Archive for November 2015
Menu
/ /

Hari ini, ingin ngobrolin tentang Pintu Rezeki, ah. Iya, Pintu Rezeki. Yang ternyata memang bisa terbuka dari sudut mana saja, ya, Mantemans? Bahkan dari sudut yang tak pernah kita duga sekali pun. Seperti yang baru saja dialami oleh Dijah, saudaraku yang anaknya akan ultah Sabtu besok.

Keduanya baru saja belanja di sebuah mart, dan karena haus, Bibah, anaknya Dijah, minta dibelikan sebotol minuman dingin yang mirip-mirip dengan minuman pengganti ion yang lazim dijual di pasaran. Minuman yang ini memang sedang promo, dan menyertakan undian berhadiah pada tutup botolnya. Nah, tanpa tau bahwa minuman itu sedang menyelenggarakan undian berhadiah, Bibah kecil, tertarik dengan minuman itu, dan mengambilnya, serta membuka tutup botolnya setelah selesai pembayaran.

Ealah, dasar memang rezeki anak yatim, mata Bibah menangkap sebuah tulisan di balik tutup botol itu. Dibacanya perlahan dan langsung terbelalak.

'Bun, kita dapat hadiah 3 juta rupiah!' Katanya seraya menunjukkan tutup botol itu pada ibunya. Petugas mart pun tertarik mendengar suara riang itu. Dijah dan Bibah mendekat dan memperlihatkan tutup botol itu, yang ternyata memang benar adanya, bukan spam.

'Ibu, selamat, ya! Ibu mendapatkan hadiah sejumlah 3 juta rupiah. Dan kami akan bantu mencairkannya dalam satu dua hari ini, ya.'

Gelagapan saking happy-nya, Dijah hanya mengiyakan. 'Apa yang harus saya persiapkan untuk pencairannya, Mas.', tanyanya. Petugas pun hanya meminta copy KTP Dijah serta nomor telepon Dijah untuk dihubungi kembali saat dananya sudah cair. Waktu untuk pencairan, katanya, sih, dua atau tiga hari setelah diklaim. Dan benar saja, petugas mart emang ga bohong, lho!

Hari ini, Dijah melaporkan, jiaaah, bahwa dana 3 jutanya sudah cair, dan sebagiannya akan dipakai untuk kontribusi *hayyah, bahasanya bo'* dalam acara ulang tahun Bibah, si anak yatimku, yang memang udah ngebet banget ultahnya dirayakan, sampai-sampai dia rela main arisan, diet uang jajan, demi menjadi stimulator agar uminya [aku] mengiyakan keinginannya dan sumbang dana untuk perayaan acara. Ya, namanya anak-anak, melihat temannya dirayain ultahnya, dia pun jadi ingin donk...

Dan, sedih rasanya mengecewakan inginnya itu, sih. Apalagi dia sudah memancingnya dengan cantik, dengan menggunakan trik jitunya. Memulai dengan mengucurkan seluruh tabungannya sendiri. Dan ternyata, Sobs, sepertinya Allah merestui. Membukakan pintu rezeki dengan cara yang satu ini. Subhanallah. Memang, ya, Sobs? Jika rezeki tak akan hendak tertukar. Bahkan dari sebuah tutup botol. Hehe.

Persiapan ulang tahun, pasti bikin hati excited, deh. Aku membayangkan betapa bahagia dan tak sabarnya si kecil Bibah, menanti hari ulang tahunnya ini. Menanti kehadiran sahabat-sahabatnya yang akan turut memeriahkan acara. Ibunya, kemarin sempat bercerita, bahkan saking happy-nya, Bibah sampai ngelindur, lho dalam tidurnya. Haha. Yang diomongin adalah rapalan kalimat ucapan selamat datang yang sudah dipersiapkannya untuk menyambut kehadiran teman-temannya nanti. Aku sempat heran juga sih, darimana ide Bibah, mempersiapkan 'kata sambutan' seperti ini, bukannya biasanya MC yang akan ngehost and welcoming the audience or the honorary guest? 

Atau..., jangan-jangan, Bibah dapat ide ini dari sinetron-sinetro yang getol dia tonton? Hihi. Anyway, yang jelas, ada bahagia yang menyeruak di dasar hati, mengetahui amanah Ilahi yang satu ini, terlihat excited dan bersemangat. Semoga hari bahagianya nanti lancar barokah ya, nak. Dan semoga Allah senantiasa membukakan pintu rezeki lainnya bagi kita, dari sudut mana pun juga. Aamiin.

catatan kecil,
Al, Margonda Raya, 26 November 2015
Read More
/ /
Yup. Olah raga, adalah kebutuhan. Tapinya..., aku tuh malas banget berolah raga. Hehe. Iya, sejak dulu banget, aku tuh paling malas jogging. Gimana mau semangat jogging, coba, Sobs, tarikan selimut rasanya begitu menggoda, mana mampu aku meninggalkannya? Hahah.

Etapi, menginjak usia yang sudah pada kombinasi angka 4 dan 5 alias 45 tahun ini, rasanya ngeri-ngeri sedap juga sih jika aku terus bermalasan, memanjakan diri tanpa mau berupaya salurkan keringat. Banyak banget bahaya yang mengintai di usia segini kan, ya?

Apalagi aku baru ditakut-takuti oleh dua orang teman, bahwa tubuh yang langsing singset sepertiku *ehem*, tetap aja akan menjadi sarang penyakit jika aku tak berupaya menjaga kebugaran tubuhku. Salah satu cara menjaga kebugaran adalah dengan berolah raga. Ya... iya, aku tau kok, bahwa olah raga itu penting. Dan lihat, bahkan aku punya J-Shaper tuh, untuk fitness. Dan si teman langsung ngakak. Menertawakan J-Shapperku yang berdebu karena tak pernah aku sentuh. Duh, bener juga, tuh J-Shapper sejak beli 4 tahun lalu, kayaknya baru 15 atau 20 kali deh aku pake. Hiks..., maafkan aku yang, J-Shapper ku sayang.

Bener juga, sih. Kalo dirasa-rasain, tubuhku akhir-akhir ini cepat banget lelahnya. Terbukti pada saat treking kemarin itu. Napasku yang biasanya teratur penuh kendali, kemarin itu bisa-bisanya ngos-ngosan, padahal track untuk trekingnya itu, tidaklah terlalu curam dan melelahkan. Masa begitu saja aku sampai sesak napas? Seakan-akan napasku berlomba-lomba untuk keluar tapi tertahan di rongga dada. Rasanya sakit dan sulit bernapas, sehingga mau ga mau aku harus berusaha lakukan meditasi sejenak agar oksigen bisa masuk dengan teratur lagi ke rongga dada.

