Archive for August 2014
Menu
/ /
Source
Ini adalah postingan tentang perasaan hati seorang ibu. Sebenarnya ingin nulisnya ntar-ntar aja kalo udah sampai di Bandung. Tapi berhubung sedang di rumah adik, di Sawangan, where the internet connection begitu menggoda untuk menarikan jemari di atas keyboard dan posting, rasanya sayang aja kalo harus membuang kesempatan emas ini. So, sambil downloading dan updating beberapa aplikasi yang aku butuhkan, yuk saling share tentang perasaan hati seorang ibu yuk!

Dulunya, aku tuh sering heran dengan sikap ibu, yang menjadi begitu kuatir jika aku sudah sampai di tempat tugas, tapi lupa memberi kabar, terus ibunda pun marah-marah. Padahal, menurutku kala itu, lho, apa sih yang mesti ibu kuatirkan, toh aku ini udah besar, udah emak-emak pula, masak harus lapor sih? Kan daku baik-baik saja, Mamake. :) Tapi demi menentramkan hati ibu yang senewen, palingan aku minta maaf, dan berjanji lain kali akan lebih ingat untuk memberi kabar. Hingga kemudian, kejadian yang sama berulang dan terus berulang, bukan disengaja sih, tapi karena begitu sampai di tempat tugas, aku biasanya langsung berbaur dengan staf yang berada di daerah dan mengalir di dalam tugas yang harus kami kerjakan. *Alesan.

Hingga kemudian, bertahun kemudian, dan ini masih baru banget kejadiannya, Sobs! Minggu kemarin. Intan, memberiku sebuah pelajaran berharga!
Putri semata wayang yang sudah mulai tinggal di asrama [student housing], karena sedang menimba ilmu di President University Cikarang, pulang ke Bandung untuk weekend, sekalian untuk check up, karena dirinya sedang kurang sehat. Jika biasanya aku yang menjemput bersama Gliv [my lovely car], maka kali ini, Intan ingin menjajal naik bus, agar lebih murah dan efisien. Aku pun setuju bahkan sangat menghargai keputusannnya. Aih, anak Umi udah gede dan jauh lebih dewasa. Keren punya nih!

Namun, sayangnya, Intan tuh paling takut kalo harus naik angkot di Bandung, karena punya pengalaman buruk ketika pertama kali naik angkot di Bandung, dulu. Makanya, dipaksa pun, Intan pasti akan menolak jika disuruh naik angkot sendirian. Trauma. Maka kesepakatan pun tercipta. Intan baru akan aku jemput di BIP, sore hari setelah aku kembali dari Sukabumi, karena agenda ke Sukabumi bersama tim Relawan TIK, juga ga bisa ditunda. Intan sendiri memutuskan untuk hang out dulu bersama sahabatnya, di BIP, sambil menanti Uminya pulang. Deal. Semua happy.

Masalah baru muncul, ketika aku tiba kembali dari Sukabumi. Sengaja aku buru-buru pulang ke rumah untuk menjemput Gliv, baru kemudian ke BIP untuk jemput Intan. Akan lebih mudah dan efektif jika kami berdua naik Gliv aja ketimbang harus berangkot ria, soalnya sebentar lagi juga hari akan gelap alias malam. Etapi..., putri tercinta malah ga aktif hapenya! Ini nih yang paling bikin aku sebel. Soalnya Intan tuh mengantongi 2 blackberry dan 1 tablet, masak satu pun ga bisa dihubungi? Dan kejadian 'tak bisa dihubungi' ini bolak balik terjadi. Sebel kan? Alasannya low bat? Makanya, power bank yang Umi berikan itu harusnya disimpan baik-baik agar bisa dipergunakan untuk charging, bukannya malah dipinjemkan ke teman dan tak pernah kembali lagi. Nak...nak! Hadeuh!

Jadilah diriku kalang kabut. Was-wasku luar biasa. McD adalah tempat pertama yang aku datangi untuk mencari putri tercinta ini. Karena memang Intan dan temannya paling suka nongkrong di McD. Tapi, sejauh mata memandang, selelah kaki berkeliling, aku tak menemukan sosoknya. Bahkan tak ada satu pun yang mirip dengannya. Hiks. Untungnya, aku menyimpan nomor Nada, temannya Intan yang tadi satu bus bersamanya dari Jababeka ke Bandung. Kuhubungi Nada, dan menurutnya, Intan memang sudah di BIP. Malah Nada mengusulkan agar aku mengumumkan di bagian informasi, agar Intan bisa mendengar panggilan untuknya. Bener juga! Kulakukan saran itu, dan berbuah nihil! Hatiku semakin was-was. Kuatirku luar biasa. Apalagi membayangkan kondisi Intan yang sedang dalam keadaan kurang sehat. Demam dan flu sedang berkuasa, membuat suaranya terdengar begitu lemah tadi pagi. Aduh ya Allah, kemana harus kucari putriku itu?

