Archive for July 2013
Menu
/ /
Ini adalah rangkaian kisah para survivors tsunami, yang dikemas secara berkesinambungan dalam tautan berjudul 'All About Tsunami '. Kisah sebelumnya disini


@Rumah Kami, Malam itu
26 Desember 2004, first night of tsunami

Picture Grabbed from here
Jika malam itu Khai bisa tidur lelap akibat hati tenang dan tubuh yang kelelahan - kehabisan tenaga, maka tidaklah demikian halnya dengan para survivors di lantai dua rumah kamiDalam keremangan cahaya lilin, wajah-wajah lesu itu berselimut pilu, dililit pula oleh derita fisik akibat hempasan gelombang, masih ditambah lagi oleh gemuruh orkestra biologis yang bersumber dari dalam saluran pencernaan. LAPAR! Seharian penuh belum ada sebentuk makanan pun yang mampir di kerongkongan, hanya air, air dan air. Itu pun bermodalkan lima galon yang terapung dan selamat di dapur. 

Wahyu, si bocah cilik, semakin tak sabar 'menanti Oom pulang membawa susu'. Mulai merengek di pelukan ibu. Beberapa orang dewasa mencoba menghibur dan mengalihkan perhatiannya, namun tetap saja, "Nek, Oomnya kok lama kali? Wayu mau cucu, Wayu lapel!" Rengekannya sungguh menyayat iba. Duh, bagaimana keadaan ibu dan ayahmu nak? Selamatkah mereka? Justru pertanyaan itu yang kerap mampir di batin ibu, yang menggendong Wahyu dan mencoba menghiburnya.

"Wayu minum putih dulu yaaa, ntar lagi Oom pasti sampai. Nanti kita buat cucunya, sekarang, Wayu bobok dulu yuk, kan udah malam, ntar kalo Oom udh sampe, Nenek bangunkan untuk minum cucu, ok?" Bujuk ibu tiada henti. 

Lain lagi dengan Udin, yang tampaknya kian tinggi demamnya. Diarenya sepertinya mulai mereda, setelah bolak balik ibu mengoleskan minyak kayu putih yang ada di kotak obatnya Khai, ke perut dan dada Udin. Bocah laki-laki sepuluh tahunan itu, kini mengingau, bahkan sepertinya disertai mimpi buruk, atau sedang 'menyaksikan' tayangan ulang peristiwa dirinya terhempas gelombang tadi pagi? Igauannya, yang memanggil ayah atau ibunya silih berganti, membuat ibu [di sela-sela gundahnya] harus berlagak dan menirukan suara ayah atau ibunya Udin, untuk menenangkan bocah itu. Anehnya, Udin jadi tenang dan melanjutkan tidurnya, setiap mendengarkan suara 'bujukan ayah atau ibunya' yang ditirukan oleh ibu. 

Dr. Fanni? Tentu punya kisah tersendiri. Janin dalam kandungannya sepertinya unjuk rasa karena tak lagi nyaman di dalam kandungan sang bunda. Gelisah dan sangat tak ingin memberati ibu, sang dokter ini berusaha sedapat mungkin untuk tidak mengeluh. Sedapat mungkin untuk meredam keluhan meluncur dari lidahnya. Namun apa daya, pergerakan bayinya yang mungkin meronta karena lapar, membuat dirinya tak berdaya. Berusaha sedapat mungkin untuk bangkit, mencapai tempat air minum. Seorang bapak, buru-buru bangkit untuk menolong menuangkan air dari galon air mineral itu ke gelas yang dari tadi memang menjadi tempat minum sang dokter. 

Ayah lain lagi, di tengah rasa lapar yang memecut perut, dan rasa nyeri yang mengusik kaki yang kian membengkak, deraan batinnya justru berjaya merebut kemenangan. Tak mampu diredamnya air mata begitu ingatannya melayang ke putra bungsu tercinta. Khai, bagaimana nasibmu, anakku? Dimana engkau, Nak? Selamatkah engkau? Atau dimana mayatmu kini? Semakin deraslah air mata ayahku. Sementara ibu masih mampu berpura-pura. Tak ingin menambah gulana hati ayahanda, bunda sengaja berlagak tetap tabah, padahal hatinya sudah menjerit tersedu. Ibu mana yang tak gundah gulana, memikirkan ananda yang tak tentu rimbanya. Adakah dirinya bernasib serupa dengan para mayat yang terkapar di sekitar rumah? Nauzubillah, ya Allah, selamatkan putra hamba. 

"Assalammualaikum." Sebuah suara yang didahului oleh cahaya senter, menghampiri teras atas rumah kami. Dari atap rumahnya Ikshan. Sebuah suara khas, yang langsung membuat ayah dan ibu menjerit lega. Bukan! Bukan suara Khai. Tapi itu adalah suara Bang Gade. 

"Waalaikum salam, Ya Allah, Gade! Dari mana kamu naik?" Ibuku adalah orang pertama yang mengenali suaranya, bangkit dari memoleskan minyak kayu putih ke perut Udin, beliau menyambut Bang Gade, yang kepayahan membawa dua plastik besar sesuatu.

"Dari rumah si Ikshan, Kak. Ini saya bawa nasi untuk kakak dan semuanya. Pasti sudah lapar sekali kan? Ini saya juga bawa air minum. Ayo, semuanya, ayo makan dulu. Pasti udah lapar ya?" Dengan sigap, Bang Gade membagi-bagikan satu bungkus nasi ke setiap survivors, yang langsung disambut haru dan masing-masingnya membuka dan mulai menyantapnya dengan lahap. 

"Ya Allah, Gade, terima kasih banyak atas perhatianmu." Ayah berucap penuh haru, kala Bang Gade mendekatinya, memeluknya dan membukakan nasi untuk ayahku. 

Ayah menolak untuk disuapi ibu, karena beliau merasa masih mampu melakukannya, jadi kini ibuku menyuapkan nasi itu untuk dr. Fanni sekaligus juga untuk dirinya sendiri. Sementara Bang Gade menyuapi Udin, yang masih lemah dan meriang. Malam itu, setidaknya para survivors dapat bernapas lega, karena orkestra biologis telah mereda. Tidur sekejap adalah harapan utama sebelum menghadapi hari esok yang belum tentu bagaimana. Tapi bagaimana mau tidur jika setiap kali mata dipejamkan, justru bayangan anggota keluarga yang belum jelas keberadaannya yang terlintas? 

Itu juga yang membuat ayahku semakin malam, semakin gundah. Bacaan surah-surah al-Quran yang beliau hapalkan, satu persatu meluncur dari bibirnya, namun kekusyukannya tak lama bertahan karena langsung ternoda oleh sedu sedan yang tak tertahan. Hiks. Ibu semakin gundah menghadapi 'polah' para survivors. Akhirnya beliau pun terpengaruh, tak lagi mampu bertahan dalam ketegarannya. Air mata pun tak kuasa bertahan, membobol pertahanan dan membentuk sungai yang mengairi pipi. 

