Archive for November 2013
Menu
/ /
Kisah sebelumnya di sini.

Pengalaman adalah guru yang paling sempurna, mengalami sendiri adalah berita nyata yang terjamin kebenarannya. 

Mungkin pepatah dadakan inilah yang kemudian bersenandung di benakku malam itu. Masih tak habis pikir bagaimana dan sejak kapan si permata kuning indah tapi jahat itu bersemayam di dalam tubuhku. Dibenamkan ke dalam tubuhku sekitar lima tahun yang lalu, melalui perantaraan angin! Begitu tutur Nek Limah, ingin kupercaya, tapi sulit sekali menghubungkannya dengan logika. Dikirim melalui angin? Sungguh di luar nalar deh rasanya. Tapi kalo sudah bertajuk kekuatan gaib? Siapa yang berani mengatakan tidak mungkin? Ya sudahlah Al, percaya saja, lagi pula ga penting lagi kan tentang kapan dan bagaimananya? Yang penting adalah bagaimana mengeluarkan si kuning jantan yang kabarnya justru lebih ganas dari si betina yang telah dikeluarkan tadi.

Maka, aku pun berusaha memejamkan mata, mencoba untuk tiduran dan istirahat. Kulirik putrinya Dijah yang telah tertidur pulas. Sementara Dijah sendiri masih ‘berkelana’ di alam gaib [di rumahnya Nek Limah], menyiapkan obat untuk Buya yang sedang demam. Jadi yang bersamaku malam ini adalah Icha, si cantik bijak, keponakan gaibnya Dijah.
Awalnya agak sulit diterima nalarku sih, tubuh Dijah tapi jiwa milik Icha. Tapi kemudian aku pun terbiasa dengan fenomena ‘rasuk raga’ ini. Icha sendiri begitu manja denganku. Namanya bocah, minta dikeloni dan dipeluk kayak bayi. Jadilah aku tidur seraya memeluk tubuh Dijah yang wanita dewasa sementara roh di dalamnya adalah roh seorang bocah empat tahunan.

Tak sabar ku menanti keesokan harinya, agar proses pengeluaran si batu jantan bisa segera dilakukan. Namun betapa kecewanya aku ketika sore esok harinya, tetes demi tetes darah haid membasahi underware-ku. Hadeuh! Pasti proses pengambilan si jantan kuning itu harus ditunda deh. Dan benar saja, Nek Limah dengan nada kecewa berat bergumam, "Itu pasti akal-akalannya supaya ga jadi dikeluarkan. Diluncurkannya darahmu agar kita kira haid. Tak apa, kita tunggu sampai kau bersih." Dan kecewa pun segera mengisi relung hatiku. Sedikit prasangka negatif merebak di dada, Ya Allah, mengapa Engkau ijinkan aral ini merintangi tindakan kami? Namun wasangka ini segera kutepis sebelum Nek Limah yang ahli membaca pikiran menegurku. Tak baik berburuk sangka, apalagi kepada Ilahi Rabbi, pasti akan ada hikmahnya, walau saat itu, yang memenuhi rongga hatiku adalah gundah gulana.

Pertarungan Maut

Esok harinya, Dijah malah demam. Wanita setengah peri ini, ternyata bertubuh rentan juga. Gampang sekali terserang demam dan flu jika telah terserang debu. Sama sepertiku yang alergi debu. Namun tak hanya itu, staminanya yang menurun oleh serangan flu plus kadar kolesterolnya yang meningkat, membuat kepalanya ikutan pusing dan rasa sakit yang luar biasa pada tengkuknya. Wanita itu terbaring lemah, saat kukompres. Ada rasa haru di hatiku, membayangkan betapa hampa hidupnya yang menjanda, dengan seorang putri tanpa sanak keluarga. Hanya keluarga gaib yang dia miliki. Tiba-tiba rasa sayang yang luar biasa membuncah di hatiku terhadapnya. Kuelus kepalanya, dahinya terasa begitu panas dan aku mulai kuatir. Duh Tuhan, selamatkan Dijah ya Allah.

Dijah membuka matanya, kutangkap tatapan yang aneh terpancar dari kedua mata itu. Duh, kenapa lagi ini? Kuatirku mulai memacu jantung untuk berdegup lebih kencang, dan tiba-tiba suara Dijah yang meluncur dari bibirnya sungguh membuatku terperangah.

"Kak, tolong awak, dia mau cekik awak..."

Kulihat kedua tangan wanita itu mencekik lehernya sendiri. Otakku langsung memerintahku refleks. Kuraih tangan itu, yang telah menempel erat dan bertenaga di lehernya sendiri, membuat napas Dijah mulai terengah. Ya Allah, setan apa ini yang merasuki Dijah, yang mencekik leher Dijah. Panik aku berseru memanggil nama putri Dijah. 'Cindy, panggil nenek, Nak! Panggil Nenek!' Lalu aku berzikir, dengan suara yang nyaring. 

Cindy yang cepat tanggap langsung berdiri, menghentakkan kakinya tiga kali ke lantai seraya memanggil Nek Limah, 'Nenek! Nenek!'

"Allahu Akbar, Allahu Akbar, Lahaula Walakuata Illabillah, Lahaula Walakuata Illabillah." Kalimat itulah yang kuulang-ulang seraya tanganku semakin kuat menarik tangan Dijah. Membebaskan kedua tangan itu dari upaya mencekik lehernya sendiri. Sungguh pertarungan yang menguras tenaga bagiku. Apalagi dengan kondisi kaki kiriku yang masih lemah. Terengah aku, mempertahankan kedua tangan yang telah lepas dari leher itu, namun berusaha untuk kembali meraih leher Dijah. Sebenarnya aku sudah ketakutan luar biasa, namun tiba-tiba suaraku malah menggelegar penuh amarah, membentak sesuatu yang aku sendiri tak mampu melihatnya. Tanpa sadar kaki kiriku yang lemah itu malah telah terulur, menekan tangan kanan Dijah agar tak mampu kembali ke lehernya.