Akhirnya, dalam kekalutan, aku hanya bisa pasrah, kembali ke McD dan duduk di salah satu sudut. Berharap Intan ingat untuk menghubungiku. Azan Maghrib yang berkumandang, semakin membuat hatiku kembang kempis, kuatir banget. Takut Intanku kenapa-napa. Padahal kalo dipikir secara logika, toh Intan itu udah gede, bukan lagi anak kecil. Tapi kok iya aku seperti ingin menumpahkan seluruh air mata yang aku punya, saking galaunya.

Tiba-tiba sebuah sms masuk dari nomor tak dikenal. 'Mi, ini nomornya Kinan. Teman Intan.'
Nah. Tak perlu membalas sms itu, melainkan langsung deh aku dial nomornya, dan diangkat langsung oleh Intan. Entah darimana datangnya amarah itu, suara senduku malah tiba-tiba menggelegak. Marah padanya.

"Aduh, Nak! Kenapa sih hapenya satu pun ga bisa dihubungi? Mohon maaf nih, Umi udah ga bisa sabar lagi, ayo kesini karena Umi ingin ngamuk-ngamuk sama kamu! Umi hampir mati jantungan memikirkan kamu! Kok bisa-bisanya kamu ga menghubungi dan ngabari Umi??"

Tentu Intan kaget donk. Dan gugup suara dari ujung sana. "Mi, maaf banget..., plis, marahin Intan di mobil aja ya, Mi, jangan di tengah keramaian di situ. Umi di mana ini? Biar Intan segera kesitu?"

Dan tak perlu lama, putri tercinta sudah berdiri di hadapanku. Penuh rasa sesal dan permohonan maaf di mata bening itu. Terselip juga rasa takut di pancaran matanya. Takut aku ngamuk. Dan pastinya donk, dengan mengecilkan volume suara, aku menceracau. Mengeluarkan uneg-unegku akan sikapnya yang sudah membuatku kalang kabut. Baru kali ini aku merasa dan jadi tau persis bagaimana perasaan ibuku ketika menguatirkan aku, mau pun adik-adikku. Ya Allah, begini rasanya hati seorang ibu yang sedang menguatirkan anak-anaknya. Aku berusaha menahan air mata yang hendak jatuh berhamburan. Tak elok menangis di tengah keramaian. Maka kupercepat gerak kami menuju parkiran, di mana Gliv berada.

Sesampai di dalam Gliv, sungguh, air mata yang sejak tadi sekuat tenaga aku bendung, kini berhamburan dengan gaya bebas. Melimpah ruah. Intan juga, terikut alunan emosi yang tercipta. Tersedu, memohon maaf karena sama sekali tak menyangka jika [hanya] karena hapenya tak bisa dihubungi, telah menciptakan rasa was-was yang begitu luar biasa pada ibunya. Kami berdua menangis, berpelukan di dalam Gliv. Sesunggukan.

"Mi, maafkan Intan ya, Mi, Intan janji untuk tidak akan mengulang kesalahan ini lagi. Ampuni Intan ya, Mi." Dipeluknya aku dan kami kembali mengurai air mata. Beginilah yang dirasakan ibuku selama ini. Ya Allah, betapa aku ingin segera menelepon ibuku dan meminta maaf atas segala khilaf dan salahku selama ini. Beginilah feeling seorang ibu, beginilah kekuatiran seorang ibu. ~ I Learnt Alots From You Nak, Thank you! ~

Sebuah catatan pembelajaran,
Al, Sawangan, 31 Agustus 2014



Read More
/ /

Pernah mengalami cinta dikhianati? Wuih, rasanya sakit banget kan ituh? Aku pernah. Sakiiiiiiit banget! Ingin rasanya menumpahkan 10 liter berliter-liter air mata, namun ternyata persediaannya ga cukup. Hehe.

Suer deh, rasanya gimanaaa gitu! Seperti kecolongan benda paling berharga di dalam hidup ini, ketika pertama kali mengetahui bahwa cinta ini telah dikhianati. Rasanya seperti terjerembab ke dalam lembah berlumpur yang di dalamnya penuh dengan pecahan kaca, kala mengetahui bahwa si dia bermain api. Lebih sakitnya lagi, jika ternyata, si selingkuhan itu adalah teman kita sendiri! *Ini persis seperti yang ada di lagu-lagu atau sinetron kan, Sobs? Tapi ternyata, banyak lho kisah nyata yang seperti itu.

Beberapa klien teman yang sering konsul curhat,  laki-laki dan perempuan, secara terbuka bercerita seperti itu. Dikhianati oleh pasangan hidup yang begitu mereka percayai dan cintai dengan cara yang begitu cantik! Pasangan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, seolah si pasangan tetap menjadi istri/suami yang setia, padahal sedang bermain api, dengan wanita/pria lain yang ternyata malah teman mereka sendiri. Duh, sakit banget pastinya!

Lalu, apa yang mereka lakukan begitu mengetahui bahwa pasangannya berkhianat? Mencak-mencakkah? Bersikap kasar/keras? Atau malah berdiam diri, dan menangis berhari-hari? Banyak sekali reaksi, yang sebenarnya adalah reaksi alamiah dari orang-orang yang cintanya dikhianati. Menangis, itu wajar kok. Marah-marah, juga wajar. Menghancurkan peralatan, boleh-boleh saja [tapi mbok ya dipilah-pilah, biar ga rugi gede :)]. Membunuh, wah, jangan atuh!