Bang Gade, sang penolong, berusaha untuk menabahkan ayah dan ibu, namun akhirnya malah ikutan dalam aliran musik sendu yang dihasilkan oleh tangisan lirih ayah ibu. Sungguh, suatu malam yang penuh duka dan mengguratkan kenangan yang tak akan pernah luput dari ingatan para survivors ini. Ditambah pula dengan sang waktu yang sepertinya begitu enggan untuk bergerak cepat, merambat lambat bagai siput yang semakin sekarat. Malam kelam, udara dingin nan lembab dengan mayat bertebaran di dalam lumpur dan reruntuhan sekitar rumah dan lingkungan, sungguh sebuah kenyataan yang menyayat hati dan menambah duka lara. 

Tak sabar semuanya menanti sang fajar, menanti secercah cahaya Ilahi Rabbi, karena semuanya hakkul yakin, bahwa Allah punya rencana lain bagi mereka, para survivors, yang masih diberi kesempatan untuk melanjutkan kehidupan. Nantikan kisah hari kedua tsunami, saat semuanya harus meninggalkan rumah dan mengungsi. Tentang Wahyu yang ternyata menjadi yatim piatu, tentang Udin dan yang lainnya yang harus mengakhiri kebersamaan mereka di lantai dua rumah kami. 


~ Bersambung ke postingan berikut:
all about tsunami: Hari Kedua

Sebuah catatan pembelajaran, tentang kisah tsunami dan para  penyintas [survivor]nya. 
Al, Istanbul, Turkey, 28 Juli 2013

Read More
/ /
Ini adalah rangkaian kisah para survivors tsunami, yang dikemas secara berkesinambungan dalam tautan berjudul 'All About Tsunami '. Kisah sebelumnya disini


Khai dan Perjuangan Pulang

Waktu merambat teramat lambat. Para survivors, dan orang-orang yang daerahnya hanya dijamah oleh 'sedikit' sisa gelombang, kini sudah beramai-ramai meninjau situasi. Membuat jalanan, dan daerah tempat di mana Khai berada, terasa kian penuh. Para survivors, yang tadinya kelelahan, juga tak mampu lagi bertahan. Rasa penasaran akan keluarga mereka, juga akan apa yang telah terjadi, menyedot seluruh akal sehat mereka untuk segera bertindak. Berpencar, mereka menelusuri jalanan, dan mulai terkaget dan terpekik, setiap menyaksikan mayat-mayat yang berserakan di berbagai area. Terlebih di dalam lokasi kuburan Belanda [Kherkoof]. Beberapa mayat terlihat telungkup di prasasti-prasasti makam yang biasanya indah terawat namun kini telah terselubung lumpur pekat. Mayat-mayat itu juga terlihat sangat menyedihkan. Ekspressi para mayat juga sungguh tragis, membekaskan saat-saat akhir mereka jelang maut. Ada yang mulutnya terbuka seperti menjerit panik, ada yang meringis, melolong, merintih, dan berbagai ekspressi lainnya. 

Image taken from here
Khai tak mampu meredam rasa kaget yang luar biasa menderanya, menyaksikan temuan demi temuan setiap langkah mereka semakin 'turun' ke bawah. Yang paling membuat matanya terbelalak adalah, hotel megah sekaliber Kuala Tripa, kini runtuh bak menara kertas! Ya Allah, betapa dasyat bala yang Engkau turunkan kepada kami kali ini. 

Tersentak oleh pemandangan mata yang melecut hati dan pemikiran, Khai berbalik arah, teringat akan motornya yang diikatkannya pada kabel tiang listrik. Dia berharap dapat membawanya sekalian pulang. Hatinya kini dipenuhi kekuatiran yang maha dasyat, menguatirkan nasib ayah bunda yang entah bagaimana. Ya Allah, lindungi ayah dan ibu hamba, ya Allah. 

Perjuangan untuk mencapai rumah seakan tiada akhir. Tubuh nan lelah, di tambah dengan beratnya medan yang harus ditempuh, hampir saja membuatnya putus asa. Reruntuhan bangunan, kayu-kayu dan aneka material lainnya, plus mayat yang bergeletakan sejauh mata memandang, sungguh menyajikan pemandangan yang tak akan pernah luput dari ingatan. Tak henti, Khai mau pun para survivors lainnya menyebut nama Allah, disertai rasa perih yang kian menyayat kalbu. Mereka terus berjalan, mencoba untuk sesegera mungkin mencapai rumah, atau mencari anggota keluarga mereka yang hilang tersapu gelombang. Semakin ke bawah, Khai semakin bertemu dengan banyak orang. Orang-orang dengan wajah pilu, putus asa, bertatapan kosong, namun ada juga yang histeris menangis. Aneka rupa ekspressi itu, membuat Khai semakin tak sabar untuk mencapai rumah. Bayang ayah dan ibu, semakin memacu semangatnya untuk bertahan. Tak lagi dihiraukannya rasa lelah dan beratnya jalanan yang harus ditaklukkan. Ditambah dengan harus menuntun sepeda motornya yang kini bak sapi ngambek tak mau lagi bekerjasama. Berat! 

Hari telah menjelang malam, ketika akhirnya Khai berhasil mencapai gang tempat tinggalnya. Itu pun setelah dia memutuskan untuk menitipkan sepeda motornya di rumah seorang temannya di Lampineng [daerah ini hanya tersapu 'ekor' gelombang], dan kemudian Khai melangkah pulang. Perjalanan yang tentu saja tidak mulus, karena hatinya yang penyayang, tak tega untuk terus melangkah sementara ada beberapa suara yang merintih membutuhkan bantuan. Maka beberapa kali, dihentikannya langkah, mencoba mengulurkan tangan, membantu korban yang terjepit di bawah tumpukan kayu, atau terjebak kayu-kayu yang memenuhi jalanan. Akhirnya, perjalanan panjang itu terhenti di depan gang menuju rumahnya. Jalanan penuh mayat dan tumpukan kayu sehingga tak mungkin untuk mencapai rumah lewat jalan biasa. Diputuskannya untuk memutar dari mushalla. Dan sesampai di mushalla, tertarik hatinya untuk singgah, mana tahu ayah dan ibu juga mengungsi di mushalla. Apalagi hari telah gulita, sungguh sulit rasanya menjangkau rumah tanpa secercah cahaya yang menerangi. 

