti ya, don't missed it!

catatan dari 'ngobrol asyik bersama Adjie Silarus
Al, Bandung, 17 Februari 2015


Read More
/ /

Pencuri bisa berada di celah manapun, be aware! Mungkin kalimat inilah yang paling cocok sebagai catatan atas kejadian yang menimpaku hari ini. Jika bulan lalu, dompet manisku terserang kanker kritis gegara harus membeli hape baru, karena hape lama [si onyxberry dan OPPO] hilang sekaligus, akibat keteledoranku, maka hari ini, kisah tragis ini kembali terulang. Hiks..., padahal aku tuh udah berupaya banget untuk menjaga backpack ungu tercinta, agar tak ada tangan nakal yang menjamah apalagi merampas isinya.

Hari ini, agendaku cuma satu. Ikut meeting untuk persiapan sebuah event nasional yang akan bertuan rumah di Kota Bandung, yang akan diselenggarakan beberapa bulan ke depan. Meeting bertempat di sebuah ruangan keren nan canggih, dengan melibatkan petinggi-petinggi dari Jakarta [Pusat] serta para petinggi dari Kota ini plus kami-kami [Meti Mediya, Nchie Hanie dan aku sendiri] dari Relawan TIK Kota Bandung. Oya, ada juga tambahan peserta dari komunitas lain.

Rapat berlangsung dengan lancar dan interaktif, sama sekali tak ada tanda-tanda mencurigakan pada backpack ungu tercinta yang sengaja aku simpen di belakang kursi yang aku duduki. Hanya saja, karena kami tiba terlambat, jadi kami kebagian kursi paling belakang deh, tapi ga papa juga kali, kan ini ruang rapat, dan pesertanya juga pasti orang-orang dengan attitude yang baiklah. Jadi aku tak terlalu mengkhawatirkan tas kami itu. Bahkan feeling-ku yang biasanya tajam, tetap terasa tenang bahkan hingga kami pulang. Masih sempat sih tadi hangout sebentar di taman, kongkow-kongkow bersama Meti dan Nchie serta rekan-rekan dari Jakarta sambil makan cuanki. Dan tasnya? Duduk manis dunk di sampingku. Sejak kehilangan hape tempo hari, aku memang telah meningkatkan level kesiagaan, agar kehilangan itu tidak terulang lagi.

Tapi siapa sangka, jika malam harinya, saat hendak mengambil Macsy [my Macbook air] dari dalam backpack, eh si paddy [my ipad] telah tiada? Shock dan ga percaya. Kubongkar seluruh isi tas hingga bertumpahan keluar. Tas itu kosong sudah, dan ipad tersayang sama sekali ga kelihatan. Ampyun deh. Oh Tidak! Masak terulang lagi sih? Hiks....

Masak sih hilang? Masak sih dicuri? Masak sih di ruangan tadi ada personil yang memiliki virus 'maling'? Masak sih..., masak sih... pun bermunculan di fikiran. Kucoba mengingat-ingat kembali, tapi telusuran flashback ingatanku menunjukkan bahwa backpack ungu ini hanya duduk manis di belakang kursi, karena tadi aku hanya membukanya untuk mengambil alat tulis dan buku catatan doank, setelah itu, duduk manis lagi di situ. Bahkan untuk bagian laptop dan ipad, sama sekali tidak aku buka, karena sedang ingin fokus pada rapat yang sedang berlangsung. Juga, langsung pulang ke rumah tanpa singgah ke mana pun lagi setelah itu. Jadi siapa yang ambil? Oh My God..., hiks.

Mencoba untuk ikhlas sih, sambil tetap ngarep. Jika memang rezekiku, semoga aplikasi 'find my ipad' bisa menolong paddy untuk kembali padaku. Namun jika memang bukan lagi rezekiku, semoga yang ambil kena batunya! Hehe.

Etapi, di balik semua itu, mungkin sudah saatnya kita semakin mengingat, bahwa yang namanya kesempatan atau peluang yang tercipta, biasanya akan mengundang terjadinya kejahatan kan? Bahkan terhadap orang-orang yang berakhlak baik pun, jika ada kesempatan, dipicu pula oleh adanya kebutuhan, maka kejahatan pun bisa terjadi. Kejahatan itu bisa terjadi di mana saja, bahkan di tempat terhormat dengan personil yang penuh akhlak baik sekali pun, tetap saja ada oknum-oknum yang tidak ber-attitude baik kan? 

Jadi, tiada cara lain selain meningkatkan kewaspadaan, karena kejahatan bisa tercipta di celah mana pun selagi ada peluang dan kemauan si pelakunya. Be aware! Semoga coretan ini dapat menjadi pengingat bagi kita semua untuk menjadi lebih berhati-hati.

catatan tentang sebuah pembelajaran,
Al, Bandung, 13 Februari 2015
Read More
/ /


#SID 2015 - Safer Internet Day, dari kemarin memang sudah memenuhi lini masa twittter mau pun status-status di Facebook, Path, Instagram dan akun-akun sosial media lainnya. Tak hanya itu, Relawan TIK Kota Bandung, mewakili RTIK Jabar, juga sudah heboh mempersiapkan diri untuk tugas dadakan yang dititahkan oleh Pak Bos [baca : Om Fajar Erri Dianto] untuk menghelat acara peringatan Safer Internet Day aka Hari Internet Aman Sedunia ini.

