Archive for 2015
Menu
/ /

Ki-Ka: Bang Aswi, Kang Ali Muakhir, Alaika Abdullah, Meti Medya, Tian Lustiana,
 Efi Fitriyah, Nchie Hanie dan Eduard de Grave

Postingan Komunitas Blogger Bandung, adalah lanjutan dari cerita kita kemarin tentang komunitas. Yes, masih pengen ngobrol tentang pentingnya berkomunitas, nih, Sobs! Dan kali ini, aku ingin bercerita tentang komunitas di mana para blogger Bandung mangkal, nih! Blogger Bandung, bisa berarti sebagai blogger yang ber-KTP Bandung dan bekerja di Bandung, atau ber-KTP Bandung tapi kerja di luar Kota Bandung, atau bisa juga blogger yang non KTP Bandung tapi berdomisili dan bekerja di Bandung.

Bicara tentang Blogger Bandung, memang tak bisa lepas dari sebuah perjalanan mengasyikkan dari Bandung ke Solo, dalam rangka acara Asean Blogger pada tahun 2013 yang lalu. Di dalam perjalanan menuju kota ini lah yang menjadi cikal bakal terbentuknya kumpulan blogger Bandung, yang kini beken dikenal sebagai komunitas Blogger Bandung. Adalah sosok itu [baca: Bang Aswi], bersama dengan Nchie Hanie, Meti Medya, Evi Sri Rezeki dan Kang Ade Truna yang menjadi rombongan peserta Asean Blogger Gathering, yang berasal dari Kota Bandung. Aku sendiri, berangkat ke sana sebagai salah satu bentuk hadiah dari anugerah Srikandi Blogger 2013, yang dihibahkan ke pangkuanku. Yes, I am a Srikandi Blogger 2013, hehe, dan dapat tiket gratis deh untuk PP Bandung Solo and Vise Versa.

Sepulang dari Solo, obrolan ringan tentang 'kumpulan blogger Bandung' itu tidak tenggelam begitu saja, melainkan ditindaklanjuti oleh sosok itu, dengan keikutsertaan tim blogger Bandung di dalam beberapa kegiatan sosial yang sedang dilaksanakan di Kota Bandung, seperti Bandung Bebersih Yuk, di mana pada acara ini lah, logo Blogger Bandung pertama kali digunakan. Kemudian, tim Blogger Bandung mendapat undangan untuk piknik sekaligus mereview Floating Market Lembang, yang baru saja launching kala itu, dilanjut dengan berkunjung dan meet up dengan Teh Eka, pemilik Kaos Gurita bisa ngomong yang fenomenal itu, di mana akhirnya menelurkan kaos kebangsaan kaum blogger, 'Sumpah, aku ini Blogger!' yang akhirnya me-Nusantara.

Kiprah ini terus saja berlanjut positif. Bertambahnya partisipan [member] yang ingin bergabung di dalam kumpulan Blogger Bandung ini, akhirnya mengarahkan sosok itu untuk menciptakan grup di FB, teteup dengan nama yang sama, yaitu Blogger Bandung FB Group. Sengaja tidak menetapkan pengurus, karena kala itu, rasanya ga perlu lah sampai ada pengurus segalanya. Semua terbuka dan siapa saja bisa posting dan memberikan undangan terhadap acara-acara yang mengundang Blogger Bandung.

Namun, seiring dengan semakin diliriknya profesi blogger oleh brands dan agencies, sebagai ujung tombak promosi online, maka, kepengurusan terhadap sebuah komunitas pun mulai dipertanyakan. Oleh siapa? Oleh brand atau agency yang mengundang. Mengapa? Ya pasti lah, karena mereka butuh PIC atau orang yang bisa dimintai pertanggungjawab atau menjadi koordinator. Tak hanya itu, mereka juga memandang perlunya tim pengurus dari suatu komunitas, sebagai wujud dari credibilitas komunitas itu sendiri.

Selain dari kebutuhan di atas, sosok itu, selaku founder Komunitas Blogger Bandung, juga merasa bahwa sudah saatnya FB group Blogger Bandung alias Komunitas Blogger Bandung dirapihkan. Diberi aturan dan outline agar tertib dan rapih serta bisa tampil lebih profesional.

Hanamasa, Rabu, 9 December 2015

Bertempat di Hanamasa, Dago - Bandung, bertepatan dengan kumpul-kumpul dan makan-makan dalam rangka merayakan ultah si kembar [Bang Edo dan Meti Mediya], maka kesempatan baik ini juga sekalian dimanfaatkan untuk launching Komunitas Blogger Bandung, yang telah melalui proses musyawarah dan mufakat dengan para sesepuh [pencetus awal terbentuknya komunitas ini].

Turut pula dihadiri oleh para mitra yang telah dan sedang bekerjasama dengan Komunitas Blogger Bandung selama ini, ada Teh Sandra dari XL, Kang Renzha dari Klinik DF, Teh Eka dari Kaos Gurita, Kang Argun dari DewaSeo, Teh Damae dari Smartfren Community dan Kang Gery dari Qwords. Komplitlah acara sederhana peluncuran Komunitas Blogger Bandung ini terlaksana.

Tadinya, aku dan Nchie Hanie, hanya ingin jadi 'rakyat' biasa sih, mengingat kesibukan harian kami yang sedang tinggi-tingginya. Takutnya nanti tidak optimal di dalam menunaikan tanggung jawab sebagai pengurus di Komunitas ini. Namun mengingat satu dan lain hal, apalagi sosok itu juga mengharapka agar kita-kita bersedia membantu dan terlibat di dalam pengurusan Komunitas inni, maka Bismillah, dengan niat tulus, rasanya tak ada salahnay jika aku turut mensupport Komunitas ini semampuku. Posisi sebagai Sosial Media and Website Officer, berbarengan dengan Bang Edo, adalah posisi yang paling pas mengingat keberadaanku yang nun di Depok sana, dan baru akan ada di Bandung hanya pada akhir pekan.

Semoga langkah baik akan senantiasa mengikuti setiap usaha dan upaya memajukan komunitas ini sehingga mampu memberikan manfaat bagi para anggotanya nantinya. Aamiin. Dan bagi Sobats blogger yang berdomisili di Kota Bandung, atau ber-KTP Bandung, yuk, bergabung di Komunitas ini, bergandengan tangan dan jadi blogger yang produktif penuh tebaran manfaat, yuk!

Tentang Komunitas Blogger Bandung,
Al, Margonda Raya, 27 Dec 2015
Words; 730
Read More
/ /


Hari ini, tepatnya 11 tahun yang lalu. Setiap anak bangsa, pasti akan langsung melesat tajam ingatannya ke masa itu. Masa-masa yang dalam hitungan menit menjadikan bangsa Indonesia, utamanya anak manusia di Nanggroe Aceh Darussalam serta merta berkabung. Suatu masa yang dengan tragis menjadikan seorang istri menjadi janda, seorang suami menjadi duda, anak menjadi yatim atau piatu, atau bahkan menjadi yatim piatu. Suatu masa di mana manusia meregang nyawa secara massal, oleh sebuah gelombang dasyat bernama tsunami. Yang kedatangannya diawali oleh sebuah gempa yang sepanjang umur masyarakat kala itu, belum pernah merasakan goncangan hingga 9,1 skala Reichter itu. Sebuah goncangan yang serta merta melongsorkan bangunan semegah hotel Kuala Tripa, menjadi puing-puing yang menumpuk di atas tanah retak. Sebuah gelombang yang mampu menghantarkan sebuah kapal pembangkit tenaga listrik yang sedianya mengapung di tengah lautan, justru hadir dan mendarat di atas atap dua buah rumah, dan membuat si rumah penyet akibat tak kuasa menahan beban berat sang kapal. Remuk.

Sebuah goncangan yang tak lama sesudahnya, justru menyurutkan air laut, menggeleparkan ikan-ikan oleh mengeringnya air laut, lalu dengan serta merta, justru menghadirkan kembali gelombang lautan dalam kekuatan maha dasyat yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Tsunami, nama gelombang itu. Belum pernah terngiang di telinga siapa pun kala itu, sehingga tak ada persiapan apalagi antisipasi di dalam menghadapinya.

Gelombang ini pula, yang telah mengirimkan sebuah balok kayu untuk menghantam mata kaki Ayahandaku, kala beliau sedang mencoba menyelamatkan diri. Mencoba untuk menaiki anak tangga menuju lantai dua sebuah surau di dekat rumah kami, dalam upaya menyelamatkan diri dari amukan sang gelombang. Arus air bah ini pula, yang kemudian menyeret ayah yang terjatuh, dan mengombang-ambingnya hingga ratusan meter, tersangkut di kawat duri sebuah pagar, dan tenggelam di dalam air berlumpur kelam. Jika saja tangan Tuhan tak meraihnya kala itu, maka kami tak akan pernah lagi bertemu dengan lelaki yang kami panggil Ayah itu.

Namun, jika ajal belum menjemput, maka ada saja mukjizat penyelamat di tengah amukan bencana. Setelah dihumbalang oleh amukan gelombang, secara ajaib Ayah berhasil meraih sebuah dahan, dan memanjat serta duduk bergelayut di atasnya. Mencoba sekuat tenaga untuk memeluk sang dahan, agar dasyatnya arus gelombang tak berhasil menyeretnya kembali ke dalam amukan lumpur kelam.

Tsunami, menyisakan banyak keajaiban dan duka lara bagi para survivors. Tsunami, menjadikan Aceh sebagai laboratorium raksasa, di mana umat manusia bisa menjadikannya sebagai tempat pembelajaran for a better life after the disaster. Tsunami pula, dibalik duka lara yang dilukisnya, menyisakan perjuangan hidup dan makna akan mahalnya arti kehidupan bagi para survivors atau siapa pun yang menaruh perhatian akannya.

Hari ini, 26 December 2015, 11 tahun setelah bencana. Aceh, telah kembali berdandan apik. Menapaki Kota Banda Aceh hari ini, orang tak akan percaya jika Kota ini pernah diamuk gelombang dasyat bernama tsunami. Tak ada tanda-tanda bahwa ratusan ribu mayat pernah bergelimpangan di segala penjurunya. Aceh telah berubah, menjadi sebuah kota keren berselimut ilmu pengetahuan dan kemajuan. Aceh telah berhasil bangkit, for a better life, a better place to stay and a better governance, hopefully. :)

Hari ini, selain memperingati hari tsunami, kota yang terkenal dengan istilah kota seribu warung kopi berhotspot ini, akan pula menyelenggarakan sebuah agenda keren bertajuk Aceh Thanks To The World. Ber-hashtag #AcehThanks2TheWorld, Aceh Smartcity bersama rakyat Aceh, akan menjadikan agenda ini sebagai langkah awal [launching] kegiatan keren berupa pendampingan bagi gampong-gampong di Aceh agar dapat memiliki website desa-nya. Sehingga menjadi desa-desa yang melek IT dan siap memperkenalkan kelebihan desanya pada dunia.