Well, seperti yang sudah aku posting dalam kultwit sesuai permintaan beberapa klien sahabat, berikut adalah 9 hal yang TIDAK BOLEH di lakukan ketika hati sedang panas dan sulit berfikir logis, gegara cinta yang dikhianati. 

1. TIDAK BOLEH Mengusir si Dia

Ini adalah tindakan utama yang tidak boleh kita lakukan! Mengapa? Karena, jika si dia kita usir, gimana kita mau memantau tindak tanduknya lagi, sementara kita masih harus melanjutkan investigasi kita, untuk memastikan benar tidaknya berita pengkhianatannya itu. Jika pun sudah benar, tentu akan lebih mudah untuk menyelesaikan persoalan, ketika kita masih tinggal serumah dengannya dibanding jika si dia sudah jauh dari jangkauan dan pandangan. Apalagi, jika faktanya adalah, bahwa kita belum yakin benar akan tindakan kita selanjutnya setelah mengetahui perselingkuhan/pengkhianatannya [jika memang benar]. Jadi, daripada tambah runyam, mending pending dulu deh upaya pengusiran itu, agar lebih mudah bagi kita untuk melanjutkan aksi-aksi investigasi atau pun monitoring.

2. TIDAK BOLEH Meninggalkan Rumah

Iya donk, selain tidak boleh mengusirnya, kita sendiri juga TIDAK BOLEH meninggalkan rumah. Rugi donk ah! Rumah bersama, baik sewa atau pun milik berdua, kok seenaknya kita tinggalkan begitu saja hanya karena si dia berbuat ulah. Justru dengan tetap bertahan, kita akan menunjukkan padanya sebagai pasangan yang pantang menyerah dan punya prinsip. Tidak lari dari masalah. Bertahan di rumah yang sama, menunjukkan padanya bahwa kita adalah pribadi yang kuat, tegar dan tidak gentar. Selain itu, seperti pada point 1 di atas, dengan bertahan/tetap serumah, berarti kita masih dapat melanjutkan pemantauan/monitoring, investigasi dalam pengumpulan data yang kita butuhkan dengan lebih mudah.

3. TIDAK BOLEH Konfrontasi Tanpa Bukti Konkrit

Nah, yang ini juga perlu diperhatikan agar kita tetap berada dalam koridor istri/suami elegan!
Iya donk. Kita tidak serta merta menuduhnya, melainkan baru akan me-matikutu-kannya setelah semua bukti terkumpul dan lengkap. Sehingga, begitu kita 'tembak', si dia tak akan mampu berkutik. Rasanya akan keren dan bikin kita legaaaa banget lho, saat mendudukkannya dan mengungkap semua bukti pengkhianatan itu di depannya, tanpa membuatnya mampu mengelak. Hehe. Jadi, bersabarlah dulu untuk memberondongnya sebelum semua bukti terkumpul secara konkrit dan komplit!

4. TIDAK BOLEH Pura-pura ga Tahu

Nah, kalo yang ini hukummnya wajib! Ga boleh pura-pura ga tahu bahwa si dia telah berkhianat. Ya iyalah, jika kita memilih sikap mendiamkan pengkhianatannya, apalagi pura-pura cuek dan ga tahu, maka yang untung adalah si dia dan selingkuhannya. Mereka akan dengan semakin seenaknya bermain api. Ga peduli akan terbakar nanti, yang penting mereka akan dengan semene-mena menikmati perselingkuhan itu, dan menoreh luka di hati kita. Ih, ga mau khaaaan? Jadi, bersikap tegaslah. Menurut aku sih, cukup dengan berkata, 'Mas/dek, hati-hati lho, hidungku sudah mencium aura perselingkuhan nih di sekitarku. Segera hentikan sebelum jadi penyesalan."

Yakin deh, kalimat itu akan membuatnya berfikir keras, untuk mencoba menghentikan perselingkuhan atau malah mencari cara lain melanjutkan perselingkuhannya. Tapi biasanya sih, laki-laki/wanita normal, akan berfikir ulang untuk lanjutkan perselingkuhan itu, jika tau bahwa istri/suaminya MENGETAHUI tindak tanduknya itu.

5. TIDAK BOLEH Curhat ke Semua Orang

Ini artinya bahwa kita harus pilah-pilah dalam memilih orang untuk curhat. Membicarakan hal sensitif seperti ini, butuh orang yang tepat. Salah memilih tempat curhat, justru akan menambah runyam keadaan. Hati-hati! Salah-salah, mereka malah akan menyebar-luaskan berita ini sebagai hot gossip, bukannya berusaha mencarikan jalan keluar bagi persoalan yang sedang kita hadapi. Ya khaaan? :) So, be selective in curhat!

6. TIDAK BOLEH Curhat ke Teman si Dia

Ini juga perlu banget mendapat perhatian. Tidak semua teman si dia [walau akrab dengan kita], bisa kita andalkan dalam mengatasi persoalan seperti ini. Terkadang, si teman itu malah memanfaatkan situasi, sehingga bukan pertolongan yang kita peroleh, melainkan tambahan persoalan.