Sebenarnya sih ingin mengadakan event yang setidaknya seperti tahun lalu, berupa seminar yang diadakan di Hotel Lodaya, sih, namun..., mengingat waktu yang dadakan, yaitu H-1, maka diputuskanlah untuk memperingati hari istimewa ini dengan sebuah cara yang berbeda, namun tetap bermakna dan tentu saja bergema. Gimana caranya? Penasaran, Sobs?

Untungnya, nih, RTIK Jabar dan Kota Bandung mendapat dukungan penuh dari Pak Kadis Kominfo Jabar, lho. Yaitu Pak Dudi, yang orangnya low profile banget. Tadinya, aku sempat ngebayangin, bahwa seperti kebanyakan pejabat penting lainnya, si bapak pasti penuh dengan birokrasi deh ini, e ternyatah, Sobs, keren banget lho! Supportif dan nyaman untuk diajak bekerjasama sukseskan acara. Bahkan beliau menawarkan tempat/venue serta fasilitas keren lho untuk adakan acara ini. Di mana? Ya di ruang rapat beliau yang keren dan canggih ituh!

Sehubungan dengan waktu yang terbatas dan dana yang tak ada, hihi, maka, jadilah kami menghelat acara peringatan #SID2015 dengan sebuah tele-discussion, melalui fasilitas Vmeet [Virtual Meeting] juga Google Hangout. Jadi acara hari ini, murni online, dengan merangkul partisipan dari OPD/instansi pemerintah daerah di bawah Diskominfo Jabar, menggunakan fasilitas Vmeet, dan juga rekan-rekan RTIK Nasional, menggunakan fasilitas Google Hangout. Wuft, ga nyangka deh, jika acara dadakan ini bisa berlangsung dengan keren dan lancar!



Bersama Wujudkan Internet Ramah Anak

Bukan ingin menyaingi slogan bersama wujudkan kehidupan ramah lingkungan, makanya #SID2015 mengambil tema Bersama wujudkan internet ramah anak, sih, namun memang dikarenakan begitulah situasi yang ingin kita wujudkan saat ini. Kita semua pasti menyadari, bahwa internet saat ini tak mungkin lagi kita lepaskan dari kehidupan sehari-hari. Baik untuk manusia dewasa, anak usia sekolah hingga ke anak usia dini, kini sudah familiar dengan dunia yang satu ini. Ya, dunia maya, ibarat pisau bermata dua, yang jika salah mengendalikannya, justru akan memakan/membahayakan si pemegang atau peggunanya. 

Utamanya untuk anak, yang pada usia ini berada pada usia yang selalu ingin tau. Membimbing mereka secara bijak untuk mampu berinternet secara baik dan aman, adalah sebuah keniscayaan. Namun, membimbing anak-anak masa kini bukanlah hal yang gampang, di mana semakin kita larang, maka akan semakin penasaran untuk mencobanya. Sehingga tak heran, jika kemudian, banyak orang tua/guru di sekolah, yang menemukan smartphone si anak/murid yang berisi konten pornografi, asusila dan berbagai konten negatif lainnya. Mengapa? Karena cara melarang dan memberi pengertian itu yang mungkin kurang tepat. 

Jadi, di dalam memperingati Hari Internet Aman Sedunia [Safer Internet Day] hari ini, daku [Alaika Abdullah] dan Meti Mediya, dibantu oleh Nchie Hanie di belakang layar [online socialization], mewakili RTIK Kota Bandung, mendapatkan mandat untuk mensosialisasikan flyer-flyer berisi tips berinternet sehat dalam rangka mewujudkan internet ramah anak, kepada para audience telediscussion tadi. Alhamdulillah, acara dadakan ini dapat terselenggara dengan baik, berkat kerjasama super antara crew Vmeet-Diskominfo dan RTIK Kota Bandung. 

Ah iya, pasti Sobats juga penasaran kan akan isi flyer-flyernya? Yuk, pantengin, deh, gambar-gambar di bawah ini, dan silakan share bagi siapa saja yang membutuhkannya, yaaa. :)

Bagi para emak/bapak/kakak/ dan kerabat nih, kudu dipantengin dan terapin ke 6 tips ini yaaa. :)
Dan berikut adalah tambahan berupa 9 tips menjaga anak tetap aman di internet. Catet, ya, Sobs!