"Siapa Kamu?? Mengapa mengganggunya. Ayo keluar, tak berhak Kamu mengganggunya!"

Eh, suara dari bibir Dijah malah menjawab, lembut.

"Adek, pulanglah kau Dek, Aldo menunggumu. Aku diminta majikanku membunuh yang punya badan ini, majikanku orang *ar*, kami benci sama dia, gara-gara dia kami jadi ketahuan ada di dalam tubuhmu. Pulanglah kau dek, Aldo masih sangat mencintaimu dan menunggumu."

Sungguh, aku bagai disambar api. Kurang ajar. Aku langsung ingat akan seseorang yang masih begitu akrab denganku, yang masih kujaga silaturrahim dengannya, yang kutahu memang sering sekali berdukun untuk menundukkan suaminya. Dan wanita itu memang berlangganan pada seorang dukun *ar*. Aku sendiri memang sudah jarang sekali bertemu dengannya, tapi masih berkomunikasi via internet dan tau update berita tentang kelakuannya itu dari teman yang lain. Hm, jadi Aldo bersekongkol dengannya mendukuniku? Pada si dukun *ar* ini? Oh My God!

"Pergi kau, keluar tidak dari tubuh ini? Ha? Ayo keluar! Allahu Akbar, Lahaula walakuata Illabillah, Lahaula Walakuata Illabillah, Ya Allah, hanya Engkaulah yang Maha Kuasa Ya Allah, tiada daya upaya melainkan atas ijinMu ya Allah, Lahaula Walakuata Illabillah." Kurapal kalimat itu penuh keyakinan. Hanya itu yang diperintah otakku untuk kubaca dan kuulang. Jelas aku bukan dukun, bukan orang pintar. Yang kutau dan kuyakini adalah bahwa hanya kekuasaan Allah lah yang Maha Besar, dan hanya kepada Allah lah aku bermohon pertolongan, walau jujur, aku berharap agar Nek Limah segera datang.

Kami semakin berperang. Tangan itu semakin meronta untuk kembali mencekik leher Dijah, aku berupaya sekuat tenaga yang kumiliki untuk menjauhkan tangan itu dari leher wanita yang rohnya sudah pergi sejak tadi. Ya Allah, bantu hamba ya Allah, kemana Nek Limah? Kenapa belum hadir juga? Aku sudah ingin menangis, saat tiba-tiba saja kurasakan tubuh Dijah bergetar hebat, dan getaran berikutnya diikuti oleh suara celat yang begitu aku kenal.

"Unda, Unda, jangan sedih, Umi Dijah udah selamat, setannya udah ditangkap Nenek!"

Ya Allah, aku langsung menangis tersedu seraya memeluk tubuh Dijah yang telah diisi oleh Icha. Allahu Akbar, Alhamdulillah ya Allah. Dan aku terus saja menangis tersedu, bahkan Icha tak mampu meredakan tangisanku. Aneka rasa berkecamuk di dada. Ini pengalaman pertamaku melawan setan, sebuah perlawanan yang menguras tenaga dan sungguh diluar logika dan sulit diterima nalarku, tapi baru saja aku alami. Ya Allah. Alhamdulillah ya Allah, telah Engkau selamatkan Dijah. Tangisku semakin menjadi, bahkan saat tubuh Dijah kembali berguncang, dan kudengar sapaan khas Nek Limah.

"Assalammualaikum, sudah, sudah Al, jangan menangis lagi. Bukan kau yang dikejarnya, si Dijah yang mau dibinasakannya. Kau aman, nak."

Aku justru semakin menangis. Justru aku tak ingin ada orang lain yang menjadi korbannya. Setan itu harusnya mengincarku, bukannya Dijah!

"Tapi Nek, Al ga ingin Dijah celaka hanya karena Al. Al ingin semua selamat. Al ga mau Dijah mati karena Al, Nek. Huuu huuu huuu."

Nek Limah meraih kepalaku dan membawanya ke dalam pelukannya. Belaian lembut tangannya menenangkan hatiku.

"Sudah, tak apa, jangan menangis lagi. Kau tau tidak? Nenek bangga sama kau, ternyata cucu Nenek begitu pemberani. Kau lawan dia dengan gagah berani. Sudah, jangan menangis lagi, sudah Nenek tangkap dia. Itu setan yang ada di batu kuning yang kita angkat kemarin. Tapi kau tenang saja, dia ga bisa ganggu kita lagi, sudah masuk botol dan akan nenek masukkan nanti ke dalam guci Nenek."

Entahlah, tiba-tiba aku merasakan kelegaan yang luar biasa. Nek Limah menjelaskan bahwa dirinya sedang shalat Ashar tadi saat kami memanggilnya, makanya tidak langsung datang. Namun selesai shalat, beliau langsung hadir lengkap dengan botol di tangannya. Subhanallah, sungguh, ini merupakan pengalaman yang tak akan pernah terlupakan di dalam kehidupanku. Pengalaman pertama bertarung melawan setan terkutuk. Hampir saja Dijah tewas jika aku tak berusaha keras mempertarungkan tenagaku. Ckckck. Amazing, tapi sungguh mengerikan.


Male Yellow Devil Stone

Sungguh menguji kesabaran dan bikin was-was menanti kondisiku kembali suci. Batu laknat itu [batu kuning jantan] yang sempat naik hingga mendekati jantungku sungguh membuat kami semua spot jantung termasuk jantung ibuku yang telah hadir untuk menguatkan dan menemaniku jalani proses operasi itu. Nek Limah berulang kali hadir melalui tubuh Dijah untuk menenangkan ibuku yang terlalu kuatir akan kondisiku yang tidak stabil. Batu itu memang menjadi beringas karena betinanya telah diangkat, sementara aku tiba-tiba haid sehingga proses pengeluaran si jantan terpaksa ditunda. Namun upaya keras Nek Limah, Buya dan seluruh keluarganya akhirnya berhasil membuat si batu kuning itu turun hingga ke pinggang belakangku dan berhasil dihentikan pergerakannya dengan cara ditotok aliran darahku di bagian itu.