7. TIDAK BOLEH Terobsesi pada Objek Selingkuhannya

Nah, terkadang, saking sakit hatinya kita, kita malah jadi sibuk menguber-nguber si selingkuhan pasangan kita [obyek selingkuhan]. Jadi penasaran, secantik/seganteng apa sih dia itu sampai bikin hati suami/istri ku kepincut? Sehebat apa sih dia itu? Bla...bla....

Jangan terlalu heboh mengejar kenapa sih suami/istri sampai begitu jatuh hati padanya. Karena ini justru akan membuat suami/istri semakin berfikir serius mencari kelebihan dan membandingkan selingkuhannya itu dengan kita. Jangan pula kita melabrak si selingkuhan, karena itu akan menjatuhkan harga diri kita, baik di depan si selingkuhan mau pun pasangan kita. Mending bersikap 'cantik' tapi menakutkan tegas dalam mencari solusi bagi permasalahan yang sedang kita hadapi. Upayakan untuk membahasnya berdua, secara dewasa, sabar dan elegan!

8. TIDAK BOLEH Menghina Obyek Selingkuhan

Yang ini jelas TIDAK BOLEH. Karena bisa-bisa kita malah diseret ke meja hukum dengan tuduhan pencemaran nama baik atau sejenisnya. Ih, amit-amit deh! Mending menyabarkan hati, dan selesaikan dengan kepala dingin. Mending melarikan kemarahan pada suami/istri kita deh, karena sesungguhnya, semuanya tidak akan terjadi jika si dia bersikap setia kan? Tidak ada asap tanpa api. 

9. TIDAK BOLEH Melabrak Apalagi Membunuh Obyek Selingkuhan

Nah, yang ini jelas ga boleh banget! Menghina saja kita bisa diperkarakan, apalagi melabrak dan melakukan tindak kekerasan hingga membunuh segala. Oh, NO! Sekarang ini kan jaman hukum, jadi kita pun harus pandai-pandai meniti ombak, agar payung hukum tetap bisa melindungi kita dari terpaan ombak dan badai kehidupan. Ok?

Nah, Sobats tercintah, itulah 9 point TIDAK BOLEH dilakukan ketika hati kita sedang membara dan pikiran sulit diajak kompromi, akibat cinta yang dikhianati. Semoga bermanfaat yaaa. :)

Sekedar berbagi tips,
Al, Sawangan, 30 September 2014



Read More
/ /


Tak dapat dipungkiri bahwa negeri cantik berjuluk mutiara dari Khatulistiwa ini, adalah surga bagi para penikmat wisata eksotika alam tropika. Namun siapa yang berani membantah bahwa dibalik keelokan dan permai alamnya, sentuhan geologis Indonesia justru menempatkannya di daerah ring of fire alias cincin api, yaitu berada di antara wilayah lintasan dua jalur pegunungan [pegunungan sirkum pasifik dan sirkum mediterania], yang memiliki banyak sekali gunung berapi aktif sehingga berpotensi menimbulkan gempa vulkanik. Ditambah pula dengan posisinya yang terletak pada pertemuan tiga lempeng aktif, yaitu lempeng Indo-Australia di bagian Selatan, lempeng Euro - Asia di bagian Utara dan lempeng Pasifik di bagian Timur, malah menempatkan Indonesia sebagai negara yang sangat rentan terhadap bencana. Kenyataan geologis ini pula yang menjadikan bencana demi bencana yang datang silih berganti atau malah berbarengan di beberapa tempat itu sebagai sebuah hukum alam alias keniscayaan yang tak dapat ditolak. Lihat saja, mulai dari gempa bumi dan tsunami yang telah menggulung dan meluluh-lantakkan jiwa manusia, hewan ternak hingga gedung, rumah, dan berbagai infrastruktur, hingga ke banjir bandang, tanah longsor, letusan gunung berapi, angin puting beliung, kebakaran dan aneka bencana lainnya, tersaji lengkap sebagai bukti bahwa negeri ini memang menjadi langganan bencana, baik bencana alam mau pun bencana yang disebabkan oleh ulah manusia, sehingga tak heran jika negeri tercinta ini pun mendapat gelar sebagai negeri 1001 bencana.

Sebagai negeri yang begitu rentan akan bencana, dan berkaca pada sejarah kebencanaan yang kerap menerpa negeri ini, sejatinya, kita sudah dapat memetik banyak sekali hikmah pembelajaran di dalam menghadapi bencana. Ini sejatinya lho, ya! Namun lihatlah, berulang kali disambangi oleh bencana, kita tetap saja masih belum mampu menghadapinya dengan sigap. Tetap saja bencana demi bencana yang menerjang, sukses menimbulkan kerugian moril dan material yang luar biasa, serta membekaskan dampak trauma yang juga luar biasa. Tidak seperti halnya Jepang, yang telah begitu akrab hidup berdampingan dengan bencana, utamanya dalam 'bersahabat' dengan gempa bumi dan tsunami.