Dan, ini adalah kunci utama, yang tak hanya perlu diingat oleh anak-anak kita, namun bagi kita juga, kudu diingat dan dipraktekin nih, ga bole lupa, agar akun-akun kita aman terkendali, serta selancaran kita di dumay pun aman terkendali pula. So, be aware!

internet ramah anak

Nah, Sobats tercintah, itulah sedikit rangkuman dari acara yang berhasil kami helat tadi siang, semoga ada manfaat yang dapat dipetik. Yuk, bersama kita wujudkan internet ramah anak, yuk!

rangkuman sharing dari peringatan Safer Internet Day,
Al, Bandung, 10 Februari 2015


Read More
/ /
Apa tujuanmu bersosial media? Sebuah pertanyaan simple nan makjleb itu dilontarkan oleh Kang Nukman Luthfie kemarin siang, di dalam acara 'gathering pegiat sosial media' yang diadakan oleh penerbit Mizan, bertempat di kantor Mizan Pustaka, jalan Cinambo No. 135, Ujungberung, Bandung, begitu corong [mikrofon] diserahkan oleh si Mbak MC kepada beliau selaku narasumber utama gathering ini.

Aneka jawaban pun bermunculan. Ada yang sekedar untuk menunjukkan eksistensi [asal ada] aja, ada yang untuk tujuan bisnis, ada pula yang sekedar untuk ikutan tren, dan ada pula yang menjawab untuk personal branding yang tentu ujung-ujungnya mengarah ke pencapaian goal masing-masing pemilik akun.

Adapun sosial media yang paling sering kita gunakan adalah facebook dan twitter. Hayo, pasti Sobats juga pengguna kedua akun sosmed ini kan? Ditambah pula sekarang ini dengan Path dan Instagram, juga Pinteres, dan sosmed lainnya yang semakin saling bersaing, yang membuat kita terkadang bingung sendiri. Perlu enggak sih kita ikut bikin akun-akun itu? Hayo, tanya diri sendiri dan jawab yang jujur. Hehe.

Menurut Kang Nukman sih, semua jawaban di atas adalah benar. Enggak ada yang salah. Terpulang kembali kepada si pemilik akun itu sendiri. Etapi, jika memang akun tersebut bisa untuk diberdayakan alias dioptimalkan, kenapa tidak? Kenapa juga harus dianggurin? Jadi, menurut si akang kasep *uhuk, dilarang ge er, ya Kang!*, mending ditinjau ulang deh akun-akun itu, lihat mana yang perlu dipertahankan dan mana yang..., yah, diselesaikan saja. Kenapa? Ya agar kita fokus mengurus/mengelola akun yang memang sungguh-sungguh kita butuhkan. Karena..., ternyata nih, akun-akun sosmed itu, bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai lebih lho! Yaelah, kalo itu mah, semua orang juga sudah tau ya, Sobs? Hehe. Namun..., bagaimana membuatnya bisa menghasilkan nilai lebih itu yang kudu dieksplor khaaan? *panggil Dora the explorer*.

Okeh, tenang. Di sinilah pihak Mizan Pustaka mengundang sang pakar sosial media ini untuk cuap-cuap sharing akan hal itu. Nah, postingan kali ini, adalah untuk berbagi tentang hasil sharingan dari Kang Nukman kemarin ituh, Sobs! So, jangan berpindah dulu, lanjut baca sampai akhir agar Sobats juga ketularan ilmunya, yaaa! Eits! Tunggu dulu, sebelum lanjut, udah pada tau belum jika Kang Nukman ini adalah seorang kapitan sarjana Teknik Nuklir?


Yup! Ga tanggung-tanggung, lelaki yang sejak usia sekolahan sudah sangat menggemari science ini, memang jebolan Teknik Nuklir dari Universitas Gajah Mada, lulusan 1990. Wow, super sekali yaaa! Etapi, si akang malah meneruskan ketertarikannya pada bidang jurnalistik, yang justru memperkaya dirinya akan pengetahuan teknologi informasi, komunikasi dan hubungan kemasyarakatan, sehingga tak heran jika kemudian [berkat hobby yang ditekuninya dengan serius itu], kariernya bersinar cemerlang, mulai dari editor senior hingga merambah ke dunia digital marketing. Tak cukup sampai di situ, pengetahuannya yang semakin meningkat, terutama seputar sosial media dan IT, mendorongnya untuk menjadi lebih mandiri, dengan mendirikan perusahaan internet consulting dengan nama virtual consulting, beralamat di www.virtual.co.id yang beliau mulai dari nol. Keren banget yak? Eits, itu belum cukup lho, saat ini, Kang Nukman juga menambah asetnya dengan mendirikan sebuah perusahaan virtual baru bertajuk musikkamu.com.

Semakin penasarankan, Sobs, akan ilmu yang dibagikannya?
Aih, cepetan dunk, Al, jangan kelamaan dunk bagi-bagi ilmu yang dishare Kang Nukman!
Hihi, baiklah. Yuk, kita simak....

Personal Branding
sebagai tujuan akhir/utama bersosial media.


Jleb! Ini mah jawaban eikeh saat Kang Nukman melontarkan pertanyaan itu ke audience. Ho oh, tujuan utamaku aktif di twitter dan facebook adalah untuk ngebranding diri yang tentunya akan menjadi media promosi dalam mencapai target-target yang telah aku tetapkan.

Dan, menurut Kang Nukman, ngebranding alias menciptakan personal branding itu TIDAK gampang, lho!

Untuk membangun personal branding atau menciptakan jati diri itu bukan langkah one-two or three click! Melainkan sebuah proses yang butuh ketekunan, komitmen dan konsistensi di dalam menerapkan langkah-langkahnya. 