Akhirnya hari yang dinantikan pun tiba. Kondisiku sudah suci dan siap untuk proses pengeluaran batu kuning jantan yang kini tetap berada di posisi pinggang belakangku. Ibuku sendiri dapat melihat sebuah lingkaran biru sebesar batu kecil pada posisi itu. Aku sendiri semakin was-was. Pasti sakit sekali nanti saat Nek Limah mem-beset pinggangku dengan pisau silet andalannya itu.

Seperti prosesi sebelumnya, mangkuk besar berisi bunga mawar, melati, dan beberapa macam dedaunan lainnya telah siap di hadapan Nek Limah, juga piring putih berisi botol minyak kayu putih, minyak suluk, tasbih biru muda miliknya, silet, handiplast, dan pinset. Duh, sungguh bikin aku deg-degan. Aku disuruh telungkup di hadapan Nek Limah yang telah merasuk ke dalam tubuh Dijah. Ibuku bertugas menyinari punggungku [area yang akan dibedah] dengan lampu emergency [listrik mati pula saat itu], Cindy [putri Dijah] menyaksikan proses itu di samping ibuku. Proses itu terjadi di dalam kamar Dijah yang hanya diterangi oleh lampu emergency.

Nek Limah menyakinkan ibu agar tak kuatir akan penerangan yang seadanya itu, bahwa mata kaum jin itu bahkan bisa melihat dengan jelas bahkan di dalam kegelapan. Jadi tugas ibuku adalah menyinari bagian pinggangku agar ibuku bisa membantu Nek Limah nanti mengeluarkan si batu dengan pinset yang telah disediakan. Jadilah ibuku sebagai asisten Nek Limah malam itu. Was-was hatinya melihat sayatan silet itu semakin tajam digoreskan oleh Nek Limah, karena si batu semakin berusaha masuk menjauhi permukaan kulit tubuhku.

"Tahan ya Al, istirghfar, dia coba melawan. Ayo, keluar kau, jangan bandel, tak kan kubiarkan kau bersemayam di tubuh cucuku lagi!" Kurasakan sambitan tasbih biru muda itu tiga kali di atas pinggangku. Dan kemudian ibuku berseru tertahan.

"Itu dia Nek, itu dia!"

"Tarik dia dengan pinset itu, jepit dan tarik, Mala!" Kuyakin ibuku berusaha keras menjepit si batu kuning itu, namun seruan tertahan dari mulutnya membuatku was-was, batu itu selalu terlepas dari jepitan pinset itu. Sepertinya si batu yang satu ini memang jauh lebih ganas dibanding yang betina. Namun ibuku tentu tak mau menyerah. Lubang yang dihasilkan oleh sayatan Nek Limah itu terasa diobok-obok oleh pinset yang dijepit oleh tangan ibu, sakit, namun ku berusaha untuk bertahan. Tak boleh mengeluh karena keluhanku akan membuat ibuku kuatir. Beliau dan Nek Limah harus fokus. Tangan Nek Limah beberapa kali menyambit pinggangku dengan tasbihnya, hingga akhirnya ibuku berhasil menjepit batu kuning yang ternyata berbentuk lonjong itu dan meletakkan di atas tissue yang telah digelar oleh Nek Limah di atas karpet.

Tak menghiraukan rasa sakit di pinggangku, aku bangkit untuk melihat si batu jahanam itu. Oh, begitu rupanya bentukmu!


Permata Kuning Jantan yang ganas
Permata Kuning Betina yang telah diangkat beberapa hari sebelumnya.
Nenek mengingatkan agar aku tak menyentuh si permata kuning jahat itu, karena dia akan berusaha untuk menyusup kembali ke dalam tubuhku. Oleh karenanya, begitu ibuku selesai memotretnya dengan camera hapenya, batu kuning itu segera dibungkus oleh Nek Limah dengan tissue dan dimasukkan ke dalam plastik, dan setelah dikunci dengan rapalan khusus lalu digantung di dinding teras rumah Dijah untuk besok pagi dibuang ke sungai Deli. Alhamdulillah ya Allah, lega rasanya melihat si jahat itu telah keluar dari tubuhku. Semoga kejahatan yang hendak mencelakaiku ini berakhir hingga di sini ya Allah. Aamiin. Dan malam itu, setelah berusaha untuk melek [ga boleh langsung tidur agar racun yang tersisa tidak mengalir ke jantung], akhirnya jam 1 malam aku diperbolehkan tidur oleh Nek Limah.

Si Kuning Jantan yang Hadir Kembali

Pagi-pagi, aku sudah dibonceng Dijah menuju sungai Deli, untuk membuang si batu kuning jahanam itu. Batu ganas yang sungguh bikin hati was-was. Bagaimana tidak coba, Sobs! Subuh tadi, batu itu ditemukan Dijah tergeletak di luar kain batik [pasung bumi] yang biasa dipasang Dijah untuk memagar pintu depan rumahnya. Ternyata batu ganas itu berhasil keluar dari kantong plastik dan mencoba masuk melalui sela pintu, namun terhenti oleh si kain batik panjang [pasung bumi]. Alhasil, Dijah menjerit memanggilku dan langsung menciutkan jantungku oleh berita yang disampaikannya. Ibuku juga jadi was-was. Dijah akhirnya memasukkannya kembali ke dalam tiga lapisan plastik dan kami pun ngebut menuju sungai Deli. Ibuku wanti-wanti agar kami berhati-hati dan yakin bahwa si batu benar2 jatuh ke sungai. Dijah sengaja memilih sungai Deli, yang letaknya hampir satu jam dari rumah dan pulangnya sengaja dipilih rute memutar dan berbelit. Awalnya aku heran, mengapa juga harus menempuh waktu yang lebih lama jika kita bisa kembali lewat rute yang sama, yang jauh lebih dekat. Alasannya simpel, agar si batu sulit untuk kembali. O really? Apa mungkin dia bisa kembali setelah dibuang sejauh itu? Kusimpan tanya itu di dalam hati, karena aku sudah lelah dengan situasi ini. Ya Allah, sudahi cobaan ini dan ijinkan hamba keluar sebagai pemenang dari pertarungan ini ya Allah. 