Output dari agenda ini adalah diharapkan agar di 26 Dec 2016 nanti, akan ada 6000 web gampong yang siap untuk tampil di satu pusat pameran utama berkelas nasional yang juga akan menghadirkan desa2 lainnya di luar Aceh. Wow! Semoga, pembelajaran yang diberikan oleh tsunami, akan menjadikan Aceh a better province, life, community and governance. Aamiin. Thanks to the world!


dibalik bencana, ada hikmah yang tersembunyi,
Al, Bandung, 26 Dec 2015. 
Words; 621
Read More
/ /


I am a professional blogger! Malam ini, aku jadi tergelitik untuk menulis tentang sebuah 'profesi' baru bernama Blogger. Sengaja pakai tanda petik, karena sebenarnya usia blogging/blogger bukanlah seumur jagung. Hanya saja, karena dunia blogging dan profesi sebagai blogger sedang naik daun, sedang dilirik secara serius oleh agencies dan brands ternama, maka pekerjaan menulis blog pun menjadi sebuah profesi baru yang menjanjikan prospek cerah bagi para blogger. Bahkan, beberapa teman jurnalis yang pernah meliput acara Festival TIK 2015 yang lalu, sempat chitchat tentang prospek cerah di dunia blogging ini, hingga akhirnya mereka pun tertarik untuk go blogging, dengan harapan juga akan bisa earning income, seperti blogger-blogger lainnya. Of course, every one is free to be a blogger, right?

Di tengah geliat antusiasme bloggers untuk beroleh penghasilan, untuk bisa dilirik dan mendapat orderan dari agencies and branded brands, berbagai upaya pun dilakukan oleh para bloggers. Kaum optimist dengan gegap gempita dan bersemangat berupaya untuk meningkatkan kinerja dan performa blognya, menjadikannya sebuah blog yang credible sehingga akan menuai cring-cring [baca: earning money]. Meningkatkan pengetahuannya agar mumpuni di dalam mengemas ide dan mengolah kata, merapikan atribut dan aksesoris blog agar tampil maksimal dan menarik serta gampang diakses oleh para visitors, dan berbagai upaya positif lainnya.

Sebagian lainnya, tetap pada jalur mereka sendiri.

'Mba Al, mah, emang keren. Srikandi Blogger, gimana ga banyak dapat job? Saya apa atuh, cuma blogger biasa, blogger curhat, bla bla bla...'. 

Hellooo, kata adalah doa, lho! Ucapan adalah sugesti hati, yang akan mengirimkan perintah ke otak kita untuk mengiyakan apa yang terucap itu.

Sebenarnya, aku juga blogger curhat, alias blogger yang suka juga curhat di blog. Toh itu blog adalah blog kita sendiri, jadi suka-suka kita donk mau nulis apa? Hehe. Etapi, aku sih, seiring dengan perjalanan waktu, mulai mikir, ingin agar tulisan-tulisanku bisa lah memberi manfaat bagi pembacaku. Jadi walo masih sering nulis curhatan, teteup aku usahakan agar curhatan itu berbentuk positif dan bermuatan inspirasi bagi pembacaku.

Adalah hak kita kok, mau mengaku sebagai blogger apah. Kalo aku sih dengan pede menuliskan 'Professional Blogger' di mana pun bahkan di CV/Resume saat melamar pekerjaan, sebagai salah satu pekerjaan yang aku lakoni.

Dan seperti dugaanku, mencantumkan profesi tambahan ini [proffesional blogger] memberi nilai tambah yang signifikan bagi CV, sehingga memiliki daya tarik tambahan untuk berpeluang dipanggil mengikuti proses rekrutmen. Beberapa kali, aku mendapatkan panggilan untuk menjalani test dan interview, dan di dalam interview itu, pihak penginterview mengatakan bahwa mereka tertarik untuk menghire seorang professional blogger pada posisi yang sedang mereka buka itu, karena mereka membutuhkan orang yang punya kemampuan copy writing untuk mendukung publikasi, reporting dan media coverage project mereka . See? Professional blogger mulai dipandang dengan hormat dan dibutuhkan, lho! Be confidence!

How to Be a Professional Blogger?

Hm, pertanyaan yang gampang-gampang susah menjawabnya, Sobs!
Gampang, jika kita sepakat akan arti/versi professionalnya. Professional menurut versiku adalah, bersikap serius [tidak main-main] setiap melakukan sesuatu. Misalnya nih, ketika kita hendak menulis tentang sebuah topik. Tulislah dengan serius [bukan kalimat-kalimatnya harus berat dan serius, lho, ya!], melainkan, isi dari tulisan yang kita hasilkan itu, walau pun hanya postingan ringan, tapi mencerminkan niat hati kita yang memang sengaja ingin sharing tentang itu. Jadi, tunjukkan keseriusan di dalam membahas sebuah topik. Boleh saja, dan harus malah, menggunakan gaya menulis kita sendiri. Use our own character and writing style! Jangan lupa, professionalitas seorang blogger, menurutku, juga dinilai dari kedisiplinannya terhadap deadline, outline yang dibutuhkan [content] dan sikap penuh tanggung jawab terhadap tugas-tugas yang diemban.

Sobats punya tips tambahan agar kita bisa lebih proffesional dalam blogging? Sok atuh ditambahkan di kolom komentar, ya! Nuhun...

sharing ringan seputar dunia blogging,
Al, Margonda Raya, 25 Dec 2015
Words: 591



Read More
/ /
komunitas itu penting

Yuk, berkomunitas dengan apik! Bukannya latah dan ikut-ikutan menelurkan tulisan bertema komunitas. Tapi emang pengin aja nulis tentang komunitas dan pentingnya berkomunitas. Karena bagiku, berkomunitas itu memang penting dan banyak sekali manfaatnya, lho! Jadi keingetan saat awal-awal berkenalan dengan dunia blogging, di awal tahun 2008, saat masih disibukkan oleh pekerjaan di dunia humanity, di salah satu project tsunami recovery, di Aceh dahulu. Saat itu, adalah saat awal aku jatuh hati pada online diary bernama blog. Dikenalkan oleh seorang teman, yang aku ga tau deh, apakah saat ini doi masih rajin ngeblog atau tidak, karena orangnya hilang di dunia antah berantah. Lost connection, semoga saja doi baik-baik saja dan semoga masih berada pada planet yang sama, dan masih di atas permukaan bumi ini. Aamiin. [Dewi.... where are you? I missed you badly, lho!]

Awal ngeblog, aku sama sekali buta akan langkah-langkah apa yang seharusnya aku lakukan agar postinganku mampu menyumbangkan kunjungan. Aku ga ngeh apa yang harus dilakoni agar postingan menuai komentar. Selesai posting, ya sudah, diem, dan balik ke pekerjaan harian. Hanya satu hal yang aku rasakan, karena niat awal menulis adalah untuk sharing dan juga self-healing, ya sudah, ga papa juga kalo ga ada yang berkunjung, setidaknya, ini adalah bentuk self healing atau terapi jiwa, yang beneran bikin daku fresh dan lega setelah menuangkan buah fikiran ke dalam tulisan.

Masih ingat juga aku kala itu, punya beberapa teman Blogger se-nusantara, tapi jarang sekali yang dari Aceh, kami sama-sama menggunakan shoutbox sebagai salah satu aksesoris blog, di mana lebih senang meninggalkan chitchat di situ daripada menulis komen di kolom komentar. Hingga, walo blogwalking, membaca postingan, kami dengan senang hati menuliskannya di chatbox. Hayyah! Lucu juga kalo diingat-ingat sekarang ini. Hehe. Berbekal hubungan pertemanan via chatbox itu pula, aku jadi punya akses untuk menimba ilmu pada para blogger yang telah lebih dulu mumpuni dibanding diriku sendiri. Bisa belajar tentang utak atik blog, yang ternyata begitu mengasyikkan dan bikin melek dunia utak atik.

Pentingnya bergabung dengan Komunitas Blogger




Seorang blogger, sehebat apa pun postingannya, jika bergerak sendiri, tanpa dukungan komunitas, tentu pamornya tak akan sedasyat jika dia bergabung dan didukung oleh berbagai komunitas yang diikutinya. Setuju, Sobs? Itu menurutku, sih. Tapi, alasanku bergabung dengan aneka komunitas blogger yang ada di tanah air, sih, karena aku memang senang sekali menjalin pertemanan. I love to enhance my networking! I also love to increase my capacity by engaging myself to the knowledge shared in the communities. Yup, bergabung dengan aneka komunitas, semakin memperluas jaringan pertemanan, menambah relasi dan pengetahuan pastinya. Selain itu, dengan bergabung di berbagai komunitas, semakin luas peluang kita untuk share artikel-artikel yang sudah kita tulis, kan? Bener ga, sih, Sobs?

Joining the Communities

Sayangnya, di jaman eikeh dulu, Sobs, komunitas-komunitas blogger belum sebanyak ini, lho! Waktu di Aceh, daku merasa sendirian, padahal kala itu semangat blogging sedang luarbiasa hebatnya. Jadilah aku seperti bergerak sendiri. Untungnya, memasuki tahun 2010, mulailah aku berkenalan dengan beberapa komunitas, bahkan kemudian aku mengenal komunitas Aceh Blogger Community, yang menjadi pijakan awal aku berkomunitas. Selanjutnya, ada Kumpulan Emak Blogger, yang foundernya adalah Emak Founder [MakPon] Mira Sahid, sang sohib online yang kemudian mengajakku bergabung pada komunitas yang didirikannya. Gairah dan semangat ngeblogku terdongkrak drastis! Blogging is a really fun and truly self-healing. 

Jika kebanyakan teman-teman blogger ngeblog untuk menghasilkan pundi-pundi penghasilan, maka kala itu, aku sungguh sadar diri, bahwa mustahil menuju ke sana saat itu, karena aku masih terikat kontrak kerja di UNDP yang bener-bener menyita waktu. Jadilah daku tak ngoyo untuk earning money from blogging, walo sebenarnya, ya pengen banget lah!

communties
Kubujuk hatiku untuk bersabar. Akan ada masanya aku sampai pada tahap itu. Yang penting saat itu adalah, enjoying this blogging activity, updating my blogs and sharing my thought and knowledges. Itu saja dulu. Blog Monetizing, ntar aja, kalo saatnya tiba. Menulis saja dulu, ikutan kompetisi menulis jika sempat, dengan prinsip 'nothing to lose'. Menang syukur, ga menang juga ga pa-pa. Setidaknya, nambah entry postingan di blog, toh?

