Archive for January 2014
Menu
/ /
Menjadi blogger akan kurang sempurna rasanya jika belum bergabung dengan komunitas-komunitas blogger yang begitu banyak bertebaran di jagad maya. Mengapa harus bergabung dengan komunitas? Kalau pertanyaan itu diajukan kepadaku, maka jawabanku adalah, karena blogger tidak akan dapat berkembang seorang diri. Kalo pun dapat, maka kita akan butuh waktu untuk bergerak maju dan mengenalkan diri. Bergabung di salah satu atau beberapa komunitas blogger, adalah jalan untuk mempercepat personal branding! Juga sebagai jembatan tempat kita memperkenalkan tulisan-tulisan kita [SHARE] dan mengundang teman-teman di komunitas untuk berkunjung ke rumah maya kita, sehingga imbasnya adalah meningkatnya page views blog kita. Bener ga, Sobs?

Namun, apa jadinya jika komunitas tempat kita bergabung itu, justru bukannya semakin membuat kita berkembang dan happy? Yang ada malah bikin kita suntuk binti bete? Nah, lho! Pasti banyak di antara Sobats, yang bergabung dengan beberapa komunitas, mengalami hal seperti ini kan? Dimana salah satu atau salah dua dari komunitas itu, malah bikin kita terpaku dan mati gaya? Hehe. Terpaku dan mati gaya gimana, Al? 

Ya gitu deh, misalnya, saat kita masuk dan menyapa dengan ramah di wall komunitas A, lalu share postingan, terus yang terlihat di monitor kita adalah, sapaan kita seen by si anu, si una, si nua, dan lainnya, tapi tak ada komentar sama sekali. Huft, gimana rasanya, Sobs? Sedih yaaa? Ibaratnya di alam nyata nih, kita menyapa dengan ramah sebuah kelompok, tapi orang-orang di kelompok tersebut hanya memandang sekilas, tanpa ada balasan, hadeuh! Sakit donk rasanya? Hehe. Demikian juga saat anggota lainnya menyapa, beramah tamah, jika tidak di tag/colek namanya, maka sapaan itu hanya membeku, berlalu dan ketimpa oleh postingan anggota lainnya, yang tak jarang justru bernasib serupa pula.

Lalu, bagaimana agar Komunitas itu hangat dan interaktif?

Kunci jawabannya sebenarnya terletak pada anggota komunitas itu sendiri. Adalah diri kita sendiri [sesama anggota komunitas] lah juru kunci kehangatan dan kenyamanan sebuah komunitas. Ibarat di dalam sebuah kelurahan [ga usah kecamatan apalagi kabupaten lah yaaa :)], jika penduduknya saling tak acuh, saling tak peduli dan jarang mau bertegur sapa, maka dipastikan, kelurahan tersebut akan menjadi sebuah kelurahan yang penduduknya tidak akan saling mengenal, tidak akan saling peduli apalagi saling membantu. Jadi, kunci agar komunitas kita menjadi tempat bernaung/kongkow yang asyik, hangat dan menyenangkan adalah, be interaktif! Saling menyapa dan saling peduli. Coba deh, pasti akan asyik.

sekedar coretan,
Al, Ciamis, 31 Januari 2014
Read More
/ /
Ini adalah kisah lain yang aku alami, di samping banyak lagi hal gaib yang tiba-tiba lingkari kehidupanku. Ini, kembali tentang Modem. Lho, apa hubungannya modem dengan hal gaib? Nah, sabar donk, biar aku bisa menuliskannya dengan rinci. J

Udah dua hari ini nih, kuhabiskan waktu duduk menjura [menjadi salah juri Seleksi Srikandi Blogger 2014] di sebuah ruangan dekat tangga menuju lantai bawah tempat tinggalku. Bagiku, duduk di sana tuh mengasyikkan, selain terang, angin sepoi-sepoi membawa oksigen yang begitu fresh dan sukses membuka pikiran dan mata yang mulai siwer melototi parade keren para finalis SB2014. Nah, udah dua hari pula, semuanya lancar jaya alias ga ada 'gangguan apa-apa'. Hingga tadi pagi, aku menemukan keanehan!

Keanehan gimana, Al? 
Ya itu, modem yang biasanya aku simpan di dalam kotak pinsil, eh ga nemu alias raib. Biasanya sih, aku suka minta terawang sama Icha kalo ga nemu barang yang sedang aku cari, tapi karena Icha sedang sakit disebabkan oleh tenaganya baru saja dipake untuk menyembuhkan seseorang, maka Icha, sementara ini drop deh kesaktiannya. Jadinya, aku terpaksa nyari hingga ke sudut-sudut kamar termasuk nyungsep ke bawah tempat tidur sembari diterangi cahaya senter. Si modem ga berhasil ditemukan. Dan udah kebayang nih, 400 - 500 ribu rupiah akan keluar dari dompet untuk menebus sebuah modem baru. Tapi kok rasanya sayang yaaa? Akhirnya kuhubungi Dijah, diskusi gimana solusinya. Apa masih mungkin menggunakan tenaga Icha untuk terawang? 

Dan, Dijah, saking sayangnya dengan kakandanya ini, akhirnya menyalurkan tenaganya ke Icha, dan Icha mulai menerawang. [Aktivitas ini, tentu saja luput dari penglihatanku karena mata batinku kan belum mampu menembus alam mereka]. Lalu, melalui Dijah, kudapatkan arahan, cari di bawah tangga, di dalam salah satu kotak sepatu! Aih....,

Dan, Taraaaaaa, bener saja, modem tercinta yang tak seberapa cantik lagi itu pun ketemukan duduk manis di dalam salah satu kotak sepatu, tersusun paling atas di atas kotak-kotak sepatu lainnya. Aneh kan? Kalo jatuh dari atas, masa iya bisa masuk langsung ke dalam sebuah kotak sepatu yang tertutup? Ga mungkin banget ada manusia lain yang usil melakukannya, sementara tempat tinggalku ini sepi, ga ada siapa-siapa. Aneh! 

Etapi, bulu kudukku merinding. Beberapa malam ini, aku sering mendengar suara lembut yang memanggil namaku. Hiii, diakah yang sedang bermain denganku? Diakah yang sedang menggodaku? Aih, yang bener donk ah! Ga adil banget rasanya kalo kamu seperti ini, aku kan belum siap untuk bermain-main dengan kamu, apalagi untuk membalas mengusili kamu. Tunggu hingga aku mampu melihatmu secara langsung ya, baru kita mulai! Ok?

Nah, Sobats, aneh bangetkan? Mau ga percaya, tapi modem itu tergeletak dengan manisnya di dalam kotak sepatu, yang sudah lama ga disentuh siapa pun. Mana mungkin si modem masuk sendiri kesana jika tak ada yang mengusili. Karena sudah sering menyaksikan dan mengalami keanehan seperti ini, maka kuyakini bahwa si eneng or si akang sedang mengajakku bercanda. :)

Pernahkah Sobats mengalami hal serupa?

Sekedar coretan,
Al, Bandung, 30 Januari 2014
Read More
/ /
Pasti udah pada tau donk ya, jika Kumpulan Emak Blogger sedang menggelar hajatan akbar bertajuk Pemilihan Srikandi Blogger 2014? Dan saat ini seleksi telah memasuki tahapan kedua. Di mana para emak finalis yang berjumlah 50 orang [#50FinalisSB2014] diharuskan untuk melakukan promosi diri alias campaign di Grup FB Kumpulan Emak Blogger dan juga di twitternya KEB @Emak2Blogger. Dan diriku, diminta untuk menjadi salah satu juri dalam ajang bergengsi ini. Bakal sibuk donk? Yup, but happy pastinya!

Dan hari ini adalah hari ketiga, campaign digelar. Nah, kebayang donk gimana siwernya mata ini, melototi tayangan per tayangan [baca: post] yang diluncurkan oleh para emak terpilih. Dan memasuki hari ketiga ini, pada pukul 16.26 sore ini, mata ini rasanya udah menyerah. Siwer! Hehe. Maka, refreshingnya adalah merem atau lihat yang ijo2 baca-baca quote apik untuk inspirasi postingan for #1Day1Post. Dan mataku langsung adem deh membaca quote yang satu ini. Tak hanya adem, tapi juga ada rasa terenyuh di hati..... Hiks.