Namun kiranya cobaan ini belum berakhir hingga di sini, Sobs! Senja harinya, sekitar pukul setengah enam sore, saat aku dan Dijah sedang mandi bersama dengan hanya diterangi oleh lampu emergency [listrik kembali padam], tiba-tiba Dijah berseru seraya menunjuk lantai, di dekat kakiku. 

"Kak, awas, apa itu berkilauan?" Refleks aku menundukkan pandangan ke arah yang ditunjuk Dijah. Tepat di dekat kaki kananku, benda menakutkan yang telah terpatri di benakku itu [permata kuning jantan], bersinar dan bergerak mendekati kakiku. Ya Allah! 

Tanpa suara aku melompat ke atas bak. Refleks dengan kekuatan pinjaman dari Tuhan, aku berhasil nangkring di atas bak mandi. Namun sayang, gerakan refleks ku membuat pinggangku menyentuk pipa kran air secara keras dan menyebabkan kran itu patah. Air langsung memancur dari patahan pipa sementara aku terjatuh ke lantai, dalam posisi terlentang di atas lantai. Teringat akan si batu yang ada di lantai, tak menghiraukan rasa sakit, aku langsung bangkit dan naik lagi ke atas bak mandi. Kali ini aku berhasil duduk di pinggiran bak sementara bokongku setengahnya menyentuh air yang memenuhi bak. 
Dijah ikutan kaget dan terpana sejenak oleh gerakan refleksku. Segera dia memanggil Nenek, yang menurutnya hadir sekilas namun menghilang lagi bersamaan menghilangnya si kuning yang tadi berkilauan. Kami pun lega, karena yakin bahwa si batu menghilang karena telah diambil Nenek. Lalu, masih dengan lutut yang gemetaran, aku mengikuti Dijah ke kamar, lalu menceritakannya pada ibuku. 

Di kamar, Dijah kembali bertanya, bagaimana posisi jatuhku tadi, karena menurutnya, Nenek barusan menanyakan apa Dijah berhasil menangkap batu itu? Artinya? Artinya si batu tadi tidak bersama nenek. Lalu? Oh My God! 

"Kak, coba buka ikatan rambut kakak!" Dan spontan tanganku meraih jepitan rambutku, membukanya dan tiba-tiba terdengar bunyi ting menggelinding di lantai. Cahaya yang temaram di kamar, tak mampu meredupkan kilauan si batu kuning itu, sehingga membuat mata tajam Dijah langsung berhasil menemukannya. Aku langsung berlari ke kulkas. Pikiranku memerintahkan aku untuk mencari botol, karena kuyakin, plastik tak akan kuat mengikat batu yang ganas ini. Kuambil sebotol krating daeng yang masih berisi penuh. Kubuang isinya dan langsung membawa botol kosong itu ke Dijah. Tanggap dengan ideku, Dijah langsung memasukkan batu kuning itu ke dalam botol dan menanti kehadiran Nenek, yang dalam sekejap kemudian telah berada di antara kami. Dijah sendiri melepaskan diri dari raganya yang langsung diisi oleh Icha. Bocah empat tahunan yang cerdas itu, segera mengajakku ke dapur. 

"Nda, yuk kita naik ke atas. Nenek dan Umi Dijah tunggu di atas. Kita bakar batu ini di atas." 

Aku dan ibu langsung mengikuti langkah Icha ke dapur. Otakku memerintahkan tanganku untuk menyambar sebuah kuali/wajan yang tergantung di dinding dapur Dijah. Untuk wadah tempat membakar batu, jawabku saat Icha menanyakan tujuanku. Lalu berbekal setumpuk koran, beralaskan kuali tempat datuk halilintar biasa memasak arsik, kami pun membakar si batu kuning yang setelah api menyala besar, langsung kami tuangkan ke dalam kobaran api itu. Tentu saja aku tak mampu mendengar jeritan si setan yang ada di dalam batu itu, namun baik Dijah, Nenek mau pun Icha, mengatakan bahwa si setan itu memohon ampun agar tidak dibakar, namun kemudian berteriak memaki Nenek dan Dijah serta aku, karena tak mengampuninya. Jeritan itu baru berhenti setelah tubuh si batu remuk ditelan api. 

Aku dan ibu hanya bisa melongo. Ini adalah pengalaman gaib kedua bagiku, dan pengalaman gaib pertama bagi ibu, yang tentu saja mampu membuat jantung kami semakin kencang berpacu. Subhanallah ya Allah. Tolong sudahi cobaan ini. Ijinkan kami keluar sebagai pemenang dari pertarungan ini. 
Sungguh, aku sungguh berharap agar pertarungan ini cukup sudah. Berakhirlah hingga di sini. Dan, aku memang boleh bernapas lega, karena menurut Nek Limah, hanya dua benda itu yang bersemayam di tubuhku. Kini aku telah bebas dari santet, hanya tinggal pembersihan racun-racun yang masih tersisa saja. Yang tentu saja akan memakan waktu. Namun setidaknya, aku dan ibu sudah boleh bernapas lega. Alhamdulillah.

Namun, ternyata, petualangan ini tak berhenti hingga di situ saja, Sobs! Cobaan lagi masih menanti, menanti sebagai pembelajaran bagi pengayaan pengetahuanku akan alam gaib dan permainan gaib, yang ternyata, masih banyak dimainkan oleh anak manusia, bahkan di jaman yang telah begitu canggih ini. Ya, bersekutu dengan iblis, masih kental dilakoni oleh manusia modern ini, hanya untuk mencapai maksud dan tujuan mereka. 