Walo begitu, blogging emang banyak berkahnya, lho, Sobs! Ketekunanku membuahkan beberapa kemenangan yang jelas bikin happy. Sebuah galaxy tab kala tablet keren itu baru saja launching beberapa tahun lalu, menjadi milikku sebagai pemenang utama blogging competition yang diadakan oleh sebuah brand ternama, plus beberapa hadiah lainnya yang juga aku peroleh dari ikutan blogging contest.

Belum lagi hadiah-hadiah dari para sahabat yang ngadain giveaway. Wow, sungguh bikin semangat ngeblog makin tinggi. Ditambah pula dengan kepindahanku ke Bandung kemudian. Semakinlah aku memperoleh kesempatan untuk tak hanya say hi dan chitchat di dunia maya, dengan para sahabat blogger. Kepindahan ini juga menyumbangkan kesempatan bagiku untuk semakin erat menjalin silaturrahmi dengan para sahabat dumay ke dunia nyata. Kopdar dengan Nchie Hanie, Teh Dey, Meti Medya, Lidya Fitrian dan Mira Sahid, adalah bentuk nyata pertemanan maya menjadi nyata. Bertemu sahabat yang telah sekian lama akrab di ruang chitchat yahoo messenger hingga ke whatsapp group [lirik : Una, Ririe Khayan dan Mas Stupid Monkey], adalah berkah dari ngeblog dan rajinnya bersilaturrahmi.

Menjadi Srikandi Blogger Utama 2013

Berkah terindah yang sungguh bikin haru adalah ketika diriku terpilih sebagai Srikandi Blogger Utama 2013 dari 150an kontestan. Rasanya sungguh bikin haru. Bukan apa-apa, Sobs. Ngeblog bagiku adalah untuk terapi jiwa, setidaknya kala itu, dan konsisten menulis adalah upaya untuk merampingkan alexa serta memang karena daku hobby banget menulis. Bukan mau ngejar ini itu, hanya ingin mengalahkan tantangan terhadap diri sendiri, bahwa di kala kesibukan urusan kantoran, daku masih sempat lah ngeblog. Eh, Alhamdulillah, test demi test yang harus dijalani selama masa kompetisi pemilihan Srikandi Blogger 2013 itu, membuahkan hasil yang begitu manis. Wow. Alhamdulillah. Thanks to the communities where I joined, yang telah menginspirasi dan memberi dukungan semangat for this achievement!

Yuk, Berkomunitas dengan apik!

Sering mendapat pertanyaaan dari bloggers yang ngakunya masih newbie. Mba Al, gimana sih agar blog kita banyak dikunjungi visitors?

Pertanyaan yang simple ya, Sobs? Hanya sebaris kalimat. Tapi jawabnya, lumayan juga. Hehe.
Kalo aku sih, biasanya akan menjawab begini.

'Gampang, Mba/Mas. Bergabunglah dengan komunitas-komunitas blogger yang credible. Yang memang konsisten dan care pada members-nya.'

Lha, emang ada komunitas blogger yang ga care pada membersnya? Hm, ada, lho! Coba aja cermati, dari sekian banyak group/komunitas di mana Sobats bergabung, pasti bisa Sobats berikan peringkat akan kepedulian dan program serta interaksi yang terjalin di dalam group itu. Kalo menuruku sih, sah-sah saja bergabung dengan puluhan bahkan ratusan komunitas, asalkan kita sendiri cermat dan ga buang-buang waktu.

Awal-awal kenal komunitas, dulunya aku asal klik tombol 'join' the group lho. Namun, begitu berada di dalamnya, sehari dua atau tiga minggu, baru kerasa, mana grup yang interaktif dan mana yang tidak. Mana yang sebaiknya kita lanjutkan karena memberi manfaat dan mana yang sebaiknya kita mundur dari lingkungan itu. Be selective!

Etika Berkomunitas.

Bergabung dengan aneka komunitas, adalah sah-sah saja. Yang paling penting adalah menjaga dan memelihara hubungan baik dengan setiap komunitas. Yang paling baik lagi adalah, jika kita mampu menjadi jembatan penghubung [sinergi] antara komunitas yang satu dengan komunitas lainnya. Itu pastinya tak hanya memberi manfaat bagi kita sendiri, tetapi juga bagi komunitas dan para member lainnya. Bener ga, Sobs?

Sebaik-baik anggota, kalo ga salah, sih, adalah yang mampu memberi manfaat bagi semuanya. Bener apa bener? Selain itu, yang paling penting harus dijaga adalah bahwa etika di dalam berkomunitas. Aku sendiri, bergabung tak hanya di komunitas-komunitas blogger, tetapi juga tergabung di komunitas lain seperti Relawan TIK Bandung [sebenarnya ini sih, bukan komunitas melainkan organisasi], nah, boleh-2 saja, bahkan bagus banget, asalkan kita tau dan jeli di dalam menggunakan bendera dan seragam komunitas. Misalnya, tidak menggunakan seragam Relawan TIK pada saat acara yang sedang berlangsung justru acara kumpul blogger yang diadakan oleh Kumpulan Emak Blogger, dan kapasitas kita di acara ini adalah sebagai pengurus komunitas ini, misalnya. Atau, tidak menggunakan seragam Blogger Perempuan.com justru pada saat menghadiri acara launching Komunitas Blogger Bandung, di mana kita menjadi salah satu pengurusnya, dan bukan berkapasitas mewakili Blogger Perempuan. Ini, misal, lho, yaaa!

Well, postingan ini kayaknya udah panjang banget deh, sudah saatnya untuk segera diakhiri sebelum Sobats semua malah nekad meng-klik tombol close dan meninggalkan postingan ini tanpa komentar. Hehe.  Anyway, Blogging is a self-healing and I will be back for another sharing. 

catatan kecil tentang komunitas,
Al, Bandung, 26 December 2015
Words: 1346
Read More
/ /


Happy Mother's Day, tiga rangkai kata ini begitu bergelora menghiasi timeline mau pun status baik di facebook, twitter, instagram, path, maupun berbagai akun-akun sosial media lainnya, yang berseliweran di jagad maya. Yup, hari ini, Indonesia merayakan hari ke dua puluh dua pada bulan Desember ini, sebagai hari Ibu. Tak heran, jika ucapan Selamat Hari Ibu, atau Happy Mother's Day pun, kemudian menghias status masing-masing pemilik akun.

Aku sendiri, pagi-pagi tadi sudah mendapatkan ucapan ini dari sang pendamping jiwa, di atas pembaringan saat bangun tidur pagi tadi. Ehem. Pelukan lembut diiringi bisikan 'Selamat hari ibu, wanita tangguh, happy mother's day, darling,' sungguh menyejukkan hati. Ada kekuatan dan suntikan semangat dari rangkaian kalimat yang disampaikan dengan cara romantik itu. Hm, jadinya ga ingin bangkit dari tempat tidur, eh, apa daya, cahaya mentari sudah mulai tinggi, dan itu artinya I have to get up and preparing myself to go to work. Huft. 

Tak hanya itu, surprise berikutnya adalah dari Icha, si jinny centil. Ternyata si bocah sudah nge-whatsapp sejak subuh, saat dia usai shalat subuh. Etapi, karena aku tak terlihat read the message, dan tak juga membalas, the jinny kid, akhirnya menelphone.

"Assalammualaikum, Bunda sayang, kok whatsapp Icha ga dibalas, sih?" Serbunya dengan suara kanak-kanaknya.

"Waalaikumsalam sayang, aduh, maaf, Bunda belum lihat hape. Ntar ya, Bunda mau berangkat kerja dulu. Nanti Bunda balas, oke?"

"Oke deh, Bundaku sayang, Bunda cantik, Bunda Malaikat Icha..., selamat hari Bunda yaaa, semoga Bunda panjang umur, murah rezeki, dan bahagia selalu, juga makin sayang sama Icha. Aamiin ya Allah."

Ops, ternyata ini bocah mau ngucapin Happy Mother's Day, toh! Jadi haru deh, ih! Soalnya, dunia mereka kan tidak mengenal ucapan-ucapan seperti ini. Eh, kata siapa? Mereka kan juga mengikuti tren kita? Banyak belajar dan meniru prilaku kita, orang-orang kota. Hehe.

Whatever, yang jelas, ucapan ini semakin bikin hatiku bahagia, deh, Sobs! Semangat untuk berkarya meningkat tajam. Yup, sebenarnya, kita ini butuh suntikan semangat, tak harus melalui materi, cukup dari ucapan dan ungkapan penuh kasih dan cinta, rasanya tenaga pun akan bertambah. Tak harus berupa pakaian dan sepatu baru, tapi cukup melalui apresiasi dan ungkapan yang mengalir dari kalbu, sudah cukup menjadi suntikan penyemangat diri. Begitu kan, Sobs?

Lalu, bagaimana halnya dengan yang belum menjadi Ibu? 
Atau wanita-wanita single yang belum berpasangan alias masih senang ngejomblo? Tak bisa berhari ibu, donk? Kalo kata aku, sih, seperti ini, nih, Sobs!


Yup, Ibu, bukan hanya seorang wanita yang dari rahimnya telah lahir seorang anak, melainkan juga adalah wanita-wanita yang di lubuk hatinya terpancar rasa kasih, dan keinginan untuk memberikan perhatian, kasih sayang, naungan dan perlindungan bagi siapa pun, terutama anak. Jadi, happy mother's day untuk semua wanita tangguh dan penuh kasih! 
Yes, jadi siapa pun orangnya, asalkan dia adalah seorang wanita yang memang di dalam lubuk hatinya terpancar rasa kasih dan perlindungan, sudah sewajarnya mendapatkan ucapan Selamat Hari Ibu. Setuju, Sobs? Begitu juga di kantorku hari ini, beberapa diplomats yang ngeh bahwa hari ini Indonesia merayakan hari ibu, turut serta mengucapkan selamat hari ibu untukku dan kolega-kolegaku yang cewek. What a happy day!

Dan soreku, aku masih mendapatkan surprise dari putri tersayang. Intan. Gadisku yang satu ini, tak ketinggalan bikin surprise. Sengaja dia memancing rasa sedihku, karena tak mendapatkan ucapan Happy Mother's Day [seperti tahun-tahun sebelumnya] hingga sore hari. Membuatku nelangsa dan sedih dengan rasa 'terlupakan' oleh putri sendiri. Ealah, ternyata itu adalah rangkaian triknya untuk membuat anti klimaks bagi uminya ini.

Malam harinya, sebuah pesan dan video nangkring manis di chat room whatsappku, dari Intan. Duh, Nak! Andai saja dirimu di sini, sudah Umi peluk dan cubit2 deh pipi kamu, Nak!