Credit

Yang terpenting bukanlah siapa yang nampak di depan mata,
tapi adalah siapa yang masih setia di belakang kita dikala situasi sedang tidak menguntungkan. 
terjemahan bebas


Sahabat sejati, siapa yang tak ingin memilikinya? Kuyakin semua orang pasti ingin memilikinya. Dan kuyakin pula, bahwa yang namanya sahabat sejati itu, jumlah yang dimiliki oleh masing-masing orang pun biasanya bisa dihitung dengan jari. Hayo, coba dihitung-hitung, ada berapa orang sahabat sejati yang Sobats miliki? J

Seperti yang pernah aku tuliskan pada beberapa postingan sebelumnya, memang tidaklah mudah mencari orang yang setia bersama kita di dalam suka, beda halnya dengan situasi suka/bahagia, sudah pasti kita akan dikelilingi oleh banyak orang kan? Namun, jangan mengutuki musibah yang mendera, karena justru di sanalah kita belajar untuk memetik hikmah dan mengenali siapa sebenarnya sahabat sejati. Eits, sahabat sejati itu, bisa berupa orang tua, kerabat mau pun handai tolan lho. 

Sudahkah Sobats, mengenali sahabat sejatimu? Kalo aku, sahabat sejatiku adalah My Mom and Dad, juga Intan, si buah hati. Kamu? 

Sekedar coretan pelepas mata siwer,
Al, Bandung, 28 Januari 2014,
ditulis disela-sela menjura. 


Read More
/ /

Dear Kamu,
Hujan masih saja membasahi bumi,
gemericiknya sentuh genting rumah kita, timbulkan bunyi tik tik tik yang menyayat hati. Masih dari jendela yang sama, dari dalam kamarmu, lelaki tua yang kita panggil Ayah, berdiri menembus kaca bening, menantang jarum-jarum tajam yang hunjam tanah basah. Eits, tak hanya jarum-jarum tajam yang melesat hunjam bumi, basahi tanah basah, tapi kulihat, ada bening mengalir perlahan dari bola mata tuanya yang mulai kusam!

Kepergianmu yang telah lebihi dua tahun, tetap tak mampu hapuskan bayangmu dari ingatan. Apalagi wara wirimu yang masih begitu sering di depan mata, terutama mata ayah dan ibu kita, membuat sulit kami melupakanmu. Ingin rasanya menganggapmu tiada, tapi engkau masih berada di alam nyata.

Duhai kamu, mengapa tega bergentayangan di depan Ayah dan Ibu? Atau kamu memang sengaja? Ingin hancurkan keping hatinya yang telah renta? Tidakkah kamu berfikir? Bahwa tak seperti ini harusnya sikapmu? Salahkah mereka membesarkanmu dengan penuh kasih? Salahkah mereka yang selalu mendukung segala aktivitas dan usahamu? Salahkah mereka hingga harus seperti ini balasanmu?

Duhai kamu yang gentayangan di sana,
Tidakkah engkau ingat kami?
Duhai kamu yang diperdaya,
tidakkah ingatanmu mengingat kami?

Kuat nian pengaruh itu,
hingga doa-doa kami pun tak mampu sentuh kalbumu,
duhai engkau yang di sana, tak kah engkau rindu Ibu?
duhai engkau yang di sana, tak kah engkau rindu Ayahmu?



Sekedar coretan,
Al, Bandung, 29 Januari 2014

Related Post:
Kerinduan Di Balik Hujan 1
Kerinduan Di Balik Hujan 2



Read More
/ /
Srikandi Aceh
foto koleksi pribadi

Judul : Aceh Bumi Srikandi
Penulis: 10 orang penulis Aceh
Editor : Farid Wadji Ibrahim
Diterbitkan oleh : PemProv NAD
Disain Cover: Tim kreatif CV. Citra Kreasi Utama
Layout/Setting : Alwahidi Ilyas
Jumlah halaman: 530 + xv
ISBN : 979-992417-0
Kategori : Sejarah
Cetakan I, Yogyakarta : Multi Solusindo Press.

Buku ini adalah buku utama peganganku dalam menuliskan kisah-kisah heroik para perempuan tangguh ACEH, yang setiap membacanya, selalu saja menimbulkan decak kagum dan rasa hormat terhadap mereka, yang telah hidup dan menorehkan sejarah keberanian bangsa, nun jauh di masa silam.

Adapun penggunaan kata Srikandi, dipilih karena kata ini dianggap paling representatif dalam mengetengahkan, menggambarkan, mewakili dan mengakomodir semua aspek dan nilai lebih yang melekat pada tokoh-tokoh perempuan Aceh tersebut, seperti aspek; politik, militer dan agama.

Istilah Srikandi bagi perempuan Aceh, dalam kajian sejarah bukanlah hal baru, namun telah ditulis oleh sejarawan Aceh seperti H.M Zainuddin dalam bukunya Srikandi Aceh, tahun 1966. Selanjutnya Amran Zamzami dalam bukunya Pocut Meurah Intan; Srikandi Nasional dari Tanah Rencong, 1987.
Dengan demikian, pemakaian istilah srikandi bagi perempuan Aceh seperti untuk Sultanah Safiatuddin, Cut Nyak Dhien, dan Laksamana Keumalahayati sudah merakyat di komunitas masyarakat Aceh.

Tentang Buku ini
'Aceh Bumi Srikandi'

Ada banyak kajian historik yang dilakukan sebelum penulisan buku yang menyerupai sebuah ensiklopedia ini. Yang tentu saja dimaksudkan untuk menghimpun data sejarah secara holistik mengenai kisah perjuangan para Srikandi Aceh sejak kerajaan Samudera Pasai [masa Ratu Nur] hingga abad ke 20, yang tentu saja telah mengukir lembaran sejarah secara menakjubkan. Mereka tidak hanya tampil sebagai pimpinan [sultanah] di istana, akan tetapi juga berkiprah sebagai panglima perang, pemimpin pasukan tempur yang menjadikan hutan belantara sebagai tempat mengatur strategi penyelamatan aqidah, bangsa, negara dan yang lebih penting terpeliharanya harkat dan martabat generasi Aceh di masa-masa berikutnya, di samping mereka juga terlibat sebagai penasehat sultan, anggota parlemen, diplomat dan lain-lain.

Buku ini juga untuk memberikan gambaran secara komprehensif tentang kiprah perempuan Aceh dalam berbagai bidang, sehingga dapat dijadikan potret bagi perempuan masa kini dalam memperjuangkan hak-hak mereka dalam berbagai bidang, atau membangkitkan harapan untuk muncul regenerasi. Selain itu, kajian ini juga bertujuan untuk melihat dengan jelas realitas historis yang menunjukkan bahwa di Aceh, sepanjang perjalanan sejarahnya membuktikan bahwa tidak ada dikotomi dan bias gender dalam ruang sosial.

Antara laki-laki dan perempuan, dalam masyarakat Aceh diberikan kesempatan yang sama dalam berbagai konteks kehidupan. Hal ini berarti bahwa anggapan dan tuduhan orientalis Barat dan sekelompok yang tidak senang terhadap Islam jelas keliru dan tidak berdasar, sebab masyarakat Aceh yang kental dengan nilai keislaman telah membuktikannya sejak abad ke 16 hingga sekarang ini.

Buku ini juga membahas tentang pandangan ulama Aceh terhadap posisi dan peran perempuan di bidang publik, yang tentunya pandangan ini dikaitkan dengan pemahaman mereka tentang ajaran Islam. Di dalam Islam, diajarkan adanya persamaan di antara manusia, baik laki-laki maupun perempuan, mau pun antar bangsa, suku dan keturunan. Hanya ketakwaan dan pengabdian lah yang membedakan nilai satu manusia dengan manusia lainnya di mata Allah SWT. Penciptaan laki-laki dan perempuan, adalah bukti nyata bahwa kedua makhluk berlainan jenis ini saling membutuhkan, yang berarti harus hidup rukun dan saling menghargai satu sama lainnya, bukannya malah saling merendahkan dan menindas.

Pembahasan tentang pro dan kontra pandangan para ulama terhadap tampilnya empat orang ratu yang 59 tahun berturut-turut memerintah Aceh, dibahas dengan menarik, juga mengulas tentang kudeta para hulubalang yang berkonspirasi dengan para petinggi pemerintahan dalam rangka menggulingkan tampuk pemerintahan para ratu. Sementara terhadap para perempuan yang terjun dan memimpin peperangan, sama sekali tidak menimbulkan kontra di dalam pandangan para ulama, sungguh menarik untuk dicermati.

Buku Aceh Bumi Srikandi, berketebalan 545 halaman ini, juga mengulas tentang pergeseran peran perempuan dari peran hebat yang dimainkan oleh para pendahulunya, yaitu dari peran publik dan heroik ke peran domistik! Faktor-faktor yang mengarah kepada kemunduran peran peran perempuan Aceh tersebut di antaranya adalah faktor historis, sosiologis, psikologis, faktor kebijakan pemerintah, faktor pemahaman ajaran agama, fatwa ulama, pendidikan dan lain-lain.

