Archive for February 2014
Menu
/ /
Ga kerasa, hari ini sudah Jumat lagih! Dan sudah menutup bulan Februari yang ternyata hanya berkisar dua puluh delapan hari pula! Wow, waktu memang seakan berlari ya, Sobs? Semakin cepat dan semakin cepat saja. Sudah seimbangkah perputaran sang waktu yang kian cepat ini dengan gerak langkah kita dalam mengisi kehidupan dan memenuhi tugas 'negara' yang kita emban?
Terkadang, betapa pun bahagianya kita, yang sukses mengemban tugas 'negara' misalnya, tak bisa dimungkiri, pasti tetap menyisakan rasa lelah yang luluh lantakkan tubuh dan tulang belulang. Apalagi jika ternyata kita belum mampu menuntaskan 'tugas negara' akibat kendala yang menghadang, maka rasa lelah dan jenuh pun semakin menyiksa. Bener kan, Sobs?

Namun, biasanya sih, kehadiran hari Jumat senantiasa mampu menimbulkan sumringah di hati, atau setidaknya menyemburatkan secercah cahaya kebahagiaan khaaaan? Ya iyalah, kan setelah Jumat sore, kita akan bebas sejenak dari rutinitas formal [kantoran dan sejenisnya], dan masuk ke dua hari yang paling dinanti, yaitu wiken [Sabtu - Minggu]. Asyiiiiik!

Etapi, jika wiken terjelang, dan rasa suntuk serta lelah masih setia menyelimuti, harus ngapain donk? Padahal udah berusaha banget rileks, enjoying me time, tapi masiiiiiih aja suntuk tuk tuk! Huft.
Nah, kalo udah seperti ini, rasanya memang sulit juga ya, Sobs! Karena penyembuhan dari rasa seperti ini untuk setiap orang itu memang berbeda-beda. Ada yang senangnya mendatangi pantai dan berteriak sekuat tenaga di sana, mengeluarkan seluruh rasa hingga benar-benar plong. Ada juga yang serta merta mencorat coret di pasir pantai, ada yang langsung menceburkan diri ke dalam ombak yang memanggil-manggil. Atau malah ke gunung, menyepi dan merenung sambil menyatu dengan alam. Ada pula yang hobbynya malah kebut-kebutan di tengah malam buta. Macam-macam deh.

Tapi adakah yang menghilangkan rasa suntuknya itu dengan lari ke rumah si Mbah? Mencari gambar dan quote bagus untuk menentramkan jiwa? Nah, itu gue banget tuh. Sebenarnya pilihan lari ke rumah si Mbah itu, baru sering kulakukan sejak pindah ke Bandung ini sih. Kalo di Banda dulu, jika suntuk melanda, maka aku akan menyatu dengan Gliv [pada kenal kan dengan mobilku tercinta, hehe], dan berkendara perlahan atau kadang-kadang ngebut di malam buta, mengelilingi kota. Rasanya asyiiiiik banget!

Namun, sejak berada di Bandung, rasanya ga aman deh jika ingin berkendara di malam buta. Mendingan main ke rumah si Mbah, mencari quote yang bagus atau sekedar cari image yang sesuai kebutuhan hati. Seperti image yang ada di bawah ini nih, Sobs! Coba lihat, ngademin banget khaaan? :)

Credit
Sebenarnya, diluar apa yang kita lakukan di atas, ada satu cara paling ampuh menghilangkan suntuk sih! Dijamin mujarab jika kita memang meyakininya. Satu-satunya obat jitu yang aku sendiri sangat mempercayainya. Apaan sih, Al? 

Credit
Yup, lari dan mengadu kepada sang Maha Pencipta, sang Pemilik Kehidupan! Bermohon dan pasrah kepadaNya. Don't you think so, Mantemans?

sekedar sharing,
Al, Bandung, 28 Februari 2014.
Read More
/ /
Pagi-pagi sudah mendapat bisikan dari Mamanya Icha, bahwa Datuk Puteh berulang tahun. Ga tanggung-tanggung, ulang tahun yang ke 330! Wow! Si kakak minta tolong carikan kue ulang tahun untuk nanti sore diberikan kepada si Opa [Datuk Puteh]. Datuk Puteh adalah kepala suku di kampung 'nenek'. Bagi yang mengikuti kisah petualangan gaibku yang ini tentu sudah familiar donk tentang 'nenek', Icha dan keluarga gaib lainnya? Eits, ini reality lho, but its up to you mau percaya opo ora. Tidak dipaksain. Hehe.

Nah, mendengar si Opa ulang tahun, tentu aku pun ingin memberikan kado terindah dunk, tapi apa ya? Mau beli baju, ga tau persis seleranya si opa yang bagaimana. Akhirnya, ide jitu pun meluncur bebas, dan, bait puisi pun menghias kartu yang aku khususkan untuk sang Opa. Si kepala suku, yang juga adalah mertuanya 'nenek' 

Andai Allah merestui,
ingin kuhadir di sini,
turut serta menghadiri,
perayaan ulang tahunmu

Namun apa daya,
mata dan telinga belum berdaya,
jiwa ini juga belum berjaya,
tuk kunjungi, tempat dan alammu

Namun semua itu,
tak urungkan niat dan doaku,
tuk mohonkan pada sang Prabu,
Panjangkan umurmu, sehatkan dirimu, dan tambahkan bahagiamu
Selamat Ulang Tahun yang ke 330 tahun, Atok Putih!

Ke tiga ratus tiga puluh tahun? Yes! Mustahil ah! Yup, mustahil jika yang berulang tahun adalah manusia, namun ini adalah makhluk Allah dari dimensi lain, alias seorang jin muslim! :)

Kuletakkan kartu itu di atas meja, di samping Macsy, laptop tercinta. Dan selepas shalat magrib, sengaja aku duduk manis di samping Macsy, mengucapkan selamat ulang tahun pada sosok yang tentu saja tak mampu ditangkap oleh mata batinku. Tak sampai 10 detik, si kartu yang telah aku bungkus rapi di dalam amplop bikinan sendiri, lenyap nyap nyap! Subhanallah. Maha Besar Engkau ya Rabb. Ckckck. 

sebuah catatan ajaib,
Al, Bandung, 27 Februari 2014

Read More
/ /
Tak terasa, waktu seakan berlari. Dua [2] bulan dua puluh enam [26] hari telah terlewati sejak pendaftaran Seleksi Srikandi Blogger 2014 dibuka. Tahapan seleksi pun terlaksana secara sistematis dan menghasilkan para finalis yang dengan agresif dinamis menjalankan tugas yang diembankan kepadanya dalam rangka mencapai tangga puncak menuju singgasana sang srikandi. Makpan [Emak Panitia] dan MakJur [Emak Juri] pun dibuat berdecak kagum oleh kreativitas dan semangat juang para finalis dalam melaju ke tangga tertinggi.

Tahapan awal menghasilkan 50 finalis Srikandi Blogger 2014, sungguh membuat anggota KEB yang tersebar di seantero jagad terpesona. Tentu saja oleh keunikan dan kelebihan para emak finalis yang cetar membahana. Semua tampil mempesona, dengan kelebihan dan keunikan masing-masing. Sukses membuat kami [MakJur] pusing tujuh keliling dalam mengerucutkan mereka ke dalam lingkaran 10. Gimana tidak coba, Sobs, ke 50 finalis tampil cetar mempesona, tanpa malu-malu gak kayak kami, para finalis SB2013 yang lalu, membuka mata Makpan dan MakJur serta seluruh anggota KEB. Terperangah dan kagum serta bangga, betapa komunitas KEB tercinta ini memiliki para emak yang tak hanya melek digital, canggih, tapi juga aktif dan senantiasa menebar manfaat di alam sekitarnya. Wow! Tak hanya dalam satu sektor, melainkan dalam berbagai ruang lingkup kehidupan dan profesi! Lagi-lagi bikin We O We!

Tantangan demi tantangan yang digulirkan, dilahap tuntas dan penuh kreativitas sehingga membuat kami, para juri semakin pusing memilih 10 dari 50 emak keren ini. Aih! Betapa ini sebuah pekerjaan yang yang tidak bisa dibilang mudah. Mengamati sepak terjang ke 50 finalis, menilai hasil tulisan, promosi diri/campaign di FB Group dan Twitter, serta menilai video yang mereka persiapkan, sungguh membuka mata dan membuat siwer, hehe. Siwer saking terkagum atas seluruh kreativitas mereka. Hingga, akhirnya, setelah sedikit 'perang' dalam menilai dan menentukan, akhirnya tampillah 10 finalis Srikandi Blogger 2014 ini. Gimana, Sobs? Kereeeeen kan?

Inilah para finalis Srikandi Blogger 2014
Dari kiri ke kanan, diurutkan berdasarkan abjad.