Namun, informasi yang melegakan hati dari para tetangga, bahwa ayah dan ibu selamat, dan kini sudah pulang ke rumah, membuatnya tenang. Plong! Sehingga diputuskannya lah untuk menginap saja di mushalla bersama para survivors lainnya, dan besok pagi baru pulang untuk bertemu ayah ibu. Hatinya tiada henti memanjatkan puji syukur ke hadirat Ilahi Rabbi, yang telah menyelamatkan kedua orang tuanya. 

Dan, malam itu, Khai beristirahat dengan tenang, meluruskan tubuh yang terasa begitu lelah, rehat dan berusaha memulihkan tenaga, karena esok hari, pekerjaan berat telah menanti. 
Sama sekali tak disadarinya, di rumah, ayah dan ibunya dilanda mimpi buruk, menguatirkan dirinya yang tak ada kabar beritanya. Andai saja dia mau berkorban sedikit saja lagi, pulang, maka ayahnya tentu tak akan histeris dan terus menangis malam itu. Tapi Khai mana kepikiran sejauh itu, ditambah lagi tenaganya yang memang telah terkuras habis. Barulah keesokan harinya, anak muda ini, menangis tersedu menyaksikan betapa ayahandanya dilanda trauma dan masygul hatinya. 

Ikuti kisah berikutnya, tentang malam pertama yang dialami oleh para survivors di rumah kami. Tentang Bayu, Udin, Dr. Fanni, dan ayahandaku yang tiba-tiba menjadi lelaki yang berlimpah air mata. 

Kisah-kisah selanjutnya dapat dibaca di sini, ya, Sobs!
  1. all about tsunami: Malam Pertama
  2. all about tsunami: Hari Kedua
  3. ........
Sebuah catatan pembelajaran, tentang kisah tsunami dan para  penyintas [survivor]nya. 
Al, Kuala Lumpur, 21 Juli 2013
Diposting sembari menanti penerbangan lanjutan ke Istanbul.
Read More
/ /
Ini adalah rangkaian kisah para survivors tsunami, yang dikemas secara berkesinambungan dalam tautan berjudul 'All About Tsunami '. 
Kisah sebelumnya di sini.

Di Pantai Ulee Lheue, 
07:58:53 Wib. Minggu, 26 Desember 2004

Image taken from here
Khai bersama ke lima temannya yang rata-rata berusia dua puluh empat tahunan, sedang asyik menyantap lontong sayur sebagai menu sarapan pagi mereka. Ke enam pemuda itu memang sengaja hang out di pantai Ulee Lheue, pagi itu. Tak satu pun dari mereka yang berminat untuk mandi laut, bergabung dengan orang-orang lainnya yang sedang asyik berenang atau bermain bola air di dalam birunya air laut yang begitu indah. Baik pantai mau pun laut, terlihat ramai sekali. Tampaknya banyak orang yang memang sengaja having fun di pantai Ulee Lheue yang memang terkenal indah, dengan pasirnya yang bersih dan lautnya yang 'aman' jika dibandingkan dengan pantai lainnya.


Namun, tiba-tiba Khai menghentikan suapan terakhirnya. Mendadak kepalanya serasa berputar. Pusing dan mual. Masuk anginkah dirinya? Ditatapnya sekeliling dan ya ampun. Ternyata bukan kepalanya yang terasa berputar. Tapi memang bumi sedang bergoyang! Aneh! Namun matanya yang menangkap beberapa anak yang sedang berlarian mengejar bola, jatuh terbanting ke tanah, membuat pikirannya kembali jernih. Gempa! 

"Gempa! Ayo kita keluar!" Seru seorang temannya hampir bersamaan dengan seruan Khai. Tak hanya mereka, semua orang yang ada di warung kecil terbuka itu, berlarian ke luar. Mencari tempat terbuka, dan memutuskan untuk duduk, setelah posisi berdiri justru membuat mereka oleng dan pusing. Sebuah gempa berskala besar sedang mengguncang bumi. Itu yang mereka sadari dan sepakati. Ya, ini bukan gempa biasa. Anehnya, orang-orang di laut sepertinya tidak merasakan guncangan ini. Malah masih asyik berenang dan bersenda gurau. 

Orang-orang di pantai yang panik, berseru keras, dan memperagakan bahasa isyarat, memanggil dan memperingatkan orang-orang yang sedang berendam air itu. Beberapa dari mereka, mulai memperhatikan aksi peringatan orang-orang yang berada di darat, dan menular ke orang-orang lainnya. Refleks, mereka segera meninggalkan birunya air laut dan bergabung dengan orang-orang lainnya di pantai. Hampir kesemua mereka memilih posisi duduk. Duduk bersila di atas lembutnya pasir pantai, seraya berzikir menyebut asma Allah . Mungkin itulah yang membedakan antara para saksi mata dan korban tsunami di Aceh dengan para saksi mata dan korban tsunami di belahan negeri lainnya. 

Ini adalah gempa dengan magnitude terdasyat dan terlama yang pernah mereka rasakan. Sembilan koma satu Skala Richter dengan durasi 500-600 detik [10 menitan]. Cukup untuk membuat mereka panik dan menyangka bahwa proses kiamat telah dimulai. 
Guncangan berhenti, menyisakan pusing dan mual pada diri mereka, namun akal sehat mereka, sepakat memandu gerakan tubuh mereka untuk segera bangkit, bersiap untuk meninggalkan pantai. Sigap mereka menuju parkiran sepeda motor, dan langsung melajukannya untuk pulang. Rumah, adalah tujuan utama masing-masing orang. Memastikan keadaan dan situasi akibat gempa yang begitu dasyat. 

Dalam sekejap, jalanan Ulee Lheue dipenuhi kendaraan yang bergerak cepat meninggalkan lokasi. Namun kemacetan tak terhindarkan karena semua orang ingin segera cepat sampai ke tujuan mereka. Untungnya Khai dan teman-temannya mengendarai sepeda motor sehingga jadi lebih leluasa menyalip di antara padatnya kemacetan. Tujuan 'pulang' yang berbeda, membuat keenamnya akhirnya berpisah jalan. Khai baru saja melewati lapangan Blang Padang ketika tiba-tiba saja matanya menangkap gerakan benda hitam yang mengalir cepat dari arah belakangnya via kaca spion motornya. Awalnya Khai mengira itu air, tapi kok hitam dan gerakannya begitu cepat?