Buku ini menyisipkan harapan penuh agar para perempuan Aceh dapat bangkit kembali dari kuburnya untuk menata kehidupan bangsa yang penuh penantian, lebih-lebih dari kalangan perempuan sendiri yang meras dieliminasi selama puluhan tahun. Harapan tersebut tentu saja akan dapat diwujudkan dengan manuver reposisi peran dan pemberdayaan perempuan Aceh sesusi dengan pertimbangan dan perkembangan jaman.

Buku ini lahir dari inisiatif dan kebijakan Pemerintah Provinsi Aceh dan dipersembahkan bagi para pembacanya agar terbuka wawasannya terhadap kelebihan-kelebihan dan ketangguhan perempuan-perempuan Aceh di masa lalu, dan hendaknya dapat menjadi kajian pembelajaran bagi perempuan Aceh masa kini, untuk dapat bangkit kembali dalam mengharumkan martabat diri, keluarga, agama, bangsa dan negara. Penasaran untuk mengetahui sepak terjang para Srikandi dari Bumi Iskandar Muda? Monggo ditilik beberapa postinganku yang mengulas tentang kepahlawanan dan keberanian mutiara-mutiara dari tanah rencong di bawah ini ya, Sobs! :

Laksamana Malahayati, Kartini lain sebelum Kartini
Pocut Meurah Intan, Kartini lain sebelum Kartini

sebuah catatan resensi buku,
Al, Bandung, 27 Januari 2014
Read More
/ /

Mendapat kiriman capture untaian kalimat di atas, dari seorang sahabat baik di wall facebook, sungguh membuat hati terenyuh. Dan, tiba-tiba saja hati ini basah! Oh Tuhan, semoga bait terakhir dari untai kalimat di atas tak pernah terjadi. 

If one day you feel like crying,... call me
I don't promise that I will make you laugh
But I can cry with you

If one day you want to run away
Don't be afraid to call me
I don't promise to ask you to stop
But I can run with you

If one day you don't want to listen to any body, call me
I promise to be very quiet

But,...
If one day you call and there is no answer....
Come fast to see me
Perhaps I need you.

Thanks for dropped them on my wall, semoga kamu selalu di sana kala daku memanggil yaaa. :) and thanks for your call today. 

sebuah catatan kaki,
Al, Bandung, 26 Januari 2014


Read More
/ /
Malam ini, bertempat di sebuah rumah mungil, kota Sukabumi, postingan ini meluncur bebas ke hadapan Sahabat semua. Lagi-lagi rilis via Blackberry dikarenakan koneksi internet yang becandanya keterlaluan banget. Ga ada sinyal! Huft. Maka, sambil tiduran akibat lelah driving seharian, here is the article in order to keep posting! #1Day1Post, kudu ditaklukkan. Hehe.

Driving! Ada yang menyukainya? Bagiku sendiri, mengemudi mobil adalah sebuah aktivitas yang sangat menyenangkan. Apalagi jika sedang stress, mengemudi adalah salah satu caraku meredakan stress. Apalagi jika drivingnya di malam hari, wah, rasanya happy banget. Driving sendirian, adalah hal yg paling aku suka saat sedang galau. Rasanya happy gimana gitu bisa berduaan dengan Gliv (Grand Livina) tersayang.
Nah, apa yang biasanya Sobats lakukan jika sedang stress?

Sekedar coretan menjelang tidur,
Al, Sukabumi, 25 Januari 2014
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Read More
/ /
Judul ini sudah bolak balik deh kayaknya jadi judul dan thema artikelku. Bukan sekedar memperkaya jumlah entry/postingan, tapi memang begitulah kata hati yang saat ini bergema.

Tinggal jauh dari putri tercinta, membuat kami sangat bergantung pada technology komunikasi dan tentu saja koneksi yang berjaya. Dan Alhamdulillah, akhir2 ini, koneksi baik di tempatku, Bandung mau pun di tempat Intan, Banda Aceh, cukup baik. Terutama saluran seluler. Sehingga, malam ini, diskusi kami berlangsung apik. Alhamdulillah. Dan Alhamdulillah juga, aku masih dipercaya oleh Intan untuk menjadi teman diskusi bisnisnya. Bahkan putri tercinta mengajakku untuk join bisnis dengannya. What? Ya Allah, anakku sudah dewasa! Sudah semakin intens berbisnis, dan barusan malah berdiskusi denganku tentang bagaimana memajukan dan mempromosikan bisnisnya via blog dan socmed. Oh my God! My litle girl is grew up! Udah gede! :)

Dan, obrolan via BBM pun berpindah ke saluran telefon, bicara lebih dari satu jam. Mulai dari bisnis, pelajaran, teman dekat hingga baca doa tidur. Ah, indahnya! Tak terbayangkan bagaimana jadinya kami jika tanpa kecanggihan technology. Bisa mati kutu deh diserang rindu. Thanks, Technology!

Sekedar catatan penutup malam
Al, Bandung, 24 Januari 2014
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Read More
/ /
Credit
Awan dan hujan sepertinya memang sahabat sejati. Ketika kandungan H2Onya mencapai batas atau melebihi kapasitas, langsung deh sang hujan mengambil peranan. Titik-titik air itu pun menjelma menjadi jarum-jarum kecil yang menghunus bumi. Basahi permukaan tanah juga dedaun dan pepohonan. Bangunan rumah mau pun gedung tak luput dari siraman, termasuk juga siapa pun yang sedang melintas tanpa perlindungan.

Hujan. Siapa yang tak suka hujan? Kuyakin, kehadirannya senantiasa dinanti, terutama oleh para petani untuk sirami padi dan palawija, juga dicinta oleh kanak-kanak yang gemar berlarian berhujan-hujanan. Namun, ketika curahannya tiada henti, disitulah keluh kesah mulai menggema, banjir melanda dan musibah merajalela. Seperti yang sedang terjadi saat ini, di berbagai daerah Indonesia dilanda musibah serupa. Banjir. Juga ibukota Jakarta tak luput dari musibah yang sama. Banjir, tak hanya memakan korban harta benda, tapi juga merenggut jiwa. Seperti halnya api, maka hujan pun punya pemeo yang sama. Kecil jadi kawan, besar jadi lawan.

Photo taken by Teh Dey
Namun, untuk kota Bandung sendiri? Agaknya kekompakan sang awan dan hujan telah berefek sempurna. Eits, jangan salah kira dulu. Efek sempurnanya adalah dalam hal mengembalikan udara kota Bandung! Duluuuu banget, sekitar tahun 2008, rasanya Bandung tuh masih Bandung [baca: berudara dingin] banget deh. Etapi, kok iya sekarang ini, main ke kota Bandung, bahkan tinggal di kota 'dingin' ini udah ga berasa lagi dinginnya? Benerkan, Sobats Blogger Bandung? Rasa dingin itu menguap, berganti panas akibat global warming yang juga telah berhasil menyentuh kota kembang ini. Huft. Suer deh, Sobs! Aku sampai bawa tiga selimut tebal [bed cover] kesayangan lho, waktu baru pindah kesini, untuk antisipasi dinginnya udara di kota ini. Tapi ternyata, Sobs? Udah ga sedingin dulu lagi. Apalagi di tempat tinggalku, ga perlu pake selimut sama sekali deh. Huft! Kuciwa. Hehe.

Tapi akhir-akhir ini? Hujan yang menyeluruh di seluruh tanah air ini, ternyata juga begitu setia membasahi dan mendinginkan udara kota kembang ini. Dan akibatnya? Hiiiii, dingiiiiin! Banget! Ini baru Bandung! Daaaaan, bed coverku berfungsi sempurna deh. Yuk, Sobs, tarik selimut yuk! Hehe.

Sekedar coretan,
Al, Bandung, 23 Januari 2014


Read More
/ /
Mie, adalah penganan yang paling diminati oleh banyak orang. Untuk orang Indonesia sendiri, mie pangsit, mie bakso, mie goreng, kwetiaw dan aneka olahan mie lainnya, adalah merupakan penganan yang tak lagi asing di lidah dan menjadi andalan untuk mengisi perut? Betul? :D
Tapi, banyak juga dari kita, yang selalu kuatir akan hal ini;  seberapa sehatkah mie itu? Berapa persenkah pengawet yang disertakan di dalamnya? Terbuat dari daging apakah baksonya? Dan lain sebagainya dan seterusnya. 