Pasti banyak yang sudah pada kenal dengan para finalis Srikandi Blogger 2014 di atas kan, Sobs? 
Saat ini mereka sedang berjuang untuk mencapai tangga berikutnya, menuju singgasana sang Srikandi. Aneka test pun digelar oleh panitia dan para juri kembali di'pusing'kan oleh sepak terjang ke sepuluh finalis yang semakin aduhai dan piawai menuliskan buah fikir, kreatif menggubah ide menjadi video yang spektakuler. Sungguh mengundang takjub. Lalu siapakah yang akan sukses mencapai anak tangga tertinggi dan menggapai Mahkota? Dan siapa sajakah yang akan mendampingi sang Srikandi bermahkota? Yuk biarkan para Juri [lirik diri sendiri, selaku salah satu juri] bekerja keras, mengerucutkan angka 10 menjadi 5, hingga akhirnya memperoleh nama-nama yang akan menyandang gelar Srikandi Blogger Utama 2014, Srikandi Blogger Terfavorit, Srikandi Blogger Persahabatan, Srikandi Blogger Inspiratif dan Srikandi Blogger kategori ......... [masih rahasia :)]?

Nantikan pengumumannya pada puncak acara, yaitu pada perhelatan akbar, Penganugerahan Award Srikandi Blogger 2014,  9 Maret 2014, di Gedung Museum Nasional/Museum Gajah, Jakarta, ok?

Catatan salah satu MakJur,
Seleksi Srikandi Blogger 2014,
Al, Bandung, 26 Februari 2014
Read More
/ /
Pernah diminta membubuhkan tanda kaki selain tanda tangan? Hihi. Aku pernah lho! Oleh seorang bocah bernama Intan Faradila. Ya, putri semata wayangku ituh! Tapi itu duluuuu..., kala usianya masih di kisaran 5 tahunan. Hihi.

Saat itu, aku sedang asyik menonton sebuah film action di televisi deh, ketika tiba-tiba, kucluk-kucluk si putri mungilku nan imut dan miskin rambut [kala itu], hihi, datang menghadapku dengan gaya serius banget. Membawa selembar kertas gambar yang telah penuh dengan coretan warna warni, hasil karyanya. Dengan lugu bin polos, ananda tercinta berkata;

"Bu Alaika, tolong tanda tangan dan tanda kakinya donk!"

Dan aku pun terperangah, melongo dan langsung tak mampu meredam tawa. Kutarik bocah cilikku itu dan memeluknya erat. Kuhujani dirinya dengan ciuman gemes tiada terperi hingga bocah berlianku itu gelagapan sendiri.

"Umiiiiiii, kenapa sih? Orang Intan minta tanda tangan dan tanda kaki, kok malah dikasih cium!"

Dan aku pun semakin tak mampu menahan rasa gemas dan gelak tawa. Hingga saat gelak tawa mampu kukuasai, kububuhkan juga tanda tanganku. Untuk tanda kaki, kujelaskan padanya, bahwa tanda kaki, tidak lazim dibubuhkan, paling ada pembubuhan tanda kaki adalah pada saat anak bayi baru dilahirkan. Biasanya, di rumah sakit atau kllinik bersalin, akan ada surat keterangan lahir, yang dibubuhkan tanda kaki si bayi, karena tanda jempol bayi masih terlalu kecil. Dan bocah cilikku pun mengangguk, manggut-manggut. Hahahaha.

Kini, intan permata itu telah tumbuh menjadi sosok gadis belia, mandiri dan percaya diri. Jauh dari bunda, namun kupercaya mampu menjaga kepercayaan yang kuberikan padanya. Nak, Umi kangen kamu, sayang, banget!

Coretan tentang Intan,
Al, Bandung, 25 Februari 2014

Read More
/ /
Pasti banyak banget sahabats blogger yang mengikuti tantangan #1Day1Post kan? Selain menyemangati diri untuk rajin update/bikin postingan, juga tantangan bagi diri sendiri ini dipercaya akan mampu menghadirkan entry yang produktif [baca: teratur] di dalam rumah maya kita, dan jumlah entry di blog kita pun akan bertambah dunk!
Lalu, gimana donk kalo ternyata, kita ga mampu memenuhi tantangan tersebut. Kan pekerjaan kita itu banyak banget, ga cuma menulis artikel untuk blog kita. Banyak hal lain yang jauh lebih penting untuk dilakukan lho, Al!
 Nah, kalo aku sendiri sih, berhubung ini adalah tantangan yang diberikan oleh diri sendiri, yang tentunya aturannya pun fleksibel, maka aku memilih untuk tidak ambil pusing sih, jika suatu ketika tidak berkesempatan untuk doing #1Day1Post. Tapi..... aku menempatkannya sebagai utang! Jadi jika suatu hari ga sempat posting, maka postingan hari itu masuk ke dalam daftar utang yang harus dibayar dikala sempat nanti. Sehingga, pada akhir bulan, tidak akan ada lagi postingan yang bolong alias kumplit plit plit! Asyik kan? Hehe. Yang penting, di akhir bulan, archieve nya full sesuai dengan jumlah hari yang ada pada bulan yang bersangkutan. Asyiiik!

Nah, Sobats sendiri, gimana atuh menyikapinya? Menerapkan hal yang samakah?

sekedar sharing,
Al, Bandung, 24 Februari 2014
Read More
/ /
Pernah mengalami rasa jenuh atau malas yang tiba-tiba melanda? Terutama rasa malas dan jenuh untuk terus update postingan? Apalagi rasa malas ini muncul karena dipicu oleh offline activities, yang serta merta membuat pikiran kita pun kewalahan untuk mencari atau menerjemahkan ide yang ada ke dalam tulisan dan menjadi entry bagi rumah maya kita. Pernah mengalaminya? Pasti donk ya? Hehe, rasanya bo'ong banget deh kalo ada yang jawab enggak pernah! Hihi.

Aku juga sering mengalaminya lho! Lagi semangat-semangatnya menaklukkan tantangan terhadap diri sendiri #1Day1Post, eh tiba-tiba ide mentok, atau kesibukan offline begitu menyita waktu. Lalu apa yang harus dilakukan untuk mengalahkan rasa malas itu?

Nah, kalo aku sih, aku ga akan menaklukkan rasa malas itu dengan serta merta memaksa diri membuat tulisan atau update blog. Biarkan saja dulu si malas itu menikmati kemenangan. Itung-itung kita juga merehatkan sejenak pikiran yang penat. Ya iyalah, dipaksa untuk menulis sementara kita sedang ribet, atau sedang malas nyari ide, pasti makin penat donk pikiran. Jadi, biarkan saja dulu, sambil beresin dulu hal-hal yang udah antri di priority list. Nah, nantinya, kala keriweuhan sudah mereda, pasti rasa rindu untuk posting lagi akan muncul. Tapi......Malesnya jangan kelamaan atuh!

sekedar sharing,
Al, Bandung, 23 Februari 2014
Read More
/ /

Pagi-pagi udah disapa oleh seorang teman baik. Ucapan selamat pagi yang penuh oleh derai air mata. Sebagai teman yang baik dan dipercaya untuk menampung keluh kesahnya, tentu aku langsung 'menyediakan telinga'. Kunci utama dari konseling adalah 'mendengarkan', itu yang selalu terpatri rapi di benakku, sebagai pelajaran pertama pada kelas konseling dahulu, saat aku dan beberapa staff lainnya, dipersiapkan untuk membantu para konseler asing, yang sedang bertugas membantu program trauma healing bagi para korban bencana tsunami di Aceh, era 2004 - 2006 pertengahan, yang lalu. Dan Alhamdulillah, banyak manfaat yang aku peroleh dari kelas tersebut, hingga, walo ber-background Chemical Engineer, tapi banyak teman yang mempercayai 'keluh kesahnya' padaku. Setidaknya, walo ga banyak solusi yang aku tawarkan, tapi mampu membuat hati mereka menjadi lebih tentram. Alhamdulillah again.

Credit and modified
Well, back to the topic dan curcol sang teman, sesuai judul di atas, Ketika Hidup Tak lagi Berarti, memang rasanya gimanaaa gitu ya, Sobs? Air mata dan sengau suara, jelas menggambarkan secara sempurna betapa kegalauan sedang melanda. Hingga beberapa detik, aku terdiam, terpana dan turut tersedot suasana. Amboi... Kenapa kehidupan ini begitu sering menghadirkan duka? Begitu banyak mempersembahkan suasana hati yang gundah gulana? Dan bahkan sering menjerumuskan 'penderita'nya ke arah pemikiran untuk mengakhiri kehidupan?

Hidup ini terkadang memang tidak indah. Banyak sekali masalah. Tapi haruskah kita terus menerus larut di dalam duka? Berontak, marah, menangis, bahkan menghancurkan barang-barang atau bahkan langsung mengamuk kepada pelaku atau penyebab penderitaan, adalah reaksi awal dan normal dari setiap individu. Tidak ada yang salah dengan semua tindakan itu, asaaaaal, jangan berlebihan. Mbokya jangan menghancurkan barang2-barang mahal, janganlah sampai melukai apalagi membunuh si pelaku, hehe. Bisa berabe kan ujung-ujungnya? Janganlah sampai bunuh diri. Bisa gawat ituh! Masak udah sedih susah dan menderita di dunia, menuju akhirat pun langsung disambut oleh terbukanya pintu neraka? Ga mau donk ah!