Selamat Hari Ibu

Berlinang air mata ini menyaksikan video singkat kreasi ananda. A bunch of love and thank you so much, my lovely diamond, May Allah blessing you, whenever and whereever you are. My best wishes is only for you, my dear! Muaaach!

catatan hari Ibu,
Al, Margonda Raya, 22 December 2015
words: 631








Read More
/ /
Ga terasa, udah enam bulan juga nih ngantor di Jakarta, tepatnya di seputaran Jakarta Selatan, dan berdomisili di Kota Depok. Dan hampir enam bulan pula, menghabiskan wiken dengan wara-wiri Depok – Bandung dan sebaliknya. Huft, kalo bukan karena ada urusan yang harus diselesaikan di kala wiken di sana, kayaknya ingin juga sih rehat dulu dari wara-wiri seperti ini. Saking seringnya [setiap minggu pula], jadinya eikeh hapal bo’ dengan lika liku jalan tol sepanjang Depok – Bandung dan sebaliknya ituh. Hehe.

Dan…, kayaknya, wiken depan nanti, aku ingin ngisi waktu dengan cara berbeda, ah! Pengen main-main ke kota Bogor yang terkenal ituh! Terkenal dengan asinan bogornya yang bikin ngiler, terkenal dengan udara sejuknya yang bisa menumbuhkan inspirasi menulis, terkenal sebagai kota hujan dan berbagai tempat wisata yang ada di sana. Ha? Emang Bogor punya tempat wisata?

Ya elah, ya punya lah! Pernah dengar Kebun Raya Bogor, donk? Atau Istana Bogor? Kayaknya akan asyik deh jika Sabtu nanti aku main ke sana. Mau ajak Intan, ah. Udah lama juga ga jalan bareng putri tersayang. Setelah dari Kebun Raya Bogor, Istana Bogor, bisa lanjut ke Rumah Anggrek. Pasti cakep-cakep dan unik tuh, anggreknya. Selain itu, main ke beberapa mal popular seperti Botani square yang terletak di Jalan Pajajaran, atau hangout di Bogor Trade Mal, yang di Jalan H. Juanda, atau main di Lokasari Plaza – Jalan Siliwangi, atau malah duduk cantik sambil shopping di Bogor Plaza – Jalan Surya Kencana, pasti bikin Intan happy, deh!

Terus, kalo mau happy-happy dan pengen suasana yang lain, bisa juga nih ngajak Intan nginep di kota hujan ini, menikmati udara sejuknya yang bikin fresh. Apalagi sekarang ini, masalah penginapan, di Bogor banyaklah, ya? Mau villa, budget hotel, hotel yang mahal pun, tinggal pilih. Hihi, kalo eikeh, mah, cukup budget hotel aja, ah! Adanya aplikasi keren atau website Traveloka, emang ngebantu banget dan bikin liburan makin anteng. Ga perlu susah payah booking ke [hadir di ] hotelnya, cukup mainkan jemari di gadget dan booking hotel berkualitas dengan harga murah dan pantas! Susah nyarinya? Yee, cobain atuh website atau aplikasi travelokanya ituh.

Kalo aku sih, untuk hotel di Bogor, pengen nyobain milik perusahaan Aston International. Aston tuh udah berdiri sejak tahun 1997 dengan market berada di kawasan Asia Pasifik. Merek-merek hotel dari Aston International terdiri dari Aston, Kamuela, Alana, Fave Hotel, Hotel Neo, Quest Hotel, dan Harper. Total sudah ada 204 hotel Aston International, lho, yang tersebar di seluruh Indonesia. Wow, banyak juga yaaa? Mahal? Enggak juga, lho!

Coba deh initps dua hotel keren milik Perusahaan Aston ini. . 



1. Favehotel Padjajaran Bogor

Favehotel Padjajaran Bogor merupakan salah satu hotel murah di Bogor yang berada di Jalan Cidangiang No.1. Letak hotel ini sangatlah strategis yakni dekat dengan dengan Botani Square. Tersedia 2 tipe kamar yang ditawarkan hotel ini yaitu standard room dan suite room. Masing-masing kamar dilengkapi dengan LCD TV, AC, brankas, shower, wifi, meja, fasilitas laundry, linen dan handuk, telepon, hairdryer, serta queen bed. Yang berbeda adalah ukuran kamar serta perabotannya dan beberapa fasilitas tambahan seperti alat pembuat teh dan kopi serta mini bar. Untuk tipe kamar standard, kita dapat memilih mau pesan hanya kamar doank atau lengkap dengan sarapan. Dari situs resminya, harga terendah yang ditawarkan per malam untuk type kamar standard tuh murah banget, lho! Cuma senilai 358.000++ rupiah per malam. Jika kita ingin sekalian sama sarapan, maka harga kamar per malamnya menjadi 418.000++ rupiah. Namun harga mungkin berubah sewaktu-waktu jadi kudu dipastikan dulu kalo mau booking dengan mengecek harganya di situs resminya, deh, biar aman. 

2. Hotel Neo+Green Savana Sentul City

Hotel ini merupakan salah satu hotel murah di Bogor yang berada di Jalan Siliwangi No. 1 Sentul City. Semua kamar di Hotel Neo dilengkapi fasilitas LCD TV 32 inci dengan saluran Internasional dan lokal, kasur dan bantal, kamar mandi dengan shower, mini bar, alat pembuat teh dan kopi, brankas, AC, dan telepon. Ada 2 tipe kamar yang ditawarkan hotel ini yakni standard yang berukuran 32 meter persegi dan suite room yang berukuran 75.5 meter persegi. Untuk kamar tipe standar, kita bisa milih ingin sarapan atau tidak. Dari situs resminya, harga yang ditawarkan untuk kamar tipe standard tanpa sarapan yakni 458.000++ rupiah per malam. Sedangkan jika mau nambah sarapan maka harganya menjadi 518.000++ rupiah per malam. Untuk kamar tipe suite, harganya 728.000++ rupiah per malam. Namun harga mungkin berubah sewaktu-waktu jadi pastikan anda terus mengecek harganya di situs resminya. 

Hm, kayaknya eikeh dan Intan mending nginep di Favehotel Padjajaran Bogor aja, deh! Lebih masuk ke dompet, nih! Kalo kamu?


Planning akhir pekan,
Al, Margonda Raya, 15 December 2015
Read More
/ /
Hari ini, Senin. Bener-bener pengen aplikasiin semboyan I like Monday. But..., dari pagi tuh, sisa-sisa kebahagiaan dan keinginan untuk lanjut berleyeh-leyeh tak mau pergi. Huft. Udah diusir dan menyibukkan diri dengan list to do yang sebenarnya menumpuk, teteup aja, ga mau pergi juga ini rasa pengen leyeh-leyeh. Apalagi mengingat jalanan tadi pagi menuju kantor, udah agak lowong karena banyak yang sudah nyuri start liburan. They started taking leave deh kayaknya. Sementara eikeh? Aih, daku belum punya cuti, bo'. Baru juga kerja di kantor ini sekitaran 1/2 tahunan, jadi kagak punya eikeh, mah! *gigit jari. Rasa 'iri' mulai menggerogoti, dan jika diijinkan berkembang maka dia akan merajalela. Bah, bahaya ini!

Maka, mulai lah aku menyibukkan diri. Dengan penuh disiplin mulai laksanakan list to do. Sesuai antrian yang sudah tertera di list. Ga boleh saling mendahului. Disiplin dan fokus! Dan Alhamdulillahnya, hingga waktunya lunch, aku berhasil fokus dan selesaikan beberapa list. Yup, disiplin itu, harus. Etapi, justru after lunch godaan itu begitu menggelora. Dasar, ya, Sobs? Sebagai wanita yang berdarah netizen *halah, lebay!*, aku tak mampu menghindar dari dunia yang satu ini. Dumay, begitu mempesona, menarik-narik jemariku untuk ketikkan url ke sosmed di mana aku biasanya bercengkerama. Intip sana intip sini. Facebook, Twitter, Instagram dan whatsapp, meriah silih berganti mencerahkan mata. Haha. Huft. It's so hard to keep focus on my work. Dan jujur, eikeh nyerah, dan sedikit melunak. Haha. Disiplin entar dulu lah, perlu juga kan kita melihat berita-berita gosip terbaru. Hehe. Via tablet yang setia menemani sejak kompi tak leluasa lagi untuk berselancar ke destinasi yang tak pantas untuk dilakukan pada jam kerja [baca: fesbukan, twitteran, instagraman dan semacamnya], aku mulai lincah bergerilya. Dan..., aneh, ada kebahagiaan tersendiri memang, setiap aku berhasil memasuki ranah 'terlarang' ini. Hehe.

Menyapa beberapa teman yang terlihat sedang oline, colak colek teman pada status yang mereka update, sungguh melenakan. Hayyah, betapa menggiurkannya dunia yang satu ini. Kapan ya, bisa meninggalkan dunia kerja yang serius ini, lalu berkecimpung di ranah maya, bekerja sesuai passion dengan gaji di atas yang aku terima sekarang ini? *Eits, bukan tak mungkin kan? Bisa aja khaan? Ini jaman edan teknologi, lho! Bukan hal yang aneh lagi toh, jika orang bisa earning money justru melalui tarian jemari? Nah! Makanya, jangan under-estimate dulu, donk!

Selagi asyik menarikan jemari, berkunjung ke sana kemari, si Mba Ipah, office girl kami malah menghampiri. "Mba, masih ngantuk? Mau tak bikinin kopi Turki, enggak?" Tawarnya tulus. Emang sih, tadi sehabis shalat, aku sempat mengeluh ngantuk padanya. Eh ternyata, saat masuk ke ruanganku, doi masih ingat jika aku ngantuk.

"Hm, selain kopi Turki ada, enggak, Mba? Aku ga kuat deh kalo kopi Turki. Keras banget khan?"
Tolakku seraya menegaskan akan rasa si kopi. Beberapa teman pernah mengatakan bahwa kopi turki emang keras banget. Dan aku sendiri, bukanlah pecinta kopi hitam. Untuk kopi, aku sebenarnya jatuh cinta akan aromanya saja, untuk rasa pahitnya, aku tak suka. Makanya, paling banter, aku hanya mau minum white coffee, tidak black coffiee. Mau itu kopi Aceh, kopi Lampung, Arabika, Torabika, apapun itu, yang penampakannya gelap alias kelam, aku tak mau. Pahit, dan keras!