Alaika Abdullah


Iseng, aku coba konsultasi dengan temanku yang adalah seorang dokter, tapinya dokter hewan. Hahah. Eits, tapinya secara general, hewan kan juga butuh olah raga, yak? Hihi.
Anyway, aku memang butuh olah raga yang teratur, agar staminaku tetap stabil bahkan prima. Apalagi, perjalanan harianku dari dan ke kantor, starting from Margonda Residence to Kuningan, bukanlah rutinitas santai yang nyaman. Aku perlu menempuh berjalan kaki dulu ke stasiun UI. Di stasiun, aku perlu berhimpit-himpitan dulu dengan sesama penumpang kereta, dan turun di stasiun Cawang. Nah, di Cawang, aku harus jalan kaki lagi menyeberangi lembah  terowongan, naik ke atas, baru naik lagi ke jembatan penyeberangan dan masuk ke koridor busway. Huft, sungguh melelahkan. Sebenarnya sih, itu saja sudah cukup jadi olah raga bagiku. Itu yang aku pikir selama ini, sih. Sehingga aku merasa ga perlu lagi olah raga.

Etapi, ngos-ngosan-nya napasku kemarin itu, saat treking, kok aku jadi was-was ya? Jangan-jangan..., jangan-jangan, nih! Hadeuh, daripada berburuk sangka, mending aku persiapkan diri untuk mulai fitnes deh. Aku akan gunakan J-Shapper yang selama ini ngendon merana di sudut kamar. Sebenarnya alat ini efektif dan simple banget, tapi sanggup menguras keringat. Dasar akunya aja yang malas!

Hm, baiklah, untuk mulai aktif berolah raga lagi, aku kudu shopping beberapa item nih. Salah satunya adalah cari sepatu sport yang nyaman dan enak dikaki. Sepatu lama ku sebenarnya enak dan nyaman banget, tapi karena umurnya yang sudah uzur, maka aku harus mengurangi bebannya dengan membeli cadangan baginya, deh. Jadinya dia tak harus bertugas sendirian. Bisa shift-shiftan dengan sepatuku yang baru nanti. *Betapa baik dan pengertiannya, eikeh, ya, Sobs? Hihi.

Dan, tak hanya berolah raga, kayaknya aku juga harus mulai dengan sangat serius mengatur pola makan sehat deh. Ga iya, nih. Seperti yang disarankan oleh dr. David, dokter kulit yang menangani proses perawatanku, aku memang harus menjauhkan keju, susu, youghurt dan turunan2 lain dari susu. Aih..., susu bukannya sehat, dok? Ternyata tidak banget bagi orang-orang yang berpotensi jerawatan sepertiku, Sobs! Hiks.... padahal aku kan suka banget minum susu, makan pizza. Dan kini? I have to say good bye to them. Olala, demi kesehatan dan kebugaran tubuh, it seems that I have to say good bye. Really a good bye to all those kind of food. Baiklah, tak ape. Yang penting bisa sehat dan bugar kembali. Ya kan, Sobs?

catatan kecil,
Al, Margonda Residence, 24 November 2015


Read More
/ /
Allah menitipkannya padaku suatu ketika, melalui perantara sakitku kala itu. Yup, ibunya adalah perpanjangan tangan-Nya dalam penyembuhan diriku. Jadilah kami bersahabat bahkan bersaudara. Sayangku bertumbuh pada keduanya, ibu dan anak yang tak lagi memiliki sanak keluarga ini, bukan saja karena kesembuhanku berkat perawatannya, melainkan karena ada haru dan nelangsa di relung jiwa, setiap terkenang akan perjalanan hidup keduanya.

Sebuah perjalanan yang tak mudah. Menjadi mualaf dan tertatih di dalam ketidakberdayaan ekonomi, keduanya harus berusaha untuk survive. Berapalah uang yang dihasilkan dari memberikan jasa pengobatan alternatif? Tidak seberapa. Bahkan bisa dimasukkan ke dalam kategori rezeki harimau, yaitu suatu rezeki tak terduga, yang habisnya juga dalam sekejap juga.

Bagi banyak orang, hidup ini memang tidak mudah. Termasuk bagi Dijah, ibunda si yatim ini. Kepedihan hidup dimulai kala sang suami kembali ke pangkuan Ilahi. Belum lagi hati benar-benar ikhlas akan kepergian putra tercinta, eh sang suami justru menyusul sebulan sesudahnya. Tentu, dunia terasa gelap, dan hati pun terasa lembab. Kemana harus melangkah? Dunia seakan kehilangan arah. Belum lagi, ternyata kepergian sang suami, meninggalkan tanda cinta terakhir di dalam rahim, yang sayangnya, tak sempat disadari. Karena kehilangan dua orang terkasih dalam waktu yang begitu dekat itu, cukup memberikan pukulan telak bagi jiwa hingga batinnya tersiksa, bahkan harus berakhir di rumah sakit jiwa.

Tiada yang tahu, bahwa kala itu, dirinya sedang mengandung, sehingga suntikan penenang seringkali diberikan kepadanya agar dirinya tak hiperaktif melakukan protes akan buruknya nasib kehidupan. Barulah ketika perutnya membesar di rumah sakit jiwa itu, para dokter terkejut dan panik. Benar saja, si yatim yang dikandung akhirnya lahir dalam keadaan hydrocephalus alias berkepala besar.

Yeah, tak patut kita menyalahkan sang Maha Kuasa, tiket menuju syurga bagi setiap orang memanglah berbeda. Bagi Dijah, yang Allah Maha Tahu bahwa wanita ini akan kuat memikul beban ini, diberikan cobaan yang seperti ini. Bagi makhluk-Nya yang lain, tentu lain pula cobaan-Nya.

Singkat cerita, naluri keibuan memandu Dijah untuk menjual seluruh harta peninggalan suami, demi menyembuhkan sang putri, satu-satunya cindera mata yang tersisa. Beberapa kali, si yatim bernama lengkap Siti Habibah Anggun Sari ini menjalani operasi, dalam usianya yang masih batita. Uang hasil penjualan aset pun berpindah, bertukar dengan kesembuhan putri tercinta. Ya, walo pada awalnya tentu tak sembuh sempurna, masih membutuhkan biaya besar untuk check up dan berobat jalan. Namun, menatap putri yang telah normal adanya, adalah kebahagiaan tiada terkira bagi seorang bunda, kan?