Nah, si teman, curcol tentang hidupnya yang mendadak tak lagi berarti. Sang suami tertangkap basah berselingkuh. Aih, sakit banget donk pastinya. Tapi, haruskah kita menangis berhari-hari karenanya? Apalagi sampai mogok makan dan lupa pada anak-anak hingga mereka terlantar? Menangis boleh saja, tapi saranku sih, cukup tiga hari saja. Karena menangis untuk seorang suami yang tidak setia, lebih dari tiga hari, adalah sama dengan memberinya kehormatan dan level yang mulia. Ya iyalah, emang begitu hebatnya dia hingga harus kita tangisi berhari-hari? Bukankah laki-laki seperti itu layaknya disingkirkan saja dari kehidupan? Hehe. Itu menurutku sih. Ya, walaupun tidak disingkirkan, tapi membebaskan rasa sakit dengan menangis, cukup lah tiga hari, maksimal. Karena, kita harus segera bangkit menata kembali kehidupan kita.

Kukatakan padanya, jika aku yang berada pada posisinya, maka aku akan ikuti flowchart ini deh. :)


Ketika Hidup Tak Lagi Berarti

1. Ekspresikan Rasa

Menghadapi situasi menyakitkan, siapa pun tak akan mampu terbebas dari rasa galau, sedih, kacau. Meng-ekspresi-kan rasa, adalah solusi awal dan sangat baik untuk dilakukan. Caranya? Ya bisa dengan menangis, marah-marah, mencorat coret dinding di kertas, mukulin muka orang yang menyakiti guling/bantal, dan lain-lain, asalkan tidak berbahaya dan membahayakan jiwa. Batasi waktu untuk mengekspresikan rasa ini, maksimalnya hanya tiga hari saja. :)

2. Bangkit

Biasanya, setelah semua rasa dikeluarkan, pikiran akan sedikit terbuka, dan inilah saatnya kita bangkit. Bangkit dalam artian, berusaha memupuk rasa percaya diri, tanamkan di dalam diri kita bahwa kita adalah manusia-manusia yang masih berguna, masih memiliki nilai lebih, bahwa kita adalah masih mutiara yang berharga.

3. Atur Langkah

Buatlah perencanaan [tentukan] langkah-langkah yang akan diambil dalam melanjutkan kehidupan kita.

4. Terapkan Langkah

Konsistenlah dalam melaksanakan apa-apa yang telah kita rencanakan dalam melanjutkan kehidupan kita. The show must go on kan? :)

5. Monitoring dan Evaluasi.

Setiap kegiatan tentu butuh monitoring dan evaluasi. Untuk apa? Untuk memantau dan memastikan agar rencana yang telah disusun itu dapat diterapkan sesuai dengan yang direncanakan, dan beroleh output yang sesuai target. Lalu apa yang harus dilakukan jika pelaksanaan atau output yang dicapai belum sesuai dengan target?
Ya, tentu kita harus dengan legowo melakukan perbaikan/penyesuaian, agar kelanjutan pelaksanaan langkah itu dapat kembali berjalan dengan baik, sehingga beroleh hasil yang sesuai dengan harapan.

Lima langkah di atas adalah solusi *halah bahasanya ituh* yang aku tawarkan untuk sang teman baik, tentu saja disamping penjelasan yang jauh lebih panjang lebar agar dirinya terhibur sih. :D Dan Alhamdulillah, masukan tadi cukup mampu membuat si teman terdiam, meresapi dan mendapat suntikan semangat. Terlebih lagi, mampu membuat rasa percaya dirinya bangkit. Ho oh, siapa doi sampai harus aku tangisi bahkan pengen bunuh diri segala ya, Al? Emoh eikeh!
Nah, gitu donk! Ayo atuh, hidup ini masih indah lho! Keep fighting and take action well!

Sekedar sharing,
Al, Bandung, 22 Februari 2014
Read More
/ /
Pasti heran dan sulit membaca judul postingan kali ini ya, Sobs? Hehe. Boleh donk sekali-sekali bikin penasaran....?
Hm, judul di atas adalah judul sebuah lagu Aceh, yang sukses membuatku merinding! Merinding kenapa, Al? Ya, merinding karena ikut terbawa suasana gitu deh. Hentakan musiknya itu lho, juga lantunan lagu yang disuarakan oleh Liza Aulia ini, kok bikin aku kagum gitu lho!

Lafadz bahasanya itu, klop banget! Cengkok Acehnya dapet! Koreografinya juga unik banget, bikin aku bener-bener terpesona. Menyaksikan atraksinya, membuatku ingin mempersembahkan lagu ini untuk para sahabat yang berkunjung ke rumah maya tercinta ini deh! Ya, itung-itung hiburan di kala diriku sedang riweuh di kancah pelaksanaan ajang Srikandi Blogger 2014.

Ternyata menjadi panitia merangkap salah satu juri pada event keren ini, sungguh menyita waktu, sementara diriku juga komit untuk ikutan tantangan #1Day1Post, huft, efeknya? Ya, terkadang postingan tayang tanpa muatan yang berarti gitu deh! Tapi sah-sah aja donk. Masak setiap postingan harus bermuatan luar biasa? Ga juga kan?

Well, kali ini, dengan alasan utama ingin menghibur para sahabat yang berkunjung, mari sambut persembahan dari seorang putri Aceh bernama Liza Aulia. Kereeen lho!


Gimana, Sobs? Keren khaaaan?
Sekedar menyapa,
Al, Bandung, 21 Februari 2014
Read More
/ /
Aku terlahir bukan sebagai pecinta berat musik. Bagiku, mendengar musik adalah selingan, bukan keharusan. Tapi adakalanya, aku menjadi begitu terkesima dan merasakan jiwaku tentram kala sejenis musik dan lagu dilantunkan. Biasanya lagu-lagu yang berhasil menyentuh jiwaku adalah lagu-lagu lembut/slow dan jauh dari genre keras. HipHop juga bukanlah termasuk musik yang aku sukai. Namun, kali ini, jiwaku terperangah dan haru, menyaksikan sebuah rekaman video karya anak Aceh, yang dipublish di you tube dan juga di blog seorang sahabatku.

Aih, ini lagu keren abis! Ga nyangka deh aneuk nanggroe [sebutan untuk putra-putri Aceh], memiliki talenta sekeren ini. Dan aku pun terkesima. Duduk manis dengan kepala bergoyang, menikmati irama lagu yang dilantunkan dengan lugas dan keren oleh aneuk-aneuk nanggroe. Penasaran? Yuk cekidot di sini yuk!


Gimana, Sobs? Keren khaaaan? :)

Just sharing,
Al, Bandung, 20 Februari 2014
Read More
/ /

Narsism para Emak.

KopDar adalah hal yang paling sensasional yang sukses bikin dada sumringah, happy dan mengharukan. Gimana enggak, kebersamaan/persahabatan yang selama ini hanya terbina oleh perantaraan dunia maya, kemudian mewujud ke dunia nyata. Bukan Kopdar sekedar Kopdar pula, tapi KopDar para emak dari Kumpulan Emak Blogger yang sedang memenuhi undangan Google Indonesia untuk bersilaturrahmi ke rumah [baca : kantor] nya. Asyik donk? PASTI.

Dan, selain mendapatkan ilmu seputar produk-produknya si Mbah [baca: Google], para emak juga berkesempatan untuk 'ngerumpi elegan' dan narsis donk! Oh, iya donk, namanya juga wanita, walau udah emak-emak juga, yang namanya narsis, teteup atuh!

Dan.... walau selama ini terkesan banyak yang jaim, tapi ada kalanya bisa lepas bebas lho! Me time gitu lho! Bebas merdeka, bahkan lupa sejenak akan 'tugas negara'. Kapan lagi kan ya?

Nah, edisi kali ini adalah edisi campur-campur. Aneka pose memancarkan kebahagiaan dan tawa ceria para emak, yang sedang bebas merdeka menikmati me time nya.

KopDar awal sebelum lanjut ke Google Office.
Ki-ka: Mak Ririn, Alaika, Nchie Hanie, Myra Anastasia, Meti Medya, Lidya Fitrian, Fitria Cakrawati.
Ga peduli kotor atau tidak itu lantai, yang penting narsis dan gaya euy! 
Gimana? Pada ilang kan jaim dan kekalemannya? Berganti 'menggile' dan narsis. Hehe. Berada di Kumpulan Emak Blogger memang bikin happy! :)

Photo sharing,
Al, Bandung, 19 Februari 2014

Read More
/ /

Ini adalah bagian selanjutnya dari parade 'Let's the Pictures Talk' related to kunjungan kami [Panitia + Juri dan Finalis Srikandi Blogger 2014] ke rumahnya Si Mbah Google.
Dan, jika para emak sudah ngumpul? Walau belum pernah bertemu sebelumnya di darat [KopDar] sekalipun, teteup aja kehebohan yang terjadi tak akan mampu di bendung. Narsisme merajalela dan pantang melihat spots yang aduhai, pasti langsung lengket untuk beberapa jenak, dan klak klik suara kamera di-shut pun tak tertahankan! Penasaran? Yuk, 'dengarkan' gambar-gambar ini berbicara!