"Eh, coba dulu atuh, Mba. Mba belum coba, sih! Kopi Turki mah lain. Apalagi buatan Mba Ipah, enak banget, lho! Kopi Turki tuh, yang bikin enak adalah pada busanya!" Jelas Mba Ipah. Kalimat terakhir si Mba justru menjadi daya tarik tersendiri bagiku. Ha? Busanya? Emang Kopi Turki berbusa? Maka, tak lagi kutolak tawaran si Mba Ipah, melainkan segera kuanggukkan kepala dan memintanya segerakan hidangan kopi turki itu ke mejaku. Dan. tak sampai 5 menit, Mba Ipah telah kembali dengan secangkir mungil imut kopi Turki. Yang unik adalah, cangkirnya yang kecil imut-2 itu lho! Dan rasanya? Oh my God, sedap, man! Langsung bikin aku ketagihan. Ternyata, sangkaku bahwa kopi item itu keras dan pahit, is a BIG NO. Kopi Turki, sedap, Gan!

Dan rahasianya adalah, ternyata bikinnya justru bukan didalam air yang mendidih, melainkan diaduknya di air dingin terlebih dahulu, baru kemudian ditambahin dengan air panas mendidih, maka terciptalah buih yang mantab dan sedap!

catatan kecil tentang kopi turki,
Al, Margonda Raya, 14 Dec 2015
Words: 663






Read More
/ /

Alaika Abdullah

Seperti yang aku ceritakan pada beberapa postingan sebelumnya, Siti Habibah alias si yatimku, sibuk mempersiapkan hari ulang tahunnya. Mulai dari melobby penjual fried chicken pinggir jalan untuk mendapatkan harga yang lebih bersahabat, sampai membeli undangan untuk teman-temannya, dari uang hasil main arisan sendiri dengan anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya. Tentu, uang itu tidaklah cukup. Kami pun turun tangan, mengingat keinginannya untuk rayakan ultah begitu tak terbendung. Persiapanpun berjalan lancar, dan kini, aku ingin cerita tentang detik-detik mengharukan dan bikin Bibah bahagia itu, deh. Boleh donk? *Ya iya lah, Al, kan suka-suka elo mau nulis tentang apa..., hehe. 

Singkat cerita, hari itu pun tiba. Aku dan Intan sampai di rumah Dijah pada hari Jumat, tengah malam, karena seperti biasa, Jumat malam menuju Bandung, adalah detik-detik di mana berbagai kendaraan berpacu tiada henti di atas ruas jalan tol menuju Bandung. Termasuklah aku dan Intan, mengendarai Gliv tersayang, ikut berjejer di atas ruas jalan tol itu, berangkat dari Depok menuju Bandung tepatnya keluar dari tol Buah Batu, menuju jalan Soekarno-Hatta, masuk ke Cisaranten, di mana Dijah berdomisili. Waktu ketibaan alias arrival time there sekitar pukul 2 malam deh, dan beneran, aku ngantuk banget. Untungnya Intan sedang getol-getolnya driving, sehingga dengan senang hati dipersilahkannya uminya ini untuk taking rest along the way to Bandung. Etapi, teteup aja, aku masih ngantuk dan sulit banget buka mata, bahkan untuk berpindah tempat dari mobil ke dalam rumah Dijah.

Disambut gembira oleh Bibah dan Icha, si 'anak ajaib'ku, sementara Dijah alias Bundanya Bibah sedang ke rumah 'nenek'. Tak ape, aku dan Intan, sudah biasa berhadapan dengan situasi ini. Aku langsung cuci muka, ambil wudhu, shalat Isya dan kemudian langsung mengajak anak-anak untuk tidur. Sekilas sempat kuperhatikan ruangan yang telah disulap sebagai ruang pesta. Bergerombol balon dan aksesoris penghias ruangan ditata dengan apik pada langit-langit ruangan, plus pernak pernik dari pita, juga sudah menghias dinding rumah Bibah.

Ruangan sederhana itu kini telah berubah, ceria, dan siap membagikan kebahagiaan bagi pemilik mungilnya, semoga, ya Allah. Entah kenapa, selalu ada haru di hatiku, setiap melihat dan memikirkan si yatim ini. Begitu juga terhadap Dijah. Ada rasa yang entah gimanaaaa, gitu. Ada sedih, nelangsa, haru dan juga bahagia di hati, melihat senyum keduanya. Ah, sudahlah, saatnya untuk tidur karena sebelum pesta sederhana yang akan berlangsung besok siang, pagi harinya aku masih ada agenda lain yang juga tak kalah penting. Yaitu urusan me time di klinik dokter David, alias klinik DF, di mana aku kena giliran untuk kontrol plus jadwal untuk peeling treatment. Yup, setelah menjalani laser kemarin itu, aku kena giliran untuk peeling, sebagai treatment lanjutan dalam rangka menghilangkan bekas jerawat dan flek2 hitam di wajahku, yang oleh faktor usia yang tak lagi muda, maka aku harus lebih konsen menjalani perawatan, yang Alhamdulillahnya, walo mahal, masih bisa aku ikuti, karena gratis. Hehe. Iya lah, namanya juga blogger, banyak berkahnya kan yaaa? Hihi, dibahas!

Well, back to Bibah dan pesta ulang tahunnya. Aku tiba kembali di rumah Dijah tepat pada pukul dua siang. Saat-saat acara akan segera dimulai. Itu pun karena aku menggunakan jasa gojek, makanya bisa menembus kemacetan kota Bandung yang sudah ngalah-2in kota Jakarta, lho!
Wajah Bibah langsung merona bahagia kelihat kedatanganku. Anak ini, memang akrab dan manja sekali denganku. Dan tadi sudah sempat 'mendung' karena tak melihat kehadiranku hingga ke pukul dua, padahal acara akan segera dimulai. Tak heran, jika begitu mendengar suaraku, gadis kecil ini menarik napas lega. "Alhamdulillah, Bunda, Umi udah balik", serunya.

Memasuki ruangan, terlihat beberapa orang tamu kecil [teman-teman Bibah] sudah berada di dalam ruangan. Duduk manis seraya memperhatikan Bibah yang sedang di-make-up oleh temannya si kakak MC. Rezeki anak yatim tampaknya masih terus bersama Bibah. Contohnya ya si Kakak MC ini. Dengan sukarela mengajukan diri untuk jadi MC di hari ulang tahunnya Bibah. Padahal untuk sekali ngemci, biasanya lelaki muda yang centil menggemaskan ini, mengenakan tarif yang lumayan juga untuk kantong golongan menengah ke bawah.

Singkat cerita, acara pun dimulai. dibuka dengan ceria dan centil oleh si Kakak MC yang 'gemulai'. Menyapa semua undangan dan kemudian mempersilakan tuan rumah untuk memberikan sepatah dua kata sambutan. Dan, adalah aku yang mewakili Dijah karena wanita ini kurang pede untuk memberikan kata sambutan yang aku sertai dengan memohon doa kepada Sang Pemilik alam, agar yatimku bersama ibunya ini selalu berada di dalam lindungan Allah SWT, serta berlimpah berkah dan rizki-Nya.

Acara selanjutnya adalah pemotongan kue ultah yang juga justru bikin haru, karena sesaat setelah menyuapkan potongan kue ke bundanya, Bibah kami minta mengucapkan sepatah dua kata, yang lucunya, justru apa yang sudah dihapalkannya raib entah kenapa, berganti dengan ucapan tulus untuk pengorbanan sang bunda.

'Bunda, makasih banyak ya, Bunda, udah ngabisin uang Bunda untuk ulang tahun Bibah. Bunda, makasih ya, Bunda, maafkan Bibah ya, Bunda, yang udah bikin habis uang Bunda juga Umi. Maafkan Bibah yaaa, udah bikin Bunda miskin dan ga punya uang lagi.'

Hiks... polosnya anak-anak. Seisi ruangan [yang dewasa], hanya mampu nyengir sambil mengurut dada. Ada haru di hati, mendengar ucapan tulus dari bibir mungil yang masih lugu itu. Semoga kelak, engkau jadi anak yang berbakti, ya, Nak. Jadilah kebanggaan Bunda, agama dan bangsamu....

Catatan kecil,
Al, Margonda Raya, 12 December 2015
Read More
/ /
Printer, pasti udah pada ngeh banget, donk, akan alat pencetak tulisan atau gambar yang satu ini? Yup, printer. Tak hanya dibutuhkan di kantor-kantor, melainkan juga dibutuhkan oleh para mahasiswa yang sehari-harinya pasti kebanjiran tugas atau pe er. Termasuklah Intan, putri tercinta. Yang sudah beberapa hari ini sibuk minta dibelikan printer baru, karena printer lama mulai ngadat kinerjanya. Sudah coba bawa ke tukang reparasi, sih, tapi ternyata, tetap aja ga bisa pulih sempurna seperti sedia kala, setelah tersiram air hujan akibat genteng kamar kosan anjlok diterpa angin bermuatan hujan gede.

Walo sudah diperbaiki, hasil cetakan atau kualitas printing dari printernya, tetap saja tak sempurna. Hingga akhirnya, Intan mulai merayu minta dibelikan yang baru. Apalagi, saat ini, harga printer kan ga mahal-mahal banget. Banyak sekali printer dari merek-merek ternama yang sudah dibandrol dengan harga yang sangat terjangkau. Tinggal menanti waktu aja, nih, kapan sempatnya untuk sama-sama ke toko dan membelinya. Rencananya sih, aku akan ajak Intan ke salah satu pusat elektronik dan gadget di Kota Bandung, saat mudik akhir pekan nanti. Namun, sayangnya, kami justru sudah sekian lama tak punya waktu yang pas.

Di saat aku sedang free, justru Intannya yang ga bisa karena kebentur oleh kelas kuliah tambahan yang harus diikutinya pada hari Sabtu, misalnya. Hingga kemudian, aku dan Intan sepakat untuk membelinya via online store aja, deh! Sejak transaksi jual beli bisa dilakukan melalui ujung jemari, kita memang semakin dimudahkan di dalam melaksanakan aktivitas jual beli. Apalagi semenjak e-commerce terpercaya mulai bermunculan di jagad maya. Sebut saja nama besar Lazada, Zalora, Mataharimall, dan aneka e-commerce yang sudah bernama di negeri ini.

Ah iya, selain dari yang sudah aku sebutkan di atas, ada satu lagi pemain e-commerce yang dari negeri asalnya [baca: Tiongkok] sana, memang sudah 'bernama'. YupJD kini hadir di Indonesia, dan siap berkompetisi merebut perhatian para calon pelanggannya. Bergerak khusus di bidang barang dagangan elektronik, gadgets dan smartphones, komputer & laptop, peralatan kantor & jaringan serta barang-barang elektronik lainnya sesuai kategori yang tertera pada gambar di samping kiri ini, Sobs! JD tampil dengan harga yang sangat bersahabat.
Itu pula yang menarik perhatianku dan Intan untuk berlama-lama ngendon di halamannya, mengubek-ngubek tak hanya printer yang sedang kami cari, melainkan juga cuci mata terhadap barang-barang keren lainnya yang dipajang di sana. Beberapa buah pajangan TV berlayar datar [smart TV] yang dipajang di sana, tak urung juga sangat menarik perhatian, terutama mengingat Ayah dan Ibu yang akan segera pindah ke Bandung. TV lama yang ada di Banda Aceh sudah dijual, karena terlalu jauh untuk dibawa ke Bandung. Dan tentu saja itu berarti bahwa sebuah televisi baru sangat dibutuhkan untuk mengisi hari-hari dan menjadi hiburan bagi Ayah dan Bunda tercinta. Kayaknya, sebuah Smart TV adalah hadiah yang sangat layak deh, untuk menyambut kepindahan kedua orang terkasih itu nanti.