Agar branding kita itu mudah melekat pada target market [sasaran] tentu saja ada langkah-langkah yang dengan serius harus kita perhatikan dan terapkan, yaitu seperti yang terlihat pada skema di bawah ini.


Sebagai contoh, jika kita ingin mem-branding diri kita sebagai seorang traveler blogger, misalnya, maka baik pada akun facebook, akun twitter, dan akun sosmed lainnya, juga pada blog yang kita kelola, kita harus dengan konsisten menjaga relevansi status-status kita. Jangan pula, sebagai penulis/traveler blogger, kita malah bicara gosip artis, terjebak dalam sahut-sahutan twit tentang hal-hal yang di luar relevansi branding yang ingin kita tetapkan.


Kang Nukman juga memberikan tips bersosial media bagi pemula dalam, agar akunnya banyak difollow oleh orang lain, adalah dengan sering-sering men-share atau retweet status/twitan berkualitas, juga follow akun-akun yang berkualitas pula. Setelah follow akun berkualitas itu, lihat juga teman-temannya siapa, follow juga mereka dan sering pantau status mereka. Retweetlah status berkualitas mereka, niscaya [perlahan tapi pasti] aksi ini akan di-notice oleh mereka, bukan tidak mungkin, justru mereka akan memperhatikan aktivitasmu dan follow serta bantu retweet juga. 

Selain itu, ternyata, sering-sering upload foto selfie di sosmed itu ga baik, lho, Sobs! *catet* Bahkan berbahaya! Kenapa? Pasti sudah seringlah kita membaca tentang bahasan mengapa foto selfie yang kebanyakan bisa membahayakan diri kita. So, be aware and keep reminding yourself, ya!

Oya, Sobs, agar terjalin interaksi yang baik antara kita dengan para sahabat [followers/friends] kita di sosmed, berikut juga ada tips keren dari si akang.


Yup, ada 3C yang patut kita cermati dan ingat di dalam beraktivitas di dunia maya khususnya agar kita berhasil atau dikenal luas di sosial media, nih.

C Pertama adalah Community. Kepada siapa kita ingin berinteraksi atau membangun percakapan dan meraih manfaat, atau dengan kata sederhananya, adalah target audience kita. Pantaskan/pilihlah komunitas yang relevan dengan target dan branding diri kita.

C Kedua adalah Content. Ini sangat penting. Perhatikan dan pantaskan content yang kita share agar sesuai dengan personal branding yang kita ingin ciptakan.

C Ketiga adalah Conversation. Bangunlah percakapan yang baik dan berkelanjutan serta konsisten, agar community/target audience/follower tetap merasa dekat dan mengenal kita dengan baik.



Bagi kebanyakan dari kita, memasuki dunia maya khususnya ber-cuap-cuap di sosial media, tak ubahnya seperti orang yang kalap memasuki mal yang menawarkan banyak sale. Haha. Saking terlenanya dengan kemeriahan dan menterengnya dunia yang satu ini, merasakan kebebasan yang luar biasa, membuat kita lupa kontrol diri. Atau mungkin juga karena edukasi dan tata krama bersosial media/berselancar di dumay yang masih awam banget/kurang, akhirnya kita malah terjebak di sebuah Undang-undang keren tapi menjebak, bernama UU-ITE ini.

Tak hanya mengancam kita-kita yang awam ITE, namun undang-undang yang satu ini juga bahkan telah memakan korban yang merupakan orang-orang yang tidak bisa dibilang awam. Oleh karena itu, sudah saatnya kita lebih mengontrol diri di dalam update dan share status, jangan sampai malah terjebak di dalam UU-ITE, karena dianggap menyebar fitnah, mencemarkan nama baik orang lain dan sejenisnya.



Dan, Sobats tercintah, setelah melakukan semua tips di atas, jangan lupakan jurus pamungkas yang satu ini deh...


Yes, posisikan diri sebagai tempat bertanya para sahabat kita/follower, terutama terkait dengan keahlian dan brand yang kita gusung. Gimana? Siiip?
So..., are you ready to build your personal branding?

sekedar berbagi tips bersosial media dan 
membangun personal branding, based on Kang Nukman Lutfie's sharing
Al, Bandung, 8 Februari 2015
Read More
/ /
Desa Pulot, Aceh, 6 bulan setelah tsunami
Foto koleksi pribadi
It's called Humanitarian Worker. Sobats pernah mendengar dua kata tersebut? Iya, humanitarian worker alias pekerja kemanusiaan. Atau malah Sobats sendiri sudah tak asing lagi dengan profesi yang satu ini? Aku sendiri baru mulai menaruh perhatian dan mulai familiar dengan profesi yang satu ini tepatnya pada masa-masa tsunami Aceh, Desember 2004 yang lalu. Sebuah profesi yang sama sekali tak pernah terfikirkan apalagi ter-impikan, mengingat backgroundku adalah seorang sarjana teknik kimia alias chemical engineer. Impian terbesarku kala itu adalah bekerja pada bidang yang tak jauh-jauh dari ijazah dan ilmu yang aku peroleh pada saat menimba ilmu dunk, pastinya.