Refleks, dipacunya kendaraannya lebih cepat, mengikuti instingnya yang memerintahkannya berbelok arah begitu dia mencapai Simpang Empat Stui. Belok kananlah dia memasuki jalan Teuku Umar [arah Stui]. Baru saja melewati Kerkhof [kuburan Belanda], sebuah tiang listrik yang tumbang, dengan kabel yang terjuntai, telah menghambat laju sepeda motornya. Tak punya pilihan lain, apalagi kaca spionnya memperlihatkan dengan jelas air hitam mengerikan itu terpecah arah tepat di simpang empat, tak jauh di belakangnya. Ketakutan yang luar biasa menghantui hatinya. Ya Allah, apa itu? Air apa itu? Pekat sekali dan sungguh mengerikan. Namun tak diberinya waktu bagi pikirannya untuk menelaah lebih jauh, karena otaknya memerintahkannya untuk menarik kabel yang terjuntai itu, secepat kilat mengikat bagian stang sepeda motornya agar tidak terseret arus, dan kemudian Khai berlari kencang menjauhi 'arena'. Pecahan air hitam yang mengejarnya memang tidak lagi berkekuatan luar biasa, namun cukup untuk merendam tubuhnya dan membuatnya panik.

Kepanikan jelas tak hanya milik Khai, karena puluhan atau bahkan ratusan orang-orang di sekitarnya juga mengalami hal serupa. Mereka terus bergerak, membawa langkah yang kian berat karena rendaman lumpur, untuk menjauhi lokasi. Lelah, namun semangat untuk tidak menyerah membuat mereka terus bergerak, hingga akhirnya mereka sampai di Simpang Lamteumen. Air hitam terlihat di mana-mana, mengerikan, apalagi di arah Lamteumen, sungguh berkekuatan luar biasa. Khai dan para survivor membawa langkah mereka ke arah Keutapang/Jl. Sudirman, yang terlihat lebih aman dari jangkauan si hitam [air tsunami]. Barulah kemudian, mereka bisa bernapas sedikit lebih lega, meyakini diri telah lebih aman di banding berada pada lokasi sebelumnya. Namun tak ayal, apa yang baru saja mereka alami, jelas tak mampu menghindarkan pikiran dan akal sehat mereka, untuk menguatirkan keadaan rumah dan keluarga masing-masing. Apalagi yang lokasi rumahnya berada di daerah-daerah yang berdekatan dengan pantai. Ya Allah, selamatkan keluarga kami. Itulah doa yang bertubi-tubi mengalun dari hati mereka. Was-was dan panik. Apalagi komunikasi telah terputus, dan kebanyakan hape mereka juga telah terendam oleh si hitam pekat nan mengerikan itu.

Kelelahan yang luar biasa mendera tubuh. Membuat para survivors ini terpaksa menurutkan keinginan tubuh mereka untuk jeda sejenak dari langkah selanjutnya, yaitu berusaha untuk kembali ke rumah mereka masing-masing. [Hal ini juga disebabkan oleh karena, mereka sama sekali tak menyangka, jika di luar tempat mereka berteduh ini, ternyata kerusakan yang terjadi sungguh di luar dugaan]. Mereka mengira, air bah tadi, telah menghasilkan kehancuran yang sama seperti yang ada di hadapan mereka saat ini, dalam artian, sebuah banjir besar, yang telah merendam jalanan, bangunan dan rumah-rumah beserta kerusakan di sana sini. Sama sekali tak terbayangkan bahwa di area lain, jauh dari lokasi mereka saat ini, banyak tubuh yang telah bertumbangan, tertimbun reruntuhan, puing dan aneka kehancuran lainnya.

Khai jelas menguatirkan ayah ibunya, namun pemikirannya sama sekali tak sampai ke hal-hal tragis yang lebih parah lagi. Paling, rumahnya juga ikut terendam seperti yang terjadi di lokasi ini. Semoga saja kini ayah dan ibu, sedang istirahat di lantai atas. Doanya.
Barulah pada saat pulang, mata dan hati Khai terbelalak, mendapati kenyataan yang sungguh di luar dugaan. Tak ada kata yang mampu menggambarkan pemandangan mengerikan yang terpampang di depan matanya, selain kata mengerikan, tragis! Kenyataan yang bahkan tak mampu mencegah mata para lelaki untuk tidak ikut menangis, histeris dan panik!

Nantikan kisah Khai dan para survivors yang berjuang penuh untuk bisa mencapai rumah, menembus belantara mayat dan reruntuhan, dan bertarung dengan lumpur pekat nan kian memperberat langkah.


Sebuah catatan pembelajaran, tentang kisah tsunami dan para  penyintas [survivor]nya. 
Al, Bandung, 15 Juli 2013
Read More
/ /
Ini adalah rangkaian kisah para survivors tsunami, yang dikemas secara berkesinambungan dalam tautan berjudul 'All About Tsunami '.
Foto dipinjam dari buku seri BRR,
buku 0. Tsunami
Kisah sebelumnya di sini

"Bapak! Bapak, peu na droe neuh di sinan? [apa ada di situ?] Kak Fatma, Kak Fatma!" Suara itu semakin terdengar jelas. Membuat para survivors di rumah kami, semakin menajamkan pendengarannya. Lambat laun, ayahku mulai mengenal suara yang tak berwujud itu. Terdengar seperti berasal dari sebelah rumah Ikhsan, tetangga kami yang ibunya tewas tertimpa lemari.

"Itu suara Gade. Ya kan?" Seru ayahku, bangkit dari duduknya di atas sajadah. Namun kakinya yang semakin berdenyut dan bengkak, akhirnya membuatnya tak mampu bergerak. Kembali ibuku yang mengambil peran. Bergerak cepat, ibu dan bu Nellis [ibunya Putri, tetangga depan rumah kami] menuju teras. Tak nampak siapa-siapa di bawah. Gulita sungguh pekat menyelimuti. Namun cahaya senter yang berusaha disorot ke teras rumah ayah, membuat ibu dan bu Nellis mengetahui dengan pasti arah suara itu.

"Gade, kamu kah itu?" Seru ibuku.

"Iya, Kak! Alhamdulillah, Kakak bagaimana? Bapak juga bersama kakak kah? Khai juga di situ?" Berondongnya segera. Terdengar nada lega di suara itu. Gade, adalah 'anak angkat' ayah dan ibuku. Sebenarnya ga cocok sih dibilang anak angkat, mengingat usianya yang sepuluh tahun di atasku. Lebih cocok disebut 'adik' angkat bagi ibuku. Makanya dia memanggil ibuku sebagai kakak, namun untuk ayah, yang begitu dia segani, panggilan pun jatuh menjadi Bapak. Gade, adalah orang sekampung ibuku, yang merantau ke Banda Aceh, kuliah dan pernah numpang tinggal sekian lama di rumah kami.

"Alhamdulillah kami selamat, Gade. Hanya Khai belum tau di mana keberadaan dan bagaimana nasibnya." Hampir lepas tangis ibuku menyebut nama Khai. Betapa pun, beliau adalah orang yang melahirkan, mengasuh dan membesarkannya. Hati keibuannya tak lagi sanggup diredam. Tangis itu akhirnya pecah, justru di saat secercah cahaya datang menghampiri. Ya, Gade, adalah orang pertama yang datang mencari mereka.