Apalagi dengan aneka isu yang suka merebak di lingkungan sekitar kita, tentang rumors yang mengatakan bahwa mie A, baksonya terbuat dari daging tikus, mie B kebanyakan formalin, dan aneka rumors lainnya yang menurut hasil investigasi adalah benar adanya, maka semakin was-was lah sebagian besar dari kita untuk sembarangan mengkonsumsi mie.

Aku sendiri adalah penyuka mie dan walau begitu banyak informasi yang berkembang agar kita berhati-hati dalam mengkonsumsi kuliner yang satu ini, tetap saja kerinduanku untuk mengkonsumsi mie, terutama mie pangsit-baso, tak bisa dikesampingkan. Apalagi ketika mendapat undangan dari Mie Roemah, yang mengundang 20an blogger untuk mencicipi sajian khas mereka, maka aku pun langsung mengiyakan. Sempat juga browsing ke facebook-nya untuk dapatkan info lebih lengkap. Wow, foto-foto aneka mie yang tersedia di sana begitu menggiurkan, dan lebih menariknya lagi, kabarnya mie yang disajikan di Mie Roemah adalah produksi Mie Roemah sendiri, yang artinya adalah bersih/hygienist, dan bebas pengawet pastinya. Maka, semakin tak ragu deh aku untuk hadir di sana nantinya.

Dan tepat di hari H, mengandalkan asisten setiaku, Mba GPS yang bersuara seksi, meluncurlah kami ke tekape. Aih, walau sudah dipandu oleh Mba GPS, teteup aja tradisi nyasar masih melekat di kehidupanku! Hadeuh. Apalagi ketika memasuki kompleks perumahan, ah, yang bener donk Mba, masak Mie Roemah lokasinya di dalam kompleks perumahan? Tapi setelah BBMan sama Neng Evie, ternyata emang bener lho, Mie Roemah itu letaknya memang di dalam kompleks perumahan, makanya dinamakan Mie Roemah. Hm, I see. 

Mie Roemah 

Pinjem Foto dari Kang Adi
Mie Roemah memang terletak di dalam kompleks perumahan, tepatnya di jalan Pasir Luyu V No 4, Bandung. Patokanku adalah Jalan BKR, ketemu Pom Bensin dan Alifa Mart, ada sign board 'Mie Roemah' menuju gang tepat di samping Alifa Mart. :D

Sesampai di tekape, aku disambut oleh Mba Widi [pemilik Mie Roemah], Neng Evie Sri Rahayu, Meti Medya, Kang Adi LeLucky dan beberapa teman blogger yang sudah duluan berada di tekape.  Asyik, jadi bisa langsung makan-makan deh ini, Haha langsung ada teman, ga sendirian! Dan memang, ga pake lama, pegawai Mba Widi pun menghidangkan penganan andalannya, Mie Roemah. Yeaaay!! 

Sumber Foto dari Mie Roemah Facebook
Gimana, Sobs? Kebayangkan lezatnya? Hm, nyam...nyam, yummy!
Kebetulan diriku kebagian menu Yamin Asin Ayam Rica, dan rasanya? Wow, yummy! Pas di lidah banget! Seporsi rasanya kurang bo'. Hehe. 

Ga berlebihan jika kukatakan mie yang satu ini terasa begitu nikmat dan pas di lidah. Mungkin karena mienya sendiri memang diproduksi langsung oleh 'Mie Roemah' dengan mengandalkan resep warisan keluarga. Dan satu hal yang paling ditekankan oleh Mie Roemah adalah bahwa mereka pantang menggunakan pengawet dan pengembang! Sehingga jelas aman bagi perut donk, termasuk perut ibu-ibu hamil dan anak-anak kan? Ah iya, selain bahan baku mie, Mie Roemah juga memproduksi sendiri bahan toppingnya seperti pangsit, bakso dan bahan ayam lainnya. 

Tadinya aku mengira bahwa Mie Roemah ini baru saja berdiri, e-ternyata, Sobs! Sudah ada sejak 4 tahun lalu lho, tepatnya pada tanggal 1 Desember 2009. Dan selama berada di sana, kami juga menyaksikan banyak customer yang datang silih berganti, menikmati sajian-sajian menu Mie Roemah. Tak hanya karena rasanya yang pas di lidah, tapi selain mienya yang diolah secara hygienist dan healthy, resto-nya sendiri juga memang cozy banget sih! Jadi ga heran jika banyak pelanggan yang datang berpasangan mau pun berombongan, untuk kongkow sambil mengisi perut. 

Terus gimana dengan pelanggan yang tak suka mie? Oops, jangan kuatir, Sobs! Mie Roemah juga menyediakan aneka penganan lain lho, seperti Nasi Campur Ayam, Ayam Goreng Kremes, Nasi Ayam Bakar, Ikan Goreng Mujair, dll. Untuk camilan sendiri, banyak juga pilihannya lho. 

Sumber Foto dari Mie Roemah Facebook
Gimana, Sobs? Cukup mengundang selera yaaaa? Tak hanya itu, kongkow-kongkow di sini juga bikin betah banget lho! Lihat aja nih pasukan Blogger Bandung, enggan beranjak euy!


Dan penasaran dengan pemilik Mie Roemah? Ini dia nih, Sobs! Mba Widi, yang sebelah kiri lho yaaa. :)


Nah, bagi Sobats penikmat aneka penganan mie, udah tau kan kemana harus mencari mie nikmat yang hygienist dan healthy? Emang agak jauh sih, tapi demi cita rasa nikmat, jauh dikit ga masalah kali yaaa. Hehe. Biar ga nyasar, sok atuh liat dulu map di bawah ini yaaa....


catatan kuliner,
Al, Bandung, 22 Januari 2014

Read More
/ /
Rasanya sudah seperti berabad lamanya Nita memendam kebencian pada Rafi, kakaknya yang tak seberapa ganteng dan sok perhatian itu. Ada saja tingkah lelaki itu yang membuat dirinya jengah. Dina, sahabat karibnya sering bilang, "Rafi tuh ga salah, dia peduli denganmu, makanya dia begitu memperhatikan dan selalu ada untukmu. Harusnya kamu bersyukur lho, Nit, punya abang yang begitu menyayangimu. Aku saja, akan bersyukur banget andai Allah memberiku seorang kakak sepertinya."

Ah, kamu ga tau sih. Coba kalo kamu di posisiku, pasti kamu akan muak dan jengah Dit! 

Dulunya, Rafi memang seorang kakak yang hangat, baik dan tidak seperti ini. Tapi sejak kematian suami Nita, justru Rafi tampil sebagai pelindung yang melebihi superhero dan ngalah-ngalahi bodyguard. Membuat Nita jengah sendiri. Kemana-mana, walau tidak terlihat di sampingnya, tapi anehnya, Rafi tuh tau aja setiap aktivitasnya. Apalagi jika Nita ketahuan dating atau kongkow-kongkow berduaan dengan cowok, hadeuh, habis deh, ada aja nanti petuah yang meluncur bebas dari bibir kakaknya yang tak seberapa tampan itu. Jadi janda tuh harus bisa menjaga sikap!

Ingin rasanya Nita mengadu pada ayah ibunya, tapi bagaimana? Keduanya malah telah terlebih dahulu menghadap sang Pencipta. Ah, sudahlah, hadapi saja Rafi dengan lapang dada. Begitu tekadnya suatu ketika. Namun tekad itu raib, setiap sang kakak yang masih melajang itu beraksi, menunjukkan superhero-nya. Dita juga yang jadi tempat pelariannya.

Malam itu, Nita tak lagi mampu menahan dirinya. Baru saja dia menghempaskan dirinya di tempat tidur, lelah setelah seharian meeting yang dilanjut dengan menemani tamu dan bosnya berkaraoke di sebuah cafe, eh si kakak yang super protektif menghubunginya. Menanyakan dari mana? Apa ga bisa menjelaskan pada bosnya agar tidak sampai harus bekerja hingga larut malam seperti itu? Agar Nita ingat untuk menjaga kesehatannya, bla..bla...bla. Akhirnya, mungkin dikarenakan lelah dan juga rasa tak suka yang sudah memuncak, rasa jengah yang telah terakumulasi sedemikian rupa, maka melalui percakapan telefon itu, kemarahannya meledak.