Berkaca pada Gempa Bumi dan Tsunami di Aceh

Tentu kita belum lupa akan sebuah peristiwa maha dasyat yang terjadi di Aceh, sekitar 10 tahun yang lalu, tepatnya pada 26 Desember 2004. Sebuah bencana bernama cantik, yang sukses menggoreskan tinta hitam legam tak terlupakan di benak siapa pun - masyarakat Indonesia yang pernah menyaksikan, mengalami atau hanya sekedar melihat beritanya, hingga ke dunia international yang terketuk hatinya untuk urun bantuan. Yah, tsunami! Gelombang maut yang diawali oleh gempa bumi berskala luar biasa besarnya itu [9,1 SR], telah menghumbalang pesisir Aceh dan pulau-pulau sekitarnya hingga 6 kilometer ke arah daratan, telah dengan sukses melayangkan 126.741 nyawa manusia; 93.285 orang hilang; 500.000 orang kehilangan hunian dan 750.000-an orang mendadak berstatus tunakarya.

Tak cukup sampai di situ, dari sektor privat, gelombang maut ini menghancurkan 139.195 rumah [hancur atau rusak parah], 73.869 lahan kehilangan produktivitasnya, 13.828 unit kapal nelayan raib bersama 27.593 hektare kolam air payau dan 104.500 usaha kecil menengah. Pada sektor publik, sedikitnya 669 unit gedung pemerintahan, 517 pusat kesehatan serta ratusan sarana pendidikan hancur atau mandek berfungsi. Selain itu, pada subsektor lingkungan hidup, sebanyak 16.775 hektare hutan pesisir dan bakau serta 29.175 hektare terumbu karang rusak atau musnah.


Kerugian jiwa raga, moril dan material yang luarbiasa ini, tentu saja bukan hanya disebabkan oleh bencana tsunami semata, melainkan disebabkan oleh minimnya pengetahuan kita, akan tsunami itu sendiri. Kenyataan memperlihatkan bahwa pengetahuan akan gelombang maut ini adalah sangat jauh dari jangkauan masyarakat Aceh kala itu [26 Desember 2004]. Tak satu pun yang pernah mendengar tentang tsunami. Tak satu pun yang pernah paham kecuali orang-orang di kepulauan Simeulu tentang hikayat 'smong'-nya, bahwa jika 'terjadi peristiwa di mana air laut surut setelah gempa bumi melanda, segeralah menjauh darinya dan capai tempat yang tinggi. Selamatkan diri," Sehingga yang terjadi adalah, orang-orang di tepi pantai justru bergembira memburu ikan-ikan yang menggelepar karena surutnya air laut dari tepi pantai, sehingga saat gelombang itu menerjang, semua dilahap tanpa sempat berbuat apa. :(

Padahal, saat kita menilik lembaran sejarah, kita pun ternganga, karena ternyata peristiwa yang sama ini sudah pernah menghantam daratan Aceh pada tiga periode, yaitu pada tahun 1797, 1891 dan 1907. Namun sayangnya, pengetahuan akan bencana ini, sama sekali tidak diturunkan kepada generasi penerusnya, sehingga masyarakat Aceh [para korban] langsung panik dan gagap begitu menghadapi musibah dasyat ini.

Pengurangan Resiko Bencana

Berkaca pada kenyataan di atas, maka selain mengupayakan pembangunan kembali di segala bidang, maka sebuah usaha yang sedang dan akan terus diupayakan, baik oleh pemerintah daerah maupun pusat adalah membekali masyarakat Indonesia untuk siaga bencana. Sebuah upaya yang tentu saja tidak mudah dan membutuhkan partisipasi aktif dari berbagai pihak, pastinya. Untuk Aceh sendiri, upaya ini telah dilakukan bahkan pada masa-masa rehab-rekon Aceh dan Nias paska tsunami.

sumber : dari sini


Beberapa NGO-Internasional yang memiliki unit atau pun perhatian ke bidang DRR [Disaster Risk Reduction] atau Pengurangan Resiko Bencana, bahkan telah memulai aktivitas ini sejak dini. Mulai dari membekali anak sekolah akan pengetahuan tentang DRR, hingga ke masyarakat yang dikumpulkan secara berkelompok dan dilakukan secara berkala dan berkesinambungan. Tak hanya NGO-Internasional, sebuah institusi penelitian pun kemudian dibentuk. Bernama Tsunami Disaster Research and Mitigation Center [TDRMC], lembaga yang kemudian menjadi tempat pembelajaran bagi daerah mau pun negara lain mengenai kebencanaan. Banyak hal yang telah dilakukan oleh lembaga ini, baik secara mandiri mau pun bekerjasama dengan pihak lain, dalam membekali dan menyiapkan masyarakat Aceh agar siaga bencana. Baik berupa pembekalan pengetahuan tentang kebencanaan, simulasi tsunami [tsunami drill] dan hal terkait lainnya. Sayangnnya, usaha-usaha tersebut tidak berkelanjutan, disebabkan oleh berakhirnya masa tugas lembaga-lembaga internasional [International NGO], yang harus kembali ke negerinya, atau TDRMC sendiri harus melaksanakan program-program lainnya.