"Kak, saya akan pulang ke rumah untuk menyiapkan makanan. Sulit mengevakuasi kakak, Bapak dan semua yang ada di situ malam ini. Ada berapa orang di situ, Kak? Nanti saya kembali untuk membawa makanan. Besok pagi, kita coba untuk turun dan mengungsi ya."

"Kami sepuluh orang di sini. Iya, Gade. Ada beberapa yang terluka, termasuk Bapak yang kakinya udah infeksi. Ga bisa jalan." Masih lirih suara itu.

"Baik, Kak. Kakak yang sabar ya. Sampaikan salam saya pada Bapak. Saya balik dulu ke rumah untuk mengambil makanan. Mohon sabar ya, Kak, karena cuma bisa berjalan kaki nih. Jalanan penuh lumpur, puing dan mayat."

Dan setelah diiyakan oleh ibuku, Gade pun menghilang, bertemankan sebuah senter dan tongkat kayu, penolong arah, kembali ke rumahnya yang membutuhkan 1,5 jam dengan berjalan kaki. Dan pasti akan butuh 1,5 jam lagi untuk berjalan kaki balik ke lokasi ini.

Tinggallah kini, para survivors, dalam duka dan perut yang mulai keroncongan. Untungnya, mereka sudah terlatih dan rutin berpuasa, sehingga masalah lapar seperti ini, masih merupakan cobaan kecil di bandingkan dengan apa yang baru saja mereka alami. Ayahku melanjutkan tasbih dan doa-doanya. Bergabung kemudian ibuku [setelah bertayamum], menjadi makmum untuk shalat Isya yang dipimpin oleh ayahku.

Di sebuah tempat di Kota Medan, Tambak Siombak
07:58:53 Wib. Minggu, 26 Desember 2004 

Suasana tambak Siombak terlihat damai pagi itu. Aku baru saja bangun tidur dan berniat untuk jalan pagi keliling tambak udang kami seraya menikmati kedamaian hati. Menaburkan pelet [makanan udang] ke kolam-kolam/tambak adalah sebuah kenikmatan tersendiri bagiku, sejak aku mengenal aktivitas ini. Yup, melihat kepala udang yang bermunculan menangkap pelet yang aku lemparkan, selalu saja mampu membuat hatiku mekar berseri, damai. Ada rasa bahagia dan harapan yang terpancar darinya. Yaa, harapan agar udang-udangku tumbuh sehat dan bernilai jual tinggi. Hehe. Yes, gini-gini, aku pernah jadi juragan tambak udang lho. Tapi sayang, gagal panen! Haha.
Bermalam di tambak udang setiap Sabtu malam, adalah juga merupakan aktivitas baru yang sering kami [aku, Intan dan ayahnya] lakukan. Terkadang, tak hanya kami, tapi juga Deddy [adik iparku] beserta istri dan anaknya juga ikutan menginap, sehingga pondok kami penuh dan semarak.

Pukul 07:58:53 WIB. 

Aku sudah menggenggam pelet yang siap aku tebarkan, ketika tiba-tiba air kolam bergolak. Mataku terbelalak, refleks aku menarik tubuhku menjauh dari kolam. Berteriak aku memanggil ayah Intan yang sedang menuruni tangga pondok. Dalam sekejap dia sudah bergabung denganku, juga Deddy dan istrinya, sementara anak-anak [Intan dan Viora] masih tidur di dalam pondok.

"Gempa!" Satu kata itu terucap secara bersamaan dari bibir kami. Menyadari itu, kami menjauh dari kolam. Ayah Intan dan Deddy berlari menjemput anak-anak, sementara aku dan Azzani, duduk di tanah datar tak jauh dari kolam. Bumi terasa berayun, lembut tapi dalam ayunan yang besar. Cukup menimbulkan rasa pusing. Bersama kami menatap air kolam yang bergolak. Duh, lindungi udang-udang kami ya, Allah. Batinku was-was. Gempa ini lumayan lama, ada sekitar 10 menitan. Ya, hanya udang yang aku kuatirkan saat itu, mengingat tiga minggu lagi kami akan panen. :)

Akhirnya gempa itu reda juga. Dan kami bisa menarik napas lega. Tak ada prasangka apa-apa, selain sebuah catatan di hati bahwa gempa ini lumayan lama dan terasa lumayan keras. Tak ada pun niat di hati kami untuk mengetahui magnitude gempa ini. Aktivitas kami pun berlanjut, seperti biasanya. Bersantai di hari Minggu, bermain di tepi kolam seraya membakar ikan dan menyiapkan menu makan siang lainnya. Bisa dikata, gempa yang mengguncang tadi pagi, has no effect lah bagi kami, karena toh tak ada kerusakan apa-apa yang ditimbulkannya.

Hingga siangnya...,
sebuah telefon dari teman membuatku shock.

"Al, keluargamu ga papa? Pusat gempa tadi di Aceh, dan menimbulkan kerusakan parah lho!"

"Hah? Masak sih? Aku belum tau infonya. Aku di tambak nih. Ada apa? Update me, please!" Dan jangan ditanya bagaimana rasa hatiku kala itu. Deg-degan, Was-was!

Dan hatiku semakin was-was mendengar informasi darinya. Televisi mulai memberitakan tentang gempa tadi, yang ternyata ber-episentrum di kepulauan Simeulu, dan telah menimbulkan kehancuran tragis di bumi Serambi Mekkah, tempat di mana ayah, ibu dan satu adikku serta kerabat lainnya berdomisili! Oh My God. Lindungi ayah ibu dan adikku, serta mereka semua. 

Kami memutuskan untuk pulang ke rumah, dan mulai memantau informasi yang mulai memenuhi layar kaca. Hatiku sungguh was-was. Tiga perempat hatiku sudah terbang ke Aceh, namun aku sungguh merasa diri ini bak hantu yang sedang bergentayangan. Di satu sisi, aku didera derita batin yang teramat sangat. Komunikasi terputus sama sekali. Tak satu provider pun yang berhasil menembus komunikasi ke Aceh. Kucoba untuk 'nekad' menghubungi nomor hape ayahku, yang hanya disambut oleh tulalit. Oh, Tuhan, jangan ambil ayah dan ibuku, sebelum pintu maaf mereka terbuka untukku, ya Allah, please. Itulah doa utama yang terus saja mengalir di hatiku.

Aku begitu was-was. Sembilan tahun sudah aku dikucilkan dari keluargaku, di-blackllist oleh ayah dan ibu, gegara keputusan nekadku untuk menikah tanpa restu. Ya, nekad menikah dengan ayahnya Intan, adalah keputusan paling berani yang pernah aku lakukan seumur hidupku. Menjadi anak durhaka, adalah prestasi paling buruk yang pernah aku torehkan. Karenanya, aku pun terkucilkan dari keluarga, bahkan tak bisa mengakses hubungan dengan ketiga adikku. Itulah konsekuensi yang harus aku terima oleh keputusan nekad itu. Jutaan doa telah aku panjatkan, dan berbagai usaha telah aku jalani demi membuka pintu hati dan menggapai pintu maaf dari ayah dan bunda, namun usaha itu belum membuahkan hasil. Jadi bagaimana aku ga panik dan was-was seandainya pintu syurga itu telah pergi membawa kuncinya sebelum aku sempat membukanya?