Langsung histeris manis melihat logo ini, dan Taraaa!
Lebih histeris manis dan nyaris ga mau pulang lagi, melihat matras2
yang disediakan untuk tempat boci [bobok siang] para karyawan Google
yang pengen boci. Ckckck...
Pada pengen tidurankaaan? Betah bingits deh di sini! :D
Seru dan gokil ya, Sobs? Hehe, itu baru beberapa foto lho ya! Begitu deh kalo emak-emak udah pada ketemuan. Jika selama ini kicauan dan interaksinya via dunia maya, maka kemarin itu, via dunia nyata, dan di rumahnya Mbah Google gitu lho! Rasanya exciting banget!

Nantikan cuplikan berikutnya di postingan selanjutnya yaaa. :)

Photo sharing,
Al, Bandung, 18 Februari 2014
Read More
/ /

Hari ini mau nulis apa ya?


Nyantai dulu ah, sambil ngelamun 'aih, enak bener kalo bisa kerja di sinih!' 

Foto ini di ambil di 'warung google', atau lunch room-nya kantor Google Indonesia. Duh, duduk di ruangan ini, rasanya asyik banget deh! Lihat deh, setelah duduk santai having lunch di ruangan dan dapur kyut seperti ini, siapa yang tak ingin santai duduk manis menatap keluar jendela? Menatapi gedung-gedung pencakar langit yang terlihat di luar sana. Kereeeen!
Dijamin, aneka ide akan berseliweran untuk segera dituangkan ke dalam wadah online [blog or whatever].

Para Emak dari KEB having lunch di Warung Google, asyik banget!

Ada yang berani bilang ini dapur tidak kyut? Rasanya bakalan betah masak seharian deh eikeh! He he.
Gimana, Sobs? Keren banget ya, ruang lunchnya rumah si Mbah? Ini baru ruang lunch alias 'warung Google' nya lho! Nantikan catatan/cuplikan lainnya sebelum kita benar-benar menuju pada reportase hasil kunjungan Alaika and Kumpulan Emak Blogger ke rumah si Mbah [Kantor Google Indonesia]. 

See you on the next article!

Photo Sharing,
Al, Bandung, February 17, 2014





Read More
/ /
Selepas dari Rumah si Mbah Google





Para Finalis Srikandi Blogger 2014 + Juri dan Panitia
Selepas kunjungan ke kantor Google Indonesia

Beginilah jika para emak telah berkumpul, KopDar dan berkesempatan menikmati me time! Serasa bebas merdeka, hilang sudah jaim dan keanggunan yang selama ini melekat. Sejenak bebas lepas, sensational happily dan lupa deh dengan "tugas negara", hehe.

Foto ini diambil oleh Kang Adi Lelucky, pada kunjungan para finalis Srikandi Blogger 2014 beserta Juri dan Panitia, ke Kantor Google Indonesia, pada hari Sabtu, 15 Februari 2014.

Sharing Foto
Al, Bandung, 16 Agustus 2014
Read More
/ /

Sebagai netizen, pasti setiap harinya kita menyempatkan diri singgah ke rumah Mbah Google kan, Sobs? Ada aja yang dicari di sana, aneka kata kunci dipakai untuk membuka pintu rumah si Mbah. :)

Lalu, pernahkah berangan untuk berkunjung ke rumah si Mbah yang sebenar-benarnya? Ke rumah alias kantornya di alam nyata? Yup, ke kantor Google, maksudnya, Sobs!

Nah, Alhamdulillah, tak disangka, KEB (Kumpulan Emak Blogger) mendapat kesempatan untuk mengajak ke 50 finalis Srikandi Blogger 2014 berkunjung ke 'rumah' si Mbah, yang kabarnya luar biasa keren!
Dan selaku salah satu panitia merangkap juga sebagai salah satu juri seleksi Srikandi Blogger 2014, aku berkesempatan untuk mengawal para finalis yang akan berkunjung ke 'rumah' si mbah. Asyiiiik!

Dan, pagi ini, bersama Meti Medya (salah satu finalis) dan Nhie Hanie (panitia), diantar oleh Kang Adi dibalik kemudi, berangkatlah kami menuju Jekardah. Wow, rasanya ga sabar ih, pengen segera ketemu Makfin (emak2 finalis) dan MakPan (emak panitia) lainnya, melangkah masuk ke pintu rumah si Mbah yang selama ini hanya bisa aku kunjungi secara virtual.

Pasti Sobats juga akan happy banget jika mendapatkan kesempatan seperti ini kan? No worries, mudah2an nanti akan ada kesempatan untuk main ke rumah si Mbah, yaa.

Well Sobs, sekian dulu intermezonya yaaa, cu you in the next post, tentang reportase ala Alaika Abdullah related to her visit to Mbah Google house. Bye!

Sekedar coretan, post ke 15,
Al, on the way to Jakarta, 15 Feb 2014
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Read More
/ /
Masih asing dengan One Billion Raising Day? Kalo Hari Valentine, J? Pasti udah sangat familiar donk? Yup, hampir di seluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia, hari ke 14 di bulan Februari ini memang digaungkan sebagai hari Valentine. Terlepas paham atau tidak tentang hari yang berwarna merah jambu itu, mostly of teenagers hingga ke orang dewasa, terpengaruh untuk memberikan setangkai mawar merah jambu, atau coklat cantik plus Teddy bear imut untuk kekasih hati, merayakan sebuah hari yang dielukan sebagai hari 'kasih sayang'. Adakah Sobats juga merayakannya? Kalo eikeh mah TIDAK atuh! J

Lalu apa hubungannya dengan One Billion Raising Day? Nah itu! Disamping diperingati sebagai hari kasih sayang alias Valentine, masyarakat dunia, termasuk Indonesia, mengambil momen ini untuk juga menyuarakan sebuah gerakan international bertajuk 'hentikan kekerasan terhadap perempuan' atau 'End Violence Against Women'. Cara yang dilakukan khusus pada hari ini [14 Februari] adalah dengan 'bergerak' melakukan 'Rise, Release, Dance' secara serentak di tempat-tempat yang telah ditentukan.

Untuk Indonesia sendiri, gerakan ini telah dilakukan sejak tahun lalu, dengan mengambil tempat di kota-kota besar seluruh Indonesia. Gerakan menari bersama ini tentu saja dilakukan tidak hanya oleh kaum wanita, tetapi juga oleh kaum pria, sebagai sikap perlawanan/anti kekerasan terhadap perempuan. Lalu bagaimana dengan kita-kita yang tidak berkesempatan untuk turun ke titik-titik yang ditentukan untuk bergabung melakukan tarian serentak tersebut?

No worries, menyuarakan hal-hal seperti ini bisa dilakukan dalam berbagai cara dan karya kok, misalnya dengan membuat poster-poster yang bisa dikirimkan ke sini nih, Sobs! Aku sendiri memilih untuk membuat postingan ini, sebagai salah satu cara mensosialisasikan aksi kepedulian/dukungan kita terhadap gerakan tolak kekerasan terhadap perempuan. Semoga semakin banyak jiwa yang digerakkan untuk menghentikan kekerasan terhadap kaum perempuan.



Tertarik dengan info lainnya berkenaan dengan gerakan ini, mari merapat ke pusat informasi terkait di sini. 

Perempuan itu adalah makhluk mulia, yang dibawah kakinya terletak surga bagi anak-anaknya. Lalu mengapa, makhluk mulia ini justru harus mengalami tindak kekerasan? Mari, suarakan dukungan anti kekerasan terhadap kaum perempuan. 

Sebuah dukungan dalam bentuk tulisan,
sosialisasi gerakan 'end violence against women'
Al, Bandung, 14 Februari 2014
Read More
/ /
Pasti langsung merapat kesini membaca judul di atas kan? *kepedean J
Ini sama sekali tidak mengada-ngada kok, Sobs! Terseret masuk dan berinteraksi langsung dengan penghuni alam gaib, sejak memulai petualangan gaib [yang ceritanya hingga kini masih pending], membuatku jadi terbiasa dengan berbagai kejadian aneh bin nyata yang sering hampiri diri. Memang kebanyakannya bukan lagi hal-hal yang mengerikan sih, justru bikin hati kagum hingga kalimat Subhanallah semakin sering meluncur bebas dan tulus dari bibir, memuja Ilahi Rabbi yang mengijinkan segala sesuatu itu terjadi.