Nantikan kisah nyata selanjutnya, bagaimana aku terlibat langsung dalam pertarungan Dijah membebaskan diri dari Datuk Srigala [makhluk dari dimensi lain] yang selama ini menjadi salah satu pembantu Dijah dalam pengobatan tradisionalnya, namun karena perbedaan akidah yang semakin kentara, akhirnya Dijah memutuskan untuk menarik diri dari pengaruhnya. Sungguh, sebuah perjalanan dan petualangan gaib yang tak akan pernah lekang di ingatan, dan sumber pengayaan batin bagiku, bahwa alam gaib itu nyata adanya, dan teramat sangat berbahaya. Nyawa taruhannya. Masyaallah. 

Catatan pembelajaran,
bahwa tiada yang tak mungkin terjadi di dalam kehidupan ini,
bahkan hal yang sulit diterima oleh nalar sekali pun,
Al, somewhere, 23 November 2013
Read More
/ /
Pagi-pagi aku sudah mendapatkan telefon dari ibu, mengingatkan untuk lanjut hunting rumah. Yup, sudah enam bulanan ini, ibuku sibuk sekali ingin pindah tempat tinggal. Enggak tanggung-tanggung, ingin meninggalkan kampung halaman tercinta dan mandah ke pulau Jawa. Bandung atau Jakarta pun menjadi pilihan favoritnya. Bandung karena diriku saat ini berdomisili di kota ini, juga karena udara kota Bandung yang masih sangat bersahabat dibanding dengan udara yang tersedia di wilayah Indonesia lainnya. Jakarta yang sumpek dan penuh kemacetan, tetap menjadi pilihan kedua, karena adikku kini pindah ke ibukota negeri ini. Jadilah kedua kota ini menjadi target perpindahan tempat tinggal bagi ayah bunda yang ingin mengisi hari tua mereka berdekatan dengan anak-anaknya.

Namun berpindah tempat tinggal, tentu tidak segampang menekan tombol 'click' pada mouse komputer toh? Butuh waktu untuk meng-organize semuanya. Menjual rumah lama [yang sedang ditempati] sama lamanya dengan mencari [berburu] rumah baru di lokasi yang dituju. Banyak sih rumah-rumah yang telah siap untuk ditempati, yang dijual oleh developer-developer properti, namun tentu tidak akan langsung klik dengan yang kita kehendaki, baik dalam hal model, lokasi mau pun dana yang tersedia. :)
Begitu juga dalam hal menjual rumah yang sedang kita tempati, tidaklah seperti menjual emas yang cukup dibawa ke toko emas langganan dan dalam hitungan menit telah cair menjadi rupiah. Ya kan, Sobs?

foto milik rumah123.com
Hari-hari kami beberapa bulan terakhir ini pun mulai disibukkan dengan larak-lirik mencari si calon rumah idaman bagi ayah bunda. Sementara itu, ayah dan bunda di kampung halaman, mulai disibukkan dengan kegiatan woro-woro 'jualan' rumah. Mulai dari promosi ke sesama teman hingga ke pemasangan iklan di media massa [koran] dan dunia maya tepatnya di situs-situs promosi properti. Ternyata, walau sudah iklan di sana sini, rumah kami istana kami yang hendak dipindah-tangankan itu pun masih belum juga sold out. Sedih? Ho oh, karena ibunda semakin tak kerasan tinggal di kampung halaman, sementara rumah belum laku dan rumah yang diinginkan pun belum ketemu. :(

Jalan tengah pun diambil. Jika pun rumah yang ditempati sekarang ini belum laku, tapi rumah idaman telah diperoleh, maka ayah dan bunda tetap akan pindah, dan meninggalkan si rumah lama tetap dalam proses penjualan, atau paling tidak menyewakannya terlebih dahulu untuk satu dua tahun ke depan. Keputusan ini tentu saja membuat kami, harus mempercepat langkah perburuan. Hunting sana sini semakin digiatkan. Termasuk berburu rumah siap huni yang diiklankan di situs-situs promosi properti online. Salah satu situs yang paling sering kami kunjungi dan sangat membantu adalah situs ini, yang memang selalu update dan banyak digunakan oleh para pengiklan [untuk menjual dan menyewakan] rumah-rumah mereka atau dicari oleh para calon pembeli atau penyewa rumah.

Gambar milik rumah123.com
Tak hanya itu, situs yang satu ini pun kerap sekali memberikan aneka tips jitu terkait urusan mendekor/mempercantik dan mendayagunakan rumah hunian kita. Aneka tips yang ditawarkannya memang banyak sekali membantu, membuka cakrawala dan menginspirasi pembacanya untuk mempercantik hunian mereka. Adikku dan istrinya adalah salah satu visitors situs ini, yang telah mempraktekkan tips seperti yang diberikan oleh gambar di atas, dan kini, kamar mandi mereka pun tampak begitu cling dan menyenangkan! Ingin mendapatkan tips jitu dalam mempercantik rumah anda? Monggo deh melipir ke sana, pasti akan banyak inspirasi apik menanti anda. :)

Catatan kecil tentang hebohnya berburu rumah idaman untuk Ayah Bunda
Al, Medan, 16 November 2013
Read More
/ /
Gambar dipinjam dari sini
Wow, membaca judulnya saja, pasti sudah membuat Sobats tertarik untuk stay reading on this page kan ya? Hehe. Apalagi dengan menghilangnya Alaika sekian lama tanpa penjelasan atau say goodbye di halaman maya tercinta ini, terus nongol-nongol kok menggusung judul Petualangan Gaib. Hm, serem tapi kok mengundang rasa penasaran. Begitu kan, Sobs?