Sumber foto 
Mari Berdamai Dengan Bencana

Dari uraian panjang di atas, tentu kita sepakat bahwa banyaknya korban jiwa dan harta benda dalam setiap bencana yang terjadi di negeri ini timbul karena kurangnya pengetahuan dan ketidaksiapan kita di dalam menyiasati bencana. Kita semakin paham, bahwa bencana yang datang silih berganti ini adalah disebabkan oleh kondisi alam dan letak geologis negeri kita, yang terapit di antara pertemuan tiga lempeng dan juga berada di lingkungan cincin api [lihat keterangan pada awal paragraf]. Bencana demi bencana yang terjadi ini tidak mungkin ditolak, juga mustahil untuk dihentikan. Lalu kita pun mulai harus mengerti bahwa satu-satunya cara menyiasati bencana-bencana ini adalah dengan membekali diri kita untuk mampu hidup berdampingan dengan bencana. Mampu berdamai dan bersahabat dengan bencana. Muluk? Rasanya tidak deh. Rasanya, ketika kita tak lagi punya pilihan lain, mendidik diri agar mampu berdamai dengan bencana adalah langkah paling masuk akal deh. Masak kita harus bermigrasi ke negara lain untuk menghindar dari bencana? Emangnya negara itu mau apa menampung kita sebanyak ini? Hehe.

Well, berbicara tentang 'bersahabat dan berdampingan dengan bencana', tentu bukanlah hal sekali klik! Banyak tahapan yang harus kita lakukan secara sadar dan disiplin. Dan tentunya tidak akan bisa lepas dari partisipasi aktif berbagai pihak, baik pemerintah, warga masyarakat mau pun unsur terkait lainnya.

Lalu apa saja yang sebaiknya dilakukan dalam membekali diri kita untuk mampu berdamai dengan bencana?

1. Bersikap bijak di dalam memandang musibah yang terjadi.

Seringkali, masyarakat kita langsung menghakimi saat suatu musibah melanda suatu daerah. Tak jarang kita langsung mendengar judgement seperti ini 'itulah, daerah A kebanyakan berbuat maksiat sih, makanya dihukum oleh Allah.'
Padahal, jika wawasan masyarakat kita bisa di-upgrade, dan digiring untuk lebih mampu berfikir kritis, benar dan ilmiah, bahwa alam ini diciptakan Allah dengan hukum-hukumnya sendiri. Bahwa menurut kajian geologi, bumi dengan berbagai lapisan tanahnya selalu berkembang, berubah dan memuai. Tiap satu lapisan dengan lapisan lain bisa bertumbukan dan mengakibatkan gempa bumi, seperti yang terjadi di Tasik Malaya, misalnya. Tumbukan dan gempa bumi ini tetap akan terjadi walau pun masyarakat yang hidup di daerah itu menjalankan syariat dengan baik dan benar.

2. Lebih kritis di dalam menerima isu-isu terkait kebencanaan.

Sering sekali terjadi, adanya oknum yang mengambil manfaat setiap ada bencana gempa bumi, atau bencana lainnya. Misalnya dengan menghembuskan isu bahwa gempa ini berpotensi tsunami, baik melalui sms, sosial media, BBM broadcast, dan lainnya. Masyarakat kita yang gampang panik [terprovokasi], langsung deh mencari upaya penyelamatan dengan melarikan diri, misalnya. Meninggalkan komplek perumahannya dan akhirnya malah 'menyerahkan' rumah dan seisinya untuk 'digarap' habis oleh sang oknum.

Lebih kritis dalam menanggapi isu-isu seperti di atas, adalah juga merupakan salah satu langkah pengurangan resiko bencana [kehilangan harga benda] yang jitu. :).

3. Melatih Masyarakat untuk Siaga Bencana

Bencana tidak bisa ditolak, itu sudah pasti. Yang bisa dilakukan adalah mengupayakan agar resiko bencana ini sendiri bisa diminimalisir. Caranya adalah dengan melatih masyarakat untuk selalu siaga bencana. Banyak cara yang dapat dilakukan, seperti yang telah diterapkan Aceh dan beberapa daerah lainnya. Melakukan tsunami drill, pembekalan pengetahuan tentang karakteristik bencana, dan hal terkait lainnya.

4. Membangun gedung, fasilitas sarana dan prasarana yang tahan gempa.

Sudah bukan hal asing lagi jika masyarakat Aceh masa kini [setelah tsunami], mulai menaruh perhatian serius dalam bidang ketahanan terhadap gempa, bagi rumah yang akan mereka bangun. Rumah beton nan mewah dan cantik saja tidak cukup, faktor ketahanan terhadap gempa adalah salah satu faktor yang kini masuk ke dalam kriteria prioritas. Begitu juga dengan pembangunan perkantoran, fasilitas umum, sarana dan prasaran, semuanya memasukkan unsur ketahanan terhadap gempa ke dalam syarat wajibnya.