Perjalanan hidup terus mengalir, gelombang datang silih berganti. Pasang naik dan pasang surut adalah ketentuan alam yang tak bisa diubah. Kini, keduanya sudah bermukim di Bandung, mengikutiku kala aku masih tinggal di kota kembang itu. Dan kini? Saat aku harus pindah ke ibukota negara, keduanya tetap harus lanjutkan kehidupan. Alhamdulillahnya, rezeki anak yatim memang selalu saja ada, ya, Sobs? Mengalir bagai air bening yang sejukkan kerongkongan.

Negosiasi dengan Mamang Friend Chicken



Bahkan, beberapa minggu lalu, aku dan Dijah dikejutkan oleh rencana Bibah untuk merayakan ulang tahunnya sendiri. Gadis kecil yang tak pernah melihat wajah sang ayah ini, mungkin, begitu berhasrat agar ulang tahunnya [tanggal 25 November nanti] dirayakan. Mengundang teman-teman sekelas. Dan, tak seperti anak lain yang merengek ke ibunya, Bibah malah sudah merencanakan beberapa langkah. 

Yang bikin haru nih, Sobs, gadis kecil yang akan genap berusia 9 tahun ini, sudah melobi penjual fried chicken pinggir jalan, untuk bersedia memberi harga bersahabat baginya, jika dia memesan 50 kotak paket friend chicken si mamang. And...? She got it. Siapa yang tak terenyuh coba, si mamang tak mampu menolak, ketika Bibah kecil berkata 'Mang, saya anak yatim, ingin banget rayain ulang tahun, boleh enggak satu kotaknya 12 ribu rupiah? Kami ga punya uang banyak, Mang. Ini juga uang hasil saya main arisan sama teman-teman, plus uang jajan dan uang santunan anak yatim, yang saya dapatkan.'

Dan, si Mamang, tentu saja luluh. Dimintanya Bibah mengajak ibunya ke situ, dan Dijah hanya mampu mengusap air mata. Anaknya ingin ulang tahunnya dirayakan. Dan itu dengan uangnya sendiri, yang ada sekitar 1 jutaan. Tapi satu jutaan mana cukup untuk merayakan ultah, dengan mengundang 50 orang anak [teman sekelas Bibah] pula?

Singkat cerita, rasanya tak mungkin menolak harapan si yatim ini, toh? Maka, kami pun sepakatlah untuk urunan merayakan ultah Bibah. Persiapan pun dimulai. Beli gaun ultah, sepatu, asesoris dan berbagai pernak pernik keperluan ultah pun mulai diburu. Tak hanya aku yang terenyuh, Intan, putri tercinta juga ikut terharu. Dan berniat untuk turut serta urun bantuan serta memeriahkan hari H nanti.

Yah, namanya juga anak-anak, setelah mendapatkan lampu hijau dariku, Bibah menjadi begitu bersemangat. Rajin belajar, mengerjakan PR, mengaji dan juga lebih perhatian pada ibunya. Aku yakin, ini tak lain dan tak bukan, adalah the spirit to celebrate her birthday menjadi pemicu perubahan baik ini. Semoga semuanya nanti berjalan lancar, ya, Nak. Semoga ke depannya, Bibah jadi anak yang jauh lebih baik, lebih solehah dan lebih perhatian pada bundanya. Ok sayang?

catatan kecil,
Al, Margonda Residence, 23 November 2015


Read More
/ /

Beberapa minggu lalu, aku dicolek oleh Mba Ely, yang mengelola blog Dunia Ely, via twitter seperti conversation yang tercipta pada gambar di samping, terkait postingan blio yang ditulis berdasarkan curhat online seorang pembacanya. Aku langsung meluncur dan mendapati curhatan itu. Berkisah tentang derita batin serta problema yang sedang dihadapi oleh Mba Yuni, yang bercerita bahwa dirinya diselingkuhi bahkan ditinggal menikah siri oleh suaminya dengan wanita lain, di kala dirinya sedang hamil tua.

Kurang ajarnya lagi [maaf], si suami dengan bangganya membawa serta si selingkuhannya itu ke hadapan pihak keluarga Mba Yuni, kala sang suami dipanggil 'menghadap' untuk ditanyai pertanggungjawabannya. Ealah, kok berani-beraninya bawa selingkuhan ke situ! *Gemes pingin mengurai ususnya pake clurit. Dan dasyatnya lagi, dengan anteng dan tanpa rasa malu, si suami menjawab bahwa dia lebih memilih si wanita selingkuhannya ketimbang melanjutkan hubungan dengan si Mba Yuni, yang sedang hamil tua, benih darinya. Ampyun, dweh ini, lelaki!

Tentu saja, pilihan satu-satunya yang paling pantas untuk dilakukan oleh Mbak Yuni adalah bercerai darinya secara resmi. Untuk apalagi mempertahankan seorang suami yang jelas-jelas tak lagi punya hati untuknya. Aku mendukung 100 persen keputusan Mbak Yuni. Dan benar saja, setelah anak yang di dalam kandungan lahir, maka gugat cerai pun dikabulkan dan perceraian sah terjadi.

Etapi, yang kemudian menjadi problema batin Mbak Yuni adalah, sulit sekali menghilangkan kenangan manis yang pernah mereka ukir bersama, selain itu, mantan suami bersama wanita selingkuhan yang telah dinikahi siri itu, mengancam akan mengambil kedua anak yang ada pada Mbak Yuni untuk diasuh oleh keduanya. Tentu saja, ancaman ini membuat batin Mbak Yuni tersiksa. Rasa takut pun sulit untuk sirna. Itulah dua inti curhat online Mbak Yuni pada blog Mbak Ely, yang kemudian aku komentari dengan memberikan sedikit suntikan motivasi, yang aku berharap bisa menjadi alternatif motivasi tambahan dari apa yang telah diberikan oleh Mbak Ely dan teman-teman lain yang berkomentar di sana.

Bagaimana cara melupakan kenangan manis yang pernah terukir saat masih bersama?


Memang tak mudah melupakan kenangan indah yang pernah terukir bersama, kala madu cinta masih bersemi. Namun, menurutku, memelihara kenangan indah itu, setelah pengkhianatan dan rasa sakit yang ditorehkan di lubuk hati, bukanlah perbuatan yang patut dilakukan. Bukankah itu justru menyakiti diri kita sendiri?

Setelah kita disakiti, ditikam dari belakang, mengenang segala kebaikan dan manisnya kehidupan bersama, adalah sebuah kesia-siaan. Itu menurutku, lho, ya. Eits, I am not just doing an easy talking, lho, ya, karena aku tau persis bagaimana rasanya dikhianati dan disakiti. Pernah ngalamin. Makanya aku berani bilang, bahwa rugi besar lho, memelihara kenangan manis yang terukir bersama seorang lelaki pengecut dan mau enaknya sendiri seperti itu!