Ya gitu deh, Sobats tercinta. Ketidakhadiranku di halaman maya ini bukan karena keinginan hati kok. Memang sih, ada rencana untuk mundur sedikit dari my corner ini karena pekerjaan yang harus aku lakukan di salah satu pelosok Sumatera Utara, melakukan Need Assessment untuk men-design sebuah Proyek Kesehatan Masyarakat, orderan sebuah instansi yang butuh bantuan untuk hal ini. Sehingga otomatis banyak waktu tersita untuk melakukan kegiatan ini, dan membuatku tak lagi konsisten untuk mengisi halaman tercinta. Bukan, bukan karena malas sih, tapi karena berada di pedalaman wilayah ini, membuat diriku jauh dari sinyal yang biasanya terpancar sempurna. Miskin sinyal mengawali diriku ‘menjauh’ dari dunia maya. Gimana rasanya? Huft, udah jelas kangen berat dunk, wong biasanya, update blog bisa melalui BB, eh ini kok BB pun tak lagi bersahabat.


Pertanda yang Terkuak

Ketiadaan sinyal ini pun berlanjut dengan kejadian pada suatu pagi, di mana diriku terbangun dari tidur yang begitu lelap, dengan keadaan kaki kiri tak lagi berfungsi alias lumpuh. Hadeuh, kenapa ini? Mimpikah aku? Mencoba untuk tak panik sambil berfikir positif, mungkin kakiku kejepit karena salah tidur, kucoba juga untuk menggerak-gerakkan kaki ini, namun tetap saja tak bergerak, bahkan tak ada rasa sama sekali. Waduh, ini baru panik beneran, langsung saja aku teriak memanggil/membangunkan kolegaku yang tidur di ranjang sebelah. Dan si kolega pun langsung panik saat mengetahui kondisiku. Keadaan pun jadi rame karena kolega lainnya juga ikutan bergabung. Semuanya berusaha berfikir positif, bahwa mungkin saja aku terserang stroke atau kecetit urat saraf paha atau apa lah. Berbagi tugas pun kami lakukan, satu kolega mengantarkan aku ke Rumah Sakit ternama di Kota Medan sementara yang lainnya keep doing our job [melanjutkan need assessment].

Kepanikan semakin menyerangku saat tiada perubahan apa-apa meskipun sudah konsumsi obat dan menjalani terapi di unit rehab medis. Akhirnya, oleh salah satu kolega, aku diantar berobat ke seorang pengobat tradisional [paranormal]. Sebutlah namanya Dijah, seorang wanita yang masih berusia sekitar 29 tahunan. Melaluinya [merasuk ke dalam tubuhnya], seorang nenek [bernama Halimah] yang berasal dari negeri gaib [orang bunian] mendeteksi penyakitku. Pemeriksaan awal membuahkan hasil yang mengejutkan, bahwa diriku disantet. What? Wow! Itu adalah reaksi awalku, namun bukan reaksi awal kolega yang mengantarku, karena dirinya sudah menduga demikian. Ingin mendalami lebih jauh, nek Limah meminta waktu satu malam untuk mendeteksi. Kami pun kembali ke mess yang disediakan project kami di Medan.

Sebenarnya Dijah mengundang kami untuk menginap saja di rumahnya, apalagi si kolega yang mengantarku adalah sahabatnya. Namun aku masih segan padanya. Barulah keesokan hari kami kembali padanya, dan langsung shock mendengar penuturan Nek Limah [yang merasuk di dalam tubuh Dijah]. Bahwa memang benar aku disantet. Target utamanya bukan hanya kelumpuhan di kakiku, namun dalam waktu 1,5 tahun lagi, seluruh organ tubuhku lumpuh dan aku menjadi tak waras lagi, jika saja apa yang dituntut oleh si penyantet tidak terkabulkan. What? Oh My God. Gile bener. Dan lebih kaget lagi, saat Nek Limah menuturkan bahwa si pelaku kejahatan ini adalah orang yang pernah begitu dekat denganku di masa lalu, bersama keluarganya. Targetnya adalah agar aku kembali padanya, jika tidak, maka aku dilumpuhkan dan dibuat gila. Tak hanya itu, rejekiku juga dibuat seret dan melarat.

Oh My God, di era canggih seperti ini, dimana banyak orang ter-update dan terkoneksi dengan aneka ilmu pengetahuan dan kemajuan jaman, praktek klenik seperti santet, perdukunan dan sejenisnya masih saja marak berkembang di aneka lapisan masyarakat. Duh Tuhan, bahkan kini, hal di luar nalar ini pun kini menimpa diriku. Sedih hati tiada terkira, namun rasa syukur pada Ilahi Rabbi tak henti aku panjatkan ke haribaan-Nya, yang telah memperlihatkan 'pertanda' tentang santet ini melalui kelumpuhanku. Jika saja kemarin aku tak terserang kelumpuhan seperti ini, maka kami tak akan pernah tau bahwa diriku sedang menjadi salah satu korbannya, oleh orang yang 'pernah' begitu aku sayangi dan cintai, beserta keluarganya. Memang sih, kita tak boleh langsung percaya akan 'diagnosa' ini, namun aku tak hendak memperlihatkan ketidakpercayaan ini. Bagaimana pun, aku sepakat dengan hati kecilku untuk menjalani pengobatan tradisional via Dijah yang kemudian aku juluki 'Wanita Setengah Peri' ini.