5. Membuat jalur evakuasi dan tempat evakuasi yang memadai.

Tidak ada dari kita yang mengharap bencana untuk datang menyambangi. Apalagi mengharapkan tsunami berkunjung kembali. Tentu tidak. Namun, siapa yang bisa menolak jika musibah ini kembali melanda? Maka, membuat jalur evakuasi dan tempat evakuasi [escape building] yang memadai adalah suatu keniscayaan.

6. Membuat sistem peringatan dini dengan jangkauan yang luas.

Nah, yang ini, tentu bukan tugas masyarakat donk, tapi adalah tugas pemerintah untuk membangun sebuah sistem peringatan dini terhadap terjadinya bencana. Selain membangun sistemnya, pemerintah dan pihak terkait juga berkewajiban untuk mengedukasi masyarakat untuk ngeh dan paham akan langkah apa yang harus dilakukan saat mendapatkan pemberitahan/peringatan dini ini, sehingga masyarakat benar-benar siaga dan sigap jika bencana terjadi.

7. Belajar dari Jepang tentang bagaimana negara ini menyiapkan masyarakatnya agar siaga bencana, dan menyebarluaskannya bagi masyarakat Indonesia.

Menyebarluaskan best practices and lesson learnt  negeri matahari terbit [Jepang] dalam kesiap-siagaan dan kesigapan mereka dalam menghadapi bencana [gempa bumi dan tsunami], bukanlah hal yang buruk. Tetapi justru akan menjadi salah satu cara di dalam mengedukasi [menambah pengetahuan] masyarakat kita untuk turut belajar menyiasati bencana.

Bencana memang tidak bisa dihindari, namun berupaya untuk mengurangi resiko bencana yang akan terjadi, adalah suatu keniscayaan. Untuk itu, yuk kita bersiap diri untuk mulai bersahabat dan berdamai dengan bencana.

Artikel ini diikutsertakan pada
Lomba Menulis Kebencanaan Memperingati 10 Tahun Tsunami Aceh,
Kategori Menulis di Blog. 


Sumber referensi:
http://www.scribd.com/doc/91932961/Seri-Buku-BRR-Buku-1-Kisah
https://www.facebook.com/notes/mardy-joeang/cincin-api-indonesia-negeri-dalam-bayang-bayang-bencana/10151175790184615





Read More
/ /

Udah beberapa hari ga sempat posting di rumah cantik ini. Sibuk banget sih ngga,  cuma agak heboh oleh wara wiri sana sini. Dan,  malam ini, iseng,  cek ricek foto,  nemu foto ini deh.  Eits,  ga boleh iri lho yaaaaa.  :d

Penasaran dimana?  Di rumahnya si mbah Google donk ah! 

Read More
/ /

mother and daughter

Time is running so fast,
It's like a dream to see you're grown up,
and will make your own decisions,
I will try to respect of that fact, but the thing you must understand
that to me, you will always be my little girl.
I may not be able to carry you in my arms anymore,
but I will always carry you in my heart!

Kupasang puisi di atas bukan tanpa alasan. Tapi deeply from the bottom of my heart, begitulah rasanya. Waktu memang seperti berlari. Ngebut! Rasanya baru kemarin menghadiri rapat orang tua murid dengan pengurus SMU Labschool Universitas Syiah Kuala, tentang iuran siswa baru dan segala tetek bengek lainnya, eh sekarang, para siswa baru itu telah melangkah masuk ke Perguruan Tinggi. Salah satunya adalah Intan, putri tercinta.

Yes, waktu seakan berlari, tiada henti. Baru kemarin sibuk mendampingi dan mendukungnya persiapkan diri hadapi ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri, eh sekarang malah sudah melangkah masuk ke sebuah asrama keren bernama Student's Housing of President University, untuk tinggal di sana dan menuntut ilmu di salah satu fakultas yang dimiliki oleh Universitas keren ini. Eits! Bukannya sok gaya, lho, Sobs, sebenarnya, aku dan Intan itu berharap banget agar dia bisa lulus di perguruan tinggi negeri yang dibidiknya, namun apa daya, nasib masih berkata lain. Intan kalah bersaing, dan Alhamdulillahnya sudah mempunyai jatah kursi berdasarkan beasiswa yang diperolehnya dari President University ini.

Jadi, walau terkenal sebagai universitas yang mahal dan bolak balik harus setor iuran SPP, karena satu semester di sini jangka waktunya hanya 4 bulan, akunya sih masih bisa bernapas lega. Kan ga harus bayar penuh, 2/3 dari biaya kuliah sudah disubsidi berdasarkan beasiswa yang diperoleh Intan. Sehingga tugasku adalah membayar 1/3 dari iuran SPPnya saja. Jadi, walau pun terasa agak gimanaaaa gitu, tetap harus disyukuri lah ya.