Yup, menurutku, inilah yang harus dilakukan untuk melupakan kenangan manis itu;

1. Ganti kenangannya. 

Yup, ganti kenangan manis itu dengan mengenang segala keburukan, pengkhianatan dan perbuatan menyakitkan yang kemudian dia lakukan terhadap kita. Ini akan membantu menciptakan rasa tidak suka terhadapnya, dan mengikis kenangan indah itu.

2. Yakinkan diri.

Yakinkan di dalam hati, bahwa lelaki/suami yang bertanggung jawab dan mengasihi istrinya, TIDAK AKAN pernah berkhianat, TIDAK AKAN pernah menyakiti istrinya. Jika kenyataannya adalah bahwa suami tega berkhianat, menikam dari belakang, itu artinya DIA TIDAK LAGI mencintai kita. So? Lepaskan dia, karena tak ada gunanya memelihara seorang pecundang!

3. Tanamkan di dalam jiwa

Tanamkan di dalam jiwa bahwa suami pengkhianat adalah SAMPAH. Dan yang namanya sampah, ada yang bisa dipilah dan didaur ulang, ada pula yang tidak bisa diapa-apain lagi, artinya sampah itu harus ke TPA [Tempat Pembuangan Akhir]. Artinya, jika suami sudah masuk kategori terakhir, maka dia harus dibuang agar tidak menyebarkan penyakit.

Setelah melakukan tiga point ini, agar hati lebih mudah melupakannya, maka sibukkan diri kita dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat. Telusuri dan gali lagi secara cermat dan serius hobby kita, passion kita, tekuni.

Selain itu, percantik diri kita, buka diri kita untuk welcoming new friends, new life, new environment. Dan..., sekali-sekali memanjakan diri dengan shopping pakaian baru, sepatu baru, atau asesoris baru agar penampilan kita lebih kinclong, adalah hal baik yang akan membantu batin kita recovery, lho!

Yup, memberi waktu bagi diri kita sendiri alias me time, adalah salah satu cara menghargai diri kita sendiri. This is one of the way in appreciating ourselve, memberi kesempatan pada diri sendiri untuk menyadari bahwa diri kita itu masih sangat berharga, lho!

Kembangkan cara berfikir positif. Anggaplah kejadian buruk yang telah terjadi, adalah takdir dan cara Tuhan dalam mendewasakan diri kita. Bukankah untuk sebuah pembelajaran, untuk sebuah pendewasaan diri, terkadang kita memang harus membayar mahal?


catatan kehidupan,
Al, Margonda Residence, 22 Nov 2015







Read More
/ /
Malam ini, mumpung belum bisa tidur, aku ingin berbagi sebuah cerita, nih, Sobs! Cerita dari negeri dongeng semut alias Belarusia. Kali ini aku ingin berkisah tentang pasar induk Caringin dan Gede Bage yang sukses bikin mata suegerrr dan fresh! Ih, seger dan fresh artinya kan sama, Al? Hihi. Anyway, gimana enggak fresh, Sobs, tampilannya itu lho, bersih pake bingits! Teratur dan estetis! Eits, bukan tak cinta tanah air lho ya, eikeh mah cinta banget akan NKRI. Tapi ini bicara masalah kebersihan dan tertib serta disiplinnya negeri orang lho! Kan yang baik-baik harus diapresiasi dan diupayakan agar bisa implemented di negeri sendiri khaaan?

Well, bicara tentang pasar induk yang satu ini, adanya di negeri semut alias Belarusia, sebuah negeri republik, terletak di belahan Eropa Timur dengan ibu kota negara bernama Minsk, yang secara administratif dibagi menjadi 6 provinsi dan sebuah kota khusus. Kecil yak? Berpenduduk lebih dari 10 juta jiwa dalam luas wilayah 207,600 km2 --> info dari Mbah Wiki.

Seperti yang pernah aku tuliskan di dalam beberapa postingan lama, kehadiranku di negeri dingin ini adalah dalam rangka memenuhi undangan dari adik ipar, yang asli putri Belarusia sinih, Sobs! Maka, Alhamdulillah, jadilah aku menjejakkan kaki di negeri cantik mereka, dan berkesempatan pula untuk main-main ke pasar induk tadi.

Bicara tentang pasar tradisional, yang ada di imagi kita tentulah sebuah tempat di mana terjadi transaksi jual beli terhadap berbagai barang baik kebutuhan primer mau pun sekunder. Mulai dari berbagai bahan makanan, baik yang sudah siap santap mau pun yang masih berupa raw material-nya. Berbagai buah, sayur, hingga ke pakaian pun ada di pasar tradisional. Begitu juga dengan sebuah pasar sentral tradisional yang kami kunjungi di kota Minsk ini, Sobs!

Hanya saja, bedanya adalah...., di negeri mereka, pasar tradisionalnya bersih banget, tertata rapi dan cantik! Have a look!



Belarusia

pasar di negeri orang

Pasar tradisional


Cantik dan bersih banget, ya, Sobs, pasar mereka? Ini baru pasar tradisional, gimana dengan pasar moderennya, ya?

Sementara pasar tradisional kita? Hayyah, jangan ditanya dan jangan pula berharap terlalu banyak deh. Kebanyakan pasar tradisional kita, masih mengikuti musim. Yup, ikut musim. Musim hujan, maka becek dan berlumpur lah dia. Musim kemarau? Maka kering dan lumayan bersih lah dia. Etapi, kebiasaan masyarakat kita dalam mengelola sampah, justru masih jauh dari standard, yang sering menjadi pemicu yang menjadikan pasar kita semakin kotor.

Memang sih, ada petugas kebersihan, yang memang bertugas membersihkan kotoran/sampah produksi para pelaku pasar, namun, masak mentang-mentang ada petugasnya, lalu kita tak berkewajiban untuk turut menjaga kebersihan, dengan lebih awas dan bijaksana dalam mengelola sampah yang kita hasilkan? Masak sih negeri yang mayoritas muslim ini, yang selalu mengelukan 'kebersihan adalah sebagian daripada iman' tak mampu jaga kebersihan?
Etapi, you know the situation lah, ya? Semoga saja, ke depannya, pemerintah dan masyarakat negeri ini dapat saling bahu membahu dalam menumbuhkan kedisipilinan dan kesadaran untuk hidup bersih dan sehat, melalui aksi peduli kebersihan, yang tentunya akan berefek pada aksi-aksi positif lainnya, sehingga bukan mustahil lagi untuk menciptakan pasar tradisional yang bersih dan rapi, serta cantik seperti pasar yang aku kunjungi di negeri cantik bernama Belarus itu. Bisa khaaan? Tiada yang mustahil jika ada MAU di dalam diri khaaaan?

sepotong catatan kecil 
tentang indahnya pasar di negeri orang,
Al, Margonda Residence, 21 Nov 2015


Read More
/ /
alaika
Hari gini, kuyakin bahwa setiap orang pasti memiliki handphone alias telepon genggam. Mulai dari yang paling sederhana [yang cuma bisa untuk nelpon dan sms saja], sampai yang canggihnya luar biasa. Ini adalah jaman kemudahan. Jaman di mana segala kemudahan teknologi informasi, telah berada di dalam genggaman. Mulai dari anak kecil, manusia dewasa hingga orang tua renta, kini sudah menggenggam alat komunikasi yang satu ini. 