Seperti pagi kemarin, Selasa, 11 Februari 2014, saat kami [panitia Relawan TIK] menggelar acara Internet Safer Day, di hotel Lodaya, Bandung. Aku sengaja mengajak Dijah dan Cindy untuk hadir di acara ini, karena selain untuk menambah daftar hadirin, topik dan undangan yang disasar memang cocok untuk mereka, yaitu orang tua murid dan siapa pun yang berminat untuk mengetahui informasi tentang cara-cara berinternet sehat.

Nah, kejutan manis itu muncul sekitar pukul sepuluhan pagi gitu deh. Saat itu, Dijah meminta kunci Gliv [mobilku tercinta] karena ingin mengambil sesuatu. Bukannya mengambil apa yang ingin diambilnya, eh malah Dijah kembali padaku seraya mengajakku ke mobil.

"Kakak beli karangan bunga? Untuk siapa?"

Sungguh sebuah pertanyaan yang membuat alisku bertaut. Kapan pula aku beli karangan bunga? Karangan bunga bagaimana? Bergegas aku ikut ke mobil. Dan olala! Sebuah karangan bunga cantik [cocok untuk meja sudut ruangan] terduduk manis di belakang kursi supir! Aih, cantik banget!


Mengetahui bukan aku yang membeli, Dijah langsung senyum-senyum penuh arti. Aku paham artinya. Yup, si abang [sepupu gaibnya Dijah] tampaknya membelikan aku serangkaian bunga cantik ini. Memang dia tau persis aku suka banget dengan bunga. Tapi bagaimana dia membelikannya dan membawanya ke mobil? Gampang, mereka bisa menyamar sebagai manusia dan melakukan transaksi, dengan menggunakan rupiah yang benar-benar rupiah, lalu membawanya ke dalam mobil!

Segampang itu? Yes. Believe it or not, aku sering mengalami fenomena seperti ini, tapi fenomena diberi bunga baru kali ini sih. Sensasinya, menyunggingkan senyuman di bibir deh pokoknya. Happy! Trims, abang!

Fenomena lainnya? Nantikan pada postingan lainnya yaaaa. Menarik banget deh pokoknya! J

Sekedar sharing,
Al, Bandung, 13 Februari 2014
Read More
/ /
Postingan ini terinspirasi dari postingan Mak Tyan yang berjudul Kesan Pertama. Mak Tyan bercerita tentang kesan pertama yang sangat menentukan terhadap pertemuan pada kesempatan berikutnya. Bahwa, jika memang pada kesan pertama itu, si A terlihat jutek, maka beliau 'merasa yakin' banget bahwa si A itu memang demikianlah adanya.

Aku sendiri, dulunya pernah menerapkan hal demikian. Bahwa, jika pada perjumpaan pertama dengan seseorang, si orang tersebut terlihat jutek, tidak bersahabat, tidak ramah, maka aku memastikan bahwa si orang itu memang begitu karakternya. Bahwa si orang itu, jelas tidak akan menarik dan tidak akan memberi rasa nyaman untuk dihadapi pada saat-saat berikutnya.

Namun, seiring dengan perguliran sang waktu, aku kok kemudian merubah sikap. Rasanya ga adil juga jika langsung 'menghakimi' seseorang, hanya pada pandangan pertama. Ga adil rasanya menganggapnya jutek, justru pada saat pertama bertemu dengannya. Misalnya nih, bertemu seorang klien untuk pertama kalinya, eh, kok muka si klien itu miskin senyum, tak beraura positif. Maka aku tak serta merta menganggapnya sombong atau sulit, melainkan mencoba memberinya second chance alias kesempatan kedua. Bisa saja kan si klien sedang sakit gigi? Atau mumet kepalanya, atau malah sedang diserbu oleh aneka masalah yang mendera jiwa? Dan tak mampu meng-handle-nya hingga terikut di dalam aktivitas yang harus dilakukannya?

Begitu juga, kini, saat pertama kalinya bertemu atau diperkenalkan dengan seseorang, aku menerapkan azas 'second chance', berkompromi dengan diri sendiri untuk tidak serta merta menghakimi jika sikapnya jutek atau tidak bersahabat. Pasti ada alasan tersendiri di balik sikapnya itu. Namun, jika di the second chance, si orang tersebut masih juga bersikap sama, maka, selamat tinggal alias say good bye dunk ah! Hehe.

Kalo Sobats sendiri, menerapkan kesan pertama begitu menentukan atau mencoba memberi kesempatan kedua/second chance? Yuk, share opini Sobats pada kolom komentar yuk. :)

Sekedar opini,
Al, Bandung, 12 Februari 2014 
Read More
/ /

Agenda pagi ini dimulai dengan bermacet ria menuju Hotel Lodaya, tempat dimana Relawan TIK Bandung akan menghelat sebuah acara bertaraf nasional bertajuk Safer Internet Day. Sebagai salah satu panitia dan pengurus di Komunitas Relawan TIK Bandung, jelas aku pun ikutan bersibuk ria untuk memulai hari jauh lebih pagi dibanding biasanya dunk. Dan, sesampai di tekape, kesibukan jelas menyita waktu, sehingga perkiraanku bahwa tak akan ada waktu untuk bikin postingan 'bermutu' deh hari ini. Hehe. Emangnya postingan selama ini bermutu gitu?

Dan benar saja, seminar dimulai dari pukul 9.30 hingga 12.00 jelang siang, berlanjut dengan agenda lainnya yang jelas telah duduk manis menyita waktu. Aseli, ga ada waktu untuk posting deh! Eits, siapa bilang, boleh donk sekali-kali posting iseng dan lain dari biasanya? 

Ingin tau apa yang akan tampil pada My Virtual Corner malam ini? Check it out! 

Picture taken by Kang Adi Le'Lucky, edited by Teh Eka Riani.

Gimana, Sobs? Lucu khaaaaan?

Sekedar postingan,
Al, Bandung, 11 Februari 2014


Read More
/ /
Pasti pernah donk tiba-tiba merasa down? Kehilangan semangat juang dan sekelliling seakan tak lagi bersahabat? Setiap orang pasti pernah merasakannya, karena memang begitulah siklus kehidupan. Ibarat perputaran roda pedati, harus terus bergulir agar sampai ke tujuan. Begitu juga dengan kehidupan. Tawa dan air mata adalah seperti pasangan Yin dan Yang yang senantiasa hadir di dalam ritme kehidupan. Tak ada yang perlu diherankan, apalagi dikutuk dengan kejam ketika kita alami penurunan grafik kebahagiaan.

Sedih? Sudah pasti. Siapa yang tidak gundah gulana mendapati rezeki yang menurun drastis? Siapa yag tak bermuram durja mendapati kekasih hati berpaling ke lain hati? Siapa yang tak berduka mendapati karir yang hanya berjalan ditempat atau bahkan merosot perlahan? Sudah pasti sedih banget donk!

Namun, cukupkah kita berlarut-larut di dalam kesedihan dan mengutuki nasib yang tak lagi berpihak kepada kita? Eh, itu yang menjawab perlu kok semangat banget yak! Hihi. Seperti yang pernah kutulis pada postingan sebelum-sebelumnya, adalah wajar jika kita memberikan space bagi hati dan pikiran kita untuk bersedih hati, atau malah menangis membabi buta.

Tidak ada yang salah dengan hal itu. Etapi, jangan sampai berlarut-larut. Karena membiarkan diri berlarut-larut di dalam kesedihan dan keterpurukan, adalah sama artinya dengan membiarkan diri kita ketinggalan kereta. Ketinggalan pesawat menuju tempat tujuan. Bisa makin terpuruk donk jika kita sampai ketinggalan. Jadi harus gimana donk? Ya gimana lagi, ya harus BANGKIT dan berjuang kembali meraih kemenangan! Hidup ini akan tetap indah, jika kita sigap dan bersungguh-sungguh menyiasati badai kehidupan. Setuju?

secuil coretan, penyemangat kehidupan
Al, Bandung, 10 Februari 2014


Read More
/ /
Sabtu, 8 Februari 2014 menjelang siang, seorang teman meng-update status yang langsung bikin hati terkejut. "Innalillahi Wa Innailaihi Rajiun. Selamat jalan, Bang Mawardi Nurdin, semoga Allah Menempatkanmu di tempat yang sangat layak di Sisi-Nya. Aamiin". Sungguh, kaget dan terpana. Tanpa cek and ricek, aku pun langsung pasang status yang sama, karena walau berada jauh dari kota Banda Aceh tercinta, tapi aku mengagumi dan menyintai pemimpin [walikota] yang satu ini. Tak begitu akrab secara pribadi sih, tapi pernah bertemu, berdialog, dan bekerja sama dengannya beberapa kali, hingga membuatku kagum akan sikap, kharisma dan sepak terjangnya dalam membawa kota Banda Aceh menjadi kota yang jauh lebih baik bahkan dibandingkan sebelum tsunami terjadi.