Etapi, itu ntar dulu aja, deh! Bulan depan kayaknya cocok deh. Semoga aja harganya belum naik malah kalo bisa, sih, mengalami diskon lagi. Hehe.

Balik lagi ke printer yang dibutuhkan Intan, akhirnya kami memilih sebuah printer dengan merk Canon yang harganya cukup bersahabat. Sudah dengan fasilitas scanner dan copy, cuma dibandrol seharga Enam ratusan ribu rupiah. Wow! Worth it, lah, ya!

catatan harian,
Al, 10 December 2015
Read More
/ /
Alaika Abdullah
When I Wanna be Alone. Ehem, naga-naganya yang punya rumah sedang melo, nih? Lagi bersedih hati? Lagi galau dan hati remu redam? Hehe. '

Sebenarnya enggak juga, sih. Judul ini justru muncul ketika aku sedang asyik ubek-ubek foto hasil perjalanan dan tracking di Ciletuh beberapa minggu lalu. Sebuah foto seperti yang terpajang di samping kiri ini, entah kenapa, menimbulkan rasa ingin untuk menciptakan sebuah postingan tentang kesendirian. Padahal, pastinya, waktu menjelajah ke tempat apik ciamik ini, tentu tidak sendirian, melainkan rame-rame bersama sahabat blogger lainnya. Tapi melihat foto ini, rasanya kiri kanan begitu hening, sepi dan ngademin! Indonesia ini memang indah, banget, ya, Sobs?

Jika katanya Kota Bandung diciptakan Tuhan dalam keadaan tersenyum, maka aku ingin bilang bahwa Allah menciptakan Bumi Persada tercinta ini dalam keadaan fully happy, deh. Lihat saja, setiap pelosok daerah menawarkan keelokannya tersendiri. Menawarkan keapikan dan keunikan kreasi sang Maha Karya. Subhanallah.

Seperti pada foto di bawah ini, Sobs! Berlatar belakang batu cadas tinggi menjulang, yang di sebelah kanannya lagi itu memancur air terjun menakjubkan dengan suara menggemuruh dan sukses bikin hati luruh, mengagumi kreasi sang Penguasa. Yup, it was so so amazing.

Geopark Ciletuh

Memang tak mudah mencapai tempat ini, namun menemukan viewnya yang apik dan nyamannya suasana, sungguh menjadikan pepatah panas setahun dihapus oleh hujan sehari itu bener adanya, lho! Gimana rasa lelah dan ngos-ngosan itu ga akan sirna coba, Sobs! Bebatuan cadas yang besar dan bersih berwarna coklat itu, benar-benar mengundang tubuh untuk duduk bahkan tiduran santai di atasnya, sembari menikmati suara gemuruh air terjun dan indahnya pemandangan alam sekitar. Belum lagi, saat kita duduk menjuntaikan kaki tanpa sepatu ke dalam dinginnya air yang tergenang di sela-sela bebatuan. Amboi.... Nikmat alam mana lagi yang hendak kita pungkiri? Ini benar-benar menakjubkan dan bikin pikiran refresh! Serasa semua beban kehidupan, untuk sejenak terpinggirkan!

Apalagi saat duduk bareng teman-teman di bawah pohon bambu rindang menyejukkan, dilingkari lukisan indah sang Maha Karya seperti ini, nih, Sobs! Rasanya bener-bener bikin happy. Bikin aneka printilan problema yang menggelayuti menjauh seketika.

Geopark Ciletuh
Duduk santai di bawah rindangnya rumpun bambu, duhai... asyiknya. 
Sempat terfikirkan juga di benak kami, para visitors yang adalah orang kota, betapa beruntungnya penduduk Ciletuh ini, dikelilingi oleh berbagai keindahan, kesejukan alam, dan bersihnya udara desa. Di tambah pula dengan harga buah seperti mangga yang sedang musim kala itu, hadeuh, murah banget! Masak sekilonya cuma dua ribu perak? Gile aje, kasian amat para pemilik pohon mangga. Murah banget dihargainya. Sementara di kota, harga termurah adalah 10 ribu perkilonya.

Anyway, kembali ke alam Ciletuh terutama Curug Awang yang aku foto di atas tadi. Memang sungguh menakjubkan. Rasanya akan asyik banget deh jika menyendiri ke bebatuan besarnya itu. Tiduran di atasnya sambil merenungi nasib bikin resolusi untuk tahun 2016 nanti. Ehem! Hehe, masak bikin resolusi aja harus jauh-jauh ke Sukabumi, yak?

Sebenarnya, tentang perjalanan ke Ciletuh ini, aku ingin bikin postingan khusus secara bersambung, sesuai dengan lokasi-lokasi yang kami kunjungi kala itu. Mulai dari titik keberangkatan sampai ke lokasi-lokasi cantik yang kami kunjungi di sana. Namun, seperti yang aku ceritakan tadi, foto goleran di atas bebatuan itu, malah memunculkan ide untuk 'curi start' dan malah bikin postingan tentang kesendirian, yang ujung-ujungnya justru tak lagi bicara tentang kesendirian. Haha.

Catatan Harian,
Al, Margonda Residence, 8 December 2015
Read More
/ /

Hari ini, ingin ngobrolin tentang Pintu Rezeki, ah. Iya, Pintu Rezeki. Yang ternyata memang bisa terbuka dari sudut mana saja, ya, Mantemans? Bahkan dari sudut yang tak pernah kita duga sekali pun. Seperti yang baru saja dialami oleh Dijah, saudaraku yang anaknya akan ultah Sabtu besok.

Keduanya baru saja belanja di sebuah mart, dan karena haus, Bibah, anaknya Dijah, minta dibelikan sebotol minuman dingin yang mirip-mirip dengan minuman pengganti ion yang lazim dijual di pasaran. Minuman yang ini memang sedang promo, dan menyertakan undian berhadiah pada tutup botolnya. Nah, tanpa tau bahwa minuman itu sedang menyelenggarakan undian berhadiah, Bibah kecil, tertarik dengan minuman itu, dan mengambilnya, serta membuka tutup botolnya setelah selesai pembayaran.

Ealah, dasar memang rezeki anak yatim, mata Bibah menangkap sebuah tulisan di balik tutup botol itu. Dibacanya perlahan dan langsung terbelalak.

'Bun, kita dapat hadiah 3 juta rupiah!' Katanya seraya menunjukkan tutup botol itu pada ibunya. Petugas mart pun tertarik mendengar suara riang itu. Dijah dan Bibah mendekat dan memperlihatkan tutup botol itu, yang ternyata memang benar adanya, bukan spam.

'Ibu, selamat, ya! Ibu mendapatkan hadiah sejumlah 3 juta rupiah. Dan kami akan bantu mencairkannya dalam satu dua hari ini, ya.'

Gelagapan saking happy-nya, Dijah hanya mengiyakan. 'Apa yang harus saya persiapkan untuk pencairannya, Mas.', tanyanya. Petugas pun hanya meminta copy KTP Dijah serta nomor telepon Dijah untuk dihubungi kembali saat dananya sudah cair. Waktu untuk pencairan, katanya, sih, dua atau tiga hari setelah diklaim. Dan benar saja, petugas mart emang ga bohong, lho!

Hari ini, Dijah melaporkan, jiaaah, bahwa dana 3 jutanya sudah cair, dan sebagiannya akan dipakai untuk kontribusi *hayyah, bahasanya bo'* dalam acara ulang tahun Bibah, si anak yatimku, yang memang udah ngebet banget ultahnya dirayakan, sampai-sampai dia rela main arisan, diet uang jajan, demi menjadi stimulator agar uminya [aku] mengiyakan keinginannya dan sumbang dana untuk perayaan acara. Ya, namanya anak-anak, melihat temannya dirayain ultahnya, dia pun jadi ingin donk...

Dan, sedih rasanya mengecewakan inginnya itu, sih. Apalagi dia sudah memancingnya dengan cantik, dengan menggunakan trik jitunya. Memulai dengan mengucurkan seluruh tabungannya sendiri. Dan ternyata, Sobs, sepertinya Allah merestui. Membukakan pintu rezeki dengan cara yang satu ini. Subhanallah. Memang, ya, Sobs? Jika rezeki tak akan hendak tertukar. Bahkan dari sebuah tutup botol. Hehe.

Persiapan ulang tahun, pasti bikin hati excited, deh. Aku membayangkan betapa bahagia dan tak sabarnya si kecil Bibah, menanti hari ulang tahunnya ini. Menanti kehadiran sahabat-sahabatnya yang akan turut memeriahkan acara. Ibunya, kemarin sempat bercerita, bahkan saking happy-nya, Bibah sampai ngelindur, lho dalam tidurnya. Haha. Yang diomongin adalah rapalan kalimat ucapan selamat datang yang sudah dipersiapkannya untuk menyambut kehadiran teman-temannya nanti. Aku sempat heran juga sih, darimana ide Bibah, mempersiapkan 'kata sambutan' seperti ini, bukannya biasanya MC yang akan ngehost and welcoming the audience or the honorary guest? 

Atau..., jangan-jangan, Bibah dapat ide ini dari sinetron-sinetro yang getol dia tonton? Hihi. Anyway, yang jelas, ada bahagia yang menyeruak di dasar hati, mengetahui amanah Ilahi yang satu ini, terlihat excited dan bersemangat. Semoga hari bahagianya nanti lancar barokah ya, nak. Dan semoga Allah senantiasa membukakan pintu rezeki lainnya bagi kita, dari sudut mana pun juga. Aamiin.

catatan kecil,
Al, Margonda Raya, 26 November 2015
Read More
/ /
Yup. Olah raga, adalah kebutuhan. Tapinya..., aku tuh malas banget berolah raga. Hehe. Iya, sejak dulu banget, aku tuh paling malas jogging. Gimana mau semangat jogging, coba, Sobs, tarikan selimut rasanya begitu menggoda, mana mampu aku meninggalkannya? Hahah.

Etapi, menginjak usia yang sudah pada kombinasi angka 4 dan 5 alias 45 tahun ini, rasanya ngeri-ngeri sedap juga sih jika aku terus bermalasan, memanjakan diri tanpa mau berupaya salurkan keringat. Banyak banget bahaya yang mengintai di usia segini kan, ya?