Ucapan penuh emosi yang meluncur dari mulut Nita, ditambah pula dengan aneka kata mutiara yang tak hanya pedas, akhirnya membuat Rafi terkesima. Tertohok tapi juga tersadar. Jika kelakuannya itu ternyata malah telah membuat adiknya terkekang. Telah menimbun kebencian terhadap dirinya dari sang adik terkasih. Satu-satunya saudara kandung yang dia miliki. Pedihnya lagi, Nita dengan begitu semena-mena, meluncurkan sebuah kata yang tajamnya mengalahi mata pedang sembilan benua. Tersadar dan juga terluka. Rafi menutup telefon tanpa sempat meminta maaf jika kelakuannya telah membuat adiknya terbelenggu selama ini.

Lajang tua itu, duduk bersimpuh. Termangu sekian lama, hingga akhirnya sebuah kesadaran membawanya ke kamar mandi untuk berwudhu. Bersujud di atas sajadah, lelaki itu bermohon kepada Allah agar petunjuk dan keselamatan dialamatkan Allah bagi adik terkasih. Sementara untuknya, dia berjanji untuk merubah sikap. Tak akan lagi terlalu ikut campur urusan adiknya. Toh sang adik telah dewasa, bahkan telah menjadi seorang ibu pula. Tak perlu lagi dia sibuk-sibuk menjaga apalagi mengurusnya. Aku akan menarik diri, begitu tekadnya.

Lalu Rafi menepati janjinya pada dirinya sendiri, tak lagi muncul secara intens di hadapan Nita. Tak juga ingin memantaunya lagi. Perlahan dia menghilang, walau tetap tinggal sekota. Rafi menyibukkan diri dengan urusannya sendiri, fokus pada bisnis kehidupannya pribadi.

Nita? Tentu Nita berasa beroleh anugerah akan perubahan ini. Merasa terbebas, tak ada lagi mata-mata! Hingga suatu ketika, dia mendapat telefon dari rumah sakit, bahwa Rafi, kakak semata wayang itu telah berpulang ke rahmatullah, oleh sebuah demam biasa. Tak ada penyakit istimewa, hanya demam biasa! Air mata tak mampu mengobati rasa kehilangannya, air mata tak mampu mengobati rasa sesalnya akan pertengkaran itu. Mendadak, dia rindu segala sikap dan perlindungan sang kakak! Kemana dia harus mencarinya kini?

Credit

Jangan pernah mengabaikan cinta kasih, kepedulian dan rasa rindu seseorang, karena bisa jadi kamu akan terbangun suatu hari dan menyadari bahwa kamu kehilangan bulan hanya karena kamu sibuk menghitung bintang.

sekedar coretan pembelajaran kehidupan
Al, Bandung, 21 Januari 2014 
Read More
/ /

Memiliki banyak sahabat adalah hal yang sangat menyenangkan. Memiliki banyak orang yang menyayangi kita adalah hal yang paling membahagiakan. Memiliki orang-orang yang setia untuk tertawa, bergembira dan berbahagia bersama kita, sudah pasti adalah sebuah anugerah yang luar biasa, yang terkadang sering membuat kita terlena dalam geliat bahagia dan tawa ceria. 

Hingga suatu ketika, tanpa angin tanpa hujan, sebuah cobaan datang menghadang. Sinar mentari yang selama ini begitu setia menerangi kehidupan kita, sinar rembulan dan gemintang yang begitu gemerlapan, kini redup, tak lagi hadir memancarkan cahayanya. Satu persatu atau malah secara bersamaan, teman-teman itu menjauh. Berbagai alasan pun meluncur sebagai pembenaran. Dan tinggallah segelintir mereka, yang masih mau menghibur. Tinggallah satu dua, yang terkadang malah bukan orang-orang yang selama ini nikmati gemerlapnya pancaran cahaya dan gelora kebahagiaan yang semarak kelilingi kita. Justru dia [segelintir mereka] yang masih setia. Ah, inilah kehidupan! 

Banyak pembelajaran kehidupan yang harus dengan jeli kita petik, karena Allah membalikkan suatu keadaan, bukan tanpa maksud dan tujuan. Ada hikmah yang harus mampu kita petik dari setiap kejadian bukan? Walau tidak gampang, aku yakin, kita pasti sepakat dengan quote di bawah ini;

Credit
Ingatlah bahwa ketika mataharimu sedang bersinar terang, maka siapa pun akan mendekat untuk mendapatkan manfaat cahayanya. Namun, kala badai datang menghadang, disitulah kamu baru tau siapa saja yang sungguh peduli padamu. 

Setuju, Sobs? So, who stay with you in the storm, trust them, they are truly care! 

sebuah catatan pembelajaran, alert myself,
Al, Bandung, 20 Januari 2014
Read More
/ /

Picture from here
Tentu banyak yang sepakat dengan isi quote di atas ya, Sobs?

Hujan turun karena awan tak lagi mampu menampung titik air yang semakin berat. 
Dan airmata jatuh karena hati tak lagi mampu menahan nyeri akibat luka hati...

Jadi jangan menyalahkan hujan jika tiba-tiba turun membasahi bumi, karena memang sang awan sudah jenuh alias tak lagi mampu memeluk butiran2 H2O yang semakin berat, semakin penuh. Mencapai titik jenuh, turunlah hujan. 

Begitu juga ketika melihat seseorang menangis, janganlah buru-buru membujuk apalagi menyuruhnya untuk segera berhenti. "Ssh...ssh, jangan nangis sayang, hentikan air matamu." Menurutku bukanlah kalimat yang bijak, karena ada kalanya, menangis itu justru releasing the pain, justru meredakan beban batin yang sedang mendera. Memang sih, menangis tak akan menyelesaikan masalah, tapi mampu membuat hati dan fikiran untuk lebih lega, sehingga setelahnya, otak akan lebih tenang untuk berfikir. Bener ga, Sobs?

Saat Intan menangis, aku sering membiarkannya terlebih dahulu untuk menumpahkan air matanya, paling hanya aku elus dan peluk dia dengan penuh kasih sayang. Tapi aku tak memintanya untuk segera berhenti menangis, karena menurutku, bola matanya juga butuh untuk dibasahi dan dibersihkan oleh air mata. Selain itu, air mata yang tersalurkan keluar, juga akan membantu redakan beban batin/kesedihan yang sedang menghampiri. Pasti banyak yang sudah mencobanya kan? And it's worked, wasn't it? Ga percaya? Coba deh! :)

sebuah catatan harian,
sekedar sharing opini,
Al, Bandung, 19 Januari 2014
Read More
/ /



Aku yakin, hari ini, dunia maya, utamanya blogspheres akan dipenuhi oleh taburan artikel bertajuk #KEBdiMataku. Kok Bisa? Ya bisa donk! Hari ini kan KEB berulang tahun, Sobs! Btw, udah pada familiar dengan KEB kan ya? Kuyakin, Sahabatsku, para perempuan blogger yang sering singgah ke halaman maya ini, rata-rata pasti telah pula bergabung di grup keren ini, ya kan, Sobs? *lirikparamemberKEB.

Etapi, tentu ada juga donk yang mungkin belum tau apa itu KEB. Terutama kaum Adam, yang selama ini mungkin hanya singgah sejenak di halaman maya ini, dan sering melewatkan beberapa postinganku yang berbicara atau menyebut-nyebut KEB. Well, apa sih sebenarnya KEB itu?

Tentang KEB

KEB adalah singkatan dari Kumpulan Emak Blogger, merupakan sebuah komunitas yang dibentuk via facebook group pada tanggal 18 Januari 2012, oleh seorang blogger kreatif bernama Mira Sahid, dengan sasaran merangkul semua perempuan Indonesia yang hobby menulis di blog [blogger], baik yang berdomisili di dalam mau pun di luar negeri. Komunitas unik ini berkembang pesat dan kini di usianya dua tahun telah beranggotakan lebih dari 1,437 anggota, dipenuhi oleh semangat untuk saling berbagi tulisan, pengetahuan, spirit, motivasi dan berbagai hal positif lainnya, baik melalui dunia maya [postingan di blog, kultwit di twitter mau pun interaksi di KEB FB Group]. Juga tentunya berbagi tulisan dan pengalaman dalam sebuah media keroyokan online/blog berjudul Rumah Emak serta semangat berbagi yang senantiasa digaungkan dalam berbagai kegiatan di dunia nyata [offline].