Namun ternyata, berita itu langsung dipatahkan oleh informasi berikutnya. Sang pemimpin berada dalam kondisi kritis dan sedang dalam perawatan intensif di rumah sakit umum Dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh. Hampir secara bersamaan, status-status BBM pun berubah, dari belasungkawa menjadi panjatan doa memohon kesembuhan bagi beliau. Hingga kemudian, masih di hari yang sama, 8 Februari 2014 tapi menjelang malam hari, berita terkini via status-status BBM di contact list-ku kembali berubah, kali ini adalah berita belasungkawa yang sebenarnya, bahwa sang walikota yang begitu dicintai oleh warga kota Banda Aceh, telah berpulang ke rahmatullah, akibat penyakit gagal yang telah cukup lama menderanya.

Innalillahi Wainnailaihi Rajiun. Selamat jalan, Pak Mawardy Nurdin, semoga amal ibadahmu diterima oleh Allah SWT, dan semoga diberi tempat yang teramat layak di sisi-Nya, dan bagi keluarga yang ditinggalkan, semoga diberi ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi cobaan ini. Aamiin ya Rabbal Alamin.

Sekilas tentang Bapak Mawardi Nurdin

Putra Kembang Tanjung, Kabupaten Pidie yang lahir pada tanggal 30 Mei 1954 ini adalah seorang teknokrat jebolan Institut Teknologi Bandung [1978] dan meraih gelar Magister Engineering [M. Eng] dari University of New South Wales, Sydney Australia. Memulai karirnya dan malang melintang di Inspektorat Pembangunan Jalan, Departemen Pekerjaan Umum pada 1978 hingga kemudian ditugaskan untuk bergabung di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah [Bappeda] pada tahun 2000 dan mendapat promosi sebagai Kepala Bappedalda Aceh pada tahun berikutnya yaitu pada rentang 2001 - 2003. Perjalanan karirnya yang cemerlang kemudian membawanya menjadi tampuk pimpinan di Dinas Perkotaan dan Permukiman Aceh. 

Lalu pada saat kota Banda Aceh luluh lantak dihantam tsunami, Desember 2004, Mawardi Nurdin ditunjuk menjadi pejabat Walikota Banda Aceh, menggantikan Walikota Banda Aceh saat itu yang tewas oleh tsunami dan setahun kemudian beliau bergabung dengan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi [BRR] Aceh - Nias. Nah, di sinilah aku mulai mengenal Bapak Pimpinan yang satu ini. Kehadirannya di ruangan kerja atasanku, Pak Eddy Purwanto, Chief of Operation - BRR NAD-Nias, memberiku kesempatan untuk juga dapat bertegur sapa dengan beliau. Mawardi adalah sosok yang sangat low profile, ramah dan cerdas. Setahun kemudian, beliau mengundurkan diri dari jabatannya selaku Kepala BRR Regional 1 karena akan ambil bagian dalam kancah Pilkada langsung 2006. Berpasangan dengan Illiza Saaduddin Djamal, beliau terpilih sebagai Walikota Banda Aceh dengan Illiza sebagai Wakil Walikotanya. 

Mawardi adalah sosok yang visioner, terampil, berkemauan keras dan berpandangan modern-acehnese. Bekerjasama apik dan supel dengan BRR NAD-Nias dan lembaga-lembaga kemanusiaan yang sedang bantu Aceh kala itu, Mawardi memangkas aneka birokrasi yang lazimnya berbelit-belit, sehingga mampu mempercepat pembangunan kembali Kota Banda Aceh menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Terbukti dengan aneka penghargaaan terhadap pencapaian yang diraih kota Banda Aceh, yang salah satunya adalah anugerah piala Adipura [kota terbersih] secara berturut-turut sejak tahun 2009 s/d 2013, padahal kita lihat sendiri, Aceh baru saja porak poranda dan dibanjiri oleh lumpur, sampah dan reruntuhan tsunami, namun berhasil bangkit dan berdandan cantik! Subhanallah, Alhamdulillah.

Gambar dipinjam dari sini
Diakui atau tidak, dibawah kepemimpinannya kota Banda Aceh berhasil tampil cantik mempesona, dan bikin betah! Taman-taman kota menjadi tempat yang nyaman untuk disinggahi, event-event budaya sukses digelar, object-object wisata diberdayakan kembali dengan terlebih dahulu dibersihkan dan didandani hingga kemudian slogan 'Visit Aceh Year' pun dicanangkan pada 2011 yang lalu. Wisatan asing mau pun domistik terlihat hilir mudik yang tentu saja membuka kesempatan untuk wara kota mengais rezeki [bangkitnya ekonomi kreatif, misalnya via tour guide, souvenir production and sales, dll]. 

In Memoriam

Banda Aceh kini berduka, kehilangan seorang pemimpin cerdas, supel, tawakkal dan moderen serta menjadi sahabat masyarakat dan rekan-rekan jurnalis. Ribuan status belasungkawa dan panjatan doa untuknya baik di status sosial media, BBM dan berita-berita yang diturunkan oleh media online-offline, mau pun lawatan langsung ke rumah duka, serta jajaran saf yang terbentuk rapi dan tulus untuk melakukan shalat jenazah sang walikota, adalah bukti nyata rasa 'cinta' masyarakat terhadap sosok pimpinan yang satu ini. 

Gambar dipinjem dari Ferhat Muchtar
Selamat jalan Bapak Pembangunan Kota Banda Aceh, rest in peace ya, Pak! Semoga amal ibadahmu diterima Allah SWT dan menempatkanmu di tempat paling layak di sisi-Nya. Dan bagi keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah memberi kekuatan dan ketabahan dalam menerima cobaan ini. 

Bagi Ibu Illiza Saaduddin, sang wakil walikota, tetap semangat ya, Bu, lanjutkan langkah pembangunan yang telah dan sedang berlanjut, demi kemajuan masyarakat dan Kota Banda Aceh tercinta. Ibu pasti BISA! Semangat yaa. 

sepucuk doa untuk beliau yang telah pergi,
Al, Bandung, 9 Februari 2014


Read More
/ /
Credit
Pasti sudah familiar dengan pepatah di ataskan?
"Silence is Golden" alias Diam adalah Emas.

Aku sendiri, beranggapan bahwa tidak selamanya 'silence is golden' sih, karena sometimes, justru berdiam diri itu, malah akan membuat perkara tambah runyam. Misalnya, jika sedang terjadi sebuah perselisihan, sementara kita tau persis duduk perkaranya, atau dapat memperkirakan dengan jelas akibat atau efek dari sikap diam, misalnya akan berujung kepada semakin blur dan kabur/muramnya persoalan, maka menurutku, 'angkat bicara' akan jauh lebih baik. Walau, mungkin, akibat dari 'angkat bicara' yang kita lakukan itu, justru akan menambah panas suasana dan menjadikan kita dibenci oleh salah satu pihak. :)

Aku sendiri, berulang kali menanamkan pada diri sendiri, untuk 'diam' dan mengontrol diri untuk tidak ikut campur pada suatu persoalan, namun, terkadang, tanpa disadari, aku kok malah telah larut di dalam persoalan itu, gara-gara tak tahan melihat salah satu pihak terzolimi. Dan pada tahap ini, terkadang, aku merasa 'silence is golden' lebih baik bagiku. Betapa aku tak akan terseret di dalam kancah pertikaian, andai saja aku mampu mengunci rapat lidahku untuk tidak ikut berkata-kata. Namun, terkadang, semuanya terjadi secara serta merta. Tak tahan melihat teman atau keluarga yang di-bully, dilecehkan atau malah difitnah, akhirnya aku kok jadi nekad ikut campur. *Jangan ditiru ya, Sobs! Ga asyik lho kalo udah begini. Mending kita menjadi penengah saja, tanpa harus turut serta di dalamnya.

Etapi, kok rasanya sulit banget menerapkan sikap 'silence is golden' ini ya? Kagak nahan gue! Tapi kalo udah keliatan efeknya, baru deh gue nyesel dan sepakat bahwa 'diam itu emas', diam itu jauh lebih baik! Kalo Sobats sendiri, gimana? Pernah mengalami situasi di mana akhirnya setuju bahwa 'silence is golden'? Share yuk di kolom komentar. :)

Sekedar sharing,
Al, Bandung, 8 Februari 2014
Read More
/ /

Batu ini kami temukan terduduk manis dalam posisi menakjubkan seperti ini, di celah sebuah jurang yang juga kami temukan tak sengaja saat hunting lokasi keren untuk mancing. Terdapat di sisi kiri jalan Banda Aceh - Meulaboh, tepatnya sebelum Gunung Geurutee. Adalah Heidy, temanku yang awal mula tertarik untuk stop di pinggir jalan itu, feelingnya mengatakan bahwa di bawah sisi jalan itu ada celah menakjubkan yang layak untuk diintip! Dan bener saja, kami pun bertualang dengan nekad. Dengan hanya bermodal sandal jepit, perlahan menuruni celah curam yang bener-benar sempit, dan Taraaaaa.... menemukan batu di atas terduduk manis. [Petualangan sekitar Mai 2005].