Alat komunikasi, yang dengannya tak hanya menjadi alat untuk sekedar berbicara atau bertukar berita, melainkan juga sudah bisa menghasilkan rupiah, dolar atau pun mata uang lainnya, tentu saja jika kita jeli dan piawai memanfaatkannya. Tak heran, jika kini kita begitu familiar dengan orang-orang yang telah naik peringkat berkat kemajuan penggunaan teknologi yang satu ini. Yup, Teknologi Informasi. Sepakat kan jika kini tukang ojek pun sudah naik peringkat? Bermodalkan hape android, mereka sudah bisa mengunduh mendapatkan penumpang dari ujung jemari. Ya iyalah. Coba deh, perhatikan, Sobs! 

Sambil nongkrong menanti calon penumpang, mereka tiada henti memperhatikan atau berinteraksi dengan telepon seluler mereka. Bukan, bukannya main games, lho! Tapi menanggok penumpang! Ih, emangnya penumpang itu ikan, apa, ditanggok? Hehe. 

Yup, ini jaman kemudahan, tentu, bagi siapa saja yang mau belajar menaklukkan kemudahan itu sendiri. Karena bagi sebagian orang, apa yang sering berada di dalam genggaman kita ini, yang sering membuat kita-kita lupa untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar [baca: sibuk sendiri dengan utak atik HP], justru dianggap sebagai hal pelik yang sulit ditaklukkan. Memang, tak semua orang mampu menerima kemudahan dalam sekali dua kali belajar. Terkadang, saking banyaknya yang dipikirkan, mempelajari hal baru, utamanya adalah yang berbau teknologi, bukanlah hal mudah.

Tak usah jauh-jauh, ibuku saja, harus membuat catatan khusus tentang bagaimana mengirimkan email, atau bagaimana upload/download gambar via Whatsapp, bluetooth, dan aplikasi lainnya. Dan ini tak serta merta bisa lancar dipelajari, melainkan akan butuh waktu untuk bisa memahaminya dan mempraktekkannya. Harus dimaklumi memang, bahwa usia, juga sangat berpengaruh di dalam proses pembelajaran. Memahami kemajuan teknologi, memang butuh usaha. Yup, usaha dan kemauan. 

Dan, Sobs, tiga hari yang lalu, aku terenyuh oleh sebuah pemandangan, tepatnya di terminal Bogor. Kala itu, aku baru saja turun dari sebuah bis, dan hendak mencari angkot untuk ke stasiun Bogor. Nah, karena merasa haus, aku pun singgah di sebuah warung kecil, yang di sana duduklah seorang bapak tua sekitaran 50 tahunan, ditemani oleh seorang pemuda yang mungkin umurnya sekitar 25 tahunan gitu, deh. 
Duduklah aku di kursi tak jauh dari meja mereka. Keduanya sedang asyik memperhatikan hape yang dipegang oleh si pemuda.

Kutajamkan telinga, penasaran alias kepo. Hehe. Habis, keduanya begitu serius, sih. Yang muda sedang mengajari, yang tua sedang mempelajari. Begitu, deh, posisinya. Dan apa yang sedang mereka pelajari? Ah, aku terharu. Si Bapak ternyata sedang mempelajari bagaimana membaca maps pada android si pemuda. Tak hanya itu, ternyata si pemuda sedang mengajari si Bapak, untuk bisa memahami satu dua aplikasi yang diperlukannya nanti jika beliau diterima bekerja seperti pekerjaan si pemuda, yang tentunya butuh kemampuan untuk memahami teknologi informasi. 

Salut! Terus terang, aku salut dengan kemauan si Bapak, yang coba meretas usia, mematahkan kata TIDAK BISA, menjadi MAMPU menguasai teknologi, yang bagi sebagian orang dianggap sulit dan bahkan menjadi musuh. Salut dengan si Bapak, yang alih-alih bersatu dengan pendemo lainnya, malah beliau mencoba mempelajari teknologi ini, agar terbuka jalan baginya untuk bergabung dengan sebuah kemajuan. Bravo, Bapak! Your great spirit is cheered me up! Go go go! YOU CAN! 

catatan kecil,
Al, Margonda Residence, 20 November 2015
Read More
/ /

Bagi anak UI atau alumni UI, pasti sudah familiar lah, ya, dengan yang namanya UI Book Festival? Dari namanya pun, kita pasti akan langsung berfikir bahwa ini adalah ajang pamer untuk buku-buku keren hasil karya anak bangsa. Etapi, ternyata, festival yang secara rutin diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan (IMASIP) UI, dengan mengusung konsep edukasi dan entertainment dalam setiap pelaksanaannya, ternyata tak hanya memajang buku-buku, lho! Melainkan ada rangkaian acara keren yang disuguhkan, mulai dari talkshow, seminar,  bedah buku, roadshow film, perpustakaan keliling hingga ke wisata edukasi. 

UI Book Festival telah terselenggara sebanyak sepuluh kali dengan tema yang berbeda dan selalu mendapat tanggapan positif dari semua pengunjung. Untuk tahun ini, the 11th UI Book Festival hadir untuk kali ke sebelas dan menggusung tema "Cheers for Literacy." Diisi dengan serangkaian acara untuk mendukung gerakan literasi yang berbasis charity demi mendukung peningkatan angka minat baca dan melek informasi di masyarakat. Misi utama dari diadakannya acara-acara ini adalah untuk mendorong pendukung dan pengunjung acara agar mendukung gerakan literasi; mempromosikan dan meningkatkan minat baca dan kemampuan literasi informasi; memotivasi peserta untuk meningkatkan kompetensi diri melalui kegiatan membaca dan mengenal informasi yang dibutuhkan; serta mengajak masyarakat untuk peka dan berpikiran terbuka dalam penyerapan informasi. 

Hm.... sounds interesting banget, yak? 