Namun, siapa coba yang sanggup menolak saat kita berhadapan dengan wajah-wajah nelangsa penuh derita, dari para korban dan survivor bencana gempa bumi yang berbuah gelombang maut bernama tsunami itu? Wajah-wajah pilu, meringis menahan sakit akibat cidera atau malah terluka parah oleh hantaman reruntuhan dan gelombang, atau wajah sendu kelabu dari orang-orang yang telah kehilangan ayah-ibu, anak-istri/suami, sanak saudara juga handai tolan itu? Aku sungguh ga tega, deh, Sobs!

Adalah bukan kebetulan jika sejak 27 Desember 2004, aku dan ayahnya Intan sudah berada di Banda Aceh. Mencari kabar ayah dan ibu serta Khai, adik bungsuku adalah satu-satunya alasan. Aku ingin secara langsung memastikan bahwa mereka bertiga baik-baik saja. Namun anak mana yang tak akan tumpah air matanya, mendapati rumah ayah ibunya telah porak poranda, perabotan telah rubuh dan centang perenang, belum lagi beberapa bangkai ikan bandeng yang terbawa gelombang, justru bergelimpangan di dalam rumah, sementara yang dicari sama sekali tak terlihat jejaknya? Hadeuh, kemana Ayah dan Ibuku, ya Allah? Adakah mereka baik-baik saja?

Alhamdulillahnya, kami berhasil menemukan ayah dan ibu serta adikku di pengungsian, tepat pada hari ketujuh pencarian, tepat pula di tahun baru, sehingga wajar banget kan kalo aku menganggapnya sebagai hadiah terindah yang Allah berikan padaku di 1 Januari 2005. Alhamdulillah, ya Allah, Ayah dan bunda serta adikku telah Engkau lindungi sedemikian rupa. Terlebih puji syukurku kepada-Mu, yang telah menjaga dan tetap memberikan berkah hidup bagi Ayah, yang telah terseret dan diumbang-ambing gelombang sedemikian dasyatnya.

Bergabung dengan sebuah Medical International NGO

Banda Aceh kala itu penuh dengan aneka paras wajah. Mulai dari orang-orang yang bermata biru berambut pirang, hingga ke wanita dan pria berkulit hitam legam berambut keriting. Tak ketinggalan pula wanita/pria bermata sipit berkulit kuning, atau wanita/pria berhidung mancung bermata indah ala Turkiye atau Timur Tengah, semua turut serta mengulurkan bantuan, bahu membahu membantu para korban bencana. Dan, Sobs? Aku sungguh beruntung hadir di sana pada masa itu. Tak hanya menjadi saksi sejarah menyatunya manusia-manusia dari berbagai ras dan bangsa, berbagai agama dan bahasa, yang tunduk dan bersatu di bawah satu bendera universal bernama Kemanusiaan/humanity. Keberuntunganku ditambah pula dengan terbukanya kesempatan bagiku untuk bisa bergabung dan turut andil di dalam gerakan kemanusiaan ini. Oh My God! Alhamdulillah.

Terus gimana caranya sampai bisa bergabung di NGO ini, Al? 

Hm, semuanya mengalir begitu saja sih. Ga ada niatan sama sekali untuk mencari pekerjaan, mengingat aku sendiri akan masuk ke kantor baru, di Medan, pada awal Januari 2005. Jadi, setelah urusan membantu ayah dan ibu beres, aku tuh suka main-main ke rumah sakit untuk melihat perkembangan. Atau terkadang main ke area-area lainnya sekedar memantau proses tanggap darurat yang sedang berlangsung itu. Hingga suatu hari, saat sedang main ke rumah sakit, mataku menangkap seorang pasien [nenek tua] yang sepertinya kesulitan berkomunikasi pada sang dokternya.

Sebenarnya, bukan nenek itu saja yang kesulitan sih, pak dokter berambut pirang itu juga sepertinya sulit mengerti bahasa sang nenek. Kudekati dan tawarkan bantuan in case they need a translation support. Dan bener saja, ya enggak nyambung dunk ah! Si nenek berbahasa Aceh dan si dokter berbahasa Inggris! OhmaiGod! Haha.

Pak dokter langsung happy dunk dengan kedatanganku. Selain cakep ini anak bakalan ngebantu banget nih, pikirnya. *Yaelah, kamu pede sekaleee, Alaika! Haha.
Kumulai dengan 'anything I can do to help, Sir?' yang langsung dijawab dengan girang dan mohon translation support. Maka mulailah aku berbahasa Aceh ke si nenek, dan mengubahnya ke English untuk si dokter. Menjembatani komunikasi keduanya hingga pak dokter tuntas memberi pengobatan. Setelah sang nenek, kemudian aku juga lanjut translasi untuk pasien-pasien lainnya, hingga aku sendiri keasyikan dan lupa waktu. Anehnya, ada sensasi happy luar biasa di relung hati. Entahlah, serasa bahagia gitu, deh, Sobs! Padahal kalo diukur, bantuan yang aku ulurkan hanya berupa translasi, menerjemahkan, menjembatani komunikasi dua arah saja. Tak lebih tak kurang. Tapi kok rasa bahagia ini luar biasa adanya. Apalagi saat melihat senyuman manis para pasien. Duh, its like gimanaaaa gituh!