Apalagi, setiap aku hubungi, telefon ayahku hanya memperdengarkan bunyi tulalit. Duh, Gusti! 
Ayah Intan jelas tak berhasil menyabarkanku, yang nekad mengemas pakaian, untuk pulang ke Aceh, memastikan keadaan ayah ibuku. Aku harus pulang. Aku harus memastikan ayah dan ibu serta Khai selamat dari tragedi ini. Walau untuk itu, aku rela dibunuh oleh ayah, jika beliau ingin membunuhku! I don't care, I wanna go home, seeking for them. Tekadku.

Malam itu, aku tak bisa tidur nyenyak. Tak sabar menanti esok malam untuk berangkat ke Banda Aceh. Inginnya berangkat pagi tapi tiket bus dan pesawat sudah full book. Hiks. Rasanya waktu berlalu dengan begitu lambat, bahkan merambat ribuan kali lebih lama daripada siput. Ya Allah, bagaimana nasib ayah ibuku? Tayangan di televisi tiada henti menyiarkan serangan dan serbuan air bah, yang telah menghasilkan kehancuran yang sedemikian rupa. Belum lagi tayangan orang-orang bergegas kesana kemari, berurai air mata. Duh, bagaimana kondisi daerah tumpah darahku?

Lindungi mereka ya Allah. Lindungi ayah ibu, adik serta saudara-saudara hamba yang lain. 

Yuk, baca kisah-kisah lanjutannya pada postingan-postingan berikut, yuk, Sobs!
Well, Sobs, kisah selanjutnya bisa diikuti pada postingan berikut:
  1. all about tsunami: Khai and the Genk
  2. all about tsunami: Khai and Perjuangan Pulang
  3. all about tsunami: Malam Pertama
  4. all about tsunami: Hari Kedua
  5. ........
Sebuah catatan pembelajaran, tentang kisah tsunami dan para  penyintas [survivor]nya. 
Al, Bandung, 15 Juli 2013
Read More
/ /
Ini adalah rangkaian kisah para survivors tsunami, yang dikemas secara berkesinambungan dalam tautan berjudul 'All About Tsunami '. 
Dipinjem dari buku seri BRR, Seri 0, Tsunami.
Postingan sebelumnya.
Kita semua pasti pernah merasakan, suatu masa di mana sang waktu terasa merambat begitu lambat, kala hati sedang sendu dan sekarat. Namun sebaliknya, saat hati riang gembira, sang waktu seakan berlari kencang bak anak panah yang melesat tajam, ringan berdesing tanpa suara.

Padahal, pada kenyataannya, 1 jam itu ya tetap saja 60 menit, 1 menit tetap 60 detik! Ya kan, Sobs? Namun begitulah, fisikologinya. Tak bisa dipungkiri, situasi, kondisi dan kejiwaan seseorang, terutama di kala unhappy, di kala menderita, membuat segalanya merambat begitu lambat!

Seperti apa yang dirasakan oleh para survivors yang baru saja selamat dari gelombang maut itu. Termasuk ayah dan ibuku, yang kehadiran mereka kini menambah jumlah survivors di rumah kami. Semuanya jadi berjumlah sebelas orang, eh sepuluh dink, karena si pemuda 'jahat' itu sudah turun dan menghilang. Yaitu; Wahyu [balita berumur sekitar dua setengah tahunan], Udin [bocah laki-laki sepuluh tahunan], Dr. Fani [anggap saja namanya begitu, karena aku lupa namanya] yang sedang hamil tua, Ayahandaku, Ibunda tercinta, Ayahwa [tukang bangunan langganan Ayah] dan lima orang lelaki lainnya, usia sekitar 35-45 tahunan.

Hampir kesebelas survivors ini hanya mampu termangu. Seakan masih belum percaya bahwa mereka baru saja lepas dari maut. Terlebih, rasanya sulit diterima akal bahwa sebuah air bah, gelombang raksasa yang bahkan namanya saja tak pernah didengar, baru saja berlalu setelah dengan ganas menggulung, menyiksa, menghanyutkan dan akhirnya menghempaskan mereka ke teras rumah ini. Bahkan telah merenggut nyawa begitu banyak orang dan menghancurkan harta benda yang tak terkira.

Prahara yang baru saja menghantam, tak pelak membuat siapa pun menjadi gundah, sendu dan cengeng! Termasuk ayahku, yang biasanya begitu tegas [atau setidaknya tidak pernah menangis sampai sesunggukan]. Namun kali ini? Apa yang baru saja dialaminya, memancing hati dan pikirannya untuk membiarkan matanya mengucurkan air bening yang seakan tak terhentikan! Hatinya pedih dan gundah, menguatirkan Khai yang keberadaannya entah di mana. Yang jelas adik bungsuku itu tadi pagi pamit mau ke pantai. Dan pantai, sudah jelas tempat di mana gelombang maut itu bermula. Siapa bisa menjamin bahwa gelombang maut itu tidak mengobrak abrik orang-orang dan benda yang berada di sana? Sementara ayah saja tadi, sempat digulung dan dihempas sedemikian rupa? Maka semakin menjadilah tangisan itu. Dan, menangis memang sungguh menular! Ibuku, serta para survivor lainnya tak mampu menghentikan tangis mereka, yang larut oleh pikiran masing-masing, menguatirkan anggota keluarga mereka, yang entah bagaimana nasibnya. Dalam sekejap, ruangan lantai dua itu berubah menjadi lahan ratapan, juga rintihan, karena Dr. Fani dan Udin ternyata mengalami luka-luka pada tubuh mereka.

Credit from MarkSolan here
Wahyu, si balita dua tahunan itu lah yang akhirnya menyadarkan mereka. Bocah kecil itu tak menangis, tapi mengagetkan ibuku dengan suara halusnya. Entah darimana dia tahu bahwa ibuku adalah pemilik rumah itu.

"Nenek, Wayu mau cucu!" Serunya mendekati ibuku. Semua terdiam. Menatapnya. Hening, namun justru air mata semuanya bertambah deras. Semua pemikiran, kuyakin mbulat. Ya Allah, anak siapa ini? Dimana ayah-ibunya? Selamatkah mereka?