Dan dalam ajang pamerannya sendiri, UI Book Fair memberi kesempatan bagi sudut kuliner untuk juga ikutan di dalam Food Fair, sebagai upaya juga sih, agar para pengunjung tak perlu kuatir jika mendapatkan panggilan isi perut atau dahaga mengundang.  Tinggal lari ke arena Food Fair, maka problem solved, deh! Selain Food Fair, sudah pasti lah, ya, jika Book Fair juga membuka lapak sebagai ajang daya pikat para pecinta buku. Selain itu? Aneka talkshow dan seminar, juga digelar, lho! Plus roadshow film 'Negeri Van Oranje' yang sedang ngetop, lho!


UI Book Fair 11
Rangkaian agenda acara UI Book Fair ke sebelas

Beberapa Embassy juga berperan Serta

Yup, kali ini, panitia UI Book Fair memberi space khusus bagi kedutaan-kedutaan besar negara lain yang berkantor di Jakarta - Indonesia untuk turut serta di dalam agenda besar ini. Dan salah satu dari kedutaan yang turut berkontribusi ini adalah kedutaan di mana eikeh bekerja, lho, Sobs! 

Yes, the Turkish Embassy in Jakarta, took part in this event, lho! Dan daku ditugaskan untuk mengawal booth kedutaan selama acara berlangsung. Asyik, lah, yaaa! Apalagi aku tuh belum pernah masuk ke kampus UI. Rasanya senang banget, apalagi terlibat langsung di dalam event yang spanduknya terlihat di beberapa tempat setiap aku tiba di stasiun UI. 


Alaika Abdullah
Para pengunjung antusias bertanya jawab tentang beasiswa dari Pemerintah Turki, mau pun info pariwisatanya.

Acara tahunan ini memang berlangsung meriah, seperti tahun-tahun sebelumnya. Para pengunjung yang tak hanya mahasiswa universitas setempat, melainkan juga pengunjung dari masyarakat umum, terlihat antusias untuk berinteraksi di dalam acara ini, baik mendatangi booth-booth serta bertanya jawab di sana, mau pun di dalam acara-acara yang digelar lainnya, seperti bedah buku, talkshow komik Indonesia, road show film Negeri Van Orange dan seminar pra-nikah. 

Untuk kedutaan Turki sendiri, banyak sekali pengunjung yang antusias untuk mengetahui jenis-jenis beasiswa yang disediakan pemerintah Turki untuk calon-calon mahasiswa di luar Turki (International), bagaimana cara mengaksesnya, dan bagaimana selanjutnya setelah mendapatkan beasiswa tersebut. Pertanyaan-pertanyaan lain di luar masalah beasiswa, adalah ketertarikan pengunjung tentang informasi pariwisata yang ada di Turki. 

Melalui para pengunjung yang dengan santai bercerita, aku sempat terkejut juga, lho, bahwa mereka jadi semakin ingin mengenal Turki lebih dekat, setelah menonton sinetron-sinetron Turki yang ditayangkan di telivisi-telivisi nasional kita, lho! *Hayyah! Hehe. Bisa aja, yak? 

Kalo Sobats? Suka juga kah nonton Turkish Movies? Ingin ketemu Paman Selim dan Shehrazat juga kah? Hihi. 


catatan kecil,
Al, Margonda Residence, 19 November 2015



Read More
/ /
Hari ini, sejak di kantor tadi, aku tuh udah pengen banget untuk segera ke laptop, demi mengerjakan beberapa PR yang tertunda. Yup, beberapa pending blogpost baik di blog ini, mau pun blog yang satu lagi, sudah antri untuk dituntaskan. Kesibukan akhir-akhir ini, memang sungguh menyita waktu, ditambah pula dengan perjuangan dari rumah ke kantor atau pun sebaliknya, yang sukses menguras tenaga karena butuh kekuatan prima untuk bisa tegak berdiri di dalam himpitan sesama penumpang komuter line mau pun busway, yang telah menjadi kendaraan harianku menuju ke kantor, mau pun sebaliknya. Yes! I am a Rocker now! Haha. Awalnya, aku ga ngeh apa itu rocker. Aku kira malah penyanyi rock. Ealah, ternyata rocker adalah istilah untuk pengguna komuter line. Hihi.

Lanjut tentang keinginanku untuk segera menuntaskan utang postingan, maka sepulang kantor, tanpa buang waktu, kecuali untuk menyiapkan semangkuk mie instant yang yummy, plus secangkir kopi luwak, maka mulailah aku menulis. Secara persiapan untuk ngeblog, rasanya udah sempurna banget, deh! Dan emang sih, di awal-awal, tulisan mengalir lancar. Serius! Etapi, di tengah jalan, saat beberapa jendela aplikasi terbuka di layar monitor, maka kekacauan itu pun hadir.

Whatsapp yang sengaja aku hadirkan di layar monitor mulai memanggil-manggil. Obrolan di grup begitu hangat dan sayang rasanya untuk dilewatkan. Belum lagi godaan untuk utak atik gambar di sebuah aplikasi online yang begitu menarik minat, hadooh! Betul-betul menggoda iman.

Maka, tak ayal, daku pun tergoda rayuan setan yang terkutuk. Blogpost yang sedang dikerjakan pun tertinggal, beralih ke halaman aplikasi utak atik gambar, sambil terus berkecimpung di dalam obrolan hangat di grup Blogger Bandung yang emang sedang seru-serunya. Bolak balik antara whatsapp grup dan utak atik gambar, membuatku benar-benar happy dan terlena. Ingat sih, bahwa ini tulisan-tulisan utang harus segera dilunasi, tapi apa daya, Sobs?

Hobbyku pada utak atik image, memang selalu saja mampu mengalahkan hal lainnya, apalagi ini adalah aplikasi yang baru saja aku kenal, jadi wajar bangetkan jika minatku terpaku pada trying this new tools and being excited for the output I made? Hihi.

Header for facebook
Header baru untuk twitter
Hobbyku pada bunga, membuatku pantang melihat bunga deh, baik bunga asli, bunga plastik atau hanya sekedar gambar bunga, selalu saja mampu membuatku happy. Apalagi kalo bunga bank, yak, pasti bikin daku lebih happy, deh! Haha




Tak hanya bikin banner untuk diri sendiri, Sobs, aku malah keranjingan untuk bikinin banner untuk cover twitter dan facebooknya sohib-karib Nchie Hanie yang juga lagi pengen ganti cover. Aku pun semakin happy dan terlena.

cover FB Nchie Hanie

Jadi deh aku lupa diri, hingga akhirnya tersadar bahwa waktu telah beranjak ke tengah malam buta. Hadoh, besok kudu ngantor pula. Mata juga sudah mulai sipit, dan pekerjaan yang pending [bikin blogpost] tampaknya harus ditunda ke esok hari. Hm, apaboleh buatlah, ya, Sobs, terkadang, kita memang harus memanjakan diri dengan menuruti kata hati, melakukan apa yang disukainya walo taruhannya adalah pekerjaan jadi tertunda. *aih, ini mah mencari pembenaran, Al!