Well, back to the topic. Berpisah lagi dengan putri tercinta memang terasa berat. Yang terlihat lebih berat malah Intan sih. Baru saja happy berkumpul kembali berdua, setelah berpisah hampir dua tahunan lamanya, eh sekarang malah sudah harus berpisah lagi. Intan wajib masuk asrama. Jadi mau ga mau, kebersamaan yang terasa hangat dan bahagia, terpaksa untuk beberapa waktu ke depan, harus ditunda. Terus terang, melepaskan anak gadis semata wayang ke kota besar bukanlah hal gampang. Apalagi Intan belum pernah dilepas sendirian seperti itu. Jika selama ini dia jauh dariku, tapi ada orang tuaku yang mengawasi tumbuh kembang kehidupannya. Dan kini? Dia harus menjalani semuanya seorang diri. Di kota besar pula. Ya Allah, bimbing dia untuk menjadi gadis mandiri dan tetap dalam koridor-Mu, ya Allah. 

Welcome Home!

Kompleks Kampus President University terlihat ramai. Mobil-mobil terlihat satu persatu memasuki pintu gerbang dormitory, setelah terlebih dahulu disambut dengan ramah oleh para panitia 'welcoming new student'. Seorang satpam datang menyapa, saat kami juga telah berada dipintu gerbang, diikuti oleh dua senior [kakak kelas] yang mengucapkan salam hormat begitu kami menurunkan kaca mobil. Yang menawan hatiku adalah, pria berwajah oriental ini, menyapa ramah, mengucapkan selamat pagi dan menanyakan apakah kami lebih senang dia bertegur sapa di dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris?

Excited dan penasaran, kami memilih untuk berinteraksi di dalam bahasa Inggris donk. Dan, wow! Sang senior, langsung menyapa Intan dengan sambutan khas Pres-Univ. 'Welcome Home, Intan!' bla..bla...

Ya, dua kata yang pastinya dengan serta merta menyejukkan hati dan menghangatkan jiwa. Berusaha menciptakan suasana keakraban dan kekeluargaan bagi mahasiswa/i baru agar betah di tempat baru mereka ini. Bagiku sendiri, sapaan ini sungguh membuat kepercayaanku meninggalkan putri tercinta di dormitory [asrama] of President University, Cikarang, tumbuh dan menenangkan hati. Tadinya aku masih sempat kuatir, gimana ya pergaulan dan lingkungan tempat tinggal Intan nanti? Glamour kah? Sehatkah? 

Semakin melangkah ke dalam lingkungan asrama, perasaanku semakin nyaman dan bahagia. Sederetan meja untuk masing-masing corner telah menanti. Menyambut kedatangan new student dalam mendaftarkan ini itu. Kuikuti Intan dan kakak senior yang ditugaskan mendampinginya, dengan gembira. Terus terang, aura yang bergelora di sini sangat positif, terbukti dengan cerahnya hatiku mengikuti prosesi ini. Keren deh ih! Intan berpindah dari satu meja ke meja lainnya, untuk keperluan tertentu. Ada rasa bangga yang tumbuh pesat di hatiku menyaksikan Intan yang dengan lugas berinteraksi dalam bahasa Inggris dengan kakak-kakak seniornya itu. Bahasa wajib di Universitas ini memang bahasa Inggris, dan senang rasanya melihat putri tercinta menguasai bahasa yang satu ini dengan lancar dan tanpa malu-malu. Aih, ternyata Intan itu supel banget! Boleh donk muji anak sendiri? Hehe


Tak dapat dipungkiri, Intan yang akan tinggal di sini, eh malah emaknya ini yang excited banget! Habis suasana dan lingkungan asramanya itu lho, bikin betah banget! Padahal merasakan udara Cikarang yang begitu panas sih, ogah stay di sini, namun keakraban yang terpancar, penataan lingkungan serta kamar-kamar pada mahasiswanya itu lho, bikin happy. Aih, jadi ingin kuliah lagi deh ih! *Nasib ga pernah jadi anak kos waktu kuliah dulu*

Setelah mendapatkan kunci kamar, dan arahan dari kakak seniornya, akhirnya kami dipersilahkan untuk menuju ke kamar Intan.
Oya, setiap kamar akan diisi oleh dua new student, dan baik aku maupun Intan, sama-sama penasaran akan siapa yang akan jadi roommate nya Intan nanti.... Ya, mudah-mudahan seorang teman yang  sehati dan se-visi misi dengan Intan, ya, Nak! 

Tak membuang waktu, kami pun memasuki kamar yang dituju, dengan diantarkan oleh kakak pendamping Intan, yang adalah seorang mahasiswi tingkat akhir, jurusan Public Relation. Pantes aja cara bicaranya itu asyik banget, lugas, dan supel!

Tak terasa, waktu seakan berlari! Waktu telah beranjak sore hari, dan kamar Intan telah rapi jali, namun sang room-mate belum juga muncul. Mau tak mau, kami sudah saatnya undur diri, karena peraturannya, selain mahasiswi/penghuni Student Housing, adalah tidak diijinkan untuk menginap di sini. Maka dengan berat hati, kami pun pamit meninggalkan Intan seorang diri. Hiks. Selamat belajar ya, sayang, Umi yakin dan percaya bahwa kamu tetap akan menjadi anak kebanggaan Umi. Selamat menjadi mahasiswi, tekunlah belajar agar bisa cepat keluar dari kampus ini, ya, sayang! Umi ga tahan lama-lama pisah denganmu, sayang....

sekedar catatan harian,
Al, Bandung, 13 Agustus 2014




Read More