Mengapa Wanita Setengah Peri? Karena begitulah adanya. Dijah adalah anak sebatang kara yang telah ditinggal pergi ayah bundanya saat dirinya dan saudari kembarnya berusia satu setengah tahun. Almarhum ibunya Dijah adalah seorang jin muslim dari negeri bunian, bersuku Melayu asal Besilam, Sumut, yang menikah dengan seorang manusia [ayahanda Dijah]. Keduanya telah menghadap sang Pencipta saat Dijah berusia satu setengah tahun, karena kecelakaan lalu lintas. Sebenarnya, selaku makhluk berbangsa jin, ibunya Dijah masih hidup setelah tabrakan maut itu, namun karena besarnya rasa cintanya terhadap sang suami, maka rohnya [ibunda Dijah] ikut masuk ke jasad suaminya untuk dikubur bersama. Sang kembaran Dijah sendiri, meninggal dunia saat keduanya berusia sepuluh tahunan. ~Cerita langsung dari Nek Limah, yang adalah nenek kandung Dijah [ibu dari almarhum ibunda Dijah]~Benar tidaknya, Wallahu Alam ~

Sesuai dengan permintaan Dijah, maka kolegaku menitipkan aku di sana untuk memulai pengobatan. Sementara itu, keesokan harinya, ibuku sudah berada di sisiku untuk mendampingi putri tercintanya ini menjalani pengobatan, suatu pengobatan yang belum pernah terlintas akan bentuk/rupanya di dalam benakku. Pasrah dalam doa agar Allah bermurah hati mengembalikan kondisiku ke kondisi semula yang penuh stamina. Aamiin ya Allah.


Dan Petualangan Gaib pun Dimulai

Kuyakin, mostly of us pasti tak ingin berkecimpung terlalu intens dalam hal-hal gaib, ya kan, Sobs? Begitu juga aku. Belum pernah terlintas di dalam hatiku untuk berkenalan, berinteraksi apalagi bersentuhan secara mendalam dengan hal-hal gaib. Walau pun tentu saja aku percaya penuh, bahwa hal gaib seperti jin, malaikat dan hal gaib lainnya memang ada. Bukankah Allah bahkan terlebih dahulu menciptakan makhluk/benda gaib ini sebelum Adam [manusia] diciptakan-Nya?

Ditinggal pergi oleh kolega yang kembali ke pedalaman di mana kami sedang menunaikan tugas, sungguh membuatku sepi. Apalagi kini diriku tinggal bertiga saja dengan Dijah dan putri semata wayangnya yang saat ini duduk di kelas dua sekolah dasar. Jelas saja membuat diriku canggung, karena perkenalanku dengan wanita baik hati ini baru beberapa hari saja. Namun Dijah yang begitu lugas dan penyayang, memperlakukan aku dengan begitu akrab dan tulus, membuat sikap canggung ini pupus dengan sendirinya. Apalagi saat Dijah mengatakan dia dan keluarga gaibnya menyukaiku dan ingin menganggap aku sebagai salah satu anggota keluarga mereka, sungguh membuatku terharu. Entah apa yang dilihat oleh wanita ini, yang tiba-tiba saja ingin mengangkatku sebagai kakak angkatnya, sementara usia persahabatan masih berada pada hitungan hari.

Begitu juga dengan Nek Limah yang kerap hadir di dalam diri Dijah untuk mengobatiku. Kasih sayang beliau terhadapku begitu terasa. Tulus dan mampu memancing rasa haru yang menggebu di hatiku. Di balik itu, rasa takjub akan 'keunikan' ini, tak henti membuncah di dada. Takjub, antara mimpi dan nyata. Siapa sangka jika 'garis kehidupan' yang seperti ini [berkenalan dan menjadi dekat dengan makhluk dari dimensi lain] tertera nyata di dalam buku kehidupan seorang Alaika Abdullah. Sungguh, menambah kepercayaan dan ketakjubanku terhadap kekuasaan Ilahi Rabbi. Lahaula Walakuata Illa Billah. Amazing, Subhanallah.

Tak hanya berkenalan dan menjadi cucu angkatnya Nek Limah, kemudian aku juga berkenalan dengan keluarga Dijah yang lainnya, yaitu suami Nek Limah, yang kerap kami panggil dengan sebutan Buya, lalu dengan putrinya Nek Limah serta cucu-cucunya yang lucu dan menggemaskan. Eits, menggemaskan berdasarkan suara dan sikap mereka saat merasuki tubuh Dijah lho ya. Visualnya sendiri, aku belum punya kemampuan untuk melihat mereka secara langsung, karena mata batinku masih belum mampu menembus alam gaib ini. Semoga dalam waktu dekat ke depan nanti, mata batinku mampu tersingkap. :)

Well, kembali ke pengobatan. Hari pertama itu ditinggal oleh kolegaku, Dijah meninggalkan aku sendirian di rumahnya untuk sementara waktu, karena dirinya ditugaskan oleh Nek Limah untuk mencari 'obat-obatan' yang diperlukan bagi pengobatanku. Sepulangnya, Dijah memperlihatkan beberapa jenis kembang dan dedaunan yang sebagian besar aku kenal, yaitu mawar, melati, kenanga, daun sirih bertemu urat dan beberapa jenis dedaunan dan akar-akaran lainnya. Rasa penasaran semakin membuncah di hatiku, menanti pengobatan terhadap diriku yang akan dilaksanakan nanti malam. Rasanya waktu langsung beranjak lemot, lamban bagai bekicot. Hehe.

Dan,...
Malam yang dinantikan pun tiba. Selesai shalat maghrib, Dijah langsung menggulung sajadah, dan mempersiapkan 'obat-obatan' yang telah disediakannya tadi sore. Semuanya dimasukkan ke dalam mangkuk keramik putih ukuran jumbo yang telah diisi air. Disampingnya, dalam sebuah piring yang juga terbuat dari keramik putih, terletak minyak kayu putih, beberapa botol minyak suluk, tasbih, kapas, handiplast dan pisau silet.  Lalu wanita muda ini meminum minyak kayu putih dan berzikir. Butiran tasbih cantik berwarna biru muda itu bergerak cepat oleh jemarinya yang terlihat lincah memindahkan butir demi butir tasbih tersebut. Hingga kemudian, tubuhnya sedikit berguncang dan roh Dijah keluar dari raganya, terganti oleh kehadiran Nek Limah.