KEB, bukanlah komunitas blogger biasa. Meskipun berjuluk Kumpulan 'Emak' Blogger, tidaklah berarti bahwa member komunitas ini harus sudah menjadi emak alias berumah tangga. KEB terbuka bagi seluruh blogger perempuan, baik yang sudah menikah mau pun yang masih melajang/single. Sebutan Emak sengaja dipilih untuk menciri-khaskan Indonesia. :) Digawangi oleh para Makmin [admin] yang lincah dan gesit serta boards yang kreatif dan berpengalaman, menjadikan komunitas yang masih berusia 'bayi' ini berhasil menorehkan banyak kegiatan positif penuh manfaat, terutama bagi para anggotanya dan pastinya juga berimbas bagi masyarakat luas lainnya, seperti: Kontes Menulis; Hijab Class; berpartisipasi di dalam setiap acara besar seperti Nova Ladies Fair, Kompasianival 2012; KEB Peduli Bencana; Antologi buku KEB "Ngeblog Terapi Jiwa"; Kelas Online di grup FB KEB tentang blogging, penulisan, editing; perayaan HUT KEB; dan Pemilihan Srikandi Blogger 2013, dan banyak lagi event-event penting lainnya, termasuk yang saat ini sedang digarap adalah Seleksi Srikandi Blogger 2014. 

KEB Di Mataku

Adalah Mira Sahid, sang founder KEB yang langsung menarikku ke dalam grup yang baru dibentuknya kala itu. Dasar hobby nulis dan memang aku blogger sejati *jiaaah, maka senang-senang aja donk aku ditariknya ke dalam komunitas ini. Apalagi dengan tagline KEB "Inspirasi Perempuan, Kami Ada untuk Berbagi", kok rasanya klop banget di hati. Berada di grup yang dari hari ke hari semakin bertambah anggotanya ini, memang terasa nyaman banget. Beda dengan beberapa grup lain yang aku ikuti. Berinteraksi di dalam grup KEB, menghadirkan rasa keakraban tak berbatas antar sesama anggota. Kami bebas berinteraksi, bersenda gurau, berbagi ilmu dalam suasana yang akrab dan hangat tanpa harus merasa sungkan apalagi terjebak dalam suasana kaku. Aku yakin, member-member KEB yang lain juga akan sependapat denganku tentang hal ini. Bahwa KEB adalah 'rumah' yang teramat nyaman untuk saling kongkow dan berbagi ilmu. Itu pula yang membuatku betah berada di grup ini seharian, sembari mengerjakan tugas-tugas utama pastinya. :) 

Adaaa saja informasi dan event keren bermanfaat yang digagas oleh KEB, salah satunya adalah ajang pemilihan Srikandi Blogger 2013. Sebuah ajang yang ditujukan untuk memberikan penghargaan kepada para perempuan blogger yang sepak terjangnya mampu menginspirasi perempuan-perempuan lainnya, untuk berkarya baik dalam dunia maya [online] mau pun di dunia nyata. Apresiasi untuk blogger perempuan ini, memang baru pertama kalinya diadakan, dan oleh KEB. Aku pun menjadi salah satu peserta seleksi ini. Bukan, bukan karena ingin banget menjadi srikandi, tapi lebih kepada rasa cintaku pada KEB, sehingga aku merasa wajib turut serta memeriahkan perhelatan akbar ini. Namun siapa sangka, jika kemudian justru diriku yang terpilih menjadi Srikandi Blogger 2013. Alhamdulillah ya Allah. Rasanya? Wow banget donk! Dan kini? Setahun setelah perhelatan pertama, kini KEB sedang menyelenggarakan Pemilihan Srikandi Blogger untuk tahun 2014. Siapakah yang akan menjadi Srikandi Blogger 2014? Aih, tak sabar rasanya menanti para Srikandi terpilih tahun ini, untuk menambah jejeran para Srikandi, yang akan bergerak dan beraktivitas mengharumkan nama KEB. 

Saran dan Masukan

Selaku sebuah komunitas, apalagi yang masih berusia belia, bahkan bisa dikatakan masih 'bayi' yang berumur dua tahun, maka adalah wajar jika KEB masih harus meluangkan waktunya untuk memonitor dan mengevaluasi aktivitas-aktivitasnya. Dalam banyak hal, bukankah Monitoring dan Evaluasi [M & E] itu sangat diperlukan dalam memastikan segala sesuatu dapat berjalan sebagaimana mestinya? 
Begitu juga dengan KEB, jika diibaratkan sebagai bayi yang berusia dua tahun, maka bayi KEB ini adalah bayi yang hyper aktif, sehingga membutuhkan emak yang super dalam rangka memastikan si bayi dapat bertumbuh dengan baik dan sehat serta terkendali. Artinya?

Artinya adalah bahwa Makmin dan Makboard serta tentu saja anggota-anggota KEB harus senantiasa membuka diri terhadap masukan-masukan, kritikan mau pun saran yang disampaikan demi kemajuan KEB itu sendiri. Masukan, saran dan kritik tersebut harus ditindaklanjuti dengan tangan terbuka, hati yang lapang dan kepala dingin, demi terwujudnya KEB yang sehat dan senantiasa menaungi anggota-anggotanya. Dalam event-event lomba, atau pemberian penghargaan, semisal Emak Of The Month, Seleksi Srikandi Blogger misalnya, hendaknya para juri atau penilai, mampu memberikan kriteria yang jelas sebagai dasar penilaian, sehingga tercipta transparansi yang jelas bagi para member KEB. 

Well, Sobs, berbicara tentang KEB memang tak akan ada habisnya. Soalnya KEB ini tak hanya di mata, tapi selalu di hatiku sih! Hehe. Jadi jika sudah bicara tentang Kumpulan Emak Blogger, rasanya susah berhenti deh! Habis, komunitas yang satu ini, telah banyak sekali memberikan manfaat bagiku, ya mulai dari teman-teman yang semakin banyak, networking juga bertambah, wawasan yang semakin luas, juga KEB telah mengantarkanku menjadi seorang Srikandi Blogger 2013, pada ajang pemilihan tahun 2013 kemarin. Alhamdulillah, banyak sekali manfaat yang telah aku petik dari perjalanan kehidupanku bersama KEB. Terima kasih KEB, bersamamu, aku merasa bahagia dan nyaman sekali. 

Selamat Berulang Tahun, KEB!
Semoga di usia dua tahun ini, KEB semakin jaya dan menjadi rumah 
yang semakin nyaman bagi kami semua.



Postingan serentak 
dalam rangka merayakan 
Ulang Tahun Kumpulan Emak Blogger yang Kedua,
Al, Bandung, 18 Januari 2014
Read More
/ /
Kisah sebelumnya bisa di baca di;
Petualangan Gaib,  Petualangan Gaib 2, Petualangan Gaib 3  dan Petualangan Gaib 4 


Iri hati dan dengki, adalah faktor penggerak timbulnya tindakan-tindakan negatif dan merugikan, yang senantiasa dilancarkan oleh siapa saja yang berhati picik. Hati yang picik jelas menodai akal sehat dan bahkan mengajarkannya untuk menghalalkan segala cara, logic mau pun unlogic, dalam mencapai maksud dan tujuan yang diidamkannya.  ~Alaika Abdullah~

Baru saja bernapas lega karena si datuk Srigala telah hengkang ke negeri antah berantah, dan baru saja hatiku bahagia karena Nenek bilang perobatanku sudah selesai dan kita sudah boleh 'tutup obat' agar sempurna kesembuhanku. Eh, sore ini, saat sedang memasak di dapur, sudah ada makhluk lain yang menari-nari  di sekeliling Dijah. Tentu saja mataku belum mampu menembus selubung gaib itu, Sobs, tapi pertengkaran mulut antara Dijah [aku hanya mendengar suara Dijah saja sih] dengan si makhluk itu, yang terjadi dengan sengit, membuat hatiku tak bisa untuk tak was-was. Ya Allah, apalagi sih ini? Enggak selesai-selesai!!

Dijah menjelaskan bahwa si Dodo, mantan mitra bisnisnya [seorang paranormal juga], mengirimkan setannya untuk membujuknya kembali bermitra seperti dulu. Aku sampai melongo mendengar penjelasan panjang Dijah, tentang kemitraan mereka dahulu. Kutangkap dengan jelas, betapa Dijah telah dibodoh-bodohi oleh Dodo selama ini. Tak hanya soal fee yang berat sebelah [lebih banyak untuk Dodo], tapi paranormal itu juga memanfaatkan keahlian Dijah untuk keuntungan dirinya sendiri. Dijah yang lugu dan polos, hanya bak kerbau dicucuk hidung saat diminta Dodo untuk menandatangani beberapa blanko kosong. Menurut Dodo, blanko itu berisi perjanjian kredit pembelian sebuah ruko untuk tempat praktek mereka, yang saat itu butuh tempat yang jauh lebih luas. Kredit itu akan mereka tanggung berdua. Namun pada kenyataannya? Blanko kosong itu jauh dari apa yang dikatakan Dodo, isinya adalah perjanjian mutlak Dijah, yang akan mengangsur cicilan hutang ratusan juta pada rentenir, dan uangnya mutlak dipakai Dodo untuk membeli rumah pribadinya. Ampun deh!