Analisa kami:
Adalah tangan Allah yang menggerakkannya hingga duduk manis dalam posisi seperti ini, saat terjadi gempa dasyat berskala 9,1 SR, 26 December 2004 yang lalu, penyebab timbulnya gelombang tsunami.
Subhanallah, lihat deh, posisinya itu lho! Mana mungkin ada manusia atau makhluk apa pun yang dengan sengaja mendudukkan batu besar ini dalam posisi seperti di atas?

Dan di bawah ini adalah foto ciamik yang bikin hati berdebar ngeri-ngeri sedap setiap kali mata memandang ke bawah. Tebingnya itu, tinggi dan curam bo'! Disertai oleh pecahan ombak dengan buih yang seperti ketumpahan deterjen pula. Alamak! 


When Picture talk more than Words,
Al, Bandung, 7 February 2014

Read More
/ /

Masih ingat akan novel perdanaku berjudul Selingan Semusim? Yang menuai banyak pro tapi juga tentu menghadirkan kontra? Ya, pro dan kontra, adalah juga ibarat Yin dan Yang bukan? Selalu berpasangan dalam setiap sisi kehidupan. Pro dan kontra adalah indikator bagi kita untuk mampu melanjutkan langkah kehidupan. Adalah indikator, dimana kita perlu melakukan adjustment-adjustment atau penyesuaian sehingga mampu meminimalisir 'kontra' yang ada. Tetapi, ini tentu TIDAKlah berarti bahwa kita WAJIB menanggapi kontra. Bagiku sendiri, aku akan menelaah terlebih dahulu, apa yang menyebabkan timbulnya kontra itu, begitu berbahayakah jika tidak ditindaklanjuti [diperbaiki] atau masih berada pada taraf aman, jika sepak terjangku dilanjutkan saja.

Back to the topic, tentang Selingan Semusim, sejujurnya, ada rasa haru di hati menyaksikannya laris manis walau hanya melalui penjualan online [Alhamdulillah]. Gimana ga haru, Sobs, novel ini, adalah murni hasil single fighter lho. Mulai dari menulis naskah, melakukan editing [makanya editingnya amburadul banget, haha], lay out juga sendiri [belajar In-Design sambil praktek langsung pada novel ini] dan akhirnya, pesimis dilirik oleh penerbit mayor dan juga males menghubungi penerbit indie, akhirnya aku malah kepikiran untuk mendirikan penerbitan indie milik sendiri, jadi ke depannya, jika ingin menerbitkan buku lagi, tinggal menggunakan penerbitan sendiri deh, ga ribet! Alhamdulillah, setelah melalui proses yang lumayan panjang, akhirnya penerbitan indie bernama Smartgarden Publishing and Printing pun lahir, dan langsung menangani si Selingan Semusim. Alhamdulillah, kepercayaanku akan pepatah "Ada kemauan pasti ada jalan' terbukti benar adanya. :)
Ah iya, hanya satu pengerjaan yang dibantu oleh seorang teman yaitu untuk mendesign covernya. Nah, kalo urusan itu aku nyerah deh. Akan butuh waktu untuk belajar terlebih dahulu. :)

Selingan Semusim sendiri bercerita tentang sebuah fiksi kehidupan yang sebenarnya banyak sekali terjadi di sekitar kita. Walau hanya sebuah fiksi, tapi pengamatan yang kulakukan di sekeliling, harus diakui sangat membantuku dalam memperkuat penokohan dan penentuan alur cerita. Bercerita tentang kisah cinta dan perselingkuhan, hukum sebab akibat dan konsekuensi yang harus diterima dari perbuatan yang terjadi. Singkat kata, Selingan Semusim, diklaim sebagai sebuah novel dewasa yang sangat berani bercerita secara detil tentang segala hal, baik tentang sex [hubungan intim], kebahagiaan, kesedihan, kehilangan dan air mata. Silih berganti dikemas secara apik dan menarik [ini menurut para pembaca yang  secara langsung menghubungiku untuk menyampaikan kesan mereka lho ya. :), walau tentu saja, typo dan kekurangan terlihat di sana sini [maklum, novel perdana] :).

Beberapa teman [blogger] malah sempat membuat apresiasi berupa;

Review oleh Sahabat
Ending yang sengaja ku'gantung' [open ending], ternyata sesuai dengan harapan! Para pembaca langsung sms, BBM-an, chatting bahkan kirim email, menanyakan kemungkinan untuk dibuatkan lanjutan dari Selingan Semusim, dengan juga menitipkan 'special request'. Apaan special requestnya? Hihi.
Yaitu meminta agar endingnya nanti dibuat happy. Menurut mereka, Novita sudah cukup lama menderita, ada baiknya jika dibuat ending yang membahagiakan baginya di novel kedua [pamungkas] nanti. Toh, Novita sudah lebih dari cukup menuai karma dari kesalahan dan kekhilafan yang dilakukannya?

Well, tertarik banget memang untuk melanjutkan novel ini, apalagi memang dari awal ada niat untuk membuat duologi Selingan Semusim, dengan awal latar yang akan bersetting di Afghanistan, negara di mana Novita dan Dr. Ridge menuju di akhir Selingan Semusim perdana. Etapi, yaitu, Sobs! Waktu dan kesibukan yang begitu menyita perhatian, membuatku belum sempat duduk manis untuk melanjutkan Selingan Semusim Kedua deh. Sabar yaaaaaa. :)

Belum pernah membaca Selingan Semusim perdana? Dan penasaran untuk memilikinya? Sok atuh order di sini, atau boleh juga langsung hubungi Alaika via yahoo messenger or email di bawah ini deh.

ym: alaika_abdullah@yahoo.com
email : alaikaabdul@gmail.com

Sekedar coretan,
Al, Bandung, 6 Februari 2014



Read More
/ /

Tentu banyak yang familiar dengan foto disamping ini donk? Yang mana dulu? Yang kiri apa yang kanan?
Ya dua-duanya donk!

Bedanya yang satu adalah icon gunung Merapi, sudah almarhum sementara yang kanan, 'kan sang pemilik blog ini, yang adalah sahabat baik kalian? *kedip2senyummanis.   Dan mudah-mudahan masih diberikan kesempatan untuk menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya ya, Sobs. ☺Amin.

Yup. Tokoh yang penuh senyum itu adalah almarhum Mbah Maridjan. Namanya begitu sering disebut di layar kaca dan disiarkan di radio, serta hilir mudik di cybersphere [internet] - kala itu. Kepergiannya memang sudah lama sih, tepatnya 26 Oktober 2010. Aku yakin Sobats masih mengingat berita fenomenal tentangnya kan? Pada saat si gunung Merapi mengamuk dan memuntahkan isi perutnya ke Kinahrejo dan sekitarnya, serta menghiasi bumi Yogyakarta dengan debu putihnya selama beberapa minggu atau bulan.

Sebenarnya foto ini diambil tepat tiga tahun yang lalu, pada Februari 2012, saat aku dan kekasih hati melakukan perjalanan wisata ke Yogyakarta dan Solo. Nah, setelah jalan-jalan di Yogya, kok rasanya ada yang kurang lengkap jika trip kami tidak ditutup dengan berkunjung ke wilayah Merapi. Apalagi seorang teman menyarankan untuk main ke dukuh Kinahrejo, tempat di mana si Mbah Maridjan bertempat tinggal dan juga menghembuskan napas terakhirnya.

Maka bermainlah aku ke rumahnya Mbah Google, biasa, minta arahannya tentang transportasi termudah dan termurah menuju kesana. Kok suka banget nanya ke Mbah Google sih, Al? Kenapa ga tanya satpam atau petugas hotel aja? Karena aku suka aja main ke rumah Mbah Google, habis si Mbah baik banget sih! :D

Maka, sesuai dengan arahan si Mbah, kami pun menyewa motor. Berkendara berdua, bener-berner bikin exciting deh! Apalagi saat kami sampai di Gapura ini, Sobs!

foto diambil tiga tahun lalu, saat belum berhijab. :D

Bener-bener bikin rasa hati semakin penasaran. Ingin segera menjelajah ke dalamnya. Namun sayang, Sobs, ternyata kita tidak diijinkan membawa sepeda motor kita ke dalam sana. Harus dititip di parkiran, dan kalo mau bermotor, ya sewa salah satu motor yang memang telah disediakan oleh komunitas masyarakat desa ini. [Ya hitung-hitung memberikan pemasukan rupiah pada masyarakat setempat kan? Apalagi mereka kan korban bencana]. Harga sewanya kalo aku ga salah sih sekitar 30 ribu perak untuk beberapa jam deh, atau malah untuk seharian. Maaf, lupa, soalnya udah lama banget sih perjalanan kesini. Tiga tahunan yang lalu gitu, lho! 