Sore harinya, saat aku akan pamit, selain berterima kasih berulang-ulang, pak dokter dan dua dokter wanita lainnya, dengan serius mengajakku untuk bergabung di NGO mereka. Sebuah International NGO asal Portland, Amerika Serikat, berbendera Northwest Medical Team International [kini bernama Medical Team International], yang bergerak [spesialisasi] di bidang emergency response alias tanggap darurat bencana. Kaget dengan tawaran ini? Ho oh! Habis, aku sama sekali ga menduga lho bakalan ditawarin untuk bergabung. Tanpa pikir panjang lagi, apalagi memikirkan kantor dan pekerjaan baru yang telah menanti di Medan sana, anehnya, aku langsung nggih dengan tawaran ini. Langsung YES, walo awalnya ragu, kan daku ga punya bekal ilmu kedokteran atau kesehatan?

Namun mereka meyakinkanku bahwa bekerja di dalam bidang emergency response ini, yang paling dibutuhkan adalah orang-orang yang memang tulus berniat untuk urun tangan memberikan bantuan terhadap korban bencana. Gelar dan bidang ilmu, itu mengikuti dari belakang. Lagi pula, Medical NGO ini bergerak di dua sektor, yaitu pemulihan/bantuan dalam bidang medis, juga bantuan pemulihan jiwa yang dilakukan dalam bentuk trauma healing. Ketiganya menjelaskan padaku, bahwa para field coordinator nantinya akan dibekali terlebih dahulu ilmu-ilmu dasar trauma healing dan counseling, sehingga akan nyambung nanti saat mendampingi para counselor mereka [dari Portland] di lapangan. Dan, bereslah kalo begitu. Aku langsung excited dunk! Kapan lagi dapat ilmu gratis langsung dari pakarnya [expatriate pula], dan sambil beramal pulak. Aih, itu mah, eikeh pengen banget, cyiiin!

Dan sebuah resignation letter pun melayanglah ke kantor baruku, kantor di mana aku belum sempat sehari pun bekerja di sana. Kususun kalimat sedemikian rupa, mencoba meraih simpati dan pembenaran diri agar pengunduran diri ini bisa diterima. Kutekankan bahwa, bencana dasyat ini, dan apa yang aku saksikan langsung di tanah bencana ini, sungguh membuat diriku tak mampu untuk menolak panggilan jiwa, untuk turut serta mengulurkan bantuan dalam proses emergency response ini. Disertai permohonan maaf dan pengertian sebesar-besarnya dari supervisorku, aku mengundurkan diri dan berharap dimengerti. Karena ini bukan masalah profit oriented, tapi masalah panggilan kemanusiaan.

Alhamdulillahnya, bosku sangat mengerti dan menerima pengunduran diriku berikut support agar segala sesuatu di Aceh segera bisa membaik. Tak hanya itu, bahkan kantor ini mengirimkan donasi dari dompet CSR mereka untuk turut bantu masyarakat Aceh via aku, untuk segera aku salurkan ke yang berhak. Sungguh sebuah jalan keluar yang indah.


Humanitarian Worker, What a lovely-happy work!

Dan..., mulailah aku berkecimpung dengan dunia kemanusiaan ini. Menjadi seorang humanitarian worker. Sebuah dunia baru yang tadinya aku kira, murni volunter alias sukarela [baca: tidak digaji, cuma dikasih makan, penginapan dan sedikit uang saku gitu deh, hehe]. Namun ternyata, Sobs, bayarannya pake rate dolar lho! Oh my God. Aku ternganga saat menangani kontrak kerja, karena the salary i got was 5 kali gaji di mana aku baru saja mengundurkan diri. Oh Tuhan, mimpikah ini?
Namun, tentu bukan karena gaji yang tinggi itu, lantas kami berlomba-lomba untuk bekerja di NGO [International], karena siapa pun yang berada di tanah bencana masa itu, aku yakin, akan dengan rela hati mengerjakan apa saja untuk membantu para korban bencana, walau TIDAK dibayar SEPESER pun. Bendera universal bernama project kemanusiaan ini, menurutku, adalah sebuah bendera yang tidak mengenal pamrih, kecuali bagi mereka yang sudah tidak lagi berhati nurani.

Karena memang, pernah ditemukan kasus di lapangan, di mana banyak mayat yang jari manisnya terputus, gegara ada oknum relawan yang tega memutuskan jari korban/mayat hanya untuk mengambil cincin emas yang melingkar di jari manis itu. Hiks..