Jadilah Dijah kemudian terlibat hutang pada beberapa rentenir, dan sebagai akibatnya, satu persatu harta benda Dijah lewat dirampas rentenir, jika terlambat mencicil. Namun dasar Dijah, tetap saja perlakuan jahat Dodo saat itu, tak berhasil membuka mata hatinya. Tetap saja dia berteman dekat dengan Dodo dan istrinya, yang menurutnya sudah seperti abang kandungnya sendiri. Hingga suatu ketika, nenek sekeluarga berhasil membuka matanya, menunjukkan betapa jahatnya kelakuan Dodo, yang memanfaatkan Dijah dan kelebihan-kelebihan gaib Nenek. Barulah Dijah tersadar dan menarik diri. Dan efeknya? Sama seperti saat menarik diri dari datuk Srigala, Dodo pun kemudian blingsatan. Apalagi saat itu, Dodo berniat kuat untuk memperistri Dijah [jadi istri keduanya], dalam rangka menyerap ilmu dan kehebatan Dijah. Maka, niat Dijah memutuskan hubungan kemitraan mereka pun membuat Dodo marah.

Pinjem dari sini
Kemarahan yang tak mampu dikelola dengan baik, justru membuat akal piciknya bertambah picik. Namanya paranormal jahat, maka tindakan yang diambil pun related to magical thing lah! Ya santet! Dodo pun mengirim peneror gaib alias setan! Aih. Dan efeknya bagiku? Bertambah wawasan akan fenomena gaib! Itu jika aku mau menilainya secara positif. Jika menilai sekilas secara negatif, maka jawabanku akan menjadi hadeuh, ada-ada aja ini! Ga selesai-selesai ini urusan! Kapan mau pulang kampung?? Tapi melihat Dijah yang diteror dan butuh teman/pengawal, tentu saja aku dengan tulus hati ingin bertahan menemaninya. Apalagi Dijah tak bisa hanya ditinggal berdua dengan Cindy, dalam kondisi seperti ini. Masa' di saat dia butuh pendamping seperti ini, aku tega meninggalkannya, sementara selama ini, Dijah telah dengan begitu telaten merawatku? I will stay, to protect you as far as I can! Janjiku dalam hati kecilku. Maka aku pun tetap tinggal, apalagi aku memang telah sepakat untuk mengajak Dijah dan Cindy berhari raya di rumah orang tuaku.

Kepada Nenek pernah suatu kali kucetuskan kalimat ini, "Nek, bukankah Dijah itu sakti? Lalu kenapa mesti takut dan kalah oleh Dodo dan setan-setannya itu?" Lalu Nenek dengan santai menjawab, "Al, tak selamanya Dijah itu sakti, karena sebenarnya yang sakti itu kami. Selama kami berada di dalam tubuhnya, maka dia tak akan mampu ditembus oleh aura negatif atau serangan pihak lawan, tapi kami kan ga selamanya bersamanya? Apalagi sejak membuang si Srigala itu, ketahanan tubuh Dijah sebagian dilumpuhkan oleh si Srigala itu. Juga, penyakit medis berupa darah tinggi dan maag akut yang diderita Dijah, membuat staminanya sering terganggu, di saat itulah pengaruh jahat gampang masuk." Lalu aku pun hanya bisa manggut-manggut sambil dalam hati bergumam Ooo, pahamlah, Nek! 

Pertarungan Kedua

Jarum pendek pada jam dinding kamar Dijah masih menunjukkan angka 4 dan jarum panjangnya bertengger di angka 8, menandakan waktu masih berada pada kisaran pukul 4 lewat 40 menit. Aku masih asyik berzikir, dengan khusyuk memindahkan satu persatu butiran tasbih kesayangan [yang kubeli di Mesjid Raya Medan dan telah didoakan oleh Buya] dengan kelincahan jemariku. Ada getaran bahagia di hati, merasakan lidahku yang kian kompak dengan jemariku, gesit memindahkan butiran demi butiran itu. Dijah masih terbaring lemah di atas springbed-nya, terserang oleh tensi darah yang meninggi. Wanita muda ini, memang mengidap tekanan darah tinggi sejak lama, dan sudah beberapa hari ini tensinya memang meninggi. Pusing kepala sejak usai makan siang tadi, membuatnya tak mampu bergerak segesit biasanya, justru memilih dan memang kusarankan untuk rebahan saja. 

Juga, usai shalat ashar tadi, Dijah kembali rebahan, tanpa terlebih dahulu berzikir seperti biasanya. Katanya pusing banget, dan memang suhu tubuhnya agak tinggi. Aku dan Cindy, putrinya, yang ikut-ikutan bertasbih, masih santun duduk di sajadah, meneruskan zikir kami, ketika tiba-tiba saja ekor mataku yang memang sudah terbiasa awas, menangkap getaran mencurigakan pada tubuh Dijah. Feeling-ku yang mulai tajam, memacu emosiku ikut memuncak! Hadeuh! Kenapa lagi ini???? Kerasukan lagi??? Sigap aku bangkit, menanggalkan dengan kasar mukenaku, dan dengan tasbih yang masih ditangan, kudekati Dijah. 

Matanya nyalang, bibirnya tersenyum sinis. Bener perkiraanku. Dijah kerasukan roh jahat! Aku sudah hapal benar, walau baru sekali melihat dia kerasukan roh jahat, yang adalah setan kiriman dukunnya si batu kuningku dulu. Tapi itu cukup membekas di ingatanku, sehingga mudah bagiku menandai mana yang roh baik dan mana yang jahat. Dan yang ini, jelas jahat, karena dia tiba-tiba menggerakkan tangan Dijah untuk melepaskan ikatan benang [benang khusus yang diberikan nenek] berbentuk gelang di tangan Dijah. 

Refleks, kusentak tangan itu. "Hei, siapa kamu? Jangan putuskan gelang itu! Cindy, panggil Nenek, Nak!" Bentakku, lalu meminta Cindy memanggil Nenek. Aku sendiri sudah naik ke spring bed dan berebut dengan tangan Dijah yang telah dikuasai oleh roh jahat itu. 

Bentakan kerasku, agaknya mengagetkannya, dan mata nyalang itu, menatapku tajam dan melalui mulut Dijah, suaranya mendesis, tajam. "Aku si Dodo! Kau ga usah ikut campur. Pulang sana, kau sudah sembuhkan? Ga usah kau ikut campur urusanku! Aku ingin yang punya badan ini mati!" 

Tentu aku kaget, tapi agaknya amarah yang juga menguasaiku, tak menggentarkanku oleh perintahnya. Siapa dia mau memerintah aku, eh? Masih memegang tasbih, kutarik kuat tangannya, mencoba menjauhkan tangan kanan yang tenaganya luar biasa itu dari benang/gelang itu. Aku ingat, dengan benang itulah Nenek bisa memantau keberadaan Dijah, jadi jika benang itu lepas, maka Nenek dan keluarga gaibnya, tak akan bisa mendeteksi dimana keberadaan Dijah. Jadi, benang itu tak boleh putus. 

"Saya bukannya ingin ikut campur, tapi saya ga ingin ada keributan di sini. Tolong, keluarlah dari tubuhnya, dia sedang sakit! Jangan bikin ribut, ayo bicara baik-baik. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Astargfirullah, Lahaula Walakuata Illabillah..." Kalimat zikir itu kuulang-ulang seraya dalam hati memanggil nenek. Cindy juga berulang kali menghentakkan kakinya, memanggil nenek. 

"Dia harus mati! Gara-gara dia pasienku lari semua. Gara-gara dia kami jadi sepi. Ga ada yang percaya sama kami lagi. Dia bangsat! Dia harus mati! Kau tau? Dia bodoh! Aku pinter, aku yang membuatnya terjebak hutang ratusan juta pada rentenir! Pinter aku kan? Haha..."

"Sudah, ga usah kau baca-baca itu, aku pun bisa berzikir lebih pandai dari kau! Aku ini ustadz! Ga takut aku dengan kalimat-kalimatmu itu, aku ini ustadz, tau kau??"

Jelas aku terhenyak oleh kalimat-kalimat panjang yang diucapkan dengan amarah itu. Yang lebih membuatku terhenyak adalah bahwa dia ustadz! Ustadz cabul? Ustadz salah kaprah kaleee? Tapi aku tak lagi gentar oleh suara amarahnya. Aku pun bisa marah, memangnya dia saja yang bisa membentak-bentak, tapi ibuku selalu bilang, jangan lawan orang yang sedang marah dengan kemarahan, gunakan kebaikan atau kelemahlembutan! 