Dan inilah pemandangan yang menyambut kita di sekitar gapura selamat datang ini, Sobs. 


Perjalanan ke atas ternyata tidaklah sulit, karena jalanannya juga sudah beraspal. Kami pun melajukan motor sewaan dengan santai sambil menikmati pemandangan alam, yang gimana ya, dibilang indah, rasanya sih sudah tidak terlalu indah lagi sih, Sobs. 

Walau banyak pohon yang mulai ditanami, tentu butuh waktu bagi sang pohon untuk bertumbuh dan memberikan keteduhan bagi alam raya. Tapi, kuakui, perjalanan ini cukup menarik dan membuat penasaran sih. Terlebih tadi malam aku sudah baca-baca beberapa artikel yang mengulas tentang sang kuncen gunung Merapi ini. Ada yang memandangnya sebagai orang yang keras kepala dan sok tau, namun ada pula yang menghormatinya sebagai orang yang patuh dan taat mengemban amanah, walau untuk itu, adalah nyawanya sendiri sebagai taruhannya.

Memang, sungguh sangat disayangkan sih jika si Mbah yang satu ini, sang abdi dalem keraton Yogya ini, harus tewas oleh awan panas ciptaan erupsi Merapi. Karena berbagai peringatan telah diberitahukan padanya juga pada seluruh warga dusun Kinahrejo, desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Namun tetap saja, peringatan dari pemerintah [pihak berwenang] sama sekali tidak digubris oleh si Mbah. 

Sayangnya lagi, si Mbah juga menyeret beberapa korban non penduduk setempat untuk ikut bersamanya menghadap sang Pencipta. Itu yang membuat miris! Demi menyelamatkan warga desa yang tadinya begitu ngeyel dan patuh pada keyakinan si Mbah, para relawan ini pun harus merelakan nyawanya. 
Sedih banget rasanya menatap foto-foto ini, Sobs. Hiks.


Kedua relawan ini [Tutur Priyono/relawan PMI dan Yuniawan Wahyu Nugroho/wartawan] terpaksa menghembuskan napas terakhirnya, terpanggang awan panas [wedhus gembel] saat menjemput si Mbah. Keduanya tewas bersama belasan korban lainnya, termasuk si Mbah Maridjan.
Tragis banget ya, Sobs? Semoga arwah keduanya, juga warga lainnya diterima Allah SWT, Aamiin.

Berada di lokasi ini [rumah Mbah Maridjan] sungguh menghasilkan sebuah rasa tersendiri. Mungkin juga karena pikiran ini telah dijejali oleh pengetahuan atau berita tentang kisah di balik kejadian ini ya? Bahwa sebenarnya korban yang berjatuhan ini bisa dihindari, jika saja warga setempat ini, khususnya mbah Maridjan, MAU mendengarkan arahan/berita yang dibawa oleh para petugas [pemerintah] dan juga para relawan ini. Memang sih, kita TIDAK akan mampu MENCEGAH Merapi untuk memuntahkan isi perutnya, namun MEMINIMALISIR RESIKO bencana tentu bisa kita usahakan. 

Namun apa daya? Tentu sangat tidak bijaksana jika kita mengecamnya bertubi-tubi. Apalagi mengingat adat istiadat Yogyakarta yang unik, yang masih meyakini kosmologi keraton Yogyakarta, bahwa dunia ini terdiri atas lima bagian. Bagian tengah yang dihuni manusia dengan keraton Yogyakarta sebagai pusatnya. Keempat bagian lain dihuni oleh makhluk halus. Raja bagian utara bermukim di Gunung Merapi, bagian timur di Gunung Semeru, bagian selatan di Laut Selatan dan bagian barat di Sendang Ndiephi di Gunung Menoreh. 

Kosmologi ini juga melekat kuat pada diri mbah Marijan, selaku kuncen gunung Merapi, yang terbiasa [belajar dari pengalamannya selama puluhan tahun menjadi kuncen] melihat segala sesuatu melalui pertanda. Menurutnya pula, kali ini, walau pemerintah telah memberikan peringatan keras, namun feeling-nya dan 'bisikan' yang diyakininya, justru menyatakan sebaliknya. Bahwa Merapi masih berbaik hati, tidak akan memuntahkan laharnya. Maka bertahanlah dia, sesuai keyakinannya itu, dan beroleh maut, turut pula menyeret korban lainnya, yang adalah penduduk setempat juga beberapa relawan - non penduduk lokal. 

Begitulah, terkadang, sebuah pembelajaran berharga memang harus dibayar dengan teramat mahal, bahkan tak mampu ditebus dengan rupiah sehingga menjadikan nyawa sebagai taruhan. Terutama terkait masalah bencana, nilai pembelajaran yang harus kita bayar sungguh teramat sangat mahal. Indonesia sendiri, melalui berbagai bencana yang demikian kerap menyambangi daerah dan penduduknya, seharusnya mendidik kita untuk tekun dan aktif dalam belajar teknik meminimalisir [pengurangan] resiko bencana, yang beberapa tahun terakhir ini sedang digalang secara menyeluruh oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat. Sudahkah seluruh masyarakat kita tersentuh oleh 'penyuluhan' ini? 

Catatan perjalanan,
Al, Bandung, 5 Februari 2014


Read More
/ /
Bagi sebagian orang, menulis adalah terapi jiwa, begitu juga bagi eikeh dunk! :)
Walau satu paragraf, asal sudah mengena di hati, rasanya puas banget. Seperti hari ini, pagi buta udah janjian sama diajeng geulis, Nchie Hani, untuk berangkat bareng ke Jakarta, menghadiri sebuah agenda.

Berada di belakang setir Pergi dan Pulang (Bandung - Jakarta), jelas tak akan memberiku kesempatan untuk menuliskan postingan! Etapi, piye iki nasib #1Day1Post nya? Gampang, masih bisa disiasati dengan postingan terjadwalkan? Tapi... Sejak kemarin, walau terus menerus duduk di depan Macsy, teteup aja ga punya waktu untuk bikin postingan euy! Maka, sebelum bener-bener pegang kemudi, bikin postingan via BB aja ah!

Dan, taraaaa, inilah dia #1Day1Post hari ke 4 Februari. Sebuah artikel yang asal jadi, hehe. Tapi, boleh lah ya sekali2 menampilkan postingan asbun. :)

Well Sobats, trimakasih sudah mampir di postingan ini, semoga jumpa lagi di postingan berikutnya, yang pastinya akan lebih 'berisi', ok?

Wish Us a safe trip and wish me a safe drive, please. Salam,

Al,
Bandung, 4 Februari 2014
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Read More
/ /
Apa yang ada di pikiran Sobats membaca judul di atas? Super Emak. Pasti yang terbayang adalah seorang ibu yang luar biasa kan? Yang super. Hehe. Bener sih. Tapi kali ini, aku hanya ingin pamer lho! Ih, pamer aja sombong yak? Eits, boleh donk, sekali-sekali pamer alias mejeng!


Gimana, Sobs? Keren ya kaosnya? Super Emak. Pilihan kata yang unik yaaa? Dan lihat deh mengapa si emak jadi super. 


See? Emak atau wanita itu multi task lho! Dengan dua tangannya, bisa melakukan berbagai hal, seperti yang digambarkan oleh mpok gurita pada gambar di atas ituh! Tangan yang satu bisa berhalo-halo ria, disaat yang bersamaan juga nyambi masak. Hehe. Terus bisa pula sambil mengurus anak, fitnes aka olah raga, ngeblog, minum teh, menyetrika, berkebun, dan lain sebagainya. Keren ya perumpamaannya.

Keren ya kaosnya? Lebih keren lagi sih karena aku mendapatkannya secara gratis lho alias ga beli. Kaos produksi Gurita ini, aku peroleh karena tulisanku tentang CCTV terpilih sebagai salah satu artikel yang berhak mendapatkan sebuah kaos dari gurita. Yeay!! Iya donk, walo sebuah kaos, kalo dapatnya sebagai bentuk apresiasi dari sebuah karya, bangga donk ah! 

Apa? Tertarik ingin memiliki kaos yang sama? Atau malah penasaran dengan pilihan padanan kata lainnya pada kaos? Tenang, Sobats bisa berkunjung ke rumah Teteh Gurita nih untuk melihat-lihat koleksi uniknya. Atau bagi Sobats yang sedang dolan/wisata ke Bandung dan ingin bawain oleh-oleh kaos Bandung, nah, pilihan yang tepat adalah ke rumahnya Teteh Gurita tuh. Pilihannya banyak, harga terjangkau dan kualitasnya asoy! 

Perlu alamatnya? Sok atuh main ke outletnya di Jalan Cihampelas No. 110, Bandung, atau bisa juga kunjungi outlet mayanya di alamat http://kaosgurita.com

Narsis boleh donk?
Al, Bandung, 3 Februari 2014




Read More