What ever, hari telah larut, pak tua ngantuk! *ih, ini mah lagu! Ah, sudahlah, Al, you are tired, go to bed now, take a good rest agar besok bisa bangun dalam keadaan fresh. Untuk pending work, besok aja deh dipikirin. 

Dan, Alaika pun melipir, tentu saja setelah mematikan Macsy. Godaan lain pun menanti. Hm..., ya sutra lah yaaa, see you tomorrow on the next post, Sobats tercinta!

catatan kecil asal jadi,
Al, Margonda Raya, 18 November 2015

Note : 543 words
Read More
/ /
Yup, judul di atas, adalah yang paling pas untuk mewakili sebuah tragedi yang baru saja berlalu. Untungnya, kini aku sudah bisa sedikit bernapas lega, karena Macsy [Macbook kesayangan] sudah sembuh kembali. Sebelumnya, aseli, Sobs, ga enak makan ga enak tidur, deh!  Habis, 'alat perang utama' yang selalu temani keseharianku itu, ambruk gegara 'emak'nya ini kepedean melakukan sendiri proses upgrading sistem operasi si Macsy. Sebenarnya sih, jika saja bukan karena sembrono alias teledor, musibah itu ga akan terjadi, sih. Etapi, ya sudahlah, mungkin itu juga adalah cara Allah untuk mengingatkan aku agar ke depannya tidak lagi teledor seperti itu. *Lesson Learnt.

Seperti yang pernah aku ceritakan pada postingan sebelumnya, gara-gara terlalu yakin akan kemampuan sendiri, alias kepedean, aku dengan santai meng-upgrade system operasinya Macsy, yang memang ditawarkan pada fitur App Store. Habis, udah lama juga sih ingin membawanya ke toko untuk meng-upgrade OS Xnya, dari Mountain Lion ke OS X El Capitan yang lagi ngehits itu. Tapi belum sempat-sempat ajah. Bisa sih, ngupgrade sendiri, tapi terhalang pada kekuatan koneksi internetnya. Itu pula yang selalu menghalangi aku melakukan upgrading sendiri.

Nah, giliran sudah punya koneksi stabil di rumah, yakin donk, doing upgrading sendiri itu ga akan sulit alias gampil! Maka beraksilah aku. Menekan tombol upgrade dan menanti proses downloading yang berjam-jam sambil terkantuk-kantuk. Singkat cerita, karena ketiduran dan kehabisan batre laptop, proses upgrading itu pun gatot alias gagal total, Sobs! Lebih parahnya lagi, Macsy sekarat, tak bisa log in lagi. Jadi setiap aku coba power on, yang muncul hanya icon apple kroak tok. Hiks..., gawat, gawat dan gawat!

Bener saja, walo sudah aku coba berulang-ulang mengikuti tutorial demi tutorial untuk menyembuhkan Macsy tersayang, tetap saja, kemampuanku yang hanya emak-emak blogger dengan pengetahuan IT yang masih cetek ini, tak mampu merecovery Macsy. Kacau! Kuyakini bahwa seluruh data yang tertanam di dalam tubuh Macsy juga sudah raib tersapu gelombang kekacauan tadi. Ampyuuun, kenapa sih tadi aku begitu pede? Sok pinter? Untungnya, aku menemukan seorang ahli yang bersedia merecovery Macsy dengan harga yang bersahabat. *Indonesia banget, yak? Udah rugi tetap aja untung, hehe*

Maka, Macsy pun menjalani a day care di klinik itu, sambil aku tinggal bekerja. Dalam hati sih sempat was-was, bisa ga, ya, Macsy sembuh lagi? Kalo enggak? Hiks.... aku belum sanggup beli Macbook Air lagih. Untuk Intan aja belum keganti, masak harus beli untukku lagi?

Untungnya, oleh si 'dokter' yang memang ahlinya itu, Macsy berhasil disembuhkan, Sobs. Cuman..., all the data has been lost! Hadeuuuh! Semuaaaaa..... Hiks. Nyesal banget ga aku back up. Lebih bodohnya lagi, aku tuh ga pernah mengaktifkan Time Machine, fasilitas khusus di MacBook, yang sebenarnya bisa digunakan sebagai salah satu sistem recovery, jika terjadi hal-hal seperti ini. Aih, emanglah yaaaa, pembelajaran itu mahal banget harganya!

Analisa Penyebab Macsy Sekarat

Jadi, ternyata penyebab sekaratnya Macsy itu, bukan hanya disebabkan oleh hybernating alias lowbat, saat proses installing itu, lho, Sobs. Aku lupa bahwa di dalam tubuh Macsy itu ditanam dua sistem operasi, yaitu Mac dan Windows. Istilahnya, aku memasang paralel desktop pada Macsy, sehingga bisa bekerja di dua sistem operasi pada saat yang bersamaan, tinggal geser-geser layar, gitu, deh.

Nah, celakanya, saat melakukan upgrading, harusnya aku remove dulu si paralel desktop tadi, agar tidak crash. Ya, namanya juga emak-emak, yak? Banyak lupanya, plus pula pengetahuanku tentang hal ini masih di bawah rata-rata, jadi ya ngono, deh! Macsy pun padam, pada saat proses installing the new OX. Hehe. Emaknya pun melongo lalu mengusap air mata. Hihi.

Untungnya, Macsy sudah recovery, dan kini sudah berjalan dengan sistem operasi yang baru, the OS X el Capitan, gitu, lho! Alhamdulillah. *Ntaran, aku akan jauh lebih hati-hati dan ga akan teledor lagih, semoga.*

Al, Margonda Raya, 12 November 2015


Read More
/ /
Met malam, Sobats tercinta! Malam ini, ingin nulis santai tentang shopping, ah! Ada yang tidak suka shopping? Hehe. Kalo aku sih, hobi pake bingits! Etapi, terkadang emang harus direm, sih. Habis, suka kalap kalo sedang lihat 'sale', promo, special discount dan semacamnya. Heuheuy! 

Apalagi sekarang ini, nih, Sobs! Di era generasi e-commerce seperti ini. Di mana sebuah transaksi belanja cukup dilakukan melalui tarian jemari di depan layar laptop, desktop, atau malah via gadget. Amboy, semakin sulit nih menahan godaan setan yang terkutuk. Tak hanya itu, kehadiran online shopping mal aka e-commerce yang kian beragam dan terpercaya semakin membuat netizen bingung memiliki banyak pilihan untuk menjelajah dari online shopping mal yang satu ke online shopping mal lainnya.