Well, back to my humanity work, sungguh sebuah dunia baru yang menghadirkan kebahagiaan. Selain mendapatkan ilmu baru, aku mendapatkan banyak sekali pengalaman baru. Pengalaman KKN masa kuliah dulu, ternyata kini berfungsi maksimal. Ilmu berinteraksi dengan masyarakat pedesaan, dan bagaimaan melakukan pendekatan kepada masyarakat yang sedang tertimpa bencana, dan bagaimana memancing mereka agar feel free to *curhat tentang derita batin mereka, sehingga para counselor bisa memberikan bantuan agar bisa pulihkan trauma mereka, sungguh tidak mudah. Penuh tantangan, karena masyarakat Asia, Indonesia dan Aceh khususnya, adalah masyarakat yang masih memegang teguh pada prinsip 'menjaga rahasia' dan 'menceritakan keluh kesah jiwa' pada orang asing adalah sama dengan membongkar aib sendiri.

Karenanya, aku mengusulkan untuk melakukan pendekatan khusus kepada mereka, dengan mengadakan kegiatan-kegiatan PKK untuk ibu-ibunya, dan belajar serta bermain bagi anak-anaknya. Untuk bapak-bapaknya, sengaja kami menempuh pengajian di malam Jumat, seraya menyisipkan materi 'bincang-bincang paska bencana' setelah pengajian itu. Berbagai trik kami coba untuk meraih kepercayaan masyarakat yang sedang sensitif dan nelangsa ini, hingga akhirnya, berhasil juga kami menjalankan project trauma healing ini. Para korban, kemudian dengan kesadaran sendiri, datang untuk berkonsultasi, bercerita secara terbuka, dan mohon untuk dibantu. Alhamdulillah. It worked well!


Sembari menjalankan proses trauma healing, aku kemudian diserahi tugas untuk menggawangi sebuah project yang dinamakan 'parenting program', yang Alhamdulillahnya, setelah browsing sana sini, belajar dan kaji sana sini, berhasil juga kami implementasikan di 6 desa, kecamatan Leupung, Aceh Besar. Again, Alhamdulillah atas kesempatan ini, ya Allah. Bertambah ilmuku, bertambah pula wawasanku, dan tentu saja, dompet juga semakin terisi. Hehe.

Emergency response atau masa tanggap darurat berakhir dan beralih ke masa development. Walo spesialisasi di bidang emergency response, namun Medical Team International memutuskan untuk tetap mengawal proses rehab-rekon Aceh dan Nias paska bencana ini, karena dana yang diplot untuk bantuan tsunami Aceh-Nias ini masih tersisa banyak [mulai dari masyarakat Amerika, anak-anak , gereja dan berbagai sektor lainnya yang menyumbang ke NGO ini, terus mengalir dananya]. Jadilah kami mulai menyusun program, yang tentu saja tidak boleh jauh-jauh dari koridor/framework NGO ini. Dan aku serta seorang sejawat lainnya, dipilih untuk ikutan dalam menentukan program yang cocok serta daerah yang pas untuk kami bekerja.

Kami memilih kepulauan Nias dan sebuah kabupaten di Aceh untuk coverage working area kami. Kenapa memilih Nias? Karena kebanyakan NGO International lebih senang bekerja di Aceh yang secara geografik lebih gampang diakses dan lebih mudah dibanding kehidupan dan akses ke Nias, yang adalah sebuah kepulauan terpencil. Kami melakukan need assessment dilanjut dengan project design di sana, dan kemudian project plan ini siap untuk dilaksanakan, tentu saja setelah berkoordinasi [sowan dan pamit masuk] dengan para pejabat di kepulauan ini. Namun, aku terpaksa menolak tawaran bosku, untuk menggawangi project di Kecamatan Lolowau - Nias  Selatan ini. Bukan apa-apa sih, Sobs! Kepulauan terpencil ini, mayoritasnya non muslim, penuh dengan magic, dan hewan yang satu ini [baca: babi] berkeliaran di mana saja. Bahkan digendong oleh penduduk, dan kemudian si penduduk dengan santainya menyalami kita selaku tamu. Hadeuh. *pengalaman pribadi.

Belum lagi kesulitan di dalam mencari makanan halal. Huft, dua bulan di Nias, aku jadi neg banget dengan yang namanya mie instant! Hehe. Oreo, Timtam, dan biskuit sejenis juga sudah tak lagi menarik minatku, saking terlalu sering bersentuhan dengan lidahku. Haha.

Kami melakukan recruitment process untuk mencari orang-orang berkompeten untuk melaksanakan project ini. Baru setelah itu, aku mengundurkan diri. Meanwhile, sambil ikutan membantu recruitment process itu, aku sendiri juga apply sana sini dunk, mencari pekerjaan baru di tanah kelahiran. Iya, aku masih ingin di Aceh. Alhamdulillah, sebuah panggilan kerja dari BRR NAD-Nias, hadir dan memintaku untuk datang interview. Lamaranku kesana, untuk posisi apa saja, ternyata bersambut. Aku ditawarkan untuk menjadi personal assistant-nya Chief of Operation-nya BRR, yaitu PAnya Pak Eddy Purwanto! Wow! Ga nyangka banget. Dan lebih ga nyangka lagi, bisa bekerja di bawah kepemimpinan Pak Kuntoro Mangku Subroto, si bos yang begitu low profile, sederhana dan penuh ide kreatif dalam membangun Aceh dan Nias. Subhanallah.


