Persis di Sinetron | My Virtual Corner
Menu
/
Tiga hari lalu, kalo ga salah, aku sampai bikin status di BB seperti ini; "Kirain cuma di sinetron yang seperti ini, bahwa ada teman karib yang tega merebut pasangan/kekasih sahabatnya. Ealah, ternyata, dalam kehidupan nyata pun, banyak lho yang begini. #BaladaPagarMakanTanaman"

Aku ga main-main dengan status itu, dan langsung mendapatkan banyak sekali response dari teman-teman di BB yang membaca update status itu. Hihi....

"Mba Al, are you okay? What's up? Sing sabar yooo!"
"Hi, Al, what's up, dear? Hope every thing is gonna okay over there!"
"Al, kamu baik-baik saja? Ada apa? Ayo cerita ke mba..."
"Mba Al, siapa yang menyakiti hatimu? Tega bener, ayo, gebrak ajah!"

Dan berbagai komentar responded my status update tersebut. Hehe....
Aku sendiri, jadi kaget juga sih, ga menyangka jika secepat itu teman-teman meresponse. Jadi terharu dengan perhatian mereka. Thanks, guys, for your care and attention!

Sebenarnya, bukanlah aku yang sedang mengalami kisah pengkhianatan itu. Tapi tak berarti bahwa diriku tak pernah alami itu lho. Pernah kok! Dan sakit! Makanya, saat teman yang satu ini telepon dan curhat sambil bersimbah air mata [lagi dan lagi, setelah beberapa teman alami hal serupa, teman yang ini juga mengalami pengkhianatan cinta]. Duh, kenapa sih dunia ini selalu saja jadi keruh oleh cinta yang patah? Dan kenapa sih, kejadian-kejadian seperti di sinetron ini selalu saja terjadi di alam nyata?

Duhai sahabat karib, kenapa sih ga mencari sasaran yang lain saja? Mbok ya jangan mengambil/merampas apa yang sudah menjadi milik sahabat karibmu donk. Di luar sana kan masih banyak, kenapa juga harus merebut milik teman sendiri???

Huft, atau.... jangan-jangan sulit ya mencari sasaran baru, sehingga dengan gelap mata, main rampas saja milik orang lain, bahkan milik sahabat sendiri? Entahlah....
Aku bukanlah ahli menata hati, karena hatiku sendiri pernah retak oleh peristiwa yang serupa. Tapi ketika teman-teman memilih untuk berlari kepadaku dan mengadukan kisahnya, maka menyediakan telinga dan hati yang lapang dalam menampung keluh kesah mereka, adalah hal yang paling bisa kulakukan. Nasehat, apalagi jalan keluar, belum tentu mampu aku berikan. Namun ternyata, pelajaran menunjukkan bahwa sebenarnya bukanlah solusi instant yang mereka harapkan right after they shared us their story. Mereka HANYA butuh diDENGARkan. Dan itu yang selalu aku lalukan, walo terkadang, tanpa disadari, mungkin juga bermodalkan pengalaman juga banyaknya kisah yang sudah dituturkan, spontan terpikirkan beberapa saran untuk atasi hati yang perih dan gundah gulana.

Menurutku, jangan malu untuk menumpahkan air mata, karena bagaimana pun, menangis akan membantu ciptakan rasa lega. Ada beban yang ikut berkurang seiring mengalirnya air mata. Jadi, menangislah, tapi ingat, JANGAN TERLALU lama. Tetapkan batasan/limit, mau menangis berapa lama [3 hari? Seminggu? Tapi kalo bisa jangan lebih dari 2 Minggu lho yaaa!]. Sayangkan? Membuang air mata berlebihan untuk seseorang yang tak lagi berharga?

Ayo, siapa pun yang mengalami kisah seperti di sinetron [pasangan/suami/istri] direbut oleh sahabat karib, bangkitlah. Yakin deh, masih ada hari esok setelah suramnya hari ini. Yakinlah, esok masih kan bersinar. Jiaaah!


2 comments

Waduh ... cerita manusia itu memang seribu satu macam ya Kak ...
Saya sih cuma bisa berusaha ...
berusaha keras ... agar langkah kami ... saya dan keluarga saya selalu diberi jalan yang terang dan lancar ... sehingga kami bisa mengetahui mana yang baik dan mana yang tidak baik ...

kita semua manusia ... kadang silap mata ... silap hati ... alpa mata ... alpa hati ...
berdoa saja agar "alertness" kita senantiasa tajam dan on track

salam saya Kak Al
(19/9 : 19)

Reply

Kadang kita suka ya sama drama seperti terterik nonton sinetron di TV, tapi ketika drama itu terjadi di hidup kita? well... nggak banget deh.

Reply