Apalagi aku baru ditakut-takuti oleh dua orang teman, bahwa tubuh yang langsing singset sepertiku *ehem*, tetap aja akan menjadi sarang penyakit jika aku tak berupaya menjaga kebugaran tubuhku. Salah satu cara menjaga kebugaran adalah dengan berolah raga. Ya... iya, aku tau kok, bahwa olah raga itu penting. Dan lihat, bahkan aku punya J-Shaper tuh, untuk fitness. Dan si teman langsung ngakak. Menertawakan J-Shapperku yang berdebu karena tak pernah aku sentuh. Duh, bener juga, tuh J-Shapper sejak beli 4 tahun lalu, kayaknya baru 15 atau 20 kali deh aku pake. Hiks..., maafkan aku yang, J-Shapper ku sayang.

Bener juga, sih. Kalo dirasa-rasain, tubuhku akhir-akhir ini cepat banget lelahnya. Terbukti pada saat treking kemarin itu. Napasku yang biasanya teratur penuh kendali, kemarin itu bisa-bisanya ngos-ngosan, padahal track untuk trekingnya itu, tidaklah terlalu curam dan melelahkan. Masa begitu saja aku sampai sesak napas? Seakan-akan napasku berlomba-lomba untuk keluar tapi tertahan di rongga dada. Rasanya sakit dan sulit bernapas, sehingga mau ga mau aku harus berusaha lakukan meditasi sejenak agar oksigen bisa masuk dengan teratur lagi ke rongga dada.

Alaika Abdullah


Iseng, aku coba konsultasi dengan temanku yang adalah seorang dokter, tapinya dokter hewan. Hahah. Eits, tapinya secara general, hewan kan juga butuh olah raga, yak? Hihi.
Anyway, aku memang butuh olah raga yang teratur, agar staminaku tetap stabil bahkan prima. Apalagi, perjalanan harianku dari dan ke kantor, starting from Margonda Residence to Kuningan, bukanlah rutinitas santai yang nyaman. Aku perlu menempuh berjalan kaki dulu ke stasiun UI. Di stasiun, aku perlu berhimpit-himpitan dulu dengan sesama penumpang kereta, dan turun di stasiun Cawang. Nah, di Cawang, aku harus jalan kaki lagi menyeberangi lembah  terowongan, naik ke atas, baru naik lagi ke jembatan penyeberangan dan masuk ke koridor busway. Huft, sungguh melelahkan. Sebenarnya sih, itu saja sudah cukup jadi olah raga bagiku. Itu yang aku pikir selama ini, sih. Sehingga aku merasa ga perlu lagi olah raga.

Etapi, ngos-ngosan-nya napasku kemarin itu, saat treking, kok aku jadi was-was ya? Jangan-jangan..., jangan-jangan, nih! Hadeuh, daripada berburuk sangka, mending aku persiapkan diri untuk mulai fitnes deh. Aku akan gunakan J-Shapper yang selama ini ngendon merana di sudut kamar. Sebenarnya alat ini efektif dan simple banget, tapi sanggup menguras keringat. Dasar akunya aja yang malas!

Hm, baiklah, untuk mulai aktif berolah raga lagi, aku kudu shopping beberapa item nih. Salah satunya adalah cari sepatu sport yang nyaman dan enak dikaki. Sepatu lama ku sebenarnya enak dan nyaman banget, tapi karena umurnya yang sudah uzur, maka aku harus mengurangi bebannya dengan membeli cadangan baginya, deh. Jadinya dia tak harus bertugas sendirian. Bisa shift-shiftan dengan sepatuku yang baru nanti. *Betapa baik dan pengertiannya, eikeh, ya, Sobs? Hihi.

Dan, tak hanya berolah raga, kayaknya aku juga harus mulai dengan sangat serius mengatur pola makan sehat deh. Ga iya, nih. Seperti yang disarankan oleh dr. David, dokter kulit yang menangani proses perawatanku, aku memang harus menjauhkan keju, susu, youghurt dan turunan2 lain dari susu. Aih..., susu bukannya sehat, dok? Ternyata tidak banget bagi orang-orang yang berpotensi jerawatan sepertiku, Sobs! Hiks.... padahal aku kan suka banget minum susu, makan pizza. Dan kini? I have to say good bye to them. Olala, demi kesehatan dan kebugaran tubuh, it seems that I have to say good bye. Really a good bye to all those kind of food. Baiklah, tak ape. Yang penting bisa sehat dan bugar kembali. Ya kan, Sobs?

catatan kecil,
Al, Margonda Residence, 24 November 2015


Read More
/ /
Allah menitipkannya padaku suatu ketika, melalui perantara sakitku kala itu. Yup, ibunya adalah perpanjangan tangan-Nya dalam penyembuhan diriku. Jadilah kami bersahabat bahkan bersaudara. Sayangku bertumbuh pada keduanya, ibu dan anak yang tak lagi memiliki sanak keluarga ini, bukan saja karena kesembuhanku berkat perawatannya, melainkan karena ada haru dan nelangsa di relung jiwa, setiap terkenang akan perjalanan hidup keduanya.

Sebuah perjalanan yang tak mudah. Menjadi mualaf dan tertatih di dalam ketidakberdayaan ekonomi, keduanya harus berusaha untuk survive. Berapalah uang yang dihasilkan dari memberikan jasa pengobatan alternatif? Tidak seberapa. Bahkan bisa dimasukkan ke dalam kategori rezeki harimau, yaitu suatu rezeki tak terduga, yang habisnya juga dalam sekejap juga.

Bagi banyak orang, hidup ini memang tidak mudah. Termasuk bagi Dijah, ibunda si yatim ini. Kepedihan hidup dimulai kala sang suami kembali ke pangkuan Ilahi. Belum lagi hati benar-benar ikhlas akan kepergian putra tercinta, eh sang suami justru menyusul sebulan sesudahnya. Tentu, dunia terasa gelap, dan hati pun terasa lembab. Kemana harus melangkah? Dunia seakan kehilangan arah. Belum lagi, ternyata kepergian sang suami, meninggalkan tanda cinta terakhir di dalam rahim, yang sayangnya, tak sempat disadari. Karena kehilangan dua orang terkasih dalam waktu yang begitu dekat itu, cukup memberikan pukulan telak bagi jiwa hingga batinnya tersiksa, bahkan harus berakhir di rumah sakit jiwa.

Tiada yang tahu, bahwa kala itu, dirinya sedang mengandung, sehingga suntikan penenang seringkali diberikan kepadanya agar dirinya tak hiperaktif melakukan protes akan buruknya nasib kehidupan. Barulah ketika perutnya membesar di rumah sakit jiwa itu, para dokter terkejut dan panik. Benar saja, si yatim yang dikandung akhirnya lahir dalam keadaan hydrocephalus alias berkepala besar.

Yeah, tak patut kita menyalahkan sang Maha Kuasa, tiket menuju syurga bagi setiap orang memanglah berbeda. Bagi Dijah, yang Allah Maha Tahu bahwa wanita ini akan kuat memikul beban ini, diberikan cobaan yang seperti ini. Bagi makhluk-Nya yang lain, tentu lain pula cobaan-Nya.

Singkat cerita, naluri keibuan memandu Dijah untuk menjual seluruh harta peninggalan suami, demi menyembuhkan sang putri, satu-satunya cindera mata yang tersisa. Beberapa kali, si yatim bernama lengkap Siti Habibah Anggun Sari ini menjalani operasi, dalam usianya yang masih batita. Uang hasil penjualan aset pun berpindah, bertukar dengan kesembuhan putri tercinta. Ya, walo pada awalnya tentu tak sembuh sempurna, masih membutuhkan biaya besar untuk check up dan berobat jalan. Namun, menatap putri yang telah normal adanya, adalah kebahagiaan tiada terkira bagi seorang bunda, kan?

Perjalanan hidup terus mengalir, gelombang datang silih berganti. Pasang naik dan pasang surut adalah ketentuan alam yang tak bisa diubah. Kini, keduanya sudah bermukim di Bandung, mengikutiku kala aku masih tinggal di kota kembang itu. Dan kini? Saat aku harus pindah ke ibukota negara, keduanya tetap harus lanjutkan kehidupan. Alhamdulillahnya, rezeki anak yatim memang selalu saja ada, ya, Sobs? Mengalir bagai air bening yang sejukkan kerongkongan.

Negosiasi dengan Mamang Friend Chicken



Bahkan, beberapa minggu lalu, aku dan Dijah dikejutkan oleh rencana Bibah untuk merayakan ulang tahunnya sendiri. Gadis kecil yang tak pernah melihat wajah sang ayah ini, mungkin, begitu berhasrat agar ulang tahunnya [tanggal 25 November nanti] dirayakan. Mengundang teman-teman sekelas. Dan, tak seperti anak lain yang merengek ke ibunya, Bibah malah sudah merencanakan beberapa langkah. 

Yang bikin haru nih, Sobs, gadis kecil yang akan genap berusia 9 tahun ini, sudah melobi penjual fried chicken pinggir jalan, untuk bersedia memberi harga bersahabat baginya, jika dia memesan 50 kotak paket friend chicken si mamang. And...? She got it. Siapa yang tak terenyuh coba, si mamang tak mampu menolak, ketika Bibah kecil berkata 'Mang, saya anak yatim, ingin banget rayain ulang tahun, boleh enggak satu kotaknya 12 ribu rupiah? Kami ga punya uang banyak, Mang. Ini juga uang hasil saya main arisan sama teman-teman, plus uang jajan dan uang santunan anak yatim, yang saya dapatkan.'

Dan, si Mamang, tentu saja luluh. Dimintanya Bibah mengajak ibunya ke situ, dan Dijah hanya mampu mengusap air mata. Anaknya ingin ulang tahunnya dirayakan. Dan itu dengan uangnya sendiri, yang ada sekitar 1 jutaan. Tapi satu jutaan mana cukup untuk merayakan ultah, dengan mengundang 50 orang anak [teman sekelas Bibah] pula?

Singkat cerita, rasanya tak mungkin menolak harapan si yatim ini, toh? Maka, kami pun sepakatlah untuk urunan merayakan ultah Bibah. Persiapan pun dimulai. Beli gaun ultah, sepatu, asesoris dan berbagai pernak pernik keperluan ultah pun mulai diburu. Tak hanya aku yang terenyuh, Intan, putri tercinta juga ikut terharu. Dan berniat untuk turut serta urun bantuan serta memeriahkan hari H nanti.