"Baik, kalo Bapak memang Ustadz, ayo kita bicara baik-baik. Ga perlu kita berantem donk! Ayo, Pak Ustadz, kita bicarakan dengan baik. Apa yang bisa saya bantu. Lepaskan dulu dia, jangan dicekik seperti ini, nanti dia mati, Bapak juga yang rugi! Ayo Cindy, panggil Nenek, biar Pak Ustadz dan kita bicara baik-baik." Bujukku mengatur modulasi. 

Cindy mengerti maksudku, dan kembali menghentakkan kakinya tiga kali, memanggil Nenek. Tapi si ustadz salah kaprah malah membentak Cindy dengan garang.

"Hey, anak cacat! Dasar bodoh kau, gara-gara kau mamakmu habis banyak duit! Anak cacat kau! Puih!" Ustadz salah kaprah ini malah meludahi Cindy yang langsung menghindar ke belakang. Mendapat makian dan celaan 'anak cacat', membuat gadis kecil 6 tahunan ini terpana. Matanya terluka, aku merasakan kesedihan yang luar biasa di hatiku menatap gadis kecil yang kini terpaku bagai orang bodoh, oleh celaan itu. Kurang ajar ini si ustadz! Memang Cindy terlahir cacat [berkepala besar/hydrocephalus dan tidak memiliki beberapa organ tubuh], namun Dijah telah berhasil membiayai pengobatan dan beberapa kali operasi pemulihan bagi Cindy hingga gadis kecil ini kini tumbuh cantik, normal dan cerdas. Dasar ustadz ga punya hati!

"Allahu Akbar, Lahaula Walakuata Illabillah, Lahaula Walakuata Illabillah, Cindy, terus panggil Nenek, Nak, panggil Nenek!" Kataku, silih berganti antara menyebut nama Allah dan meminta Cindy memanggil nenek. Tanganku seakan mendapat tenaga entah dari mana, berhasil menjauhkan kedua tangan itu dari leher Dijah. Kukunci tangan itu dengan masing-masing tanganku, dan karenanya, kini kaki-kaki Dijah yang beraksi. Kaki kiri Dijah digerakkan si ustadz menghantam kaca jendela nako di sisi springbed. Sungguh membuat amarahku meledak. 

"Hey bangsat! Ustadz keparat! Kau kira kau saja yang bisa marah, ha???? Kubilang ayo kita bicara baik-baik ga kau dengar? Awas kalo kaki adikku terluka ya! Jangan harap kau bisa pulang baik-baik! Binatang!!" Kaki kananku, entah digerakkan oleh siapa, mungkin oleh amarahku sendiri, malah melayang menjangkau kakinya yang menghantam jendela. Kukait kaki itu dan menguncinya. 

"Binatang memang kau ini, ga ngerti diajak bicara baik-baik! Lahaula Walakuata Illabillah, hanya kekuatan-Mu ya Allah, yang maha kuat, tunjukkan padanya bahwa hanya Engkau yang Maha kuat ya Allah. Lahaula walakuata Illabillah. Cindy, panggil nenek!" 

Si ustadz salah kaprah terlihat menggelepar, "Awas kau ya, mentang-mentang kuat ilmumu, kau usir-usir aku. Awas kau!" 

Aku tak peduli dengan kata-katanya, melainkan terus merapal kalimat yang itu-itu saja. Lahaula Walakuata Illabillah, karena sesungguhnya kuyakini benar akan kekuatan kata-kata itu. Karena memang segala sesuatu hanya akan terjadi dengan kekuatan Allah. 

"Oke, cukup. Aku akan pergi, tapi suruh dia keluar dari Medan! Jangan ambil pasien-pasienku! Suruh dia pergi. Aku mau bicara baik-baik denganmu. Suruh dia keluar dari kota Medan ini!"

"Ok, baik, tanpa kamu suruh pun, Dijah akan pergi dari Medan. Kamu tau? Dia sudah bosan di Medan ini. Sekarang pergi, keluar dari tubuhnya." Bentakku seraya mengencangkan jepitan tanganku yang bertasbih di pergelangan tangannya. 

"Aku benci kalian. Kau lagi, untuk apa kau ikut campur urusanku? Si Halimah lagi, sok kuat! Bangsat kalian! Tunggu saja kalo ga keluar dia dari Medan, kuhabiskan kalian semua!"

"Eh, masih bertahan? Allahu Akbar, Lahaula Walakuata Illabillah, Lahaula Walakuata Illabillah! Cindy, Nenek mana sih?" Aku sebenarnya sudah lelah, dan emosiku sudah benar-benar memuncak! Aku lelah dengan teror ini. Lelah dengan fenomena gaib ini, lelah dengan pertarungan gila ini! 

Dan di puncak kelelahan dan mulai putus asa ini, tiba-tiba saja, tubuh Dijah kembali menggelepar, suara si ustadz salah kaprah itu menghilang, berganti dengan suara celat yang aku kenal. Allahu Akbar, Icha! Dan aku merasa aman sudah! Kujatuhkan diriku diatas tubuh Dijah, memeluk tubuh Dijah yang telah berisi Icha. Menangis tersedu aku di atas tubuhnya. Jin kecil itu memelukku erat.

"Unda, jangan angis, Unda ebat, Unda belani anget! Belani ngucir Dodo! Dodo udah ditangkap Nenek. Udah acuk botol!" Penjelasan itu, yang disampaikan dengan suara celatnya, tak mampu meredam air mata dan sedu sedanku. Aku lelah, aku ingin rehat dari aktivitas ini! Lebih benar lagi adalah, aku takut! Takut tak mampu menyelamatkan Dijah jika hal ini terulang lagi. Aku menangis, hingga peristiwa yang sama [saat setan batu kuning merasuki Dijah] terulang lagi. Yaitu, nenek masuk ke tubuh Dijah, dan membelaiku lembut, menenangkan aku, dan memujiku, betapa beraninya aku menghadapi teror itu. Tapi aku, sungguh, aku tak butuh pujian! Aku sesungguhnya tetap takut berhadapan dengan hal ini. Apalagi nenek bilang, bahwa beliau sengaja tidak tampil lebih awal saat tadi kami memanggilnya, karena beliau yakin aku akan mampu menghandle masalah ini. Oh My God! 

Aku tak ingin keberanian dan kehebatan seperti ini. Aku ingin Dijah lepas dari teror ini! Dan aku ingin kembali pada kehidupan normalku. Aku rindu bertualang di duniaku, dunia maya dan nyata yang aku cintai! Allah, help us! Bantu kami lepas dari pengaruh-pengaruh jahat ini. Tak tega rasanya aku meninggalkan Dijah dalam keadaan seperti ini, tapi seberapa dayaku ya Allah? Aku bukan manusia sakti, aku takut hal ini terulang lagi!

Dan Nenek, memang ahli membaca pikiran. Beliau tau persis isi hati dan isi kepalaku. 
"Nenek tau kau lelah, Nak. Nenek tak berhak menahanmu di sini, juga tak berhak menitipkan Dijah dan Cindy ke rumah orang tuamu. Nenek tau kau lelah. Nenek mohon maaf telah menyeretmu ke dalam masalah seperti ini, Nak! Harusnya kau sudah bebas sekarang, sudah sembuh, sudah boleh pulang dan beraktifitas kembali, bukannya malah Nenek tahan kau dan titipkan Dijah bersamamu. Maafkan Nenek ya, Nak..."

Dan, Sobats? Siapa yang bisa menahan air mata mendengar kalimat lemah lembut itu, keluar dari bibir seorang jin yang sudah berusia tiga ratus tahunan? Aku langsung menangis, tersedu, memeluk Nenek dan menyesali diriku sendiri. Menyerapahi fikiranku yang tak kukunci sehingga Nenek dengan gampang membaca isi hatiku. Ya Allah, bantu hamba memperbaiki semua ini. Betapa aku tak tau diri, jika sampai meninggalkan orang yang telah menyembuhkan aku begitu saja, justru di saat dia membutuhkan bantuanku. Ampuni hamba ya Allah, bantu hamba menetralisir semua ini. Kuatkan aku untuk tetap bertahan bersama Dijah dan petualangan ini...

Bersambung

Sebuah catatan pembelajaran
bahwa tiada yang tak mungkin terjadi di dalam kehidupan ini,
bahkan hal yang sulit diterima oleh nalar sekali pun
Al, Bandung, 16 January 2014

Read More