Ibuku memang sigap. Serta merta diraihnya bocah malang itu. Digendong dan dibelai. Bocah itu pasti sudah kehausan. Tapi susu? Mau cari di mana? Gelombang maut dengan lumpur pekatnya itu telah merendam lantai bawah [sekitar 4 m], menjadikan semua benda termasuk makanan dan sembako yang ada di dapur tak lagi jelas bentuknya. Yang ada saat ini hanya 5 galon air mineral yang mengapung di dapur, yang masih bisa dikonsumsi karena tersegel rapat sehingga terhindar dari kontaminasi lumpur tsunami.

Ayahku [yang belum berasa sakit kakinya] berusaha untuk turun, berharap masih ada makanan kaleng yang mungkin bisa dikonsumsi, setidaknya diberikan bagi Wahyu yang pastinya kelaparan. Ibuku sendiri berusaha menenangkannya dengan bujukan lembutnya.

"Sayang, namanya siapa? Minum air putih dulu ya, nak."

"Aku Wayu. Anak Brimob! Ayah Wayu namanya Khairul Bahri. Nek, Wayu gak mau air putih, mau cucu." Suara kecilnya itu tak urung mengoyak iba. Membuat orang-orang yang menatapnya semakin berlinang air mata. Ya Allah, anak siapa ini? Pertanyaan ini masih begitu kompak bergema di hati masing-masing mereka.

"Iya, Wahyu minum ini dulu biar hausnya hilang. Ntar kalo Oom pulang, kita bikin cucunya ya. Kan cucunya habis, sedang dibelikan oleh Oom." Bujuk ibuku. Menyebut kata Oom, bayangannya adalah Khai, dan itu membuat hatinya tersayat. Ya Allah, apa kabar anak hamba ya Allah. Selamatkah dia?

Setelah beberapa kali bujukan, akhirnya Wahyu mau juga minum air putih, dan bocah cerdas itu berhasil diajak ngobrol oleh ibuku hingga tertidur pulas. Ibuku berhasil mengalihkan perhatian bocah  yang merengek minta pulang, menjadi obrolan sambil mendongeng. Banyak juga info yang diperoleh ibu dari Wahyu, bahwa tadinya dia digendong oleh ayahnya, sementara abangnya dipegang tangannya oleh ayah, tapi kemudian air itu membuat mereka hanyut dan Wahyu terlepas dari gendongan. Lalu ayah dan abangnya hilang. Duh! Anak balita ini, adalah saksi dan korban hempasan gelombang. Bagaimana nasib ayah dan abangnya ya Allah? 

Setelah menidurkan Wahyu di tempat tidur Khai, di samping dr. Fanni yang dari tadi hanya bisa berbaring, kini ibuku beralih peran jadi perawat. Mencoba memeriksa tubuh dr. Fanni yang begitu lemah. Dan ya Allah, tubuh itu penuh lebam, mungkin oleh hantaman atau tersenggol puing-puing yang hanyut di dalam gelombang. Bahkan bu dokter itu tak bisa menggerakkan pinggangnya, terasa begitu sakit. Bak seorang perawat, ibuku mulai membersihkan dan mengompres lebam dan luka-luka itu dengan handuk kecil yang ada di lemari Khai, yang biasa dipakai adikku untuk berolah raga. Air bersih yang tersedia hanya yang ada di galon aqua, yang ke lima galonnya telah dibawa ke atas oleh dua orang survivors itu. Tak hanya mengompresnya dengan air bersih, tapi ibuku juga berusaha mengurut [sebisanya] pinggang dr. Fanni dengan minyak tawon yang memang di simpan Khai di kamarnya, jaga-jaga jika dia keseleo.

Di saat bersamaan, rintihan lain terdengar dari teras, di mana Udin terbaring lemah. Remaja sepuluh tahunan itu sepertinya tak hanya lemah karena terhempas gelombang, tapi juga masuk angin telah membuatnya diare. Orang-orang hanya membiarkannya terbaring di teras karena pakaiannya bukan hanya kotor oleh lumpur tsunami, namun juga oleh kotoran yang keluar dari saluran pengeluaran tubuhnya. Kotorannya berceceran. Ibuku akhirnya mengambil pakaian dan sarung yang biasa dipakai Khai untuk shalat, dan meminta tolong seorang mas-mas yang juga terlihat lelah, untuk mengganti pakaian dan membersihkan Udin.

Tampaknya, hanya ibuku yang masih lebih oke staminanya. Mungkin hal ini disebabkan karena memang hanya ibu yang tidak bersentuhan dengan gelombang. Udin akhirnya diangkat untuk ditidurkan di dalam kamar. Lantai atas rumah kami memiliki dua kamar, satu kamar Khai, di mana dr. Fanni dan Wahyu tidur, dan kamar depan yang biasanya untuk tamu. Nah, Udin dan dua lelaki lainnya berbaring di kamar tamu itu. Ayahwa, ayahku dan dua lelaki lainnya sedang di bawah. Entah sedang apa. Terdengar suara-suara di bawah sana, juga suara para tetangga yang sedang mencari-cari anggota keluarga mereka, atau memeriksa rumah mereka.

Berita duka disampaikan ayahku saat beliau bergabung kembali ke atas. Bu Ilyas, tetangga sebelah kiri rumah kami, ditemukan tewas, tertimpa lemari. Mayatnya sedang dievakuasi, dan benar saja, tak lama setelah berita itu disampaikan ayahku, seseorang berseru memanggil ayah dan ibuku. Keduanya menjenguk dari teras atas. Tak mungkin turun mengingat lumpur pekat di dalam rumah. Ikhsan dan beberapa lelaki sebaya ayahku berdiri di jalan depan rumah, menengadah ke arah ayah dan ibu.

"Pak, Bu, kami mohon agar Bapak dan ibu berkenan memaafkan Aisyah. Mungkin semasa hidupnya, banyak kesalahan yang telah terjadi. Mohon ikhlaskan dan maafkan kesalahannya ya, Pak, Bu. Juga kami mohon ijin, akan membawa jenazahnya segera ke kampung kami."

Sungguh sedih rasa hati ibuku. Karena tadi saat orang-orang berlari oleh teriakan 'air naik - air naik', ibu sempat teriak memanggil Bu Ilyas. Menyerukannya untuk keluar rumah dan menyelamatkan diri. Namun kiranya Allah berkehendak lain. Bu Ilyas bahkan tak sempat keluar rumah, malah tertimpa lemari yang rubuh. :(

Tak banyak kata yang mampu ayah dan ibu ucapkan. Kerongkongan mereka terasa tercekat. Hanya anggukan tulus yang mampu mereka perlihatkan, seraya berpesan agar Ikhsan, si anak lelaki Bu Ilyas, yang sebaya Khai, tabah menghadapi cobaan ini.