Beragamnya e-commerce alias online shopping mal ini, tak dapat dipungkiri adalah efek dari semakin pesatnya perkembangan teknologi informasi, yang telah meretas jarak, menyingkat waktu, dan menjadikan kita tak lagi perlu berjibaku menembus kemacetan. Cukup dengan beberapa klik, pilah pilih barang yang hendak kita beli, lakukan transaksi, maka barang yang telah masuk ke keranjang belanja pun siap untuk dikirimkan ke alamat kita.

Etapi, jangan salah, tetap saja, ketelitian di dalam memilih e-commerce atau online shop, adalah faktor yang tidak boleh dianggap sepele. Iya, donk! Ketelitian itu KUDU. Ga mau donk duit melayang tapi barang yang dibeli malah tak sampai ke tujuan? Jadi, sebelum berbelanja, pastikan dulu bahwa e-commerce tempat kita akan berbelanja itu AMAN terPercaya. Ga Neko-neko.

Ternyata perusahaan internet no 3 di dunia, lho!

Bicara tentang e-commerce terpercaya, nih, Sobs! Pasti udah pada ngeh donk jika sekarang ini ada belasan bahkan mungkin puluhan e-commerce besar di Indonesia? Nama-nama besar seperti Elevenia, Blibli, Lazada, Zalora sampai OLX, bahkan Kaskus dan Mataharimall pasti sudah sangat familiar di telinga dan mata kita kan, ya? Etapi, tak hanya itu saja, lho, ada yang paling baru, nih, yang baru saja launchi minggu lalu, yaitu JD.

Aih, JD? Kok rasanya baru dengar? Yup, nama yang satu ini emang rada asing di telinga kita, sih. Tapi justru karena masih asing itulah, aku jadi penasaran dan ingin tau lebih jauh tentang perusahaan/e-commerce yang satu ini. Mana tau justru menghadirkan lebih banyak kemudahan dan keuntungan bagi kita, ya enggak? Dan hasilnya?

Hasilnya adalah..., kasih tau enggak, ya? Hehe.
Yup, ternyata JD bukanlah pemain baru dalam bidang e-commerce ini. Perusahan online store B2C ini adalah yang terbesar di Cina, lho! See? Melalui berita di Detik, aku baru tau bahwa JD adalah raksasa e-commerce Cina, yang kini mengembangkan sayapnya di Indonesia. Dan bukan cuma gertak sambal, perusahaan ini memang benar-benar gede pake bingits, lho! Simak, deh, data-data berikut ini:


-    Masih mengutip dari Kompas, JD di sepanjang tahun ini telah mencatat revenue senilai USD. 29,6 miliar, lho! Wow, kalo dikonversi ke rupiah, ituh duit bisa penuh segudang kali, ya? Mungkin angka ini yang membuatnya jadi perusahaan online store terbesar di Asia.


-   Tapi tak hanya itu, yang lebih menarik lagi adalah data yang tertulis di Wikipedia. Ini lebih amazing beijing, karena JD disebutkan sebagai perusahaan internet terbesar ketiga di dunia berdasarkan revenue. Mengalahkan Facebook, Yahoo, bahkan Alibaba yang lagi naik daun itu. Penasaran? Coba, deh liat disini.

Etapi, jika memang e-commerce yang satu ini adalah perusahaan raksasa, kok gaungnya ga begitu bunyi, yak? Setidaknya kok iso lepas dari pantauan eikeh, gitu, lho! Perasaan pengamat kawakan aja, nih, kamu, Al!


Hm..., jawabannya mungkin, ya, karena budaya mereka yang nggak terlalu suka publikasi, kali, ya? *tanya sendiri jawab sendiri. Atau mungkin mereka penganut “sedikit bicara banyak bekerja”?. Soalnya kehadiran mereka di Indonesia juga nggak banyak pengumuman kan? Yah, seenggaknya belum sekalipun, tuh, aku lihat ada iklan JD di tv, atau mungkin aku yang luput? Sobats sendiri pernah lihat? Padahal kalau dilihat dari kekuatan perusahaannya, ngiklan di tv mah harusnya gampil,yak? Hehe. Toh, mereka juga berani pake domain 2 karakter www.jd.id yang konon harga domainnya saja bisa ratusan juta. 



Sedikit meringkas, nih, Sobs! JD adalah perusahaan asal Tiongkok, dan resmi beroperasi di Indonesia mulai 30 oktober 2015. Masih muda banget, ya? Tapi karena sudah berpengalaman belasan tahun di Cina, layanannya memang terbukti berkelas. Sebut saja beberapa klaim di webnya; produk yang dijual semuanya asli 100%, program pengembalian uang, harga dijamin kompetitif, hingga jaminan pengiriman satu hari sampai khusus untuk wilayah Jabodetabek. Hadehh.. bikin pengen gesek-gesek aja, apalagi pas liat harga iPhone 6s yang cuma 9.5 juta, wow! Bener-bener godaan dan berpotensi bikin isi rekening berkurang, nih! Hihi.


Ada apa aja sih di JD.id?


Layaknya e-commerce kawakan kelas kakap, JD juga menyediakan berbagai metoda pembayaran dan seabrek program promo diskon. Hanya saja mereka tampaknya masih fokus menggusung produk elektronik dan gadget. Jadi kalau Sobats nyari barang mulai dari smartphone, tablet, komputer, laptop, kamera, televisi, hingga perangkat game semacam Sony PS4, bolehlah main ke JD. Harganya tuh, bersahabat banget, lho!  Coba, deh, ceki-ceki ke www.jd.id.  

Aku sendiri jadi mupeng untuk nyobain shopping di web ini, kebetulan Lenovo A2010 dengan harga bersahabat itu, melambai banget untuk dimiliki. Sekalian pengen ngebuktiin layanan COD dan pengirimannya yang diklaim sampai satu hari. Hmm.. bakalan bener, ga, ya?

Aman ga, sih, belanja di JD?

Nah ini pertanyaan paling penting dalam belanja online. Menurut logika dan rasionalku, nih, ya amanlah! Berkaca ke Tiongkok sana, JD memiliki lebih dari 100 juta pelanggan aktif dan menguasai 49% penjualan online ritel. Masak dengan kredibilitas setangguh ini, JD mau bersikap curang dan merugikan pelanggannya kan?

Nah, buat yang lagi cari gadget atau barang elektronik, ga ada salahnya untuk mampir ke JD, mumpung masih banyak digelar harga promo bin spesial. So? Hayuk atuh disikat, Sobs!! :D

Alaika,
Margonda Residence, 3 November 2015
Read More