Foto koleksi pribadi
Kiri ke Kanan : Ibu Ratna dari GTZ, Pak Kuntoro, Aku, dan Almarhum Ibu Arsyiah Arsyad


Dari bidang medical, kini aku pindah ke multi sektor.
BRR NAD - Nias adalah badan yang dibentuk oleh Presiden [masa itu Bapak SBY] dan menerima amanat untuk membangun kembali dan juga mengelola dana rekonstruksi Nanggroe Aceh Darussalam dan Nias pasca tsunami 2004. Dan kami melaksanakan dan mengelola berbagai proyek, mulai dari sektor perumahan, perekonomian masyarakat, agama sosial budaya, pemberdayaan perempuan, hubungan donor dan beberapa kedeputian lainnya. Sungguh, bergabung di badan raksasa ini, menambah wawasan dan ilmu baru bagiku.

BRR diberi masa 4 tahun untuk proses rehab-rekon ini, dan pada saat masa tugas ini berakhir, tentu kami bahagia menyaksikan banyak sekali progress gemilang yang kami capai di Aceh dan Nias. Namun selaku pekerja per project, tentu saja ini berarti bahwa kami harus mencari pekerjaan lagi. Hehe, nasib humanitarian worker ya beginih, Sobs!

Dan aku diterima di Handicap International, sebuah International NGO asal Perancis yang fokus di bidang pemberdayaan para penyandang cacat. Bekerja di sini, sungguh membuka mataku. Betapa selama ini aku 'lupa' akan mereka yang tidak beruntung ini, dan bergabung di sini, aku seakan diingatkan untuk segera membenarkan langkah. Sayangnya, aku tak sempat berkecimpung lama di sini, hanya sempat delapan bulan dengan posisi terakhir manager untuk project rehabilitation yang bekerjasama dengan para dokter, bidan dan perawat-perawat di rumah-sakit rumah sakit.

Kok ga bertahan lama? Kenapa, Al?

Karena, aku ga tahan dengan sebuah godaan, Sobs! Lamaranku ke UNDP [United Nation Development Program], yang aku sendiri telah lupa kapan applynya, ternyata diterima. Aku dipanggil untuk bekerja di sana. Awalnya, aku menolaknya, karena ga enak rasanya meninggalkan tanggung jawabku di sini. Bahkan awalnya, aku tidak tergiur oleh tawaran gaji yang adalah beberapa kali lipat dari gajiku di Handicap International.
Tapi telefon langsung dari orang HRD UNDP yang seakan tak percaya aku menolak tawaran ini, akhirnya membuatku berubah pikiran. Masukan darinya, bahwa 'tidak gampang lho, Mba untuk masuk ke lingkungan UN, Mbak yakin menolaknya?' Akhirnya membuatku minta waktu. Aku shalat istikharah untuk mohon bantuan Allah. Akhirnya, tedeeeng! Aku pilih UNDP! Haha... Kapan lagi khaaan?

Jadilah aku mengundurkan diri secara langsung ke Matteo, bossku yang Italiano itu. Kuceritakan apa adanya, dan kalimat pamungkasku, if you were me, what will you do, Matteo? Dan olala, bosku ini dengan spontan menjawab, it's about opportunity, and I will take this one while it is still available. But, you have to stay here until you get the new person to replace you!

Dan, tentu saja aku harus bertanggung jawab seperti yang diminta Matteo. Kami membuka lowongan untuk mencari penggantiku, dan kepada UNDP aku minta waktu untuk mulai bekerja di sana bulan depannya. Deal. Alhamdulillah, Allah memudahkan jalan bagiku untuk terus menambah pengalaman dan pengetahuan. Sungguh, bekerja sebagai pekerja kemanusiaan itu sesuatuh, pake bingits, lho!

Lalu, apakah sekarang ini aku masih bekerja di UNDP?
Tidak lagi donk. Kan project yang kami tangani di Aceh sudah selesai. Dan aku sementara ini sedang belajar dan beralih ke minat lain nih, Sobs! Ingin bisa eksis dan sukses di dunia online. Sebuah dunia yang juga tak kalah menarik dibandingkan dengan dunia humanity itu sendiri.
Selaras pula dengan hobby menulisku yang mendarah daging, melalui beberapa blogku yang telah dengan setia menjadi tempat pelarian jika sedang stress oleh pekerjaan, kini aku semakin yakin, bahwa blogging and online work, adalah pintu lain bagiku meraih kebahagiaan.

Wow! Tulisan ini sudah panjang lebar, semoga Sobats tak bosan membacanya yaaa. Dan semoga ada manfaat yang terpancar dari tulisan ini, yang aku tulis khusus dalam rangka mengikuti tantangan dari Teh Ani Berta. Beliau menantang kami, the member of Fun Blogging Group untuk sharing pengalaman kerja/ilmu yang kiranya dapat kami bagi untuk para pembaca setia kami, ya kalian, Sobs!
So, semoga bermanfaat yaaa!
sekedar sharing, 
pengalaman berkecimpung di dunia kemanusiaan
Al, Bandung, 5 Februari 2015
Read More