Yah, namanya juga anak-anak, setelah mendapatkan lampu hijau dariku, Bibah menjadi begitu bersemangat. Rajin belajar, mengerjakan PR, mengaji dan juga lebih perhatian pada ibunya. Aku yakin, ini tak lain dan tak bukan, adalah the spirit to celebrate her birthday menjadi pemicu perubahan baik ini. Semoga semuanya nanti berjalan lancar, ya, Nak. Semoga ke depannya, Bibah jadi anak yang jauh lebih baik, lebih solehah dan lebih perhatian pada bundanya. Ok sayang?

catatan kecil,
Al, Margonda Residence, 23 November 2015


Read More
/ /

Beberapa minggu lalu, aku dicolek oleh Mba Ely, yang mengelola blog Dunia Ely, via twitter seperti conversation yang tercipta pada gambar di samping, terkait postingan blio yang ditulis berdasarkan curhat online seorang pembacanya. Aku langsung meluncur dan mendapati curhatan itu. Berkisah tentang derita batin serta problema yang sedang dihadapi oleh Mba Yuni, yang bercerita bahwa dirinya diselingkuhi bahkan ditinggal menikah siri oleh suaminya dengan wanita lain, di kala dirinya sedang hamil tua.

Kurang ajarnya lagi [maaf], si suami dengan bangganya membawa serta si selingkuhannya itu ke hadapan pihak keluarga Mba Yuni, kala sang suami dipanggil 'menghadap' untuk ditanyai pertanggungjawabannya. Ealah, kok berani-beraninya bawa selingkuhan ke situ! *Gemes pingin mengurai ususnya pake clurit. Dan dasyatnya lagi, dengan anteng dan tanpa rasa malu, si suami menjawab bahwa dia lebih memilih si wanita selingkuhannya ketimbang melanjutkan hubungan dengan si Mba Yuni, yang sedang hamil tua, benih darinya. Ampyun, dweh ini, lelaki!

Tentu saja, pilihan satu-satunya yang paling pantas untuk dilakukan oleh Mbak Yuni adalah bercerai darinya secara resmi. Untuk apalagi mempertahankan seorang suami yang jelas-jelas tak lagi punya hati untuknya. Aku mendukung 100 persen keputusan Mbak Yuni. Dan benar saja, setelah anak yang di dalam kandungan lahir, maka gugat cerai pun dikabulkan dan perceraian sah terjadi.

Etapi, yang kemudian menjadi problema batin Mbak Yuni adalah, sulit sekali menghilangkan kenangan manis yang pernah mereka ukir bersama, selain itu, mantan suami bersama wanita selingkuhan yang telah dinikahi siri itu, mengancam akan mengambil kedua anak yang ada pada Mbak Yuni untuk diasuh oleh keduanya. Tentu saja, ancaman ini membuat batin Mbak Yuni tersiksa. Rasa takut pun sulit untuk sirna. Itulah dua inti curhat online Mbak Yuni pada blog Mbak Ely, yang kemudian aku komentari dengan memberikan sedikit suntikan motivasi, yang aku berharap bisa menjadi alternatif motivasi tambahan dari apa yang telah diberikan oleh Mbak Ely dan teman-teman lain yang berkomentar di sana.

Bagaimana cara melupakan kenangan manis yang pernah terukir saat masih bersama?

Memang tak mudah melupakan kenangan indah yang pernah terukir bersama, kala madu cinta masih bersemi. Namun, menurutku, memelihara kenangan indah itu, setelah pengkhianatan dan rasa sakit yang ditorehkan di lubuk hati, bukanlah perbuatan yang patut dilakukan. Bukankah itu justru menyakiti diri kita sendiri?

Setelah kita disakiti, ditikam dari belakang, mengenang segala kebaikan dan manisnya kehidupan bersama, adalah sebuah kesia-siaan. Itu menurutku, lho, ya. Eits, I am not just doing an easy talking, lho, ya, karena aku tau persis bagaimana rasanya dikhianati dan disakiti. Pernah ngalamin. Makanya aku berani bilang, bahwa rugi besar lho, memelihara kenangan manis yang terukir bersama seorang lelaki pengecut dan mau enaknya sendiri seperti itu!

Yup, menurutku, inilah yang harus dilakukan untuk melupakan kenangan manis itu;

1. Ganti kenangannya. 

Yup, ganti kenangan manis itu dengan mengenang segala keburukan, pengkhianatan dan perbuatan menyakitkan yang kemudian dia lakukan terhadap kita. Ini akan membantu menciptakan rasa tidak suka terhadapnya, dan mengikis kenangan indah itu.

2. Yakinkan diri.

Yakinkan di dalam hati, bahwa lelaki/suami yang bertanggung jawab dan mengasihi istrinya, TIDAK AKAN pernah berkhianat, TIDAK AKAN pernah menyakiti istrinya. Jika kenyataannya adalah bahwa suami tega berkhianat, menikam dari belakang, itu artinya DIA TIDAK LAGI mencintai kita. So? Lepaskan dia, karena tak ada gunanya memelihara seorang pecundang!

3. Tanamkan di dalam jiwa

Tanamkan di dalam jiwa bahwa suami pengkhianat adalah SAMPAH. Dan yang namanya sampah, ada yang bisa dipilah dan didaur ulang, ada pula yang tidak bisa diapa-apain lagi, artinya sampah itu harus ke TPA [Tempat Pembuangan Akhir]. Artinya, jika suami sudah masuk kategori terakhir, maka dia harus dibuang agar tidak menyebarkan penyakit.

Setelah melakukan tiga point ini, agar hati lebih mudah melupakannya, maka sibukkan diri kita dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat. Telusuri dan gali lagi secara cermat dan serius hobby kita, passion kita, tekuni.

Selain itu, percantik diri kita, buka diri kita untuk welcoming new friends, new life, new environment. Dan..., sekali-sekali memanjakan diri dengan shopping pakaian baru, sepatu baru, atau asesoris baru agar penampilan kita lebih kinclong, adalah hal baik yang akan membantu batin kita recovery, lho!

Yup, memberi waktu bagi diri kita sendiri alias me time, adalah salah satu cara menghargai diri kita sendiri. This is one of the way in appreciating ourselve, memberi kesempatan pada diri sendiri untuk menyadari bahwa diri kita itu masih sangat berharga, lho!

Kembangkan cara berfikir positif. Anggaplah kejadian buruk yang telah terjadi, adalah takdir dan cara Tuhan dalam mendewasakan diri kita. Bukankah untuk sebuah pembelajaran, untuk sebuah pendewasaan diri, terkadang kita memang harus membayar mahal?


catatan kehidupan,
Al, Margonda Residence, 22 Nov 2015







Read More
/ /
Malam ini, mumpung belum bisa tidur, aku ingin berbagi sebuah cerita, nih, Sobs! Cerita dari negeri dongeng semut alias Belarusia. Kali ini aku ingin berkisah tentang pasar induk Caringin dan Gede Bage yang sukses bikin mata suegerrr dan fresh! Ih, seger dan fresh artinya kan sama, Al? Hihi. Anyway, gimana enggak fresh, Sobs, tampilannya itu lho, bersih pake bingits! Teratur dan estetis! Eits, bukan tak cinta tanah air lho ya, eikeh mah cinta banget akan NKRI. Tapi ini bicara masalah kebersihan dan tertib serta disiplinnya negeri orang lho! Kan yang baik-baik harus diapresiasi dan diupayakan agar bisa implemented di negeri sendiri khaaan?

Well, bicara tentang pasar induk yang satu ini, adanya di negeri semut alias Belarusia, sebuah negeri republik, terletak di belahan Eropa Timur dengan ibu kota negara bernama Minsk, yang secara administratif dibagi menjadi 6 provinsi dan sebuah kota khusus. Kecil yak? Berpenduduk lebih dari 10 juta jiwa dalam luas wilayah 207,600 km2 --> info dari Mbah Wiki.

Seperti yang pernah aku tuliskan di dalam beberapa postingan lama, kehadiranku di negeri dingin ini adalah dalam rangka memenuhi undangan dari adik ipar, yang asli putri Belarusia sinih, Sobs! Maka, Alhamdulillah, jadilah aku menjejakkan kaki di negeri cantik mereka, dan berkesempatan pula untuk main-main ke pasar induk tadi.

Bicara tentang pasar tradisional, yang ada di imagi kita tentulah sebuah tempat di mana terjadi transaksi jual beli terhadap berbagai barang baik kebutuhan primer mau pun sekunder. Mulai dari berbagai bahan makanan, baik yang sudah siap santap mau pun yang masih berupa raw material-nya. Berbagai buah, sayur, hingga ke pakaian pun ada di pasar tradisional. Begitu juga dengan sebuah pasar sentral tradisional yang kami kunjungi di kota Minsk ini, Sobs!

Hanya saja, bedanya adalah...., di negeri mereka, pasar tradisionalnya bersih banget, tertata rapi dan cantik! Have a look!



Belarusia

pasar di negeri orang

Pasar tradisional


Cantik dan bersih banget, ya, Sobs, pasar mereka? Ini baru pasar tradisional, gimana dengan pasar moderennya, ya?

Sementara pasar tradisional kita? Hayyah, jangan ditanya dan jangan pula berharap terlalu banyak deh. Kebanyakan pasar tradisional kita, masih mengikuti musim. Yup, ikut musim. Musim hujan, maka becek dan berlumpur lah dia. Musim kemarau? Maka kering dan lumayan bersih lah dia. Etapi, kebiasaan masyarakat kita dalam mengelola sampah, justru masih jauh dari standard, yang sering menjadi pemicu yang menjadikan pasar kita semakin kotor.

Memang sih, ada petugas kebersihan, yang memang bertugas membersihkan kotoran/sampah produksi para pelaku pasar, namun, masak mentang-mentang ada petugasnya, lalu kita tak berkewajiban untuk turut menjaga kebersihan, dengan lebih awas dan bijaksana dalam mengelola sampah yang kita hasilkan? Masak sih negeri yang mayoritas muslim ini, yang selalu mengelukan 'kebersihan adalah sebagian daripada iman' tak mampu jaga kebersihan?
Etapi, you know the situation lah, ya? Semoga saja, ke depannya, pemerintah dan masyarakat negeri ini dapat saling bahu membahu dalam menumbuhkan kedisipilinan dan kesadaran untuk hidup bersih dan sehat, melalui aksi peduli kebersihan, yang tentunya akan berefek pada aksi-aksi positif lainnya, sehingga bukan mustahil lagi untuk menciptakan pasar tradisional yang bersih dan rapi, serta cantik seperti pasar yang aku kunjungi di negeri cantik bernama Belarus itu. Bisa khaaan? Tiada yang mustahil jika ada MAU di dalam diri khaaaan?

sepotong catatan kecil 
tentang indahnya pasar di negeri orang,
Al, Margonda Residence, 21 Nov 2015


Read More