Empat survivors kini pamit dari rumah ayah. Mereka merasa tenaganya mulai pulih, dan sudah saatnya harus turun untuk pulang ke desa mereka dan mencari tahu keadaan keluarganya. Mereka berasal dari desa yang berbeda, dan sungguh, gelombang maut itu begitu dasyatnya. Sanggup menyeret mereka hingga ke teras rumah ini. Padahal desa mereka jauh di kecamatan lain!

Tinggallah kini Ayah, Ibu, Ayahwa [yang juga satu jam kemudian pamit pulang, ingin melihat rumah dan anak istrinya], Wahyu, Udin dan Dr. Fanni. Hari telah beranjak sore. Perut para survivors ini mulai keroncongan, lelah dan lapar. Keluarga Putri [tetangga depan rumahku] mulai bergabung. Tak ada pilihan lain, rumah mereka penuh oleh lumpur dan puing. Bahkan ada dua mayat tak dikenal di halaman belakang. Bermalam di lantai dua rumah ayahku adalah pilihan paling aman untuk malam ini. Maka di sinilah mereka. Para tetangga lain, banyak juga yang memilih kembali ke musholla untuk berteduh malam ini.

Ayah masih terlihat kuat, walau matanya begitu sendu setiap ingatannya melayang pada Khai. Sementara ibu, melarikan kegundahannya dengan menolong dan merawat Udin, Dr. Fanni dan Wahyu. Sembari berdoa agar Allah menolong dan melindungi Khai, serta mengirimkan orang lain untuk membantu Khai seperti dirinya merawat para survivors ini.

Ayah semakin was was. Hari telah beranjak sore, bahkan segera menjelang malam. Kegelapan akan segera menyelimuti kota yang tak lagi memiliki daya ini. Hanya dua pak lilin yang ada di kamar ini, dan dengan itulah mereka akan mencoba dapatkan penerangan. Lumpur pekat, ternyata kini mulai bereaksi. Bukan hanya hati ayahku yang pedih dan teriris, namun kini, luka akibat tertusuk kawat duri tadi, kini mulai menderanya. Denyut perih itu mulai terasa. Dan memang, sejak tadi, kaki yang terluka itu dipakainya untuk wara wiri di lantai satu. Mencari ini dan itu. Hingga semakin lama terendam di dalam genangan lumpur pekat itu. Dan kini, denyut hebat itu melebihi denyut sakit gigi.

Menyerah Ayah akhirnya. Duduk berselonjor seraya berusaha membersihkan sendiri kakinya. Namun tentu saja sang 'perawat' tak membiarkannya. Segera ibuku membersihkan luka itu, dan dengan tega meneteskan minyak angin ke dalam luka kaki ayahku. Biar mati kumannya, begitu kata ibu. Dan ayahku hanya bisa meringis menahan pedih yang sungguh tak terkira. Denyut itu makin menjadi, terlebih karena ayahku punya gejala diabetes. Maka tak menanti lama, denyut yang kian menjadi itu, disertai pula dengan membengkaknya kaki ayahandaku.

Senja mulai turun disertai oleh gulita yang mulai menyelimuti. Hanya 4 rumah [yang berlantai dua] di lorong itu yang terlihat ada cahaya [lilin], yang lain, gulita! Jalanan masih berlumpur, mayat masih berserakan di jalanan, pagar, pekarangan beberapa rumah, dan hening!

Wahyu sudah terbangun, dan kerinduannya pada ayah ibunya, membuat seisi rumah kami terenyuh. Sedih. Ayah dan ibu serta ibunya putri bergantian membujuknya. Udin, bukan hanya diare, tapi kini telah disertai demam. Badannya panas, tapi tubuhnya menggigil. Selimut Khai menjadi penutup tubuh Udin yang kini meringkuk di atas kasur. Anak itu bahkan mengingau. Berteriak memanggil ibunya, menangis, menjerit. Membuat ibuku kembali jadi pemain sandiwara paling watak sedunia.

Dalam temaram cahaya lilin, saat Udin mengigau memanggil ibunya, maka ibuku lah yang acting, berlagak jadi ibunya Udin, dan menjawab dengan gaya wanita nelayan [Udin berasal dari sebuah Alue Naga, sebuah desa nelayan].

"Ibu di sini, Din! Ayo tidur lagi, ibu ga kemana-mana kok! Ayo tidur biar besok gak telat sekolahnya!" Lagak ibuku menjawab teriakan Udin.

"Apa kamu ini, Din! Ayo tidur lagi, ayah di sini kok. Ga kemana-mana. Lagi beresin jala! Ayo kamu tidur lagi!" Acting ibuku berlagak jadi bapaknya Udin. Dialognya adalah dalam bahasa Aceh. Ajaibnya, Udin tenang dan tidur kembali mendengar suara 'ayahnya' atau 'ibunya' yang ditirukan oleh ibuku.

Lain lagi dengan ayahku. Panglima rumah tangga kami itu menjadi begitu sensitif dan gampang sekali menangis. Bertasbih kepada Allah selesai dari shalatnya, malah membuatnya menangis tergugu, ingatannya pada Khai yang belum tentu di mana rimbanya, kembali mengusik ketenangan batinnya. Air mata mengalir deras, sederas doanya yang terucap terputus-putus. Ayah dan Khai memang sangat akrab. Wajar memang, mengingat, hanya Khai yang kini tinggal bersama ayah dan ibu, sementara kami [tiga anak lainnya], telah sekian lama tinggal di kota lain. Aku di Medan, Edo di Jakarta dan Andrew di Istanbul. Ibu sampai kehabisan akal menyabarkan ayahku, yang jadi begitu cengeng. Bahkan Wahyu yang tadi menangis minta pulang dan kangen ibunya, kini berbalik membujuk ayahku.

"Kakek, jangan menangis, Oom kan pergi beli cucu untuk Wayu."

Suasana begitu mencekam dan mengharu biru, bahkan celotehan Wahyu tak mampu meredam air mata yang terus mengalir itu. Justru celotehan bocah ini, kian memancing haru yang membiru. Ya Allah, bagaimana nasib kami selanjutnya? Pertanyaan itu kompak menyatu, bergema di hati mereka masing-masing, menyisakan jawaban hampa tanpa cahaya.

Namun sebuah suara lantang tiba-tiba mengagetkan mereka semua. Hanya suara, tanpa penampakan, oleh gulita dan sulitnya medan. Baca kisah lanjutannya pada postingan berikut, ya, Sobs! :)
  1. all about tsunami: Gade and Me
  2. all about tsunami: Khai and the Genk
  3. all about tsunami: Khai and Perjuangan Pulang
  4. all about tsunami: Malam Pertama
  5. all about tsunami: Hari Kedua
  6. ........
Sebuah catatan pembelajaran, tentang kisah tsunami dan para  penyintas [survivor]nya. 
Al, Bandung, 13 Juli 2013


Read More