"Assalammualaikum" adalah sapaan khas Nek Limah yang diucapkan dengan intonasi khusus, ciri khasnya, seraya mengulurkan tangannya menyalami aku. Kucium tangannya seraya menjawab salam. Seperti biasanya, Nek Limah menanyakan kabarku dan apakah aku sudah siap untuk mulai menjalani pengobatan? Nek Limah menjelaskan bahwa jempol kaki kiriku akan disayat sedikit dengan pisau silet, untuk mulai proses pengobatan.

Kuatir? Takut? Yes. Aku kan paling takut dengan urusan sayat menyayat dan suntik menyuntik! Namun tak mungkin donk jika aku utarakan ketakutan itu pada Nek Limah, yang ternyata tanpa aku katakan pun telah membaca isi hatiku.

"Ga sakit kok, dan ga akan pendarahan. Tenang saja. Kau mau sembuh kan nak?"

Dengan wajah bersemu merah, aku anggukkan kepala seraya mencoba tersenyum.


"Cha, tengoklah, Bundamu ternyata takut dengan pisau dan jarum."celotehnya. 

Cha adalah singkatan dari Marissa, cucunya Nek Limah. Yup, bahkan kaum jin pun menyukai nama-nama keren yang biasa dipakai oleh manusia lho, dan ga heran sih, karena Dijah lah yang memberikan nama itu bagi ponakannya. :D Icha sendiri memang sudah sangat akrab denganku. Merasuki tubuh Dijah, saat Dijah [dalam bentuk roh] harus bepergian dengan Nek Limah, mencari obat-obatan yang adanya di negeri gaib mereka. Ajaib ya? Aku sendiri ga pernah menduga akan mendapatkan pengetahuan ini lho, Sobs. Sungguh, amazing deh menemukan fenomena ini. 

Pretty Yellow Stone Jahanam

Well, balik lagi ke kisah pengobatan [pembesetan jempol kakiku]. Sungguh membuatku deg-degan. Kujulurkan kaki kiriku ke hadapan Nek Limah, sesuai dengan permintaannya. Hadeuh, Ya Allah, bantu kami dan beri daku keberanian untuk jalani pengobatan ini. Daku ingin sembuh ya Allah. Kupejamkan mataku seraya meringis, saat kurasakan pisau silet tajam itu menyayat ujung jempol kakiku. Kuintip juga karena penasaran. Nek Limah merapal zikir seraya sekali dua kali menyambit kaki dan betisku dengan tasbishnya. Kedua tangannya lalu memencet jempol yang telah dibesetnya. Wajah Nek Limah [wajah Dijah] terlihat begitu serius, berbicara dengan nada perintah. 

"Keluar kau, tak berhak kau ganggu cucuku! Urut betismu ke bawah, Al! Bantu Nenek!" Perintahnya. 

Refleks kedua tanganku bergerak mengurut betisku dengan gerakan dari lutut ke kaki. Bersamaan dengan urutan tanganku, Nek Limah memiringkan kakiku seperti orang menuang cairan dari wadah ke lantai. Dan, Masyaallah, dari jempol kakiku, melompatlah sebuah benda berkilauan berwarna kuning. Sungguh aneh bin ajaib, tapi nyata. Dengan sigap Nek Limah menjepit permata berwarna kuning itu, dan meletakkannya di atas tissue. 

"Fotolah kalo mau kau foto, Nak. Inilah yang ditanamkan di tubuhmu untuk meracuni aliran darahmu. Ini masih yang satu, betinanya ini. Jantannya besok kita ambil. Awas kena tanganmu, dia akan mencoba masuk lagi ke tubuhmu jika tidak segera kita kunci." 


Sigap kuraih Blackberryku dan click, menjepretnya and here it is! The Yellow Devil Stone!


Jangan ditanya betapa takjubnya aku menyaksikan permata kuning berkilauan yang telah sekian lama bersemayam di dalam tubuhku. Bukan sekedar permata biasa, karena di dalamnya telah diisi dengan roh setan jahanam, untuk membujuk hatiku agar kembali pada si pelaku. Namun aku mampu bertahan dari pengaruh buruknya selama ini, adalah karena aku selalu mendekatkan diri pada Allah. Jika pun kemudian aku mengalami kelumpuhan, itu adalah karena Allah sedang memberi petunjuk padaku, untuk segera mengeluarkannya dari tubuhku. Subhanallah, terima kasih ya Allah. Semakin aku bersyukur mengalami kelumpuhan ini, karena melaluinya lah kami menyadari akan keberadaan si batu laknat ini. 

Nek Limah dengan sigap membersihkan darah yang masih mengalir dari jempol kakiku dengan tissue basah, lalu membungkusnya dengan handiplast setelah terlebih dahulu jempol ku itu diberi ludahnya. Ya, ludah seorang nenek dari bangsa jin muslim inilah anti infeksinya. Sesimpel itu. :) Again, Subhanallah. 

Si yellow stone sendiri, segera dibungkus tissue dan dikunci di dalam plastik kresek yang lumayan tebal, untuk keesokan paginya harus kami buang ke sungai agar mengalir menjauh. Lalu, sudah amankah diriku? 

Belum, Sobs! Ini baru batu betina, batu jantannya masih bersemayam di dalam tubuhku, di tanam di pangkal paha, yang tentu saja proses pengambilannya akan semakin sulit. Sungguh membuatku takut, bahkan di saat aku memikirkannya, gimana sakitnya nanti saat batu jantan itu diambil dari sela2 pahaku ya? Hiks. 

Penasaran? Baca kisah lanjutannya pd postingan 
Petualangan Gaib 2 - Batu Kuning Jantan ya, Sobs! 

Catatan pembelajaran 
bahwa tiada yang tak mungkin terjadi di dalam kehidupan ini, 
bahkan hal yang sulit diterima oleh nalar sekali pun. 
Al, Medan, 12 November 2013


Read More